IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Misi Balas Dendam Kaum Musyrik dan Usulan Pembongkaran Makam Ibunda Nabi

Rabu 11 September 2019 21:0 WIB
Share:
Misi Balas Dendam Kaum Musyrik dan Usulan Pembongkaran Makam Ibunda Nabi
Ilustrasi perang di masa Nabi.
Kaum musyrik Quraisy mengalami kekalahan telak saat Perang Badar melawan pasukan umat Islam. Pada Perang Badar, jumlah pasukan kaum musyrik yang meninggal mencapai 70 orang–termasuk Abu Jahal, Begitu pula yang tertawan (dari total pasukan 1.300 orang). Sementara dari pihak umat Islam, ada 14 sahabat –enam dari kaum Muhajirin dan delapan Ansor-yang gugur dalam pertempuran tersebut. Padahala jumlah pasukan Muslim dalam Perang Badar hanya 300 orang lebih sedikit. 

Kekalahan pada Perang Badar membuat kaum musyrik Quraisy semakin terjepit dalam hal perdagangan. Mereka tidak bisa lagi berdagangan ke Irak dan Syam karena jalur perdagangannya ditutup pasukan umat Islam. Sebetulnya mereka tetap bisa melewati jalur perdagangan tersebut, asal membayar upeti kepada pasukan umat Islam. Namun mereka enggan melakukannya. 
 
Ditambah semakin banyak orang yang memeluk Islam. Hal itu membuat kemarahan dan kedengkian kaum musyrik Makkah terhadap umat Islam semakin memuncak. Para elit kaum musyrik kemudian mengumpulkan dana dan memprovokasi masyarakat Makkah untuk melakukan misi balas dendam terhadap umat Islam. Abu Sufyan didaulat menjadi pemimpin ‘pasukan balas dendam.’
 
Tidak tanggung-tanggung, jumlah pasukan balas dendam tiga kali lebih banyak daripada saat Perang Badar. Para elit kaum musyrik berhasil mengumpulkan 3.000 pasukan, 3.000 ekor unta, dan 200 ekor kuda. Setelah semuanya siap, mereka berangkat ke Madinah untuk membalas dendam terhadap umat Islam.
Ketika pasukan kaum musyrik tiba di al-Abwa–sebuah daerah yang terletak sekitar 37 kilometer dari Madinah, beberapa orang mengusulkan agar makam ibunda Nabi Muhammad, Sayyidah Aminah, dibongkar.
 
Usulan itu dimaksudkan sebagai aksi balas dendam terhadap Nabi Muhammad, orang yang selama ini mereka musuhi dan tentang. Iya, Sayyidah Aminah memang dimakamkan di al-Abwa setelah jatuh sakit dalam perjalanan pulang, dari Madinah ke Makkah, bersama dengan Muhammad kecil dan Ummu Aiman.  
 
Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah (M Quraish Shihab, 2018) di antara pasukan kaum musyrik tersebut ada yang menolak usulan pembongkaran makam Sayyidah Aminah tersebut. Alasan penolakannya adalah, dikhawatirkan hal itu –pembongkaran makam- akan menjadi tradisi baru di tengah suku-suku Arab lainnya yang memiliki dendam akibat saling membunuh keluarga.
 
Sementara Abbas bin Abdul Muthalib –paman Nabi Muhammad--langsung mengirimkan surat kepada Nabi perihal usulan tersebut. Nabi meminta Ubay bin Ka’ab untuk membacakan isi surat dari pamannya itu. Terkait informasi dari pamannya itu, Nabi Muhammad mengutus beberapa orang untuk–secara bertahap--untuk mengecek kebenarannya. Benar saja, utusan Nabi memberi tahu bahwa ribuan pasukan kaum musyrik Quraisy sudah tiba di pinggir Kota Madinah.
 
Nabi Muhammad kemudian segera mengumpulkan para sahabatnya dan menggelar musyawarah perihal bagaimana menghadapi pasukan balas dendam yang jumlahnya begitu besar dan amunisi perangnya cukup lengkap tersebut. Apakah menanti kedatangan mereka hingga masuk ke Kota Madinah atau melawan mereka di luar kota? Setelah ditimbang maslahat dan mudaratnya, maka Nabi Muhammad dan para sahabat sepakat untuk meladeni pasukan balas dendam kaum musyrik Quraisy di luar Kota Madinah.

