IMG-LOGO
Trending Now:
Tafsir

Makna Insun atau Manusia dalam Al-Qur’an

Kamis 12 September 2019 10:35 WIB
Share:
Makna Insun atau Manusia dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: hamzetwasl.net
Kata insun atau manusia beberapa kali disebut di dalam Al-Qur’ân. Di Jawa, lafal ini mengalami peyorasi menjadi ingsun. Dalam logat masyarakat di mana penulis tinggal, lafal ini berubah menjadi eson.

Masyarakat Jawa dan Bawean, umumnya menggunakan hasil peyorasi dari lafal ini menunjuk arti “aku manusia”. Kiranya agak menyerupai makna asli dari insun yang diucapkan dalam logat Arab, khususnya dalam Bahasa Al-Qur’ân. Mari kita kaji untuk penggunaan lafal tersebut dalam Al-Qur’ân.

Insun (إنس) dalam logat Arab merupakan turunan dari kata verbal anasa (أنس) yang bermakna berteman. Insun dalam Al-Qur’ân sering dipergunakan secara bersama-sama dengan kata al-jinn (الجن).

Setidaknya ada 5 ayat berhasil diidentifikasi oleh penulis, yang menggunakan lafal إنس ini, yaitu, Surat Al-An’âm ayat 112 dan 128, Surat Al-Isrâ ayat 88, Surat An-Naml ayat 17 dan Surat Al-Jin ayat 5.

Jika diurutkan menurut tertib turunnya ayat akan menjadi: Surat Al-Jin ayat 5, Surat An-Naml ayat 17, Surat Al-Isrâ ayat 88, Surat Al-An’âm ayat 112, dan Surat Al-An’âm ayat 128. Yang unik dari semua ayat ini, semua lafal insun selalu beriringan dengan lafal Al-Jin. Mari perhatikan ayat-ayat berikut:

1.    Di dalam Surat Al-Jin ayat 5, Allah SWT berfirman:

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Artinya, “Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”

2.    Allah SWT berfirman dalam Surat An-Naml ayat 17

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Artinya, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”

3.    Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Isrâ ayat 88

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Artinya, “Katakanlah, ‘Sungguh jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain."
 
4.    Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-An’âm ayat 112

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

5.    Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-An’âm ayat 128

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Artinya, “Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia,’ lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman: ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sungguh Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Analisis Relasi Ayat
Jika diperhatikan baik-baik, kedua kata ini (الإنس والجن), dipakai secara bersama-sama karena keduanya dianggap sejenis. Dalam bahasa penafsiran oleh para ulama’, kedua makhluk Allah ini sering disebut sebagai الثقلين, yang bermakna dua beban.

Berdasarkan hadits riwayat ‘Ashim bin Hâkim yang termaktub dalam beberapa kitab tafsir, salah satunya adalah Tafsir Yahya bin Salâm juz I halaman 287 disebutkan bahwa:

فيفتح له في جانب قبره باب فيريه منزله من النار وما أعد الله له من العذاب، فيظلم وجهه، وتخبث نفسه ويضربه ضربة يتناصل منها كل عظم من موضعه، فيسمعه الخلق إلا الثقلين: الإنس والجن

Artinya, “Maka dibukalah bagi si mayit di sisi kuburnya sebuah pintu, maka melihatia akan tempatnya kelak di neraka, berikut siksa yang sudah disiapkan Allah baginya. Oleh karenanya, seketika wajahnya menjadi gelap dan meratapi kekotoran dirinya. Lalu malaikat memukulnya dengan sekali pukulan yang menghancurkan seluruh tulang belulangnya. Para makhluk mampu mendengar teriakan si mayit kecuali as-tsaqalain, yaitu makhluk golongan jin dan manusia,” (Yahya bin Salâm, Tafsīr Yahya bin Salam, [Tanpa keterangan kota, Maktabah Syâmilah: tanpa tahun], juz I, 287).

Di dalam sebuah hadits Riwayat Ahmad juga disebutkan:

فَيَأْتِيهِ آتٍ فَيَقُولُ مَنْ رَبُّكَ مَا دِينُكَ مَنْ نَبِيُّكَ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي فَيَقُولُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَوْتَ وَيَأْتِيهِ آتٍ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِهَوَانٍ مِنْ اللَّهِ وَعَذَابٍ مُقِيمٍ فَيَقُولُ وَأَنْتَ فَبَشَّرَكَ اللَّهُ بِالشَّرِّ مَنْ أَنْتَ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ كُنْتَ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ سَرِيعًا فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَجَزَاكَ اللَّهُ شَرًّا ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَصَمُّ أَبْكَمُ فِي يَدِهِ مِرْزَبَةٌ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ كَانَ تُرَابًا فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً حَتَّى يَصِيرَ تُرَابًا ثُمَّ يُعِيدُهُ اللَّهُ كَمَا كَانَ فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً أُخْرَى فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهُ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ قَالَ الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ النَّارِ وَيُمَهَّدُ مِنْ فُرُشِ النَّارِ

