IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Peran Sayyidah Khadijah saat Nabi Muhammad Diboikot

Kamis 5 September 2019 12:0 WIB
Share:
Peran Sayyidah Khadijah saat Nabi Muhammad Diboikot
ilustrasi
Salah satu strategi kaum kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Islam adalah dengan melakukan blokade dan pemboikotan ekonomi dan sosial terhadap Nabi Muhammad dan keluarga besarnya, Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Mereka berpikiran, ketika diboikot maka Bani Hasyim dan Bani Muthalib akan terpecah-belah sehingga menyerahkan Nabi Muhammad. Namun, dugaan mereka salah. Mereka tetap solid dalam menghadapi langkah kaum musyrik tersebut.  
 
Setidaknya ada empat poin yang tertera dalam piagam pemboikotan tersebut. Pertama, tidak boleh menikah dengan salah satu dari mereka dan tidak boleh pula menikahkan dengan mereka. Kedua, tidak boleh menjual dan membeli apa pun dari mereka. Ketiga, tidak menerima perdamaian dari mereka.
 
Keempat, tidak diperbolehkan merasa kasihan pada mereka sampai mereka mau menyerahkan Muhammad. Piagam tersebut kemudian digantung di dalam Ka’bah. Pemboikotan terhadap Nabi berlangsung selama tiga tahun–riwayat lain menyebut dua tahun.
 
Peristiwa ini terjadi pada tahun ketujuh kenabian, di mana istri Nabi, Sayyidah Khadijah, dan paman Nabi, Abu Thalib, masih hidup. Keduanya–yang dikenal sebagai pelindung Nabi dari gangguan kaum musyrik-juga ikut terboikot dan tidak dapat berbuat banyak. Meski demikian, Sayyidah Khadijah memiliki peran penting selama masa pemboikotan.
 
Sayyidah Khadijah telah terdidik dalam keluarga yang terhormat dan serba kecukupan. Keluargnya, Bani Asad, mengetahui kalau rasa lapar akibat pemboikotan kaum kafir Quraisy akan menyakiti Sayyidah Khadijah. Oleh karena itu, mereka berinisiatif mengirimkan sejumlah makanan dan barang-barang yang dibutuhkan lainnya untuk Sayyidah Khadijah. Barang-barang tersebut dikirim seorang budak dengan menggunakan unta pada malam hari, ketika kaum Quraisy sudah terlelap. Sayyidah Khadijah tidak memanfaatkan barang-barang itu sendirian, karena ia membaginya kepada mereka yang lebih membutuhkan. 
 
Merujuk buku Khadijah Ummahatul Mukminin (Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, 2014), Sayyidah Khadijah –meski tidak secara langsung- juga berperan penting dalam peristiwa penyobekan kertas piagam pemboikotan. Karena dia pula, paku pertama dalam penghancuran piagam pemboikotan diletakkan.
 
Ketika itu, saudara laki-laki Sayyidah Khadijah, Hakim bin Hizam, bersama seorang budak membawa gandum untuk diberikan kepada Sayyidah Khadijah. Di tengah jalan, dia dihadang Abu Jahal. Setelah terjadi ketegangan di antara keduanya, Hakim dibiarkan pergi dengan membawa makanan untuk Sayyidah Khadijah. Abu Bakhtari bin Hisyam yang saat itu juga ada di lokasi kemudian mengambil tongkat pemukul unta dan memukulkannya kepada Abu Jahal.
 
Semenjak itu, kaum berpikir untuk membatalkan pemboikotan yang dzalim tersebut. Masih menurut keterangan dalam buku yang sama, kejadian itu merupakan sebab dibatalkannya pemboikotan dan blokade kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad dan keluarganya. 
 
Memang, setelah Hakim bin Hizam mengirimkan makanan untuk Sayyidah Khadijah dan Abu Jahal dipukul, banyak orang melakukan hal yang sama, diantaranya Hisyam bin Akhi Nahdlah. Tidak hanya itu, peristiwa itu juga membuat perempuan-perempuan Quraisy membicarakan hal itu dan mencela mereka yang tidak mengirim makanan untuk Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang diboikot. 
 
Hisyam kemudian menggalang kekuatan dengan memprovokasi beberapa orang untuk membatalkan piagam pemboikotan tersebut. Semula dia mendatangi Zuhair bin Umayyah dan ibunya Atikah binti Abdul Muthalib. 
 