Singkat cerita, meletuslah perang antara pasukan umat Islam dan pasukan kaum musyrik Quraisy di dekat Bukit Uhud. Oleh sebab itu, peperangan ini disebut dengan Perang Uhud. Semula kemenangan sudah mendekat kepada pasukan umat Islam. Namun, karena pasukan pemanah meninggalkan posnya –di atas bukit- dan ikut turun ke bawah untuk mengambil bagian ghanimah, maka akhirnya pasukan kaum musyrik berhasil memukul mundur pasukan umat Islam.
 
A Muchlishon Rochmat
Share:

Baca Juga

Rabu 11 September 2019 18:30 WIB
Saat 3 Elite Musyrik Quraisy Ketagihan Bacaan Al-Qur’an Nabi
Saat 3 Elite Musyrik Quraisy Ketagihan Bacaan Al-Qur’an Nabi
Ilustrasi
Di antara petinggi musyrik Quraisy yang menentang dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah Abu Jahal bin Hisyam, Abu Sufyan bin Harb, dan Al-Akhnas bin Syariq. Ketiganya memiliki nasib yang berbeda nantinya.
 
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ada yang tetap menentang Islam hingga akhir hayatnya (Abu Jahal dan Al-Akhnas). Ada pula yang mendapat hidayah hingga akhirnya menjadi pengikut Nabi dan menjadi pembela Islam (Abu Sufyan).
 
Pada saat-saat kelahiran Islam, ketiga elite Quraisy tersebut–Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas-kerap kali menyelinap ke rumah Nabi Muhammad untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Ketiganya datang sendiri-sendiri. Masing-masing tidak saling tahu kalau ada orang lain melakukan hal yang sama, yakni mencuri dengar bacaan Al-Qur’an Nabi Muhammad. 
 
Ketika tiba di rumah Nabi, mereka mengambil tempat duduknya masing-masing. Sampai tersebut, setiap dari mereka belum mengetahui tempat duduk temannya. Mereka sengaja tidak tidur sepanjang malam hanya untuk mendengarkan Nabi Muhammad membaca Al-Qur'an. Mereka baru pulang ketika fajar sudah tiba. Di tengah jalan, Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas saling bertemu di salah satu jalan.  
 
"Jangan ulangi perbuatan kalian ini, sebab jika kalian dilihat sebagian orang-orang yang tidak waras di antara kalian, pasti kalian meninggalkan sesuatu pada dirinya," kata salah satu dari mereka, dikutip dari Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 2018). Ketiganya kemudian bubar ke rumah masing-masing.
 
Keesokan malam harinya, ketiganya datang lagi ke pinggir rumah Nabi Muhammad untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Ketika pulang, mereka saling kepergok. Salah satu mereka mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya, agar tidak mengulangi mencuri dengar bacaan Al-Qur'an Nabi Muhammad. Meski berjanji untuk tidak melakukannya lagi, mereka tetap menyelinap ke rumah Nabi Muhammad. Seolah mereka ketagihan dengan bacaan Al-Qur'an. Akan tetapi, hal itu tidak sampai membuat ketiga elite Quraisy tersebut masuk Islam.

Memang, Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad. Ia bukan puisi, prosa, atau syair. Namun, kalimat Al-Qur’an begitu indah. Siapa pun yang mengerti bahasa Arab pasti terpukau dengan keindahan susunan kalimat dan isi Al-Qur’an. Oleh sebab itu, Allah menantang siapapun untuk membuat seperti Al-Qur’an. Namun, tidak ada seorang pun yang mampu membuat yang sepadan–apalagi melebihi- Al-Qur’an.
 
Keindahan Al-Qur’an seolah-olah membuat para elite musyrik Quraisy ‘tersihir,’ tidak terkecuali Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas. Meski menentang dakwah Islam, namun nyatanya mereka begitu menikmati –bahkan ketagihan dengan--bacaan ayat Al-Qur’an. 
 
