IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Memilih Bahagia atau Sedih di Hari Asyura?

Selasa 10 September 2019 23:15 WIB
Share:
Memilih Bahagia atau Sedih di Hari Asyura?
Tanggal 10 Muharram menyimpan sejarah kesedihan dan kebahagiaan sekaligus. (Ilustrasi: masrawy.com)
Hari Asyura mempunyai sejarah panjang. Di antaranya adalah momen diselamatkannya Nabi Musa bersama kaum Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Saat itu Nabi Musa diperintah Allah memukulkan tongkat yang biasa ia gunakan untuk berjalan dan menggembala kambing ke laut. Dengan berbekal tawakkal penuh, tiba-tiba terbelahlah  lautan menjadi daratan atas izin Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah Nabi Musa lewat, Fir’aun dan tentaranya pun ikut mengejar, tapi Allah berkehendak menutup jalan dan kembali menjadikan lautan sebelum Fir’aun melewatinya. Dengan demikian, Nabi Musa bersama sahabat-sahabatnya selamat, sedangkan musuh-musuhnya celaka.
 
 
Atas kebahagiaan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ meluapkan kebahagiannya di antaranya dengan cara berpuasa. Sebagian ulama mengatakan “Barangsiapa yang berbahagia atas terlematkannya Nabi Musa dari musuh-musuh, maka dia adalah orang yang benar. Karena para Nabi dan Rasul diberi keselamatan pada hari tersebut.”
 
Sebuah hadits merekam cara Nabi mengisi peringatan keselamatan Nabi Musa dari Fir’aun:
 
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
 
Artinya: “Nabi Muhammad ﷺ datang ke kota Madinah. Beliau kemudian melihat orang Yahudi puasa pada hari Asyura’. Lalu Rasul bertanya ‘Ada kegiatan apa ini?’ Para sahabat menjawab ‘Hari ini adalah hari baik yaitu hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka kemudian Nabi Musa melakukan puasa atas tersebut.’ Rasul lalu mengatakan ‘Saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian’. Nabi kemudian berpuasa untuk Asyura’ tersebut dan menyuruh pada sahabat menjalankannya” (HR Bukhari: 2004).
 
Di sisi lain, pada hari Asyura’ atau 10 Muharram ini terdapat kejadian yang memilukan dan menyedihkan yaitu terbunuhnya Sayyidina Husain radhiyallahu anhu, seorang cucu Nabi Muhammad ﷺ. Kepalanya dipenggal oleh musuh-musuhnya pada hari itu. Siapa yang tidak sedih mengenang tokoh mulia dihabisi nyawanya dengan cara yang amat keji? Karena itu, bersedih hati pada hari Asyura’ atas meninggalnya Husain juga memiliki relevansi dari sisi sejarah, bahkan berhubungan dengan kecintaan pada Rasulullah ﷺ. Yang berbahaya adalah ketika ada orang yang berbahagia atas wafatnya Sayyidina Husain dan bersedih atas terselamatkannya para nabi.
 
Hanya saja, menurut tarekat Bani Alawi, jika pada hari yang sama terdapat kebahagiaan dan kesedihan, maka al-farah yaghlibul huzn (kebahagiaan mengalahkan kesusahan). Hal ini berdasarkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal yang merupakan hari lahir dan sekaligus hari meninggalnya Baginda Rasulullah ﷺ. Kita semua merayakan tanggal 12 Rabiul Awal tidak karena merayakan meninggalnya Rasul, tapi merayakan hari lahir Rasulullah. 
 
Oleh karena itu, kita diajarkan Rasulullah ﷺ jika dalam sehari kita mendapatkan kebahagiaan dan kesusahan maka kita lebih didorong untuk mengingat kebahagiaan.
 
 
Di Tarim ada sebuah tempat yang dikenal sebagai pekuburan seribu wali. Wali Quthubnya ada 80 orang. Berapa wali yang meninggal di tanggal dan bulan yang sama? Bila setahun ada 365 hari maka niscaya hari-hari kita bakal penuh dengan ratapan kesedihan ketimbang tawa gembira. 
 
