IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Ini Delapan Adab Pulang Haji

Selasa 27 Agustus 2019 15:00 WIB
Ini Delapan Adab Pulang Haji
Ilustrasi jamaah haji Indonesia. (gulf businnes)
Imam An-Nawawi dalam karyanya yang membahas khusus haji dan umrah, Al-Idhah fi Manasikil Hajj wal Umrah, tidak hanya membahas soal syarat, rukun, wajib, sunnah, dan larangan ibadah haji dan umrah. Dalam kitab tersebut, Imam An-Nawawi juga menyebut adab sebelum keberangkatan dan kepulangan ibadah haji.

Adab keberangkatan dan adab kepulangan ibadah haji berbeda. Sebagian adab keberangkatan juga berlaku saat kepulangan. Hanya saja terdapat sedikit penambahan pada adab kepulangan ibadah haji.

اعلم أن معظم الآداب المذكورة في الباب الأول في سفره مشروعة في رجوعه من سفره ويزاد هنا آداب

Artinya, “Ketahuilah, mayoritas adab yang tersebut pada bab pertama kitab ini perihal perjalanan haji juga disyariatkan juga pada perjalanan kembali ke kampung halaman sepulang haji. Tetapi memang ada penambahan sejumlah adab di sini,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj wal Umrah pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 247).

Imam An-Nawawi menyebutkan delapan adab kepulangan dari pelaksanaan ibadah haji. Hal ini patut diperhatikan oleh jamaah haji seusai melaksanakan segenap rangkaian ibadah haji. Delapan adab tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, membaca doa perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan pulang, jamaah haji dianjurkan membaca doa sebagai berikut:

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ، سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

Âyibûna, tâ’ibûn, ‘âbidûn, sâjidûn li rabbinâ hâmidûn.

Artinya, “(Kami) pulang, bertobat, menyembah, dan memuji Tuhan kami.”

Doa ini didasarkan pada sahabat Anas ra. dalam Shahih Bukhari yang dikutip oleh Imam An-Nawawi berikut ini:

وروينا في "صحيح مسلم" عن أنس رضي الله عنه، قال: أقبلنا مع النبي صلى الله عليه وسلم أنا وأبو طلحة، وصفية رديفته على ناقته، حتى إذا كنا بظهر المدينة قال: "آيبون تائبون عابدون لربنا حامدون"، فلم يزل يقول ذلك حتى قدمنا المدينة

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di Kitab Shahih Muslim dari Sahabat Anas ra, ia berkata bahwa kami, yaitu saya dan Abu Thalhah datang bersama Rasulullah saw, sementara Shafiyyah membonceng pada untanya. Ketika tiba di tepi Kota Madinah, Rasulullah saw membaca, ‘Âyibûna, tâ’ibûn, ‘âbidûn, sâjidûn li rabbinâ hâmidûn.’ Rasulullah saw tidak henti membaca lafal itu hingga kami benar-benar tiba di Kota Madinah.”

Sedangkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw dan para sahabatnya membaca takbir tiga kali saat menempuh jalan mendaki. Setelah itu mereka membaca doa sebagai berikut ini seperti riwayat Sahabat Ibnu Umar ra:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ، سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ، صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحَدَهُ

Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lahû, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, âyibûna, tâ’ibûn, ‘âbidûn, sâjidûn li rabbinâ hâmidûn, shadaqallâhu wa‘dahû, wa nashara ‘abdahû, wa hazamal ahzâba wahdahû.

Artinya, “Tiada tuhan selain Allah yang esa, tiada sekutu bagi-Nya. Hanya miliknya kekuasaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Kami) kembali, bertobat, menyembah, bersujud, dan memuji Tuhan kami. Allah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan musuh sendiri.”
 
Kedua, mengutus orang untuk mengabarkan pihak keluarga. Tindakan mengutus orang untuk mengabarkan kedatangan kepada pihak keluarga merupakan bagian dari sunnah. Tindakan ini bertujuan mengabarkan kepada pihak keluarga agar kepulangan jamaah haji tidak mengejutkan pihak keluarga. Hal ini  mungkin dianjurkan karena teknologi komunikasi belum semutakhir saat ini.

Ketiga, membaca doa memasuki kampung halaman. Imam An-Nawawi menganjurkan jamaah haji untuk membaca doa ketika memasuki kampung halaman. Doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah doa Rasulullah sebagai berikut:
 
باسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا 
 
Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a‘ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a‘ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan
 
Artinya, “Dengan nama Allah, ya Allah, aku memohon kebaikan dari pasar ini dan kebaikan dari apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung dari keburukan pasar ini dan keburukan apa yang ada di dalamnya. Ya Allah, aku berlindung dari sumpah palsu dan transaksi yang merugikan.”
 