Abu Jahal sendiri dikenal sebagai pribadi yang kejam, bengis, dan tidak segan menghabisi lawan-lawannya. Karena sikapnya yang seperti itu lah, Abu Jahal dijuluki sebagai Fir’aun pada zaman Nabi Muhammad. Salah satu sahabat yang merasakan tangan dingin Abu Jahal adalah Sumayyah. Dia gugur setelah mendapatkan siksaan dari Abu Jahal.
 
Ia melakukan banyak hal untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari mengintimidasi umat Islam hingga mengancam secara terang-terangan Nabi Muhammad secara terang-terangan. Dia pula lah orang yang menyulut terjadinya perang Badar. Abu Jahal tetap menolak Islam hingga akhir hanyatnya. Ia gugur dalam Perang Badar. 
 
Sama seperti Abu Jahal, Abu Sufyan bin Harb juga orang yang gigih memerangi dakwah Nabi Muhammad selama kurang lebih 20 tahun. Dia begitu benci dengan Islam awalnya. Ia bahkan menjadi pemimpin dalam Perang Uhud dan Perang Khandaq melawan pasukan umat Islam. Namun pada saat peristiwa Fathu Makkah, Abu Sufyan bin Harb masuk Islam setelah mendapatkan hidayah. Sejak itu, dia menjadi sahabat yang begitu gigih membela Islam. Ia terlibat dalam peperangan–dalam barisan pasukan umat Islam-melawan musuh-musuh Islam.
 
Sementara Al-Akhnas bin Syariq dikenal sebagai seorang yang munafik. Suatu ketika, Al-Akhnas menemui Nabi Muhammad dan menyatakan diri masuk Islam. Namun setelah keluar dari majelis Nabi, ia melewati kebun tanaman dan hewan miliki umat Islam. Ia kemudian membakar kebun tersebut dan membunuh hewan-hewan tersebut. Atas beberapa tingkah munafik Al-Akhnas, Allah kemudian menurunkan beberapa ayat, diantaranya Al-Baqarah: 204, Al-Qalam: 10-16, dan Al-Humazah: 1-9. Waallahu ‘Alam
 
A Muchlishon Rochmat
 
Ahad 8 September 2019 8:0 WIB
Abdullah bin Mas’ud, Orang Pertama Terang-terangan Membaca Al-Qur’an
Abdullah bin Mas’ud, Orang Pertama Terang-terangan Membaca Al-Qur’an
Ilustrasi
Dalam satu hadits riwayat  Ibnu Majah dan Ahmad, Nabi Muhammad Saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an yang baik seperti pertama kali turun maka bacalah seperti bacaan Abdullah bin Mas’ud."
 
Abdullah bin Mas’ud termasuk dari golongan assabiqunal awwalun (sahabat yang pertama masuk Islam). Beberapa saat setelah masuk Islam, Abdullah bin Mas’ud mengajukan diri menjadi pelayan Nabi Muhammad.
 
Permohonannya pun dikabulkan Nabi. Maka sejak itu, interaksi Bin Mas’ud dengan Nabi begitu intens. Dia selalu mendampingi ke mana pun Nabi pergi. Ia juga  selalu menyediakan segala kebutuhan Nabi–mulai dari menyediakan air mandi hingga membawakan sandal dan siwak. Bahkan, kerap kali masuk ke kamar Nabi untuk sekadar mengurus tempat tidurnya.
 
Karena selalu mendampingi Nabi, Abdullan bin Mas’ud menjadi salah satu dari sedikit sahabat yang langsung mengumpulkan dan belajar Al-Qur’an langsung dari mulut Nabi Muhammad. Di samping itu, Abdullah bin Mas’ud memiliki kecerdasan dan ingatan yang kuat sehingga ia mengetahui betul kapan, di mana, dan kepada siapa (asbabun nuzul) sebuah ayat diturunkan. Maka tidak heran, jika Nabi Muhammad menyerukan kepada orang-orang untuk belajar Al-Qur’an–salah satunya--kepada Abdullah bin Mas’ud.
 
