IMG-LOGO
Hikmah

Balada 10 Tahun Beramal Tanpa Ilmu

Kamis 15 Agustus 2019 16:0 WIB
Share:
Balada 10 Tahun Beramal Tanpa Ilmu
Ilustrasi
Termaktub kisah dalam kitab Nihâyatul ‘Izzi wa Syarâf karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani bahwa suatu ketika ada seorang ayah yang menasihati kedua anaknya,
 
"Wahai kedua anakku, kini engkau telah beranjak dewasa. Namun, dirimu sama sekali belum melihat dunia luar. Maka dari itu berkelanalah, wahai putraku, hingga engkau mendapatkan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupanmu kelak."
 
Kedua putra tersebut lantas bergegas untuk mempersiapkan pengembaraanya. Setelah berpamit dengan  ayah mereka, keduanya berpisah di ujung jalan desa. Ya, mereka tidak mengembara bersama. Mereka lebih memilih berpisah, menentukan destinasi sesuai kehendak hati. 
 
Kini lega sudah hati sang ayah meski awalnya agak berberat hati harus terpisah dengan kedua buah hati. Namun baginya lebih penting melepaskan anaknya untuk berkelana mengarungi samudera kehidupan luar sana yang tentu bermanfaat kelak bagi mereka.
 
Tak terasa sepuluh tahun berlalu. Sesuai waktu yang telah disepakati, mereka bersama-sama kembali ke hadirat sang ayah yang telah menanti. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi, sang ayah pun mulai menyodorkan pertanyaan inti,
 
"Wahai putraku yang kusayangi. Apakah yang engkau dapat selama satu dekade ini?" tanya sang ayah penuh tatapan dalam.
 
Salah satu dari mereka mulai angkat bicara,
 
"Wahai ayah yang sangat hamba hormati. Semenjak langkah kakiku tak terlihat oleh pandanganmu. Hamba memutuskan untuk pergi belajar ke pesantren kepada seorang guru. Alhamdulillah, selama itu hamba berhasil meringkas beberapa pelajaran yang telah diajarkan. Ini ayahanda," terang sang anak sambil menyerahkan beberapa tumpuk buku ringkasannya.
 
"Maha suci Allah yang telah menuntunmu ke jalan ilmu, wahai putraku. Semoga ilmumu bermanfaat kelak bagi pribadimu, keluarga dan masyarakat di sekitarmu,"  doa sang ayah.
 
"Lantas, bagaimana dengan dikau wahai putraku?" tanya ayah kepada anak yang satunya.
 
"Wahai ayahku, selama sepuluh tahun ini, aku memutuskan untuk tahannus, menyepi beribadah kepada Allah di sebuah goa. Alhamdulillah, baru berselang tiga hari Allah telah memberiku anugerah yang tak terkira."
 
"Apa itu wahai anakku?" Belum sampai anaknya selesai menjelaskan, sang ayah terburu memotong penjelasan anaknya akibat keingintahuan yang begitu mendalam. 
 
"Ya, baru saja tiga hari aku berdiam diri di gua itu. Tiba-tiba ada seekor kadal emas yang berkilauan sedang berdiam diri di hadapanku. Ia begitu indah nan menarik pandanganku. Besar firasatku bahwa ini adalah karunia yang Allah berikan kepadaku."
 
"Aku lantas mengambilnya. Namun, ku pikir rasanya aku akan kerepotan jika harus memeliharanya hidup-hidup. Sedangkan, niatku bertapa di dalam gua adalah agar aku dapat khusyuk beribadah kepada Allah ta'ala semata."
 
"Akhirnya, aku awetkan saja kadal emas itu. Setelah aku menghilangkan nyawanya, lantas aku jemur bangkai kadal itu hingga mengering dan tak berbau. Setelah itu kutali ujung tubuhnya dengan kalung yang kini terlilit di leherku. Ini dia ayah," terang anak satu itu sambil menunjukkan kalung yang bergelantung di lehernya.
 
"Astaghfirullah…." seru sang ayah.
 