"Wahai Zuhair, apakah engkau ridha kita memakan makanan, memakai baju, menikahi perempuan, sedangkan para pamanmu seperti yang engkau ketahui, tidak boleh menjual atau membeli dari mereka, tidak boleh menikahi ataupun menikahkan seseorang dengan mereka," kata Hisyam. Zuhair menjadi semangat setelah mendengar perkataan Hisyam tersebut. Ia kemudian meminta Hisyam untuk mencari orang lainnya. 
 
Maka Hisyam mendatangi al-Mut’im bin Adi, Abul Bakhtari, dan Zam’ah bin al-Aswad. Kepada mereka, Hisyam mengatakan hal yang sama seperti yang disampaikan kepada Zuhair. Mereka menerima ajakan Hisyam untuk membatalkan pemboikotan terhadap Nabi dan keluarganya. Untuk mematangkan rencana dan strategi pembatalan pemboikotan, pada malam hari mereka berkumpul di puncak Gunung Hajun untuk bermusyawarah. Hasilnya, mereka siap melakukan apapun untuk membatalkan pemboikotan tersebut.
 
Keesokan harinya, Zuhair yang memakai baju terbaiknya melaksanakan thawaf di area Ka’bah. Di hadapan banyak orang, ia ‘memprovokasi’ penduduk Makkah perihal kondisi Nabi Muhammad dan keluarga besarnya yang begitu menderita. Ia juga mengancam tidak akan duduk sampai kertas pemboikotan yang menempel di dinding Ka’bah disobek. 
 
Abu Jahal yang ketika itu berada di baitullah menyatakan tidak akan menuruti permintaan Zuhair. Namun ucapan Abu Jahal langsung ditimpali Zam’ah, Abu Bakhtari, dan Mut’im. Mereka menegaskan, tidak setuju dan tidak ridha ketika isi perjanjian pemboikotan itu ditulis. Mut’im bin Adi langsung menuju kertas penjanjian pemboikotan untuk menyobeknya. Namun, kertas tersebut telah dimakan rayap, kecuali tulisan ‘Dengan menyebut nama-Mu ya Allah.’
 
Dengan demikian, berakhirlah masa pemboikotan dan blokade kaum musyrik Quraisy terhadap Nabi Muhammad dan keluar besarnya. Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah yang saat itu sedang sakit kemudian keluar dari lembah Bani Hasyim dan menuju ke rumahnya untuk memulai kehidupan yang baru. 
 
Pewarta: Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Share:

Baca Juga

Rabu 4 September 2019 14:0 WIB
Saat Nabi Muhammad Diserang Tukang Sihir, Labid bin Al-Asham
Saat Nabi Muhammad Diserang Tukang Sihir, Labid bin Al-Asham
Ilustrasi: NU Online
“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dan istrinya,” (Surat Al-Baqarah ayat 102).

Firman Allah di atas menjadi salah satu dalil bahwa sihir itu benar-benar ada dan nyata, sama seperti perkara ghaib lainnya. Sebagaimana diketahui, sihir adalah upaya yang dilakukan manusia dengan meminta pertolongan kepada setan untuk mencelakai orang lain. Ayat di atas mencontohkan bahwa sihir bisa membuat sepasang suami-istri bercerai.

Praktik sihir sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Kebencian dan sakit hati biasanya menjadi alasan mengapa seseorang mengirim sihir. Metode yang dipakai tukang sihir untuk mencelakai korbannya begitu bervariasi; ada yang menggunakan rambut calon korban, baju, gambar, dan lainnya. Sihir bisa menyasar siapa saja, termasuk Nabi Muhammad.

Seperti diriwayatkan Asy-Syaikhan dalam Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad pernah disihir oleh Labid Al-Asham. Dikisahkan, suatu ketika Nabi Muhammad pernah membayangkan telah melakukan sesuatu (berhalusinasi mendatangi istrinya satu per satu), namun ternyata beliau tidak melakukannya. Kepada Sayyidah Aisyah, Nabi Muhammad mengatakan bahwa Allah telah memberikan jawaban atas pertanyaan yang pernah beliau ajukan. Jawaban tersebut disampaikan oleh dua malaikat.

“Aku kedatangan dua laki-laki, salah seorang duduk di sisi kepalaku, seorang lainnya duduk di sisi kakiku,” kata Nabi Muhammad kepada Aisyah.

