IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Kisah Islamnya Sahabat Adi bin Hatim

Selasa 3 September 2019 18:30 WIB
Share:
Kisah Islamnya Sahabat Adi bin Hatim
Ilustrasi (ist)
Para sahabat memiliki kisah yang berbeda dalam hal memeluk Islam. Ada sahabat yang langsung memeluk Islam setelah menerima ajakan dari Nabi Muhammad seperti Abu Bakar as-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib. Ada yang masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an seperti Umar bin Khattab. Ada juga yang mengucapkan dua kalimat syahadat setelah berinteraksi langsung hingga membuatnya terkesan dengan Nabi Muhammad seperti Adi bin Hatim.

Adi bin Hatim adalah anak al-Jawwad. Dia adalah penguasa Suku at-Tha’i yang dikenal pemurah. Adi adalah salah seorang yang membenci dakwah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad. Oleh karenanya, ketika dakwah Islam menyebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Adi bin Hatim meninggalkan kaumnya dan hijrah ke negeri Syam. Semula, ia tetap mempertahankan agama nenek moyangnya dan tidak rela menjadi pengikut Nabi Muhammad.

“Aku benci kedudukan di sana, melebih kebencianku terhadap Muhammad. Seandainya aku menemuinya, jika dia seorang raja atau pendusta, itu akan membuatku takut. Namun, jika dia berkata benar, aku akan mengikutinya,” kata Adi bin Hatim, dikutip dari buku The Great Episodes of Muhammad SAW (Said Ramadhan al-Buthy, 2017).

Dari ucapannya tersebut, kebencian Adi bin Hatim kepada Nabi tidak membuatnya kalap dan menutup mata hatinya. Nyatanya, di akhir perkataannya dia menegaskan bahwa dirinya akan masuk Islam jika ajaran yang dibawa Nabi benar. Tidak hanya mengaku-ngaku menjadi Nabi saja. 

Hingga suatu ketika, Adi bin Hatim ingin bertemu dengan Nabi Muhammad dan pergi ke Madinah. Ia ingin memastikan kebenaran Nabi Muhammad secara langsung. Sesampai di Masjid Nabawi, Adi menyampaikan salam dan kemudian dijawab Nabi. Dia langsung memperkenalkan diri setelah Nabi Muhammad bertanya perihal identitasnya.

Nabi lalu mengajak Adi pergi ke rumahnya, yang notabennya hanya beberapa jengkal saja dari Masjid Nabawi. Di tengah jalan, ada seorang wanita tua yang meminta Nabi Muhammad berhenti. Nabi pun berhenti beberapa saat. Wanita tua tersebut langsung menyampaikan beberapa kebutuhannya kepada Nabi. Melihat kejadian itu, Adi bin Hatim merasa terheran-heran. Dia membatin, bagaimana mungkin seorang raja berperilaku seperti itu. Tidak ada jarak dengan rakyat jelata.

Keheranan Adi bin Hatim berlanjut. Saat sampai di rumah Nabi, ia diberikan bantal sebagai tempat duduk, sementara Nabi duduk di tanah tanpa bantal karena memang bantalnya cuma satu. Bagi Nabi, Adi bin Hatim yang merupakan tamunya adalah yang utama. Lagi-lagi Adi bin Hatim membatin, apa yang dilakukan Nabi tersebut bukanlah kebiasaan para raja. 

Adi adalah seorang elit di kaumnya. Ia mengira akan mendapatkan sesuatu yang berharga di kediaman Nabi Muhammad. Namun, perkiraannya tersebut meleset. Apa yang didapatinya begitu berbeda dengan apa yang dibayangkannya. Dan Nabi Muhammad bukanlah seperti ‘raja’ yang diduganya. Karena memang kebiasaan raja-raja adalah gila harta dan gila penghormatan.

Setelah itu, terjadi tanya-jawab antara Nabi Muhammad dan Adi bin Hatim. Adi bin Hatim menjawab tidak tahu ketika Nabi menanyakan perihal tuhan selain Allah dan tuhan yang lebih besar dari pada Allah. 