Alih-alih sang ayah terpukau bangga akibat pencapaiannya selama mengembara. Sang ayah justru bermuram durja sambil memegang kepala. Anaknya begitu bingung tiada tara. Adakah yang salah dengan 'kisah hebat' yang dialaminya. Ia pun segera bertanya pada ayahnya,
 
"Apakah yang membuatmu bersedih, wahai ayahanda?"
 
"Bagaimana aku tidak kecewa wahai putraku. Apakah engkau tidak tahu, bahwa sesungguhnya bangkai itu najis hukumnya. Sedang engkau, selama pertapaanmu di goa sana, dengan bangga mengalungkan barang najis itu dan mengira bahwa itu adalah karunia dari Allah ta'ala,"  sang ayah begitu terpukul.
 
"Lantas bagaimanakah ibadahku sang ayah? Kukira dengan menyepi dan beribadah saja. Allah akan memberiku karunia yang luar biasa," kaget sang anak, cemas tak karuan.
 
"Ketahuailah wahai anakku. Wajib bagimu untuk mengganti seluruh ibadah shalat yang engkau lakukan setelah engkau menggunakan kalung itu, selama sepuluh tahun ini. Karena tidaklah sah ibadah seseorang ketika ia membawa najis dalam ibadahnya," terang sang ayah dengan wajah yang penuh iba.
 
"Dan ketahuilah satu hal lagi anakku. Berpindahlah engkau ke jalan ilmu terlebih dahulu, sebelum engkau mengarungi sisi kehidupan yang lainnya di kemudian kelak. Karena, sebaik-baiknya bekal kehidupan adalah ilmu bermanfaat yang juga diamalkan," pesan sang ayah di akhir perbincangan, sedang sang anak pun tertunduk malu sembari sesenggukan menahan sesal nan malu.
 
Memang ilmu merupakan bekal pertama dan utama dalam menjalani kehidupan. Bahkan sering sekali ulama salaf menyitir sebuah maqalah Arab dalam menggambarkan pentingnya ilmu:
 
فان فقيها عالما متورعا أشد على الشيطان من ألف عابد
 
“Sesungguhnya seorang faqih (ahli ilmu fiqih) nan berhati-hati itu lebih sulit bagi setan untuk menggodanya dibandingkan dengan 1000 hamba yang rajin beribadah.”

Wallahu a'lam.
 
(Ulin Nuha Karim)
 
 
Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren SIrojuth Tholibin Brabo, Grobogan, Jawa Tengah dalam salah satu momen tausiah.
 
Share:

Baca Juga

Ahad 11 Agustus 2019 20:0 WIB
Jangan Takut Disaingi Orang!
Jangan Takut Disaingi Orang!
"Jangankan bekerja mencari uang, menganggur pun disaingi banyak orang.”
Seorang pemuda, sebut saja bernama Sarman, datang kepada kakeknya untuk menyampaikan kesedihannya mengapa hingga setahun ia bekerja, pekerjaannya belum mapan. Ia menceritakan bahwa selama setahun ini ia sudah berganti pekerjaan hingga tiga kali. Kesemua pekerjaan itu tidak ada yang bertahan lama karena selalu saja ada orang yang menyainginya. 
 
Misalnya, pada bulan Januari tahun lalu, atau sejak Sarman pertama kali mencoba belajar bekerja dengan membuka warung es kelapa muda, warungnya secara perlahan memang memiliki beberapa pelanggan. Pada bulan Februari pelanggan makin ramai. Ia mendapat keuntungan yang lumayan dari hasil merintis buka warung es di sisi jalan yang tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduknya. 
 
Tetapi pada bulan ketiga, Maret, ada orang lain yang juga membuka warung es kelapa muda tak jauh dari tempat Sarman berjualan. Pelanggan warung Sarman mulai berkurang sejak saat itu. Pada bulan April warung es Sarman sepi pembeli, sementara warung satunya lagi yang belum lama berdiri itu makin ramai. 
 
