IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Jangan Takut Disaingi Orang!

Ahad 11 Agustus 2019 20:0 WIB
Share:
Jangan Takut Disaingi Orang!
"Jangankan bekerja mencari uang, menganggur pun disaingi banyak orang.”
Seorang pemuda, sebut saja bernama Sarman, datang kepada kakeknya untuk menyampaikan kesedihannya mengapa hingga setahun ia bekerja, pekerjaannya belum mapan. Ia menceritakan bahwa selama setahun ini ia sudah berganti pekerjaan hingga tiga kali. Kesemua pekerjaan itu tidak ada yang bertahan lama karena selalu saja ada orang yang menyainginya. 
 
Misalnya, pada bulan Januari tahun lalu, atau sejak Sarman pertama kali mencoba belajar bekerja dengan membuka warung es kelapa muda, warungnya secara perlahan memang memiliki beberapa pelanggan. Pada bulan Februari pelanggan makin ramai. Ia mendapat keuntungan yang lumayan dari hasil merintis buka warung es di sisi jalan yang tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduknya. 
 
Tetapi pada bulan ketiga, Maret, ada orang lain yang juga membuka warung es kelapa muda tak jauh dari tempat Sarman berjualan. Pelanggan warung Sarman mulai berkurang sejak saat itu. Pada bulan April warung es Sarman sepi pembeli, sementara warung satunya lagi yang belum lama berdiri itu makin ramai. 
 
Selama empat bulan berikutnya, Mei – Agustus, ia berjualan buah-buahan dengan mendapat pasokan dari teman sendiri. Sarman menjual buah-buahan di warung yang sama ketika ia menjual es kelapa muda. Ia berpikir tak perlu memindahkan warungnya ke tempat lain mengingat hal itu perlu keluarkan biaya. Namun, hasilnya pun tak memuaskan.
 
Dari dua kegagalan itu, Sarman memutuskan untuk tidak lagi berjualan barang-barang. Kali ini ia beralih ke bidang jasa. Ia melihat ada peluang pasar untuk membuka jasa tambal ban sepeda di tempat ia menjual es kelapa muda dan buah-buahan. Ia berpikir menjual jasa tidak besar risikonya dalam menanggung kerugian dibandingkan menjual barang-barang terutama buah-buahan yang bisa membusuk. 
 
Pertengahan bulan September, ia mulai membuka jasa tambal ban. Pada awalnya sepi karena usaha Sarman yang baru ini belum diketahui banyak orang. Pada bulan Oktober usaha Sarman mulai diketahui oleh penduduk sekitar dan para pengendara yang lewat di jalan depan tempat ia membuka usaha. Bulan November usaha Sarman sudah memiliki konsumen yang lumayan jumlahnya. 
 
Namun di bulan Desember ada orang membuka usaha bengkel sepeda motor di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari tempat Sarman membuka usaha tambal ban. Usaha Sarman terkena dampak karena banyak orang beralih ke bengkel sepeda motor itu. Bengkel itu ternyata juga melayani tambal ban.
 
Dalam keadaan seperi itu Sarman merasa sedih kenapa setiap usahanya selalu disaingi orang. Tak kuat menahan kesedihannya, Sarman yang sudah yatim itu datang kepada kakeknya untuk mengadukan persoalan hidupnya. Sang kakek menasihati:
 
“Dalam hidup ini persaingan tak bisa dielakkan. Siapa pun harus sabar sekaligus berani dalam bekerja. Jangan takut disaingi. Jangankan bekerja mencari uang, menganggur pun disaingi banyak orang.”
 
“Hahaha...” Sarman tertawa lebar. 
 
“Mengapa kamu tertawa?” tanya sang kakek kepada Sarman. 
 
“Apa yang Kakek katakan barusan itu lucu sekali, tetapi benar bahwa menganggur saja itu disaingi banyak orang. Hahaha...” 
 
“Nah, kamu paham maksud Kakek. Baik. Sekarang kamu perlu evaluasi. Coba jawab mengapa kamu selalu kalah dalam persaingan?”
 
“Nggak tahu, Kek. Saya pikir ini soal nasib saja,” Jawab Sarman.
 
“Bukan. Ini bukan soal nasib semata tetapi juga menyangkut ikhtiar kinerjamu. Kamu harus bisa mengevaluasi mengapa kamu selalu kalah dalam persaingan. Misalnya, pertama, apakah rasa es kelapa muda yang kau jual dulu itu tidak lebih enak dari pada pesaingmu.”
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman. 
 
