IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Keutamaan Pemakaman Jenazah di Kota Makkah

Kamis 15 Agustus 2019 17:35 WIB
Share:
Keutamaan Pemakaman Jenazah di Kota Makkah
Foto: vocatif.com
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, wafatnya KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Kota Makkah pada 6 Agustus 2019 lalu membuat masyarakat di Tanah Air kehilangan. Mbah Moen dimakamkan di Tanah Suci Makkah atas musyawarah keluarga. Masyarakat juga kemudian mendiskusikan perihal Kota Makkah sebagai tempat makam yang baik. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Dedi Wijaya/Tangerang)
 
Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Kita semua kehilangan Mbah Moen sebagai ulama dan orang tua yang mengikhlaskan dirinya untuk Islam dan Indonesia. Semoga Allah menerima semua amal baik Mbah Moen. 

Sebenarnya kita tidak dapat memilih tempat pemakaman karena hakikatnya rencana Allah juga yang berlaku. Kita memang dapat merencanakan tempat pemakaman. Tetapi Allah sebenarnya sudah memilihkan tempat makam kita.

Adapun perihal keutamaan Kota Makkah, ulama berbeda pendapat. Ulama Mazhab Syafi’i dan mayoritas ulama memandang Kota Makkah lebih mulia dibanding tempat lainnya. Sementara Imam Malik dan sejumlah ulama menilai Kota Madinah lebih mulia dibanding Kota Makkah.

مكة أفضل بقاع الأرض عندنا وعند جماعة من العلماء وقال العبدري وهو مذهب أكثر الفقهاء وهو قول أحمد في أصح الروايتين وقال مالك رحمه الله تعالى وجماعة المدينة أفضل

Artinya, “Makkah merupakan tempat paling utama menurut kami dan menurut seklompok ulama. Al-Abdari mengatakan bahwa pandangan ini merupakan mazhab mayoritas ulama. Ini juga pandangan Imam Ahmad pada satu yang paling shahih dari dua riwayat. Tetapi Imam Malik dan sejumlah ulama berpendapat bahwa Kota Madinah lebih utama,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 191-192).

Mazhab Syafi’i dan ulama lainnya mendasarkan pandangannya pada hadits riwayat Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Ibnu Majah. Riwayat hadits yang menjadi argumentasi Mazhab Syafi’i ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Idhah sebagai berikut:

دليلنا ما رواه النسائي وغيره عن عبد الله بن عدي بن الحمراء رضي الله عنه أنه قال سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ وَهُوَ وَاقِفٌ على راحلته بمَكَّةَ يَقُولُ لمَكَّةَ وَاَللَّهِ إنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ. رَوَاهُ التِّرْمذِيُّ أيضا في كتابه كتاب المناقب

Artinya, “Argumentasi kami bersandar pada riwayat Imam An-Nasai dan ahli hadits lainnya dari sahabat Abdullah bin Adi bin Al-Hamra RA bahwa ia mendengar Rasulullah SAW ketika berdiam di atas kendaraannya saat di Makkah mengatakan kepada Makkah, ‘Demi Allah, kau adalah bumi terbaik Allah dan bumi-Nya yang paling dicintai. Kalau saja dulu aku tidak dikeluarkan paksa darimu, niscaya aku tidak akan keluar.’ Imam At-Timidzi juga meriwayatkan ini dalam kitabnya pada Bab Manaqib,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 192).

Pandangan Mazhab Syafi’i diperkuat juga oleh hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dengan redaksi serupa. Pada riwayat ini, Rasulullah memuji Kota Makkah sebagai berikut:

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِمَكَّةَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وأَحبَّكِ إلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah SAW berkata kepada Makkah,  ‘Alangkah baiknya kau sebagai kota dan betapa cintanya diriku terhadapmu. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari kotamu, nisacaya aku tidak akan tinggal di kota selainmu,’” (HR At-Tirmidzi).

Dari sini kemudian, ulama seperti Syekh Ibnu Hajar dalam Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 191) memasukkan diskusi perihal keutamaan pemakaman jenazah di Kota Makkah.

Pada prinsipnya, bukan soal tempat makam yang baik yang dituntut dari manusia, tetapi amal saleh dan kontribusi kita selama hidup terhadap orang lain dan kehidupan yang dituntut dari manusia.

Demikian jawaban kami, semoga dipahami dengan baik. Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.

