IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Nabi Muhammad, Permintaan Kaum Musyrik, dan Alasan Allah Tidak Memenuhinya

Senin 26 Agustus 2019 3:0 WIB
Share:
Nabi Muhammad, Permintaan Kaum Musyrik, dan Alasan Allah Tidak Memenuhinya
(Ilustrasi: NU Online)
Nabi Muhammad adalah utusan terakhir Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah langit ajaran agama Islam. Terkadang –bahkan seringkali- beliau menemui jalan terjal ketika menyebarkan Islam kepada umatnya. Para penentangnya, kaum musyrik Makkah, tidak segan-segan menghina, mencerca, menyuap, mengintimidasi, dan melakukan kekerasan agar Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya. Namun beliau tidak gentar dan pantang mundur mendakwahkan Islam.

Kaum musyrik Mekkah juga terkadang ‘menguji’ kebenaran Nabi Muhammad dengan mengajukan suatu permintaan tertentu kepadanya. Ada yang meminta Nabi Muhammad mengubah bukit Shafa menjadi emas. Ada yang meminta agar leluhur mereka dihidupkan kembali. Dan ada pula yang meminta informasi mengenai waktu hari kiamat. Mereka menuntut bukti-bukti inderawi atau aneka macam mukjizat –sebagaimana umat-umat terdahulu- untuk meyakinkan mereka. 

Namun demikian, mereka ‘kecele’. Allah tidak memenuhi permintaan mereka dan malah menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad. Di dalam Al-Qur’an Surat al-Isra ayat 59, Allah telah memberikan jawaban yang jelas mengapa Dia tidak mengabulkan permintaan-permintaan mereka. 

Kata Allah dalam ayat itu: “Seandainya Kami (Allah) membuka pintu langit, lalu mereka terus-menerus naik memasuki pintu itu, maka mereka pasti akan berkata: ‘Mata kami dikelabuhi dan kami adalah kaum (kelompok orang) yang tersihir.”

Jadi, permintaan-permintaan yang mereka ajukan untuk meyakinkan mereka –tentang kebenaran kenabian Muhammad- belum tentu benar adanya. Karena, kalau seandainya permintaan mereka dipenuhi juga belum tentu mereka mau menerima Islam. Mereka pasti memiliki alasan lain untuk menolak Islam sebagaimana firman Allah tersebut. 

Di samping itu, merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), alasan lain Allah tidak memenuhi permintaan mereka adalah karena sasaran dakwah (masyarakat manusia) yang berbeda. Maksudnya, sasaran dakwah Nabi Muhammad sedikit banyak berbeda dengan umat-umat nabi sebelumnya, dalam hal perkembangan kedewasaannya.

Mengapa nabi-nabi sebelumnya memiliki mukjizat yang bersifat inderawi dan materiel seperti Nabi Musa as. dengan tongatnya dan Nabi Isa dengan penyembuhannya? Dan mengapa mukjizat (terbesar) Nabi Muhammad bersifar imateriel dan logis (Al-Qur’an)?

Terkait hal ini, ada dua faktor utama yang menyebabkan ‘karakter mukjizat’ nabi-nabi terdahulu dengan Nabi Muhammad berbeda. Pertama, sasaran dakwah dan waktu. Nabi-nabi terdahulu ditugaskan untuk menyampaikan ajaran Allah kepada masyarakat tertentu dan waktu tertentu. Oleh karena itu, mukjizat yang mereka terima pun hanya berlaku untuk masyarakat dan masa tertentu.

Sementara Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Waktunya pun hingga akhir zaman, bukan satu masa tertentu. Maka dari itu, mukjizatnya tidak bersifat material, namun imateriel dan logis. Sehingga bisa berlaku kepada siapapun –yang ragu akan kebenaran Islam- dan sampai kapanpun. 

Kedua, perkembangan pemikiran manusia. Hal ini juga menjadi penyebab ‘karakter mukjizat’ Nabi Muhammad dengan nabi sebelumnya berbeda. Dalam sejarahnya, manusia mengalami beberapa fase perkembangan pemikiran. Semula manusia menafsirkan semua hal yang terjadi kepada kekuatan dewa/tuhan yang ia ciptakan (fase keagamaan). Kemudian mereka menafsirkan fenomena yang ada dengan mengembalikan prinsip-prinsip dasarnya (fase metafisika). Hingga kemudian mereka menafsirkan gejala yang ada berdasarkan pengamatan dan penelitian sehingga memperoleh informasi hukum alam yang mengatur jagat raya ini (fase ilmiah).