Nabi lalu bertanya perihal agama yang dianut Adi bin Hatim, Rukusiya –agama perpaduan antara Nasrani dan Shabiiyyah, praktik mirba di kaumnya –praktik jahiliyah dimana seorang pemimpin berhak mendapatkan seperempat harta ghanimah. Adi bin Hatim membenarkan semua perkataan Nabi Muhammad itu.

Nabi Muhammad kemudian menyampaikan tiga hal yang menghalangi Adi bin Hatim masuk Islam. Pertama, penganut ajaran Islam saat itu miskin-miskin. Nabi meyakinkan bahwa tidak lama lagi umat Islam akan memiliki harta yang berlimpah ruah sehingga tidak ada seorang pun yang miskin. Perkataan Nabi ini terbukti pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis, dimana saat itu tidak ada seorang pun yang berhak menerima zakat karena umat Islam sudah sejahtera. 
 
Kedua, jumlah umat Islam sedikit, sementara musuhnya lebih banyak. Terkait hal ini, Nabi Muhammad juga meyakinkan kepada Adi bin Hatim bahwa sebentar lagi akan ada berita mengenai seorang wanita yang berangkat dengan mengendarai unta dari Qadisiyyah ke Baitullah Makkah tanpa rasa takut. Lag-lagi apa yang dikatakan Nabi ini menjadi kenyataan. Ketika umat Islam menguasai wilayah tersebut, maka seseorang bisa bepergian dengan aman karena tidak ada lagi penyamun.

“(Ketiga) yang menglangimu masuk agama ini adalah engkau menyaksikan bahwa raja dan penguasa bukanlah dari kalangan mereka. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar berita mengenai istana-istana putih dari Babilonia yang kutaklukkan,” kata Nabi. Sesaat setelah itu Adi bin Hatim mengikrarkan diri memeluk Islam.
 
Penulis: Muchlishon Rochmat
Editor: Fathoni Ahmad
Share:

Baca Juga

Rabu 28 Agustus 2019 20:0 WIB
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian II-Habis)
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian II-Habis)
Foto: NU Online
Perang ekonomi yang dijalankan kaum Muslim juga menyasar kaum Yahudi. Ketika itu, kaum Yahudi menguasai sektor bisnis dan industri di Madinah. Sebagai penguasa ekonomi di Madinah, kaum Yahudi tidak segan-segan menjebak masyarakat dengan utang yang berbunga tinggi. Di samping itu, kaum Yahudi juga selalu memantik api perselisihan antara Suku Aus dan Suku Khazraj.

Maka ketika tiba di Madinah, Nabi Muhammad kemudian mendirikan pasar. Beliau mengajari tata krama di pasar, mendorong para sahabatnya untuk berbisnis, dan mencari rezeki yang halal. Mengetahui hal itu, kaum Yahudi Madinah gusar. Terlebih, kaum Muslim berhasil menumbangkan perekonomian kaum Yahudi di Kota Madinah.

Kaum Yahudi semakin tidak terima. Mereka menilai, Nabi Muhammad dan kaum Muslim telah menghancurkan bisnis yang selama ini mereka geluti. Dari perang ekonomi tersebut, maka terjadi lah perang-perang terbuka antara kaum Muslim dan kaum Yahudi Madinah. Baik dalam perang ekonomi maupun perang terbuka, kaum Yahudi selalu terpuruk dan tidak pernah merasakan manisnya kemenangan.

Terkait dengan perang ekonomi, ada sebuah kisah menarik tentang bagaimana Nabi Muhammad merespons kekejaman dan perlakuan jahat kaum musyrik Makkah dengan kasih sayang. Dikisahkan, suatu ketika pemimpin Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal, dicaci maki dan dinista oleh kaum Quraisy Makkah setelah ia memeluk Islam.