“Kedua, apakah harga buah-buahanmu lebih mahal dari pada pesaingmu?” 
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman lagi.
 
“Ketiga, apakah cara kerjamu lebih lama daripada pesaingmu dalam menyelesaikan pekerjaan tambal ban?”
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman lagi.
 
“Keempat, apakah kamu kurang ramah dalam melayani pelanggan?” 
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi kurang saya hiraukan,” jawab Sarman sekali lagi.
 
“Nah, itulah hal-hal yang harus kau benahi terkait ikhtiar kinerjamu. Harga, kualitas barang atau jasa, kecepatan pelayanan, dan keramahan dalam melayani sering kali menjadi penentu survive tidaknya usaha kita dalam sebuah persaingan.
 
Selain itu, kamu harus selalu berdoa memohon sukses dalam usahamu. Lakukan shalat Dhuha sebelum berangkat ke tempat kerja. Jangan lupa baca shalawat di tempat kerjamu, atau baca ayat-ayat Al-Qur’an ketika sedang sepi pekerjaan.
 
“Terima kasih, Kek, atas motivasi dan nasihat-nasihatnya,” kata Sarman kepada kakeknya sebelum berpamitan pulang ke rumah. 
 
 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU Surakarta 
 
Share:

Baca Juga

Ahad 11 Agustus 2019 0:30 WIB
Hikmah di Balik Tradisi Pengajian Rutin Selapanan
Hikmah di Balik Tradisi Pengajian Rutin Selapanan
Ilustrasi (pzhgenggong.or.id)
Hari Kamis (8/8) lalu, Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah kembali menggelar acara Pengajian Rutin Kamis Kliwon di halaman Kompleks Al Jauhar Pesantren Sirojuth Tholibin Putra.
 
Ya, acara tersebut merupakan acara rutin yang digelar pihak pesantren setiap "selapan" sekali. Hadirinnya terdiri dari masyarakat sekitar Desa Brabo, alumni, dan sebagian wali santri yang memang dating secara sukarela.
 
Istilah “selapan” yang kemudian menjadi kata kerja “selapanan”, merupakan hitungan satu bulan berdasarkan hari dan tanggalan Jawa. Jumlah siklusnya akan berulang setiap 35 hari sekali. 
 
Seperti yang telah diketahui bahwa jumlah hari pasaran atau netu merupakan hitungan hari Suku Jawa. Perhitungannya berjumlah lima hari pasaran. Ada; Pahing, Pon, Wage Kliwon, dan Legi.
 
Kiai-kiai NU khususnya yang berada di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, sering mengagendakan kegiatan keagamaan berdasar pada perhitungan hari tersebut. Misalnya, seperti Pengajian Rutin Kamis Kliwon, Maulid setiap Jumat Legi, Sima'atul Quran per Hari Senin Pahing, dan lain sebagainya.
 
Dalam sambutannya sebagai pengasuh Pesantren, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menjelaskan rahasia di balik tradisi yang telah berlangsung di kalangan ulama NU tersebut.
 
"Kita menghadiri Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini, (marilah) kita niati mengikuti apa yang diarahkan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam," tuturnya mengawali penjelasan.
 
Menurutnya, Kamis Kliwon itu merupakan pengajian 35 hari (selapan) sekali. Mengapa kok 35 hari? Sebab arahan Kanjeng Nabi kepada Sayyidina 'Ali:
 
ياعَلي، إذا أتى على المؤمن أربعون صباحًا ولم يجالس العلماء قسى قلبه، وجسر على الكبائر؛ لأن العلم حياة القلب 
 
“Wahai Ali, ketika datang 40 hari kepada seorang mukmin, dan (selama itu pula) ia tidak berkumpul dengan ulama, maka keraslah hatinya, dan berani melakukan dosa besar. Karena (hakikatnya) ilmu itu (memiliki) hati yang malu (kepada Allah)."

Hal tersebut senada dengan apa yang dijelaskan juga dalam kitab Washiatul Musthofa karya Sayyid Abdul Wahab As Sya'roni. 
 