Selama empat bulan berikutnya, Mei – Agustus, ia berjualan buah-buahan dengan mendapat pasokan dari teman sendiri. Sarman menjual buah-buahan di warung yang sama ketika ia menjual es kelapa muda. Ia berpikir tak perlu memindahkan warungnya ke tempat lain mengingat hal itu perlu keluarkan biaya. Namun, hasilnya pun tak memuaskan.
 
Dari dua kegagalan itu, Sarman memutuskan untuk tidak lagi berjualan barang-barang. Kali ini ia beralih ke bidang jasa. Ia melihat ada peluang pasar untuk membuka jasa tambal ban sepeda di tempat ia menjual es kelapa muda dan buah-buahan. Ia berpikir menjual jasa tidak besar risikonya dalam menanggung kerugian dibandingkan menjual barang-barang terutama buah-buahan yang bisa membusuk. 
 
Pertengahan bulan September, ia mulai membuka jasa tambal ban. Pada awalnya sepi karena usaha Sarman yang baru ini belum diketahui banyak orang. Pada bulan Oktober usaha Sarman mulai diketahui oleh penduduk sekitar dan para pengendara yang lewat di jalan depan tempat ia membuka usaha. Bulan November usaha Sarman sudah memiliki konsumen yang lumayan jumlahnya. 
 
Namun di bulan Desember ada orang membuka usaha bengkel sepeda motor di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari tempat Sarman membuka usaha tambal ban. Usaha Sarman terkena dampak karena banyak orang beralih ke bengkel sepeda motor itu. Bengkel itu ternyata juga melayani tambal ban.
 
Dalam keadaan seperi itu Sarman merasa sedih kenapa setiap usahanya selalu disaingi orang. Tak kuat menahan kesedihannya, Sarman yang sudah yatim itu datang kepada kakeknya untuk mengadukan persoalan hidupnya. Sang kakek menasihati:
 
“Dalam hidup ini persaingan tak bisa dielakkan. Siapa pun harus sabar sekaligus berani dalam bekerja. Jangan takut disaingi. Jangankan bekerja mencari uang, menganggur pun disaingi banyak orang.”
 
“Hahaha...” Sarman tertawa lebar. 
 
“Mengapa kamu tertawa?” tanya sang kakek kepada Sarman. 
 
“Apa yang Kakek katakan barusan itu lucu sekali, tetapi benar bahwa menganggur saja itu disaingi banyak orang. Hahaha...” 
 
“Nah, kamu paham maksud Kakek. Baik. Sekarang kamu perlu evaluasi. Coba jawab mengapa kamu selalu kalah dalam persaingan?”
 
“Nggak tahu, Kek. Saya pikir ini soal nasib saja,” Jawab Sarman.
 
“Bukan. Ini bukan soal nasib semata tetapi juga menyangkut ikhtiar kinerjamu. Kamu harus bisa mengevaluasi mengapa kamu selalu kalah dalam persaingan. Misalnya, pertama, apakah rasa es kelapa muda yang kau jual dulu itu tidak lebih enak dari pada pesaingmu.”
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman. 
 
“Kedua, apakah harga buah-buahanmu lebih mahal dari pada pesaingmu?” 
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman lagi.
 
“Ketiga, apakah cara kerjamu lebih lama daripada pesaingmu dalam menyelesaikan pekerjaan tambal ban?”
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman lagi.
 
“Keempat, apakah kamu kurang ramah dalam melayani pelanggan?” 
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi kurang saya hiraukan,” jawab Sarman sekali lagi.
 
“Nah, itulah hal-hal yang harus kau benahi terkait ikhtiar kinerjamu. Harga, kualitas barang atau jasa, kecepatan pelayanan, dan keramahan dalam melayani sering kali menjadi penentu survive tidaknya usaha kita dalam sebuah persaingan.
 
Selain itu, kamu harus selalu berdoa memohon sukses dalam usahamu. Lakukan shalat Dhuha sebelum berangkat ke tempat kerja. Jangan lupa baca shalawat di tempat kerjamu, atau baca ayat-ayat Al-Qur’an ketika sedang sepi pekerjaan.
 
