IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Empat Hal yang Meracuni Hati

Selasa 10 September 2019 10:30 WIB
Share:
Empat Hal yang Meracuni Hati
Butuh ketekunan untuk menahan sejumlah hal untuk menjaga hati tetap sehat secara rohani. (Ilustrasi: harvard.edu)
Rasulullah ﷺ pernah menyatakan bahwa dalam tubuh kita ini ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh kita. Namun jika segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh tubuh kita. Segumpal daging dimaksud adalah hati. Demikian seperti yang diriwayatkan al-Bukhari. 
 
Berdasarkan hadits di atas, kita tahu bahwa baik-buruknya perilaku dan amal perbuatan kita sangat ditentukan oleh baik dan buruknya kondisi hati. Karena itu, kita dituntut untuk memperbaiki dan merawatnya. Untuk merawat hati agar tetap hidup, jernih, dan tidak rusak, dan tidak teracuni, para ulama telah memberikan beberapa rambu kepada kita. Di antaranya dengan menghindari empat hal berikut ini. 
 
Pertama, banyak bicara. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ yang menyatakan, “Siapa saja yang banyak bicaranya maka banyak kesalahannya. Siapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit wara’-nya. Siapa saja yang sedikit wara-nya, maka mati hatinya. Siapa saja yang mati hatinya, maka Allah haramkan surga untuknya.” 
 
Nabi Isa ‘alaihissalam pernah berpesan, “Sedikitlah bicara kecuali dengan berdzikir. Sebab, banyak bicara hanya akan mengeraskan hati.” 
 
Namun tentunya, maksud banyak bicara di sini adalah bicara yang tanpa makna, sedangkan bicara yang memberi manfaat dan hikmah justru sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan agar selalu bicara yang baik, bahkan anjuran itu dikaitkan dengan keimanan, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik-baik atau diam,” (HR Malik). (Lihat: Ibnu Abi ‘Ashim, al-Zuhd, Daru al-Rayyan: Kairo], 1408 H, hal. 38). 
 
Kedua, banyak makan, terlebih makanan yang haram. Para ulama menyatakan, di antara perkara yang dibenci adalah penuhnya perut dengan perkara halal. Ini artinya, diisi yang halal saja sudah dibenci, apalagi diisi dengan haram. 
 
Adapun rahasia larangan memenuhi perut, salah satunya yang dipesankan oleh Luqman al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku, jika perutmu penuh, maka pikiranmu akan tidur, hikmah jadi tertutup, dan anggota tubuh akan lemah dibawa ibadah.” 
 
Seorang ahli hikmah juga menuturkan, “Siapa saja yang banyak makannya, pasti banyak minumnya. Siapa saja yang banyak minumnya, pasti banyak tidurnya. Siapa saja yang banyak tidurnya, pasti banyak dagingnya (gemuk). Siapa saja yang banyak dagingnya, pasti keras hatinya. Siapa saja yang keras hatinya, maka ia akan tenggelam dalam kubangan dosa.” 
 
Ahli hikmah yang lain menyatakan, “Siapa yang banyak kenyang di dunia, maka ia akan banyak lapar di akhirat.” 
 
Karenanya, berbicara soal perut, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas,” (HR Ahmad). 
 
Ketiga, banyak bergaul dengan orang-orang buruk. Dikecualikan jika keyakinan dan akhlak kita sudah kuat, dan tujuan kita bergaul adalah memperbaiki akhlak mereka. Namun, sekiranya kita masih lemah, tinggalkanlah pergaulan dengan mereka. Sebab biasanya, bukan mereka yang berubah baik karena bergaul dengan kita, tetapi justru kita yang tergerus mereka. 
 
Sebaiknya, jika keyakinan dan karakter kita masih lemah, bersahabatlah dengan orang-orang saleh, terlebih persahabatan itu akan berlanjut hingga hari akhir. Salah satu hadits Rasulullah menyatakan, “Sesungguhkan engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai.” Artinya, jika seseorang cinta kepada orang saleh, maka kelak ia akan dibangkitkan bersama orang-orang saleh. Demikian pula sebaliknya. 
 