Salah seorang malaikat yang berwujud laki-laki tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad tengah terkena sihir. Labid bin Al-Asham adalah pelakunya. Kata malaikat tersebut, Labid menyihir dengan menggunakan sisir dan rambut Nabi Muhammad serta kulit mayang kurma jantan. Sihir Labid ditempatkan di bawah batu di dalam sumur Dzarwan.

Maka keesokan harinya, Nabi Muhammad memerintahkan Ammar bin Yasir dan beberapa sahabatnya untuk mendatangi sumur Dzarwan. Mereka mendapati bahwa air dalam sumur Dzarwan berwarna merah kecokelatan seperti air perasaan daun pacar sementara kepala mayangnya seperti kepala setan. Satu riwayat menyebutkan bahwa gulungan sihir tersebut dibiarkan di dalam sumur. Nabi Muhammad tidak meminta untuk mengangkatnya karena Allah telah menyembuhkannya. Beliau juga tidak suka menyebar keburukan kepada orang banyak. Nabi kemudian meminta agar sumur Dzarwan ditutup.

Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa gulungan sihir tersebut diangkat dari dalam sumur. Setelah dibakar, buhul tersebut memperlihatkan tali dengan 11 simpul yang susah untuk dibuka. Pada saat itu, turun wahyu Surat Al-Falaq dan An-Nas (muawwidzatain) kepada Nabi Muhammad. Setiap Nabi Muhammad membaca dua surat itu, maka terbukalah satu simpul tali itu dan demikian seterusnya hingga sebelas kali.

Sejak saat itu, sebelum tidur, Nabi Muhammad selalu membaca muawidzatain (Al-Falaq dan An-Nas)–ada yang menyebut Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas–sebelum beliau tidur. Tidak lain, ini adalah untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti sihir. Kalau seandainya beliau sakit parah, maka Sayyidah Aisyah yang membacakan surat-surat tersebut dan mengusapkan tangannya pada tubuh Nabi Muhammad.

Said Ramadhan Al-Buthy dalam The Great Episodes of Muhammad SAW (2017) mengatakan bahwa sihir yang menimpa Nabi Muhammad hanya berpengaruh pada jasad bagian luarnya saja. Artinya, sihir tersebut tidak sampai ‘menyerang’ hati, akal, dan keimanannya. Nabi memang maksum, namun kemaksumannya bukan berarti beliau terbebas dari berbagai macam penyakit dan berbagai faktor manusiawi lainnya.

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad menderita ketika terkena sihir tersebut, layaknya manusia lain kalau terkena. Ketika seseorang mengalami sakit keras, maka wajar kalau dia diliputi khayalan atau bayangan akibat dari sakit yang dideritanya itu. Begitu pun dengan Nabi, beliau membayangkan telah melakukan sesuatu tapi nyatanya tidak.

Al-Buthy menegaskan bahwa Nabi Muhammad terkena sihir tersebut bukan aib atau kekurangan pada dirinya. Sekali lagi, Nabi Muhammad maksum (terjaga dari kesalahan dan kekurangan dalam menyampaikan syariat Allah). Namun kemaksumannya itu ‘tidak berlaku’ dalam hal-hal keduniawian seperti sakit, lapar, haus, dan lainnya.

“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah,” (Surat Al-Baqarah ayat 102). (Muchlishon Rochmat)
Selasa 3 September 2019 18:30 WIB
Kisah Islamnya Sahabat Adi bin Hatim
Kisah Islamnya Sahabat Adi bin Hatim
Ilustrasi (ist)
Para sahabat memiliki kisah yang berbeda dalam hal memeluk Islam. Ada sahabat yang langsung memeluk Islam setelah menerima ajakan dari Nabi Muhammad seperti Abu Bakar as-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib. Ada yang masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an seperti Umar bin Khattab. Ada juga yang mengucapkan dua kalimat syahadat setelah berinteraksi langsung hingga membuatnya terkesan dengan Nabi Muhammad seperti Adi bin Hatim.

Adi bin Hatim adalah anak al-Jawwad. Dia adalah penguasa Suku at-Tha’i yang dikenal pemurah. Adi adalah salah seorang yang membenci dakwah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad. Oleh karenanya, ketika dakwah Islam menyebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Adi bin Hatim meninggalkan kaumnya dan hijrah ke negeri Syam. Semula, ia tetap mempertahankan agama nenek moyangnya dan tidak rela menjadi pengikut Nabi Muhammad.

