IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq Ditegur Allah

Sabtu 17 Agustus 2019 20:0 WIB
Share:
Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq Ditegur Allah
Ilustrasi
Riwayat ini ditemukan dalam kitab Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm-nya Imam Ibnu Katsir, tepatnya ketika menjelaskan ayat 22 Surat An-Nur. Imam Ibnu Katsir merujuk pada asbabun nuzûl (latar sejarah turunnya) ayat tersebut. Allah berfirman (QS. An-Nur: 22):
 
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
 
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 
 
Dalam Tafsîr Ibnu Katsîr, ayat di atas diturunkan karena sumpah yang diucapkan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq. Ketika itu, ia bersumpah untuk menghentikan bantuan nafkah kepada seorang kerabatnya karena terlibat menyebarkan berita bohong (hadîtsul ifki) tentang Sayyidah ‘Aisyah. Berikut riwayatnya:
 
وهذه الآية نزلت في الصديق-رضي الله عنه-حين حلف ألا ينفع مسطح بن أثاثة بنافعة بعدما قال في عائشة ما قال، كما تقدم في الحديث فلما أنزل الله براءة أم المؤمنين عائشة، وطابت النفوس المؤمنة واستقرت، وتاب الله على من كان تكلم من المؤمنين في ذلك، وأقيم الحد على من أقيم عليه-شرع تبارك وتعالى-وله الفضل والمنة-يعطف الصديق على قريبه ونسيبه، وهو مسطح بن أثاثة، فإنه كان ابن خالة الصديق، وكان مسكينا لا مال له إلا ما ينفق عليه أبو بكر-رضي الله عنه-وكان من المهاجرين في سبيل الله، وقد ولق ولقة تاب الله عليه منها، وضرب الحد عليها. وكان الصديق-رضي الله عنه-معروفا بالمعروف، له الفضل والأيادي على الأقارب والأجانب، فلما نزلت هذه الآية إلى قوله: (ألا تحبون أن يغفر الله لكم والله غفور رحيم) أي: فإن الجزاء من جنس العمل، فكما تغفر عن المذنب إليك نغفر لك، وكما تصفح نصفح عنك. فعند ذلك قال الصديق: بلى، والله إنا نحب-يا ربنا-أن تغفر لنا. ثم رجع إلى مسطح ما كان يصله من النفقة، وقال: والله لا أنزعها منه أبدا، في مقابلة ما كان قال: والله لا أنفعه بنافعة أبدا، فلهذا كان الصديق هو الصديق [رضي الله عنه وعن بنته]
 
Terjemah bebasnya seperti ini:
 
Ayat ini (QS. An-Nur: 22) diturunkan sebab (Sayyidina Abu Bakr) ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu ia bersumpah tidak akan memberi bantuan (nafkah lagi) kepada Misthah bin Utsatsah setelah ia (ikut) berkata (menyebarkan berita) tentang ‘Aisyah, sebagaimana yang diceritakan sebelumnya (lihat An-Nur: 11). Ketika Allah menunjukkan ketidak-bersalahan (kesucian) ummul mu’minin (Sayyidah) ‘Aisyah. Ia (Aisyah) merasa sangat senang dan tenteram. Allah pun mengampuni orang-orang mukmin yang ikut berkomentar (menyebarkan berita) tentang (Sayyidah Aisyah), dan menetapkan hukum dera terhadap yang layak menerimanya.
 
(Sayyidina) Abu Bakr ash-Shiddiq memiliki kelebihan (harta) dan rezeki. Ia bersimpati kepada keluarga dan kerabatnya. (Salah satunya) adalah Misthah bin ‘Utsatsah. Ia adalah anak dari bibi (Sayyidina Abu Bakr) ash-Shiddiq. Ia orang miskin, tidak memiliki harta (sedikit pun) kecuali apa yang diberikan (Sayyidina) Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu kepadanya. Ia termasuk kaum muhajirin fi sabîlillah. Allah mengampuni Misthah dari perbuatannya, dan ia didera karena perbuatannya itu.
 
(Sayyidina) Abu Bakr ash-Shiddiq dikenal sebagai orang mulia dan dermawan terhadap para kerabatnya dan orang lain (bukan kerabat). Ketika ayat ini turun sampai kalimat (QS. An-Nur: 22): “allâ tuhibbûna an yaghfirallahu lakum” (Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?)
 
