IMG-LOGO
Syariah

Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?

Kamis 19 September 2019 13:0 WIB
Share:
Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?
(Foto: Sanja Knezevic Photography)
Jangan Emosi, Kita Ngaji Kitab Fiqh Yuk!. Sahabat dan guru saya, Ustadz Yusuf Mansur meminta saya menjelaskan bagaimana hukumnya seorang Muslim memasuki gereja. Belakangan ini ada tokoh yang mengatakan, “murtad bagi Muslim yang masuk gereja.” Ada lagi yang mengatakan, “haram menurut mazhab Syafi’i”.
 
Bagaimana status hukumnya yang sebenarnya? Ada baiknya penjelasan ini saya tuliskan dan bagikan untuk yang lain.
 
Sebenarnya tidak ada larangan dalam nash al-Qur’an dan Hadits yang secara tegas melarang Muslim masuk gereja atau rumah ibadah lain. Karena itu, perkara ini  masuk ke wilayah interpretasi, atau penafsiran para ulama. Itulah sebabnya para ulama berbeda pandangan mengenai status hukumnya.
 
Saya kutip keterangan dari kitab Mausu’ah Fiqh Kuwait. Kitab ini ensiklopedia persoalan fiqh dari berbagai mazhab. Begini penjelasannya:
 
‎يَرَى الْحَنَفِيَّةُ أَنَّهُ يُكْرَهُ لِلْمُسْلِمِ دُخُول الْبِيعَةِ وَالْكَنِيسَةِ، لأَِنَّهُ مَجْمَعُ الشَّيَاطِينِ، لاَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَقُّ الدُّخُول. وَذَهَبَ بَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ فِي رَأْيٍ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ دُخُولُهَا إِلاَّ بِإِذْنِهِمْ، وَذَهَبَ الْبَعْضُ الآْخَرُ فِي رَأْيٍ آخَرَ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَحْرُمُ دُخُولُهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ. وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ لِلْمُسْلِمِ دُخُول بِيعَةٍ وَكَنِيسَةٍ وَنَحْوِهِمَا وَالصَّلاَةَ فِي ذَلِكَ، وَعَنْ أَحْمَدَ يُكْرَهُ إِنْ كَانَ ثَمَّ صُورَةٌ، وَقِيل مُطْلَقًا، ذَكَرَ ذَلِكَ فِي الرِّعَايَةِ، وَقَال فِي الْمُسْتَوْعِبِ: وَتَصِحُّ صَلاَةُ الْفَرْضِ فِي الْكَنَائِسِ وَالْبِيَعِ مَعَ الْكَرَاهَةِ، وَقَال ابْنُ تَمِيمٍ. لاَ بَأْسَ بِدُخُول الْبِيَعِ وَالْكَنَائِسِ الَّتِي لاَ صُوَرَ فِيهَا، وَالصَّلاَةِ فِيهَا. وَقَال ابْنُ عَقِيلٍ: يُكْرَهُ كَالَّتِي فِيهَا صُوَرٌ، وَحَكَى فِي الْكَرَاهَةِ رِوَايَتَيْنِ. وَقَال فِي الشَّرْحِ. لاَ بَأْسَ بِالصَّلاَةِ فِي الْكَنِيسَةِ النَّظِيفَةِ رُوِيَ ذَلِكَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي مُوسَى وَحَكَاهُ عَنْ جَمَاعَةٍ، وَكَرِهَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمَالِكٌ الصَّلاَةَ فِي الْكَنَائِسِ لأَِجْل الصُّوَرِ،
 
Dari penjelasan di atas, paling tidak ada 4 perbedaan pendapat ulama.
 
Pertama, Ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa makruh bagi seorang Muslim memasuki sinagog dan gereja.
 
Kedua, Sebagian ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh bagi orang Muslim memasuki tempat ibadah non-Muslim kecuali ada izin dari mereka. Sebagian ulama mazhab Syafi’i yang lain berpendapat bahwa tidak haram memasuki tempat ibadah non-Muslim meski tanpa ada izin dari mereka.
 
