IMG-LOGO
Trending Now:
Tafsir

Kajian Tematik Milkul Yamin dalam Al-Qur’an

Kamis 5 September 2019 16:15 WIB
Share:
Kajian Tematik Milkul Yamin dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: via sm3ny.com
Milkul Yamin berasal dari gabungan dua kosakata arab, yaitu milkun yang menurut arti leksikalnya berarti milik atau penguasaan dan yamiinun yang berarti tangan kanan, sayap kanan, atau sumpah.

Dua kosakata ini digabung menjadi satu dalam tarkib idlafy, menjadi milkul yamin, yang dari sisi gramatikalnya menjadi bermakna “miliknya tangan kanan”. Dalam ilmu fiqih, konsep ini lahir dari bunyi nash: ما ملكت أيمانكم yang bermakna “sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanan kalian.”

Di dalam Al-Qur’an, ayat yang menggunakan term ما ملكت أيمانكم terdiri atas 13 ayat. Rincian dari ayat tersebut adalah Surat An-Nisa’ ayat 3, 24, 25, dan 36, Surat An-Nahl ayat 71, Surat Al-Mukminun ayat 6, Surat An-Nur ayat 31 dan 33, Surat Ar-Rum ayat 28, Surat Al-Ahzab ayat 50, 52, dan 55, dan Surat Al-Ma’arij ayat 30.

Jika dari ayat-ayat ini diurutkan berdasarkan yang terlebih dulu turun hingga yang paling akhir serta dikelompokkan menurut Makkiyah atau Madaniyahnya surat, maka akan nampak sebagai berikut:

1. Surat An-Nisa’ ayat 3 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah bagi laki-laki beriman agar berlaku adil terhadap hak-hak anak perempuan yatim yang disambung dengan perintah menikahi perempuan lain yang disenangi, 2, 3 atau 4. Jika takut tidak bisa berbuat adil, maka dianjurkan menikahi 1 orang perempuan saja, atau perempuan milkul yamin yang dimiliki. Milkul yamin dihalalkan bagi laki-laki beriman meski tanpa nikah.

2. Surat Al-Mukminun ayat 6 (Makkiyah). Ayat ini mengandung perintah menjaga kemaluan dan membolehkan penyalurannya hanya kepada istri atau perempuan milkul yamiin yang dimilikinya.

3. Surat An-Nisa’ ayat 24 (Madaniyah). Ayat ini mengandung keharaman menikahi perempuan muhshanah (perempuan yang masih menjadi istri orang lain) dan dibolehkan menikahi perempuan milkul yamin yang dimiliki. Ada catatan bahwa kehalalan perempuan hanya bisa didapat dengan jalan menikahinya.

4. Surat An-Nisa’ ayat 25 (Madaniyah). Bagi laki-laki yang tidak punya biaya untuk menikahi perempuan merdeka, maka dihalalkan menikahi perempuan beriman dari golongan perempuan milkul yamin yang dimilikinya.

5. Surat Ar-Rum ayat 28 (Makkiyah). Perumpamaan bagi orang yang beriman agar tidak menyekutukan Allah SWT. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Menguasai sekalian alam. Tindakan menyekutukan Allah itu ibarat Sayyid yang berbagi harta dengan perempuan milkul yamin yang dimilikinya tanpa ikatan pernikahan. Sudah pasti Si Sayyid tidak terima. Demikian Allah SWT bila disekutukan dengan selain-Nya, Allah SWT tidak akan terima.

6. Surat Al-Ma’arij ayat 30 (Makkiyah). Ayat mengulangi berbicara tentang penjagaan farji dari menunaikan kebutuhan pada yang bukan haknya. Penyaluran kebutuhan biologis hanya diperbolehkan kepada istri dan perempuan milku al-yamin yang dimilikinya.

7. Surat An-Nur ayat 31 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah agar menahan pandangan bagi perempuan beriman, tidak menampakkan perhiasannya dan auratnya, kecuali kepada suami dan mahramnya atau kepada milkul yamin yang dimilikinya, atau pelayan tua yang sudah tidak memiliki hasrat ke perempuan.

8. Surat An-Nur ayat 33 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah bagi orang yang tidak mampu menikah agar tetap menjaga kesuciannya sampai Allah SWT memberi kemampuan dan karunia bisa menikah. Anjuran bila seorang milkul yamiin mengajukan akad kitabah (perjanjian kebebasan dengan jalan menebus dirinya sendiri), maka diperintahkan untuk menerimanya bila hal itu ada kebaikan bagi dirinya. Ayat juga menunjukkan makna larangan memerintahkan budak yang dimiliki agar melakukan pelacuran. Ada penyandingan terminologi milku al-yamiin dengan fatayat yang keduanya bermakna budak perempuan.

9. Surat An-Nisa’ ayat 36 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, berbuat baik ke orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan milkul yamin.

10. Surat Al-Ahzab ayat 50 (Madaniyah). Ayat bercerita tentang keistimewaan Allah yang dikaruniakan kepada Baginda Nabi. Perempuan yang halal bagi laki-laki muslim adalah istri-istri mereka, milku al-yamin yang dimiliki dan beberapa pihak yang disebutkan dalam ayat.

11. Surat Al-Ahzab ayat 52 (Madaniyah). Ayat memberikan penegasan kembali dari ayat 50 pada surat yang sama, termasuk di dalamnya adalah milkul yamin.