Andai seseorang berbahagia pada hari Senin, ketahuilah Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Alwi Ba Alawi wafat di hari itu. Selasa adalah meninggalnya Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dan Rabu merupakan hari wafatnya Imam Dasuqi. Apabila seperti ini, kita akan selalu mengalami kebingungan, tidak akan pernah merasakan kesenangan. Belum lagi wafatnya para nabi yang jumlahnya 124 ribu. Tentu akan amat merepotkan. 
 
Orang mulia yang meninggal secara tragis tidak hanya Sayyidina Husain. Banyak pula nabi yang wafat dalam keadaan terbunuh. Nabi Zakariya meninggal terbunuh. Bahkan Nabi Yahya meninggal setelah kepalanya dipenggal menjadi dua.
 
Sangat wajar bila sejarah meninggalnya Sayyidina Husain menyisakan bekas kesedihan. Namun di sana terselip kebanggaan karena beliau meninggal dalam keadaan syahid. Cucu Rasulullah itu menutup masa hidupnya dalam kondisi membela kebenaran sampai titik darah terakhir. Sejarah itu memuat pelajaran-pelajaran berharga. Peristiwa-peristiwa buruk penting untuk diingat, bukan untuk memelihara dendam, melainkan agar tak terulang.
 
Walhasil, karena berkumpulnya peristiwa sedih dan bahagia sekaligus pada momen Asyura maka—menurut tarekat Bani Alawi—seseorang dianjurkan untuk mengutamakan kebahagiaan, tanpa mengurangi sedikit pun penghormatan pada Sayyidina Husain.
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang
 
 
Disarikan dan dikembangkan dari ceramah Habib Jamal bin Thoha Baaqil, Senin, 9 September 2019 di Masjid Al-Huda, Embong Arab, Malang. 
 
Share:

Baca Juga

Selasa 10 September 2019 13:0 WIB
Hadits Shahih tentang Amalan Hari Asyura
Hadits Shahih tentang Amalan Hari Asyura
Amalan yang tak ada landasan hadits shahihnya tak selalu berarti haram. Vonis hukum melewati logika yang lebih kompleks dari ini.
Hari Asyura’ adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram (berasal dari kata ‘asyr yang berarti sepuluh). Dalam sebuah hadits shahih dikatakan, pada hari itu dahulu Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya. Sebagian masyarakat Jawa menyebut bulan Muharram dengan nama bulan ‘Suro’ dengan mengambil nama hari penting pada bulan Muharrram tersebut: Asyura’. 
 
Bulan Muharram adalah satu di antara empat bulan mulia yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada masa Rasulullah ﷺ, peperangan pun harus dihentikan demi menghormati bulan-bulan itu, termasuk Muharram. Barangsiapa yang melakukan kebaikan pada bulan-bulan tersebut, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wata’ala, dan sebaliknya, perilaku maksiat pada bulan-bulan itu, siksanya juga dilipatgandakan.
 
وَمَعْنَى الْحُرُمِ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهَا أَشَدُّ عِقَابًا، وَالطَّاعَةَ فِيهَا أَكْثَرُ ثَوَابًا،
 
Artinya: “Yang dimaksudkan dengan bulan-bulan yang dimuliakan di sini, sesungguhnya maksiat dalam bulan ini siksanya lebih berat, dan menjalankan ketaatan di dalam bulan ini pahalanya dilipatgandakan” (Fakhruddin ar-Razi, Tafsir Ar-Râzi, [Daru Ihya’ at-Turats al-Arabiy: Beirut, 1420 H], juz 16, halaman 14).
 
Dengan adanya pelipatgandaan pahala seperti ini, dalam rangka menghormati bulan Muharram, misalnya, sebagian masyarakat menelan mentah-mentah informasi tentang keutamaan-keutamaan beribadah pada hari Asyura’, sehingga terkadang ada hadits yang munkar sekalipun disebarkan kepada masyarakat. Ini tidak benar. Ada pula yang karena saking anti terhadap hadits lemah, semua informasi hadits walaupun itu dhaif, ditolak semuanya.
 