Ketiga, Ulama mazhab Hanbali berpendapat boleh bahwa memasuki sinagog dan gereja, dan rumah ibadah lainnya, serta melalukan shalat di dalamnya, tapi hukumnya makruh menurut Imam Ahmad, jika di dalamnya ada gambar.
 
Keempat, Ibn Taimiyah berpendapat tidak mengapa masuk sinagog dan gereja jika tidak ada gambar di dalamnya, begitu juga shalat di dalamnya. Ibn Aqil berpendapat makruh karena ada gambar. Masalah ini ada dua pendapat: ada yang bilang tidak mengapa shalat di dalam gereja berdasarkan riwayat dari sahabat Nabi, Ibnu Umar dan Abu Musa, sebagaimana dikisahkan oleh banyak ulama, dan ada juga riwayat dari Ibn Abbas dan Malik bahwa shalat di gereja makruh karena ada gambarnya.
 
Penjelasan di atas terdapat dalam juz 20, halaman 245. Adapun dalam juz 38, halaman 155, masih di kitab yang sama, ada tambahan keterangan:
 
‎وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَبَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ أَنَّ لِلْمُسْلِمِ دُخُول بِيعَةٍ وَكَنِيسَةٍ وَنَحْوِهِمَا
 
“Ulama mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa boleh bagi orang Muslim memasuki sinagog, gereja dan rumah ibadah lainnya.”
 
Bayangkan, kita masih berdebat soal boleh memasuki gereja atau tidak, para ulama bahkan sudah membahas bolehkah shalat di dalam gereja. Seperti tercantum di atas, mereka mengatakan shalatnya sah, dan ada yang membolehkan secara mutlak, namun ada yang mengatakan sah, namun makruh karena ada gambar di dalam gereja.
 
Kita tambahkan dengan mengutip satu kitab fiqh perbandingan mazhab lainnya, yaitu kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah.
Dalam juz 2, halaman 57:
 
‎[فَصْلٌ الصَّلَاةِ فِي الْكَنِيسَةِ النَّظِيفَة]
‎(٩٦٩) فَصْلٌ: وَلَا بَأْسَ بِالصَّلَاةِ فِي الْكَنِيسَةِ النَّظِيفَةِ، رَخَّصَ فِيهَا الْحَسَنُ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَالشَّعْبِيُّ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَرُوِيَ أَيْضًا عَنْ عُمَرَ وَأَبِي مُوسَى، وَكَرِهَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمَالِكٌ الْكَنَائِسَ؛ مِنْ أَجْلِ الصُّوَرِ. وَلَنَا «، أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّى فِي الْكَعْبَةِ وَفِيهَا صُوَرٌ» ، ثُمَّ هِيَ دَاخِلَةٌ فِي قَوْلِهِ - عَلَيْهِ السَّلَامُ -: «فَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ، فَإِنَّهُ مَسْجِدٌ»
 
Ibn Qudamah menjelaskan al-Hasan, Umar bin Abdul Azis, Sya’bi, Awza’i dan Sa’id bin Abdul Azis, serta riwayat dari Umar bin Khattab dan Abu Musa, mengatakan tidak mengapa shalat di dalam gereja yang bersih. Namun Ibn Abbas dan Malik memakruhkannya karena ada gambar di dalam gereja.
 
Namun bagi kami (Ibn Qudamah dan ulama yang sepaham dengannya) Nabi Saw pernah shalat di dalam Ka’bah dan di dalamnya ada gambar. Ini juga termasuk dalam sabda Nabi: “Jika waktu shalat telah tiba, kerjakan shalat di manapun, karena di manapun bumi Allah adalah masjid (tempat sujud).”
 