Luqman al-Hakim pernah berpesan kepada putranya, “Bergaullah dengan orang-orang saleh hamba Allah. Sebab, dari kebaikan-kebaikan mereka, engkau akan mendapatkan kebaikan. Boleh jadi, di akhir pergaulan dengan mereka, rahmat akan turun. Dan engkau mendapat rahmat itu bersama mereka. Wahai anakku, janganlah engkau bergaul dengan orang-orang buruk. Sebab, dengan bergaul dengan mereka, engkau tidak akan mendapat kebaikan. Boleh jadi di akhir pergaulan dengan mereka, siksaan turun kepada mereka. Dan engkau tertimpa siksaan itu bersama mereka.” (Ahmad ibn Hanbal, al-Zuhd, (Darul Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut], 1999, hal. 87). 
 
Dari bergaul dengan orang-orang saleh, diharapkan kita pun menjadi orang saleh. Sebab, orang saleh yang dijanjikan Allah akan beruntung, “Aku berjanji kepada hamba-hamba-Ku yang saleh dengan sesuatu yang belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga mana pun, dan belum pernah terbesit dalam hati siapa pun.” Demikian janji Allah kepada orang-orang saleh dalam salah satu hadits qudsi. 
 
Menjauhi orang-orang buruk dan mendekati orang-orang saleh ini tak lain demi menjaga hati kita agar tidak keruh dan terkotori. 
 
Keempat, banyak memandang. Ketahuilah bahwa pangkal segala keburukan adalah banyak memandang. Kendati tidak seluruhnya, namun umumnya berbagai keburukan dan kejahatan, seperti perzinaan, perkosaan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak, dimulai dari pandangan. Tentu saja pandangan-pandangan yang buruk, terlebih di zaman modern seperti sekarang ini dimana segala informasi dan gambar apa saja mudah diakses. Pandangan-pandangan buruk itulah yang kemudian bersarang dalam hati dan mengotorinya. Sedangkan jika hati sudah kotor, maka yang timbul adalah kemalasan, kekikiran, niatan-niatan jahat, kesombongan, sikap keras menerima nasihat, dan jauh dari kebaikan. 
 
Mengingat pentingnya menjaga atau menundukkan pandangan ini, maka Allah memerintahkannya langsung dalam Al-Quran, sebagaimana ayat berikut, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat',” (QS al-Nur [24]: 30). 
 
Bahkan perintah ini tidak hanya ditujukan kepada kaum laki-laki, tetapi juga kepada kaum perempuan, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya’,” (QS al-Nur [24]: 31).
 
Walau konteks ayat di atas adalah menjaga pandangan dari aurat, tetapi selayaknya diterapkan terhadap hal-hal negatif yang dapat melahirkan rasa iri, dengki, panas hati, mengundang syahwat, dan seterusnya. 
 
Demikian empat hal yang dapat meracuni hati. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mampu menghindarinya dan termasuk orang yang mampu menata hati menjadi lebih jernih. Wallahu a’lam
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi; Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
 
Share:

Baca Juga

Sabtu 7 September 2019 5:0 WIB
Arti Hijrah Menurut Syekh Ibnu Ajibah
Arti Hijrah Menurut Syekh Ibnu Ajibah
Hijrah sebagai perintah Al-Qur’an mengandung keutamaan luar biasa karena menuntut pengorbanan fisik, harta, dan mental sekaligus sebagaimana ibadah haji
Kata hijrah belakangan ini menjadi populer. Hijrah atau migrasi dalam arti fisik pernah menjadi unsur penting dalam keberislaman seseorang. Hijrah menandai awal dari kebangkitan Islam dalam berkontribusi bagi kemanusiaan.
 
Hijrah atau migrasi di zaman Rasulullah menjadi perintah wajib dari Kota Makkah, sebuah daerah “mati” yang sulit diharapkan bagi persemaian nilai-nilai Islam yang membawa rahmat semesta ke Kota Madinah, sebuah daerah harapan dan terbuka.

Hijrah sebagai perintah Al-Qur’an mengandung keutamaan luar biasa karena menuntut pengorbanan fisik, harta, dan mental sekaligus sebagaimana ibadah haji. Namun demikian, Rasulullah mengingatkan sahabatnya agar tidak mencederai hijrah sebagai ibadah mulia itu dengan niat atau kepentingan lain.