"Ambillah Al-Qur’an itu dari empat orang. Yaitu dari Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz bin Jabal dan Ubay bin Ka'ab," kata Nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad suka meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an untuknya. Selain untuk mengecek bacaan Al-Qur’an sahabatnya itu, Nabi juga suka dengan suara Abdullah bin Mas’ud yang begitu merdu.
 
Terlepas dari itu semua, Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang pemberani. Setelah Nabi Muhammad, ia tercatat sebagai orang pertama yang membacakan Al-Qur’an dengan terang-terangan di hadapan kaum musyrik Quraisy. Dalam Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 2018) dikisahkan, suatu ketika para sahabat berkumpul dan melontarkan pertanyaan perihal siapa yang berani membacakan Al-Qur’an di hadapan kaum musyrik Quraisy secara terang-terangan. Mengingat pada saat itu orang-orang Quraisy belum pernah mendengarkan Al-Qur’an secala langsung.

Seketika itu juga Abdullah bin Mas’ud langsung menawarkan diri untuk menjadi pembaca Al-Qur’an di hadapan musuh-musuh Islam. Para sahabat lainnya awalnya tidak sepakat karena khawatir Abdullah bin Mas’ud akan dicelakai. Mereka ingin orang yang membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan adalah sahabat yang keluarganya bisa melindunginya jikalau kaum musyrik berbuat jahat kepadanya.
 
Abdullah bin Mas’ud masih keukeh. Ingin menjadi pembaca Al-Qur’an di hadapan kaum musyrik Quraisy. Dia meyakinkan bahwa pelindungnya adalah Allah. Para sahabat lainnya akhirnya menyetujui permintaan Abdullah bin Mas’ud tersebut.
 
Esok harinya, Abdullah bin Mas’ud datang ke Maqam Ibrahim pada saat waktu dhuha. Pada saat itu, orang-orang musyrik Quraisy tengah duduk-duduk di sekitaran Ka’bah. Di hadapan mereka, Abdullah bin Mas’ud langsung membacakan Surat Ar-Rahman dengan suara merdu nan lantang. Beberapa orang terpesona ketika mendengar bacaan Al-Qur’an Bin Mas’ud. Setelah mendengar beberapa ayat, orang-orang Quraisy mulai sadar perihal apa yang dibaca Abdullah bin Mas’du. Mereka kemudian mendatangi dan memukuli Abdullah bin Mas’ud.
 
Usai kejadian itu, Abdullah bin Mas’ud mendatangi para sahabatnya dengan muka babak belur dan berdarah. Apa yang dikhawatirkan para sahabat terhadap Abdullah bin Mas’ud menjadi kenyataan. Akan tetapi, Abdullah bin Mas’ud tidak gentar sama sekali. Ia bahkan menawarkan diri lagi untuk membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan di hadapan kaum musyrik keesokan harinya.
 
"Jika kalian mau, besok pagi aku akan melakukan hal yang sama," kata Abdullah bin Mas’ud.

"Tidak. Engkau sudah cukup. Engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai," jawab para sahabat mencegah Abdullah bin Mas’ud.

Abdullah juga banyak meriwayatkan hadits. Ada sekitar 840 hadits yang diriwayatkannya dari Nabi Muhammad. Ali bin Abi Thalib memuji Abdullah bin Mas’ud sebagai sahabat ahli ilmu. Ia begitu menguasai Al-Qur’an dan seluk-beluknya serta meriwayatkan banyak hadits. Abdullah bin Mas’ud meninggal dunia pada saat kekhalifahan Utsman bin Affan, tahun ke-32 Hirjiyah ketika usianya 65 tahun.
 
Pewarta: A Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Ahad 8 September 2019 0:0 WIB
Rasulullah dan Puasa Asyura
Rasulullah dan Puasa Asyura
foto: ilustrasi
“Puasalah kalian pada hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Kerjakan puasa dari satu hari sebelumnya sampai satu hari sesudahnya,” kata Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam dalam hadits riwayat Ahmad.
 
Puasa Asyura atau puasa pada tanggal 10 Muharram memiliki sejarah yang panjang. Puasa ini sudah dipraktikkan umat Yahudi, jauh sebelum datangnya Islam. Mereka berpuasa pada Hari Raya Yom Kippur tanggal 10 bulan Tishri atau 10 Muharram karena pada hari itu Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh-musuhnya. 
 
Sebagai rasa syukur, Nabi Musa as. berpuasa pada hari itu, atau 10 Muharram. Setelah kejadian itu, jadilah puasa Asyura menjadi ‘syariat’ bagi umat Yahudi. 
Dalam perkembangannya, puasa Asyura tidak hanya diamalkan umat Yahudi namun juga kaum Quraisy pada masa Jahiliyah, bahkan hingga setelah masa-masa awal kelahiran Islam. Menariknya, Nabi Muhammad dan umat Islam juga menjalankan puasa Asyura. 
 
Lantas bagaimana awal mula Nabi Muhammad dan umat Islam juga ‘ikut’ berpuasa Asyura? Juga bagaimana ‘status’ puasa Asyura setelah pensyariatan puasa Ramadhan?
 
Merujuk buku Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang (Sismono, 2010), sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan, Nabi Muhammad dan umat Islam menjalankan puasa Asyura dan puasa pada tiap-tiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Qamariyah. 
 
Sebagaimana riwayat Ahmad, Nabi Muhammad melaksanakan puasa Asyura mungkin untuk menyertai kaum Quraisy yang juga berpuasa pada hari itu karena mengikuti syariat umat terdahulu. Atau Nabi Muhammad berpuasa Asyura karena mendapatkan izin dari Allah. 
 
Mengingat puasa juga merupakan amal kebajikan, sama seperti ibadah haji. 
Nabi Muhammad dan umat Islam terus menjalankan puasa Asyura. Hingga suatu ketika, beliau tiba di Madinah dan mendapati umat Yahudi merayakan hari ke-10 Tishri atau 10 Muharram; mereka berpuasa Asyura, mengenakan pakaian yang indah, serta berbelanja makanan dan minuman. 
 
Mendapati hal seperti itu, Nabi Muhammad kemudian bertanya kepada umat Yahudi mengapa mereka berpuasa pada hari itu. “Ini adalah hari yang baik bagi kami. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israel dari gempuran musuh-musuh mereka. Karena itu, sebagai ungkapan rasa syukur, Musa as. berpuasa pada hari ini,” kata mereka.
 
“Kalau begitu, kita (umat Islam) sangat patut mengikuti jejak Musa as.,” kata Nabi merespons jawaban Yahudi tersebut.
 
Nabi Muhammad kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari itu; siapa yang sudah makan, maka bisa berpuasa pada sisa hari itu dan siapa yang belum hendaklah berpuasa –jangan makan. 
 
Agar tidak menyamai syariat umat Yahudi tersebut, Nabi Muhammad juga memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 (hari Tasu’a) dan 11 Muharram sesuai hadits riwayat Ahmad di atas.  

Perintah tersebut disampaikan Nabi Muhammad pada awal tahun kedua beliau tinggal di Madinah –Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabiu’ul Awwal. Beberapa bulan setelahnya (tujuh bulan setelahnya, atau 18 bulan setelah tinggal di Madinah), Nabi Muhammad menerima wahyu tentang perintah puasa Ramadhan. 

Dengan demikian, puasa Asyura dilaksanakan sebagai puasa wajib hanya satu kali saja. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
 
Setelah turunnya ayat ini dan puasa Ramadhan telah diwajibkan, maka Nabi Muhammad tidak lagi mewajibkan puasa Asyura bagi umat Islam. Mereka boleh berpuasa Asyura dan tidak berpuasa juga boleh. 
 
Namun demikian, Nabi Muhammad sangat mengajurkan berpuasa Asyura. Hal ini bisa dilihat dari hadits riwayat Ibnu Abbas. “Saya tidak mengetahui Rasulullah SAW bersungguh-sungguh untuk berpuasa kecuali pada hari ini, yakni hari Asyura,” kata Ibnu Abbas.  
 
Penulis: A Muchlishon Rochmat
Editor: Muiz