 
 
(Alhafiz Kurniawan)
Tags:
Share:

Baca Juga

Senin 12 Agustus 2019 16:45 WIB
Daftar Haji atau Menyelesaikan Cicilan Rumah?
Daftar Haji atau Menyelesaikan Cicilan Rumah?
Foto: Pixabay.
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, banyak pasangan muda menanggung biaya cicilan rumahnya. Sementara daftar haji sebaiknya dilakukan sedini mungkin karena berkaitan dengan daftar tunggu haji yang cukup panjang. Apakah mereka sebaiknya menunggu cicilan rumah selesai untuk mendaftarkan haji atau menunggu mendaftarkan haji sambil melunasi cicilan rumah? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Mukhlisin/Depok)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Ibadah haji menuntut pengorbanan fisik, mental, dan keuangan. Ibadah haji merupakan ibadah mulia yang menuntut kemampuan dari calon jamaah haji. Oleh karena itu, mereka yang memiliki kemampuan tanpa melaksanakannya menanggung aib menurut syari.

Rasulullah dalam sebuah hadits mempersilakan umatnya yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji tetapi tidak melaksanakannya untuk mati sebagai non-Muslim.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا (

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya ke Baitullah dan ia tidak juga berhaji, maka ia boleh pilih mati sebagai Yahudi atau Nasrani. Allah berfirman dalam Al-Quran, ‘Kewajiban manusia dari Allah adalah mengunjungi Ka’bah bagi mereka yang mampu menempuh perjalanan,’’” (HR A-Tirmidzi dan Al-Baihaqi).

Lalu bagaimana dengan pasangan muda yang juga memiliki beban cicilan rumah. Apakah mereka juga terkena beban kewajiban haji?

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa bekal perjalanan yang diasumsikan sebagai kemampuan haji bukanlah biaya yang dialokasikan untuk kebutuhan rumah. Dengan demikian, orang yang memiliki biaya terbatas hanya untuk cicilan rumah dianggap belum memiliki bekal haji.

ويشترط في الزاد ما يكفيه لذهابه ورجوعه...وفاضلا عن مسكن وخادم يحتاج إليهما

Artinya, “Dalam urusan bekal, disyaratkan biaya yang dapat mencukupi kebutuhan pergi dan pulangnya lebih di luar… kebutuhan untuk membayar dan asisten rumah tangga yang diperlukan,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 47).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan bahwa bekal haji adalah biaya di luar kebutuhan papan, asisten rumah tangga, dan kebutuhan mendasar lain untuk dirinya dan keluarganya. Bekal haji adalah juga biaya di luar kebutuhan biaya membayar utang karena pelunasan utang bagian dari kebutuhan dasar dan berkaitan dengan hak anak Adam. Ini lebih kuat. (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz III, halaman 34).

Syekh Ibnu Hajar mengatakan bahwa kebutuhan rumah tidak selalu harus dipenuhi dengan membeli sendiri. Pemenuhan kebutuhan rumah dapat berasal dari wakaf atau wasiat yang ditujukan kepadanya sehingga seseorang yang memiliki wajib mengalokasikan asetnya untuk biaya haji, bukan rumah. (Lihat Syekh Ibnu Hajar, Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 47).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli menambahkan, orang yang memiliki aset mati berupa lahan untuk tempat tinggal atau aset hidup untuk diambil keuntungannya demi menafkahi dirinya dan keluarganya, tidak terkena beban kewajiban haji. Tetapi ketika keuntungannya melebihi kebutuhan nafkahnya dan nafkah keluarganya, seseorang berkewajiban haji.

ومن له عقار يحتاج إليه لسكناه، أو سكنى عياله، أو يحتاج إلى أجرته، لنفقة نفسه أو عياله، أو بضاعة متى نقصها اختل ربحها، لم يكفهم، أو سائمة يحتاجون إليها، لم يلزمه الحج، فإن كان له من ذلك شيء فاضل عن حاجته، لزمه بيعه في الحج

Artinya, “Siapa saja yang memiliki aset tak bergerak yang diperlukan untuk kediamannya, kediaman keluarganya, atau diperlukan untuk penyewaan demi nafkah dirinya atau nafkah keluarganya; atau memiliki produk jualan yang jika dikurangi maka keuntungannya juga berkurang dan tidak mencukupi; atau memiliki ternak yang mereka perlukan, maka ia tidak wajib haji. Kalau ia memiliki asset lain di luar kebutuhannya, maka asset itu harus dijual untuk pembiayaan haji,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz III, halaman 34).