Artinya, “Maka datanglah kepada Si Mayit (seorang malaikat) bertanya, ‘Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?’ Lalu Mayit tersebut menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Tidakkah kamu telah melihatnya dan telah membacanya?’ Lalu datanglah seseorang yang buruk wajahnya dan buruk pakaiannya, yang bacin baunya, ia berkata, ‘Nikmatilah olehmu penghinaan yang datang dari Allah serta siksa yang tetap.’ Si Mayit bertanya, ‘Dan kamu, semoga Allah membalas keburukan padamu. Siapa Anda?’ Orang tersebut menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk akibat kamu menunda-nunda untuk taat kepada Allah namun bersegera jika berbuat maksiat kepada-Nya. Maka Allah membalasmu dengan suatu keburukan.’ Selanjutnya malaikat itu memegang sebuah gada (mirzabah) di tangannya yang membuat Si Mayit tercekat (buta, tuli dan bisu). Seandainya benda itu dipukulkan pada sebuah gunung, maka pasti hancurlah ia menjadi debu. Malaikat itu lalu memukulkan mirzabah itu kepada Si Mayit dengan sekali pukulan yang karenanya ia hancur lebur menjadi debu. Kemudian Allah SWT mengembalikannya lagi sebagaimana semula. Lalu dipukul lagi dengan pukulan lain. Si Mayit menjerit dan berteriak dengan jeritan dan teriakan yang bisa didengar oleh semua makluk kecuali as-tsaqalain. Al-Bara’ bin ‘Azib berkata, ‘Lalu dibukakanlah bagi Si Mayit itu sebuah pintu dari api dan ranjang yang terbuat dari api neraka,’” (HR Ahmad, Nomor 578).

Makna dari as-tsaqalain di dalam hadits riwayat Imam Ahmad ini juga menunjuk makna yang sama dengan hadits yang termaktub dalam Kitab Tafsir karya Yahya bin Abdus Salam di atas, yaitu bermakna jin dan manusia.

Pemakaian lafal al-ins dalam Al-Qur’ân tampaknya lebih menunjuk pada makna jenis dan manusia sebagai nomina kolektif, yaitu makhluk yang suka berkelompok, sehingga condong tidak liar atau tidak biadab. Makna ini seolah bertolak belakang dengan al-jin yang bersifat metafisik dan identik dengan liar atau bebas.

Dengan kata lain, ketika lafal al-ins digunakan dalam Al-Qur’ân, maka seolah di sana tergambar sebuah peradaban yang dibangun oleh manusia dengan akal dan budinya. Lafal al-ins juga seolah menunjuk pengertian bahwa manusia adalah makhluk berbudaya. Wallahu a’lam bis shawâb.
 
 
Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.
Share:

Baca Juga

Rabu 11 September 2019 15:0 WIB
Makna An-Nas atau Manusia dalam Al-Qur'an
Makna An-Nas atau Manusia dalam Al-Qur'an
Ilustrasi: emaze.com
Para pakar antropologi yang menganut filsafat materialisme memandang bahwa hakikat manusia adalah semata makhluk materi. Ia merupakan jasad yang tersusun oleh bahan-bahan material dari dunia anorganik. Para pakar biologi yang lahir dari dunia filsafat materialisme ini juga berpendapat bahwa manusia adalah badan yang hidup.

Pandangan yang berbeda dari kedua pakar itu disampaikan oleh kalangan pakar antropologi yang dibesarkan oleh filsafat idealisme. Mereka beranggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kehidupan spiritual-intelektual yang intrinsik dan tidak tergantung pada materi.

Berbagai pandangan ini nampaknya hanya berkutat pada satu sisi rumpun ilmu yang ditekuninya sehingga gambaran yang disampaikannya belumlah menggambarkan sosok manusia secara holistik dan integral.

Dalam tulisan ini, kita ingin mengungkap bagaimana Kitab Suci Al-Qur’an memberikan penjelasan tentang bagaimanakah gambaran tentang manusia itu. Kendati kajian ini bersifat sederhana, semoga bermanfaat dalam membuka tabir bagi pengetahuan kita semua.

