IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Pola dan Cara Makan Rasulullah (2) 

Rabu 28 Agustus 2019 20:30 WIB
Share:
Pola dan Cara Makan Rasulullah (2) 
Jangan mencela makanan, serakah, bermewah-mewah, atau kotor ketika hendak makan!
Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan tujuh pola dan cara makan yang diteladankan Rasulullah. Beberapa poin yang dianjurkan antara lain tentang sikap bijak memperlakukan perut, tidak tamak terhadap makanan, serta posisi yang baik dan etika sosial saat makan. Dalam kesempatan ini, ulasan serupa akan dipaparkan sebagai kelanjutan dari keterangan tersebut.
 
Kedelapan, duduklah dengan rendah hati dan makanlah dari bagian pinggir makanan. Abdullah ibn Basar meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki sebuah mangkuk besar yang disebut dengan al-gharrâ’ dan cukup untuk dipakai makan oleh berempat. Usai shalat dhuha dan setelah mangkuk diisi makanan, sejumlah sahabat berkerumun di sekitar mangkuk tersebut, dan Rasulullah ﷺ pun terlihat duduk berlutut. 
 
Seorang Arab pedesaan bertanya, “Duduk apa ini?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah menjadikanku sebagai hamba yang mulia dan tidak menjadikanku sebagai hamba yang sombong dan penentang.” Setelah itu beliau memerintah para sahabat, “Makanlah makanan yang ada di pinggir mangkuk ini dan biarkanlah bagian tengahnya. Dengan begitu, makanan itu akan berkah” (HR Abu Dawud). 
 
Kesembilan, membasuh kedua tangan sebelum makan. Siti ‘Asiyah meriwayatkan bahwa ketika hendak tidur dalam keadaan junub, Rasulullah ﷺ selalu berwudhu; dan sewaktu hendak makan, beliau selalu mencuci tangan (HR al-Nasai dan Ahmad). 
 
Kesepuluh, jangan pernah mencela makanan. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika menyukai suatu makanan, beliau memakannya. Namun ketika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. (HR al-Bukhari). 
 
Kesebelas, Rasulullah melarang makan atau minum dalam wadah emas atau perak. Dalam kaitan ini, Hudzaifah menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian minum dalam wadah emas atau perak. Janganlah pula kalian makan dalam wadah emas atau perak. Jangan memakai pakaian berbahan sutera, sebab sutera adalah pakaian mereka (orang-orang kufur) di dunia, tapi pakaian kalian di akhirat” (HR al-Bukhari). 
 
Keduabelasmembaca basmalah sebelum makan. Dan jika lupa membacanya, bacalah di saat ingat. Ibnu Mas‘ûd meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Siapa yang lupa mengucap nama Allah sebelum makan, maka bacalah setelah ingat, bismillâhi fî awwalihi wa âkhirihî, sebab doa itu menyambut makanan yang baru dan mencegah keburukan yang menimpa makanan yang masuk” (HR Ibnu Hibban). 
 
Siti ‘Aisyah meriwayatkan, Rasulullah ﷺ pernah makan bersama keenam sahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang warga Arab pedesaan. Akibatnya beliau hanya makan dua suap saja. Beliau lantas bersabda, “Seandainya dia membaca basmalah, tentu makanan itu cukup bagi kalian.” 
 
Ketigabelas, Rasulullah ﷺ juga selalu makan dan minum dengan tangan kanannya. Hafshah meriwayatkan bahwa beliau menggunakan tangan kanannya untuk makan, minum, wudhu, berpakaian, mengambil sesuatu, memberi sesuatu, dan menggunakan tangan kirinya untuk selain itu (HR Ahmad). 
 
Jabir juga meriwayatkan, Rasulullah ﷺ melarang makan dan minum menggunakan tangan kiri.. Dalam riwayat al-Akwa‘ disebutkan ada seorang pria yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Rasulullah ﷺ Beliau pun langsung menegur, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Pria itu menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau menjawab, “Tidak. Engkau sesungguhnya mampu. Sebab, tidak ada yang menghalangi hal itu kecuali kesombongan.” Namun, sang pria tetap menggunakan tangan kirinya. Beliau akhirnya bersabda, “Jika salah seorang kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanan. Jika minum, maka minumlah dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan, selalu makan dan minum dengan tangan kiri” (HR Muslim).
 
