IMG-LOGO
Trending Now:
Tafsir

Konsep Budak Riqab dan Raqabah dalam Al-Qur’an

Jumat 6 September 2019 9:30 WIB
Share:
Konsep Budak Riqab dan Raqabah dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: ibtimes.co.uk
Saat kita membuka kitab fiqih dari para imam madzahibul arba’ah, kajian tentang masalah budak ini selalu ditempatkan di bagian akhir pembahasan dengan tema besar yang diusung adalah al-’itqu. Syekh Zakaria Al-Anshary memaknai al-’itqu ini sebagai:

باب العتق بمعنى الإعتاق وهو إزالة الرق عن الآدمي

Artinya, “Babul ’itqi, dengan makna al-i‘taq, yaitu usaha menghilangkan status budak dari anak adam,” (Zakaria Al-Anshary, Tuhfatut Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, [Beirut, Dar Ihya’it Turats: tt], halaman 513-514).

Istilah ar-riqq dalam kamus mu’jam al-ma’any diartikan sebagai العبودية (sifat yang menunjukkan makna kehambaan). Dengan demikian apa yang dimaksud oleh Syekh Zakaria Al-Anshary di atas adalah upaya menghilangkan sifat budak pada diri seseorang. Tentunya para fuqaha’ lain yang menggunakan istilah yang sama dalam kajian fiqihnya, memiliki kesamaan maksud dengan Syekh Zakaria Al-Anshary tersebut).

Ketika berbicara mengenai dalil asal upaya memerdekakan budak ini, Syekh Zakaria menyuguhkan penggalan ayat, yaitu فك رقبة (Surat Al-Balad ayat 13). Penafsiran para ulama’ terhadap ayat ini adalah:
 
أي: فكها من الرق، بعتقها أو مساعدتها على أداء كتابتها، ومن باب أولى فكاك الأسير المسلم عند الكفار

Artinya, “Melepaskannya dari sifat budak dengan jalan memerdekakannya, membantunya dalam menunaikan akad kitabah-nya, dan dalam Bab Khusus adalah membebaskan budak muslim tawanan perang dari tangan kaum kuffar,” (As-Sa’di, Tafsir As-Sa’di, bisa dirujuk di link berikut: http://www.quran7m.com/searchResults/090013.html).

At-Thanthawy memberikan penafsiran yang sama dengan As-Sa’di terhadap ayat ini, yaitu sebagai:

والمراد بفك الرقبة إعتاقها وتخليصها من الرق والعبودية . إذ الفك معناه : تخليص الشئ من الشئ

Artinya, “Yang dimaksud dengan فك رقبة adalah memerdekakannya, melepaskannya dari sifat ar-riqq atau sifat budaknya. Karena dalam hal ini al-fakku memiliki makna, melepaskan sesuatu dari sesuatu,” (Al-Tanthawy, Al-Wasith lit Tanthawy, bisa dirujuk di link berikut: http://www.quran7m.com/searchResults/090013.html). 

Dengan memperhatikan konsep penafsiran ini dan mencermati penggunaan kosakata dari para ulama dalam menjadikan ayat فك رقبة sebagai dalil asal bab memerdekakan budak, maka secara tidak langsung para fuqaha menyamakan makna antara term ar-riqq dengan ar-raqabah, yaitu sebagai “budak murni” yang belum tersentuh oleh akad, seperti akad kitabah, ummul walad, dan sejenisnya.

Penting dicatat bahwa, karena رقبة merupakan isim muannats, maka ia adalah seorang budak perempuan. Jika ditelaah lebih lanjut, terminologi رقبة di dalam Al-Qur’an dapat kita temui dalam beberapa ayat, antara lain Surat An-Nisa ayat 92, Surat Al-Maidah ayat 89, Surat Al-Mujadilah ayat 3, dan Surat Al-Balad ayat 13. Bentuk turunan (musytaq) dari رقبة di dalam Al-Qur’an adalah adalah رقاب. Ayat yang menggunakan kata رقاب ini dapat kita temukan pada 3 surat, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 177, Surat At-Taubah ayat 60, dan Surat Muhammad ayat 4.

Jika dilihat dari urutan turunnya ayat, maka secara berturut-turut–dari ayat yang paling dulu turun sampai yang paling akhir diturunkan–akan tampak sebagai berikut: Surat Al-Balad ayat 13, Surat Al-Baqarah ayat 177, Surat An-Nisa ayat 92, Surat Muhammad ayat 4, Surat Al-Mujadilah ayat 3, Surat Al-Maidah ayat 89, dan Surat At-Taubah ayat 60.

Dilihat dari sisi tema yang dikehendaki oleh ayat, maka bisa diuraikan sebagai berikut:

1.    Surat Al-Balad ayat 13.
Ayat ini berbicara tentang pembebasan budak, yang mana hal tersebut merupakan upaya yang sulit. Di dalam ayat ini, sulitnya membebaskan budak diiringi dengan perbuatan lain yang juga condong bahwa manusia sulit melakukannya, yaitu memberi makan orang lain di masa paceklik. Allah SWT berfirman:

وما أدرىك ما العقبة (12) فك رقبة (13) أو اطعام في يوم ذي مسغبة (14) يتيما ذا مقربة (15) أو مسكينا ذا متربة (16)

Artinya, “Dan tahukah kamu, apakah jalan mendaki dan sukar itu (12), (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) (13) atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan (14) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat (15) atau orang miskin yang sangat fakir (16).” (Surat Al-Balad ayat 12-16).