Pada kesempatan ini, jamaah haji juga dianjurkan membaca doa berikut ini:
 
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا
 
Allâhummaj‘al lanâ bihâ qarârâ wa rizqan hasanâ.
 
Artinya, “Ya Allah, jadikan kota ini sebagai tempat mukim dan (kami memohon) rezeki yang baik untuk kami.”

Lafal doa ini juga dikutip Imam An-Nawawi dalam karyanya yang lain, Al-Adzkar, sebagai berikut ini:

المستحب أن يقول ما قدمناه في حديث أنس في الباب الذي قبل هذا، وأن يقول ما قدمناه في باب ما يقول إذا رأى قرية، وأن يقول: "اللهم اجعل لنا بها قرارا ورزقا حسنا

Artinya, “(Orang yang memasuki kota kediaman) dianjurkan untuk membaca doa yang pernah kami sebutkan dalam hadits riwayat Anas pada bab sebelum ini, doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika melihat sebuah desa, dan doa berikut ini, ‘Allâhummaj‘al lanâ bihâ qarârâ wa rizqan hasanâ,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 194).

Keempat, diusahakan untuk pulang ke rumah pada siang hari. Jamaah haji dianjurkan untuk memasuki rumah pada siang hari jika memungkinkan dan tidak menyulitkan. Tetapi mereka yang tiba di kediamannya pada malam hari dapat langsung masuk ke dalam rumah. Ini, kata Syekh Ibnu Hajar, berlaku bagi mereka yang memiliki istri atau keluarga.

Kelima, diusahakan untuk mencari masjid terdekat. Jamaah haji dianjurkan untuk mampir di masjid terdekat dengan rumahnya. Di dalamya jamaah haji melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu ia dapat pulang ke rumah dan shalat dua rakaat di rumah. Di dalamnya ia bersyukur kepada Allah atas keselamatan perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji hingga selesai.

Keenam, mendoakan jamaah haji yang baru pulang. Keluarga dan masyarakat yang menyambut kedatangan jamaah haji dianjurkan mendoakan penerimaan amal dan ampunan dosa untuk jamaah haji tersebut. Lafal yang dianjurkan adalah sebagai berikut:
قَبَّلَ اللهُ حَجَّكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ
 
Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.

Artinya, “Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti pengeluaranmu.”

Sedangkan lafal doa lain yang juga baik untuk mendoakan jamaah haji adalah doa riwayat Imam Al-Baihaqi dari Sahabat Abu Hurairah ra sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الحَاجُّ

Allâhummaghfir lil hâjj, wa li man istaghfara lahul hâjj.

Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosa jamaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jamaah haji ini.”
 
Ketujuh, mengucapkan permohonan tobat. Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Idhah fi Manasikil Hajji wal Umrah menganjurkan jamaah haji untuk membaca doa yang dilafalkan Rasulullah saw sebelum memasuki rumahnya dan menemui keluarganya.
 
تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حُوْبًا
  
Tauban, tauban, li rabbinâ awban, lâ yughâdiru hûban.
 
Artinya, “Kami sungguh memohon pertobatan. Kepada Tuhan kami, kami kembali, tobat yang tidak menyisakan dosa.”
 
Kedelapan, berusaha menjadi lebih baik dari sebelum haji. Jamaah haji dianjurkan untuk meningkatkan kuantitas jika memungkinkan, tetapi terutama kualitas hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minan nas (hubungan dengan manusia). Jamaah haji perlu terus meningkatkan pengetahuan agama yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, dan seterusnya, karena tidak ibadah haji tidak menyulap jamaah haji menjadi ahli agama secara kun fayakun.

Jamaah haji juga dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah hariannya, serta mengasah kepedulian sosial, dan mempertajam sikap kemanusiaan.

ينبغي أن يكون بعد رجوعه خيرا مما كان فهذا من علامات قبول الحج وأن يكون خيره مستمرا في ازدياد

Artinya, “Seharusnya, jamaah haji berperilaku lebih baik dari sebelumnya karena peningkatan menjadi lebih baik merupakan tanda penerimaan (maqbul) ibadah haji dan kebaikannya terus menerus mengalami peningkatan,” (Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 247).
 
Demikian delapan adab kepulangan haji yang dianjurkan untuk dapat diamalkan oleh jamaah haji dan keluarga-masyarakat yang menyambut kepulangannya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)
Share:

Baca Juga