IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Alasan Muharram Jadi Bulan Pertama Hijriyah, Bukan Rabi’ul Awwal

Senin 16 September 2019 15:0 WIB
Share:
Alasan Muharram Jadi Bulan Pertama Hijriyah, Bukan Rabi’ul Awwal
Ilustrasi
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." (QS At-Taubah: 36).
 
Kalender Hijriyah dikenal sebagai sistem penanggalan Islam. Dia memiliki 12 bulan dan sekitar 354-355 hari dalam satu tahun. Kalender Hijriyah menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya sehingga dalam setahun jumlah harinya lebih sedikit 11 hari dari pada Masehi yang mengacu pada peredaran matahari (sekitar 365-366 hari). 
 
Adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab orang yang menetapkan kalender Hijriyah. Dia menjadikan hijrah Nabi Muhammad ke Kota Madinah sebagai permulaan dari kalender Islam tersebut. Umar bin Khattab menilai, hijrah Nabi Muhammad adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Karena, pada saat hijrah lah dakwah Islam menjadi semakin kuat dan gemilang—tentunya dengan pertolongan Allah. 
 
Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa bulan pertama dalam kalender Hijriyah adalah Muharram, bukan Rabi’ul Awwal? Bukankah Nabi Muhammad berhijrah dari Makkah pada bulan Shafar dan tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-14 kenabian? Mengapa Umar bin Khattab tidak menetapkan Rabi’ul Awwal sebagai bulan pertama Hijriyah?
 
Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018) dijelaskan, beberapa ahli menilai bahwa permulaan hijrah justru terjadi pada bulan Muharram. Hal ini didasarkan pada Baiat Aqabah kedua yang terjadi pada bulan Dzul Hijjah. ​​​​​​Ketika baiat tersebut, hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah telah disepakati. Bahkan, sebagian sahabat telah berangkat ke Madinah mendahului Nabi Muhammad. Oleh karena itu hijrah dihitung setelah ada kebulatan tekad dan kesepakatan untuk melakukannya, bukan pada pelaksanaannya.  
 
Sistem penanggalan Islam ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, pada tahun ke-16 Hijriyah—16 tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad. Sebelum ada kalender Hijriyah, umat Islam terkadang menggunakan Tahun Gajah atau peristiwa-peristiwa besar lainnya dalam sejarah peperangan orang Arab sebagai patokan penanggalan. 
 
Penetapan kalender Hijriyah oleh Umar bin Khattab bukan tanpa perbandingan dengan sistem penanggalan yang sudah ada. Umar pernah membandingkan sistem penanggalan Hijriyah dengan kalender Persia dan Romawi. Hasilnya, kalender Hijriyah lebih cemerlang dari pada kalender Persia dan Romawi karena kalender Islam telah menerjemahkan peristiwa besar dalam sejarah dunia, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad ke Kota Madinah. 
 
Ada ‘misi khusus’ dibalik Umar bin Khattab membuat kalender baru tersebut, yakni persatuan Arab di bawah naungan Islam. Demikian disebutkan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Umar bin Khattab (2015). Misi Umar tersebut semakin kokoh manakala pasukan umat Islam berhasil membebaskan beberapa wilayah di luar semenanjung Arab; menaklukkan beberapa daerah seperti Kisra, Kaisar, Madain, dan Yerusalem—hingga mendirikan Masjidil Aqsa di samping Gereja Anastasis. 
 
Riwayat lain menyebutkan bahwa suatu ketika Umar bin Khattab menerima beberapa surat, termasuk sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari. Sayangnya, surat-surat tersebut tidak memiliki keterangan tanggal dan hari. Hal itu membuat Umar bin Khattab kesulitan untuk membalasnya; surat dari siapa dulu yang harus dibalas. Dia kemudian mengumpulkan beberapa sahabat senior dan mengajaknya bermusyawarah untuk menyusun sistem penanggalan Islam.
 