Dari pelbagai keterangan ini, kami menyarankan pasangan muda untuk berusaha menyisihkan uangnya untuk alokasi dana setoran awal biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) di tengah memenuhi beban cicilan rumahnya. Tetapi jika upaya itu cukup membebani, maka mereka harus memprioritaskan dananya untuk biaya cicilan rumah.

Demikian jawaban kami, semoga dipahami dengan baik. Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.
 

(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 9 Agustus 2019 16:30 WIB
Daftar Haji atau Bayar Utang Terlebih Dahulu?
Daftar Haji atau Bayar Utang Terlebih Dahulu?
Foto: pixabay
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, orang tua saya memiliki dana terbatas. Ia ingin sekali naik haji. Sementara ia masih memiliki tanggungan utang yang harus dilunasi. Orang tua saya bimbang. Mohon solusinya. terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Sofyan/Bogor)
 
Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Haji merupakan kewajiban bagi umat Islam. Haji bahkan salah satu dari pilar keislaman seorang Muslim atau rukun Islam.

Rasulullah sendiri memandang haji sebagai ibadah mulia yang sangat penting. Rasulullah dalam sebuah hadits mempersilakan umatnya yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji tetapi tidak melaksanakannya untuk mati sebagai non-Muslim.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا (

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya ke Baitullah dan ia tidak juga berhaji, maka ia boleh pilih mati sebagai Yahudi atau Nasrani. Allah berfirman dalam Al-Quran, ‘Kewajiban manusia dari Allah adalah mengunjungi Ka’bah bagi mereka yang mampu menempuh perjalanan,’’” (HR A-Tirmidzi dan Al-Baihaqi).

Meski demikian, seseorang harus memiliki bekal pulang dan pergi sebagai salah satu persyaratan. Perbekalan pulang dan pergi ini berupa bekal di luar dari kebutuhan untuk melunasi utang yang menjadi tanggungannya.

Hal ini berlaku bagi utang yang harus segera dilunasi atau utang yang tidak harus segera dilunasi sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi berikut ini:

ويشترط في الزاد ما يكفيه لذهابه ورجوعه فاضلا... عن قضاء دين يكون عليه حالا كان أو مؤجلا

Artinya, “Dalam urusan bekal, disyaratkan biaya yang dapat mencukupi kebutuhan pergi dan pulangnya lebih di luar… kebutuhan untuk membayar utang baik yang harus dibayar tunai maupun yang dapat diangsur,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 47).

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa seseorang yang memiliki dana terbatas–sementara ia juga memiliki utang yang tidak harus segera dilunasi–sebaiknya menggunakan uangnya untuk pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji. Pilihan ini dilakukan dengan alasan bahwa pembayaran utangnya dapat ditunda.

Anggapan seperti ini tidak cukup kuat secara syar’i. Pasalnya, bekal haji adalah uang mati seseorang yang dialokasikan untuk pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji tanpa tanggungan apa pun. Meski pembayaran utang dapat ditunda, seseorang tetap berkewajiban untuk melunasinya dari aset di luar bekal yang dia miliki.

نعم لو قيل بذلك في المؤجل لكان له وجه لأن لم يجب إلى الآن والحج إذا تضيق وجب فورا فكان ينبغي وجوب تقديمه عليه وقد يجاب بأن الدين محض حق آدمي أو له فيه شائبة قوية فاحتيط له لأن الاعتناء به أهم فقدم على الحج وإن تضيق

Artinya, “Tetapi seandainya dikatakan ‘pembayaran utang dapat diangsur’ lalu ada pendapat mengatakan, ‘Bila utang tidak wajib hingga kini sementara kewajiban pelaksanaan haji adalah segera, maka seharusnya seseorang mendahulukan haji daripada pembayaran utang,’ maka dapat ditanggapi bahwa utang adalah murni hak manusia atau ada perkara menakutkan yang sangat kuat sehingga harus ihtiyath. Pasalnya, memerhatikan utang lebih penting sehingga pembayaran utang harus didahulukan dibanding haji meski (kesempatan) haji semakin mepet baginya,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar, Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 47-48).

Dari sini kita dapat menarik simpulan bahwa seorang Muslim/Muslimah terkena kewajiban haji jika memiliki bekal pergi dan pulang tanpa menanggung utang. Ketika memiliki tanggungan utang, maka ia harus melunasi dulu tanggungannya sebelum melunasi setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.
 