Maksudnya, karena sesungguhnya balasan (pahala) sesuai dengan jenis amal (yang dilakukannya), sebagaimana kau mengampuni dosa orang yang bersalah kepadamu, maka Allah pun mengampuni dosa-dosamu; sebagaimana kau memaafkan (kesalahan orang lain), maka Allah pun memaafkan (kesalahan)mu juga.
 
Seketika itu juga (Sayyidina Abu Bakr) ash-Shiddiq berkata: “Benar. Demi Allah, sungguh kami suka, wahai Tuhan kami, bila Engkau mengampuni kami.” Kemudian ia kembali memberi bantuan nafkah kapada Misthah (seperti dulu) sembari berujar: “Demi Allah, aku tidak akan mencabut (bantuanku lagi) selama-lamanya,” sebagai pengimbang perkataannya yang lalu, (yaitu ucapan): “Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi selama-lamanya.” Karena itulah ia, (Abu Bakr) ash-Shiddiq adalah ash-Shiddiq (orang yang sangat terpercaya). Semoga Allah meridhainya dan puterinya (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Riyad: Dar Thayyibah, 1999, juz 6, h. 31).
 
Dari riwayat di atas, kita bisa mengambil dua poin penting. Pertama, pelajaran bahwa sebesar apa pun kesalahan seseorang, memaafkan jauh lebih baik daripada menyimpan dendam. Orang yang memaafkan, akan mendapatkan peluang dimaafkan lebih besar dari sesamanya ketika ia berbuat salah. Karena itu Allah mengajukan pertanyaan (QS. An-Nur: 22): “Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” 
 
Pertanyaan ini dijelaskan secara berkait dalam tafsir Ibnu Katsir di atas, yaitu: “kau mengampuni dosa orang yang bersalah kepadamu, maka Allah pun mengampuni dosa-dosamu; sebagaimana kau memaafkan (kesalahan orang lain), maka Allah pun memaafkan (kesalahan)mu juga.” Di sini kita bisa melihat kesinambungan. 
 
Penjelasannya begini, bagi orang yang beriman, tidak ada seorang pun yang tidak suka mendapatkan ampunan Allah. Semua orang mengharapkan ampunan-Nya. Artinya kita telah mengalami sendiri perasaan itu, hanya saja mungkin hati kita masih kurang tajam dalam merasa. Karena seharusnya orang yang pernah mengalami tahu bagaimana susahnya memendam rasa bersalah; tahu bagaimana beratnya penantian dimaafkan. Apalagi jika orang tersebut benar-benar merasa bersalah dan meminta maaf seperti kasus Misthah bin Utsatsah di atas.
 
Karena itu, Allah mengajukan pertanyaan tersebut. Berhubung Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq memiliki keluasan perasaan dan kecerdasan hati, ia langsung paham maksud ayat tersebut. Ia mencabut sumpahnya dan kembali memberi bantuan nafkah untuk Misthah bin Utsatsah. Padahal kesalahan yang dilakukan Misthah bukan kesalahan biasa. Ia ikut menyebarkan fitnah tentang Sayyidah Aisyah, puteri kesayangan Abu Bakr ash-Shiddiq. 
 
Kekecewaan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq tentu dapat dipahami, karena orang yang selama ini dibantunya ikut terlibat dalam penyebaran fitnah keji atas puterinya, apalagi Misthah adalah kerabatnya, anak bibinya (sepepunya). Meski demikian, dengan kelapangan hati ia mencabut sumpahnya setelah mendengar firman Allah. 
 
Ini menunjukkan bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk dimaafkan, sebagaimana setiap orang punya keinginan diampuni segala dosanya oleh Allah. Akan sangat tidak adil jika orang yang merindukan pengampunan Tuhan, menutup diri untuk memaafkan kesalahan orang lain. Itu artinya ia telah gagal mengaplikasikan pengalaman nyatanya (hasrat diampuni) ke dalam dirinya. Padahal dalam hasrat itu terdapat pelajaran yang sangat besar. Singkatnya, keinginan diampuni harus berbanding lurus dengan keinginan mengampuni.
 
Kedua, semarah apa pun seseorang, jangan sampai kemarahan tersebut menghalanginya membantu orang yang membutuhkan. Karena itu Allah berfirman (QS. An-Nur: 22): “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.”
 
Artinya, dalam konteks membantu orang lain, Allah menghendaki kita untuk melihat keadaannya (miskin/kurang mampu). Jangan melihat mereka dari kesalahan yang mereka perbuat kepada kita. Bahkan Allah memerintahkan kita untuk berlapang dada memaafkan mereka. Inilah yang kemudian ditampilkan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq hingga ia berjanji tidak akan menghentikan bantuannya lagi selama-lamanya. Maka, pantas saja di akhir riwayat dikatakan, “fa lihadza kâna al-shiddîq huwa al-shiddîq” (karena inilah Abu Bakr ash-Shiddiq adalah ash-Shiddiq—orang yang sangat terpercaya), yaitu orang yang selalu menjalankan apa yang dikatakannya. 
 
Wallahu a’lam bish shawwab...
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
 
Tags:
Share:

Baca Juga

Kamis 15 Agustus 2019 16:0 WIB
Balada 10 Tahun Beramal Tanpa Ilmu
Balada 10 Tahun Beramal Tanpa Ilmu
Ilustrasi
Termaktub kisah dalam kitab Nihâyatul ‘Izzi wa Syarâf karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani bahwa suatu ketika ada seorang ayah yang menasihati kedua anaknya,
 
"Wahai kedua anakku, kini engkau telah beranjak dewasa. Namun, dirimu sama sekali belum melihat dunia luar. Maka dari itu berkelanalah, wahai putraku, hingga engkau mendapatkan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupanmu kelak."
 
Kedua putra tersebut lantas bergegas untuk mempersiapkan pengembaraanya. Setelah berpamit dengan  ayah mereka, keduanya berpisah di ujung jalan desa. Ya, mereka tidak mengembara bersama. Mereka lebih memilih berpisah, menentukan destinasi sesuai kehendak hati. 
 
Kini lega sudah hati sang ayah meski awalnya agak berberat hati harus terpisah dengan kedua buah hati. Namun baginya lebih penting melepaskan anaknya untuk berkelana mengarungi samudera kehidupan luar sana yang tentu bermanfaat kelak bagi mereka.
 
Tak terasa sepuluh tahun berlalu. Sesuai waktu yang telah disepakati, mereka bersama-sama kembali ke hadirat sang ayah yang telah menanti. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi, sang ayah pun mulai menyodorkan pertanyaan inti,
 
"Wahai putraku yang kusayangi. Apakah yang engkau dapat selama satu dekade ini?" tanya sang ayah penuh tatapan dalam.
 
Salah satu dari mereka mulai angkat bicara,
 
"Wahai ayah yang sangat hamba hormati. Semenjak langkah kakiku tak terlihat oleh pandanganmu. Hamba memutuskan untuk pergi belajar ke pesantren kepada seorang guru. Alhamdulillah, selama itu hamba berhasil meringkas beberapa pelajaran yang telah diajarkan. Ini ayahanda," terang sang anak sambil menyerahkan beberapa tumpuk buku ringkasannya.
 
"Maha suci Allah yang telah menuntunmu ke jalan ilmu, wahai putraku. Semoga ilmumu bermanfaat kelak bagi pribadimu, keluarga dan masyarakat di sekitarmu,"  doa sang ayah.
 
"Lantas, bagaimana dengan dikau wahai putraku?" tanya ayah kepada anak yang satunya.
 
"Wahai ayahku, selama sepuluh tahun ini, aku memutuskan untuk tahannus, menyepi beribadah kepada Allah di sebuah goa. Alhamdulillah, baru berselang tiga hari Allah telah memberiku anugerah yang tak terkira."
 
"Apa itu wahai anakku?" Belum sampai anaknya selesai menjelaskan, sang ayah terburu memotong penjelasan anaknya akibat keingintahuan yang begitu mendalam. 
 
"Ya, baru saja tiga hari aku berdiam diri di gua itu. Tiba-tiba ada seekor kadal emas yang berkilauan sedang berdiam diri di hadapanku. Ia begitu indah nan menarik pandanganku. Besar firasatku bahwa ini adalah karunia yang Allah berikan kepadaku."
 
"Aku lantas mengambilnya. Namun, ku pikir rasanya aku akan kerepotan jika harus memeliharanya hidup-hidup. Sedangkan, niatku bertapa di dalam gua adalah agar aku dapat khusyuk beribadah kepada Allah ta'ala semata."
 
"Akhirnya, aku awetkan saja kadal emas itu. Setelah aku menghilangkan nyawanya, lantas aku jemur bangkai kadal itu hingga mengering dan tak berbau. Setelah itu kutali ujung tubuhnya dengan kalung yang kini terlilit di leherku. Ini dia ayah," terang anak satu itu sambil menunjukkan kalung yang bergelantung di lehernya.
 
"Astaghfirullah…." seru sang ayah.
 
Alih-alih sang ayah terpukau bangga akibat pencapaiannya selama mengembara. Sang ayah justru bermuram durja sambil memegang kepala. Anaknya begitu bingung tiada tara. Adakah yang salah dengan 'kisah hebat' yang dialaminya. Ia pun segera bertanya pada ayahnya,
 
"Apakah yang membuatmu bersedih, wahai ayahanda?"
 
"Bagaimana aku tidak kecewa wahai putraku. Apakah engkau tidak tahu, bahwa sesungguhnya bangkai itu najis hukumnya. Sedang engkau, selama pertapaanmu di goa sana, dengan bangga mengalungkan barang najis itu dan mengira bahwa itu adalah karunia dari Allah ta'ala,"  sang ayah begitu terpukul.
 
"Lantas bagaimanakah ibadahku sang ayah? Kukira dengan menyepi dan beribadah saja. Allah akan memberiku karunia yang luar biasa," kaget sang anak, cemas tak karuan.
 
"Ketahuailah wahai anakku. Wajib bagimu untuk mengganti seluruh ibadah shalat yang engkau lakukan setelah engkau menggunakan kalung itu, selama sepuluh tahun ini. Karena tidaklah sah ibadah seseorang ketika ia membawa najis dalam ibadahnya," terang sang ayah dengan wajah yang penuh iba.
 
"Dan ketahuilah satu hal lagi anakku. Berpindahlah engkau ke jalan ilmu terlebih dahulu, sebelum engkau mengarungi sisi kehidupan yang lainnya di kemudian kelak. Karena, sebaik-baiknya bekal kehidupan adalah ilmu bermanfaat yang juga diamalkan," pesan sang ayah di akhir perbincangan, sedang sang anak pun tertunduk malu sembari sesenggukan menahan sesal nan malu.
 
Memang ilmu merupakan bekal pertama dan utama dalam menjalani kehidupan. Bahkan sering sekali ulama salaf menyitir sebuah maqalah Arab dalam menggambarkan pentingnya ilmu:
 
فان فقيها عالما متورعا أشد على الشيطان من ألف عابد
 
“Sesungguhnya seorang faqih (ahli ilmu fiqih) nan berhati-hati itu lebih sulit bagi setan untuk menggodanya dibandingkan dengan 1000 hamba yang rajin beribadah.”

Wallahu a'lam.
 
(Ulin Nuha Karim)
 
 
Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren SIrojuth Tholibin Brabo, Grobogan, Jawa Tengah dalam salah satu momen tausiah.
 
Ahad 11 Agustus 2019 20:0 WIB
Jangan Takut Disaingi Orang!
Jangan Takut Disaingi Orang!
"Jangankan bekerja mencari uang, menganggur pun disaingi banyak orang.”
Seorang pemuda, sebut saja bernama Sarman, datang kepada kakeknya untuk menyampaikan kesedihannya mengapa hingga setahun ia bekerja, pekerjaannya belum mapan. Ia menceritakan bahwa selama setahun ini ia sudah berganti pekerjaan hingga tiga kali. Kesemua pekerjaan itu tidak ada yang bertahan lama karena selalu saja ada orang yang menyainginya. 
 
Misalnya, pada bulan Januari tahun lalu, atau sejak Sarman pertama kali mencoba belajar bekerja dengan membuka warung es kelapa muda, warungnya secara perlahan memang memiliki beberapa pelanggan. Pada bulan Februari pelanggan makin ramai. Ia mendapat keuntungan yang lumayan dari hasil merintis buka warung es di sisi jalan yang tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduknya. 
 
Tetapi pada bulan ketiga, Maret, ada orang lain yang juga membuka warung es kelapa muda tak jauh dari tempat Sarman berjualan. Pelanggan warung Sarman mulai berkurang sejak saat itu. Pada bulan April warung es Sarman sepi pembeli, sementara warung satunya lagi yang belum lama berdiri itu makin ramai. 
 
Selama empat bulan berikutnya, Mei – Agustus, ia berjualan buah-buahan dengan mendapat pasokan dari teman sendiri. Sarman menjual buah-buahan di warung yang sama ketika ia menjual es kelapa muda. Ia berpikir tak perlu memindahkan warungnya ke tempat lain mengingat hal itu perlu keluarkan biaya. Namun, hasilnya pun tak memuaskan.
 
Dari dua kegagalan itu, Sarman memutuskan untuk tidak lagi berjualan barang-barang. Kali ini ia beralih ke bidang jasa. Ia melihat ada peluang pasar untuk membuka jasa tambal ban sepeda di tempat ia menjual es kelapa muda dan buah-buahan. Ia berpikir menjual jasa tidak besar risikonya dalam menanggung kerugian dibandingkan menjual barang-barang terutama buah-buahan yang bisa membusuk. 
 
Pertengahan bulan September, ia mulai membuka jasa tambal ban. Pada awalnya sepi karena usaha Sarman yang baru ini belum diketahui banyak orang. Pada bulan Oktober usaha Sarman mulai diketahui oleh penduduk sekitar dan para pengendara yang lewat di jalan depan tempat ia membuka usaha. Bulan November usaha Sarman sudah memiliki konsumen yang lumayan jumlahnya. 
 
Namun di bulan Desember ada orang membuka usaha bengkel sepeda motor di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari tempat Sarman membuka usaha tambal ban. Usaha Sarman terkena dampak karena banyak orang beralih ke bengkel sepeda motor itu. Bengkel itu ternyata juga melayani tambal ban.
 
Dalam keadaan seperi itu Sarman merasa sedih kenapa setiap usahanya selalu disaingi orang. Tak kuat menahan kesedihannya, Sarman yang sudah yatim itu datang kepada kakeknya untuk mengadukan persoalan hidupnya. Sang kakek menasihati:
 
“Dalam hidup ini persaingan tak bisa dielakkan. Siapa pun harus sabar sekaligus berani dalam bekerja. Jangan takut disaingi. Jangankan bekerja mencari uang, menganggur pun disaingi banyak orang.”
 
“Hahaha...” Sarman tertawa lebar. 
 
“Mengapa kamu tertawa?” tanya sang kakek kepada Sarman. 
 
“Apa yang Kakek katakan barusan itu lucu sekali, tetapi benar bahwa menganggur saja itu disaingi banyak orang. Hahaha...” 
 
“Nah, kamu paham maksud Kakek. Baik. Sekarang kamu perlu evaluasi. Coba jawab mengapa kamu selalu kalah dalam persaingan?”
 
“Nggak tahu, Kek. Saya pikir ini soal nasib saja,” Jawab Sarman.
 
“Bukan. Ini bukan soal nasib semata tetapi juga menyangkut ikhtiar kinerjamu. Kamu harus bisa mengevaluasi mengapa kamu selalu kalah dalam persaingan. Misalnya, pertama, apakah rasa es kelapa muda yang kau jual dulu itu tidak lebih enak dari pada pesaingmu.”
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman. 
 
“Kedua, apakah harga buah-buahanmu lebih mahal dari pada pesaingmu?” 
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman lagi.
 
“Ketiga, apakah cara kerjamu lebih lama daripada pesaingmu dalam menyelesaikan pekerjaan tambal ban?”
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi saya abaikan,” jawab Sarman lagi.
 
“Keempat, apakah kamu kurang ramah dalam melayani pelanggan?” 
 
“Benar, Kek. Saya pernah mendengar keluhan itu tetapi kurang saya hiraukan,” jawab Sarman sekali lagi.
 
“Nah, itulah hal-hal yang harus kau benahi terkait ikhtiar kinerjamu. Harga, kualitas barang atau jasa, kecepatan pelayanan, dan keramahan dalam melayani sering kali menjadi penentu survive tidaknya usaha kita dalam sebuah persaingan.
 
Selain itu, kamu harus selalu berdoa memohon sukses dalam usahamu. Lakukan shalat Dhuha sebelum berangkat ke tempat kerja. Jangan lupa baca shalawat di tempat kerjamu, atau baca ayat-ayat Al-Qur’an ketika sedang sepi pekerjaan.
 
“Terima kasih, Kek, atas motivasi dan nasihat-nasihatnya,” kata Sarman kepada kakeknya sebelum berpamitan pulang ke rumah. 
 
 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU Surakarta 
 
Ahad 11 Agustus 2019 0:30 WIB
Hikmah di Balik Tradisi Pengajian Rutin Selapanan
Hikmah di Balik Tradisi Pengajian Rutin Selapanan
Ilustrasi (pzhgenggong.or.id)
Hari Kamis (8/8) lalu, Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah kembali menggelar acara Pengajian Rutin Kamis Kliwon di halaman Kompleks Al Jauhar Pesantren Sirojuth Tholibin Putra.
 
Ya, acara tersebut merupakan acara rutin yang digelar pihak pesantren setiap "selapan" sekali. Hadirinnya terdiri dari masyarakat sekitar Desa Brabo, alumni, dan sebagian wali santri yang memang dating secara sukarela.
 
Istilah “selapan” yang kemudian menjadi kata kerja “selapanan”, merupakan hitungan satu bulan berdasarkan hari dan tanggalan Jawa. Jumlah siklusnya akan berulang setiap 35 hari sekali. 
 
Seperti yang telah diketahui bahwa jumlah hari pasaran atau netu merupakan hitungan hari Suku Jawa. Perhitungannya berjumlah lima hari pasaran. Ada; Pahing, Pon, Wage Kliwon, dan Legi.
 
Kiai-kiai NU khususnya yang berada di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, sering mengagendakan kegiatan keagamaan berdasar pada perhitungan hari tersebut. Misalnya, seperti Pengajian Rutin Kamis Kliwon, Maulid setiap Jumat Legi, Sima'atul Quran per Hari Senin Pahing, dan lain sebagainya.
 
Dalam sambutannya sebagai pengasuh Pesantren, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menjelaskan rahasia di balik tradisi yang telah berlangsung di kalangan ulama NU tersebut.
 
"Kita menghadiri Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini, (marilah) kita niati mengikuti apa yang diarahkan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam," tuturnya mengawali penjelasan.
 
Menurutnya, Kamis Kliwon itu merupakan pengajian 35 hari (selapan) sekali. Mengapa kok 35 hari? Sebab arahan Kanjeng Nabi kepada Sayyidina 'Ali:
 
ياعَلي، إذا أتى على المؤمن أربعون صباحًا ولم يجالس العلماء قسى قلبه، وجسر على الكبائر؛ لأن العلم حياة القلب 
 
“Wahai Ali, ketika datang 40 hari kepada seorang mukmin, dan (selama itu pula) ia tidak berkumpul dengan ulama, maka keraslah hatinya, dan berani melakukan dosa besar. Karena (hakikatnya) ilmu itu (memiliki) hati yang malu (kepada Allah)."

Hal tersebut senada dengan apa yang dijelaskan juga dalam kitab Washiatul Musthofa karya Sayyid Abdul Wahab As Sya'roni. 
 
Putra almarhum KH Ahmad Baidlowie Syamsuri yang akrab disapa Gus Shofi itu juga menambahkan, semua umat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam itu akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Siapakah itu? Dijawab oleh sebuah hadits yang berbunyi:
 
عن أبي هريرة ، أن رسول الله ﷺ قال: كل أمتي يدخل الجنة إلا من أبى قيل: ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى
 
"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam besabda: Tiap-tiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau. Dikatakan: dan siapakah yang tidak mau tersebut wahai Rasulullah? Jawabnya: Barangsiapa taat kepadaku, maka ia akan masuk surga. dan barangsiapa mendurhakaiku maka sungguh ia benar-benar tidak mau (masuk surga)." (HR. Bukhari) 
 
Oleh karenanya, lanjut Gus Shofi, penting sekali dalam beramal kita niatkan untuk ittiba'ur rasul, mengikuti ajaran Nabi Muhammad sallalllahu 'alaihi wasallam. Karena hal tersebut merupakan bukti ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, sebagai modal dalam menggapai surga Allah ta'ala.
 
Demikianlah, tradisi-tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh Nahdliyin, masyarakat NU. Amaliah tersebut merupakan bentuk ikhtiar tokoh NU dalam ihya'us sunnah, menghidupkan ajaran Nabi, meski sebagian kecil orang kerap menuding sebagai hal yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi.
 
(Ulin Nuha Karim)