2.    Surat Al-Baqarah ayat 177.
Di dalam ayat ini, Allah SWT memberikan gambaran tentang perbuatan kebajikan. Bahwa yang dinamakan kebajikan itu bukanlah senantiasa menghadapkan wajah ke barat atau ke timur. Menghadapkan wajah ke barat dan ke timur ini mengisyaratkan seseorang yang tahu segala hal.
Jadi, bukan pengetahuan terhadap segala hal itu yang dikehendaki Allah terhadap pribadi manusia, melainkan Dia menghendaki agar manusia senantiasa memperhatikan aspek rohani (berupa keimanan) dan cakap dalam sosial, termasuk di dalamnya adalah memerdekakan hamba sahaya. Allah SWT berfirman:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya, “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, akan tetapi kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab Allah, dan para nabi-Nya, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerekakan hamba sahaya, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang senantiasa menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang yang senantiasa bersabar di saat melarat dan penderitaan ketika masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang sebenarnya bertakwa” (Surat Al-Baqarah ayat 177).

3.    Surat An-Nisa ayat 92.
Tema dari ayat ini, adalah berbicara tentang larangan membunuh jiwa tanpa hak. Bila hal itu dilakukan akibat pembunuhan tersalah (tidak sengaja) maka diyat yang harus ditunaikan salah satunya adalah memerdekakan budak perempuan yang beriman (raqabatin mu’minatin). Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَن يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya, “Tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (lainnya) kecuali karena tidak sengaja. Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, maka hendaklah ia memedekakan budaya perempuan beriman serta membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarga terbunuh, kecuali jika mereka membebaskan pembayaran. Jika dia yang terbunuh dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang yang beriman, maka hendaklah ia memerdekakan budak perempuan yang beriman. Dan jika yang terbunuh dari kaum kafir yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaklah si pembunuh membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarga terbunuh serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa tidak mendapatinya (budak perempuan yang beriman), maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai pernyataan taubat kepada Allah SWT. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Surat An-Nisa’ ayat 92).

4.    Surat Muhammad ayat 4.
Di dalam ayat ini, makna term ar-riqab dimaknai sebagai batang leher. Konteksnya adalah peperangan. Di dalam ayat ini juga dibicarakan mengenai perlakuan terhadap tawanan perang yang bisa dibebaskan dengan jalan di tebus.

Berdasarkan ayat ini, seolah dinyatakan bahwa perang merupakan sabab musabab dari lahirnya konsepsi perbudakan. Karena masyarakat jahiliyah sebelumnya sudah menjadikannya sebagai harta, dan agar tidak menimbulkan guncangan sosial, maka syariat mengatur bagaimana budak yang sudah dirupakan harta ini bisa terbebas, salah satunya adalah dengan tebusan. Allah SWT berfirman:
 
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

Artinya, “Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), maka pukullah batang leher mereka. Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka, tawanlah mereka, dan setelah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang selesai. Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka,” (Surat Muhammad ayat  4).

5.    Surat Al-Mujadilah ayat 3.
Ayat ini berbicara mengenai diyat suami akibat rujuk dengan istrinya setelah terjadinya zhihar (thalaq kinayah (cerai sindiran) karena menyerupakan istri dengan ibunya dengan disertai niat menceraikan). Raqabah dalam ayat ini bermakna budak perempuan. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِن نِّسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya, “Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan,” (Surat Al-Mujadilah ayat 3).

6.    Surat Al-Maidah ayat 89.
Ayat ini berbicara mengenai sumpah dan kafarat (tebusan) sumpah. Di antara kafarat sumpah itu adalah memerdekakan budak perempuan (raqabah). Makna raqabah dalam ayat ini berlaku umum, sama dengan ayat Surat Al-Mujadilah ayat 3. Allah SWT berfirman:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, akan tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerekakan seorang budak perempuan. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka kafaratnya adalah berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu jikalau kalian bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya),” (Surat Al-Maidah ayat 89).
 
7.    Surat At-Taubah ayat 60
Ayat ini berbicara mengenai riqab yang bisa dimerdekakan melalui harta zakat. Riqab dalam ayat ini bermakna budak. Lafadh riqab disampaikan dengan menggunakan “al” jinsiyyah yang berarti bermakna khusus, yaitu yang beriman.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ 

Artinya, “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk memerdekakan budak, untuk memerdekakan orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Surat At-Taubah ayat 60).

Korelasi Antarayat
Jika kita perhatikan hierarki dari ayat-ayat ini, maka istilah raqabah dan riqab memiliki hubungan erat dengan konsep peperangan. Mereka merupakan pihak yang ditawan di saat peperangan dan bisa merdeka dengan jalan utama yaitu tebusan. Dengan kata lain, bahwa tebusan ini berlaku seolah sebagai harga. Dengan demikian, raqabah dan riqab, keduanya adalah barang berharga.

Syariat Islam mengatur pembebasan masing-masing untuk diterapkan oleh umat Islam sendiri, dengan mengarusutamakan raqabah dibanding riqab, dan mengutamakan yang beriman dibanding yang masih dalam bingkai keyakinannya yang lama. Tahapan tersebut meliputi sebagai berikut:

1.    Raqabah yang beriman
Raqabah yang beriman, dapat merdeka melalui beberapa cara:
a.    Dimerdekakan oleh pemiliknya.
b.    Sebagai diyat pembunuhan, baik tersalah atau tidak, baik terhadap orang muslim atau kafir dzimmy.
c.    Sebagai diyat dhihar atau kafarat sumpah.
 
2.    Riqab yang beriman.
Riqab (budak laki-laki) yang beriman, dapat merdeka melalui dua cara, yaitu:
a.    Dimerdekakan oleh pemiliknya.
b.    Dibeli dengan harta zakat.
 
3.    Raqabah yang tidak beriman.
Raqabah yang tidak beriman, dapat merdeka melalui dua cara, yaitu:
a.    Dimerdekakan oleh pemiliknya.
b.    Sebagai diyat dhihar atau kafarat sumpah.
 
4.    Riqab yang tidak beriman.
Adapun riqab yang tidak beriman, dapat merdeka hanya melalui satu cara, yaitu dimerdekakan oleh pemiliknya. 