 
(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 5 Juli 2019 15:30 WIB
Hukum Mengonsumsi Daging Wagyu
Hukum Mengonsumsi Daging Wagyu
Ilustrasi (daily sabah)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi NU Online, bagaimana hukum memakan daging wagyu, yang pada saat pemeliharaannya sapinya diminumin tuak. Apakah setelah disembelih dengan baik, dagingnya hukumnya haram?Demikian kami sampaikan, atas jawabannya kami ucapkan beribu terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (M Husni Thamrin)


Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Beberapa sumber yang kami dapati menyebutkan bahwa wagyu adalah ras sapi yang dibudidayakan di Jepang dengan perawatan khusus. Daging wagyu dinilai sebagai daging sapi paling berkualitas sehingga dijual dengan harga yang mahal.


Perawatan khusus ini meningkatkan kualitas daging sapi penuh nutrisi, membuat kandungan asam lemak omega-3 dan omega-6 lebih tinggi dibanding sapi lainnya, lemak tak jenuh yang sangat baik untuk dikonsumsi manusia.


Perawatan khusus wagyu mencakup penyediaan kandang yang eksklusif, pakan pilihan yang terjaga, pemijatan otot-otot sapi dan pemutaran musik klasik untuk menghilangkan stres pada sapi, dan pemberian minum sake atau sejenis tuak yang dipercaya dapat menambah nafsu makan sapi, meski tidak selalu.


Pertanyaannya kemudian, apa pandangan fiqih terkait aktivitas seorang Muslim yang mengonsumsi daging wagyu yang diberi minum sake atau tuak?


Perihal hewan halal yang mengonsumsi benda kotor atau zat yang diharamkan disinggung dalam hadits Rasulullah SAW riwayat Imam At-Turmudzi yang menyarankan sahabatnya untuk menunda penyembelihan hewan tersebut selama beberapa hari untuk kemudian diberikan pakan yang bersih dan halal.


Dari riwayat ini ulama menyatakan bahwa mengonsumsi hewan yang diberi pakan benda kotor atau zat yang haram dimakruh. 


Syekh Abu Zakaria dalam Syarah Tahrir menerangkan sebagai berikut:


وتكره الجلالة من نعم ودجاج وغيرهما أي يكره تناول شئ منها كلبنها وبيضها ولحمها وصوفها وركوبها بلا حائل، فتعبيري بها أعم من تعبيره بلحمها، هذا إذا تغير لحمها اي طعمه أو لونه أو ريحه وتبقى الكراهة إلى أن تعلف طاهرا فتطيب أو تطيب بنفسها من غير شيء


Artinya, “Makruh hukumnya mengonsumsi hewan pemakan kotoran baik itu hewan ternak, ayam, atau hewan selain keduanya. Maksudnya, kemakruhan itu meliputi anggota tubuh hewan pemakan kotoran itu seperti susu, telur, daging, bulu, atau mengendarainya tanpa alas. Ungkapan saya ‘anggota tubuh’ lebih umum dibanding ungkapan ‘dagingnya.’ Makruh ini dikarenakan ada perubahan pada dagingnya yang mencakup rasa, bau, dan warnanya. Menyantap daging hewan seperti ini akan tetap makruh hingga hewan ini dibiarkan hidup beberapa waktu agar ia memakan barang-barang yang suci. Tujuannya tidak lain agar tubuhnya kembali bersih dengan sendirinya tanpa bantuan sesuatu (seperti mencucinya hingga bersih),” (Lihat Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Tahrir dalam Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H,] juz II).


Sementara Syekh Syarqawi dalam Hasyiyah-nya menerangkan sebagai berikut:


والمراد بها هنا التي تأكل النجاسات مطلقا كعذرة


Artinya, “Yang dimaksud dengan ‘hewan pemakan kotoran’ di sini ialah segala hewan yang memakan najis mutlaq (najis apa pun itu) seperti tinja,” (Lihat Syekh Abdullah As-Syarqawi, Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H,] juz II).


Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa konsumsi wagyu tetap halal dengan makruh bila hingga masa penyembelihannya sapi itu tetap diberi minum sake atau tuak. Tetapi bila sebelum penyembelihannya dalam jangka waktu tertentu sapi itu disterilisasi dengan penghentian pemberian minum sake, maka daging wagyu itu tetap halal tanpa makruh.


Menurut informasi yang kami dapatkan, Jepang beberapa tahun belakangan juga membudidayakan wagyu dengan perawatan khusus tanpa pemberian minum sake. 


Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.


Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)