Ahlussunah tidak terlalu ceroboh sebagaimana kelompok yang pertama dan tidak ekstrem sebagaimana yang kedua. Ahlussunnah berpandangan bahwa dalam menentukan halal-haram (hukum agama) harus berdasarkan hadits shahih. Namun apabila untuk pendorong amal ibadah, hadits dhaif boleh digunakan asalkan tidak sampai maudhu’ (palsu). 
 
Mengisi bulan Asyura dengan berbagai macam ibadah sebagai bentuk kebahagiaan atas kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada orang-orang shalih terdahulu, selama tidak bertentangan dengan syari’at tentu hukumnya sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah meyakini jika amalan tersebut dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ sedangkan Nabi tidak mengajarkannya. Namun pada prinsipnya beramal baik di hari yang baik nilainya akan baik asalkan tidak sampai meyakini bahwa hal ini dicontohkan secara khusus oleh Nabi Muhammad ﷺ apalagi sampai menyebarkannya kepada masyarakat. Kedua hal terakhir tersebut tidak diperbolehkan. 
 
Contoh hadits tak shahih seputar Muharram adalah hadits tentang memakai celak (penggaris mata) pada hari Asyura yang masyhur di tengah masyarakat. Kaum Ahlussunah harus fair bahwa sumber hadits tersebut tidak jelas alias maudhu’ sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Muhammad Mahmud al-Hanafi dalam Umdatul Qari’ Syarah Shahih al-Bukhari menyebutkan:
 
النَّوْع السَّادِس: مَا ورد فِي صَلَاة لَيْلَة عَاشُورَاء وَيَوْم عَاشُورَاء، وَفِي فضل الْكحل يَوْم عَاشُورَاء لَا يَصح، وَمن ذَلِك حَدِيث جُوَيْبِر عَن الضَّحَّاك عَن ابْن عَبَّاس رَفعه: (من اكتحل بالإثمد يَوْم عَاشُورَاء لم يرمد أبدا) ، وَهُوَ حَدِيث مَوْضُوع،
 
Artinya: “Nomor enam: Hadits yang menjelaskan tentang malam Asyura’ dan hari Asyura’, dan dalam keutamaan memakai celak pada hari Asyura’ tidak shahih. Di hadits tersebut terdapat informasi dari Juwaibir dan al-Dhahhak dari Ibnu Abbas yang dianggap marfu’ dengan konten ‘Barangsiapa memakai celak pada hari Asyura’ tidak akan terjangkiti penyakit beleken selamanya’. Hadits ini maudhu’ (palsu).”
 
Dengan adanya hadits-hadits demikian, masyarakat perlu menyeleksi mana hadits yang shahih, dhaif maupun yang maudhu’.Yang perlu diberikan pemahaman secara utuh kepada masyarakat bahwa dhaif itu bukan maudhu’ dan maudhu' bukan dhaif. Apabila derajatnya baru dhaif, sebagaimana yang masyhur dalam ilmu hadits, ahlus sunnah berpendapat tetap boleh diamalkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan amal (fadhailul a’mal). Namun jika sudah dinyatakan palsu, harus dibuang jauh-jauh. 
 
Tentang Asyura’, penulis menemukan tiga kriteria hadits. Ada yang sepakat shahih karena diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari, ada yang dhaif, ada pula yang maudhu’
 
 
Yang sepakat shahih adalah tentang disunnahkannya puasa Asyura tapi tidak dengan bumbu pahala yang bombastis. Misalnya puasa sehari mendapatkan pahala sekian ratus tahun puasa. Penulis belum menemukan dalil pahala yang bombastis tersebut. Dari keshahihan hadits puasa Asyura, bahkan Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih al-Bukhari sampai membuat satu bab khusus yang menyebutkan hadits-hadits puasa Asyura’ dengan judul Bab Shiyam Yaumi Asyura’. Berarti puasa Asyura sunnahnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Berikut contoh hadits di dalam shahih Bukhari dari Ibnu Abbas yang juga masyhur di tengah masyarakat: 
 