Sesuai dengan perkembangan pemahaman manusia tersebut, maka umat nabi terdahulu membutuhkan bukti yang jelas, konkrit, dan bisa ditangkap oleh inderanya. Sehingga mukjizat yang dimiliki nabi-nabi terdahulu bersifat materiel dan inderawi seperti tidak terbakar api, bisa menyembuhkan orang sakit, memiliki tongkat yang berubah menjadi ular, dan lain sebagainya.  

Sedangkan, umat Nabi Muhammad –yang sudah mengalami fase ilmiah- membutuhkan bukti logis dan masuk akal. Maka kemudian Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar yang diterima Nabi Muhammad. Karena Al-Qur’an tidak dapat ditandingi oleh siapapun, baik dari golongan manusia maupun jin. Hal ini sudah ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Isra: 88 dan Yunus: 38. 

Penulis: Muchlishon Rohmat
Editor: Abdullah Alawi
 
Share:

Baca Juga

Kamis 22 Agustus 2019 20:30 WIB
Kisah Para Sahabat Tabarukan kepada Nabi
Kisah Para Sahabat Tabarukan kepada Nabi
Ilustrasi
Praktik tabaruk atau mengharap bertambahnya kebaikan melalui orang atau barang-barang tertentu sudah belangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw. Ketika itu, para sahabat yang ngalap berkah kepada Nabi Muhammad. Caranya pun bermacam-macam. Ada yang menghabiskan sisa makanan dan minuman Nabi. Ada juga yang tabarukan dengan memakai pakaian yang pernah dipakai Nabi.

Seperti diriwayatkan az-Zuhri, ketika Nabi Muhammad berwudhu dan membuah dahak maka para sahabat saling berebut. Mereka kemudian mengoleskan dahak Nabi ke wajah dan kulit mereka. Nabi Muhammad kemudian mempertanyakan mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka menjawab bahwa apa yang dilakukannya adalah tabarukan atau mencari berkah kepada Nabi Muhammad. 
 
"Barang siapa ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia berbicara benar, menyampaikan amanah, dan jangan mengusik tetangganya," kata Nabi, seperti terekam dalam buku Hayatush Shahabah (Suaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019). 
 
Hal yang sama juga dilakukan Abdullah bin Zubair. Bedanya Abdullah meminum bekas bekam Nabi sebagai bentuk dari ngalap berkah. Dikisahkan, ketika hendak menemui Nabi Muhammad, Salman memergoki Abdullah bin Zubair tengah membawa ember dan meminum isinya. 
 
Abdullah bin Zubair lalu menghadap Nabi dan mengatakan bahwa perintahnya untuk 'membuang' air dalam wadahnya sudah ditunaikan. Penasaran, Salman kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad tentang apa yang dibawa Abdullah bin Zubair. Kata Nabi, itu adalah darah bekamnya. 
 
"Demi Dia yang mengutusmu membawa kebenaran, Abdullah bin Zubair telah meminumnya," kata Salman. Mendengar hal itu, Nabi Muhammad bertanya mengapa Abdullah melakukan hal itu. Abdullah kemudian menjawab, dirinya ingin darah Nabi Muhammad mengalir ke dalam perutnya. 
 
"Celakalah engkau karena manusia, dan celakalah manusia karena engkau. Api neraka tidak menyentuhmu, hanya saja Dia telah bersumpah," kata Nabi Muhammad. 
 
Pada saat awal tiba di Madinah, Nabi Muhammad tinggal di rumah Abu Ayyub. Dia menjamu Nabi dengan penuh penghormatan. Menyediakan segala keperluannya, terutama makan dan minum. Menariknya, Abu Ayyub selalu mencari sisa makanan yang ada bekas jari Nabi Muhammad. Ia kemudian menghabiskan sisa makanan Nabi tersebut, demi ngalap berkah.
 