“Terima kasih, Kek, atas motivasi dan nasihat-nasihatnya,” kata Sarman kepada kakeknya sebelum berpamitan pulang ke rumah. 
 
 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU Surakarta 
 
Ahad 11 Agustus 2019 0:30 WIB
Hikmah di Balik Tradisi Pengajian Rutin Selapanan
Hikmah di Balik Tradisi Pengajian Rutin Selapanan
Ilustrasi (pzhgenggong.or.id)
Hari Kamis (8/8) lalu, Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah kembali menggelar acara Pengajian Rutin Kamis Kliwon di halaman Kompleks Al Jauhar Pesantren Sirojuth Tholibin Putra.
 
Ya, acara tersebut merupakan acara rutin yang digelar pihak pesantren setiap "selapan" sekali. Hadirinnya terdiri dari masyarakat sekitar Desa Brabo, alumni, dan sebagian wali santri yang memang dating secara sukarela.
 
Istilah “selapan” yang kemudian menjadi kata kerja “selapanan”, merupakan hitungan satu bulan berdasarkan hari dan tanggalan Jawa. Jumlah siklusnya akan berulang setiap 35 hari sekali. 
 
Seperti yang telah diketahui bahwa jumlah hari pasaran atau netu merupakan hitungan hari Suku Jawa. Perhitungannya berjumlah lima hari pasaran. Ada; Pahing, Pon, Wage Kliwon, dan Legi.
 
Kiai-kiai NU khususnya yang berada di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, sering mengagendakan kegiatan keagamaan berdasar pada perhitungan hari tersebut. Misalnya, seperti Pengajian Rutin Kamis Kliwon, Maulid setiap Jumat Legi, Sima'atul Quran per Hari Senin Pahing, dan lain sebagainya.
 
Dalam sambutannya sebagai pengasuh Pesantren, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menjelaskan rahasia di balik tradisi yang telah berlangsung di kalangan ulama NU tersebut.
 
"Kita menghadiri Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini, (marilah) kita niati mengikuti apa yang diarahkan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam," tuturnya mengawali penjelasan.
 
Menurutnya, Kamis Kliwon itu merupakan pengajian 35 hari (selapan) sekali. Mengapa kok 35 hari? Sebab arahan Kanjeng Nabi kepada Sayyidina 'Ali:
 
ياعَلي، إذا أتى على المؤمن أربعون صباحًا ولم يجالس العلماء قسى قلبه، وجسر على الكبائر؛ لأن العلم حياة القلب 
 
“Wahai Ali, ketika datang 40 hari kepada seorang mukmin, dan (selama itu pula) ia tidak berkumpul dengan ulama, maka keraslah hatinya, dan berani melakukan dosa besar. Karena (hakikatnya) ilmu itu (memiliki) hati yang malu (kepada Allah)."

Hal tersebut senada dengan apa yang dijelaskan juga dalam kitab Washiatul Musthofa karya Sayyid Abdul Wahab As Sya'roni. 
 
Putra almarhum KH Ahmad Baidlowie Syamsuri yang akrab disapa Gus Shofi itu juga menambahkan, semua umat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam itu akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Siapakah itu? Dijawab oleh sebuah hadits yang berbunyi:
 
عن أبي هريرة ، أن رسول الله ﷺ قال: كل أمتي يدخل الجنة إلا من أبى قيل: ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى
 
"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam besabda: Tiap-tiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau. Dikatakan: dan siapakah yang tidak mau tersebut wahai Rasulullah? Jawabnya: Barangsiapa taat kepadaku, maka ia akan masuk surga. dan barangsiapa mendurhakaiku maka sungguh ia benar-benar tidak mau (masuk surga)." (HR. Bukhari) 
 
Oleh karenanya, lanjut Gus Shofi, penting sekali dalam beramal kita niatkan untuk ittiba'ur rasul, mengikuti ajaran Nabi Muhammad sallalllahu 'alaihi wasallam. Karena hal tersebut merupakan bukti ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, sebagai modal dalam menggapai surga Allah ta'ala.
 