Tidak terima diperlakukan seperti itu, Tsumamah–yang  ketika itu hendak menjalankan umrah ke Makkah–kemudian mencegat pengiriman gandum Yamamah ke Makkah. Hal itu membuat kaum Quraisy Makkah menderita. Mereka tidak memiliki persediaan bahan makanan untuk dimakan. Mereka kemudian memakan ilhis (makanan yang terbuat dari campuran darah  dan bulu unta, atau tumbuhan semacam papirus) untuk sekadar bertahan hidup. Lama-lama, kaum musyrik Makkah tidak tahan dengan kondisinya dan menulis surat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Kau menyerukan silaturahmi, tapi kau sendiri yang memutus sendiri silaturahmi dengan kami. Kau telah membunuh ayah-ayah kami dengan pedang dan anak-anak kami dengan kelaparan,” demikian bunyi surat kaum musyrik Makkah kepada Nabi Muhammad, seperti tertera dalam buku Perang Muhammad SAW, Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah (Nizar Abazhah, 2014).

Setelah menerima surat itu, Nabi Muhammad SAW langsung mengirim surat kepada Tsumamah agar tidak lagi mengganggu pengiriman bahan makanan ke Makkah. Tsumamah mematuhi perintah Nabi  dan tidak lama kemudian turunlah wahyu Surat Al-Mukminun ayat 76: “Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya, dan (juga) tidak merendahkan diri.”

Begitu pun ketika Nabi Muhammad tiba di Makkah dalam Fathu Makkah. Rasulullah SAW memberikan kurma ajwa kepada Abu Sufyan, salah satu elit kaum musyrik Makkah yang memusuhinya–sebelum ia masuk Islam. Beliau juga membagi-bagikan 500 dinar kepada fakir miskin Makkah.

Demikian sikap agung Nabi Muhammad. Beliau tetap lembut dan penuh kasih sayang kepada musuh-musuhnya, baik dalam perang ekonomi maupun perang fisik terbuka. Tentu saja, Nabi Muhammad sangat bisa kalau seandainya ingin balas dendam kepada kaum musyrik Makkah, mengingat dirinya dan keluarganya pernah diboikot dan diblokade ekonominya selama tiga tahun. Namun, Nabi memilih untuk tidak melakukannya. Rasulullah SAW malah membalas mereka yang pernah menyakitinya dengan kebaikan dan penghormatan. (Muchlishon Rochmat)
Selasa 27 Agustus 2019 18:32 WIB
Ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib Memindahkan Ibu Kota Negara
Ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib Memindahkan Ibu Kota Negara
Ali bin Abi Thalib membuat keputusan besar. Khalifah keempat ini memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kufah. Tindakan ini luar biasa berani karena tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh Rasulullah SAW dan ketiga Khalifah awal, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Ini cara Imam Ali melakukan pemisahan urusan politik dan agama. Apa yang melatarbelakangi keputusan itu? Mari kita simak penjelasannya.

Khalifah Utsman terbunuh pada 17 Juni tahun 656. Khalifah berusia 79 tahun ini berkuasa selama 12 tahun. Kabarnya enam tahun pertama dilalui pemerintahannya dengan gemilang. Namun, karena tidak ada pembatasan masa jabatan, Khalifah Utsman terus berkuasa, meski usianya sudah sepuh dan beliau tidak lagi sepenuhnya dapat mengontrol negara yang sudah meluas melewati jazirah Arab.

Singkat cerita, ketidakpuasan meletus dan pemberontak membunuh Khalifah di rumahnya saat beliau tengah membaca Al-Qur’an.

Pemberontak dari Mesir menguasai Madinah selama 5 hari, dan sampai hari ketiga, jenazah Khalifah Utsman tidak bisa dikuburkan. Akhirnya, jasad beliau berhasil dikuburkan di tempat yang tidak biasa, bukan di dekat kuburan Nabi dan dua khalifah sebelumnya. Imam Ali kemudian dibai’at menjadi Khalifah keempat pada 24 Juni 656–hari ketujuh setelah wafatnya Utsman, meski Imam Ali sebelumnya menolak dipilih.