12. Surat Al-Ahzab ayat 55 (Madaniyah). Bagi perempuan beriman, boleh menemui orang yang menjadi mahramnya dengan tanpa adanya tabir penghalang termasuk terhadap milkul yamin yang dimilikinya.

13. Surat An-Nahl ayat 71 (Makkiyah). Ayat ini bercerita tentang rezeki yang sudah dikaruniakan oleh Allah SWT hendaknya disyukuri dengan cara bersedekah, yang salah satunya adalah kepada milkul yamin.

Ada 4 ayat masuk dalam kelompok surat Makkiyah, dan sisanya sebanyak 9 ayat masuk dalam kelompok surat Madaniyah.

Hubungan Makna Antarayat
Pada Surat An-Nisa’ ayat 3, Allah menegaskan bahwa jika seseorang tidak dapat berlaku adil atau tidak dapat menahan diri dari memakan harta anak yatim bila dia menikahinya, maka orang mukmin diperintahkan untuk tidak menikahinya. Tidak boleh menikah dengan tujuan menghabiskan harta anak yatim. Termasuk yang dihalalkan bagi seorang mukmin adalah menikahi perempuan merdeka lain sebanyak 2, 3 atau 4 dan perempuan milkul yamin.

Dalam hal milkul yamin ini, At-Thabary menukil dari As-Saddy bahwa ia adalah as-sarary (perempuan budak hasil tawanan perang). Al-Qurthuby condong kepada makna al-ima’ (ummul walad), yaitu budak perempuan yang melahirkan anaknya sayyid. Secara jelas, Al-Qurthuby juga menyebut bahwa milkul yamin tidak selalu berupa perempuan tawanan perang. Ia menjelaskan:

 إلا أن ملك اليمين في العدل قائم بوجوب حسن الملكة والرفق بالرقيق . وأسند تعالى الملك إلى اليمين إذ هي صفة مدح ، واليمين مخصوصة بالمحاسن لتمكنها

Artinya, “Ketahuilah, sungguh milkul yamin dalam hal keadilan adalah berdiri menempati derajat wajibnya membagusi kepemilikan dan bersikap lemah lembut terhadap raqiq (budak). Allah SWT menyandarkan al-milku (milik) kepada al-yamin (kanan) adalah karena dimaksudkan sebagai pujian. “Kanan” merupakan sifat khusus yang diberikan guna memuliakan sesuatu menurut kadar kemampuan pujian itu diberikan,” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, bisa dirujuk di sini: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura4-aya3.html#qortobi).

Jika ayat ini merupakan ayat pertama yang diturunkan, maka seterusnya, sampai dengan ayat yang berbicara tentang milkul yamin ini terakhir diturunkan, maka makna sudah pasti merujuk ke pengertian pertama.

Walhasil, pengertian itu ada dua menurut dua konsep tafsir ini, yaitu berpengertian as-sarary (budak perempuan tawanan perang) atau budak secara umum yang menjadi ummul walad dari sayyid. Wallahu a‘lam bis shawab.
 

Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.
Share:

Baca Juga

Rabu 4 September 2019 16:15 WIB
Pendapat Ulama Tafsir atas Konsep Milkul Yamin dan Hukum Onani
Pendapat Ulama Tafsir atas Konsep Milkul Yamin dan Hukum Onani
Ilustrasi: ss.lv
Allah SWT berfirman:

فمن ابتغي وراء ذلك فأولئك هم العادون

Artinya, “Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas,” (Surat Al-Mu’minun ayat 7).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, menjelaskan sembari menukil sebuah hadits riwayat tafsir dari Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasai dari jalur sanad Umar ibn Khathab radliyallahu ‘anhu, bahwa saat ayat ini diturunkan, Nabi SAW seolah mendengar bunyi seperti suara lebah. Nabi sempat tertegun sesaat, lalu menghadap kiblat sembari mengangkat kedua tangan seraya berdoa: 

اللهم زدنا ولا تنقصنا، وأكرمنا ولا تهنا، وأعطنا ولا تحرمنا، وآثرنا ولا تؤثر علينا، وارض علينا وأرضِنا

Artinya: “Ya Allah, berikanlah tambahan kepada Kami dan janganlah Tuan menguranginya! Berikan kemuliaan kepada kami dan jangan Engkau hinakan! Berikanlah (kemurahan) kepada Kami dan jangan Engkau haramkan! Berikanlah kami kesenangan dan bukan sesuatu yang menyedihkan! Berikan keridlaan-Mu atas kami dan tanah-tanah kami!” (Ibnu Katsir: Tafsir Ibnu Katsir, bisa dirujuk di sini: https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Setelah berdoa, lalu Nabi SAW bersabda:

لقد أنزل عليَّ عشر آيات من أقامهن دخل الجنة ثم قرأ { قد أفلح المؤمنون} حتى ختم العشر

Artinya, “’Telah turun kepadaku 10 ayat. Barang siapa melaksanakannya, maka dijamin surga.’ Lalu beliau membaca قد أفلح المؤمنون hingga sempurna 10 ayat,” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasai).