Demikianlah, tradisi-tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh Nahdliyin, masyarakat NU. Amaliah tersebut merupakan bentuk ikhtiar tokoh NU dalam ihya'us sunnah, menghidupkan ajaran Nabi, meski sebagian kecil orang kerap menuding sebagai hal yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi.
 
(Ulin Nuha Karim)
 
 
Kamis 8 Agustus 2019 6:0 WIB
Sepenggal Kisah Keistimewaan Air Zamzam
Sepenggal Kisah Keistimewaan Air Zamzam
sumur zamzam saat ini ditutup. (kapl-hajj.org)
“Sebaik-baiknya air di muka bumi adalah air Zamzam. Air tersebut bisa menjadi minuman yang mengenyangkan dan penawar rasa sakit.” (HR Thabrani).

Air zamzam adalah air yang sangat istimewa. Banyak nash, hadits, atsar, ataupun khabar yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan air zamzam. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan Thabrani di atas. Di situ dijelaskan bahwa air zamzam bisa menjadi pengganti makanan karena ia mengenyangkan. Dia juga bisa menjadi obat yang menyembuhkan.

Selain itu, air zamzam juga memiliki keistimewaan lain. Yakni tetap steril meski tercemar. Terkait hal ini, ada kisah menarik dari seorang insinyur kimia, Yahya Kausyak. Pada tahun 1980-an, Yahya Kusyak menjadi salah satu orang yang terlibat dalam penataan dan renovasi sumur zamzam setelah terjadi pencemaran. 

Dalam buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga (Said Bakdasy, 2015) dijelaskan, bersamaan dengan itu Yahya bin Kusyak juga melakukan penelitian terhadap air zamzam. Dia meyakini bahwa hasil risetnya akan menunjukkan kalau air zamzam mengalami pencemaran dalam skala besar. Oleh karena itu, ia meminta agar penggunaan air zamzam harus dilarang. Ia juga menyarankan agar air zamzam disedot, dinding sumur harus dicuci dan disterilisasi dengan menggunakan bahan-bahan yang bersih.  

Ketika itu Sami Anqawi dan Abdul Hafidh Salamah, anggota lain dalam tim penataan dan renovasi sumur zamzam, tetap meminum air zamzam sebelum hasil riset Yahya Kusyak keluar. Benar saja, hasil penelitian Yahya Kusyak menunjukkan bahwa saat itu terjadi pencemaran terhadap air zamzam dalam skala besar. 

Akan tetapi, Anqawi dan Salamah yang meminum air zamzam –pada saat air zamzam dinyatakan tercemar- tetap baik-baik saja. Keduanya tidak mengalami masalah kesehatan apapun. Begitupun dengan para jamaah haji dan para pekerja yang tetap meminum air zamzam bersama dengan dua orang tersebut. Itulah keistimewaan air zamzam yang bersifat inderawi dan nyata. 
 
Begitupun dengan orang-orang pada zaman dulu. Mereka dari luar Makkah datang ke sumur zamzam dengan unta yang tidak bersih. Selama perjalanan itu pula, mereka bisa saja terkena bakteri, penyakit, dan kotoran. Ketika sampai di sumur, mereka kemudian mengambil air zamzam dengan menggunakan timba. Para dokter berpendapat bahwa penyakit menyebar melalui air dengan cara pengambilan seperti itu. Namun nyatanya, tidak ada dari mereka yang terkena penyakit. Malah mereka menjadi sembuh oleh air zamzam. 

“Air zamzam adalah sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.” Kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.

Demikian keistimewaan air zamzam. Ia tetap steril, sehat, dan menyehatkan, meski ‘divonis’ sedang tercemar. Tidak lain, ini adalah bentuk perhatian khusus dan penjagaan Allah terhadap air yang diberkahi-Nya itu. Bukankah penjagaan Allah di atas segalanya. Waallahu ‘Alam (Muchlishon)