Putra almarhum KH Ahmad Baidlowie Syamsuri yang akrab disapa Gus Shofi itu juga menambahkan, semua umat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam itu akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Siapakah itu? Dijawab oleh sebuah hadits yang berbunyi:
 
عن أبي هريرة ، أن رسول الله ﷺ قال: كل أمتي يدخل الجنة إلا من أبى قيل: ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى
 
"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam besabda: Tiap-tiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau. Dikatakan: dan siapakah yang tidak mau tersebut wahai Rasulullah? Jawabnya: Barangsiapa taat kepadaku, maka ia akan masuk surga. dan barangsiapa mendurhakaiku maka sungguh ia benar-benar tidak mau (masuk surga)." (HR. Bukhari) 
 
Oleh karenanya, lanjut Gus Shofi, penting sekali dalam beramal kita niatkan untuk ittiba'ur rasul, mengikuti ajaran Nabi Muhammad sallalllahu 'alaihi wasallam. Karena hal tersebut merupakan bukti ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, sebagai modal dalam menggapai surga Allah ta'ala.
 
Demikianlah, tradisi-tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh Nahdliyin, masyarakat NU. Amaliah tersebut merupakan bentuk ikhtiar tokoh NU dalam ihya'us sunnah, menghidupkan ajaran Nabi, meski sebagian kecil orang kerap menuding sebagai hal yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi.
 
(Ulin Nuha Karim)
 
 
Kamis 8 Agustus 2019 6:0 WIB
Sepenggal Kisah Keistimewaan Air Zamzam
Sepenggal Kisah Keistimewaan Air Zamzam
sumur zamzam saat ini ditutup. (kapl-hajj.org)
“Sebaik-baiknya air di muka bumi adalah air Zamzam. Air tersebut bisa menjadi minuman yang mengenyangkan dan penawar rasa sakit.” (HR Thabrani).

Air zamzam adalah air yang sangat istimewa. Banyak nash, hadits, atsar, ataupun khabar yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan air zamzam. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan Thabrani di atas. Di situ dijelaskan bahwa air zamzam bisa menjadi pengganti makanan karena ia mengenyangkan. Dia juga bisa menjadi obat yang menyembuhkan.

Selain itu, air zamzam juga memiliki keistimewaan lain. Yakni tetap steril meski tercemar. Terkait hal ini, ada kisah menarik dari seorang insinyur kimia, Yahya Kausyak. Pada tahun 1980-an, Yahya Kusyak menjadi salah satu orang yang terlibat dalam penataan dan renovasi sumur zamzam setelah terjadi pencemaran. 

Dalam buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga (Said Bakdasy, 2015) dijelaskan, bersamaan dengan itu Yahya bin Kusyak juga melakukan penelitian terhadap air zamzam. Dia meyakini bahwa hasil risetnya akan menunjukkan kalau air zamzam mengalami pencemaran dalam skala besar. Oleh karena itu, ia meminta agar penggunaan air zamzam harus dilarang. Ia juga menyarankan agar air zamzam disedot, dinding sumur harus dicuci dan disterilisasi dengan menggunakan bahan-bahan yang bersih.  

Ketika itu Sami Anqawi dan Abdul Hafidh Salamah, anggota lain dalam tim penataan dan renovasi sumur zamzam, tetap meminum air zamzam sebelum hasil riset Yahya Kusyak keluar. Benar saja, hasil penelitian Yahya Kusyak menunjukkan bahwa saat itu terjadi pencemaran terhadap air zamzam dalam skala besar. 

Akan tetapi, Anqawi dan Salamah yang meminum air zamzam –pada saat air zamzam dinyatakan tercemar- tetap baik-baik saja. Keduanya tidak mengalami masalah kesehatan apapun. Begitupun dengan para jamaah haji dan para pekerja yang tetap meminum air zamzam bersama dengan dua orang tersebut. Itulah keistimewaan air zamzam yang bersifat inderawi dan nyata. 
 
Begitupun dengan orang-orang pada zaman dulu. Mereka dari luar Makkah datang ke sumur zamzam dengan unta yang tidak bersih. Selama perjalanan itu pula, mereka bisa saja terkena bakteri, penyakit, dan kotoran. Ketika sampai di sumur, mereka kemudian mengambil air zamzam dengan menggunakan timba. Para dokter berpendapat bahwa penyakit menyebar melalui air dengan cara pengambilan seperti itu. Namun nyatanya, tidak ada dari mereka yang terkena penyakit. Malah mereka menjadi sembuh oleh air zamzam. 