Hingga suatu ketika, Nabi Muhammad tidak memakan makanan yang dihidangkan Abu Ayyub. Sang tuan rumah penasara, mengapa Nabi tidak menyentuh sama sekali hidangan yang disajikan. 
 
"Aku mencium bawang pada makanan itu. Karena statusku penerima wahyu, aku khawatir (bau itu) akan mengganggu penjaga wahyu. Kalau kalian, makanlah," kata Nabi Muhammad Saw kepada Abu Ayyub al-Anshari dalam Thabaqat Ibn Sa'd, seperti keterangan dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018).
 
Ada juga sahabat yang tabarukan dengan jaket Nabi Muhammad. Diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad menerima hadiah jubah dari sahabatnya. Beliau langsung memakainya. Namun, sahabatnya yang lain meminta jubah tersebut, setelah memuji jubah yang dikenakan Nabi begitu indah.
 
Seketika itu juga Nabi Muhammad langsung memberikan jubah –yang baru dimilikinya itu- kepada sahabat yang memintanya tersebut. Hal ini membuat sahabat lainnya memarahi orang tersebut. Nabi membutuhkan jubah tersebut, namun dia malah memintanya. Karena Nabi Muhammad adalah tipe orang yang tidak bisa menolak permintaan, maka dia tentu akan memberi jika ada orang yang meminta.
 
"Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah meminta jubah itu untuk aku pakai, tetapi aku minta itu untuk aku pakai sebagai kain kafanku," kata sahabat yang meminta jubah Nabi itu. Benar saja, jubah itu pun menjadi kain kafan sahabat tersebut ketika ia meninggal dunia. 
 
Pewarta: Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Kamis 22 Agustus 2019 19:0 WIB
Saat Umair bin Sa’ad Laporkan Kemunafikan ‘Ayah Angkatnya’ kepada Nabi Muhammad
Saat Umair bin Sa’ad Laporkan Kemunafikan ‘Ayah Angkatnya’ kepada Nabi Muhammad
(Ilustrasi NU Online)
Dialah Umair bin Sa’ad. Seorang Ansar yang berbaiat kepada Nabi Muhammad ketika usianya masih belia. Umair dikenal sebagai seorang sahabat yang ahli ibadah. Selalu berada di barisan pertama ketika shalat. Pun ketika berperang, ia selalu mengejar barisan terdepan karena mendambakan bisa mati syahid.

Usia Umair bin Sa’ad baru sekitar 10 tahun –dan sudah yatim- ketika umat Muslim mempersiapkan Perang Tabuk. Nabi Muhammad menyerukan kepada seluruh umat Islam Madinah berperang dan menyumbang apa saja yang dimiliki untuk persiapan perang melawan pasukan Romawi tersebut. Saat itu, keadaan begitu genting. Di tengah musim kemarau, umat Muslim harus mengumpulkan logistik dan menempuh perjalanan jauh ke utara untuk menghalau pasukan Romawi. 

Di saat sebagian umat Muslim bahu-membahu mendukung persiapan Perang Tabuk, sekelompok kaum munafik menyebarkan provokasi untuk memecah-belah persatuan umat Islam Madinah. Salah satu tokoh kaum munafik yang melakukan hal itu bernama Julas bin Suwaid. Orang yang merawat Umair semenjak ayahnya, Sa’ad, wafat dalam sebuah pertempuran. Saking akrabnya, Julas sudah menganggap Umair sebagai anak sendiri. Begitu pun sebaliknya. 

Di tengah persiapan Perang Tabuk, Julas mengatakan sesuatu yang tidak pantas tentang Nabi Muhammad, bahkan bernada merendahkan. Memang, Julas saat itu memeluk Islam namun karena terbawa ‘arus saja’, mengingat banyak penduduk Madinah yang masuk Islam setelah Nabi Muhammad hijrah ke sana.  

“Jika yang diucapkan Muhammad itu benar, niscara kita lebih buruk dibandingkan keledai,” kata Julas, dikutip dari buku Sahabat-sahabat Ciliki Rasulullah (Nizar Abazhah, 2011).