Ibn Qudamah juga mengutip kisah menarik dalam juz 7, halaman 283:
 
‎وَرَوَى ابْنُ عَائِذٍ فِي " فُتُوحِ الشَّامِ "، أَنَّ النَّصَارَى صَنَعُوا لَعُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، حِينَ قَدِمَ الشَّامَ، طَعَامًا، فَدَعَوْهُ، فَقَالَ: أَيْنَ هُوَ؟ قَالُوا: فِي الْكَنِيسَةِ، فَأَبَى أَنْ يَذْهَبَ، وَقَالَ لَعَلِيٍّ: امْضِ بِالنَّاسِ، فَلِيَتَغَدَّوْا. فَذَهَبَ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - بِالنَّاسِ، فَدَخَلَ الْكَنِيسَةَ، وَتَغَدَّى هُوَ وَالْمُسْلِمُونَ، وَجَعَلَ عَلِيٌّ يَنْظُرُ إلَى الصُّوَرِ، وَقَالَ: مَا عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ لَوْ دَخَلَ فَأَكَلَ، وَهَذَا اتِّفَاقٌ مِنْهُمْ عَلَى إبَاحَةِ دُخُولِهَا وَفِيهَا الصُّورُ، وَلِأَنَّ دُخُولَ الْكَنَائِسِ وَالْبِيَعِ غَيْرُ مُحَرَّمٍ
 
Ketika Umar bin Khattab memasuki negeri Syam dan itu diketahui oleh kaum Nasrani negeri tersebut, mereka berinisiatif untuk menyambut Umar dengan menyajikannya makanan. Namun jamuannya itu disajikan di dalam gereja mereka. Lalu Umar menolak hadir dan memrintahkan ‘Ali untuk menggantikannya. Datanglah ‘Ali ke undangan tersebut lalu masuk ke dalamnya dan menyantap hidangan yang disediakan. Kemudian Ali berkata: “aku tidak tahu kenapa Umar menolak datang?” Kata Ibn Qudamah, ini bukti kesepakatan mereka para sahabat bahwa memasuki gereja/sinagog tidaklah haram.
 
Nah, mungkin ada yang bertanya: mengapa Umar menolak datang? Kalau haram, mengapa Umar mengutus Ali?
 
Kelihatannya alasan Umar tidak mau masuk dan menghadiri jamuan di  gereja adalah karena khawatir umat Islam akan memahami bahwa boleh merebut gereja itu dan mengubahnya dijadikan masjid. Ini juga yang dilakukan Umar saat menolak masuk ke gereja di Palestina. Umar menghindari kerusakan dan kekerasan. Namun, jelas bahwa Imam Ali dan para sahabat memasuki gereja dan menghadiri jamuan di dalamnya.
 
Demikianlah penjelasan dari kitab klasik yang otoritatif agar kita tidak memahami persoalan ini dengan emosi dan mudah mengkafirkan atau memurtadkan suadara kita yang masuk ke dalam gereja. Ini bukan jawaban orang liberal, syi’ah, orientalis, sekuler atau sebagainya. Ini murni jawaban dari kitab fiqh berdasarkan pendapat para ulama, dan praktik Nabi Saw dan para sahabat. Mari kita hormati keragaman pendapat ulama. Tabik.
 
Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand.
Share:

Baca Juga

Kamis 19 September 2019 16:0 WIB
Lima Tujuan Belajar Ilmu Syariat Menurut Syekh Usama al-Azhari
Lima Tujuan Belajar Ilmu Syariat Menurut Syekh Usama al-Azhari
Syaikh Dr. Usamah al-Azhari. (Foto: NU Online/ Amien Nurhakim)
Syekh Dr. Usamah al-Azhari menjelaskan, ada lima tujuan dari belajar ilmu syariat. Lima poin ini penting sekali dijunjung dan diimplementasikan oleh para pelajar ilmu syariah. Meskipun lima tujuan ini terlihat sederhana, namun dampaknya besar bagi keseimbangan alam dan kehidupan manusia.
 
Ia menyampaikan hal ini saat mengisi kuliah umum di Auditorium Prof. DR. Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (18/9) yang diselenggarakan Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah, bekerjasama dengan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia.
 