Keempatbelas, makan dengan tiga jari. Dalam kaitan ini, Ka‘b ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ biasanya makan dengan tiga jari (HR Muslim). 
 
Menurut Ibnu Hajar tiga jari yang dimaksud adalah ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Kemudian, Ibnu al-Qayyim menjelaskan, Rasulullah ﷺ selalu makan dengan tiga jarinya dan cara ini lebih baik. Sebab, makan dengan banyak jari atau dengan dua jari tidak memberikan kenikmatan kepada pelakunya, tidak pula memberikan rasa kenyang kecuali setelah waktu lama. Selain itu, makan dengan lima jari, misalnya, membuat makanan yang diambil terlalu banyak atau penuh, sehingga tidak memberikan rasa nikmat dan nyaman. Karenanya, cara makan yang paling baik adalah cara makan ala Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya, yakni dengan tiga jari ( Asyraf al-Wasail, hal. 204; dan Jadul Maad, jilid 4, hal. 322). 
 
Kelimabelas, tidak mengambil bagian pucuk makanan. Dalam riwayat Salmâ disebutkan, Rasulullah ﷺ tidak suka diambilkan pucuk makanan. Kemudian, seorang pelayan Rasulullah ﷺ bernama ‘Umar ibn Abu Salamah mengisahkan, “Sewaktu aku menjadi pelayan di rumah beliau, tanganku tak sengaja merogoh mangkuk. Beliau lalu menegurku, ‘Wahai sang pelayan, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu. Dan makanlah makanan yang ada di dekatmu” (HR al-Bukhari). Ibnu ‘Abbas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Keberkahan itu turun di tengah makanan. Karenanya, makanlah di pinggir-pinggirnya, jangan tengah-tengahnya” (Abu Dawud dan al-Tirmidzi). 
 
Keenambelas, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar makan makanan sampai habis. Anas meriwayatkan, “Rasulullah ﷺ memerintah kami untuk tidak menyisakan makanan di wadah. Sebab, beliau pernah menyampaikan, ‘Sesungguhnya kalian tidak tahu pada makanan manakah keberkahan itu berada,’” (HR Al-Tirmidzi). 
 
Ketujuhbelas, mengambil makanan yang terjatuh. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketika suapmu terjatuh, ambillah. Buanglah kotoran yang ada padanya. Dan janganlah engkau menyisakannya untuk setan” (HR Muslim). 
 
Kedelapanbelas, tidak bersendawa di saat makan. Ibnu ‘Umar meriwayatkan, ada seorang pria yang bersendawa di hadapan Nabi ﷺ Beliau lalu menegurnya, “Hentikan serdawamu. Sebab orang yang paling sering kenyangnya di dunia adalah orang yang paling lama laparnya di hari Kiamat,” (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 
 
Kesembilanbelas, di antara petunjuk Nabi ﷺ adalah menunggu makanan yang panas sampai dingin. Ketika memberi kuah suatu makanan, Asma binti Abu Bakar selalu menunggu rasa panas dan asapnya menghilang. Kemudian, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Cara itu adalah cara yang lebih agung untuk memperoleh keberkahan,’” (HR Ahmad). (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 359). 
 
Bersambung ...
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
 
Share:

Baca Juga

Selasa 27 Agustus 2019 19:0 WIB
Pola dan Cara Makan Rasulullah (1) 
Pola dan Cara Makan Rasulullah (1) 
Tiap informasi yang bersumber dari Rasulullah menyimpan banyak hikmah dan rahasia.
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar dan pasti diperlukan dalam situasi dan kondisi apa pun. Bahkan, keduanya merupakan rahasia kehidupan dan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya. Dalam banyak ayat, Allah telah menjelaskan bahwa makanan merupakan nikmat dan anugerah besar yang diberikan kepada kita.
 
Di antaranya adalah ayat yang menyatakan, “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, yaitu dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu,” (QS Abasa [80]: 24-32). 
 