Musyawarah tersebut menghasilkan beberapa usulan terkait dengan patokan awal kalender Islam. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi, tahun pengangkatan Nabi, tahun wafatnya Nabi, dan tahun hijrahnya Nabi. Singkat cerita, akhirnya disepakati bahwa permulaan kalender Islam adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad. Waallhu ‘Alam.
 
Penulis: A Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Share:

Baca Juga

Ahad 15 September 2019 16:0 WIB
Khutbah Pertama Nabi Usai Hijrah ke Madinah
Khutbah Pertama Nabi Usai Hijrah ke Madinah
Ilustrasi
Nabi dan umat Islam terpaksa meninggalkan Makkah dan bermigrasi ke Yatsrib setelah Nabi mendapatkan wahyu untuk berhijrah ke Kota Yatsrib karena mereka mengalami penyiksaan dan penindasan yang luar biasa dari musyrik Quraisy. Mereka terusir dari kampung halamannya sendiri. Juga dipaksa untuk meninggalkan semua harta bendanya yang kemudian dikuasai kaum musyrik Quraisy. Jadi, umat Islam berhijrah tanpa membawa kekayaan secuil pun. 
 
Umat Islam berangkat ke Kota Yatsrib secara bergelombang. Nabi Muhammad ditemani Abu Bakar berhijrah pada tanggal 27 Shafar tahun ke-14 kenabian. Beliau menaiki Qashwa, seekor unta yang dibeli dari Abu Bakar, dalam menyusuri perjalanan panjang ke Kota Yatsrib. setelah melewati berbagai macam halangan dan rintangan, Nabi akhirnya tiba di Kota Yatsrib pada bulan Rabi’ul Awwal atau pada hari Senin, 22 September 622 M. 
 
Masyarakat Yatsrib menyambut Nabi Muhammad dengan penuh suka cita. Semua orang menghendaki agar Nabi bersedia tinggal di rumahnya. Namun, beliau menyatakan akan tinggal di rumah yang dipilih Qashwa, unta kesayangannya. Maka kemudian beliau membiarkan Qashwa berjalan hingga akhirnya unta Nabi berhenti di sebuah bidang tanah milik Sahl dan Suhail, dua orang anak yatim piatu yang diasuh As’ad. Di situ lah kemudian dibangun Masjid Nabawi dan bilik-bilik kamar Nabi Muhammad di sampingnya.
 
Pada saat tiba di Yatsrib itulah, Nabi Muhammad menyampaikan sebuah khutbah untuk meneguhkan keimanan umat Islam (terutama kaum Muhajirin) dan mengingatkan mereka agar menjaga dirinya dari neraka. Merujuk Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 2018), berikut khutbah pertama Nabi Muhammad di Kota Yatsrib sebagaimana riwayat Ibnu Ishaq:
 
"Wahai manusia, persiapkan untuk diri kalian, niscaya kalian tahu demi Allah bahwa seorang dari kalian pasti meninggal dunia. Ia tinggalkan kambing-kambingnya tanpa penggembala. Rabb-nya pasti berkata kepadanya dan tidak ada penerjemah di antara keduanya atau penghalang di antara keduanya, 'Tidakkah datang kepadamu Rasul-Ku, kemudian dia menyampaikan apa yang diterimanya kepadamu? Bukankah aku telah memberimu kekayaan dan melebihkanmu, namun kenapa engkau tidak mempersembahkan sesuatu untuk dirimu?' Ia melihat ke kanan dan ke kiri tapi ia tidak melihat apa-apa. Ia melihat ke depannya, tapi ia tidak melihat selain neraka jahannam. Barang siapa mampu melindungi wajahnya dari neraka, kendati hanya dengan separuh biji kurma, hendaklah ia mengerjakannya. Barang siapa tidak mendapatkannya, hendaklah ia melindungi wajahnya dari neraka dengan perkataan yang baik, karena sesungguhnya kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat lebih banyak," kata Nabi Muhammad di hadapan umat Islam, setelah menyampaikan salam dan memuji Allah. 
 
Melalui khutbah itu, Nabi Muhammad mengajak umat Islam untuk menatap kehidupan baru di Kota Yatsrib. Kehidupan setelah mereka meninggalkan semua harta benda dan keluarganya di Makkah. Kehidupan di bawah bimbingan Rasulullah, utusan Allah. Kehidupan bersama dengan saudara baru, kaum Anshor.
 
Nabi Muhammad kemudian melakukan beberapa terobosan dalam membangun Kota Yatsrib; mengganti nama Yatsrib dengan Madinah, menjadikan masjid sebagai pusat semua kegiatan–bukan hanya untuk tempat pengajaran Islam dan beribadah saja tapi juga untuk menyusun siasat perang dan pembinaan umat, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor, serta menjalin perjanjian dengan kaum Yahudi dan Nasrani.
 
Apa yang dilakukan Nabi Muhammad itu terbukti ampuh. Beliau berhasil menyulap kota Yatsrib yang biasa-biasa saja menjadi Kota Madinah yang berperadaban dan diperhitungkan di jazirah Arab pada saat itu. Dengan Piagam Madinah, Nabi Muhammad juga berhasil membangun masyarakat yang majemuk di Madinah hidup dalam harmoni dan damai. 
 
Penulis: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
Rabu 11 September 2019 21:0 WIB
Misi Balas Dendam Kaum Musyrik dan Usulan Pembongkaran Makam Ibunda Nabi
Misi Balas Dendam Kaum Musyrik dan Usulan Pembongkaran Makam Ibunda Nabi
Ilustrasi perang di masa Nabi.
Kaum musyrik Quraisy mengalami kekalahan telak saat Perang Badar melawan pasukan umat Islam. Pada Perang Badar, jumlah pasukan kaum musyrik yang meninggal mencapai 70 orang–termasuk Abu Jahal, Begitu pula yang tertawan (dari total pasukan 1.300 orang). Sementara dari pihak umat Islam, ada 14 sahabat –enam dari kaum Muhajirin dan delapan Ansor-yang gugur dalam pertempuran tersebut. Padahala jumlah pasukan Muslim dalam Perang Badar hanya 300 orang lebih sedikit. 

Kekalahan pada Perang Badar membuat kaum musyrik Quraisy semakin terjepit dalam hal perdagangan. Mereka tidak bisa lagi berdagangan ke Irak dan Syam karena jalur perdagangannya ditutup pasukan umat Islam. Sebetulnya mereka tetap bisa melewati jalur perdagangan tersebut, asal membayar upeti kepada pasukan umat Islam. Namun mereka enggan melakukannya. 
 
Ditambah semakin banyak orang yang memeluk Islam. Hal itu membuat kemarahan dan kedengkian kaum musyrik Makkah terhadap umat Islam semakin memuncak. Para elit kaum musyrik kemudian mengumpulkan dana dan memprovokasi masyarakat Makkah untuk melakukan misi balas dendam terhadap umat Islam. Abu Sufyan didaulat menjadi pemimpin ‘pasukan balas dendam.’
 
Tidak tanggung-tanggung, jumlah pasukan balas dendam tiga kali lebih banyak daripada saat Perang Badar. Para elit kaum musyrik berhasil mengumpulkan 3.000 pasukan, 3.000 ekor unta, dan 200 ekor kuda. Setelah semuanya siap, mereka berangkat ke Madinah untuk membalas dendam terhadap umat Islam.
Ketika pasukan kaum musyrik tiba di al-Abwa–sebuah daerah yang terletak sekitar 37 kilometer dari Madinah, beberapa orang mengusulkan agar makam ibunda Nabi Muhammad, Sayyidah Aminah, dibongkar.
 
Usulan itu dimaksudkan sebagai aksi balas dendam terhadap Nabi Muhammad, orang yang selama ini mereka musuhi dan tentang. Iya, Sayyidah Aminah memang dimakamkan di al-Abwa setelah jatuh sakit dalam perjalanan pulang, dari Madinah ke Makkah, bersama dengan Muhammad kecil dan Ummu Aiman.  
 
Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah (M Quraish Shihab, 2018) di antara pasukan kaum musyrik tersebut ada yang menolak usulan pembongkaran makam Sayyidah Aminah tersebut. Alasan penolakannya adalah, dikhawatirkan hal itu –pembongkaran makam- akan menjadi tradisi baru di tengah suku-suku Arab lainnya yang memiliki dendam akibat saling membunuh keluarga.
 
Sementara Abbas bin Abdul Muthalib –paman Nabi Muhammad--langsung mengirimkan surat kepada Nabi perihal usulan tersebut. Nabi meminta Ubay bin Ka’ab untuk membacakan isi surat dari pamannya itu. Terkait informasi dari pamannya itu, Nabi Muhammad mengutus beberapa orang untuk–secara bertahap--untuk mengecek kebenarannya. Benar saja, utusan Nabi memberi tahu bahwa ribuan pasukan kaum musyrik Quraisy sudah tiba di pinggir Kota Madinah.
 
Nabi Muhammad kemudian segera mengumpulkan para sahabatnya dan menggelar musyawarah perihal bagaimana menghadapi pasukan balas dendam yang jumlahnya begitu besar dan amunisi perangnya cukup lengkap tersebut. Apakah menanti kedatangan mereka hingga masuk ke Kota Madinah atau melawan mereka di luar kota? Setelah ditimbang maslahat dan mudaratnya, maka Nabi Muhammad dan para sahabat sepakat untuk meladeni pasukan balas dendam kaum musyrik Quraisy di luar Kota Madinah.

Singkat cerita, meletuslah perang antara pasukan umat Islam dan pasukan kaum musyrik Quraisy di dekat Bukit Uhud. Oleh sebab itu, peperangan ini disebut dengan Perang Uhud. Semula kemenangan sudah mendekat kepada pasukan umat Islam. Namun, karena pasukan pemanah meninggalkan posnya –di atas bukit- dan ikut turun ke bawah untuk mengambil bagian ghanimah, maka akhirnya pasukan kaum musyrik berhasil memukul mundur pasukan umat Islam.
 
A Muchlishon Rochmat
Rabu 11 September 2019 18:30 WIB
Saat 3 Elite Musyrik Quraisy Ketagihan Bacaan Al-Qur’an Nabi
Saat 3 Elite Musyrik Quraisy Ketagihan Bacaan Al-Qur’an Nabi
Ilustrasi
Di antara petinggi musyrik Quraisy yang menentang dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah Abu Jahal bin Hisyam, Abu Sufyan bin Harb, dan Al-Akhnas bin Syariq. Ketiganya memiliki nasib yang berbeda nantinya.
 
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ada yang tetap menentang Islam hingga akhir hayatnya (Abu Jahal dan Al-Akhnas). Ada pula yang mendapat hidayah hingga akhirnya menjadi pengikut Nabi dan menjadi pembela Islam (Abu Sufyan).
 
Pada saat-saat kelahiran Islam, ketiga elite Quraisy tersebut–Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas-kerap kali menyelinap ke rumah Nabi Muhammad untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Ketiganya datang sendiri-sendiri. Masing-masing tidak saling tahu kalau ada orang lain melakukan hal yang sama, yakni mencuri dengar bacaan Al-Qur’an Nabi Muhammad. 
 
Ketika tiba di rumah Nabi, mereka mengambil tempat duduknya masing-masing. Sampai tersebut, setiap dari mereka belum mengetahui tempat duduk temannya. Mereka sengaja tidak tidur sepanjang malam hanya untuk mendengarkan Nabi Muhammad membaca Al-Qur'an. Mereka baru pulang ketika fajar sudah tiba. Di tengah jalan, Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas saling bertemu di salah satu jalan.  
 
"Jangan ulangi perbuatan kalian ini, sebab jika kalian dilihat sebagian orang-orang yang tidak waras di antara kalian, pasti kalian meninggalkan sesuatu pada dirinya," kata salah satu dari mereka, dikutip dari Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 2018). Ketiganya kemudian bubar ke rumah masing-masing.
 
Keesokan malam harinya, ketiganya datang lagi ke pinggir rumah Nabi Muhammad untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Ketika pulang, mereka saling kepergok. Salah satu mereka mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya, agar tidak mengulangi mencuri dengar bacaan Al-Qur'an Nabi Muhammad. Meski berjanji untuk tidak melakukannya lagi, mereka tetap menyelinap ke rumah Nabi Muhammad. Seolah mereka ketagihan dengan bacaan Al-Qur'an. Akan tetapi, hal itu tidak sampai membuat ketiga elite Quraisy tersebut masuk Islam.

Memang, Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad. Ia bukan puisi, prosa, atau syair. Namun, kalimat Al-Qur’an begitu indah. Siapa pun yang mengerti bahasa Arab pasti terpukau dengan keindahan susunan kalimat dan isi Al-Qur’an. Oleh sebab itu, Allah menantang siapapun untuk membuat seperti Al-Qur’an. Namun, tidak ada seorang pun yang mampu membuat yang sepadan–apalagi melebihi- Al-Qur’an.
 
Keindahan Al-Qur’an seolah-olah membuat para elite musyrik Quraisy ‘tersihir,’ tidak terkecuali Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas. Meski menentang dakwah Islam, namun nyatanya mereka begitu menikmati –bahkan ketagihan dengan--bacaan ayat Al-Qur’an. 
 
Abu Jahal sendiri dikenal sebagai pribadi yang kejam, bengis, dan tidak segan menghabisi lawan-lawannya. Karena sikapnya yang seperti itu lah, Abu Jahal dijuluki sebagai Fir’aun pada zaman Nabi Muhammad. Salah satu sahabat yang merasakan tangan dingin Abu Jahal adalah Sumayyah. Dia gugur setelah mendapatkan siksaan dari Abu Jahal.
 
Ia melakukan banyak hal untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari mengintimidasi umat Islam hingga mengancam secara terang-terangan Nabi Muhammad secara terang-terangan. Dia pula lah orang yang menyulut terjadinya perang Badar. Abu Jahal tetap menolak Islam hingga akhir hanyatnya. Ia gugur dalam Perang Badar. 
 
Sama seperti Abu Jahal, Abu Sufyan bin Harb juga orang yang gigih memerangi dakwah Nabi Muhammad selama kurang lebih 20 tahun. Dia begitu benci dengan Islam awalnya. Ia bahkan menjadi pemimpin dalam Perang Uhud dan Perang Khandaq melawan pasukan umat Islam. Namun pada saat peristiwa Fathu Makkah, Abu Sufyan bin Harb masuk Islam setelah mendapatkan hidayah. Sejak itu, dia menjadi sahabat yang begitu gigih membela Islam. Ia terlibat dalam peperangan–dalam barisan pasukan umat Islam-melawan musuh-musuh Islam.
 
Sementara Al-Akhnas bin Syariq dikenal sebagai seorang yang munafik. Suatu ketika, Al-Akhnas menemui Nabi Muhammad dan menyatakan diri masuk Islam. Namun setelah keluar dari majelis Nabi, ia melewati kebun tanaman dan hewan miliki umat Islam. Ia kemudian membakar kebun tersebut dan membunuh hewan-hewan tersebut. Atas beberapa tingkah munafik Al-Akhnas, Allah kemudian menurunkan beberapa ayat, diantaranya Al-Baqarah: 204, Al-Qalam: 10-16, dan Al-Humazah: 1-9. Waallahu ‘Alam
 
A Muchlishon Rochmat