Perlu diketahui bahwa di dalam Kitab Suci Al-Qurân, “manusia” disebut dalam beragam sebutan, antara lain sebagai ناس, إنس, أناس, إنسان, بشر, عبد, بني آدم, dan ذرية آدم. Bagaimana pun, setiap sebutan pasti menyimpan makna kekhususan dan terdapat maziyyah di dalamnya, mengingat Al-Qurân merupakan kitab suci yang diturunkan sebagai mu’jizat kepada Baginda Nabi Muhammad shallalaahu ‘alaihi wasallam dan memiliki nilai kesusastraan yang tinggi dari sisi balaghah, manthiqy dan lughawynya.

Karena ketinggian tingkat bahasa yang digunakan itu, maka setiap aspek pilihan lafadh yang dipergunakan oleh Al-Qurân sudah barang tentu memiliki fungsi tertentu pula. Kadang konteks bahasa Al-Qurân merujuk pada makna melemahkan (i’jaz) terhadap argumen dan keyakinan kaum kâfir, munâfiq dan fâsiq, namun kadang pula menjadi kabar penggembira bagi kaum yang beriman dan taat kepada Nabi.

Pilihan kalimat Al-Qur’an dalam menyebut manusia dengan beragam istilah di atas, sudah barang tentu juga memiliki maksud dan tujuan tertentu pula dari Allah Dzat Yang Maha Pencipta. Setidaknya gambaran itu bisa diketahui dari beberapa penyandaran latar belakang suatu istilah disebutkan. Kita coba untuk menguraikannya secara global dalam tulisan singkat ini khususnya terhadap makna an-nâs.

Perlu diketahui bahwa, ada hampir 169 ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut manusia dengan menggunakan diksi an-nâs (الناس). Dari keseluruhan diksi itu, secara umum penggunaan diksi an-nâs memiliki menunjuk pada beberapa fungsi. Berikut kami sajikan garis besar dari fungsi tersebut.

Pertama, Perintah Menjalin Relasi Sosial  
Contoh ayat yang menggunakan diksi an-nâs ini adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sungguh Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Surat An-Nisâ ayat 1).

Di dalam ayat ini, setelah lafadh an-nâs dipergunakan di depan yang disertai huruf nida’, pada bagian tengah ayat ditunjukkan tuntunan bermuamalah dengan sesama. Bermuamalah ini merupakan ciri dari relasi sosial.

Kedua, Perintah Ibadah 
Contoh dari penggunaan diksi adalah pada:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa” (Surat Al-Baqarah ayat 21).

Dapat dilihat pada ayat, bahwa lafal an-nâs disebut dengan iringan perintah menyembah. Menyembah merupakan realitas dari ibadah.

Ketiga, Perintah Tunduk dan Patuh kepada Allah SWT serta Menauhidkan-Nya.
Contoh dari penggunaan diksi ini adalah sebagai berikut:

قل أعوذ برب الناس ملك الناس إله الناس

Artinya, “Katakanlah (Muhammad)! Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Dzat yang memiliki Manusia, Tuhan Manusia,” (Surat An-Nâs ayat 1-2)

Keempat, Tahdid (menakut-nakuti) 
Ayat yang diawali dengan huruf nida’ dan an-nâs umumnya adalah ayat-ayat yang masuk kelompok Makkiyah. Contoh dari penerapan fungsi ini adalah penggunaan diksi an-nâs di dalam Surat At-Tahrîm ayat 6.

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ وَ اَہۡلِیۡکُمۡ نَارًا وَّ قُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَايؤمرون

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surat At-Tahrîm ayat 6).

Walhasil penyebutan diksi an-nâs di dalam Al-Qur’an seolah menunjuk pada empat fungsi. Fungsi-fungsi ini penulis rangkum dari mencermati konteks ayat berbicara. Adapun bagaimana jabaran dari masing-masing fungsi tersebut kiranya perlu merujuk pada kitab tafsir yang lebih luas. Wallahu a’lam bis shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah Lembaga Bahstul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jawa Timur.
Jumat 6 September 2019 21:0 WIB
Mendapati Tafsir Al-Qur’an yang Nyeleneh? Ini Penyebabnya
Mendapati Tafsir Al-Qur’an yang Nyeleneh? Ini Penyebabnya
Egoisme kepentingan penafsir kerap menjerumuskannya pada penafsiran yang aneh dari pandangan kebanyakan ulama.
Dalam dunia ilmu tafsir dikenal istilah al-ashîl wa al-dakhîl fi tafsîr al-qur’an (yang asli dan yang asing dalam tafsir Al-Qur’an). Ilmu ini masuk rumpun kajian analisis terhadap keaslian sumber penyandaran riwayat tafsir oleh seorang mufassir dalam melakukan penafsiran. Selain faktor keaslian nukilan, turut juga dianalisis dalam bagian rumpun kajian ini, yaitu unsur asing yang masuk (al-dakhîl) dalam melakukan riwayat penukilan itu. 
 
Dalam istilah ilmu hadits, rumpun ilmu ini masuk bagian dari ilmu takhrij, atau dikenal sebagai ilmu kritik hadits, khususnya terhadap sumber riwayat dan matan hadits. Di dalam ilmu takhrij, sudah barang tentu mencakup ilmu lain, yaitu ilmu jarh wa al-ta’dil, ilmu ahwâl ruwâti al-ahâdits, dan semacamnya. 
 
Karena Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka untuk memahaminya, dibutuhkan banyak pengetahuan tentang bagaimana beliau memahami wahyu tersebut, lewat hadits yang diriwayatkan oleh para ulama’ dan terdokumentasikan dalam kitab dîwan. Demikian pula, untuk mengetahui hadits riwayat tafsir, tidak ada jalan lain selain menggunakan wasilah berupa pemahaman sahabat, para tabi’in dan para ulama’ setelahnya, khususnya ulama madzâhib al-arba’ah (empat imammazhab), dan tâbi’ (murid-muridnya), serta muqallid (para penganutnya) hingga sekarang. 
 
Jadi, bila ada yang berasumsi bahwa memahami Al-Qur’an dan Hadîts bisa dilakukan tanpa lewat silsilah sanad dari para ulama sehingga pemahaman tersebut disambungkan hingga ke ulama sekarang, maka sudah pasti mereka akan menghasilkan suatu pemahaman yang aneh dan asing. Sifat aneh dan asing ini sudah pasti disebabkan karena pemahamannya menyimpang dari pemahaman yang disepakati sebelumnya. 
 
Suatu misal: bila para ulama dulu memahami praktik ajaran dengan cara langsung diajarkan oleh guru sanad, dan pemahaman itu ditularkan hingga umat generasi sekarang, bahwa membaca Al-Qur’an yang pahalanya disampaikan kepada orang yang sudah meninggal adalah boleh dan bisa sampai, terbukti dari praktik ini yang terus-menerus lestari hingga sekarang, lalu secara tiba-tiba ada pihak yang melarang membacanya dengan niat tersebut, maka sudah pasti bahwa pemahaman ini adalah hal yang aneh. Sudah pasti ada unsur al-dakhil (pemalsuan dan pembelokan) dalam menyampaikan ajaran tersebut.
 
Unsur asing yang nyeleneh ini bisa lahir dari beberapa sebab, antara lain:
 
Pertama, karena ada unsur kesengajaan untuk merusak superioritas Islam, sementara mereka tidak sanggup melawannya secara langsung. Untuk itu direncanakan merusaknya secara sistemik melalui pembelokan penafsiran sumber pokok ajarannya, yaitu lewat wasilah Al-Quran dan al-Hadits. Fenomena munculnya nabi palsu, dan kafir zindiq, menjadi asumsi dasar bagi hipotesa awal ini. 
 
Kedua, karena ada kemungkinan faktor simplifikasi materi Al-Qur’an sehingga dalam beberapa hal ada pemaksaan interpretasi dan ta’wil yang selanjutnya dapat berakibat pada penyimpangan makna dari makna seharusnya. Dalam situasi ini, maka kedudukan penafsir adalah ibarat seorang mufassir politik atau mufassir yang diliputi dengan suatu kepentingan. Ia membawa penafsiran ke arah upaya mendukung kelompoknya dengan mengabaikan kode etik keilmiahan penafsiran. Kaidah tafsir berperan besar untuk dapat dipakai sebagai instrumen mengukur sejauh mana penyimpangan tersebut terjadi.
 
Ketiga, karena ada kemungkinan dorongan yang benar yakni dukungan keluhuran agama Islam, sehingga diperlukan upaya mendapatkan legitimasinya sebagai wujud pembenaran risâlah akan tetapi instrumen yang dipergunakan tidak bersumber dari rangkaian sanad yang benar dan mu’tabar, seperti jargon kembali ke Al-Qur’an dan al-Hadits yang sebenarnya dalam jargon ini mengajak untuk meninggalkan sanad pemahaman dari para ulama’ sebelumnya.
 
Keempat, keterputusan bayan tafsir (penjelasan tafsir) dari Nabi Muhammad SAW membawa akibat pada upaya analisis teks kebahasaan yang memungkinkan seorang mufasir memaksakan interpretasi tanpa memperhatikan kaidah dasar tafsir.
 
Kelima, adanya disintegrasi di kalangan kaum muslimin akibat pergantian khalifah dan siyasah. Tak pelak lagi, bahwa perpecahan politis yang berhasil mengoyak umat menjadi banyak firqah ini, yang berjalan beriringan dengan dinamika politik pada waktu itu, telah melahirkan sejumlah permasalahan yang berkepanjangan sehingga sekarang. Salah satu permasalahan adalah akibat sikap ta’ashtsiqah dari lawannya. 
 
Keenam, munculnya sejumlah ahli qushash dan wu’adh (tukang ceramah), telah turut serta menyumbang lahirnya sejumlah hadits maudhu’ dan dha’if yang selanjutnya banyak juga berperan di dalam menyumbang al-dakhil fit tafsir (pembelokan tafsir). Misalnya, akhir-akhir ini ada qushâsh dan wu’adh tentang hari kiamat. Hitungan matematis mereka sering menjadi dasar pembelokan konsep kiamat itu yang sebenarnya memiliki ujung mengajak masuk dalam kelompoknya. Misalnya: mereka sebenarnya mengajak mendukung ke arah politik tertentu menegakkan kekhilafahan romantis. 
 
Ketujuh, kemunculan beberapa kalangan mutashâwifin. Maksud dari mutashâwifin (pura-pura tasawuf) ini tidak sama pengertiannya dengan shûfi. Jika kalangan shûfi merupakan pengamal ajaran tasawuf dari guru yang bersanad, maka untuk kalangan mutashâwifin ini adalah serupa dengan orang fâsiq, yaitu orang yang hanya bisa berkomentar akan tetapi dia sendiri tidak melakukan. Contoh: orang mengajak menegakkan kalimat tauhid (لاإله إلا الله) di jalan-jalan, sementara ia sendiri tidak pernah berdzikir rutin dengan kalimat tersebut untuk memenuhi aspek kewajiban pribadinya dalam berdzikir لاإله إلا الله. Inilah bagian dari representasi rajulun fâsiq. Dalam Al-Qur’an, ia dicirikan sebagai:
 
وإذا قيل لهم لاتفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون (11) ألا إنهم هم المفسدون ولكن لايشعرون (12)
 
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan (revolusi).’ (12) Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan akan tetapi mereka tidak merasa.” (QS Al-Baqarah [2]: 11-12).
 
Ketika diingatkan dengan sifat aneh yang dimilikinya yang jelas telah menimbulkan efek fasad (mudarat), mereka lebih memilih untuk membantah dan menuruti kemauannya yang ia kira sebagai cara satu-satunya untuk melakukan perbaikan (ganti sistem/revolusi). 
 
Kembali pada persoalan riwayat tafsir. Penelitian riwayat merupakan hal mutlak untuk dilakukan bilamana pemahaman tersebut berkaitan dengan hukum. Adapun bila berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seperti biologi, fisika, ekonomi dan sebagainya, ada peluang untuk masuk ke dalam dunia tafsir, akan tetapi hanya pada aspek menegaskan pemahaman yang sudah ma’tsûrât (disampaikan dalam bentuk dokumen riwayat) dan berupa penegasan terhadap ayat-ayat yang sifatnya kauniyah (berkenaan dengan alam).
 
Misalnya, untuk memahami bagaimana bentuk bumi, peredaran benda langit, peredaran bulan, dan lain sebagainya, mutlak dalam hal ini dibutuhkan alat penafsiran berupa pengetahuan. Adapun yang berkaitan dengan ayat hukum, seperti lama ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suami, atau ‘iddah perempuan thalaq mati, maka semua ini merupakan ilmu yang bersifat ta’abbudi (harus mengikut pada dokumen nash dan riwayat penafsiran). Meskipun dunia modern sudah menemukan alat baru berupa mesin USG yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi rahim sehingga bisa memastikan kondisi istibrâ-u al-rahmi (bebasnya rahim), sifat dari ilmu ini tidak bisa mengalahkan aspek ta’abbudi dari ‘iddah yang mensyaratkan masa tunggu selama beberapa waktu lamanya sebagaimana sudah ditetapkan syariat. 
 
Walhasil, keanehan dalam dunia tafsir ayat Al-Qur’an merupakan sebab lahirnya ilmu al-ashîl wa al-dakhîl fi tafsîr al-qur’an. Sebagai penutup dari tulisan ini, sebuah kutipan dari Syeikh Abdul Wahab al-Fayad, salah satu ulama’ tafsir dari Universitas Al-Azhar. Beliau menggambarkan mengapa “keanehan” terjadi dalam tafsir ? Sepintas kilas, hal itu beliau sampaikan dalam muqaddimah kitab karyanya:
 
الدخيل... إنه عبارة عن التفسير الذي ليست له أصول ثابتة في الدين كأن يكون مخالفا لروح القرآن الكريم أو منافيا للعقل السليم أو ناشئا عن فهم سقيم أو نابعا من فكر وافد على الإسلام دين الله القويم
 
Artinya: “Al-Dakhil ... merupakan suatu istilah bagi penafsiran yang tidak memiliki sumber rujukan teruji (tsabitah) dalam agama, misalnya: penafsiran yang bertentangan dengan ruh ajaran Al-Qur’an yang Mulia, atau bertentangan dengan akal sehat, atau tumbuh karena pemahaman yang sakit, atau lahir dari pemikiran baru atas agama Islam yang seharusnya didudukkan sebagai agama Allah yang lurus.” (Abdul Wahab Abdul Wahab al-Fayad, al-Dakhîl fi Tafsîr Al-Qur’an al-Karîm, Kairo: Mathba’ah al-Hadlârah al-‘Arabiyyah, 1980: 2/3).
 
Wallahu a’lam bish shawâb. 
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah – LBMNU PWNU Jawa Timur
 
Jumat 6 September 2019 9:30 WIB
Konsep Budak Riqab dan Raqabah dalam Al-Qur’an
Konsep Budak Riqab dan Raqabah dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: ibtimes.co.uk
Saat kita membuka kitab fiqih dari para imam madzahibul arba’ah, kajian tentang masalah budak ini selalu ditempatkan di bagian akhir pembahasan dengan tema besar yang diusung adalah al-’itqu. Syekh Zakaria Al-Anshary memaknai al-’itqu ini sebagai:

باب العتق بمعنى الإعتاق وهو إزالة الرق عن الآدمي

Artinya, “Babul ’itqi, dengan makna al-i‘taq, yaitu usaha menghilangkan status budak dari anak adam,” (Zakaria Al-Anshary, Tuhfatut Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, [Beirut, Dar Ihya’it Turats: tt], halaman 513-514).

Istilah ar-riqq dalam kamus mu’jam al-ma’any diartikan sebagai العبودية (sifat yang menunjukkan makna kehambaan). Dengan demikian apa yang dimaksud oleh Syekh Zakaria Al-Anshary di atas adalah upaya menghilangkan sifat budak pada diri seseorang. Tentunya para fuqaha’ lain yang menggunakan istilah yang sama dalam kajian fiqihnya, memiliki kesamaan maksud dengan Syekh Zakaria Al-Anshary tersebut).

Ketika berbicara mengenai dalil asal upaya memerdekakan budak ini, Syekh Zakaria menyuguhkan penggalan ayat, yaitu فك رقبة (Surat Al-Balad ayat 13). Penafsiran para ulama’ terhadap ayat ini adalah:
 
أي: فكها من الرق، بعتقها أو مساعدتها على أداء كتابتها، ومن باب أولى فكاك الأسير المسلم عند الكفار

Artinya, “Melepaskannya dari sifat budak dengan jalan memerdekakannya, membantunya dalam menunaikan akad kitabah-nya, dan dalam Bab Khusus adalah membebaskan budak muslim tawanan perang dari tangan kaum kuffar,” (As-Sa’di, Tafsir As-Sa’di, bisa dirujuk di link berikut: http://www.quran7m.com/searchResults/090013.html).

At-Thanthawy memberikan penafsiran yang sama dengan As-Sa’di terhadap ayat ini, yaitu sebagai:

والمراد بفك الرقبة إعتاقها وتخليصها من الرق والعبودية . إذ الفك معناه : تخليص الشئ من الشئ

Artinya, “Yang dimaksud dengan فك رقبة adalah memerdekakannya, melepaskannya dari sifat ar-riqq atau sifat budaknya. Karena dalam hal ini al-fakku memiliki makna, melepaskan sesuatu dari sesuatu,” (Al-Tanthawy, Al-Wasith lit Tanthawy, bisa dirujuk di link berikut: http://www.quran7m.com/searchResults/090013.html). 

Dengan memperhatikan konsep penafsiran ini dan mencermati penggunaan kosakata dari para ulama dalam menjadikan ayat فك رقبة sebagai dalil asal bab memerdekakan budak, maka secara tidak langsung para fuqaha menyamakan makna antara term ar-riqq dengan ar-raqabah, yaitu sebagai “budak murni” yang belum tersentuh oleh akad, seperti akad kitabah, ummul walad, dan sejenisnya.

Penting dicatat bahwa, karena رقبة merupakan isim muannats, maka ia adalah seorang budak perempuan. Jika ditelaah lebih lanjut, terminologi رقبة di dalam Al-Qur’an dapat kita temui dalam beberapa ayat, antara lain Surat An-Nisa ayat 92, Surat Al-Maidah ayat 89, Surat Al-Mujadilah ayat 3, dan Surat Al-Balad ayat 13. Bentuk turunan (musytaq) dari رقبة di dalam Al-Qur’an adalah adalah رقاب. Ayat yang menggunakan kata رقاب ini dapat kita temukan pada 3 surat, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 177, Surat At-Taubah ayat 60, dan Surat Muhammad ayat 4.

Jika dilihat dari urutan turunnya ayat, maka secara berturut-turut–dari ayat yang paling dulu turun sampai yang paling akhir diturunkan–akan tampak sebagai berikut: Surat Al-Balad ayat 13, Surat Al-Baqarah ayat 177, Surat An-Nisa ayat 92, Surat Muhammad ayat 4, Surat Al-Mujadilah ayat 3, Surat Al-Maidah ayat 89, dan Surat At-Taubah ayat 60.

Dilihat dari sisi tema yang dikehendaki oleh ayat, maka bisa diuraikan sebagai berikut:

1.    Surat Al-Balad ayat 13.
Ayat ini berbicara tentang pembebasan budak, yang mana hal tersebut merupakan upaya yang sulit. Di dalam ayat ini, sulitnya membebaskan budak diiringi dengan perbuatan lain yang juga condong bahwa manusia sulit melakukannya, yaitu memberi makan orang lain di masa paceklik. Allah SWT berfirman:

وما أدرىك ما العقبة (12) فك رقبة (13) أو اطعام في يوم ذي مسغبة (14) يتيما ذا مقربة (15) أو مسكينا ذا متربة (16)

Artinya, “Dan tahukah kamu, apakah jalan mendaki dan sukar itu (12), (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) (13) atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan (14) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat (15) atau orang miskin yang sangat fakir (16).” (Surat Al-Balad ayat 12-16).

2.    Surat Al-Baqarah ayat 177.
Di dalam ayat ini, Allah SWT memberikan gambaran tentang perbuatan kebajikan. Bahwa yang dinamakan kebajikan itu bukanlah senantiasa menghadapkan wajah ke barat atau ke timur. Menghadapkan wajah ke barat dan ke timur ini mengisyaratkan seseorang yang tahu segala hal.
Jadi, bukan pengetahuan terhadap segala hal itu yang dikehendaki Allah terhadap pribadi manusia, melainkan Dia menghendaki agar manusia senantiasa memperhatikan aspek rohani (berupa keimanan) dan cakap dalam sosial, termasuk di dalamnya adalah memerdekakan hamba sahaya. Allah SWT berfirman:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya, “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, akan tetapi kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab Allah, dan para nabi-Nya, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerekakan hamba sahaya, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang senantiasa menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang yang senantiasa bersabar di saat melarat dan penderitaan ketika masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang sebenarnya bertakwa” (Surat Al-Baqarah ayat 177).

3.    Surat An-Nisa ayat 92.
Tema dari ayat ini, adalah berbicara tentang larangan membunuh jiwa tanpa hak. Bila hal itu dilakukan akibat pembunuhan tersalah (tidak sengaja) maka diyat yang harus ditunaikan salah satunya adalah memerdekakan budak perempuan yang beriman (raqabatin mu’minatin). Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَن يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya, “Tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (lainnya) kecuali karena tidak sengaja. Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, maka hendaklah ia memedekakan budaya perempuan beriman serta membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarga terbunuh, kecuali jika mereka membebaskan pembayaran. Jika dia yang terbunuh dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang yang beriman, maka hendaklah ia memerdekakan budak perempuan yang beriman. Dan jika yang terbunuh dari kaum kafir yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaklah si pembunuh membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarga terbunuh serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa tidak mendapatinya (budak perempuan yang beriman), maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai pernyataan taubat kepada Allah SWT. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Surat An-Nisa’ ayat 92).

4.    Surat Muhammad ayat 4.
Di dalam ayat ini, makna term ar-riqab dimaknai sebagai batang leher. Konteksnya adalah peperangan. Di dalam ayat ini juga dibicarakan mengenai perlakuan terhadap tawanan perang yang bisa dibebaskan dengan jalan di tebus.

Berdasarkan ayat ini, seolah dinyatakan bahwa perang merupakan sabab musabab dari lahirnya konsepsi perbudakan. Karena masyarakat jahiliyah sebelumnya sudah menjadikannya sebagai harta, dan agar tidak menimbulkan guncangan sosial, maka syariat mengatur bagaimana budak yang sudah dirupakan harta ini bisa terbebas, salah satunya adalah dengan tebusan. Allah SWT berfirman:
 
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

Artinya, “Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), maka pukullah batang leher mereka. Selanjutnya, apabila kamu telah mengalahkan mereka, tawanlah mereka, dan setelah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang selesai. Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka,” (Surat Muhammad ayat  4).

5.    Surat Al-Mujadilah ayat 3.
Ayat ini berbicara mengenai diyat suami akibat rujuk dengan istrinya setelah terjadinya zhihar (thalaq kinayah (cerai sindiran) karena menyerupakan istri dengan ibunya dengan disertai niat menceraikan). Raqabah dalam ayat ini bermakna budak perempuan. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِن نِّسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya, “Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan,” (Surat Al-Mujadilah ayat 3).

6.    Surat Al-Maidah ayat 89.
Ayat ini berbicara mengenai sumpah dan kafarat (tebusan) sumpah. Di antara kafarat sumpah itu adalah memerdekakan budak perempuan (raqabah). Makna raqabah dalam ayat ini berlaku umum, sama dengan ayat Surat Al-Mujadilah ayat 3. Allah SWT berfirman:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, akan tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerekakan seorang budak perempuan. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka kafaratnya adalah berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu jikalau kalian bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya),” (Surat Al-Maidah ayat 89).
 
7.    Surat At-Taubah ayat 60
Ayat ini berbicara mengenai riqab yang bisa dimerdekakan melalui harta zakat. Riqab dalam ayat ini bermakna budak. Lafadh riqab disampaikan dengan menggunakan “al” jinsiyyah yang berarti bermakna khusus, yaitu yang beriman.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ 

Artinya, “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk memerdekakan budak, untuk memerdekakan orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Surat At-Taubah ayat 60).

Korelasi Antarayat
Jika kita perhatikan hierarki dari ayat-ayat ini, maka istilah raqabah dan riqab memiliki hubungan erat dengan konsep peperangan. Mereka merupakan pihak yang ditawan di saat peperangan dan bisa merdeka dengan jalan utama yaitu tebusan. Dengan kata lain, bahwa tebusan ini berlaku seolah sebagai harga. Dengan demikian, raqabah dan riqab, keduanya adalah barang berharga.

Syariat Islam mengatur pembebasan masing-masing untuk diterapkan oleh umat Islam sendiri, dengan mengarusutamakan raqabah dibanding riqab, dan mengutamakan yang beriman dibanding yang masih dalam bingkai keyakinannya yang lama. Tahapan tersebut meliputi sebagai berikut:

1.    Raqabah yang beriman
Raqabah yang beriman, dapat merdeka melalui beberapa cara:
a.    Dimerdekakan oleh pemiliknya.
b.    Sebagai diyat pembunuhan, baik tersalah atau tidak, baik terhadap orang muslim atau kafir dzimmy.
c.    Sebagai diyat dhihar atau kafarat sumpah.
 
2.    Riqab yang beriman.
Riqab (budak laki-laki) yang beriman, dapat merdeka melalui dua cara, yaitu:
a.    Dimerdekakan oleh pemiliknya.
b.    Dibeli dengan harta zakat.
 
3.    Raqabah yang tidak beriman.
Raqabah yang tidak beriman, dapat merdeka melalui dua cara, yaitu:
a.    Dimerdekakan oleh pemiliknya.
b.    Sebagai diyat dhihar atau kafarat sumpah.
 
4.    Riqab yang tidak beriman.
Adapun riqab yang tidak beriman, dapat merdeka hanya melalui satu cara, yaitu dimerdekakan oleh pemiliknya. 

Walhasil, dengan menilik ayat ini, jika riqab dan raqabah adalah dihasilkan dari akibat peperangan, maka statusnya adalah tawanan perang yang berubah menjadi budak seiring dengan tebusan.

Syariat lebih menekankan pembebasan pada budak perempuan (raqabah) dibanding budak laki-laki. Kiranya maqashidus syari’ah melakukan pengaturan ini adalah memiliki orientasi utama menghilangkan perbudakan atas manusia lain, sebagaimana hal ini termuat dalam Surat Al-Balad ayat 13 dan Surat Al-Baqarah ayat 177. Wallahu a‘lam bis shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah pada Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timura