Lima tujuan belajar ilmu syariat yaitu:

1. Ihtirām al-akwān (Menghormati ciptaan-ciptaan Allah SWT).
Poin atau tujuan yang pertama dari kita belajar ilmu syariah adalah di antaranya menghormati seluruh ciptaan atau semua makhluk yang diciptakan Allah SWT. Allah SWT telah menciptakan semesta alam ini beserta penghuninya. Tidak hanya manusia, namun ada hewan, jin, malaikat, pepohonan, tanah, air, api, udara. Intinya menghormati semua yang diciptakan Tuhan.
 
Kita harus menghormati mereka semua seperti menghormati hewan dengan tidak menyiksanya, tidak merebut alamnya, menghormati pepohonan dengan mencintai alam, tidak merusak hutan sebagai ekosistem penyeimbang alam ini, menghormati bumi dengan menjaga sumber alamnya, serta tidak tamak dalam memanfaatkannya, dan sebagainya.

2. Ikrām an-nās (Memuliakan manusia).
Tujuan selanjutnya mempelajari ilmu syariat adalah untuk memuliakan manusia. Seperti yang kita ketahui bersama, Allah telah menentukan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan olehNya dalam Al-Quran berupa aturan yang harus ditaati oleh manusia. Ketika ada seseorang yang melanggar peraturan itu, maka ia mendapatkan hukuman baik di dunia atau pun di akhirat.
 
Orang yang mengetahui akan adanya hukuman bagi yang melanggar peraturan akan mencoba untuk menaatinya sebaik mungkin, sehingga ketaatannya akan menjaga keseimbangan kehidupan manusia lainnya. Ia tidak akan membuat orang lain terganggu sebab pelanggarannya terhadap peraturan. Ini adalah bagian dari memuliakan manusia.

Teringat dengan Gus Dur. Beliau pernah mengatakan, “Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi pula toleransinya.” Yakni, toleransinya kepada orang lain. Atau mudahnya, semakin tinggi ilmunya, semakin sedikit ia menyalahkan orang lain. Entah karena ia dapat memaklumi kesalahan itu, atau ia tau bahwa pada hakikatnya itu bukanlah kesalahan, melainkan hal biasa, namun dilakukan dengan cara yang tak wajar sebagaimana dilakukan orang-orang pada umumnya.

3. Hifdzul wathon (Menjaga negara).
Seorang pelajar ilmu syariat hendaknya memiliki maksud dan tujuan untuk menjaga negara dan tanah airnya dengan wasilah mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Sebab, dengan mempelajari ilmu syariat dengan benar, kemudian mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya di tengah-tengah masyarakat, maka akan menciptakan keadaan masyarakat yang damai dan teratur, sehingga keamanan terus tercipta dan berjalan sebagaimana adanya.

4. Ziyādatul ‘umrān (Memakmurkan atau menambah kemakmuran).
Tujuan belajar ilmu syariat juga adalah untuk memakmurkan negeri ini. Jika suatu negeri sudah makmur, maka masyarakat dan penduduknya juga merasa tenang untuk beribadah kepada Allah SWT.

5.  Izdiyād al-imān (Terus bertambahnya iman).
Tujuan kita mempelajari ilmu syariat yaitu bertambahnya iman kita setiap waktunya kepada Allah SWT, juga RasulNya. Kita sepakat bahwasannya keimanan dapat bertambah dan berkurang. Dan kita dianjurkan pula untuk selalu menambah tingkat keimananan kita dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Tentunya ketaatan yang disertai dengan ilmu. Wallahu a’lam
 
Amien Nurhakim. Mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah, Jakarta
Kamis 12 September 2019 15:0 WIB
Hukum Uang yang Diterima Pengemis dari Pemberinya yang Terpaksa
Hukum Uang yang Diterima Pengemis dari Pemberinya yang Terpaksa
Eksploitasi rasa malu atau ketakutan calon pemberi adalah hal yang terlarang.
Di sebagian daerah di Indonesia masih banyak ditemukan para peminta-minta dengan berbagai jenis dan modus. Mulai dari yang menampilkan diri sebagai pengemis dengan wajah lusuh, pakaian compang-camping, atau kondisi selaku penyandang disabilitas (baik benar ataupun pura-pura). Bentuknya pun bisa lain-lain, semisal “penyedia jasa” pembersih kaca mobil di traffic light, pengamen, hingga terang-terangan menampakkan diri sebagai pengemis.
 