Ayat yang hendak kita bahas menduduki ayat yang ketujuh. Dengan demikian, bila melakukan penafsiran terhadap ayat ini, maka tidak boleh meninggalkan keberadaan 6 ayat sebelumnya, dan 3 ayat sesudahnya. Ketidakbolehan ini berpedoman pada hadits riwayat tafsir oleh An-Nasai dari Siti Aisyah radliyallahu ‘anha. Suatu ketika Ummul Mukminin Siti Aisyah ditanya:

كيف كان خلق رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم ؟ قالت: كان خلق رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم القرآن، فقرأت: { قد أفلح المؤمنون - حتى انتهت إلى - والذين هم على صلواتهم يحافظون} قالت: هكذا كان خلق رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم

Artinya, “Bagaimana akhlak Rasulullah SAW (sehari-hari)?’ Aisyah menjawab, ‘Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an.’ Lalu ia membaca : قد أفلح المؤمنون sampai ayat والذين هم على صلواتهم يحافطون. Demikianlah akhlak Rasulullah SAW,” (HR An-Nasai, dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir).

Ada sekian banyak hadits yang dinukil oleh Ibnu Katsir sesuai dengan corak aliran tafsirnya, yaitu tafsir bir riwâyah, atau biasa disebut juga dengan istilah tafsir bil ma’tsûr. Pembaca bisa merujuk sendiri ke kitab tafsir untuk menemukan uraiannya. Lalu, ketika sampai pada pembahasan Surat Al-Mu’minun ayat 7 di atas, beliau menautkan bahasannya dengan 2 ayat sebelumnya yaitu ayat 5 dan 6 dari surat yang sama. Tulisnya:

وقوله: { والذين هم لفروجهم حافظون * إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين * فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون}

Artinya, “Orang yang terhadap farjinya, mereka mau menjaga (5). Kecuali atas istri-istri mereka atau sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanannya. Maka sesungguhnya mereka tiada tercela (6). Maka barang siapa yang mencari sesuatu kebalikannya, maka mereka termasuk orang yang melampaui batas (7). (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Maksud dari ayat ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut:

أي والذين قد حفظوا فروجهم من الحرام فلا يقعون فيما نهاهم اللّه عنه من زنا ولواط، لا يقربون سوى أزواجهم التي أحلها اللّه لهم، أو ما ملكت أيمانهم من السراري، ومن تعاطى ما أحله اللّه له فلا لوم عليه ولا حرج

Artinya, “Orang-orang yang senantiasa menjaga farjinya dari perkara yang diharamkan sehingga tidak melakukan hal yang dilarang oleh Allah atas mereka, berupa zina dan sodomi (liwath), serta tidak berusaha mendekati perbuatan-perbuatan itu (zina dan sejenisnya) selain kepada istri-istri mereka yang telah dihalalkan oleh Allah untuk mereka, atau terhadap sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanan mereka, seperti terhadap perempuan budak tawanan (sarary), dan orang yang nekat melakukan apa yang dihalalkan oleh Allah terhadapnya, maka tiada cela atas diri mereka dan tiada dosa,” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini seolah menjelaskan bahwa hak penyaluran hak farji orang yang beriman dan diperbolehkan oleh syariat, adalah hanya melalui tiga cara, yaitu:

1.    Terhadap istri.
2.    Terhadap sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanan mereka (ما ملكت أيمانهم). Yang masuk dalam kelompok ini adalah perempuan sarary (budak tawanan perang).
3.    Sesuatu dengan cara lain yang dihalalkan oleh Allah.

Penjelasan lebih lanjut disampaikan oleh Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud dengan ما ملكت أيمانهم adalah الإماء (perempuan amat / budak perempuan). Hal ini tercermin ketika menyebut dlamir ‘aid (kata ganti rujukan) dari isim isyarah ذلك dari ayat فمن ابتغي وراء ذلك, adalah kembali pada الأزواج والإماء (istri dan hamba sahaya).

Dengan demikian, kaitannya dengan upaya menjaga farji, maka penyaluran yang diperbolehkan oleh syariat hanyalah dengan jalan jima’ dengan dua obyek di atas, yaitu istri dan perempuan amat yang merupakan representasi dari ما ملكت أيمانهم. Bentuk penyaluran selain kepada keduanya, maka termasuk melanggar batas ketentuan yang diperbolehkan syariat. 

Menurut Ibnu Katsir, berangkat dari bunyi literal ayat ما ملكت أيمانهم ini, Imam Syafi‘i rahimahullah melakukan istidlal (pengambilan dalil), bahwa hukum istimna’ dengan tangan (onani) adalah haram. 

Pertanyaan yang sering disampaikan adalah: bagaimana bila istimna’ dengan tangan itu dilakukan oleh pasangannya atau hamba sahaya (sarâry)? Syekh Jalaluddin As-Suyuthy dalam Tafsir Jalalain menjelaskan:

من الزوجات والسراري كالاستمناء باليد في إتيانهنَّ 

Artinya, “[Barang siapa mencari cara lain selain daripada yang telah disebutkan] seperti terhadap istri dan budak perempuan tawanan, seperti istimna’ dengan tangan saat menjimaknya,....” (Jalaluddin As-Suyuthy, Tafsir Jalalain, bisa disimak di sini: https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Berdasar teks ini, As-Suyuthy jelas menyebut bahwa istimna’ bil yad saat menjimak istri termasuk bagian dari perbuatan yang dicontohkan sebagai sesuatu yang tidak diperbolehkan (karena melampaui batas ketetapan syara’). Ada titik persamaan antara Ibnu Katsir dan As-Suyuthy dalam hal ini, yaitu bahwa yang dimaksud dengan ما ملكت أيمانهم adalah as-sarary (perempuan budak tawanan perang).