Namun, kemudian muncul suara-suara yang menggugat pemilihan Imam Ali karena hanya sedikit sahabat besar yang tersisa di Madinah. Meluasnya kekuasaan Islam membuat para sahabat menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Mu’awiyah yang menjadi Gubernur di Damaskus. Mereka merasa suara mereka tidak didengar dan tidak terwakili dalam pemilihan Imam Ali sebagai khalifah.

Dua sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair, bergerak ke Mekkah. Istri Nabi, Siti Aisyah, tengah melakukan umrah di Mekkah ketika Utsman terbunuh. Mendengar Imam Ali yang terpilih menjadi Khalifah, Siti Aisyah memutuskan bertahan tinggal di Mekkah dan bersama-sama penduduk Mekkah meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib mengadili para pembunuh Khalifah Utsman.

Khalifah Ali meminta umat untuk cooling down terlebih dahulu. Keengganan Imam Ali memenuhi tuntutan itu membuat beliau dituduh terlibat di belakang pemberontakan yang mengakibatkan wafatnya Utsman. Kemudian Thalhah, Zubair, dan Siti Aisyah bergerak ke Basrah bersama pasukannya untuk memobilisasi massa melawan Khalifah Ali.

Imam Ali meminta penduduk Madinah bersiap perang. Mereka tidak segera merespons permintaan Imam Ali. Butuh waktu untuk Ali mengumpulkan relawan bergerak ke Basrah. Singkat cerita, terjadilah peperangan antara menantu Nabi, Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan istri Nabi, Siti Aisyah. Pasukan Ali berjumlah 20 ribu dan pasukan Siti Aisyah berjumlah 30 ribu.

Dikabarkan tidak kurang dari 18 ribu umat Islam dari kedua belah pihak terbunuh dalam perang saudara ini, termasuk Thalhah dan Zubair, dan 3.000 orang lainnya terluka.

Selepas perang yang dimenangkan Khalifah Ali, Siti Aisyah diantar kembali ke Madinah dengan penghormatan dan pengawalan lengkap. Namun, pilihan untuk Imam Ali hendak ke mana sekarang?

Kembali ke Madinah ketika suasana masih tidak kondusif mengingat pendukung Utsman masih membara dan istri Nabi Siti Aisyah yang baru saja dikalahkan dalam pertempuran juga akan menetap di Madinah. Tentu tidak nyaman Khalifah Ali kembali ke Madinah.

Bagaimana kalau ke Damaskus? Tidak mungkin! Mu’awiyah berkuasa di sana dan sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerang Khalifah Ali. Atau ke Mekkah saja? Tidak mungkin. Siti Aisyah berhasil memulai perlawannya justru dari Mekkah dengan dukungan 3000 relawan dan bantuan Gubernur Mekkah.

Bagaimana kalau ke Basrah? Meskipun Khalifah Ali menang perang, namun sebelum beliau tiba di Basrah, Thalhah, Zubair, dan Siti Aisyah telah lebih dulu meraih simpati dan dukungan penduduk Basrah. Basrah dan Mekkah bukan pilihan bijak.

Maka, Imam Ali memutuskan untuk menetap di Kufah dan sekaligus memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kufah. Selain latar belakang kondisi sosial politik di atas, tindakan Imam Ali ini luar biasa dampaknya. Beliau belajar dari masuknya pemberontak ke Ibu Kota Madinah yang telah mengotori kesucian kota Madinah.

Politik kekuasaan di kota Nabi yang suci sungguh tak terbayangkan. Pemindahan ibu kota dari kota suci Nabi ke wilayah yang cukup jauh, yaitu Kufah (Irak sekarang), membuat simbol agama (Madinah) dipisahkan dengan persoalan politik. Secara tidak langsung, Imam Ali telah berusaha menarik batas antara agama dan politik.