Untuk memenuhi kebutuhan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan sejumlah pedoman atau acuan perihal makanan, termasuk bagaimana cara makannya yang selayaknya kita pedomani. Sebab sudah barang tentu setiap informasi yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpan banyak hikmah dan rahasia. Cukup banyak hadits yang berbicara tentang pedoman ini. Namun, dalam tulisan ini hanya akan disajikan sebagiannya saja, sedangkan sisanya akan disampaikan pada kesempatan berikutnya. Di antaranya adalah sebagai berikut: 
 
Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas,” (HR Ahmad). 
 
Baca juga:
 
Dengan demikian, yang terpenting perut kita terisi makanan halal yang dapat menjaga kelangsungan hidup. Sebab, bila tidak, kita sendiri yang rugi. Di kala perut kita kekenyangan, misalnya, kita menjadi mengantuk, malas beraktivitas, termasuk malas beribadah, sehingga kemudian kita menjadi kurang poduktif dan dalam jangka panjang berat badan kita menjadi berlebih (obesitas), lebih prihatin lagi di akhirat kekurangan amal. 
 
Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan agar kita tidak rakus dan tidak memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam perut. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Nabi yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah makan banyak, tidak pernah makan sampai kenyang, atau tidak memperbanyak ragam makanan. Bahkan, saat istrinya tidak masak makanan beberapa hari, beliau cukup berpuasa dan menyantap roti saja. 
 
Hal ini juga ditunjang oleh temuan-temuan dalam dunia pangan dan ilmu gizi bahwa ada beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan karena memiliki zat kimia yang justru akan menimbulkan efek negatif dan membahayakan bagi tubuh. Buah-buahan misalnya, sebaiknya tidak dikonsumsi dengan susu. Sebab, umumnya buah-buahan bersifat asam (memiliki PH rendah) sehingga bila bercampur dengan makanan lain dapat menyebabkan fermentasi dalam lambung. Demikian pula kedelai tidak boleh dimakan bersamaan bayam, kedelai dengan bawang hijau, susu kedelai dengan telur, susu dengan cokelat, daging dengan semangka, daging dengan cuka, dan sebagainya. 
 
Ketiga, jika kita menghadiri suatu undangan yang di dalamnya disajikan makanan, sebaiknya tidak mengajak orang lain untuk memenuhi sebuah undangan tersebut kecuali atas izin orang yang mengundangnya. Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki Anshar yang akrab disapa Abu Syu’aib datang. Kemudian, dia bilang kepada pelayannya yang bernama Qashab, “Sediakanlah makanan untuk lima orang. Aku ingin mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka berlima. Sebab, aku mengetahui rasa lapar di raut wajah mereka.” Abu Syu‘aib pun kemudian mengundang mereka. Namun, ada seorang lelaki yang datang bersama kelima tamu itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda, “Lelaki ini ikut bersama kami. Jika menghendaki, engkau boleh mengizinkannya. Dan jika menghendaki, engkau boleh menyuruhnya pulang,” (HR al-Bukhari). Abu Mas‘ud menambahkan, Abu Syu‘aib pun mengizinkannya. 
 
Keempat, pada saat makan kita dianjurkan untuk berkumpul, mengerumuni makanan, dan tidak berpencar darinya. Wahsyi ibn Harm mengatakan bahwa sejumlah sahabat bertanya, “Wahai Rasul, kami makan tapi tidak merasa kenyang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian berpencar (saat makan)?” Mereka berkata, “Iya.” Beliau kembali berkata, “Maka berkumpullah di sekitar makanan kalian. Sebutlah asma Allah (basmalah). Dengan begitu, Dia akan memberi keberkahan kepada kalian,” (HR Abu Dawud). Beliau juga bersabda, “(Jika berkah) makanan untuk seorang pun jadi cukup untuk berdua. Makanan untuk berdua cukup untuk berempat. Dan makanan untuk berempat cukup untuk delapan orang,” (HR Muslim). 
 
Ketiga, jangan makan makanan orang-orang yang sedang berlomba-lomba menyembelih hewan. Dalam hal ini, Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan makanan orang-orang Arab yang berlomba menyembelih hewan (HR Abu Dawud).
 