“Aku benci kedudukan di sana, melebih kebencianku terhadap Muhammad. Seandainya aku menemuinya, jika dia seorang raja atau pendusta, itu akan membuatku takut. Namun, jika dia berkata benar, aku akan mengikutinya,” kata Adi bin Hatim, dikutip dari buku The Great Episodes of Muhammad SAW (Said Ramadhan al-Buthy, 2017).

Dari ucapannya tersebut, kebencian Adi bin Hatim kepada Nabi tidak membuatnya kalap dan menutup mata hatinya. Nyatanya, di akhir perkataannya dia menegaskan bahwa dirinya akan masuk Islam jika ajaran yang dibawa Nabi benar. Tidak hanya mengaku-ngaku menjadi Nabi saja. 

Hingga suatu ketika, Adi bin Hatim ingin bertemu dengan Nabi Muhammad dan pergi ke Madinah. Ia ingin memastikan kebenaran Nabi Muhammad secara langsung. Sesampai di Masjid Nabawi, Adi menyampaikan salam dan kemudian dijawab Nabi. Dia langsung memperkenalkan diri setelah Nabi Muhammad bertanya perihal identitasnya.

Nabi lalu mengajak Adi pergi ke rumahnya, yang notabennya hanya beberapa jengkal saja dari Masjid Nabawi. Di tengah jalan, ada seorang wanita tua yang meminta Nabi Muhammad berhenti. Nabi pun berhenti beberapa saat. Wanita tua tersebut langsung menyampaikan beberapa kebutuhannya kepada Nabi. Melihat kejadian itu, Adi bin Hatim merasa terheran-heran. Dia membatin, bagaimana mungkin seorang raja berperilaku seperti itu. Tidak ada jarak dengan rakyat jelata.

Keheranan Adi bin Hatim berlanjut. Saat sampai di rumah Nabi, ia diberikan bantal sebagai tempat duduk, sementara Nabi duduk di tanah tanpa bantal karena memang bantalnya cuma satu. Bagi Nabi, Adi bin Hatim yang merupakan tamunya adalah yang utama. Lagi-lagi Adi bin Hatim membatin, apa yang dilakukan Nabi tersebut bukanlah kebiasaan para raja. 

Adi adalah seorang elit di kaumnya. Ia mengira akan mendapatkan sesuatu yang berharga di kediaman Nabi Muhammad. Namun, perkiraannya tersebut meleset. Apa yang didapatinya begitu berbeda dengan apa yang dibayangkannya. Dan Nabi Muhammad bukanlah seperti ‘raja’ yang diduganya. Karena memang kebiasaan raja-raja adalah gila harta dan gila penghormatan.

Setelah itu, terjadi tanya-jawab antara Nabi Muhammad dan Adi bin Hatim. Adi bin Hatim menjawab tidak tahu ketika Nabi menanyakan perihal tuhan selain Allah dan tuhan yang lebih besar dari pada Allah. 

Nabi lalu bertanya perihal agama yang dianut Adi bin Hatim, Rukusiya –agama perpaduan antara Nasrani dan Shabiiyyah, praktik mirba di kaumnya –praktik jahiliyah dimana seorang pemimpin berhak mendapatkan seperempat harta ghanimah. Adi bin Hatim membenarkan semua perkataan Nabi Muhammad itu.

Nabi Muhammad kemudian menyampaikan tiga hal yang menghalangi Adi bin Hatim masuk Islam. Pertama, penganut ajaran Islam saat itu miskin-miskin. Nabi meyakinkan bahwa tidak lama lagi umat Islam akan memiliki harta yang berlimpah ruah sehingga tidak ada seorang pun yang miskin. Perkataan Nabi ini terbukti pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis, dimana saat itu tidak ada seorang pun yang berhak menerima zakat karena umat Islam sudah sejahtera. 
 
Kedua, jumlah umat Islam sedikit, sementara musuhnya lebih banyak. Terkait hal ini, Nabi Muhammad juga meyakinkan kepada Adi bin Hatim bahwa sebentar lagi akan ada berita mengenai seorang wanita yang berangkat dengan mengendarai unta dari Qadisiyyah ke Baitullah Makkah tanpa rasa takut. Lag-lagi apa yang dikatakan Nabi ini menjadi kenyataan. Ketika umat Islam menguasai wilayah tersebut, maka seseorang bisa bepergian dengan aman karena tidak ada lagi penyamun.

“(Ketiga) yang menglangimu masuk agama ini adalah engkau menyaksikan bahwa raja dan penguasa bukanlah dari kalangan mereka. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar berita mengenai istana-istana putih dari Babilonia yang kutaklukkan,” kata Nabi. Sesaat setelah itu Adi bin Hatim mengikrarkan diri memeluk Islam.
 