At-Thabary dalam Kitab Tafsirnya juga menyebut istilah khusus yaitu ملك يمين ketika menafsirkan Q.S. Al-Mukminun ayat 7 di atas. Ia menjelaskan:

فَمَنِ الْتَمَسَ لِفَرْجِهِ مَنْكِحًا سِوَى زَوْجَته وَمِلْك يَمِينه , { فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ } يَقُول : فَهُمُ الْعَادُونَ حُدُود اللَّه , الْمُجَاوِزُونَ مَا أَحَلَّ اللَّه لَهُمْ إِلَى مَا حَرَّمَ عَلَيْهِمْ

Artinya, “Barang siapa menunaikan hak untuk farjinya dengan jalan menikahi selain daripada istri dan milk yamin-nya, maka mereka itu termasuk orang yang melampaui batas. Mafhum dari العادون di sini adalah batas-batas ketentuan Allah. Mereka adalah orang yang melampaui batas terhadap apa yang dihalalkan oleh Allah untuknya dengan memilih apa yang diharamkan atasnya.” (At-Thabary, Tafsir At-Thabary, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

At-Thabary hanya memberikan pengecualian terhadap dua hal yang diperbolehkan untuk menunaikan hak farji, yaitu kepada istri dan milkul yamin. Selain terhadap keduanya, At-Thabary menyebut pelakunya sebagai telah berzina berdasar beberapa atsar (qaul shahabat) riwayat tafsir. Konsekuensi dari pendapat At-Thabary ini adalah bahwa yang dimaksud dengan milkul yamiin adalah berlaku mutlak untuk menyebut istilah lain dari hamba sahaya (perempuan amat dan perempuan sarary). Jika perempuan amat adalah budak yang dimiliki dari hasil jual beli secara langsung, maka sarary adalah perempuan budak yang diperoleh dari hasil jabr (cara paksa) karena diperoleh dari jalur konfrontasi (perang).

Apakah ketentuan pada ayat ini, seperti berjimak dengan sarary juga berlaku untuk perempuan muslimah yang memiliki tawanan perang laki-laki? Dalam hal ini, Al-Qurthuby menyampaikan pendapatnya ketika memberikan ta’wil terhadap ayat إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم (kecuali atas istri-istri mereka atau sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanannya) sebagai berikut:

وإنما عرف حفظ المرأة فرجها من أدلة أخرى كآيات الإحصان عموما وخصوصا وغير ذلك من الأدلة. قلت : وعلى هذا التأويل في الآية فلا يحل لامرأة أن يطأها من تملكه إجماعا من العلماء؛ لأنها غير داخلة في الآية، ولكنها لو أعتقته بعد ملكها له جاز له أن يتزوجها كما يجوز لغيره عند الجمهور

Artinya, “Sungguh, telah diketahui bahwa kewajiban penjagaan perempuan atas farjinya adalah didasarkan pada beberapa dalil lain, seperti ayat-ayat yang berbicara ihshan (penjagaan farji karena pernikahan), baik berupa dalil umum maupun dalil khusus dan sejenisnya. Oleh karena itu, aku (al-Qurthuby) berpendpat: ‘bahwasannya takwil dari ayat ini adalah tidak halal bagi perempuan muslimah dijimak oleh budak yang dimilikinya, berdasar ijma’ ulama. Hal ini disebabkan bahwa perempuan adalah tidak masuk dalam bagian khithab dari ayat ini. Akan tetapi, jika ia memerdekan terlebih budak yang dikuasainya tersebut, maka boleh bagi laki-laki itu menikahinya sebagaimana hal itu berlaku bagi orang lain menikahinya. Demikian ini pendapat mayoritas ulama’.” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Secara tidak langsung, penjelasan Al-Qurthuby ini juga menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ملك اليمين adalah budak, dan bukan selainnya. Seandainya memuat pengertian selainnya, maka tidak ada ketentuan memerdekakan sebagaimana disebutkan dalam pendapat Al-Qurthuby di atas.

Pendapat Al-Qurthuby diperjelas dengan riwayat tafsir dari para mufassir yang lain, seperti An-Nakhai. An-Nakhai menjelaskan bahwa:

لو أعتقته حين ملكته كانا على نكاحهما

Artinya, “Jika ia memerdekannya terlebih dahulu budak yang dimilikinya, maka keduanya boleh menikah.”

Keterangan lain dinukil oleh Al-Qurthuby dari Abu Amir, disampaikan bahwa:

ولا يقل هذا أحد من فقهاء الأمصار؛ لأن تملكها عندهم يبطل النكاح بينهما، وليس ذلك بطلاق وإنا هو فسخ للنكاح؛ وأنها لو أعتقته بعد ملكها له لم يراجعها إلا بنكاح جديد ولو كانت في عدة منه

Artinya, “Lebih dari seorang, di antara para fuqaha amshar menyatakan pendapatnya tentang hal ini. Karena hal ini didasarkan bahwa kepemilikan seorang perempuan terhadap budak hukumnya adalah dapat membatalkan pernikahan di antara keduanya. Seandainya itu terjadi, pemisahan keduanya tidak disebabkan karena thalaq, melainkan sebab fasakh nikahnya. Jadi, andai perempuan itu memerdekakan budak itu setelah dimilikinya, maka tidak dibutuhkan kata ruju’, melainkan harus dengan nikah yang baru, meskipun hal itu terjadi di tengah masa ‘iddah perempuan tersebut karena fasakh nikah keduanya.” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Walhasil, uraian di sini sudah cukup menjelaskan bahwa di kalangan ahli tafsir terdahulu, seperti Ibnu Katsir, As-Suyuthy, At-Thabary, dan Al-Qurthuby, seluruhnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan milkul yamiin adalah budak. Dari keempat mufassir tersebut menyatakan sepakat menyebut budak dalam pengertian umum. Namun, dalam pengertian khusus, Ibnu Katsir, As-Suyuthy dan At-Thabary sepakat menunjuk kepada makna budak yang diperoleh akibat perang. Sementara itu menurut Al-Qurthuby, sejauh yang dirujuk oleh penulis berdasar keterangan di atas, ia secara eksplisit menegaskan bahwa milkul yamin itu adalah budak (dalam pengertian umum).