Walhasil, dengan menilik ayat ini, jika riqab dan raqabah adalah dihasilkan dari akibat peperangan, maka statusnya adalah tawanan perang yang berubah menjadi budak seiring dengan tebusan.

Syariat lebih menekankan pembebasan pada budak perempuan (raqabah) dibanding budak laki-laki. Kiranya maqashidus syari’ah melakukan pengaturan ini adalah memiliki orientasi utama menghilangkan perbudakan atas manusia lain, sebagaimana hal ini termuat dalam Surat Al-Balad ayat 13 dan Surat Al-Baqarah ayat 177. Wallahu a‘lam bis shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah pada Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timura
Share:

Baca Juga

Jumat 6 September 2019 21:0 WIB
Mendapati Tafsir Al-Qur’an yang Nyeleneh? Ini Penyebabnya
Mendapati Tafsir Al-Qur’an yang Nyeleneh? Ini Penyebabnya
Egoisme kepentingan penafsir kerap menjerumuskannya pada penafsiran yang aneh dari pandangan kebanyakan ulama.
Dalam dunia ilmu tafsir dikenal istilah al-ashîl wa al-dakhîl fi tafsîr al-qur’an (yang asli dan yang asing dalam tafsir Al-Qur’an). Ilmu ini masuk rumpun kajian analisis terhadap keaslian sumber penyandaran riwayat tafsir oleh seorang mufassir dalam melakukan penafsiran. Selain faktor keaslian nukilan, turut juga dianalisis dalam bagian rumpun kajian ini, yaitu unsur asing yang masuk (al-dakhîl) dalam melakukan riwayat penukilan itu. 
 
Dalam istilah ilmu hadits, rumpun ilmu ini masuk bagian dari ilmu takhrij, atau dikenal sebagai ilmu kritik hadits, khususnya terhadap sumber riwayat dan matan hadits. Di dalam ilmu takhrij, sudah barang tentu mencakup ilmu lain, yaitu ilmu jarh wa al-ta’dil, ilmu ahwâl ruwâti al-ahâdits, dan semacamnya. 
 
Karena Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka untuk memahaminya, dibutuhkan banyak pengetahuan tentang bagaimana beliau memahami wahyu tersebut, lewat hadits yang diriwayatkan oleh para ulama’ dan terdokumentasikan dalam kitab dîwan. Demikian pula, untuk mengetahui hadits riwayat tafsir, tidak ada jalan lain selain menggunakan wasilah berupa pemahaman sahabat, para tabi’in dan para ulama’ setelahnya, khususnya ulama madzâhib al-arba’ah (empat imammazhab), dan tâbi’ (murid-muridnya), serta muqallid (para penganutnya) hingga sekarang. 
 
Jadi, bila ada yang berasumsi bahwa memahami Al-Qur’an dan Hadîts bisa dilakukan tanpa lewat silsilah sanad dari para ulama sehingga pemahaman tersebut disambungkan hingga ke ulama sekarang, maka sudah pasti mereka akan menghasilkan suatu pemahaman yang aneh dan asing. Sifat aneh dan asing ini sudah pasti disebabkan karena pemahamannya menyimpang dari pemahaman yang disepakati sebelumnya. 
 
Suatu misal: bila para ulama dulu memahami praktik ajaran dengan cara langsung diajarkan oleh guru sanad, dan pemahaman itu ditularkan hingga umat generasi sekarang, bahwa membaca Al-Qur’an yang pahalanya disampaikan kepada orang yang sudah meninggal adalah boleh dan bisa sampai, terbukti dari praktik ini yang terus-menerus lestari hingga sekarang, lalu secara tiba-tiba ada pihak yang melarang membacanya dengan niat tersebut, maka sudah pasti bahwa pemahaman ini adalah hal yang aneh. Sudah pasti ada unsur al-dakhil (pemalsuan dan pembelokan) dalam menyampaikan ajaran tersebut.
 
Unsur asing yang nyeleneh ini bisa lahir dari beberapa sebab, antara lain:
 
Pertama, karena ada unsur kesengajaan untuk merusak superioritas Islam, sementara mereka tidak sanggup melawannya secara langsung. Untuk itu direncanakan merusaknya secara sistemik melalui pembelokan penafsiran sumber pokok ajarannya, yaitu lewat wasilah Al-Quran dan al-Hadits. Fenomena munculnya nabi palsu, dan kafir zindiq, menjadi asumsi dasar bagi hipotesa awal ini. 
 
Kedua, karena ada kemungkinan faktor simplifikasi materi Al-Qur’an sehingga dalam beberapa hal ada pemaksaan interpretasi dan ta’wil yang selanjutnya dapat berakibat pada penyimpangan makna dari makna seharusnya. Dalam situasi ini, maka kedudukan penafsir adalah ibarat seorang mufassir politik atau mufassir yang diliputi dengan suatu kepentingan. Ia membawa penafsiran ke arah upaya mendukung kelompoknya dengan mengabaikan kode etik keilmiahan penafsiran. Kaidah tafsir berperan besar untuk dapat dipakai sebagai instrumen mengukur sejauh mana penyimpangan tersebut terjadi.
 
Ketiga, karena ada kemungkinan dorongan yang benar yakni dukungan keluhuran agama Islam, sehingga diperlukan upaya mendapatkan legitimasinya sebagai wujud pembenaran risâlah akan tetapi instrumen yang dipergunakan tidak bersumber dari rangkaian sanad yang benar dan mu’tabar, seperti jargon kembali ke Al-Qur’an dan al-Hadits yang sebenarnya dalam jargon ini mengajak untuk meninggalkan sanad pemahaman dari para ulama’ sebelumnya.
 
Keempat, keterputusan bayan tafsir (penjelasan tafsir) dari Nabi Muhammad SAW membawa akibat pada upaya analisis teks kebahasaan yang memungkinkan seorang mufasir memaksakan interpretasi tanpa memperhatikan kaidah dasar tafsir.
 