“Air zamzam adalah sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.” Kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.

Demikian keistimewaan air zamzam. Ia tetap steril, sehat, dan menyehatkan, meski ‘divonis’ sedang tercemar. Tidak lain, ini adalah bentuk perhatian khusus dan penjagaan Allah terhadap air yang diberkahi-Nya itu. Bukankah penjagaan Allah di atas segalanya. Waallahu ‘Alam (Muchlishon)
Senin 5 Agustus 2019 12:0 WIB
Dialog Dua Malaikat dan Al-Muwafaq yang Batal Naik Haji
Dialog Dua Malaikat dan Al-Muwafaq yang Batal Naik Haji
Ritual haji akan kosong makna ketika mengabaikan substansi. Ilustrasi (vipis.org)
Kala itu, Ibnu Mubarak sedang berbaring di pelataran Masjidil Haram. Hatinya begitu lega karena ia baru saja usai melaksanakan rangkaian ibadah haji. Dari mulai ihram, tawaf, sa'i, hingga tahallul telah dilakoninya dengan khusyuk dan penuh hikmat. Dalam hatinya, ia berharap besar hajinya dapat diterima oleh Allah dengan predikat haji yang mabrur.

Tak terasa, rasa kantuk mengelabuhi pandangannya hingga ia tertidur pulas. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi mendengar dua malaikat yang sedang bercakap-cakap.

"Ada berapakah kaum muslim yang haji pada tahun ini?" tanya seorang malaikat.

"Kurang lebih, ada sekitar 700 ribu orang," jawab yang satunya. 

"Berapakah yang diterima oleh Allah?" "Tidak ada sama sekali," jawab malaikat itu kembali.

Seketika malaikat yang bertanya itu pun termenung. Membayangkan betapa nahasnya nasib jamaah haji tahun itu. Ibadah haji yang mereka lakukan dengan hikmatnya, ternyata di mata Allah tak ada nilainya. Pun dengan Ibnu Mubarak yang sedang mendengarkan percakapan tersebut.

Tak berselang lama, segera malaikat tersebut menimpali perkataanya,

"Namun, akibat amal salah seorang yang batal haji di tahun ini. Seluruh ibadah haji jamaah tahun ini diterima oleh Allah subhanahu wata'ala " 

"Siapakah orang tersebut" tanya malaikat satunya penasaran. "Ia adalah Al-Muwafaq"

Seketika Ibnu Mubarak terjaga dari tidurnya. Ia begitu kaget dan bergegas untuk mencari seorang Al-Muwafaq dalam mimpinya itu. Setelah ditelusuri, ternyata ia adalah seorang tukang sol sepatu yang tinggal di daerah Damaskus, Syiria.

"Apakah anda Al-Muwafaq yang batal haji di tahun ini?" tanya Ibnu Mubarak mengawali percakapan dengan seseorang yang ia cari-cari tersebut. 

"Ya, dan bagaimana anda mengetahuinya?" jawab Al-Muwafaq yang juga balik bertanya.

Ibnu Mubarak tak mau gegabah, ia tak lantas menjelaskan tentang mimpinya. Malah dengan segera ia mengajukan pertanyaan yang lainnya,

"Gerangan apa yang membauatmu batal melaksanakan rukun islam yang kelima?" sergah Ibnu Mubarak penasaran.

Hening pun menyelimuti keduanya, Al-Muwafaq terlihat kosong pandangannya. Menghela nafas agak panjang, untuk kemudian mengatur emosi dalam sanubarinya agar dapat angkat bicara. Ibnu Mubarak pun juga terdiam, ia begitu sabar menanti jawaban dari Al-Muwafaq.

"Engkau tahu sendiri bahwa aku hanyalah seorang tukang sol sepatu di kota ini." dengan mata berkaca, Al-Muwafaq mengawali kisah kegagalannya. Ibnu Mubarak tak menimpali sepatah kata pun, malah ia semakin terdiam agar dapat berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Al-Muwafaq.

"Tentunya menunaikan ibadah haji adalah sebuah impian besar bagiku. Ya, bagaimana tidak. Dengan hal itulah aku dapat menyempurnakan rukun islam yang lima. Aku pun telah menabung jauh-jauh hari. Dari hasil upah jasa menjahit sepatu bekas, ku kumpulan sepeser demi sepeser uang guna mewujudkan impianku. Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya aku kira uang tabunganku telah mencukupi. Saat itu kira-kira telah terkumpul 350 dirham."