Keseluruhan penafsiran yang disampaikan oleh mufassir di atas, seolah menunjukkan kesesuaian dengan semangat dari 10 ayat pertama dari Al-Qur’an Surat Al-Mukminun. Apalagi, bila hal ini dinisbatkan pada akhlaq Rasulullah SAW berdasarkan hadits Aisyah radliyallahu ‘anha. Dengan demikian, keluar dari apa yang diteladankan oleh Nabi di atas, khususnya berkaitan dengan soal penjagaan farji, termasuk tindakan yang melampaui batas, sehingga bisa disebut zina. At-Thabary menggarisbawahi dengan riwayat Abu Abdurrahman radliyallahu ‘anhu:

مَنْ زَنَى فَهُوَ عَادٍ.

Artinya, “Siapa yang berzina, maka dia telah melampaui batas syariat.” (At-Thabary, Tafsir At-Thabary, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23). Wallahu a’lam bis shawab.
 
 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah - LBMNU PWNU Jawa Timur
Rabu 4 September 2019 15:45 WIB
Makna Hijrah dalam Tafsir Surat An-Nisa ayat 100
Makna Hijrah dalam Tafsir Surat An-Nisa ayat 100
Ilustrasi: islamrf.org
Allah SWT berfirman: 

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya, "Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyaayang," (Surat An-Nisâ ayat 100).

Hijrah dalam ayat di atas dimaknai oleh At-Thabary sebagai berikut:

ومن يُفارق أرضَ الشرك وأهلَها هربًا بدينه منها ومنهم، إلى أرض الإسلام وأهلها المؤمنين

Artinya: "Orang yang rela meninggalkan bumi syirik dan penduduknya guna lari menyelamatkan agamanya dan menjauhi agama mereka, menuju ke wilayah Islam dan penduduknya merupakan kaum beriman," (At-Thabary, Tafsir At-Thabary). 

Adapun yang dimaksud dengan سبيل الله dalam ayat tersebut adalah:

منهاج دين الله وطريقه الذي شرعه لخلقه، وذلك الدين القَيِّم

Artinya, "paradigma agamanya Allah dan jalan yang disyariatkan kepada makhluknya, dan demikian itu adalah agama yang lurus," (At-Thabary, Tafsir At-Thabary). 

Menurut At-Qurthuby, lafal ومن يهاجر في سبيل الله merupakan jumlah syarath. Sementara itu jawab syaratnya adalah في الأرض مراغما كثيرا. 

Para mufassir berbeda pendapat terkait dengan takwil dari مراغم ini. 
•    Ibnu Mujâhid memaknai مراغم sebagai المتزحزح yang berarti tersingkir, atau terasingkan, terjauhkan.
•    Ibnu Abbas, Al-Dhahâk dan Ar-Rabi' mena'wilkan sebagai: المراغم المتحول والمذهب (Al-Muragham adalah tempat pindah atau tempat yang dituju saat bepergian)
•    Ibnu Zaid dan Abu Ubaidah menakwilkan sebagai المهاجر (tempat hijrah)
•    An-Nuhâs berpendapat bahwa semua takwil di atas adalah benar dan bisa bertemu (sepakat) dari sisi maknanya.

Lebih jauh Al-Qurthuby menjelaskan bahwa bila al-murâgham ini dimaknai sebagai المتحول والمذهب, maka ia menunjuk pada makna suatu tempat untuk mengasingkan diri (menahan malu). Istilah pengasingan (menahan malu) ini lahir karena al-murâgham merupakan kata turunan dari الرغام. Kata ini menyimpan makna sebagaimana istilah yang umum dipakai dalam ujaran masyarakat Arab seperti: 

ورغم أنف فلان أي لصق بالتراب

Artinya, "Hidung Si Fulan berbalur debu."

Kalimat di atas ini merupakan kalimat yang dipakai untuk menyindir seseorang yang berupaya menahan malu karena suatu hal/perbuatan yang dianggap memalukan sehingga tidak dipedulikan. Misalnya ujaran berikut:

راغمت فلانا هجرته وعاديته ، ولم أبال إن رغم أنفه

Artinya, "Aku terpaksa menentang Si Fulan, aku jauhi dia, aku musuhi dia. Aku tidak peduli lagi meskipun ia menahan malu."

Jadi, dengan mengikuti pola penakwilan ini, maka seolah kalimat al-murâgham adalah bermakna suatu tempat di mana seseorang terpaksa mengasingkan diri dan terbuang dari kaumnya disebabkan prinsip yang berbeda. Ta’wil ini jika dirunutkan dengan sejarah sewaktu beliau Rasulullah SAW beserta sahabat beliau melakukan hijrah ke Madinah, situasi hati beliau digambarkan sebagai pihak yang terbuang dari kaumnya dan ada rasa malu  Bukti sejarah menyebut bahwa beliau suatu ketika pernah menyatakan kerinduan beliau dengan Makkah. Rasulullah kemudian bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban).