Maksudnya, mereka berlomba di sini adalah adu banyak menyembelih hewan. Ketika itu ada dua orang laki-laki yang bersaing dalam hal kebaikan dan kedermawanannya. Salah seorang dari mereka menyembelih unta dan lelaki yang lain juga menyembelihnya, sampai salah satu di antara mereka tidak mampu melakukannya. Namun, perbuatan itu hanya sekadar riya dan mencari popularitas. Dengan menyembelih untanya, mereka tidak bermaksud mencari keridaan Allah, sehingga perbuatan itu serupa dengan orang yang menyembelih hewan bukan karena Allah. (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi). 
 
Termasuk ke dalam kategori ini adalah daging hewan yang disembelih tidak menyebut asma Allah dan sembelihan orang-orang musyrik, sebagaimana dalam ayat, "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah," (QS al-Nahl [16]: 115). 
 
Keempat, jika kita memiliki makanan, sangat dianjurkan yang memakan makanan kita adalah orang yang saleh dan bertakwa. Abu Sa’id al-Khudzrî meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” Sudah barang tentu, makanan yang diberikan kepada mereka akan menolong ketaatan dan ibadah mereka. 
 
Kelima, hendaknya tidak makan di khawân atau tempat tinggi yang dipersiapkan untuk makan, seperti meja makan. Anas ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Nabi Allah tidak pernah makan di khawân dan sakrajah. Tidak pula ia makan roti yang dikeringkan,” (HR al-Bukhari). 
 
Sakrajah adalah wadah kecil yang memuat makanan ringan, seperti lalapan atau makanan penambah selera. Namun, hadits ini bukan berarti mengharamkan makan di meja makan atau di tempat tinggi lainnya, melainkan sebatas sunah bahwa makan sebaiknya dilakukan di atas tanah sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. 
 
Keenam, tidak makan sambil terlentang atau makan di tempat yang tersedia makanan yang haram. ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan di tempat yang disajikan minuman keras. Begitu pula beliau melarang seseorang makan sambil menelungkupkan perutnya. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim). 
 
Ketujuh, tidak bersandar pada saat makan. Abu Juhaifah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tidak pernah makan sambil bersandar.” Ibnu ‘Amr juga menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah terlihat makan sambil bersandar,” (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi). 
 
Istilah “bersandar” ini tentu mencakup segala bentuk duduk yang dilakukan sambil bersandar atau menyandarkan bagian tubuh tertentu kepada sesuatu yang lain. Cara ini dimakruhkan atau dianggap kurang baik karena memperlihatkan duduknya orang yang sedang lahap dan nafsu makan. Akibatnya seseorang tidak bisa mengontrol daya tampung perutnya sehingga jadi membesar atau membuncit. (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353). 
 
Karena itu, posisi duduk yang dianjurkan pada saat makan adalah menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki, atau menegakkan betis dan paha kanan dan menduduki kaki yang kiri. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Beirut: Darul Ma‘rifah], 1379 H, jilid 9, hal. 542). 
 
Bersambung ..... 
 
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni Pondok Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi; Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
Kamis 22 Agustus 2019 14:30 WIB
Muruah Makan di Pasar dan Buang Air Kecil di Jalanan
Muruah Makan di Pasar dan Buang Air Kecil di Jalanan
Perhatian seseorang atas pelanggaran-pelanggaran kecil bisa jadi cermin dari integritasnya atas hal-hal besar. (Ilustrasi: dailydot.com)
Saat mengaji di waktu kecil kita mendapat penanaman nilai dan ajaran untuk memelihara kehormatan, harga diri, dan nama baik dengan menjaga ucapan dan tindakan. Forum pengajian anak-anak kecil memang sebuah momentum bagus bagi penanaman nilai-nilai yang baik.
 
Agama Islam dan selanjutnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut harga diri dan nama baik itu dengan kata “muruah”, yang kemudian disebut secara kaprah di kalangan politisi dan media dengan kata “marwah”.
 