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
 
Artinya: “Nabi Muhammad ﷺ datang ke kota Madinah. Beliau kemudian melihat orang Yahudi puasa pada hari Asyura’. Lalu Rasul bertanya ‘Ada kegiatan apa ini?’ Para sahabat menjawab ‘Hari ini adalah hari baik yaitu hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka kemudian Nabi Musa melakukan puasa atas tersebut.’ Rasul lalu mengatakan ‘Saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian’. Nabi kemudian berpuasa untuk Asyura’ tersebut dan menyuruh pada sahabat menjalankannya.” (HR Bukhari: 2004) 
 
Puasa Asyura’ awalnya diperintahkan Nabi sebelum ada kewajiban puasa Ramadhan. Setelah disyariatkannya puasa Ramadhan, Nabi memberi kebabasan bagi siapa saja yang ingin menjalankan dan bagi siapa saja yang ingin meninggalkan. Hadits ini diriwayatkan dari Aisyah, istri Nabi Muhammad ﷺ : 
 
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
 
 Artinya: “Puasa Asyura’ adalah puasa yang dilakukan oleh orang Quraisy pada zaman jahiliyyah dan Rasulullah ﷺ juga melakukan puasa pada hari itu. Ketika Nabi datang ke Madinah juga melakukan puasa dan menyuruh para sahabat menjalankan puasa Asyura’. Namun ketika puasa Ramadhan mulai diwajibkan, Nabi meninggalkan puasa Asyura’. Maka barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan, dan siapa saja yang ingin meninggalkan, juga silakan,” (HR Bukhari: 2002).
Masih ada beberapa hadits yang menyebutkan tentang puasa Asyura’. Namun, sekali lagi, jangan salah paham bahwa bila tak bersumber dari hadits shahih maka sudah pasti haram dilaksanakan, apalagi seolah-olah tindakan kriminal. Kriminalisasi ibadah seperti hal tersebut tidak tepat. Hadits dhaif itu tidak selalu dhaif sesuai kesepakatan ulama. Terkadang, dhaif menurut ulama ahli hadits satu, tapi shahih menurut ulama ahli hadits lainnya. Jadi, urusan dhaif-tidaknya sendiri kita tidak bisa gegabah memberi penilaian. 
 
Kesimpulannya, amalan yang dilaksanakan masyarakat di Indonesia sangat beragam. Selama amalan tersebut baik, tidak bertentangan syariat, dan terlebih apabila tidak ada dasarnya dari hadits shahih maupun dhaif, asalkan tidak diyakini sebagai perilaku khusus bulan Muharram yang dicontohkan Nabi, hukumnya tetap boleh dijalankan. Tradisi amalan baik itu seperti santunan yatim piatu, mengunjungi orang tua, membahagiakan keluarga. Dari segi substansi kegiatannya itu sendiri, semua amalan tersebut adalah sunnah. Sebab, tanpa menunggu 10 Muharram pun, amalan itu sudah disunnahkan. Lalu mengapa kalau dilaksanakan pada 10 Muharram dihukumi bid’ah? Sebuah vonis aneh yang terkadang dilancarkan oleh sebagian kelompok.
 
Namun apabila amalan yang dilakukan jelas-jelas bertentangan dengan syariat, sudah seharusnya ditinggalkan.
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang
 
Jumat 23 Agustus 2019 9:0 WIB
14 Tanda Orang Bahagia Dunia-Akhirat
14 Tanda Orang Bahagia Dunia-Akhirat
Kebahagiaan utuh dicapai dengan penghambaan total kepada Allah, berbuat baik kepada sesama dan alam sekitar. (Ilustrasi: Shutterstock)
Segala sesuatu pasti ada tandanya. Demikian pula orang-orang yang akan bahagia di akhirat kelak. Bahkan, tidak hanya di akhirat, di dunia pun mereka akan berbahagia. Berkenaan dengan tanda-tanda ini, Allah telah mengungkapnya dalam Al-Qur’an.         
 