Kecintaan terhadap Makkah sangatlah besar dalam diri beliau. Sebagaimana ini terekam dalam doa beliau:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

Artinya, “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah,” (HR Al-Bukhari 7/161)

Namun karena diusir oleh kaumnya, maka beliau terpaksa melakukan hijrah. Unsur keterpaksaan itu sangat besar, maka dari itulah, dengan berbekal penafsiran ini, Madinah seolah digambarkan sebagai bumi Al-Murâgham, yaitu tempat mengasingkan diri dengan gambaran situasi yang penuh keterpaksaan demi agama Allah SWT.

Sebuah pendapat mengatakan bahwa:

إنما سمي مهاجرا ومراغما لأن الرجل كان إذا أسلم عادى قومه وهجرهم ، فسمي خروجه مراغما

Artinya, "Istilah itu disebut sebagai bumi tempat hijrah dan mengasingkan diri disebabkan karena sesungguhnya seorang laki-laki ketika memutuskan masuk Islam, maka serta merta kaumnya memusuhinya dan menjauhinya. Maka dari itu, keluarnya orang tersebut dari kaumnya disebut dengan istilah murâghaman (yang diasingkan)." (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby).

Semua bentuk penafsiran di atas, adalah termasuk tafsir bi al-ma'na, yaitu sebuah tafsir yang memberi penekanan pada aspek pencarian maknanya. Jika dilihat dari arah sifat khususnya dalil, maka seolah-olah dengan ayat ini digambarkan bahwa orang kafir Makkah saat itu terpaksa tidak memperdulikan lagi kaum muslimin disebabkan keislaman mereka, dan mereka menegakkan diri untuk mempermalukan kaum muslimin saat itu dengan jalan mengusirnya dari kampung halamannya. 

Selanjutnya penyantuman diksi wâsi'ah (luas) adalah memiliki hubungan dengan soal rezeki. Hubungan keduanya secara tegas dinyatakan oleh  Ibnu Abbas RAradliyallahu 'anhuma, Ar-Rabî' dan Ad-Dhahâk. 

Qatâdah berpendapat bahwa diksi wâsi'ah, memiliki makna: 

المعنى سعة من الضلالة إلى الهدى ومن العيلة إلى الغنى

Artinya: "Makna (wâsi'ah) adalah kesempatan keluar dari kesesatan menuju hidayah dari ekonomi papa menuju kekayaan."

Imam Malik berpendapat:

السعة سعة البلاد

Artinya, "Yang dimaksud luas di situ adalah luasnya negara / wilayah".

Al-Qurthuby rupanya condong kepada pendapat Malik ini. Ia menyatakan:

وهذا أشبه بفصاحة العرب ؛ فإن بسعة الأرض وكثرة المعاقل تكون السعة في الرزق ، واتساع الصدر لهمومه وفكره وغير ذلك من وجوه الفرج

Artinya, "Pemaknaan dari Malik ini merupakan yang paling serupa dengan kebiasaan mengucapnya orang Arab. Karena dengan luasnya bumi, dan banyaknya tukar pikiran, dapat mendorong tercapainya keluasan/kemampuan/peningkatan ekonomi. Demikian pula, melapangkan dada menerima susah dan prihatin yang didera, serta meluaskan daya fikir dan hal semacamnya, adalah merupakan sebab datangnya solusi (al-faraj)." (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby).

Penafsiran terakhir Al-Qurthuby ini rupanya yang paling sesuai untuk kondisi sekarang. Jadi, dengan mengikut pada pendapat ini, maka Surat al-Nisâ [4] ayat 100 di atas, seolah memiliki makna bahwa, "Barang siapa dalam kondisi dia sedang terusir atau mengalami keprihatinan yang mendalam sehingga terpaksa harus meninggalkan negerinya ke tempat yang benar-benar asing dengan rasa pilu, namun ia rela dengan keterusirannya itu dan berusaha melapangkan dada dan memperkaya wacana berpikirnya hanya demi mempertahankan kebenaran agamanya Allah dan Rasulnya, maka tindakan yang demikian itu dijamin oleh Allah SWT sebagai yang akan mendapatkan solusi dari keterpurukan dan masalah. Bahkan, seandainya ia mati dalam upayanya mempertahankan kebenaran tersebut, maka matinya tercatat sebagai mati yang husnu al-khatimah dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT". 

Maha Benar Allah SWT dengan segala janji-Nya. Sungguh, Allah Tiada Pernah Mengingkari Janji.  Wallahu a'lam bis shawab.
 
 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudhuiyah, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.
Selasa 3 September 2019 16:45 WIB
Makna Hijrah dan Pisah Ranjang dalam Tafsir Surat An-Nisa
Makna Hijrah dan Pisah Ranjang dalam Tafsir Surat An-Nisa
Ilustrasi: ss.lv
Allah SWT berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya, “Laki-laki itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang salehah adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (Surat An-Nisa ayat 34).

Menurut Al-Qurthuby, di dalam ayat ini tersimpan 11 masalah. Dalam tulisan ini, penulis hanya akan menyajikan salah satu dari 11 masalah itu. Lafal الرجال قوامون على النساء merupakan jumlah ismiyah yang terdiri atas mubtada’ dan khabar. Dilihat dari sudut pandang ilmu kaidah tafsir, jumlah ini berfaedah menunjuk makna tsubut (keteguhan) dan istimrar (terus menerus).

الجملة اسمية ھي ما تركبت من مبتدأ وخبر، وھي تفيد بأصل وضعھا ثبوت شيئ لشيئ ليس غير - بدون نظر إلى تجدد و, استمرار - نحو ارض متحركة - فيستفاد منھا سوى ثبوت الحركة للأرض، بدون نظر إلى تجدد ذلك و, حدوثه

Artinya, “Jumlah ismiyah adalah jumlah yang tersusun atas mubtada’ dan khabar. Faedah susunannya adalah menunjukkan makna tsubut (teguh) suatu hal untuk sesuatu yang lain, sehingga tidak ada peluang untuk berpaling ke obyek lain, dengan tanpa perlu berpikir ulang. Jumlah ini juga berfaedah menunjukkan makna keteguhan yang terus menerus. Contoh, “Bumi berguncang (الأرض متحركة)”. Dengan susunan ini, diperoleh faedah menyampingkan adanya guncangan pada benda lain selain dari bumi (yang menjadi fokus pembicaraan) tanpa perlu berfikir lagi kepada hal lain yang baru dan bagaimana terjadinya,” (Al-Masih,  Mu’jamu Qawa’idil Lughah Al-‘Arabiyyah, [Libanon, Maktabah Lubnan: 1981], halaman 181).

Jumlah ini mengisyaratkan sebuah faedah yang menyimpan makna hierarki hubungan antara dua insan yang berbeda jenis dalam lingkup rumah tangga.

Diksi قوام merupakan kata benda dengan shighat mubalaghah yang menunjukkan makna penguatan/penekanan terhadap aktivitas melindungi. Bentuk shighat tashghir-nya (tanpa penguatan/penekanan) adalah lafal قيم. Kurang lebihnya, perbedaan kalimat قوام dengan قيم adalah sama pengertiannya dengan dua kalimat berikut, yaitu فعيل  (bersifat pelaku) dengan فَعَّالٌ (orang yang bersifat terampil sekali dalam menjadi pelaku). عليم adalah orang yang memiliki karakter berilmu.
 
Namun, makna akan berbeda mana kala memakai shighat علامة, yang memiliki pengertian orang yang memiliki karakter sangat ‘alim. Jadi, penggunaan shighat mubalaghah pada diksi قوامون dalam ayat di atas, Allah SWT seolah hendak menyampaikan bahwa posisi seorang laki-laki (dalam lingkup rumah tangga) adalah merupakan sosok yang sangat ditekankan perannya dalam melindungi istrinya.

Ada dua penyebab yang menjadikan peran perlindungan ini diamanahkan kepada laki-laki (suami), yaitu:

1.    يقومون بالنفقة عليهن والذب عنهن = disebabkan karena nafaqah yang diberikan pada istrinya dan perlindungannya.

2.    فإن فيهم الحكام والأمراء ومن يغزو ، وليس ذلك في النساء = karena posisi hakim, pemimpin, dan berperang adalah kewajiban laki-laki serta bukan kewajiban seorang perempuan.

Al-Qurthuby berpendapat bahwa ayat ini menjelaskan tentang: ووجه النظم أنهن تكلمن في تفضيل الرجال على النساء في الإرث (Arah dari susunan ayat ini sesungguhnya adalah berbicara tentang keutamaan laki-laki atas seorang perempuan dalam urusan mawarits). Disebutkan lebih jauh oleh Al-Qurthuby bahwa keutamaan tersebut disebabkan karena kewajiban memberikan mahar dan nafaqah dalam keluarga adalah pihak laki-laki.

Dalam satu riwayat disebutkan: إن الرجال لهم فضيلة في زيادة العقل والتدبير ؛ فجعل لهم حق القيام عليهن لذلك (Laki-laki memiliki keutamaan pada panjangnya akal dan kelebihan dalam mengatur. Oleh karena itu diberikan amanah bagi mereka hak untuk memberi perlindungan kepada kaum hawa)

Masih dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa:

للرجال زيادة قوة في النفس والطبع ما ليس للنساء ؛ لأن طبع الرجال غلب عليه الحرارة واليبوسة ، فيكون فيه قوة وشدة ، وطبع النساء غلب عليه الرطوبة والبرودة ، فيكون فيه معنى اللين والضعف ؛ فجعل لهم حق القيام عليهن بذلك 

Artinya: “Seorang laki memiliki kelebihan berupa kekuatan yang terdapat dalam diri dan watak, yang mana hal ini tidak dimiliki seorang perempuan. Watak kaum laki-laki adalah berani menghadapi situasi panas dan kering. Situasi seperti ini membutuhkan sosok dengan kepribadian yang kuat dan keras. Sementara itu kaum hawa memiliki watak berani menghadapi situasi yang basah dan dingin. Dengan demikian gambaran watak pribadinya adalah sosok yang bepengertian lemas dan lemah. Karena alasan-alasan inilah maka dijadikan hak bagi laki-laki untuk melindungi kaum hawa.”

Dasar dari penafsiran terakhir ini berangkat dari penggalan ayat: وبما أنفقوا (dan sebab apa yang mereka nafkahkan).