Anak-anak kampung yang belajar mengaji dianjurkan untuk menjauhkan diri dari ucapan dan tindakan yang dapat merusak dan mencederai muruah. Mereka diajarkan untuk tidak berbohong, menipu, mencuri, menyakiti orang lain, melawan orang tua, bersikap angkuh, dan berlaku kurang ajar terhadap orang yang lebih tua.
 
Mereka juga bahkan diajarkan untuk menjauhi hal-hal kecil yang dapat merusak muruah seperti membuang air kecil di jalanan, makan di pasar, makan di depan pintu, minum atau makan sambil berdiri, atau menggunakan tangan kiri untuk melakukan banyak hal.
 
Masalah nilai-nilai ini dipinjam oleh ahli hadits dalam menentukan kualitas hadits dengan mengukur sejauh mana perawi hadits menjauhkan hal-hal yang dapat mencederai muruahnya yang berpengaruh pada kualitas bahkan pada tingkat penerimaan hadits yang diriwayatkan olehnya.
 
“Seorang perawi harus bersikap ‘adil’ dengan menjauhi dosa besar dan menjaga diri dari hal-hal yang dapat menggugurkan muruah bersikap ‘gila’, berlaku ‘bodoh’, makan di pasar, kencing di jalan,” (Lihat Syekh Abu Ishaq As-Syairazi, Al-Luma‘ pada hamisy Al-Bayanul Mulamma‘ ‘an Alfazhil Luma‘ lis Syekh MA Sahal Mahfudh, [Pati, Mabadi’ Sejahtera: tanpa catatan tahun], halaman 128).
 
As-Syairazi menambahkan bahwa periwayat hadits yang tidak memiliki sifat seperti ini tidak bisa dipercaya dari tindakan “menyepelekan” periwayatan hadits yang tidak ada sumbernya. Tidak heran jika Sayyidina Ali karramallahu wajhah menolak hadits salah seseorang hanya karena yang bersangkutan kerap membuang air kecil (kencing) sambil berdiri.
 
Pelanggaran-pelanggaran kecil yang dapat merusak muruah ini dihitung sebagai ukuran penilaian integritas para periwayat hadits. Pasalnya, pengabaian atas pelanggaran-pelanggaran kecil dicatat sebagai sebuah tindakan pengabaian. Orang abai seperti ini tidak mustahil mengabaikan pelanggaran berat seperti berdusta, dalam konteks ini yaitu meriwayatkan ucapan yang tidak bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
 
Tindakan abai atas pelanggaran kecil seperti makan di pasar atau kencing di jalanan, bagi kalangan ulama ushul dan ahli hadits, tidak dapat dipandang perkara kecil karena bobot pelanggarannya. Tindakan abai itu dinilai dari tindakan pengabaiannya itu sendiri.
 
Dari sini kemudian, banyak ustadz mengajarkan anak-anak di pengajian untuk menjauhkan diri dari tindakan yang dapat merusak muruah seperti makan di pasar dan kencing di jalanan.
 
Namun demikian, tidak semua tindakan makan di pasar dan kencing di jalanan dinilai dapat merusak muruah. Hal ini diangkat oleh KH MA Sahal Mahfudh dalam karyanya, Al-Bayanul Mulamma‘ ‘an Alfazhil Luma‘.
 
Menurutnya, sejauh aktivitas makan di pasar dan kencing di jalanan dilakukan di ruang tertutup seperti di kedai atau di toilet umum dapat dikategorikan sebagai pengecualian. Dengan demikian, buang air kecil di perjalanan atau makan di rumah makan tidak masalah terhadap muruah.
 
قوله (والأكل في السوق) أي في طريقه لغير سوقي، أما لو أكل في السوق داخل حانوت أو مطعم مستترا فلا يخل المروءة
 
Artinya, “(Makan di pasar) di jalan pasar bagi bukan orang pasar. Adapun seandainya makan pada ruang tertutup sebuah kedai makan atau restoran di dalam pasar, maka praktik ini tidak mencederai muruah,” (Lihat Syekh MA Sahal Mahfudh, Al-Bayanul Mulamma‘ ‘an Alfazhil Luma‘, [Pati, Mabadi’ Sejahtera: tanpa catatan tahun], halaman 128).
 
Keterangan KH MA Sahal Mahfudh dalam karyanya, Al-Bayanul Mulamma‘ ‘an Alfazhil Luma‘, menjadi penting untuk catatan dalam pembahasan perihal hal kecil yang dapat merusak muruah.
 
Bisa jadi yang dimaksud merusak muruah itu bila buang air kecil dilakukan sambil berdiri karena ini adalah makruh dan dilakukan di tempat terbuka, apalagi bila tanpa istinja’. Wallahu a‘lam(Alhafiz K)
 
Rabu 21 Agustus 2019 13:0 WIB
11 Adab Guru Menurut Imam Al-Ghazali
11 Adab Guru Menurut Imam Al-Ghazali
Tak hanya murid yang mesti punya etika, guru pun terikat oleh adab-adab tertentu agar ilmu berkah dan manfaat. (Ilustrasi: sothebys.com)
Guru, ustadz, atau kiai adalah orang-orang alim. Mereka disebut alim karena memiliki ilmu yang memadai di bidangnya. Kewajiban orang alim antara lain adalah mengamalkan dan menyebarkan ilmunya kepada masyarakat. Dalam interaksinya dengan masyarakat, terutama murid-murid sendiri, seorang guru hendaknya memperhatikan adab-adab tertentu sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjdudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 431) sebagai berikut:
 
آداب العالم: لزوم العلم، والعمل بالعلم، ودوام الوقار، ومنع التكبر وترك الدعاء به، والرفق بالمتعلم، والتأنى بالمتعجرف، وإصلاح المسألة للبليد، وبرك الأنفة من قول لا أدري، وتكون همته عندالسؤال خلاصة من السائل لإخلاص السائل، وترك التكلف، واستماع الحجة والقبول لها وإن كانت من الخصم.  
 
Artinya: “Adab orang alim (guru), yakni: tidak berhenti menuntut ilmu, bertindak dengan ilmu, senantiasa bersikap tenang, tidak takabur dalam memerintah atau memanggil seseorang, bersikap lembut terhadap murid, tidak membanggakan diri, mengajukan pertanyaan yang bisa dipahami orang yang lamban berpikirnya, merendah dengan mengatakan, ‘Saya tidak tahu,’ bersedia menjawab secara ringkas pertanyaan yang diajukan penanya yang kemampuan berpikirnya masih terbatas, menghindari sikap yang tak wajar, mendengar dan menerima argumentasi dari orang lain meskipun ia seorang lawan.”
 
Baca juga:
 
Dari kutipan di atas dapat diuraikan kesebelas adab orang alim (guru) sebagai berikut:
 
Pertama, tidak berhenti menuntut ilmu. Menuntut ilmu tidak ada batas akhirnya karena kewajiban ini dilakukan sejak dari ayunan ibu hingga liang lahat. Dalam kaitan ini Gus Mus pernah menulis dalam akun Twitternya, “Seseorang akan selalu pandai selagi terus belajar. Bila dia berhenti belajar karena menganggap dirinya sudah pandai, mulailah dia bodoh.”
 
Kedua, bertindak dengan ilmu. Orang alim (guru) hendaknya bertindak berdasarkan ilmu terlebih dalam hubungannya dengan ibadah. Di luar ibadah pun, suatu tindakan juga harus sesuai dengan ilmu terkait, misalnya pengobatan atau terapi terhadap orang sakit harus berdasarkan ilmu tertentu yang memang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam ibadah, amal tanpa didasari ilmu akan tertolak. 
 
Ketiga, senantiasa bersikap tenang. Orang berilmu tentu bersikap tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. Inilah salah satu hal yang membedakan antara orang berlilmu dan orang tak berilmu. Terlebih dalam menghadapi murid-murid yang menjadi tanggung jawabnya dalam kependidikan, seorang guru hendaknya bersikap sabar dan tidak emosional. 
 