Mendengar perkataan Julas seperti itu, Umair menjadi begitu marah kepada ayah angkatnya tersebut. Dia tidak terima dengan perkataan Julas yang meragukan kebenaran Nabi Muhammad. Julas yang merasa keceplosan meminta Umair agar tidak melaporkan perkataannya itu kepada siapapun, terutama Nabi Muhammad. 

Di sini, Umar merasa bimbang. Apakah dia menyimpan saja ucapan munafik yang dikatakan ayah angkatnya atau melaporkan kemunafikan Julas kepada Nabi Muhammad. Setelah berpikir cukup dalam, Umair akhirnya menemui Nabi dan menyampaikan kemunafikan Julas kepadanya. Julas dipanggil untuk mengklarifikasi ucapannya itu. Namun dia menyangkalnya dan menganggap bohong laporan Umair. Julas sampai bersumpah atas nama Tuhan untuk menguatkan penyangkalannya itu.

Ketika itu posisi Umair terpojok. Semua orang hampir percaya dengan Julas dan menganggap Umair berbohong. Untung, beberapa saat kemudian Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 74: “Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan nama Allah, bahwa mereka tidah mengatakan sesuatu (yang menyakitkan hatimu). Padahal mereka telah mengucapkan kata-kata kufur, dan mereka telah kafir sesudah Islam, serta mereka mencita-citakan sesuatu yang tak dapat mereka capai."

"Dan tak ada yang menimbulkan dendam kemarahan mereka hanyalah lantaran Allah dan Rasul-Nya telah menjadikan mereka berkecukupan disebabkan karunia-Nya. Seandainya mereka bertaubat, maka itulah yang terlebih baik bagi mereka, dan seandainya mereka berpaling, Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan ahhirat. Mereka tidak akan mempunyai pembela maupun penolong di muka bumi.”

Turunnya ayat itu menjadi kabar gembira bagi Umair bin Sa’ad. Apa yang dilaporkannya tentang kemunafikan Julas telah dibenarkan langsung oleh Allah sehingga Julas bin Suwaid tidak bisa mengelak lagi. Dia kemudian mengaku bersalah dan bertobat. 

“Telingamu bisa dipercaya wahai anak muda. Tuhan membenarkanmu,” kata Nabi Muhammad kepada Umair. 
 
Penulis: Muchlishon Rochmat
Editor: Abdullah Alawi
Rabu 21 Agustus 2019 15:45 WIB
Perjanjian Nabi Muhammad dan Orang-orang Kristen
Perjanjian Nabi Muhammad dan Orang-orang Kristen
Foto: NU Online
Nabi Muhammad pernah mengadakan perjanjian dengan beberapa kelompok umat Kristen pada zamannya. Perjanjian yang dibuat kedua belah pihak menyangkut banyak. Mulai dari masalah keamanan, perlindungan, hingga jaminan keselamatan. Menariknya, perjanjian Nabi Muhammad dengan orang-orang Kristen tersebut ‘berjalan dengan baik.’ Kedua belah pihak menepatinya dan tidak ada yang melanggarnya sampai Nabi wafat.

Merujuk buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), sepanjang hidupnya–terutama dua tahun terakhir dari kehidupannya–Nabi Muhammad mengadakan dengan tiga kelompok umat Kristen. Pertama, orang-orang Kristen Najran. Suatu ketika Nabi Muhammad mengundang kaum Najran untuk datang ke Madinah. Umat Kristen Najran kemudian mengirim 14 orang–riwayat lain menyebutkan 60 orang dan 45 di antaranya sarjana Kristen–untuk berdiskusi dan berdebat dengan Nabi Muhammad. Rombongan umat Kristen Najran itu dipimpin tiga orang; Al-Aqib sebagai pemimpin rombongan. As-Sayyid sebagai pengatur perjalanan, dan Abul Harits sebagai penanggung jawab urusan keagamaan.

Setiba di Madinah, delegasi Kristen Najran disambut baik Nabi Muhammad dan umat Islam. Nabi mengajak mereka untuk memeluk Islam. Rombongan Kristen Najran menolaknya. Mereka kemudian terlibat dalam perdebatan. Temanya pun bervariasi, mulai dari persoalan teologi, definisi Muslim, status Nabi Isa AS hingga politik dan pemerintahan.