Imam Ali juga tidak mengambil kesempatan memindahkan ibu kota ke Mekkah, karena kalau terjadi penyerangan maka Ka’bah menjadi taruhannya. Terbukti kelak pada masa Dinasti Umayyah ketika Abdullah bin Zubair memisahkan diri dari Dinasti Umayyah dan menjadikan Mekkah sebagai pusat pergerakannya, keponakan Siti Aisyah ini bukan saja terbunuh di sekitar Ka’bah tapi kota Mekkah diserang panah berapi dan diblokade selama 6 bulan oleh pasukan al-Hajjaj bin Yusuf.

Ironisnya, bukan saja banyak penduduk Mekkah dan jamaah haji yang terbunuh, tapi Ka’bah pun sempat terbakar akibat serangan panah api. Inilah akibatnya kalau politik kekuasaan dilakukan di kota suci Mekkah. Jadi, sudah sangat tepat Khalifah Ali memindahkan ibu kota ke Kufah.

Empat bulan kemudian perang saudara kedua pecah. Peperangan antara pasukan Gubernur Mu’awiyah dari Damaskus dan pasukan Khalifah Ali dari Kufah berlangsung di daerah Shiffin. Perang saudara terjadi, namun dua kota suci Mekkah dan Madinah aman. Sekali lagi, pemindahan ibu kota adalah upaya menjaga agar kesucian Ka’bah dan Masjid Nabawi agar tidak tercemar oleh pertarungan kekuasaan.

Tabik,
 
Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand
Selasa 27 Agustus 2019 6:0 WIB
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian I)
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian I)
Foto: NU Online
Kaum musyrik Makkah melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad. Salah satunya adalah melakukan blokade dan pemboikotan ekonomi terhadap Nabi Muhammad dan keluarga besarnya. Kejadian ini terjadi pada tahun ketujuh kenabian, di mana Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib masih hidup. Namun demikian, keduanya ikut terboikot dan tidak dapat berbuat banyak.

Tujuan kaum musyrik Makkah melakukan pemboikotan tersebut adalah untuk memecah belah keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Muthalib, klan Nabi Muhammad. Kaum musyrik mengira, strategi itu akan membuat orang-orang –dari dua bani tersebut- yang tidak percaya dengan Nabi bergabung dengan mereka. Namun perkiraan mereka meleset. Justru, Bani Hasyim dan Bani Muthalib –kecuali Abu Jahal- malah semakin solid dan bersatu menghadapi langkah kau musyrik Makkah tersebut. Dan begitulah karakteristik masyarakat Arab masa lalu. Solidaritas mereka begitu kuat antar satu keluarga.

Tokoh-tokoh musyrik Makkah menulis sebuah piagam pemboikotan yang isinya melarang siapa pun berinteraksi –baik secara ekonomi maupun sosial- dengan Nabi Muhammad. Piagam tersebut kemudian digantung di dalam Ka’bah sejak bulan Muharram tahun ketujuh kenabian. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), berikut teks lengkap piagam pemboikotan dan blokade ekonomi terhadap Nabi Muhammad:

“Tidak ada bantu-membantu, tidak ada jual-beli, tidak juga kawin-mawin. Tidak ada damai sampai pendukung-pendukung Muhammad bersedia menyerahkan beliau secara suka-rela untuk dicegah berdakwah atau untuk dibunuh.” Menurut satu riwayat, naskah kesepakatan tersebut ditulis oleh Manshur bin Ikrimah. Riwayat lain menyebutkan Baghid bin Amir.

Berdasarkan piagam tersebut, siapa pun dilarang mendistribusikan bahan makanan kepada Nabi Muhammad dan keluarga besarnya. Sehingga terkadang mereka memakan dedaunan untuk sekadar menahan rasa lapar. Meski demikian, ada saja pihak-pihak yang tidak tega sehingga mereka dengan sembunyi-sembunyi mengirimkan makanan kepada Nabi Muhammad. Namun, makanan tersebut kemudian diprioritaskan kepada anak-anak yang menangis kelaparan.