Keempat, tidak takabur dalam memerintah atau memanggil seseorang. Orang alim (guru) dituntut meneladani sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak mungkin. Hal ini sejalan dengan hadits yang menyatakan bahwa ulama adalah para pewaris Nabi. Rasulullah dikenal sangat tawadhu’ sehingga para alim atau ulama juga dituntut bertawadhu’ dalam semua hal termasuk dalam memerintah dan memanggil seseorang, misalnya murid.  
 
Kelima, bersikap lembut terhadap murid. Sangat tidak dianjurkan orang alim (guru) bersikap keras, apalagi kejam terhadap murid-muridnya sebab hal ini akan sangat berpengaruh terhadap perilaku mereka. Sering kali murid tidak berani jujur dengan mengatakan apa adanya ketika guru sangat keras terhadap mereka yang bersalah. Akibatnya mereka memilih berbohong agar selamat dari kemarahan guru. 
 
Keenam, tidak membanggakan diri. Orang alim (guru) hendaknya tidak membanggakan diri atas semua prestasi yang diraihnya sebab hal ini bisa membawanya pada sikap ujub, yakni mengagumi diri sendiri yang ujung-ujungnya menimbulkan kesombongan. Allah sangat tidak menyukai hamba-hamba-Nya yang sombong, dan sebaliknya mengangkat derajat orang-orang yang senantiasa bertawadhu’. 
 
Ketujuh, mengajukan pertanyaan yang bisa dipahami orang yang lamban berpikirnya. Tingkat kesulitan pertanyaan yang diajukan kepada seorang murid, misalnya, harus disesauikan dengan tingkat kemampuan berpikir atau seberapa luas pengetahuannya. Tidak bijak memberikan pertanyaan yang sulit kepada murid-murid yang baru mulai belajar sebab hal ini bisa menimbulkan frustrasai dan tidak percara diri . 
 
Kedelapan, merendah dengan mengatakan, “Saya tidak tahu.” Ada kalanya guru tidak perlu menjawab suatu permasalahan apabila murid benar-benar tidak bermaksud bertanya tetapi hanya ingin mengujinya. Dalam situasi seperti ini lebih baik guru mengatakan ketidaktahuannya dengan tetap menunjukkan sikap tawadhu’nya, dan bukan dengan bersikap marah-marah. 
 
Kesembilan, bersedia menjawab secara ringkas (sederhana) pertanyaan yang diajukan penanya yang kemampuan berpikirnya masih terbatas. Seorang guru dituntut mengenali tingkat kemampuan berpikir murid-muridnya yang beragam sehingga penjelasan yang ditujukan kepada individu tertentu disesuaikan dengan tingkat kecerdasannya. Sistem pembelajaran “sorogan” sangat memungkinkan guru mengenali potensi akademik murid-muridnya satu per satu. 
 
Kesepuluh, menghindari sikap yang tak wajar. Seorang guru hendaknya selalu bersikap wajar terhadap murid-muridnya. Ia tidak perlu bersikap terlalu keras atau sebaliknya terlalu lembut. Sikap terlalu keras bisa membuat murid tidak kreatif, dan sebaliknya sikap terlalu lembut bisa membuat murid meremehkan perintah-perintah guru. Sikap terbaik adalah yang moderat, atau sesuai dengan situasi dan kondisi. 
 
Kesebelas, mendengar dan menerima argumentasi dari orang lain meskipun ia seorang lawan. Seorang guru hendaknya bersikap akomodatif terhadap argumetasi dari mana pun asalnya, termasuk dari orang yang tidak sependapat dengannya dengan cara mau mendengarkan dan mempertimbangkan untuk mengkaji kuat tidaknya argumentasi itu. Maksudnya seorang guru tidak boleh besikap apriori terhadap pendapat orang lain. 
 
Demikianlah kesebelas adab orang alim (guru) sebagaimana dinasihatkan oleh Imam al-Ghazali. Kesebelas adab tersebut dapat diringkas bahwa seorang alim (guru) hendaknya senantiasa menuntut ilmu dan mengamalkannya; menjaga akhlak terpuji dengan memiliki sikap tenang, lemah lembut, tawadhu’ dan bersikap wajar; memahami karakter murid-muridnya dan tidak apriori terhadap pendapat orang lain yang berbeda. 
 
 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.