"Namun, ketika aku berniat untuk menata barang bawaanku dan bergegas pergi ke mekah. Tiba-tiba istriku yang tengah hamil muda menghampiriku dan berkata, 'wahai suamiku, sungguh aku tidak pernah mencium aroma masakan selezat ini sebelumnya. Oh betapa senang hatiku kiranya engkau berkenan mencari sumber aroma masakan ini dan meminta sedikit saja demi menuruti keinginan jabang bayi dalam perutku ini."

Ternyata istri Al-Muwafaq saat itu tengah ngidam. Al-Muwafaq lantas keluar rumah dan mencari sumber aroma masakan tersebut. Dan memang, sungguh dari aromanya saja telah terbayang betapa lezatnya masakan tersebut.

Sampailah ia dirumah salah seorang janda beranak pinak yang tengah memasak di dapurnya. Tanpa berkata panjang lebar, ia segera mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminta sedikit saja masakan janda tersebut.

"Sekali-kali janganlah engkau meminta masakan ini. Karena aku tak akan memeberikannya," ujar si janda yang menolak mentah-mentah permintaan Al-Muwafaq. Al-Muwafaq pun tak patah arang, ia menawarkan akad jual-beli kepada si janda agar rela menjual masakannya meski dengan harga berapa pun. 

Namun, sekali tidak tetaplah tidak. Janda itu tetap bergeming. Menolak dengan keras segala penawaran yang diajukan oleh Al-Muwafaq. Al-Muwafaq pun terheran, mengapa wanita ini begitu kokoh tak mau memberikan barang sedikit saja hasil dari olahannya. 

Karena Al-Muwafaq begitu memaksa dan wanita itu pun telah kehabisan kata untuk menolaknya. Akhirnya sang janda berkata, "Sungguh, makanan ini tak kan kuberikan kepadamu. Karena bagiku ini halal, sedang bagimu ini hukumnya haram." 

Al-Muwafaq semakin bingung dengan ujaran si janda tersebut. Mengapa makanan selezat itu bisa haram hukumnya bagi Al-Muwafaq. Oh ternyata, janda tersebut merupakan orang yang amat fakir nan miskin. Sedang dalam tanggungannya terdapat beberapa anak yang lemas kelaparan. 

Ya, mereka telah berhari-hari tak makan. Bahkan mereka sekeluarga terancam mati kelaparan. Hingga akhirnya, ketika sang janda tengah menyusuri jalan, ia melihat bangkai keledai kaku terkapar di pinggiran. Kemudian ia pun mengambilnya dan kemudain jadilah masakan yang kini tengah diperdebatkan.

Al-Muwafaq lantas merasa iba, ia segera berjalan gontai berbalik arah menuju ke rumahnya. Ia ambil sekantong uang dirham yang tadinya ia rencanakan sebagai dana perjalanan ibadah hajinya. Ia tak menghiraukan tentang kegagalan naik haji yang telah lama ia dambakan. Baginya kebatalannya demi menolong kehidupan si janda beserta anaknya lebih penting ketimbang impiannya untuk menyempurnakan rukun islam yang ke lima.

Ia lantas kembali ke kediaman si janda dengan membawa sekantong uang dirhamnya. Ia meminta agar uang ini dimanfaatkan untuk si janda sebagai modal untuk membuka usaha. Hingga nantinya kehidupan anak-anaknya dapat terjamin dan janda pun tak sampai terpaksa mengolah bangkai keledai demi melangsungkan kehidupan mereka. 

"Masya Allah… ternyata akibat amal itulah engkau menjadi sebab diterimanya 700 ribu jamaah haji di tahun ini" ujar Ibnu Mubarak yang terharu mendengar kisah Al-Muwafaq. Al-Muwafaq yang tak mengerti maksud Ibnu Mubarak pun terlhat kebingungan,

"Apa maksud dari ujaranmu, wahai orang yang mendatangiku secara tiba-tiba?"

Ibnu Mubarak akhirnya menjelaskan tentang mimpi yang telah ia alami. Seketika itu juga Al-Muwafaq tersungkur sujud bahagia, dengan mata basah terharu akan karunia Allah yang maha besarnya.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan, Jawa Tengah dalam momen pengajian KITAB Tafsir Jalalain.