Dalam hal-hal tertentu mereka bertemu dalam satu titik temu, namun dalam hal-hal tertentu lainnya–seperti persoalan teologi–mereka tidak ketemu. Tidak ada kesepakatan di antara mereka mengenai hal itu. Di akhir dialog, Nabi Muhammad menjalin perjanjian damai dengan rombongan Kristen Najran. Sebetulnya, Nabi Muhammad bisa saja ‘menghabisi’ delegasi Najran mengingat mereka tidak memiliki kekuatan saat itu. Namun, Nabi memilih untuk membuat perjanjian damai dengan mereka. Melalui perjanjian ini, Nabi Muhammad ingin menanamkan fondasi perdamaian, toleransi, dan moderasi antara umat Islam dengan umat non-Muslim.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad sebagai Nabi kepada Uskup Abul Harits, uskup-uskup Najran, para pendeta, para rahib, dan semua orang yang ada di bawah kuasa mereka sedikit maupun banyak. Perlindungan Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada seorang pun uskup, rahib, atau pendeta yang diganti, dan juga tidak ada satu pun hak dan kekuasaan mereka yang akan diganti, dan tidak juga yang sudah menjadi kebiasaan mereka. Perlindungan Allah dan rasul-Nya selamanya, selama mereka berdamai dan jujur serta tidak berlaku zalim.” Demikian isi perjanjian Nabi Muhammad dengan orang-orang Kristen Najran.

Kedua, orang-orang Kristen Jarba dan Adzruh. Nabi Muhammad juga mengadakan perjanjian dengan umat Kristen Jarba dan Adzruh untuk membayar jizyah. Melalui perjanjian itu, Nabi Muhammad berupaya memberikan perlindungan kepada kabilah-kabilah lemah dan minoritas seperti Jarba dan Azdruh. Juga untuk menciptakan perdamaian di sekitar wilayah kaum Muslim.

Maklum, pada saat itu perang antarkabilah begitu marak sehingga banyak kabilah lemah menjadi korbannya. Jika dibandingkan dengan keamaan dan perlindungan yang diberikan Nabi Muhammad dan umat Islam, maka biaya yang dikeluarkan kabilah Jarba dan Azdruh–100 dinar setiap tahunnya–menjadi begitu sedikit.

“Ini adalah surat dari Muhammad sebagai Nabi untuk penduduk Adzruh bahwa mereka akan aman dengan keamanan dari Allah dan Muhammad, dan mereka harus membayar 100 dinar setiap bulan Rajab sebagai pemenuhan yang baik. Allah lah yang menjadi penanggung mereka dengan kejujuran dan perbuatan baik bagi kaum Muslimin,” kata Nabi Muhammad dalam perjanjiannya dengan orang-orang Kristen Jarba dan Adzruh.

Ketiga, orang-orang Kristen Ailah. Suatu ketika Raja Ailah, Yuhannah bin Rub’ah, dengan mengenakan salib mendatangi Nabi Muhammad. Setelah terjadi obrolan, akhirnya Nabi Muhammad dan Yuhannah bersepakat untuk menjalin perjanjian damai. Dalam perjanjian itu, Nabi Muhammad menjamin keamanan penduduk Ailah, baik di darat maupun di laut. Maklum, Ailah terletak di pesisir pantai Laut Merah. Maka sudah barang tentu penduduk Ailah banyak yang menjadi nelayan.

“Kapal-kapal laut mereka (penduduk Ailah) dan kendaraan-kendaraan mereka di darat dan di laut mendapatkan pengamanan dari Allah dan Muhammad an-Nabi,” kata Nabi dalam suratnya.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga menjamin penduduk Ailah untuk mendapatkan air dan melewati jalan-jalan yang selama ini mereka lalui, baik di darat maupun di laut. Nabi dan umat Islam akan memerangi siapa saja yang menghalangi penduduk Ailah untuk mendapatkan apa yang dijanjikan Nabi Muhammad tersebut. Tidak lain, ini dilakukan Nabi Muhammad untuk mewujudkan perdamaian di wilayah tersebut.
 
 
Pewarta: Muchlishon
Editor: Alhafiz Kurniawan