Ketulusan niat ini diingatkan oleh Rasulullah. Perihal ketulusan niat ini kemudian diulas oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berkut ini:
 
وانظر إلى قوله صلى الله عليه وسلم فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه فافهم قوله عليه الصلاة والسلام وتأمل هذا الأمر إن كنت ذا فهم

Artinya, “Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.’ Pahamilah sabda Rasulullah SAW ini. Renungkan perihal ini bila kau termasuk orang yang memiliki daya paham.”

Syekh Ibnu Ajibah RA lebih jauh mengulas pandangan Syekh Ibnu Athaillah. Menurutnya, hijrah merupakan migrasi tingkat tinggi, yaitu migrasi spiritual atau migrasi kerohanian. Ia menyebut tiga jenis hijrah atau migrasi spiritual tersebut. 
 
قلت الهجرة هي الانتقال من وطن إلى وطن آخر بحيث يهجر الوطن الذي خرج منه ويسكن الوطن الذي انتقل إليه وهي هنا من ثلاثة أمور من وطن المعصية إلى وطن الطاعة ومن وطن الغفلة إلى وطن اليقظة ومن وطن عالم الأشباح إلى وطن عالم الأرواح أو تقول من وطن الملك إلى وطن الملكوت أو من وطن الحس إلى وطن المعنى أو من وطن علم اليقين إلى وطن عين اليقين أو حق اليقين

Artinya, “Buat saya, hijrah itu migrasi dari satu ke lain daerah di mana seseorang meninggalkan tanah asalnya dan kemudian mendiami tanah tujuan. Hijrah atau migrasi ini terdiri atas tiga jenis, yaitu migrasi dari lapangan maksiat ke lapangan taat, dari lalai ke sadar, dan dari alam raga ke alam rohani. Atau dapat dikatakan migrasi dari alam malak ke alam malakut, dari lahiriah fisik ke makna, dan dari ilmul yakin ke ainul yakin atau haqqul yakin,” (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz I, halaman 73-74).

Menurut Syekh Ibnu Ajibah, orang yang berhijrah dari tiga tempat asal tersebut ke tiga tempat tujuan dengan maksud mengharapkan ridha Allah dan rasul-Nya atau dengan maksud makrifatullah dan rasul-Nya, maka aktivitas hijrah itu akan mengantarkannya pada Allah dan rasul-Nya sesuai maksud dan tekadnya.

Adapun orang yang berhijrah menuju hawa nafsunya, maka maksud dan upayanya akan sia-sia. Akhir dari hijrahnya adalah hawa nafsu itu sendiri sebagai tempat berlabuh sehingga aktivitas hijrahnya itu menambah sebab celaka baginya.

Syekh Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa hijrah merupakan persoalan keikhlasan niat. Hanya dengan keikhlasan itu, hijrah memiliki makna bagi seseorang sehingga seseorang dapat mengecap makrifatullah dan ridha-Nya.

Hijrah dalam pengertian hadits Rasulullah SAW yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu Athaillah dan Syekh Ibnu Ajibah menekankan ketulusan niat, jauh dari sekadar perubahan lahiriah, yaitu cara berpakaian, cara berpenampilan, dan perilaku berlebihan yang serba formal dalam beragama yang pada giliran tertentu perilaku ekstrem seperti mengenakan pakaian yang dianggap islami, menggunakan bahasa yang dinilai islami, meninggalkan profesi yang dianggap tidak islami seperti karyawan bank, aktor, atau musisi, atau mengampanyekan ideologi negara yang dianggap islami.

Syekh Ibnu Ajibah–mengutip Syekh Yazidi–menawarkan cara untuk menguji ketulusan hijrah seseorang. Untuk menguji apakah hijrah seseorang berjalan di tempat, yaitu hawa nafsu duniawi atau benar-benar hijrah kepada Allah, ia menganjurkan seseorang untuk menghadapkan semua hawa nafsu duniawinya di depannya. Jika ia masih menginginkannya, maka niat hijrahnya masih problematis.