Penulis: Muchlishon Rochmat
Editor: Fathoni Ahmad
Rabu 28 Agustus 2019 20:0 WIB
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian II-Habis)
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian II-Habis)
Foto: NU Online
Perang ekonomi yang dijalankan kaum Muslim juga menyasar kaum Yahudi. Ketika itu, kaum Yahudi menguasai sektor bisnis dan industri di Madinah. Sebagai penguasa ekonomi di Madinah, kaum Yahudi tidak segan-segan menjebak masyarakat dengan utang yang berbunga tinggi. Di samping itu, kaum Yahudi juga selalu memantik api perselisihan antara Suku Aus dan Suku Khazraj.

Maka ketika tiba di Madinah, Nabi Muhammad kemudian mendirikan pasar. Beliau mengajari tata krama di pasar, mendorong para sahabatnya untuk berbisnis, dan mencari rezeki yang halal. Mengetahui hal itu, kaum Yahudi Madinah gusar. Terlebih, kaum Muslim berhasil menumbangkan perekonomian kaum Yahudi di Kota Madinah.

Kaum Yahudi semakin tidak terima. Mereka menilai, Nabi Muhammad dan kaum Muslim telah menghancurkan bisnis yang selama ini mereka geluti. Dari perang ekonomi tersebut, maka terjadi lah perang-perang terbuka antara kaum Muslim dan kaum Yahudi Madinah. Baik dalam perang ekonomi maupun perang terbuka, kaum Yahudi selalu terpuruk dan tidak pernah merasakan manisnya kemenangan.

Terkait dengan perang ekonomi, ada sebuah kisah menarik tentang bagaimana Nabi Muhammad merespons kekejaman dan perlakuan jahat kaum musyrik Makkah dengan kasih sayang. Dikisahkan, suatu ketika pemimpin Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal, dicaci maki dan dinista oleh kaum Quraisy Makkah setelah ia memeluk Islam.

Tidak terima diperlakukan seperti itu, Tsumamah–yang  ketika itu hendak menjalankan umrah ke Makkah–kemudian mencegat pengiriman gandum Yamamah ke Makkah. Hal itu membuat kaum Quraisy Makkah menderita. Mereka tidak memiliki persediaan bahan makanan untuk dimakan. Mereka kemudian memakan ilhis (makanan yang terbuat dari campuran darah  dan bulu unta, atau tumbuhan semacam papirus) untuk sekadar bertahan hidup. Lama-lama, kaum musyrik Makkah tidak tahan dengan kondisinya dan menulis surat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Kau menyerukan silaturahmi, tapi kau sendiri yang memutus sendiri silaturahmi dengan kami. Kau telah membunuh ayah-ayah kami dengan pedang dan anak-anak kami dengan kelaparan,” demikian bunyi surat kaum musyrik Makkah kepada Nabi Muhammad, seperti tertera dalam buku Perang Muhammad SAW, Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah (Nizar Abazhah, 2014).

Setelah menerima surat itu, Nabi Muhammad SAW langsung mengirim surat kepada Tsumamah agar tidak lagi mengganggu pengiriman bahan makanan ke Makkah. Tsumamah mematuhi perintah Nabi  dan tidak lama kemudian turunlah wahyu Surat Al-Mukminun ayat 76: “Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya, dan (juga) tidak merendahkan diri.”

Begitu pun ketika Nabi Muhammad tiba di Makkah dalam Fathu Makkah. Rasulullah SAW memberikan kurma ajwa kepada Abu Sufyan, salah satu elit kaum musyrik Makkah yang memusuhinya–sebelum ia masuk Islam. Beliau juga membagi-bagikan 500 dinar kepada fakir miskin Makkah.

Demikian sikap agung Nabi Muhammad. Beliau tetap lembut dan penuh kasih sayang kepada musuh-musuhnya, baik dalam perang ekonomi maupun perang fisik terbuka. Tentu saja, Nabi Muhammad sangat bisa kalau seandainya ingin balas dendam kepada kaum musyrik Makkah, mengingat dirinya dan keluarganya pernah diboikot dan diblokade ekonominya selama tiga tahun. Namun, Nabi memilih untuk tidak melakukannya. Rasulullah SAW malah membalas mereka yang pernah menyakitinya dengan kebaikan dan penghormatan. (Muchlishon Rochmat)