Pemboikotan dan blokade ekonomi terhadap Nabi Muhammad dan keluarga besarnya tersebut berlangsung selama tiga tahun, riwayat lain menyebutkan dua tahun. Di satu sisi, pemboikotan itu telah menyebabkan Nabi dan keluarganya sengsara dan membuat perkembangan dakwah Islam tersendat. Namun di sisi lainnya, pemboikotan juga menghadirkan dampak baik. Di antaranya membuat orang-orang bersimpati kepada Nabi dan membuka mata masyarakat secara umum tentang kehadiran Islam yang menyerukan keluhuran budi pekerti.

Perang ekonomi juga terjadi ketika umat Muslim hijrah ke Madinah. Ketika itu, mereka harus meninggalkan seluruh harta bendanya di Makkah. Kaum musyrik Makkah kemudian mengambil-alih harta benda umat Muslim seenak mereka sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga melarang kaum Muslim berhijrah dengan membawa harta mereka sendiri.  

Kasus Shuhaib al-Rumi adalah contoh nyata bagaimana kaum musyrik mengambil paksa harta benda umat Islam. Dalam buku Perang Muhammad saw, Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah (Nizar Abazhah, 2014) dikisahkan, Shuhaib al-Rumi dikejar, dipaksa, dan diancam ketika hendak berhijrah ke Madinah. Kaum musyrik baru membiarkan Shuhaib pergi ke Madinah setelah semua harta kekayaannya dirampas. 

Dalam dua perang ekonomi di atas, kaum Muslim mengalami kekalahan yang besar. Mereka tidak diberi akses ekonomi dan semua kekayaannya diambil paksa. Maka tidak mengherankan jika Nabi Muhammad kemudian melakukan ‘serangan balasan’ kepada kaum musyrik Makkah ketika kekuatan umat Islam di Madinah semakin kokoh. 

Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an Surat al-Quraisy, orang-orang Quraisy Makkah memiliki kebiasaan bepergian pada musim dingin dan musim panas. Saat musim panas, mereka melakukan perjalanan ke utara, Suriah dan Irak, untuk berdagang. Sementara ketika musim panas, mereka ke selatan.

Hal itu yang dijadikan Nabi Muhammad untuk menabuh gendering perang ekonomi melawan kaum musyrik Makkah. Beliau memerintahkan pasukannya untuk melakukan sabotase di jalur perdagangan kaum musyrik Makkah. Dengan demikian, mereka tidak bisa lagi bepergian ke Irak dan Suriah tanpa seizin kaum Muslim. 

Kesepakatan itu mengancam keamanan kaum musyrik Makkah dan berdampak buruk terhadap perdagangan mereka. Maka seiring berjalannya waktu, mereka melakukan perlawanan terhadap kaum Muslim. Nabi sigap mengatasinya sehingga perlawanan mereka bisa di atasi. Namun, mereka terus saja melancarkan penentangan hingga akhirnya pecahlah Perang Badar. 

Menurut Nizar Abazhah dalam bukunya di atas, Perang Badar lebih bercorak perang ekonomi, dari pada perang terbuka. Untungnya, umat Islam menang dalam perang ekonomi ini sehingga membuat ekonomi kaum musyrik Makkah semakin terpuruk. Akses rute mereka ke Irak dan Suriah sudah terputus. Sebetulnya, setelah Perang Badar, mereka mencari-cari rute baru ke Irak. Namun, pasukan umat Islam selalu saja berhasil menghadangnya. 

Tidak lain, tujuan Nabi Muhammad mengirim pasukan, baik sebelum maupun setelah Perang Badar, ke sejumlah jalur perdagangan kaum musyrik Makkah adalah untuk blokade ekonomi. Nabi ingin memberikan efek psikologis dan material bagi kaum musyrik Makkah agar mereka memikirkan ulang sikap mereka terhadap kaum Muslim selama ini. (Muchlishon Rochmat)