“Allah itu cemburuan. Ia tidak senang kalau Dia sebagai tujuan hijrah disusupi hawa nafsu dan kepentingan lain di luar diri-Nya. Orang yang masih menyisakan selain Allah di dalam hatinya tidak akan pernah sampai kepada-Nya,” (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz I, halaman 74).

Hijrah fisik dari Makkah ke Madinah tidak ada lagi sebagaimana sabda Rasulullah SAW karena pergeseran sistem nilai dan perubahan sosial di Kota Makkah yang tidak ada bedanya lagi dengan Kota Madinah. Tetapi hijrah dalam pengertian migrasi spiritual yang berbentuk penataan hati dan niat tetap diperintahkan dalam Islam. Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)
 
Sabtu 31 Agustus 2019 12:15 WIB
Pola dan Cara Makan Rasulullah (3)
Pola dan Cara Makan Rasulullah (3)
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi makanan dengan siapa saja.
Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan sembilanbelas pola dan cara makan Rasulullah ﷺ Di antaranya tak mencela makanan, makan dengan tangan kanan, membaca basmalah sebelum makan, makan dengan tiga jari, tidak duduk bersandar, dan sebagainya. Kali ini akan dipaparkan sejumlah pola dan cara makan Rasulullah ﷺ lainnya.
Kedua puluh, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak mengambil napas atau mengeluarkannya dalam gelas minum, sebagaimana dalam hadits, “Jika salah seorang kalian minum, maka janganlah bernapas di dalam gelas. Namun, jauhkanlah gelas itu dari mulutnya,” (HR Ibnu Majah). 
 
Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang mengambil atau mengeluarkan napas dalam gelas minum (HR al-Tirmidzi). Dalam riwayat selanjutnya, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ juga melarang mengeluarkan napas pada makanan dan minuman kecuali ada kebutuhan (HR Ahmad dan al-Thabrani). 
 
Kemudian jika minum dengan satu napas tidak puas, lakukan sampai tiga kali, selain cara itu lebih mampu menghapus rasa haus. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa di saat minum, Rasulullah ﷺ mengambil napas sampai tiga kali. Beliau juga bersabda, “Cara ini lebih baik dan lebih mampu menghilangkan rasa haus,” (HR Ahmad). 
 
Ibnu al-Qayyim berkomentar, maksud bernapas saat minum adalah memisahkan gelas dari mulut lalu mengambil napas di luar gelas. Lalu kembali menempelkan gelas pada mulut. 
 
Hal itu juga pernah ditanyakan oleh seorang pria, “Wahai Rasul, aku tidak merasa puas minum dengan satu napas.” Beliau menjawab, “Pisahkanlah gelas air minummu dari mulut, lalu ambillah napas,” (HR al-Baihaqi). 
 
Kedua puluh satu, makan dan minumlah dengan tidak berlebihan (HR Ibnu Majah). Hal ini juga sudah diperingatkan dalam Al-Qur’an, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, (QS al-A’raf [7]:31). 
 
Kedua puluh dua, melumat sisa-sia makanan yang masih menempel pada jari-jari. Hal ini diriwayatkan oleh Anas. Riwayat ini menyebutkan bahwa bila makan sesuatu, Rasulullah ﷺ selalu melumat ketiga jarinya (HR al-Tirmidzi).
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Ketika salah seorang dari kalian makan, maka lumatlah (semua) jari-jarinya. Sebab dia tidak tahu di jari manakah keberkahan itu berada,” (HR Muslim). 
 
Dijelaskan oleh Ibnu Hajar, keberkahan itu tidak diketahui di jari yang mana ia berada. Karena itu, hendaknya seseorang melumat seluruh jarinya secara berurutan. Ketiga jarinya dilumat sampai tiga kali (jika makannya dengan tiga jari). Dimulai dari jari tengah, sebab ia paling panjang jadi mungkin paling kotor dan paling banyak makanan yang menempel. Setelah itu, jari telunjuk, lalu ibu jari. Dan itu bukan perbuatan yang kotor, sebagaimana anggapan sebagian orang (lihat: Asyraf al-Wasa’il, h. 203). 
 