Kelima, adanya disintegrasi di kalangan kaum muslimin akibat pergantian khalifah dan siyasah. Tak pelak lagi, bahwa perpecahan politis yang berhasil mengoyak umat menjadi banyak firqah ini, yang berjalan beriringan dengan dinamika politik pada waktu itu, telah melahirkan sejumlah permasalahan yang berkepanjangan sehingga sekarang. Salah satu permasalahan adalah akibat sikap ta’ashtsiqah dari lawannya. 
 
Keenam, munculnya sejumlah ahli qushash dan wu’adh (tukang ceramah), telah turut serta menyumbang lahirnya sejumlah hadits maudhu’ dan dha’if yang selanjutnya banyak juga berperan di dalam menyumbang al-dakhil fit tafsir (pembelokan tafsir). Misalnya, akhir-akhir ini ada qushâsh dan wu’adh tentang hari kiamat. Hitungan matematis mereka sering menjadi dasar pembelokan konsep kiamat itu yang sebenarnya memiliki ujung mengajak masuk dalam kelompoknya. Misalnya: mereka sebenarnya mengajak mendukung ke arah politik tertentu menegakkan kekhilafahan romantis. 
 
Ketujuh, kemunculan beberapa kalangan mutashâwifin. Maksud dari mutashâwifin (pura-pura tasawuf) ini tidak sama pengertiannya dengan shûfi. Jika kalangan shûfi merupakan pengamal ajaran tasawuf dari guru yang bersanad, maka untuk kalangan mutashâwifin ini adalah serupa dengan orang fâsiq, yaitu orang yang hanya bisa berkomentar akan tetapi dia sendiri tidak melakukan. Contoh: orang mengajak menegakkan kalimat tauhid (لاإله إلا الله) di jalan-jalan, sementara ia sendiri tidak pernah berdzikir rutin dengan kalimat tersebut untuk memenuhi aspek kewajiban pribadinya dalam berdzikir لاإله إلا الله. Inilah bagian dari representasi rajulun fâsiq. Dalam Al-Qur’an, ia dicirikan sebagai:
 
وإذا قيل لهم لاتفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون (11) ألا إنهم هم المفسدون ولكن لايشعرون (12)
 
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan (revolusi).’ (12) Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan akan tetapi mereka tidak merasa.” (QS Al-Baqarah [2]: 11-12).
 
Ketika diingatkan dengan sifat aneh yang dimilikinya yang jelas telah menimbulkan efek fasad (mudarat), mereka lebih memilih untuk membantah dan menuruti kemauannya yang ia kira sebagai cara satu-satunya untuk melakukan perbaikan (ganti sistem/revolusi). 
 
Kembali pada persoalan riwayat tafsir. Penelitian riwayat merupakan hal mutlak untuk dilakukan bilamana pemahaman tersebut berkaitan dengan hukum. Adapun bila berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seperti biologi, fisika, ekonomi dan sebagainya, ada peluang untuk masuk ke dalam dunia tafsir, akan tetapi hanya pada aspek menegaskan pemahaman yang sudah ma’tsûrât (disampaikan dalam bentuk dokumen riwayat) dan berupa penegasan terhadap ayat-ayat yang sifatnya kauniyah (berkenaan dengan alam).
 
Misalnya, untuk memahami bagaimana bentuk bumi, peredaran benda langit, peredaran bulan, dan lain sebagainya, mutlak dalam hal ini dibutuhkan alat penafsiran berupa pengetahuan. Adapun yang berkaitan dengan ayat hukum, seperti lama ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suami, atau ‘iddah perempuan thalaq mati, maka semua ini merupakan ilmu yang bersifat ta’abbudi (harus mengikut pada dokumen nash dan riwayat penafsiran). Meskipun dunia modern sudah menemukan alat baru berupa mesin USG yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi rahim sehingga bisa memastikan kondisi istibrâ-u al-rahmi (bebasnya rahim), sifat dari ilmu ini tidak bisa mengalahkan aspek ta’abbudi dari ‘iddah yang mensyaratkan masa tunggu selama beberapa waktu lamanya sebagaimana sudah ditetapkan syariat. 
 
Walhasil, keanehan dalam dunia tafsir ayat Al-Qur’an merupakan sebab lahirnya ilmu al-ashîl wa al-dakhîl fi tafsîr al-qur’an. Sebagai penutup dari tulisan ini, sebuah kutipan dari Syeikh Abdul Wahab al-Fayad, salah satu ulama’ tafsir dari Universitas Al-Azhar. Beliau menggambarkan mengapa “keanehan” terjadi dalam tafsir ? Sepintas kilas, hal itu beliau sampaikan dalam muqaddimah kitab karyanya:
 
الدخيل... إنه عبارة عن التفسير الذي ليست له أصول ثابتة في الدين كأن يكون مخالفا لروح القرآن الكريم أو منافيا للعقل السليم أو ناشئا عن فهم سقيم أو نابعا من فكر وافد على الإسلام دين الله القويم
 
Artinya: “Al-Dakhil ... merupakan suatu istilah bagi penafsiran yang tidak memiliki sumber rujukan teruji (tsabitah) dalam agama, misalnya: penafsiran yang bertentangan dengan ruh ajaran Al-Qur’an yang Mulia, atau bertentangan dengan akal sehat, atau tumbuh karena pemahaman yang sakit, atau lahir dari pemikiran baru atas agama Islam yang seharusnya didudukkan sebagai agama Allah yang lurus.” (Abdul Wahab Abdul Wahab al-Fayad, al-Dakhîl fi Tafsîr Al-Qur’an al-Karîm, Kairo: Mathba’ah al-Hadlârah al-‘Arabiyyah, 1980: 2/3).
 
Wallahu a’lam bish shawâb. 
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah – LBMNU PWNU Jawa Timur
 
Kamis 5 September 2019 16:15 WIB
Kajian Tematik Milkul Yamin dalam Al-Qur’an
Kajian Tematik Milkul Yamin dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: via sm3ny.com
Milkul Yamin berasal dari gabungan dua kosakata arab, yaitu milkun yang menurut arti leksikalnya berarti milik atau penguasaan dan yamiinun yang berarti tangan kanan, sayap kanan, atau sumpah.

Dua kosakata ini digabung menjadi satu dalam tarkib idlafy, menjadi milkul yamin, yang dari sisi gramatikalnya menjadi bermakna “miliknya tangan kanan”. Dalam ilmu fiqih, konsep ini lahir dari bunyi nash: ما ملكت أيمانكم yang bermakna “sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanan kalian.”

Di dalam Al-Qur’an, ayat yang menggunakan term ما ملكت أيمانكم terdiri atas 13 ayat. Rincian dari ayat tersebut adalah Surat An-Nisa’ ayat 3, 24, 25, dan 36, Surat An-Nahl ayat 71, Surat Al-Mukminun ayat 6, Surat An-Nur ayat 31 dan 33, Surat Ar-Rum ayat 28, Surat Al-Ahzab ayat 50, 52, dan 55, dan Surat Al-Ma’arij ayat 30.

Jika dari ayat-ayat ini diurutkan berdasarkan yang terlebih dulu turun hingga yang paling akhir serta dikelompokkan menurut Makkiyah atau Madaniyahnya surat, maka akan nampak sebagai berikut:

1. Surat An-Nisa’ ayat 3 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah bagi laki-laki beriman agar berlaku adil terhadap hak-hak anak perempuan yatim yang disambung dengan perintah menikahi perempuan lain yang disenangi, 2, 3 atau 4. Jika takut tidak bisa berbuat adil, maka dianjurkan menikahi 1 orang perempuan saja, atau perempuan milkul yamin yang dimiliki. Milkul yamin dihalalkan bagi laki-laki beriman meski tanpa nikah.

2. Surat Al-Mukminun ayat 6 (Makkiyah). Ayat ini mengandung perintah menjaga kemaluan dan membolehkan penyalurannya hanya kepada istri atau perempuan milkul yamiin yang dimilikinya.

3. Surat An-Nisa’ ayat 24 (Madaniyah). Ayat ini mengandung keharaman menikahi perempuan muhshanah (perempuan yang masih menjadi istri orang lain) dan dibolehkan menikahi perempuan milkul yamin yang dimiliki. Ada catatan bahwa kehalalan perempuan hanya bisa didapat dengan jalan menikahinya.

4. Surat An-Nisa’ ayat 25 (Madaniyah). Bagi laki-laki yang tidak punya biaya untuk menikahi perempuan merdeka, maka dihalalkan menikahi perempuan beriman dari golongan perempuan milkul yamin yang dimilikinya.

5. Surat Ar-Rum ayat 28 (Makkiyah). Perumpamaan bagi orang yang beriman agar tidak menyekutukan Allah SWT. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Menguasai sekalian alam. Tindakan menyekutukan Allah itu ibarat Sayyid yang berbagi harta dengan perempuan milkul yamin yang dimilikinya tanpa ikatan pernikahan. Sudah pasti Si Sayyid tidak terima. Demikian Allah SWT bila disekutukan dengan selain-Nya, Allah SWT tidak akan terima.

6. Surat Al-Ma’arij ayat 30 (Makkiyah). Ayat mengulangi berbicara tentang penjagaan farji dari menunaikan kebutuhan pada yang bukan haknya. Penyaluran kebutuhan biologis hanya diperbolehkan kepada istri dan perempuan milku al-yamin yang dimilikinya.

7. Surat An-Nur ayat 31 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah agar menahan pandangan bagi perempuan beriman, tidak menampakkan perhiasannya dan auratnya, kecuali kepada suami dan mahramnya atau kepada milkul yamin yang dimilikinya, atau pelayan tua yang sudah tidak memiliki hasrat ke perempuan.

8. Surat An-Nur ayat 33 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah bagi orang yang tidak mampu menikah agar tetap menjaga kesuciannya sampai Allah SWT memberi kemampuan dan karunia bisa menikah. Anjuran bila seorang milkul yamiin mengajukan akad kitabah (perjanjian kebebasan dengan jalan menebus dirinya sendiri), maka diperintahkan untuk menerimanya bila hal itu ada kebaikan bagi dirinya. Ayat juga menunjukkan makna larangan memerintahkan budak yang dimiliki agar melakukan pelacuran. Ada penyandingan terminologi milku al-yamiin dengan fatayat yang keduanya bermakna budak perempuan.

9. Surat An-Nisa’ ayat 36 (Madaniyah). Ayat ini mengandung perintah menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, berbuat baik ke orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan milkul yamin.

10. Surat Al-Ahzab ayat 50 (Madaniyah). Ayat bercerita tentang keistimewaan Allah yang dikaruniakan kepada Baginda Nabi. Perempuan yang halal bagi laki-laki muslim adalah istri-istri mereka, milku al-yamin yang dimiliki dan beberapa pihak yang disebutkan dalam ayat.

11. Surat Al-Ahzab ayat 52 (Madaniyah). Ayat memberikan penegasan kembali dari ayat 50 pada surat yang sama, termasuk di dalamnya adalah milkul yamin.

12. Surat Al-Ahzab ayat 55 (Madaniyah). Bagi perempuan beriman, boleh menemui orang yang menjadi mahramnya dengan tanpa adanya tabir penghalang termasuk terhadap milkul yamin yang dimilikinya.

13. Surat An-Nahl ayat 71 (Makkiyah). Ayat ini bercerita tentang rezeki yang sudah dikaruniakan oleh Allah SWT hendaknya disyukuri dengan cara bersedekah, yang salah satunya adalah kepada milkul yamin.

Ada 4 ayat masuk dalam kelompok surat Makkiyah, dan sisanya sebanyak 9 ayat masuk dalam kelompok surat Madaniyah.

Hubungan Makna Antarayat
Pada Surat An-Nisa’ ayat 3, Allah menegaskan bahwa jika seseorang tidak dapat berlaku adil atau tidak dapat menahan diri dari memakan harta anak yatim bila dia menikahinya, maka orang mukmin diperintahkan untuk tidak menikahinya. Tidak boleh menikah dengan tujuan menghabiskan harta anak yatim. Termasuk yang dihalalkan bagi seorang mukmin adalah menikahi perempuan merdeka lain sebanyak 2, 3 atau 4 dan perempuan milkul yamin.

Dalam hal milkul yamin ini, At-Thabary menukil dari As-Saddy bahwa ia adalah as-sarary (perempuan budak hasil tawanan perang). Al-Qurthuby condong kepada makna al-ima’ (ummul walad), yaitu budak perempuan yang melahirkan anaknya sayyid. Secara jelas, Al-Qurthuby juga menyebut bahwa milkul yamin tidak selalu berupa perempuan tawanan perang. Ia menjelaskan:

 إلا أن ملك اليمين في العدل قائم بوجوب حسن الملكة والرفق بالرقيق . وأسند تعالى الملك إلى اليمين إذ هي صفة مدح ، واليمين مخصوصة بالمحاسن لتمكنها

Artinya, “Ketahuilah, sungguh milkul yamin dalam hal keadilan adalah berdiri menempati derajat wajibnya membagusi kepemilikan dan bersikap lemah lembut terhadap raqiq (budak). Allah SWT menyandarkan al-milku (milik) kepada al-yamin (kanan) adalah karena dimaksudkan sebagai pujian. “Kanan” merupakan sifat khusus yang diberikan guna memuliakan sesuatu menurut kadar kemampuan pujian itu diberikan,” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, bisa dirujuk di sini: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura4-aya3.html#qortobi).

Jika ayat ini merupakan ayat pertama yang diturunkan, maka seterusnya, sampai dengan ayat yang berbicara tentang milkul yamin ini terakhir diturunkan, maka makna sudah pasti merujuk ke pengertian pertama.

Walhasil, pengertian itu ada dua menurut dua konsep tafsir ini, yaitu berpengertian as-sarary (budak perempuan tawanan perang) atau budak secara umum yang menjadi ummul walad dari sayyid. Wallahu a‘lam bis shawab.
 

Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.
Rabu 4 September 2019 16:15 WIB
Pendapat Ulama Tafsir atas Konsep Milkul Yamin dan Hukum Onani
Pendapat Ulama Tafsir atas Konsep Milkul Yamin dan Hukum Onani
Ilustrasi: ss.lv
Allah SWT berfirman:

فمن ابتغي وراء ذلك فأولئك هم العادون

Artinya, “Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas,” (Surat Al-Mu’minun ayat 7).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, menjelaskan sembari menukil sebuah hadits riwayat tafsir dari Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasai dari jalur sanad Umar ibn Khathab radliyallahu ‘anhu, bahwa saat ayat ini diturunkan, Nabi SAW seolah mendengar bunyi seperti suara lebah. Nabi sempat tertegun sesaat, lalu menghadap kiblat sembari mengangkat kedua tangan seraya berdoa: 

اللهم زدنا ولا تنقصنا، وأكرمنا ولا تهنا، وأعطنا ولا تحرمنا، وآثرنا ولا تؤثر علينا، وارض علينا وأرضِنا

Artinya: “Ya Allah, berikanlah tambahan kepada Kami dan janganlah Tuan menguranginya! Berikan kemuliaan kepada kami dan jangan Engkau hinakan! Berikanlah (kemurahan) kepada Kami dan jangan Engkau haramkan! Berikanlah kami kesenangan dan bukan sesuatu yang menyedihkan! Berikan keridlaan-Mu atas kami dan tanah-tanah kami!” (Ibnu Katsir: Tafsir Ibnu Katsir, bisa dirujuk di sini: https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Setelah berdoa, lalu Nabi SAW bersabda:

لقد أنزل عليَّ عشر آيات من أقامهن دخل الجنة ثم قرأ { قد أفلح المؤمنون} حتى ختم العشر

Artinya, “’Telah turun kepadaku 10 ayat. Barang siapa melaksanakannya, maka dijamin surga.’ Lalu beliau membaca قد أفلح المؤمنون hingga sempurna 10 ayat,” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasai).

Ayat yang hendak kita bahas menduduki ayat yang ketujuh. Dengan demikian, bila melakukan penafsiran terhadap ayat ini, maka tidak boleh meninggalkan keberadaan 6 ayat sebelumnya, dan 3 ayat sesudahnya. Ketidakbolehan ini berpedoman pada hadits riwayat tafsir oleh An-Nasai dari Siti Aisyah radliyallahu ‘anha. Suatu ketika Ummul Mukminin Siti Aisyah ditanya:

كيف كان خلق رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم ؟ قالت: كان خلق رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم القرآن، فقرأت: { قد أفلح المؤمنون - حتى انتهت إلى - والذين هم على صلواتهم يحافظون} قالت: هكذا كان خلق رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم

Artinya, “Bagaimana akhlak Rasulullah SAW (sehari-hari)?’ Aisyah menjawab, ‘Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an.’ Lalu ia membaca : قد أفلح المؤمنون sampai ayat والذين هم على صلواتهم يحافطون. Demikianlah akhlak Rasulullah SAW,” (HR An-Nasai, dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir).

Ada sekian banyak hadits yang dinukil oleh Ibnu Katsir sesuai dengan corak aliran tafsirnya, yaitu tafsir bir riwâyah, atau biasa disebut juga dengan istilah tafsir bil ma’tsûr. Pembaca bisa merujuk sendiri ke kitab tafsir untuk menemukan uraiannya. Lalu, ketika sampai pada pembahasan Surat Al-Mu’minun ayat 7 di atas, beliau menautkan bahasannya dengan 2 ayat sebelumnya yaitu ayat 5 dan 6 dari surat yang sama. Tulisnya:

وقوله: { والذين هم لفروجهم حافظون * إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين * فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون}

Artinya, “Orang yang terhadap farjinya, mereka mau menjaga (5). Kecuali atas istri-istri mereka atau sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanannya. Maka sesungguhnya mereka tiada tercela (6). Maka barang siapa yang mencari sesuatu kebalikannya, maka mereka termasuk orang yang melampaui batas (7). (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Maksud dari ayat ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut:

أي والذين قد حفظوا فروجهم من الحرام فلا يقعون فيما نهاهم اللّه عنه من زنا ولواط، لا يقربون سوى أزواجهم التي أحلها اللّه لهم، أو ما ملكت أيمانهم من السراري، ومن تعاطى ما أحله اللّه له فلا لوم عليه ولا حرج

Artinya, “Orang-orang yang senantiasa menjaga farjinya dari perkara yang diharamkan sehingga tidak melakukan hal yang dilarang oleh Allah atas mereka, berupa zina dan sodomi (liwath), serta tidak berusaha mendekati perbuatan-perbuatan itu (zina dan sejenisnya) selain kepada istri-istri mereka yang telah dihalalkan oleh Allah untuk mereka, atau terhadap sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanan mereka, seperti terhadap perempuan budak tawanan (sarary), dan orang yang nekat melakukan apa yang dihalalkan oleh Allah terhadapnya, maka tiada cela atas diri mereka dan tiada dosa,” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini seolah menjelaskan bahwa hak penyaluran hak farji orang yang beriman dan diperbolehkan oleh syariat, adalah hanya melalui tiga cara, yaitu:

1.    Terhadap istri.
2.    Terhadap sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanan mereka (ما ملكت أيمانهم). Yang masuk dalam kelompok ini adalah perempuan sarary (budak tawanan perang).
3.    Sesuatu dengan cara lain yang dihalalkan oleh Allah.

Penjelasan lebih lanjut disampaikan oleh Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud dengan ما ملكت أيمانهم adalah الإماء (perempuan amat / budak perempuan). Hal ini tercermin ketika menyebut dlamir ‘aid (kata ganti rujukan) dari isim isyarah ذلك dari ayat فمن ابتغي وراء ذلك, adalah kembali pada الأزواج والإماء (istri dan hamba sahaya).

Dengan demikian, kaitannya dengan upaya menjaga farji, maka penyaluran yang diperbolehkan oleh syariat hanyalah dengan jalan jima’ dengan dua obyek di atas, yaitu istri dan perempuan amat yang merupakan representasi dari ما ملكت أيمانهم. Bentuk penyaluran selain kepada keduanya, maka termasuk melanggar batas ketentuan yang diperbolehkan syariat. 

Menurut Ibnu Katsir, berangkat dari bunyi literal ayat ما ملكت أيمانهم ini, Imam Syafi‘i rahimahullah melakukan istidlal (pengambilan dalil), bahwa hukum istimna’ dengan tangan (onani) adalah haram. 

Pertanyaan yang sering disampaikan adalah: bagaimana bila istimna’ dengan tangan itu dilakukan oleh pasangannya atau hamba sahaya (sarâry)? Syekh Jalaluddin As-Suyuthy dalam Tafsir Jalalain menjelaskan:

من الزوجات والسراري كالاستمناء باليد في إتيانهنَّ 

Artinya, “[Barang siapa mencari cara lain selain daripada yang telah disebutkan] seperti terhadap istri dan budak perempuan tawanan, seperti istimna’ dengan tangan saat menjimaknya,....” (Jalaluddin As-Suyuthy, Tafsir Jalalain, bisa disimak di sini: https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Berdasar teks ini, As-Suyuthy jelas menyebut bahwa istimna’ bil yad saat menjimak istri termasuk bagian dari perbuatan yang dicontohkan sebagai sesuatu yang tidak diperbolehkan (karena melampaui batas ketetapan syara’). Ada titik persamaan antara Ibnu Katsir dan As-Suyuthy dalam hal ini, yaitu bahwa yang dimaksud dengan ما ملكت أيمانهم adalah as-sarary (perempuan budak tawanan perang).

At-Thabary dalam Kitab Tafsirnya juga menyebut istilah khusus yaitu ملك يمين ketika menafsirkan Q.S. Al-Mukminun ayat 7 di atas. Ia menjelaskan:

فَمَنِ الْتَمَسَ لِفَرْجِهِ مَنْكِحًا سِوَى زَوْجَته وَمِلْك يَمِينه , { فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ } يَقُول : فَهُمُ الْعَادُونَ حُدُود اللَّه , الْمُجَاوِزُونَ مَا أَحَلَّ اللَّه لَهُمْ إِلَى مَا حَرَّمَ عَلَيْهِمْ

Artinya, “Barang siapa menunaikan hak untuk farjinya dengan jalan menikahi selain daripada istri dan milk yamin-nya, maka mereka itu termasuk orang yang melampaui batas. Mafhum dari العادون di sini adalah batas-batas ketentuan Allah. Mereka adalah orang yang melampaui batas terhadap apa yang dihalalkan oleh Allah untuknya dengan memilih apa yang diharamkan atasnya.” (At-Thabary, Tafsir At-Thabary, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

At-Thabary hanya memberikan pengecualian terhadap dua hal yang diperbolehkan untuk menunaikan hak farji, yaitu kepada istri dan milkul yamin. Selain terhadap keduanya, At-Thabary menyebut pelakunya sebagai telah berzina berdasar beberapa atsar (qaul shahabat) riwayat tafsir. Konsekuensi dari pendapat At-Thabary ini adalah bahwa yang dimaksud dengan milkul yamiin adalah berlaku mutlak untuk menyebut istilah lain dari hamba sahaya (perempuan amat dan perempuan sarary). Jika perempuan amat adalah budak yang dimiliki dari hasil jual beli secara langsung, maka sarary adalah perempuan budak yang diperoleh dari hasil jabr (cara paksa) karena diperoleh dari jalur konfrontasi (perang).

Apakah ketentuan pada ayat ini, seperti berjimak dengan sarary juga berlaku untuk perempuan muslimah yang memiliki tawanan perang laki-laki? Dalam hal ini, Al-Qurthuby menyampaikan pendapatnya ketika memberikan ta’wil terhadap ayat إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم (kecuali atas istri-istri mereka atau sesuatu yang dimiliki oleh tangan kanannya) sebagai berikut:

وإنما عرف حفظ المرأة فرجها من أدلة أخرى كآيات الإحصان عموما وخصوصا وغير ذلك من الأدلة. قلت : وعلى هذا التأويل في الآية فلا يحل لامرأة أن يطأها من تملكه إجماعا من العلماء؛ لأنها غير داخلة في الآية، ولكنها لو أعتقته بعد ملكها له جاز له أن يتزوجها كما يجوز لغيره عند الجمهور

Artinya, “Sungguh, telah diketahui bahwa kewajiban penjagaan perempuan atas farjinya adalah didasarkan pada beberapa dalil lain, seperti ayat-ayat yang berbicara ihshan (penjagaan farji karena pernikahan), baik berupa dalil umum maupun dalil khusus dan sejenisnya. Oleh karena itu, aku (al-Qurthuby) berpendpat: ‘bahwasannya takwil dari ayat ini adalah tidak halal bagi perempuan muslimah dijimak oleh budak yang dimilikinya, berdasar ijma’ ulama. Hal ini disebabkan bahwa perempuan adalah tidak masuk dalam bagian khithab dari ayat ini. Akan tetapi, jika ia memerdekan terlebih budak yang dikuasainya tersebut, maka boleh bagi laki-laki itu menikahinya sebagaimana hal itu berlaku bagi orang lain menikahinya. Demikian ini pendapat mayoritas ulama’.” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Secara tidak langsung, penjelasan Al-Qurthuby ini juga menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ملك اليمين adalah budak, dan bukan selainnya. Seandainya memuat pengertian selainnya, maka tidak ada ketentuan memerdekakan sebagaimana disebutkan dalam pendapat Al-Qurthuby di atas.

Pendapat Al-Qurthuby diperjelas dengan riwayat tafsir dari para mufassir yang lain, seperti An-Nakhai. An-Nakhai menjelaskan bahwa:

لو أعتقته حين ملكته كانا على نكاحهما

Artinya, “Jika ia memerdekannya terlebih dahulu budak yang dimilikinya, maka keduanya boleh menikah.”

Keterangan lain dinukil oleh Al-Qurthuby dari Abu Amir, disampaikan bahwa:

ولا يقل هذا أحد من فقهاء الأمصار؛ لأن تملكها عندهم يبطل النكاح بينهما، وليس ذلك بطلاق وإنا هو فسخ للنكاح؛ وأنها لو أعتقته بعد ملكها له لم يراجعها إلا بنكاح جديد ولو كانت في عدة منه

Artinya, “Lebih dari seorang, di antara para fuqaha amshar menyatakan pendapatnya tentang hal ini. Karena hal ini didasarkan bahwa kepemilikan seorang perempuan terhadap budak hukumnya adalah dapat membatalkan pernikahan di antara keduanya. Seandainya itu terjadi, pemisahan keduanya tidak disebabkan karena thalaq, melainkan sebab fasakh nikahnya. Jadi, andai perempuan itu memerdekakan budak itu setelah dimilikinya, maka tidak dibutuhkan kata ruju’, melainkan harus dengan nikah yang baru, meskipun hal itu terjadi di tengah masa ‘iddah perempuan tersebut karena fasakh nikah keduanya.” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23).

Walhasil, uraian di sini sudah cukup menjelaskan bahwa di kalangan ahli tafsir terdahulu, seperti Ibnu Katsir, As-Suyuthy, At-Thabary, dan Al-Qurthuby, seluruhnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan milkul yamiin adalah budak. Dari keempat mufassir tersebut menyatakan sepakat menyebut budak dalam pengertian umum. Namun, dalam pengertian khusus, Ibnu Katsir, As-Suyuthy dan At-Thabary sepakat menunjuk kepada makna budak yang diperoleh akibat perang. Sementara itu menurut Al-Qurthuby, sejauh yang dirujuk oleh penulis berdasar keterangan di atas, ia secara eksplisit menegaskan bahwa milkul yamin itu adalah budak (dalam pengertian umum).

Keseluruhan penafsiran yang disampaikan oleh mufassir di atas, seolah menunjukkan kesesuaian dengan semangat dari 10 ayat pertama dari Al-Qur’an Surat Al-Mukminun. Apalagi, bila hal ini dinisbatkan pada akhlaq Rasulullah SAW berdasarkan hadits Aisyah radliyallahu ‘anha. Dengan demikian, keluar dari apa yang diteladankan oleh Nabi di atas, khususnya berkaitan dengan soal penjagaan farji, termasuk tindakan yang melampaui batas, sehingga bisa disebut zina. At-Thabary menggarisbawahi dengan riwayat Abu Abdurrahman radliyallahu ‘anhu:

مَنْ زَنَى فَهُوَ عَادٍ.

Artinya, “Siapa yang berzina, maka dia telah melampaui batas syariat.” (At-Thabary, Tafsir At-Thabary, https://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=7&sourid=23). Wallahu a’lam bis shawab.
 
 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah - LBMNU PWNU Jawa Timur