Lokasinya pun beragam: mulai dari lampu merah, tempat wisata, tempat ziarah, rumah-rumah, dan lain sebagainya. Penampilan dan aksi yang berbagai macam tersebut tak jarang berpengaruh pada datangnya simpati orang lain, yang selanjutnya berkenan mengulurkan tangannya untuk para peminta-minta itu.
 
Bagaimana bila si pengemis melakukan kepura-puraan saat melancarkan aksi, misalnya dengan menyamar sebagai penyandang disabilitas? Jika si pemberi menyedekahkan hartanya lantaran iba atas “kondisi disiabilitas” pengemisi, maka hukum menerima uang yang diberikan adalah haram. Demikian juga bagi yang pura-pura meminta sumbangan untuk masjid, pesantren, maupun madrasah tapi tidak sesuai peruntukannya: haram. 
 
Baca juga:
 
Bagaimana jika seseorang memberi donasi bukan atas motif tulus ikhlas, tapi karena malu? Misalnya, dalam sebuah forum publik, seorang pejabat diminta mendadak untuk mendonasikan sejumlah hartanya yang menjadikan pejabat ini malu bila sampai tidak memberi. Atau misalnya ada orang yang sedang makan di warung, kemudian ada pengamen mendatanginya; karena malu dengan pelanggan warung di sampingnya, kemudian pengamen diberi uang. Pemberian uang yang karena motif ‘malu’ seperti di atas menjadikan posisi pemberi seolah pada posisi terpaksa. 

Hukum menerima pemberian dengan motif demikian disamakan dengan hukum ghashab. Konsekuensinya, selain dinilai sebagai pelanggaran, semua transaksi yang timbul berikutnya dengan menggunakan harta tersebut tidak sah dan tidak halal sampai peminta tersebut mengembalikan uang atau harta yang ia minta.
 
وَآخِذُ مَالِ غَيْرِهِ بِالْحَيَاءِ لَهُ حُكْمُ الْغَاصِبِ
 
Artinya: “Dan orang yang mengambil harta orang lain dengan motif malu, mempunyai hukum sama dengan orang yang ghashab.” (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, [Al-Maktbah at-Tijariyah al-Kubra: Mesir, 1983], juz 6, halaman 3). 
 
Bahkan Imam al-Ghazali, dikutip dalam kitab yang sama menyatakan bahwa harta hasil dari permintaan dan si pemberi memberikannya karena rasa malu tidak bisa dimiliki oleh peminta. Akibatnya ia tidak boleh menggunakan harta tersebut. 
 
وَقَدْ قَالَ الْغَزَالِيُّ مَنْ طَلَبَ مِنْ غَيْرِهِ مَالًا فِي الْمَلَأِ فَدَفَعَهُ إلَيْهِ لِبَاعِثِ الْحَيَاءِ فَقَطْ لَمْ يَمْلِكْهُ وَلَا يَحِلُّ لَهُ التَّصَرُّفُ فِيهِ
 
Artinya: “Seseungguhnya al-Ghazali mengatakan, ‘Barangsiapa yang meminta harta kepada orang lain di mata publik karena semata-mata ingin membangkitkan rasa malunya orang yang diminta, kemudian orang yang diminta memberikan hartanya, maka harta tersebut tidak bisa menjadi hak milik peminta sehingga ia tidak halal untuk menggunakan harta tersebut.”
 
Sebagaimana dalam masalah resepsi pernikahan. Seumpama ada orang yang mendekat-dekat di pintu masuk resepsi sedangkan ia memang tidak diundang, tapi tuan rumah merasa sungkan membiarkannya begitu saja, akhirnya karena dorongan faktor malu, tuan rumah mempersilakan masuk dan menikmati jamuan yang tersedia. Syekh Muhammad bin Salim bin Said Babashil dalam kitabnya Is’adur Rafiq dengan mengutip sumber dari kitab az-Zawajir menyatakan, kejadian seperti ini termasuk bagian dari dosa besar sebab masuk kategori memakan harta orang lain dengan cara tidak sah. 
 
(و) منها (التطفل  فى الولائم) ... (وهو الدخول على طعام الغير ليأكل منه (بغير اذن) من صاحبه ولا رضا منه بذلك (او) هو الاتيان الى باب اهل الوليمة، فلما رأوه (ادخلوه) ليأكل (حياء) منه. قال فى الزواجر: وهو من الكبائر لانه من اكل اموال الناس بالباطل. 
 
Artinya: Di antara maksiatnya badan adalah menyerobot makanan dalam resepsi-resepsi. Yaitu masuk ke area jamuan makan orang lain dengan tujuan bisa makan di situ tanpa mendapatkan izin dari penyelenggara dan tidak mendapatkan kerelaannya. Atau mendatangi pintu rumah penyelenggara resepsi dan pada saat keluarga tuan rumah melihatnya, kemudian menyuruh dia masuk untuk makan karena didorong rasa malu. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Az-Zawajir mengatakan bahwa hal tersebut termasuk dosa besar karena memakan harta orang lain dengan cara bathil. (Muhammad bin Salim bin Said Babashil, Is’adur Rafiq, [al-Haramain: 2008], juz 2, hal. 134)
 
Apa hukumnya bila yang terjadi lebih dari dari sekadar eksploitasi rasa malu calon pemberi, melainkan menciptakan teror atau kekhawatiran atas keselamatan diri? Contoh: di suatu daerah dikenal dengan premanismenya, seseorang takut terganggu kenyamanan dan keamanannya bila ia menolak memberi para pengemis di sana yang menampakkan indikasi ancaman itu. Dalam kondisi ini praktik pengemis tersebut juga haram. Situasinya sama dengan menerima harta dari eksploitasi rasa malu orang, yang levelnya setara dengan ghasab. Demikian diungkapkan oleh Syihabuddin ar-Ramli yang mengutip dalam kitab Al-Ihya’
 
قَالَ فِي الْإِحْيَاءِ: لَوْ طَلَبَ مِنْ غَيْرِهِ هِبَةَ شَيْءٍ فِي مَلَأٍ مِنْ النَّاسِ فَوَهَبَهُ مِنْهُ اسْتِحْيَاءً مِنْهُمْ وَلَوْ كَانَ خَالِيًا مَا أَعْطَاهُ حَرُمَ كَالْمَصَادِرِ، وَكَذَا كُلُّ مَنْ وُهِبَ لَهُ شَيْءٌ لِاتِّقَاءِ شَرِّهِ أَوْ سِعَايَتِهِ
 
Artinya: “Berkata dalam al-Ihya’, ‘Apabila ada orang meminta kepada orang lain di depan publik kemudian peminta tersebut diberikan sesuatu dengan faktor malu dari pemberinya walaupun pada saat memberikan tidak sedang di hadapan publik, maka hukumnya haram sebagaimana dalam beberapa sumber. Begitu pula setiap sesuatu yang diberikan karena kekhawatiran perilaku buruk dari orang yang meminta-minta tersebut,” (Syihabuddin ar-Ramli, Tuhfatul Muhtaj Syarah al-Minhaj, [Darul Fikr: Beirut, 1984], juz 5, halaman 422).
 
Kesimpulannya, menjadi pengemis bukan lantaran keadaan mendesak, baik pemberinya ikhlas maupun tidak, hukumnya terlarang. Oleh Rasulullah ﷺ, orang model demikian mendapatkan ancaman, kelak wajahnya pada hari kiamat hanya tulang saja, tidak mempunyai daging sama sekali.
 
Kalau pun terpaksa menjadi pengemis, cara-cara yang digunakan juga tak boleh dengan mengeksploitasi rasa malu atau kekhawatiran si pemberi. Bila hal itu terjadi, harta berstatus haram dan wajib dikembalikan kepada pemiliknya semula. Status hukum yang sama juga bisa terjadi pada orang-orang yang sekadar meminta tolong. Praktik demikian tak ubahnya pemalakkan, baik dilakukan secara halus maupun kasar. Karena modusnya serupa, yakni memaksa orang lain memberikan sesuatu. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang
 
Rabu 11 September 2019 4:0 WIB
Sistem Perbudakan dan "Milkul Yamin" dalam Sejarah Hukum Islam
Sistem Perbudakan dan
Ilustrasi: alarabiya.net
Budak, perbudakan, riqab, raqabah, abd/amah, ma malakat aymanukum, atau milkul yamin dalam bahasa Al-Qur’an selamanya tidak pernah diakui oleh Islam. Perbudakan adalah sisi gelap dalam sejarah panjang manusia dan kemanusiaan.

Budak dan perbudakan atau milkul yamin bertentangan dengan semangat kemanusiaan yang dibawa oleh Islam itu sendiri. Bagi Islam, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka sebagai kemuliaan dan anugerah besar Ilahi. Jadi, status merdeka setiap manusia merupakan fitrah dari Allah SWT. Namun, situasi sosial dan politik tertentu menempatkan mereka dalam sel gelap perbudakan.

Islam–selain tidak mengakui sistem perbudakan–juga membawa semangat antiperbudakan. Islam secara bertahap menganjurkan umat manusia untuk mengikis perbudakan hingga tuntas.

Apa yang dilakukan Syekh M Khudhari cukup menarik. Ia mencoba melihat perbudakan dari segi sejarah hukum Islam. Ia melihat ayat-ayat yang berkaitan dengan perbudakan dalam konstruksi historis seperti tampak dalam karyanya, Tarikhut Tasyri‘ Al-Islami.

Menurutnya, sebelum Islam datang sistem perbudakan telah berlangsung dan melembaga di tengah masyarakat Arab ketika itu. Ketika Islam datang, sistem perbudakan sebagai salah satu bentuk kepemilikan yang sah itu dibiarkan sementara waktu.

كان الرقيق موجودا بأيدي العرب حين جاء الإسلام فأقرهم على ما كان بأيديهم

Artinya, “Budak sudah ada di masyarakat Arab ketika Islam datang. Islam mengakui keberadaan budak di tangan mereka,” (Syekh M Khudhari, Tarikhut Tasyri‘ Al-Islami, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M/1415 H], halaman 39).

Pembiaran sementara waktu atas sistem perbudakan itu setidaknya tercermin pada Surat Al-Mukminun ayat 5 dan Surat An-Nisa ayat 3.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ 
 
Artinya, “…dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sungguh mereka dalam hal ini tiada tercela,” (Surat Al-Mukminun ayat 5).

Adapun Surat An-Nisa ayat 3 berbunyi sebagai berikut:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ 

Artinya, “Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki,” (Surat An-Nisa ayat 3).

Setelah sekian waktu membiarkan budak sebagai barang kepemilikan yang sah, Islam mulai melancarkan semangat pembebasan dan penghapusan atas sistem perbudakan. Islam, kata Syekh M Khudhari yang membaca secara historis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan perbudakan, mengupayakan sejumlah cara dalam menghapus perbudakan. 
 
ثم رغبهم ترغيبا شديدا في تحرير الرقاب وإنزاله عنها بجملة طرق

Artinya, “Islam kemudian getol mengampanyekan pembebasan budak dan penghapusan perbudakan dengan sejumlah jalan berikut ini,” (Syekh M Khudhari, Tarikhut Tasyri‘ Al-Islami, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M/1415 H], halaman 39).

Syekh M Khudhari menilai kampanye Islam dalam Al-Qur’an untuk menghapus sistem perbudakan melalui sejumlah cara merupakan puncak peradaban yang sama sekali relevan dan kontekstual di zamannya. Kampanye penghapusan sistem perbudakan bagi masyarakat Arab dan masyarakat dunia ketika itu menyentak kesadaran kemanusiaan.

Pertama
Pembebasan budak merupakan kewajiban bagi manusia yang ingin bersyukur kepada Allah. Pembebasan budak ini pertama kali diwajibkan pada Surat Al-Balad ayat 11-18. Sebagaimana diketahui, Surat Al-Balad tergolong Makkiyyah, surat yang diturunkan di Kota Makkah.

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ . وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ . فَكُّ رَقَبَةٍ. أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ . يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ. ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ. أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ

Artinya, “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. atau memberi makan pada hari kelaparan. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan,” (Surat Al-Balad ayat 11-18).

Kedua
Jalan lain yang ditempuh Islam adalah pembebasan budak sebagai bentuk sanksi atas kejahatan-kejahatan baik kriminal maupun kejahatan lainnya. Pada Surat An-Nisa ayat 92, pembebasan budak merupakan sanksi atas kejahatan pembunuhan tanpa sengaja.

وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

Artinya, “Barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah/tanpa sengaja (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman,” (Surat An-Nisa ayat 92).

Adapun pada Surat Al-Mujadalah ayat 3, pembebasan budak merupakan jalan yang harus ditempuh seorang suami atas pelanggaran zhihar terhadap istrinya. Zhihar (punggung) adalah penghinaan verbal suami terhadap istri dengan mengatakan, “Wajahmu seperti punggung ibuku.”

 وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ 

Artinya, “Orang-orang yang men-zhihar istri mereka, kemudian hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum pasangan suami istri itu bercampur,” (Surat Al-Mujadalah ayat 3).

Sedangkan Surat Al-Ma’idah Ayat 89 menyebut pembebasan budak sebagai pilihan sanksi atas pelanggaran sumpah (kaffaratul yamin).

 فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ 

Artinya, “Maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak,” (Surat Al-Ma’idah Ayat 89).

Ketiga
Jalan lain pembebasan budak adalah delapan distribusi belanja zakat yang salah satunya dialokasikan untuk pembebasan budak (wa fir riqab). Delapan alokasi zakat ini juga disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Keempat
Semangat pembebasan budak juga tercantum dalam Surat An-Nur ayat 33. Pada Surat An-Nur ini, Islam menuntut umat Islam untuk memudahkan izin dan membantu budak-budak mukatab yang menginginkan kitabah untuk menunaikan kewajiban pembebasannya. Mukatab atau kitabah adalah budak yang menginginkan kebebasan dengan menebus sejumlah uang tertentu kepada majikannya.

وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ 

Artinya, “Budak-budak milikmu yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan oleh-Nya kepadamu,” (Surat An-Nur ayat 33).

Semangat pembebasan budak yang disuarakan Al-Qur’an merupakan akhlak Islam yang tiada tara. Dalam sejarah kemanusiaan, semangat pembebasan budak ini merupakan angin segar kemanusiaan yang memberikan perubahan pada sistem kepemilikan, human trafficking, eksploitasi oleh manusia atas manusia, dan tawanan perang.

وذلك كله فضلا عن الترغيب الكثير من صاحب الشريعة صلى الله عليه و سلم في تحرير الرقاب و الوصايا المتكررة برحمة من كان في أيديهم منها٬ وليس في القرآن نص واحد على الاسترقاق وهو ضرب الرق على الأسير في الحرب

Artinya, “Ini (komitmen penghapusan perbudakan) merupakan keutamaan dari banyak motivasi Rasulullah dalam pembebasan budak dan pesan berulang kali untuk menyayangi budak di tangan masyarakat Arab. Tidak ada satu pun nash dalam Al-Qur’an yang mendukung perbudakan, yaitu menetapkan status budak bagi tawanan perang,” (Syekh M Khudhari, Tarikhut Tasyri‘ Al-Islami, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M/1415 H], halaman 39). Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawaan)