IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Bisakah Manusia Mengubah Takdir?

Senin 19 Agustus 2019 20:30 WIB
Share:
Bisakah Manusia Mengubah Takdir?
Ilustrasi (Pinterest)
Dalam ilmu tauhid, takdir adalah istilah yang merujuk pada qadla’ atau keputusan Allah yang telah tertulis di lauh mahfudz sejak sebelum dunia tercipta. Allah menyinggung hal ini dalam banyak ayat, misalnya:
 
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
 
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid: 22).
 
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
 
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (lauh mahfuzh),” (QS. Saba’: 3).
 
Kalau demikian, maka bisakah manusia mengubah takdir dengan usahanya sendiri? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya tak ada, tak bisa dijawab dengan ya atau tidak, sebab pertanyaan ini bermasalah. Pertanyaan ini muncul dari asumsi seolah ada usaha atau tindakan di dunia ini yang tak tercatat sebagai takdir di lauh mahfudz sehingga hendak dipertentangkan dengan catatan di lauh mahfudz. Seolah-olah penanya ingin membenturkan antara usaha manusia di satu pihak dengan takdir di pihak lain. Padahal kejadiannya tidaklah demikian. Usaha manusia, baik itu berupa tindakan, pilihan rasional, atau doa yang dipanjatkan, semuanya adalah kejadian yang tertulis di lauh mahfudz sebagaimana disinggung dalam ayat di atas. Sama sekali tak ada kejadian apa pun yang tak terekam di sana. 
 
Jadi, ketika seorang manusia dengan pilihan sadarnya berusaha keras agar kemiskinannya berubah menjadi kekayaan dan itu berhasil dilakukannya, sebenarnya dia tak mengubah sedikit pun takdirnya. Takdirnya bukanlah miskin kemudian dilawan hingga berubah menjadi kaya, namun takdirnya adalah miskin lalu berusaha keras lalu kaya. Dengan demikian tak relevan sama sekali menanyakan apakah usaha dapat mengubah takdir sebab usaha itu sendiri adalah juga bagian dari takdir.
 
Demikian juga sebaliknya ketika ada seseorang yang lahir dalam kondisi kaya lalu bermalas-malasan sehingga jatuh miskin. Keadaan ini tak dapat dibaca seolah dia ditakdirkan kaya kemudian mengubah takdirnya dengan bermalas-malasan. Yang terjadi adalah dia memang ditakdirkan lahir dalam keadaan kaya lalu ditakdirkan bermalas-malasan lalu ditakdirkan miskin. Apa yang telah terjadi, itulah yang positif kita ketahui sebagai takdir. Dengan demikian, takdir selalu selaras dengan realitas yang terjadi dan tak mungkin berbeda sehingga bisa dipertentangkan.
 
Sebab itulah dalam suatu hadis diceritakan jawaban Rasulullah ﷺ pada orang yang bertanya apakah berobat bisa menolak takdir? Selengkapnya sebagai berikut:
 
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رُقَى نَسْتَرْقِي بِهَا، هَلْ تَرُدُّ مَنْ قَدَر اللَّهِ شَيْئًا؟ فَقَالَ: "هِيَ مِنْ قَدَرِ الله"
 
"Wahai Rasulullah ﷺ, apa pendapatmu tentang ruqyah (doa penyembuhan) yang kami lakukan, apakah ia bisa menolak takdir Allah? Rasulullah ﷺ menjawab: Ruqyah itulah bagian dari takdir”. (HR Turmudzi)
 
Baca juga:
 
Kesalahpahaman sehingga muncul asumsi seolah usaha dapat melawan takdir biasanya juga muncul dari pemahaman yang tidak tepat terhadap ayat ar-Ra’d: 11 berikut:
 
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”  (QS. Ar-Ra’d: 11)
 
Banyak yang menyangka bahwa kata “keadaan” di ayat tersebut sebagai takdir yang telah digariskan di lauh mahfudz. Dengan makna demikian seolah takdir Allah ditentukan oleh manusia itu sendiri. Anggapan ini tidak tepat sebab takdir telah ditulis sejak sebelum alam semesta tercipta, seperti dibahas di atas. Kata “keadaan” dalam ayat itu sebenarnya adalah kondisi mendapat nikmat dari Allah. Maksudnya, suatu kaum pada asalnya akan selalu mendapat nikmat dari Allah dan ini akan terjadi terus hingga kemudian kaum itu sendiri yang mengubah keadaan ini dengan maksiat yang mereka lakukan. Bila mereka telah bermaksiat, maka nikmat akan diubah menjadi musibah. Demikian juga ketika maksiat telah berhenti, maka musibah akan kembali diubah menjadi nikmat.
 
Syaikh Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil riwayat Abi Hatim yang isinya:
 
أَوْحَى اللَّهُ إِلَى نَبِيٍّ مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ: أَنْ قُلْ لِقَوْمِكَ: إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ قَرْيَةٍ وَلَا أَهْلِ بَيْتٍ يَكُونُونَ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَتَحَوَّلُونَ مِنْهَا إِلَى مَعْصِيَةِ اللَّهِ، إِلَّا تَحَوَّلَ لَهُمْ مِمَّا يُحِبُّونَ إِلَى مَا يَكْرَهُونَ
 
“Allah berfirman kepada seorang Nabi dari para nabi Bani Israil: Katakan pada kaummu, sesungguhnya tidak ada satu pun penduduk desa dan penghuni rumah yang taat kemudian mengubahnya menjadi maksiat pada Allah, kecuali keadaan yang mereka sukai akan berubah menjadi keadaan yang tak mereka sukai.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, vol. IV, hlm. 440)
 
Ayat ar-Ra’d: 11 di atas selaras dengan firman Allah di ayat lain berikut ini:
 
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
 
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui,” (QS. Al-Anfal: 53)
 
Dengan demikian semua ayat di atas maknanya selaras dan tak bertentangan satu sama lain. Intinya, usaha tak bisa dipertentangkan dengan takdir sebab usaha itu sendiri, baik usaha positif atau usaha negatif, adalah juga bagian dari takdir. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jatim
 
Share:

Baca Juga

Jumat 16 Agustus 2019 8:0 WIB
Allah Bukanlah ‘Jism’ (II)
Allah Bukanlah ‘Jism’ (II)
Ilustrasi

Dari kalangan ulama Salaf, Imam Ahmad secara tegas menyatakan bahwa Allah bukan jism seperti dikutip pada bagian sebelumnya. Demikian juga dengan para imam lainnya, di antaranya:

 

Imam Abu Hanifah, ia berkata:

 

وصفاته كلها بخلاف صفات المخلوقين ... وهو شيء لا كالأشياء ومعنى الشيء إثباته تعالى بلا جسم ولا جوهر ولا عرض ولا حد له ولا ند له ولا مثل له.

 

“Sifat-sifat Allah seluruhnya berbeda dengan sifat-sifat makhluk. ... Allah adalah sesuatu yang berbeda dengan segala sesuatu yang lain. Makna sesuatu yang berbeda ini adalah menetapkan Allah Ta’ala tidak berupa jism, unsur pembentuk jism (jauhar), sifat-sifat jism (‘aradl), tak punya batasan fisikal, tak punya saingan, tak punya sesuatu yang menyerupainya.” (Abu Hanifah, al-Fiqh al-Akbar, hlm. 2)

 

Imam Syafi’i sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi menyatakan:

 

لَا يُكَفَّرُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ وَاسْتُثْنِيَ مِنْ ذَلِكَ: الْمُجَسِّمُ، وَمُنْكِرُ عِلْمِ الْجُزْئِيَّاتِ

 

“Tidak boleh ada seorang pun ahli kiblat yang dikafirkan kecuali kaum mujassimah (kaum yang menyatakan Allah adalah jism) dan orang-orang yang mengingkari ilmu Allah atas detail-detail kejadian.” (as-Suyuthi, al-Asybah wan-Nadha’ir, hlm. 488)

 

Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami secara ringkas mengutip aqidah keempat imam mazhab dalam hal ini sebagai berikut:

 

واعلم أن القرافي وغيره حكوا عى الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم وهم حقيقون بذلك

 

“Dan ketahuilah bahwa Imam al-Qarafi menukil dari Imam Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah pernyataan tentang kafirnya orang-orang yang berkata bahwa Allah ada dalam arah tertentu dan berupa jism. Dan, mereka serius dengan itu.” (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhâj al-Qawîm Syarh al-Muqaddimah al-Hadramiyah, hlm. 144)

 

 

Sebagian ulama salaf memang ada yang tidak memakai kata “jism” dalam menerangkan aqidah, tetapi memakai redaksi lain yang menunjukkan ciri khas jism dan ini sama saja. Misalnya Imam Abu Bakar al-Isma’ili yang hidup di abad ke-IV hijriyah menegaskan aqidah para imam ahli hadis dalam kitabnya yang berjudul I’tiqâd A’immat al-Hadîts (Aqidah para imam hadits) sebagai berikut:

 

ولا يعتقد فيه الأعضاء، والجوارح، ولا الطول والعرض، والغلظ، والدقة، ونحو هذا مما يكون مثله في الخلق، وأنه ليس كمثله شيء تبارك وجه ربنا ذو الجلال والإكرام.

 

“Tak boleh diyakini bahwa Dzat Allah berupa organ kepala dan badan (a’dlâ) dan organ tangan dan kaki (jawârih), tidak juga [sesuatu yang punya] panjang, lebar, tebal, tipis dan apa pun yang ada pada diri makhluk. Dan, [harus diyakini] bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun yang serupa dengan Allah. Maha Suci Tuhan kita yang mempunyai keagungan dan kemuliaan.” (Abu Bakar al-Isma’ili, I’tiqâd A’immat al-Hadîts, hlm. 51-52).

 

Meskipun status kafir tidaknya para Mujassimah (orang yang meyakini Allah adalah jism) sebenarnya masih diperdebatkan, namun setidaknya kita tahu bahwa ada banyak ulama yang dengan tegas menyatakan Allah bukan jism, baik dari kalangan salaf (generasi awal) maupun khalaf (generasi belakangan), dan itu tercatat dalam berbagai kitab. Dengan ini klaim sebagian orang yang berkata bahwa istilah jism tidak dikenal dan tak digunakan oleh para ulama salaf terbantahkan.

 

Selain karena jism seluruhnya sama, setara dan punya keserupaan satu sama lain, alasan ulama mengatakan Allah bukan jism adalah seperti diutarakan Syaikh Mulla Ali al-Qari al-Hanafi, seorang pakar hadis terkemuka, berikut ini:

 

لأن الجسم متركب ومتحيز وذلك أمارة الحدوث

 

“karena jism adalah sesuatu yang tersusun dan punya batasan fisik, dan itu adalah tanda-tanda kebaruan (ada yang merancangnya menjadi demikian).” (Mulla Ali al-Qari, Syarh Fiqh al-Akbar, hlm. 65)

 

Secara lebih detail, Imam Ibnu Jarir at-Thabari, Sang Imam para ahli tafsir, menjelaskan alasan ini sebagai berikut:

 

فمن الدلالة على ذلك أنه لا شيء في العالم مشاهد إلا جسم أو قائم بجسم وأنه لا جسم إلا مفترق أو مجتمع ... وأنه إذا اجتمع الجزآن منه بعد الإفتراق فمعلوم أن اجتماعهما حادث بعد أن لم يكن ... وكان ما لم يخل من الحدث لا شك أنه محدث بتأليف مؤلف له إن كان مجتمعا وتفريق مفرق له إن كان مفترقا وكان معلوما بذلك أن جامع ذلك إن كان مجتمعا ومفرقه إن كان مفترقا من لا يشبهه ومن لا يجوز عليه الاجتماع والإفتراق وهو الواحد القادر الجامع بين المختلفات الذي لا يشبهه شيء وهو على كل شيء قدير

 

“Maka sebagian dari petunjuk bahwa Allah qadîm (tak berawal) adalah tak ada sesuatu pun di alam yang teramati kecuali berupa jism atau hal yang melekat pada jism, dan bahwasanya setiap jism ada kalanya terpisah dan adakalanya tersusun ... Dan, sesungguhnya bila kedua bagian itu tersusun setelah sebelumnya terpisah, maka diketahui bahwa susunan itu adalah sesuatu yang baru setelah sebelumnya tak ada ... Dan, sesuatu yang tak terlepas dari kebaruan tak diragukan bahwa sesuatu itu diciptakan dengan penyusunan oleh oknum penyusunnya bila jism itu tersusun, dan diciptakan oleh oknum yang memisahkannya bila jism itu terpisah. Dari situ diketahui bawa yang menyusun atau memisahkannya adalah oknum yang tak sama dengan jism dan tak tersusun atau terpisah. Dialah yang Maha Esa, yang Maha Kuasa yang mengumpulkan aneka elemen yang berbeda, yang tak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Dan, Ia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.” (at-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, vol. I, hlm. 28)

 

Implikasi praktis dari aqidah bahwa Dzat Allah bukan jism ini sederhana, yakni: seluruh sifat Allah tanpa terkecuali janganlah dipahami seperti sifat jism. Ketika Allah menyatakan Ia Maha Mendengar, maka pendengarannya bukan dalam arti mendengarnya jism yang memakai alat pendengaran untuk menangkap gelombang suara; Ketika Allah menyatakan Maha Melihat, maka penglihatannya bukan dalam arti melihatnya jism yang butuh alat penglihatan untuk menangkap citra melalui pantulan cahaya; Ketika Allah menyatakan diri-Nya nuzûl (turun), maka maknanya bukan turunnya jism yang berarti pergerakan dari lokasi atas ke lokasi bawah; Ketika Allah menyatakan punya yadun (tangan), maka maknanya bukan tangannya jism yang berarti organ tubuh, dan demikian seterusnya. Sifatnya sendiri ditetapkan keberadaannya sebagaimana ada dalam al-Qur’an dan hadis, tetapi makna jismiyahnya dibuang sebab tak mungkin Allah berupa jism.

 

Secara ringkas, Imam al-Hafidz al-Baihaqi al-Asy’ary menegaskan aqidah ulama salaf Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut seperti berikut:

 

وَفِي الْجُمْلَةِ يَجِبُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ اسْتِوَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْسَ بِاسْتِوَاءِ اعْتِدَالٍ عَنِ اعْوِجَاجٍ وَلَا اسْتِقْرَارٍ فِي مَكَانٍ، وَلَا مُمَّاسَّةٍ لِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ، لَكِنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا أَخْبَرَ بِلَا كَيْفٍ بِلَا أَيْنَ، بَائِنٌ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ، وَأَنَّ إِتْيَانَهُ لَيْسَ بِإِتْيَانٍ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ، وَأَنَّ مَجِيئَهُ لَيْسَ بِحَرَكَةٍ، وَأَنَّ نُزُولَهُ لَيْسَ بِنَقْلَةٍ، وَأَنَّ نَفْسَهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ، وَأَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِصُورَةٍ، وَأَنَّ يَدَهُ لَيْسَتْ بجَارِحَةٍ، وَأَنَّ عَيْنَهُ لَيْسَتْ بِحَدَقَةٍ، وَإِنَّمَا هَذِهِ أَوْصَافٌ جَاءَ بِهَا التَّوْقِيفُ، فَقُلْنَا بِهَا وَنَفَيْنَا عَنْهَا التَّكْيِيفَ

 

“Secara global harus diketahui bahwa istiwa-nya Allah swt. bukanlah istiwa yang bermakna lurus dari bengkok ataupun bermakna menetap di suatu tempat. Juga bukan bermakna menyentuh satu dari sekian makhluk-Nya. Akan tetapi Allah istiwa atas Arasy seperti yang Allah beritakan tanpa ada tata cara dan tanpa ada pertanyaan “di mana”, dan Ia terpisah dari seluruh makhluk-Nya. Dan bahwasanya sifat ityân (kedatangan) Allah bukan datang dalam arti perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain; sifat majî' (kehadiran) Allah bukan suatu gerakan; sifat nuzûl (turun) bukan suatu perpindahan; sifat nafs (diri) bukan suatu jism, sifat wajh (wajah) bukan sebuah bentuk fisik; dan bahwa yad (tangan)-Nya bukan sebuah organ bertindak; 'ain (mata)-Nya bukan sebuah organ penglihatan; tetapi Ini semua adalah sifat yang disebutkan oleh Nabi Muhammad tanpa bisa dipertanyakan (tawqîf), maka kami menetapkan keberadaannya dan meniadakan tata cara atau makna leksikal (kaifiyah) darinya”. (al-Baihaqi, al-I’tiqâd, hlm. 117).

 

Setiap jism pasti ada yang merancang, karena itu maka tak layak dipertuhankan. Kesalahan banyak manusia dalam memilih Tuhan adalah karena mereka mempertuhankan jism: berupa berhala, api, pohon, matahari, bintang-bintang, dan sebagainya. Jism hanya layak dijadikan objek penelitian untuk pengembangan pengetahuan bukan untuk disembah, meski jism itu hebat dan dahsyat sekali pun.

 

Namun karena manusia hanya mampu membayangkan jism, maka otomatis Dzat Allah sama sekali tak bisa terbayangkan dan tak bisa diketahui apa dan bagaimananya. Dari sini kemudian para ulama memunculkan kaidah: “Setiap apa yang terbayang di benakmu, maka Allah berbeda dari itu.” Wallahu a'lam.

 

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

 

Kamis 15 Agustus 2019 20:45 WIB
Allah Bukanlah ‘Jism’ (I)
Allah Bukanlah ‘Jism’ (I)
Ilustrasi

Banyak ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) yang menyebut kata jism, tapi tak semua orang paham apa maksudnya dan mengapa Allah mustahil dianggap sebagai jism. Sebagian orang ada juga yang menyangka penggunaan kata jism ini tak dikenal di era ulama salaf sehingga tak layak jadi bahasan. Artikel ini mencoba mengurai perihal pembahasan jism ini dalam ilmu aqidah Ahlusussunah wal Jama’ah dengan meminimalisasi penggunaan istilah teknis ilmu kalam yang mungkin membingungkan, serta seperlunya mengutip pendapat para imam.

 

Imam Ahmad mendefinisikan jism sebagai sesuatu yang mempunyai panjang, lebar dan tinggi (bervolume) dan terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil. Ia berkata:

 

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

 

"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jism) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk, dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jism sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian". (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, hal. 45).

 

Dengan definisi di atas berarti seluruh semesta alam ini beserta isinya, yang terlihat maupun tidak, yang teramat kecil maupun yang teramat besar, seluruhnya adalah jism. Manusia adalah jism sebab mempunyai volume dan tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil berupa organ-organ hingga unsur yang lebih kecil lagi semisal sel. Benda-benda langit yang ukurannya sangat besar jelas juga jism. Demikian juga hal yang tak kasat mata semisal udara adalah jism sebab hakikatnya adalah susunan dari nitrogen, oksigen, argon, karbon dioksida dan lain-lain. Oksigen dalam udara pun juga jism sebab hakikatnya adalah susunan dari dua atom oksigen sehingga biasa disebut sebagai O2. Atom pun juga jism sebab hakikatnya adalah susunan dari inti atom dan awan elektron. Inti atom pun juga jism sebab ia adalah susunan dari proton dan neutron. Proton juga jism sebab ia ada susunan dari unsur yang lebih kecil berupa elektron dan quark.

 

Hingga saat ini, ilmu pengetahuan yang dicapai manusia menghasilkan kesimpulan bahwa seluruh hal yang ada di semesta ini adalah sebuah medan gelombang (field) yang di dalamnya ada susunan partikel elektron, neutrino, quark atas dan quark bawah. Bahkan ruang kosong pun sebenarnya adalah medan gelombang yang tersusun sedemikian rupa yang menjadi fundamental building block dari alam semesta. Dengan demikian, seluruh isi jagat raya yang diamati manusia adalah jism kecuali unsur dasar yang menyusun jism itu sendiri dan sifat-sifat yang melekat pada jism tersebut.

 

Seluruh jism di level subatomik mempunyai karakter yang sama persis. Semua merupakan susunan yang elemennya saling membutuhkan satu sama lain. Yang membedakan hanyalah komposisi elemen penyusun jism itu sehingga akhirnya ada jism yang berupa partikel, gas, sel, manusia, hewan, tumbuhan, benda, planet, bintang, galaksi dan seterusnya dengan aneka ragam bentuknya. Ketika Allah berfirman:

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

 

Tak ada satu pun yang serupa dengan Allah sedikit pun”. (QS. asy-Syura: 11)

 

Dan, di tempat lainnya Allah menegaskan dalam bentuk pertanyaan bahwa manusia takkan mengetahui ada yang sama dengan Allah, yaitu dalam ayat:

 

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

 

"Apakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?". (QS. Maryam: 65)

 

Selain tak ada yang serupa dan yang sama dengan diri-Nya, Allah juga menegaskan tak ada yang setara dengan Dia. Allah berfirman:

 

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

 

"dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia". (QS. al-Ikhlas: 4)

 

Maka dari itu, semua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat mengatakan bahwa Allah bukanlah jism sebab seluruh jism itu sama, serupa, atau paling tidak setara meskipun berbeda-beda bentuknya. Fir’aun yang mengaku Tuhan ataupun api dan matahari yang dipertuhankan orang terdahulu, ketiganya berbeda karakter dan punya kehebatannya sendiri-sendiri. Tapi sebagai jism semuanya sama saja dan tak ada yang layak disembah. Wallahu a'lam.

 

Pada bagian selanjutnya akan dibahas pernyataan para imam beserta alasan mereka memustahilkan sifat jismiyah dari Allah. Bersambung...

 

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.


 

Ahad 11 Agustus 2019 7:0 WIB
Awas Bahaya Syirik Tanpa Sadar, Kenali Bentuk-bentuknya!
Awas Bahaya Syirik Tanpa Sadar, Kenali Bentuk-bentuknya!
Ilustrasi
Kebanyakan orang hanya tahu bahwa yang disebut syirik hanya ketika melakukan penyembahan atau memberikan sesajen pada arca, berhala, matahari, gunung, pohon keramat dan sebagainya. Padahal kesyirikan juga dapat terjadi dalam hal lain yang bahkan mungkin dianggap wajar oleh orang awam. Berbeda dengan berbagai jenis dosa lainnya, perbuatan syirik adalah salah satu perbuatan dosa besar yang bila dibawa mati maka tak akan mendapat ampunan. Allah berfirman:
 
إِنَّ ٱللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
 
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. an-Nisa’: 48)
 
Karena itulah sangat penting bagi seorang mukmin untuk tahu apa hakikat kesyirikan itu sehingga bisa sepenuhnya menjauhi semua jenisnya. Imam as-Sanusi (895 H), seorang teolog pembaharu dalam mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kitabnya menukil keterangan Syekh Ibnu Dihaq (611 H), seorang teolog ternama di abad ketujuh hijriah. Ibnu Dihaq mendefinisikan syirik sebagai: 
 
إضافة الفعل لغير الله سبحانه وتعالى 
 
“Menyandarkan perbuatan [secara mandiri] pada selain Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”. (as-Sanusi, Syarh ‘Aqîdati Ahli at-Tauhîd al-Kubrâ, 91)
 
Maksudnya adalah menganggap ada perbuatan yang secara mandiri dilakukan oleh selain Allah dan berefek tanpa ada campur tangan Allah sedikit pun sehingga secara penuh perbuatan itu disandarkan kepadanya. Ibnu Dihaq kemudian memperinci bentuk-bentuk syirik tersebut mencakup tiga kategori sebagaimana berikut:
 
Pertama, menyandarkan perbuatan pada bintang-bintang dan bahwasanya bintang-bintang itu berpengaruh pada alam yang di bawahnya; tumbuhan, hewan atau segala materi. Pada masa ini, keyakinan semacam ini ada dalam ilmu zodiak dan astrologi.
 
Kedua, menyandarkan perbuatan pada benda-benda dan bahwasanya perbuatan itu berikut efeknya adalah sebuah kewajiban yang pasti terjadi dan tak ada kaitannya dengan kehendak Allah. Misalnya, meyakini bahwa api bisa membakar secara mandiri, makanan bisa mengeyangkan secara mandiri, pisau bisa melukai secara mandiri dan seterusnya yang berkaitan dengan sunnatullah (hukum alam). Mandiri di sini maksudnya tanpa terkait kehendak Allah.
 
Di bagian ini banyak orang awam yang melakukan kesalahan fatal. Bila misalnya diyakini bahwa api dapat membakar sesuatu dengan sendirinya tanpa sedikit pun kuasa dan kehendak Allah dalam proses itu, maka dia dianggap kafir. Namun bila diyakini bahwa api dapat membakar dengan kekuatan membakar yang diberikan oleh Allah pada api itu, maka ini keyakinan yang tidak kufur tetapi bid’ah. Yang tepat adalah meyakini bahwa perbuatan benda beserta efeknya seluruhnya terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah. Kapan pun Allah berkehendak, Ia bisa membuat prosesnya terjadi di luar kebiasaan seperti dalam kisah Nabi Ibrahim yang tak terbakar api dan kisah mukjizat para Nabi lain yang menyelisihi hukum alam. Karena itulah, hukum alam dalam tradisi Islam disebut sebagai sunnatullah yang berarti sekadar kebiasaan Allah menerapkan aturan itu. Bila Allah berkehendak lain, maka sunnatullah itu tak akan terjadi.
 
Ketiga, menyandarkan perbuatan pada kehendak bebas manusia yang diberikan kekuasaan oleh Allah. Dalam pandangan ini, manusia seperti robot yang beroperasi dengan tenaga baterai dan bergerak sendiri dengan kecerdasan buatan tanpa ada kontrol lagi dari pembuatnya. Ini adalah akidah Muktazilah di masa lalu dan tanpa sengaja banyak diikuti orang awam di masa kini. Pandangan ini meniscayakan Allah tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan bila seorang manusia dengan kehendak bebasnya belum menentukan pilihan. Juga meniscayakan bahwa manusia sepenuhnya dapat memberi manfaat dan kerusakan secara mandiri tanpa bergantung pada kehendak Allah. Padahal, dalam keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah tak ada perbuatan yang bisa terjadi kecuali dengan izin Allah, termasuk perbuatan manusia dengan kehendak bebasnya. Bila Allah berkehendak terjadi kejadian A, maka manusia tak mungkin mengubahnya menjadi B meskipun berupaya sangat keras.
 
Itulah tiga jenis kesyirikan yang bisa saja terjadi tanpa disadari oleh masyarakat. Untuk lepas dari syirik ini, maka harus diyakini bahwa tak ada satu pun manfaat, kerusakan dan efek apa pun yang terjadi di dunia ini tanpa disertai kehendak dan perbuatan Allah untuk mewujudkannya. Bila berobat ke dokter, maka harus diingat bahwa bukan dokter atau obat yang memberi kesembuhan tetapi Allah. Bila berusaha lalu hasilnya berhasil atau gagal, maka harus diingat bahwa di sana juga ada kehendak Allah untuk membuatnya berhasil atau gagal. Demikian seterusnya untuk seluruh hal lain sehingga semua hal selalu terikat dengan Allah. 
 
Demikian penjelasan yang disaarikan dari pernyataan Ibnu Dihaq dan penjelasan as-Sanusi dalam Syarh ‘Aqîdati Ahli at-Tauhîd al-Kubrâ dengan beberapa penyesuaian dan penjelasan tambahan. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.