Di lihat dari sisi riwayat tafsir, ada banyak sebab turunnya ayat ini. Banyaknya sebab ini menunjukkan bahwa ayat ini pernah turun berulang (takrar). Salah satu sebab turunnya ayat ini adalah meneguhkan putusan hukum yang berlaku atas kasus Sa’ad ibnur Rabi’. Suatu ketika istrinya melakukan tindakan nusyuz (membangkang). Lalu Sa’ad memukul istrinya tersebut, yaitu Habibah binti Zaid ibn Kharijah ibn Zuhair. Lalu bapak dari Habibah ini tidak terima. Akhirnya ia melaporkan ke Rasulullah SAW:

يا رسول الله ، أفرشته كريمتي فلطمها

Artinya: “Wahai Rasulullah, Aku hendak mengadukan kasus anakku tercinta yang dipukul suaminya.”

Rasulullah SAW menjawab:
 
لتقتص من زوجها

Artinya: “Baginya hak qishash berlaku atas suaminya.”

Lalu bapak dan anak ini berangkat untuk menuntut qishash terhadap Sa’ad ibnur Rabi’. Setelah kepergiannya, tiba-tiba Jibril datang kepada Rasulullah SAW menyampaikan ayat ini. Selanjutnya Rasulullah menyampaikan kepada para sahabat agar mendatangkan lagi bapak dan si anak tersebut.
 
ارجعوا هذا جبريل أتاني فأنزل الله هذه الآية
 
Artinya: “Tolong kembalikan mereka berdua! Jibril telah datang kepadaku dengan membawa wahyu dari Allah.”

Selanjutnya beliau Rasulullah SAW bersabda:
 
أردنا أمرا وأراد الله غيره
 
Artinya: “Aku menghendaki putusan perkara tersebut (sebagaimana telah aku sampaikan). namun ternyata Allah SWT menghendaki putusan lain.”

Hadits riwayat tafsir ini disampaikan oleh Al-Qurthuby dalam kitab tafsirnya disertai beberapa syawahid (bukti riwayat dari jalur berbeda). Dengan demikian, kedudukan riwayat tafsir ini bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

Adapun berkaitan dengan lafal فاهجروهن في المضاجع, khusus untuk lafal في المضاجع ada riwayat qiraah yang lain dari Ibnu Mas’ud dan An-Nakhai serta beberapa imam lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu, mereka condong kepada membaca dengan qiraah في المضجع (fil madlja’i) yang artinya di tempat pembaringan. Kalimat ini merupakan bentuk singular dari kalimat في المضاجع yang merupakan shighat muntahal jumu’ (shighat puncak isim jama’). Dengan demikian, pembaringan yang dimaksud dalam shighat muntaha al-jumu’ dalam ayat di atas adalah semua bentuk pembaringan, dan di manapun tempat ia berada.

Adapun lafal Al-Hajr di dalam ayat tersebut memiliki beberapa arti oleh kalangan mufassir, antara lain sebagai berikut:

1.    Menurut Ibnu Abbas :
 
والهجر في المضاجع هو أن يضاجعها ويوليها ظهره ولا يجامعها

Artinya: Makna الهجر في المضاجع adalah jika tetap menemaninya tidur akan tetapi dengan memalingkan punggung serta tidak menjimaknya.”

2.    Menurut Ibnu Mujahid:

جنبوا مضاجعهن

Artinya: “Jauhi pembaringan-pembaringannya!” 

3.    Menurut Ibrahim An-Nakhai, Al-Sya’by, Qatadah, dan Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Wahbin, Ibnu Qasim, Imam Malik dan Ibnul Araby:

ويعضده اهجروهن من الهجران ، وهو البعد
 
Artinya: “Menekankan memisahi dengan sebenar-benar pisah, atau menjauh”. 

Jika kita memakai pendapat terakhir ini, memisahinya suami-istri, ketika si istri ditemukan indikasi adanya pembangkangan adalah dengan sebenar-benarnya menjauhi ranjang sang istri selama beberapa waktu sehingga tidak terjadi jima’. Lain halnya dengan pendapat Ibnu Abbas, beliau masih mentolerir untuk tinggal satu ranjang, namun dengan posisi tidur saling membelakangi. Pendapat Ibnu Mujahid kiranya agak lebih moderat, namun memiliki kaitan erat dengan pendapat terakhir. 

1.    Hak bagi suami menjauhi istri ketika ditemukan adanya gelagat pembangkangan ini disebabkan beban yang ditanggungnya. Ibnu Araby menegaskan:
 
حملوا الأمر على الأكثر الموفي

Artinya: “Mereka menanggung perintah yang mayoritas harus dilaksanakan.”

Walhasil, ayat di atas seolah memberikan penekanan bahwa:

1.    Suami merupakan yang mendapatkan beban taklif melindungi istrinya. Beban taklif ini sangat dikuatkan berdasarkan teks nash syariat.

2.    Ada hak bagi suami yang dibenarkan oleh syariat dalam tata cara mendidik istrinya ketika terjadi nusyuz, yaitu:

•    Dibenarkan baginya untuk memberikan nasehat

•    Menjauhi istrinya dari tempat tidurnya sehingga tidak terjadi jima’ (pisah ranjang).

•    Diperbolehkan memukul selain wajah, dengan catatan berupa pukulan mendidik dan tidak menunjukkan arti aniaya.

3.    Tindakan hajr (yang merupakan asal dari isim musytaq hijrah) dalam ayat di atas bermakna berpisah ranjang. 
 
 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah–Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.