Kedua puluh tiga, jika dibawakan makanan oleh seseorang atau mungkin oleh pelayan, hendaknya kita menerima makanan itu dengan senang hati dan menikmatinya. Jika perlu ajak pula ia memakannya. Kendati ia tidak mau duduk bersama kita, ambillah satu atau dua suap makanan darinya sebagai penghormatan, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah ﷺ, “Jika pelayanmu datang membawa makanan maka terima dan nikmatilah. Duduklah engkau bersamanya. Jika engkau tidak duduk bersamanya, maka ambillah satu atau dua suap darinya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh empat, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi makanan dengan siapa saja, sebagaimana sabdanya, “Jika kalian memasak dalam sebuah wajan, maka perbanyaklah airnya agar tetangga kalian dapat turut menikmatinya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh lima, hendaknya kita menghabiskan makanan yang sudah dalam piring kita. Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah terkejut karena al-tsufl. Maksud dari al-tsufl adalah makanan yang tersisa (HR Ahmad dan al-Hakim). 
 
Kedua puluh enam, Rasulullah ﷺ mengajarkan bilamana makanan kita terkena lalat, maka celupkanlah seluruh lalat itu, “Ketika ada lalat masuk ke dalam minuman kalian, maka celupkanlah seluruh tubuh lalat itu lalu angkat kembali. Sebab, dalam salah satu sayapnya ada penyakit, sedangkan pada sayap yang lain ada penawarnya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh tujuh, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita agar menghindari makanan-makanan berbau, seperti bawang, kecuali setelah dimasak sempurna sehingga hilang baunya. “Siapa yang makan bawang merah atau bawang putih, hendaklah dia menjauhi kami, menjauhi masjid kami, dan tetap berada di rumahnya,” (HR al-Bukhari). 
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Siapa yang makan sayuran ini, yakni bawang merah, bawang putih, dan bawang bakung, hendaklah dia tidak mendekati masjid kami. Sebab para malaikat terganggu seperti halnya terganggunya keturunan Adam,” (HR Muslim). 
 
Dalam riwayat berikutnya, beliau bersabda, “Siapa yang makan keduanya, maka sempurnakanlah memasaknya.” (HR Abu Dawud). 
 
Selain masjid, juga tentu tempat-tempat umum atau keramaian lainnya, seperti pasar, tempat resepsi, dan sebagainya. 
 
Demikian pula semua makanan yang beraroma tidak sedap dan mengganggu orang banyak dapat diperlakukan seperti bawang merah dan bawang putih. Contohnya jengkol dan petai (lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353). Wallahu‘lam ‘alam
 
Bersambung....
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 

 
Sabtu 31 Agustus 2019 9:15 WIB
Pola dan Cara Makan Rasulullah (4-Habis)
Pola dan Cara Makan Rasulullah (4-Habis)
Rasulullah mencontohkan bila menggilir makanan atau minuman kepada orang lain, maka dirinya mengambil giliran yang terakhir.
Jika pada tulisan sebelumnya telah disampaikan bahwa beliau melarang makan dengan tangan kiri, melarang mencela makanan, melarang mengacak makanan, dan seterusnya, maka pada bagian ini akan disampaikan bagaimana beliau menyudahi makannya. 
Kedua puluh delapan, Rasulullah ﷺ melarang makan atau minum sambil berdiri kecuali dalam keadaan darurat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Sa‘id. Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ melarang minum sambil berdiri (HR. Muslim).
 
Bahkan, dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, siapa saja yang lupa makan atau minum sambil berdiri, disuruh memutahkannya, “Siapa saja yang lupa, maka muntahkanlah.” (HR Muslim). 
 
Kedua puluh sembilan, Rasulullah ﷺ mencontohkan bila menggilir makanan atau minuman kepada orang lain, maka dirinya mengambil giliran yang terakhir. Abdullah ibn Ubayy Aufa menuturkan, “Sewaktu bersama Rasulullah saw, para sahabat kehausan. Beliau pun memberikan minum kepada mereka. Salah seorang sahabat bertanya, ‘Apakah engkau tidak minum, wahai Rasul?’ Dijawabnya, ‘Pemberi mimum suatu kaum adalah yang paling terakhir,’” (HR al-Baihaqi). 
 