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya," (QS al-Mukminun [23]: 1-9).  
 
Selain itu, Syekh al-Samarqandi dalam Tanbih al-Ghafilin juga menyebutkan 11 tanda orang yang akan berbahagia. Sebagian di antaranya sama dengan tanda yang telah disebutkan dalam ayat di atas. Sehingga bila dipadukan, jumlahnya menjadi 14 tanda. (Lihat: Tanbih al-Ghafilin, [Surabaya: Harisma], hal. 70). Namun, keempat belas tanda ini tidak serta merta berdiri sendiri kecuali di atas keimanan yang kokoh dan ketakwaan yang kuat.  
 
Pertama, senantiasa memelihara shalat lima waktu dengan khusyu’. Hal ini juga sejalan dengan perintah Allah dalam ayat yang lain, "Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu," (QS al-Baqarah [2]: 238). 
 
Perintah ini pun tak bisa disepelekan karena shalat merupakan amal hamba yang pertama kali dihisab atau dipertanggungjawaban pada hari Kiamat. Usai amal shalatnya diperiksa, barulah amal-amal yang lain.    
 
Kedua, menjaukan diri dari hal-hal yang tidak berguna, baik dalam tindakan maupun dalam pembicaraan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatakan, “Di antara tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tak bermakna,” (HR Ahmad). 
 
Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga berpesan, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik-baik atau diam,” (HR Malik).
 
Ketiga, menunaikan zakat bila harta sudah mencapai nisab, baik zakat fitrah maupun zakat harta. Kendati belum mampu berzakat, masih bisa bersedekah, berhibah, berinfak, berwakaf, memberi hadiah, menyumbang, dan seterusnya.  
 
Keempat, menjaga kemaluan kecuali kepada pasangan yang sah. Sayangnya, menjaga kemaluan ini sudah banyak diabaikan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan ancamannya, “Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah, setelah syirik, kecuali dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya pada rahim wanita yang tidak halal baginya,” (Ibnu Abi al-Dunya).    
 
Kelima, selalu menjaga amanat yang diberikan dan janji yang telah disampaikan. Amanat sendiri mencakup semua yang telah diberikan Allah untuk dipertanggungjawabakan, seperti usia, harta, ilmu, jabatan, keluarga, keturunan, dan sebagainya.  
 
Keenam, zuhud terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat. Ia menyadari bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada kehidupan dunia. Karena itu, segala sesuatu yang ia lakukan diorientasikan untuk kehidupan akhirat. Namun, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai sarana meraih kebahagiaan yang lebih besar dan abadi. Sedangkan dunia yang sekiranya mencelakakan dan tak akan mengantarkan kepada kebahagiaan akhirat ditinggalkan.        
 
Ketujuh, mencurahkan seluruh perhatiannya kepada ibadah dan membaca Al-Qur’an. Apa pun yang dilakukannya harus bernilai ibadah. Mulai dari mencari nafkah, menikah, mengurus keluarga, mendidik anak, makan, minum, sampai tidur, dilakukan dan diniatkan dengan tulus agar bernikai pahala di sisi Allah. Apalagi amaliah yang berbentuk ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, dan sebagainya. Tidak ada waktu luang kecuali diisi dengan hal-hal bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an. Ia sadar Al-Qur’an kelak akan memberi syafaat atau pertolongan bagi pembacanya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bacalah Al-Qur’an oleh kalian! Sebab, pada hari Kiamat ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi pemilik (pembaca)-nya,” (HR Ahmad).
 
Mengutip pernyataan Abdullah ibn Abi Zakariya, Ibnu Abi Ashim menuturkan, orang yang banyak bicaranya, banyak kesalahannya. Orang yang banyak kesalahannya, sedikit sifat wara‘-nya. Orang yang sedikit sifat wara‘-nya, mati hatinya. Orang yang mati hatinya, diharamkan Allah ke dalam surga.    
 
