IMG-LOGO
Hikmah

Cara Istana Kerajaan Persia Mendidik Calon Pemimpin Publik

Selasa 17 September 2019 15:0 WIB
Share:
Cara Istana Kerajaan Persia Mendidik Calon Pemimpin Publik
Ilustrasi
Raja Kisra dari Dinasti Sassania (penguasa Persia 590-628 Masehi) memanggil seseorang cendekiawan ke istananya. Ia mengutus pengawal istana untuk menghadirkan cendekiawan yang dimaksud. Ia meminta guru cendekia itu untuk mengenalkan anaknya terhadap pelbagai cabang ilmu pengetahuan.

Guru cendekia menerima tugas mulia dari istana. Guru bijak dan cendekia itu menjalankan tugasnya sesuai permintaan Kisra. Selama bertahun-tahun sang guru menekuni tugasnya dengan totalitas.

Sampai pada giliran di mana muridnya telah mencapai puncak kematangan dalam ilmu pengetahuan dan akhlaknya, sang guru memintanya untuk berdiri di hadapannya. Tak terpikirkan apa yang akan dilakukan sang guru karena ketidaklazimannya. Guru bijak cendekia itu kemudian tanpa diduga memukul murid kesayangannya tersebut.

Atas insiden itu, sang murid putra mahkota ini menyimpan dengan rapi dendam sampai gurunya menginjak lansia. Ia tidak terima atas perlakuan sang guru. Ia merahasiakan peristiwa dan dendamnya dari siapa pun termasuk orang tua dan gurunya sendiri.

Waktu terus berjalan. Aktivitas kerajaan tetap berjalan seperti biasa, rutin dan membosankan. Sama halnya dengan aktivitas pembelajaran sang guru dan sang putra mahkota.

Suatu ketika sang ayah wafat. Sang anak putra mahkota pun naik takhta kerajaan yang dikenal dunia sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan peradaban. Ia menggantikan posisi ayahnya yang mangkat. Ia segera menjalankan pemerintahan atas Persia sesuai dengan bekal ilmu pengetahuan dan sejarah kekuasaan yang diketahuinya.

Roda pemerintahan terus berjalan. Aktivitas ekonomi masyarakat pun terus bergerak. Pembangunan infrastruktur juga terus berlangsung. Pengembangan ilmu pengetahuan dan SDM masyarakat Persia tetap berlangsung tanpa kurang sesuatu apa.

Walhasil selama beberapa tahun, semua berjalan sebagaimana biasa hingga pada suatu saat sang raja teringat pada perlakuan gurunya di waktu lampau yang menyisakan dendam. Ia kemudian mengambil kesempatan untuk membalas dendamnya. Ia tanpa peduli meminta pengawal kerajaan untuk mencari gurunya yang kini sudah renta. Hal ini dilakukan demi menuntut keadilan atas kezaliman sang guru.

Di hadapan sang raja, sang guru membungkuk hormat dan memberi salam.

“Wahai tuan guru, aku sangat menghormatimu atas segala jenis pengetahuan yang pernah kaukenalkan kepadaku.” kata raja membuka percakapan kepada gurunya yang berusia sangat lanjut.

Sang guru masih mendengarkan raja yang dulu adalah murid kesayangannya. Ia menunggu lanjutan dari ucapan sang raja.

“Tetapi kau tentu masih ingat bukan pada suatu hari di mana kau memukulku agak sakit tanpa sebab dan kesalahan yang kubuat? Aku ingin menuntut keadilan atas kezaliman tersebut,” kata sang murid dengan tekanan datar.

Pertanyaan sang raja di luar dugaan. Pertanyaan sekaligus tuntutan muridnya itu seakan petir yang menyambar di siang hari. Ia mengingat benar peristiwa tersebut. Ia sadar benar bahwa penuntut keadilan yang dihadapinya bukan murid kesayangannya dulu, tetapi penguasa Persia yang sedang menjabat. Namun demikian, sang guru dapat mengendalikan diri. Ia memahami tujuan dari pemukulan secara sengaja yang cukup sakit kepada muridnya ketika itu. Sementara sang raja dan para pembesar istana menunggu dengan seksama jawaban yang keluar dari mulut sang guru.

“Ketahuilah wahai paduka, ketika kau mencapai kematangan, derajat, dan adab setinggi ini, aku sadar bahwa kau akan menggantikan kursi ayahmu. Aku ingin kau merasakan pukulan dan sakitnya kezaliman ketika itu sehingga kelak kau tidak melakukan pemukulan dan kezaliman kepada rakyatmu,” jawab sang guru.

Sang raja yang bijak, terdidik, dan memiliki standar peradaban yang tinggi sangat mudah menerima penjelasan pesakitan di hadapannya. Ia terpukau dan terpesona pada jawaban bijak sang guru. Baginya, jawaban sang guru mengandung kekuatan ghaib luar biasa. Ia kemudian bangun dari kursi dan memeluk gurunya yang sudah sangat lanjut usia. Ia berterima kasih kepada sang guru atas peringatan dan pelajaran berharga tersebut karena selama ini tidak ada yang berani mengingatkan sang raja.

“Semoga Allah membalas baik budi tuan guru,” kata penguasa Persia menitikkan air mata.

Sang raja kemudian meminta pengawal istana untuk mengantar kembali pulang gurunya. Sebagai bentuk terima kasih, sang raja juga memberikan hadiah kepada gurunya.

*

Kisah ini diangkat kembali oleh Syekh M Nawawi Al-Bantani, Bahjatul Wasail bi Syarhi Masail, [Semarang, Thaha Putra: tanpa tahun], halaman 38. Syekh M Nawawi Al-Bantani mengutip riwayat ini dari kitab Az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kaba’ir karya Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami.

Adapun Kisra adalah sebutan pada khazanah Islam yang dalam sejarah merujuk pada penguasa Persia yang dikenal dengan sebutan Khosrau II, Kisra II, atau Chosroes II. Sejarah klasik Persia menyebutnya dengan julukan Parvez atau "Yang Selalu Berjaya."

Raja Kisra merupakan seorang kaisar kedua puluh dua Dinasti Sassania. Penguasa ini memerintah Persia sekira tahun 590-628 Masehi. Raja Kisra tidak lain putra dari Raja Hormizd IV (penguasa Persia 579-590 Masehi) dan cucu dari Raja Khosrau I (penguasa Persia 531-579 Masehi).

Raja Kisra dari Persia pernah dikirimi surat oleh Nabi Muhammad saw. Melalui Abdullah As-Sahmi sebagai utusan, Nabi Muhammad SAW menawarkan Raja Kisra untuk memeluk agama Islam.
 
Penulis: Alhafiz Kurniawan 
Editor: Muchlishon
Share:

Baca Juga

Senin 16 September 2019 22:0 WIB
Kisah Perselisihan Umar bin Khattab dan Abbas bin Abdul Muthalib
Kisah Perselisihan Umar bin Khattab dan Abbas bin Abdul Muthalib
Ilustrasi
Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang berwatak keras, tegas, dan berkemauan kuat. Ia tidak segan-segan melakukan sesuatu meski berisiko tinggi jika itu menurutnya benar. Ketika belum masuk Islam, Umar begitu lantang menentang dakwah Nabi Muhammad. Begitupun ketika dirinya sudah memeluk Islam. Dia begitu lantang mendakwahkan Islam. Menantang siapa saya yang menentang Islam.
 
Umar bin Khattab adalah seorang sahabat yang mendesak Nabi Muhammad untuk berdakwah secara terang-terangan. Menurut Umar, tidak seharusnya kebenaran didakwahkan dengan diam-diam. Ia siap melindungi dan menjadi tameng manakala ada elite Quraisy yang menyerang Nabi Muhammad gara-gara menyebarkan Islam dengan terang-terangan. Apa yang diharapkan Umar bin Khattab akhirnya menjadi kenyataan setelah turun wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan.
 
Umar bin Khattab juga dikenal sebagai orang yang sangat adil. Apa yang dilakukannya selalu berada dalam garis keadilan. Status sosial dan kedekatannya dengan Nabi Muhammad tidak membuatnya berlaku seenaknya kepada yang lainnya. Bahkan, ketika menjadi khalifah kedua—menggantikan Abu Bakar—pun Umar bin Khattab terus menjunjung tinggi keadilan. Tidak pongah dan tidak berlaku semena-mena sesuai dengan kehendaknya, meski kekuasaan ada di tangannya. 
 
Dalam Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, 2019) diceritakan, suatu ketika Umar bin Khattab terlibat perselisihan dengan Abbas bin Abdul Muthalib terkait persoalan tanah. Saat itu, Abbas memiliki sepetak tanah dan rumah di pinggir Masjid Nabawi. Umar bin Khattab yang ketika itu menjabat Amirul Mukminin meminta agar Abbas menjual tanah dan rumah tersebut. Dengan demikian, Umar bisa memperluas Masjid Nabawi.
 
Abbas menolak permintaan sang Amirul Mukminin tersebut. Umar tidak menyerah. Ia kemudian meminta agar Abbas menghibahkan rumah dan tanahnya untuk sang khalifah. Sehingga khalifah bisa memperlebar Masjid Nabawi. Abbas kembali menolak.
 
"Kalau begitu, tambahkanlah sendiri rumahmu ke area masjid," pinta Umar yang masih keukeuh membujuk Abbas agar melepaskan tanahnya. Lagi-lagi Abbas menolak.
 
Dengan sedikit memaksa, Umar meminta agar Abbas memilih di antara tiga permintaannya itu. Abbas pun tetap menolak. Akhirnya Umar meminta agar ada sahabat yang menengahi mereka. Keduanya sepakat menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai juru penengah untuk menyelesaikan perselisihan mereka. 
 
Setelah mendengar keterangan di atas, Ubay bin Ka’ab berpendapat bahwa Umar bin Khattab tidak bisa mengusir Abbas bin Abdul Muthalib dari tanah dan rumahnya sendiri jika dia memang tidak rela. Mendengar jawaban seperti itu, Umar bin Khattab lantas bertanya apakah yang dikatakan Ubay tersebut ada dasarnya dalam Al-Qur’an atau pun hadits Nabi.
 
Ubay bin Ka’ab menjawab bahwa dirinya pernah mendengar Nabi Muhammad bersabda, "Sesungguhnya Sulaiman bin Daud as. membangun Baitul Maqdis. Salah satu dindingnya selalu robih setiap kali ditegakkan. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya, ‘Jangan bangun di atas tanah milik seseorang sebelum mendapatkan kerelaan," kata Ubay.
 
Umar bin Khattab tidak lagi mendesak Abbas untuk menyerahkan tanahnya setelah mendengar penjelasan dari Ubay bin Ka’ab. Ia mundur dari perselisihan dengan Abbas. Namun ternyata, beberapa saat setelah itu Abbas menghibahkan tanahnya. Ia menambahkan rumahnya ke area Masjid Nabawi. 
 
Demikianlah sikap Umar bin Khattab. Dia tidak merampas tanah seseorang yang dikehendakinya meskipun saat itu dirinya menjabat sebagai khalifah. Ia tidak memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk meraih apa yang diinginkannya. Karena Umar selalu bermusyawarah jika terlibat dalam sebuah perselisihan. 
 
Penulis: Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Sabtu 14 September 2019 7:0 WIB
Kagumnya Setan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Kagumnya Setan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Kedalaman ilmu dan ketajaman batinlah yang membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani tak mempan oleh berbagai godaan. (Ilustrasi: mokashfiya.net)
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani mendapatkan gelar ‘Raja Para Wali’ dengan sikap tunduk dan rendah diri. Begitu beliau sudah mendapatkan gelarnya, justru malah tidak mudah menjaga gelar itu dari godaan-godaan setan. Karena semakin tinggi kedudukan seseorang di hadapan Allah ﷻ, maka ia harus siap menanggung ujian yang lebih berat lagi dari Tuhannya. Setan terus menggoda manusia dan para kekasih Allah ﷻ hingga hari kiamat agar terjerumus dalam api neraka, tak terkecuali Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Dalam satu kisah, ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani lagi menyendiri beliau dikagetkan dengan datangnya sebuah cahaya besar yang memenuhi penjuru langit. Lalu bayangan itu datang dan memanggil beliau.
 
“Wahai Abdul Qadir aku ini Tuhanmu. Kamu adalah kekasihku, aku akan meringankan syariat untukmu. Apa yang aku haramkan sebelumnya, sekarang aku halalkan untukmu,” kata bayangan itu.
 
“Wahai yang terlaknat, pergi kamu sekarang dari hadapanku. Kalau tidak, akan aku hancurkan kamu,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Begitulah setan menggoda para kekasih-Nya, ia mengaku dirinya sebagai Tuhan, agar Syekh Abdul Qadir al-Jailani percaya dan mengikuti perintah-Nya. Namun, Allah ﷻ tidak akan membiarkan kekasih-Nya terjerumus ke dalam jalan yang salah. Setan diberikan kebebasan oleh Allah ﷻ untuk menggoda manusia, sebagai manifestasi keadilan kepada seluruh makhluk-Nya.
 
Sesaat setelah kejadian dialog tersebut, tiba-tiba cahaya itu padam dan sedikit demi sedikit hilang dari pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Beliau terus menyendiri menikmati keindahan alam sebagai bukti kebesaran Allah ﷻ. Tak lama kemudian, bayangan yang tadi menghilang, kembali memanggil Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam wujud kabut dan berkata;
 
“Kamu selamat dari godaanku wahai Abdul Qadir karena dua alasan; pertama karena ilmumu (fiqih) yang telah melekat dalam jiwamu, engkau mampu membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah). Kedua karena kondisi spiritualmu dan ibadahmu, Allah ﷻ membukakan hatimu dan membimbingmu menuju jalan yang benar,” tegas kabut tersebut.
 
“Apa yang aku miliki saat ini, semuanya hanya milik Sang Pencipta. Aku selamat darimu berkat Tuhanku,” jelas Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
“Perlu kamu ketahui Abdul Qadir, aku telah menyesatkan sebanyak 70 orang ahli ibadah dengan cara seperti ini dan hanya kamu yang selamat. Dari mana kamu tau bahwa aku ini Setan?” tanya kabut itu.
 
“Semua karena fadilah Allah ﷻ, aku diberi petunjuk oleh-Nya melalui perkataanmu ‘Apa yang aku haramkan sebelumnya, sekarang aku halalkan untukmu’ dan saat itu aku yakin kamu adalah Setan. Karena kalau memang Allah ﷻ ingin menghapus syariatnya, tentulah orang yang pertama kali akan terlepas dari syariat-Nya adalah para nabi, dan itu sangat mustahil,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Melihat percakapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan Setan, sudah jelas bahwa keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhannya begitu mendalam. Hal itu sudah barang tentu tidak lepas dari ilmu yang dimiliki beliau. Begitu pentingnya ilmu, tak heran jika Rasulullah ﷺ selalu memohon tambahan ilmu kepada-Nya; 
 
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِيْ عِلْماً
 
“Dan katakanlah Muhammad; ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu pengetahuan.”
 
Ada hikmah menarik dari kisah di atas, bahwa kita harus selalu menimba ilmu. Karena dengan ilmu itu kita akan selamat dari godaan setan. Perlu di ingat bahwa setan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia hingga kiamat. Sebagai manusia yang tidak lepas dari salah dan keliru, sudah sepatutnya terus belajar menempa diri dengan ilmu Allah ﷻ. Sudah banyak di dalam Hadist maupun Al-Qur`an penjelasan akan pentingnya mencari ilmu.
 
Salah satu perbedaan antara manusia dengan yang lain adalah aspek akal. Dengan kelebihan itu, manusia dapat menerima ilmu. Sebagaimana Allah ﷻ mengajarkan Nabi Adam a.s akan nama-nama benda yang ada di muka bumi ini, dalam surat al-Baqarah ayat 31, Allah ﷻ berfirman, “Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman; sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar.”
 
Melihat firman Allah ﷻ di atas, telah mafhum bahwa manusia memiliki kelebihan daripada makhluk yang lain. Namun, itu semua kembali kepada manusia itu sendiri bisakah manusia tersebut mempergunakan kelebihan itu sebaik mungkin? Perlu diketahui bahwa posisi manusia berada diantara setan dan malaikat. Jika manusia tidak mampu menguasai hawa nafsunya, maka ia lebih buruk daripada setan. Sebaliknya, jika manusia mampu menguasai hawa nafsunya dan mengikuti perintah-Nya, maka derajatnya lebih tinggi dari malaikat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
 
 
Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo
 
 
Kisah ini disadur dari kitab al-Fawâid al-Mukhtârah li Sâliki Ṭarîq al-Âkhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun.
 
Rabu 11 September 2019 5:47 WIB
Kisah Husein, Cucu Nabi yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram
Kisah Husein, Cucu Nabi yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram
Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. (Ilustrasi: NU Online)
Lelaki itu berusia sekitar 58 tahun. Pada hari kesepuluh bulan Muharram, di tahun 61 H, selepas menunaikan shalat subuh, dia bergegas keluar tenda dan menaiki kuda kesayangannya. Pria itu menatap pasukan yang tengah mengepungnya. Mulailah dia berpidato yang begitu indah dan menyentuh hati:

قال:
أما بعد، فانسبوني فانظروا من أنا، ثم ارجعوا إلى أنفسكم وعاتبوها، فانظروا، هل يحل لكم قتلي وانتهاك حرمتي؟ ألست ابن بنت نبيكم ص وابن وصيه وابن عمه، وأول المؤمنين بالله والمصدق لرسوله بما جاء به من عند ربه! او ليس حمزة سيد الشهداء عم أبي! أوليس جعفر الشهيد الطيار
ذو الجناحين عمى! [او لم يبلغكم قول مستفيض فيكم: إن رسول الله ص قال لي ولأخي: هذان سيدا شباب أهل الجنة!] فإن صدقتموني بما أقول- وهو الحق- فو الله ما تعمدت كذبا مذ علمت أن الله يمقت عليه أهله، ويضر به من اختلقه، وإن كذبتموني فإن فيكم من إن سألتموه عن ذلك أخبركم، سلوا جابر بن عبد الله الأنصاري، أو أبا سعيد الخدري، أو سهل بن سعد الساعدي، أو زيد بن أرقم، أو أنس بن مالك، يخبروكم أنهم سمعوا هذه المقاله من رسول الله ص لي ولأخي.
أفما في هذا حاجز لكم عن سفك دمي!

“Lihat nasabku. Pandangilah siapa aku ini. Lantas lihatlah siapa diri kalian. Perhatikan apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan menciderai kehormatanku.

“Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan Nabimu, yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu?

“Bukankah Hamzah, pemuka para syuhada, adalah Pamanku? Bukankah Ja’far, yang akan terbang dengan dua sayap di surga, itu Pamanku?

“Tidakkah kalian mendengar kalimat yang viral di antara kalian bahwa Rasulullah berkata tentang saudaraku dan aku: “keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga”?

“Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta. Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyalah Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam dan Anas bin Malik, yang akan memberitahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku dan aku.

“Tidakkah ini cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?”

Kata-kata yang begitu eloknya itu direkam oleh Tarikh at-Thabari (5/425) dan Al-Bidayah wan Nihayah (8/193).

Namun mereka yang telah terkunci hatinya tidak akan tersadar. Pasukan yang mengepung atas perintah Ubaidullah bin Ziyad itu memaksa pria yang bernama Husein bin Ali itu untuk mengakui kekuasaan Khalifah Yazid bin Mu’awiyah.

Tidakkah ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa pertarungan di masa Khilafah dulu itu sampai mengorbankan nyawa seorang Cucu Nabi SAW. Apa masih mau bilang khilafah itu satu-satunya solusi umat?

Simak pula bagaimana Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah bercerita bagaimana Sayidina Husein terbunuh di Karbala pada 10 Muharram (asyura).

Pasukan memukul kepala Husein dengan pedang hingga berdarah. Husein membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya. Dan dengan cepat balutan kain terlihat penuh dengan darah Husein. Ada yang kemudian melepaskan panah dan mengenai leher Husein. Namun beliau masih hidup sambil memegangi lehernya menuju ke arah sungai karena kehausan. Shamir bin Dzil Jawsan memerintahkan pasukannya menyerbu Husein. Mereka menyerang dari segala penjuru. Mereka tak memberinya kesempatan untuk minum.

Ibn Katsir menulis: “Yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Khawali bin Yazid.” (Al-Bidayah, 8/204).

Anas melaporkan bahwa ketika kepala Husein yang dipenggal itu dibawa ke Ubaidullah bin Ziyad, yang kemudian memainkan ujung tongkatnya menyentuh mulut dan hidung Husein, Anas berkata: “Demi Allah! sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini.”

Ibn Katsir mencatat 72 orang pengikut Husein yang terbunuh hari itu. Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa mencata 4 ribu pasukan yang mengepung Husein, dibawah kendali Umar bin Sa’d bin Abi Waqash.

Pada hari terbunuhnya Husein, Imam Suyuthi mengatakan dunia seakan berhenti selama tujuh hari. Mentari merapat laksana kain yang menguning. Terjadi gerhana matahari di hari itu. Langit terlihat memerah selama 6 bulan.

Imam Suyuthi juga mengutip dari Imam Tirmidzi yang meriwayatkan kisah dari Salma yang menemui Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad, yang saat itu masih hidup (Ummu Salamah wafat pada tahun 64 H, sementara Husein terbunuh tahun 61 H).

Salma bertanya: “Mengapa engkau menangis?”

Ummu Salamah menjawab: “Semalam saya bermimpi melihat Rasulullah yang kepala dan jenggot beliau terlihat berdebu. Saya tanya ‘mengapa engkau wahai Rasul?’

Rasulullah menjawab: “saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein.’”

Begitulah dahsyatnya pertarungan kekuasaan di masa khilafah dulu. Mereka tidak segan membunuh cucu Nabi demi kursi khalifah. Apa mereka sangka Rasulullah tidak akan tahu peristiwa ini? Lantas apakah mereka yang telah membunuh Sayidina Husein kelak masih berharap mendapat syafaat datuknya Rasulullah di padang mahsyar?

Dalam kisah yang memilukan ini sungguh ada pelajaran untuk kita semua. Al-Fatihah...

Tabik,

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand, Dosen Senior Monash Law School Australia