Ketiga puluh, yang makan makanan kita adalah orang-orang yang saleh. Sebab, selain sebagai bentuk syukur, juga tentu akan menolong ketaatan mereka. Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hendaklah yang makan makanan kalian adalah orang yang baik, orang yang sedang berbuka puasa, dan orang yang bershalawat.” 
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manusia, tidak dianggap bersyukur kepada Allah,” (HR al-Hakim). 
 
Ketiga puluh satu, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar selalu membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di mulut, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Siapa saja yang makan suatu makanan dan mendapati sisa-sisanya dari mulut, maka buanglah segera. Dan jika makanan itu masih bisa terkunyah, maka telanlah. Siapa saja yang melakukannya, itu lebih baik. Dan siapa saja yang tidak melakukannya, maka tidak ada salahnya.”
 
Ketiga puluh dua, bersiwak setelah makan. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersiwak itu membersihkan mulut dan menarik keridaan Tuhan,” (HR al-Nasai). 
 
Ketiga puluh tiga, mencuci tangan setelah makan. Nabi ﷺ menyatakan, “Siapa yang tidur di malam hari, sedangkan dalam tangannya terdapat kotoran, (seperti bekas lemak) maka dia akan ditimpa sesuatu. Dan janganlah dia menyalahkan siapa-siapa kecuali kepada dirinya sendiri.” 
 
Ketiga puluh empat, berdoa setelah makan, sebab hal itu mengundang ampunan dari Allah swt. Itu pula yang diajarkan dan biasa dilakukan Rasulullah ﷺ, sebagaimana dalam sabdanya, “Siapa saja yang makan suatu makanan, lalu membaca doa berikut: 
 
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
 
"Segala puji hanya milik Allah, Zat yang telah memberikan makanan ini kepadaku dan memberikanya sebagai rezeki bagiku tanpa daya dan kekuatan dariku." 
 
Maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu,” (HR Abu Dawud). 
 
Usai makan, beliau juga selalu berdoa dengan doa ini: 
 
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ، مَنَّ عَلَيْنَا فَهَدَانَا، وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكُلَّ بَلَاءٍ حَسَنٍ أَبْلَانَا . الْحَمْدُ لِلَّهِ غَيْرَ مُوَدَّعٍ رَجَاءَ رَبِّي وَلَا مُكَافَئٍ وَلَا مَكْفُورٍ ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ . الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ مِنَ الطَّعَامِ، وَسَقَى مِنَ الشَّرَابِ، وَكَسَى مِنَ الْعُرْيِ، وَهَدَى مِنَ الضَّلَالَةِ ، وَبَصَّرَ مِنَ الْعَمَى، وَفَضَّلَ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَهُ تَفْضِيلًا . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
 
"Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang selalu memberi makanan dan tak pernah diberi makanan, Dzat yang telah memberi anugerah kepada kami, lalu memberi petunjuk, Dzat yang telah memberi makanan dan minuman kepada kami, Dzat yang telah memberikan ujian yang baik kepada kami. Segala puji hanya Allah, dengan pujian yang tidak pernah berakhir, dengan penuh harapan kepada Tuhanku, dengan pujian yang tak tertandingi, pujian yang tak bisa diingkari. Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah memberikan makanan dan minuman, Dzat yang telah memberi pakaian kepada hamba yang telanjang, Dzat yang telah memberikan petunjuk dari kesesatan, Dzat yang telah memberikan penglihatan kepada hamba-Nya yang tunanetra, Dzat yang telah memberikan banyak karunia kepada makhluk yang telah dicipta-Nya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam" (HR al-Baihaqi). 
 
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menyabdakan, “Sesungguhnya Allah akan senantiasa rida kepada hamba-Nya yang apabila menyantap suatu makanan, dia lalu memuji-Nya atas nikmat makanan tersebut. Dan apabila minum suatu minuman, dia memuji-Nya atas nikmat minuman tersebut,” (HR Muslim). Wallahu a’lam. Inilah bagian akhir tentang pola dan cara makan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ Semoga bermanfaat (Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353). Wallahu a’lam
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.