Kedelapan, bersikap wara’ atau berhati-hati dari segala perkara haram, baik yang banyak maupun yang sedikit. Jangankan yang haram, yang halal pun sudah dibatasi dan syubhat sudah dihindari. Dalam hadis disebutkan, siapa pun yang menjauhi perkara syubhat, sejatinya telah membebaskan agama dan kehormatan dirinya. Sebab, orang yang telah berani mengambil perkara syubhat akan terjatuh kepada perkara haram.     
 
Kesembilan, bersahabat dengan orang-orang saleh. Bahkan, persahabatan ini juga akan berlanjut hingga hari akhir. Salah satu hadis Rasulullah menyatakan, “Sesungguhkan engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai.” Artinya, jika seseorang cinta kepada orang saleh, maka kelak ia akan dibangkitkan bersama orang-orang saleh. Demikian pula sebaliknya.    
 
Selain itu, bersahabat dengan orang-orang saleh juga termasuk pelembut dan pengobat hati. Sementara pelembut hati lainnya adalah membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan, sering berpuasa mengosongkan perut, senantiasa bangun malam, dan merendahkan diri kepada Allah di waktu sahur.   
 
Kesepuluh, bersikap tawaduk, rendah hati, dan tidak sombong. Sungguh jelas apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadisnya, “Siapa saja yang ruhnya meninggalkan jasad, dalam keadaan terbebas dari tiga hal, maka ia masuk surga. Ketiganya adalah kesombongan, kedengkian, dan hutang,” (HR al-Darimi). 
 
Dalam hadis lain ditegaskan, tidaklah seseorang meninggal dan dalam hatinya ada sifat sombong walau hanya seberat biji sawi, maka ia tidak halal mencium aroma surga. 
 
Kesebalas, bersikap murah hati dan dermawan. Sebab, orang yang murah hati itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan sesama manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari sesama, dan dekat dengan api neraka. Sehingga orang jahil yang dermawan lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang kikir. Dengan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat, sebagaimana yang diriwayatkan al-Tirmidzi. 
 
Keduabelas, bersikap penyayang kepada sesama makhluk Allah. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayang oleh mereka yang ada di langit.” Dan yang lebih istimewa, orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Dzat yang maha penyayang. 
 
Ketigabelas, memberi manfaat kepada sesama makhluk. Sungguh mulia orang yang selalu memberi manfaat kepada sesama. Selain dicap sebagai manusia terbaik, juga dimasukkan ke dalam golongan hamba yang paling dicintai Allah. Ingatlah, amal yang paling dicintai Allah adalah memberikan kebahagiaan kita berikan kepada seorang muslim, bantu meringankan kesulitannya, melunasi hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Bila aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi satu kebutuhannya, maka lebih aku sukai daripada beri'tikaf di masjidku (Masjid Nabawi) selama satu bulan. Siapa saja yang berjalan bersama saudaranya dalam satu kebutuhannya, hingga ia siap membantunya, maka Allah akan menetapkan telapak kakinya pada hari dimana banyak telapak kaki tergelincir,” (HR al-Thabrani). 
 
Keempatbelas, selalu mengingat kematian, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kenikmatan,” yakni: kematian. 
 
Mari kita bandingkan mereka yang lalai kepada kematian dan mereka yang ingat kepada kematian. Mereka yang lalai umumnya malas dalam beribadah, ceroboh dalam bertindak, tak peduli akan kewajiban sendiri dan hak orang lain, tak pandang bulu dalam perkara haram, dan seterusnya. Namun tidak demikian halnya yang ingat kepada kematian. Mereka sadar sekecil apa pun yang mereka perbuat akan dipertanggungjawabkan dan diperlihatkan balasannya. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat sawi pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar sawi pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula," (QS al-Zalzalah [99]: 9).  
 
Itulah tanda-tanda orang yang akan meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Sementara tanda-tanda orang yang akan celaka adalah kebalikan dari tanda-tanda di atas, seperti melalaikan shalat, sibuk dengan hal-hal yang tak bermakna, tidak menjaga kemaluan, dan seterusnya. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam.  
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.        
 
Rabu 14 Agustus 2019 12:30 WIB
Lafal Takbir Hari Raya, Diucapkan Tiga Kali atau Dua Kali?
Lafal Takbir Hari Raya, Diucapkan Tiga Kali atau Dua Kali?
Ilustrasi
Melafalkan kalimat takbir merupakan hal yang dianjurkan oleh syariat dalam memperingati hari raya, baik pada Idul Fitri ataupun Idul Adha. Khusus dalam menyambut datangnya Idul Adha, kesunnahan membaca takbir dimulai sejak setelah shalat subuh pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai setelah shalat ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah) (lihat: Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, hal. 84)
 
Baca juga:
 
Namun, seringkali polemik muncul di masyarakat terkait pelafalan kalimat takbir ini. Sebagian melafalkan takbir “Allâhu akbar” sebanyak dua kali, sedangkan kelompok yang lain melafalkan “Allâhu akbar” sampai tiga kali.
 
Kelompok yang berpandangan bahwa lafal takbir hanya diucapkan dua kali, umumnya berpijak pada hadits-hadits mauquf berikut:

كَانَ سَلْمَانُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يُعَلِّمُنَا التَّكْبِيرَ يَقُولُ : كَبِّرُوا اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا 
 
“Salman mengajari kami lafal takbir, ia berkata: ‘BertakbirlahAllâhu akbar Allâhu akbar, sungguh maha besar” (HR. Al-Baihaqi).

أَنَّ عُمَرَ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاهِ الْغَدَاةِ يَوْمَ عَرَفَةَ إلَي صَلَاةِ الظُّهْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ يُكَبِّرُ فِي الْعَصْرِ يَقُوْلُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ الله أكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
 
“Sahabat ‘Umar bertakbir mulai shalat subuh pada hari Arafah sampai shalat Dhuhur dari akhir hari tasyriq, beliau takbir pada shalat ashar dengan mengucapkan 'Allâhu akbar Allâhu akbar  ilâha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillâhi-l-hamd” (HR. Ibnu Mundzir).
 
Pada dua hadits di atas, kalimat Allâhu akbar hanya diucapkan sebanyak dua kali. Berpijak pada hadits tersebut, mestinya pengucapan takbir yang dianjurkan dalam menyambut hari raya adalah sebanyak dua kali, bukan tiga kali.
 
Sedangkan kelompok yang melafalkan takbir “Allâhu akbar” sebanyak tiga kali, seperti yang banyak dianut oleh mayoritas Muslim di Indonesia, berpijak pada hadits marfu berikut:
 

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا صَلَّى الصُبْحَ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ يَقْبَلُ عَلَى أَصْحَابِهِ فَيَقُوْلُ عَلَى مَكَانِكُمْ وَيَقُوْلُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ فَيُكَبِّرُ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ
 
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika usai shalat subuh pada hari arafah, beliau menghadap para sahabat, lalu bersabda: 'Tetaplah dalam posisi kalian' dan beliau berkata: “Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar  ilâha illallâhu wallâhu akbarAllâhu akbar wa lillâhi-l-hamd” beliau bertakbir mulai dari usai shalat subuh pada hari arafah sampai setelah shalat ashar dari akhir hari tasyriq” (HR. Daruqutni)
 
Hadits di atas secara gamblang menjelaskan pelafalan takbir dengan mengucapkan kata Allâhu akbar sebanyak tiga kali. Melihat berbagai redaksi hadits-hadits di atas yang sepintas tampak berlawanan dalam pelafalan jumlah takbir, sebenarnya menakah yang paling benar untuk di amalkan?
 
Perbedaan pandangan mengenai jumlah penyebutan kata Allâhu akbar ini sebenarnya juga terjadi dalam beberapa pendapat yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syafi’i. Pendapat yang masyhur dari Imam Asy-Syafi’i adalah mengucapkan takbir sebanyak tiga kali. Sedangkan pendapat Imam Asy-Syafi’i yang lain, yakni dalam qaul qadim beliau yang dikutip oleh Abu Sa’d al-Mutawali menjelaskan bahwa kata takbir hanya diucapkan dua kali. Hal demikian seperti yang disampaikan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

(فرع) صفة التكبير المستحبة الله أكبر الله أكبر الله أكبر هذا هو المشهور من نصوص الشافعي في الأم والمختصر وغيرهما وبه قطع الأصحاب وحكى صاحب التتمة وغيره قولا قديما للشافعي أنه يكبر مرتين ويقول الله أكبر الله أكبر والصواب الأول ثلاثا نسقا قال الشافعي في المختصر وما زاد من ذكر الله فحسن وقال في الأم أحب أن تكون زيادته الله كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله والله أكبر واحتجوا له بأن النبي صلى الله عليه وسلم " قاله على الصفا " وهذا الحديث رواه مسلم في صحيحه من رواية جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أخصر من هذا اللفظ 
“Cabang permasalahan. Sifat lafal takbir adalah Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar. Lafal ini merupakan lafal yang masyhur dari nash Imam Asy-Syafi’i di kitab al-Um, al-Mukhtashar, dan kitab lainnya, serta yang dipastikan (kebenarannya) oleh al-Ashab (para santri Imam Asy-Syafi’i). Sedangkan pengarang kitab at-Tatimmah (Abu Sa’d al-Mutawali) menceritakan qaul qadim (pendapat lama) dari Imam Syafi’i yang berpandangan bahwa lafal takbir diucapkan hanya dua kali, yakni Allâhu akbar Allâhu akbar. Namun pendapat yang benar adalah yang pertama, yakni mengucapkan takbir tiga kali. 
 
Imam Asy-Syafi’i dalam kitab al-Mukhtashar berkata: “Menambah dzikir (dalam takbir) adalah hal yang baik”. Dalam kitab al-Um beliau menjelaskan: “Aku lebih suka menambahkan lafal Allâhu akbar kabîran wal hamdu lillâhi katsîra wa subhânallâhi bukratan wa ashîla, lâ ilâha illallâhu wa lâ na’budu illâ iyyâh, mukhlishîna lahuddîna wa law karihal kâfirun, lâ ilâha illallâhu wahdahu shadaqa wa’dahu  wa nashara ‘abdahu wa hazama al-ahzâba wahdahu, lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar” para ulama menjadikan hujjah pada lafal tersebut bahwasannya Nabi mengucapkannya di atas bukit shafa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari riwayat Sahabat Jabir bin Abdillah radliyallahu ‘anhuma dengan redaksi yang lebih ringkas dari lafal di atas” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 5, hal. 39)
 
Dalam referensi di atas, secara tegas disampaikan bahwa pendapat yang benar adalah mengucapkan takbir sebanyak tiga kali. Berdasarkan hal ini dapat dipahami bahwa hal yang paling baik untuk diamalkan dalam melafalkan takbir hari raya adalah mengucapkan kata Allâhu akbar sebanyak tiga kali. 
 
Meski begitu, mengucapkan kata takbir sebanyak dua kali, seperti yang diamalkan sebagian orang tidak lantas menjadi hal yang dilarang dan menyalahi kesunnahan, sebab hal tersebut juga berdasarkan dalil-dalil yang dapat dipertimbangkan. Meski hal yang lebih utama untuk diamalkan adalah membaca takbir sebanyak tiga kali. 
 
Kajian hadits—seperti halnya pada persoalan jumlah lafal takbir hari raya ini—tak sesederhana mengutip, menerjemahkan, lalu menjadikannya dasar. Kompleksitas studi hadits seringkali mesti berurusan dengan hadits-hadits lain yang bisa jadi memiliki konteks, redaksi, atau perawi yang berbeda. Karena itulah mengacu pada pandangan para ulama fiqih yang kompeten penting dilakukan. Sufyan bin Uyainah pernah berkata, “al-Hadîts madlallatun illâ lil fuqaha (hadits adalah tempat orang tersesat, kecuali bagi para fuqaha [pakar]).”
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember