IMG-LOGO
Tafsir

Pengertian Fatayat dan Budak Perempuan dalam Al-Qur’an

Kamis 19 September 2019 23:45 WIB
Share:
Pengertian Fatayat dan Budak Perempuan dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: alarabiya.net
Dilihat dari makna leksikal, arti dari kata fatayat adalah perempuan muda. Untuk laki-laki biasa disampaikan dengan diksi al-fata. Pada penjelasan terdahulu, lafal fatayât, ada yang dihubungkan dengan lafal raqabah dengan didahului oleh harfu jarrin “min” yang berfungsi sebagai bayan dari milkul yamîn. Ayat tersebut adalah sebagai berikut:

وَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ مِنكُمْ طَوْلًا أَن يَنكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُم مِّن فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُم ۚ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ ۚ فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ ۚ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنكُمْ ۚ وَأَن تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya, “Barang siapa di antara kamu yang tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka dihalalkan menikahi perempuan yang beriman dari hamba sahaya yang kamu miliki, yakni fatayat kalian yang beriman. Allah Maha Mengetahui akan keimananmu. Sebagian dari kalian adalah berasal dari sebagian yang lain (sama-sama keturunan Nabi Adam alaihissalam). Oleh karena itu nikahilah mereka dengan seizin sayyidnya. Berikan kepada mereka maskawin dengan baik. Mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri, dan bukan pezina serta bukan pula perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. Apabila mereka telah berumah tangga (bersuami), tetapi melakukan perbuatan keji (zina), maka hukuman bagi mereka adalah setengah dari hukuman wanita-wanita merdeka (yang tidak bersuami). Kebolehan menikahi hamba sahaya itu adalah bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan dalam menjaga diri (dari perbuatan zina). Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (Surat An-Nisa’ ayat 25).

Ada beberapa persoalan yang hendak diungkap dalam tulisan ini. Pertama, menjelaskan korelasi diksi fatayât dengan milkul yamîn. Kedua, menjelaskan gambaran pola pernikahannya milkul yamin. Kedua obyek permasalahan ini akan disajikan dalam bentuk membandingkan makna ayat satu dengan ayat yang lain sehingga ditemukan kekorelasian makna.

Korelasi Fatayât dan Konsep Milkul Yamîn
Ada dua surat yang menggunakan diksi fatayât di dalam Al-Qur’ân, yaitu Surat An-Nisâ ayat 25 dan Surat An-Nûr ayat 33. Ditilik dari segi urutan turunnya, Surat An-Nisa ayat 25 lebih dulu turun dibanding Surat An-Nûr ayat 33.

Perbedaan dari kedua ayat ini adalah jika di dalam Surat An-Nisa ayat 25, Allah SWT menjadikan lafal fatayât sebagai bayan (penjelas) dari milkul yamin secara langsung tanpa ada kalimat pemisah. Namun, pada Surat An-Nûr ayat 33, ada jeda pemisah antara kedua lafal “milkul yamin” dengan “fatayât.” Tema ayat membicarakan hal yang sama yaitu mengenai laki-laki yang tidak punya biaya untuk menikah. Lebih jelasnya simak Surat An-Nûr ayat 33, berikut ini:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِن بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya, “Orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kehormatan (‘iffah) dirinya sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Jika hamba sahaya yang kamu miliki (milkul yamîn) menginginkan perjanjian (kebebasan), maka hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka. Jika kamu mengetahui ada kebakan pada mereka. Janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu (fatayât) untuk melakukan pelacuran (baghy), sedang mereka sendiri menginginkan kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barang siapa memaksa mereka, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) setelah dipaksanya mereka (oleh tuannya),” (Surat An-Nûr ayat 33).

Di dalam ayat ini, disinggung dua hal yang berkaitan dengan tema kita:
 
1.    Milkul yamîn bisa mengajukan akad kitâbah, yaitu akad mengajukan diri menebus dirinya dengan jalan mengangsur.

2.    Setelah berbicara mengenai pernikahan, dan akad kitâbah milkul yamîn, lalu ayat berbicara mengenai ketidakbolehan menjadikan fatayât sebagai obyek pelacuran (baghy).

Jika di dalam Surat An-Nisâ ayat 25 disinggung mengenai kebolehan menikahi milkul yamîn yang mukmin dan diperjelas dengan “min” bayani, lalu disambung dengan penjelasan kebolehan menikahi milkul yamîn yang beriman milik orang lain, nah di dalam Surat An-Nûr ini tiba-tiba tidak diperbolehkan memaksa fatayât sebagai obyek pelacuran.

Mengapa terjadi perubahan bentuk penyampaian lafal dibanding Surat An-Nisa ayat 25 sebelumnya? Dalam hemat penulis, seolah kedua ayat telah mengisyaratkan bahwa ada ketersambungan makna antara milkul yamîn, fatayât, akad kitâbah, pernikahan, dan pelacuran (baghy). Sebaiknya kita langsung masuk saja pada kajian pola pernikahan hamba sahaya.

Pola Pernikahan Hamba Sahaya
Memaksa pelacuran merupakan penyerahan milkul yamîn (fatayât) kepada orang lain dengan sebuah imbalan (iwadh budhu’). Imbalan ini jika dilalui lewat proses pernikahan, maka dinamakan sebagai mas kawin (mahar).
 
Mungkin dulu di zaman Rasulullah SAW, ada yang menyalahgunakan bahwa kebolehan menikahi perempuan hamba sahaya milik orang lain (milkul yamîn) adalah dipandang sebagai menjadikan budak sebagai pelacur, atau memang benar ada perilaku yang kemudian menyalahgunakan pernikahan tersebut sebagai paket menghalalkan pelacuran berbalut pernikahan. Hampir mirip dengan kejadian di beberapa tempat di Indonesia yang masyhur dengan istilah kawin kontrak. Mari kita cek dalam hadits riwayat tafsirnya!

Al-Qurthuby, di dalam kitab tafsirnya menukil adanya dua hadits yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Kedua hadits tersebut mengisahkan perempuan jâriyah milik Abdullah bin Ubay. Hadits berikut ini diriwayatkan oleh dua orang sahabat sekaligus.

روي عن جابر بن عبد الله ، وابن عباس - رضي الله عنهم - أن هذه الآية نزلت في عبد الله بن أبي ، وكانت له جاريتان إحداهما تسمى معاذة ، والأخرى مسيكة ، وكان يكرههما على الزنا ويضربهما عليه ابتغاء الأجر وكسب الولد ؛ فشكتا ذلك إلى النبي - صلى الله عليه وسلم - فنزلت الآية فيه وفيمن فعل فعله من المنافقين . ومعاذة هذه أم خولة التي جادلت النبي - صلى الله عليه وسلم - في زوجها

Artinya, “Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah, dan Ibnu ‘Abbâs RA, bahwa ayat ini (Surat An-Nûr ayat 33) diturunkan atas kasus Abdullah bin Ubay. Ia memiliki dua jâriyah bernama Mu’âdzah dan Musîkah. Suatu ketika, ia memaksa kedua jariyah ini untuk melakukan zina dengan jalan menyuruhnya agar memungut upah dari hasil perzinaannya itu dan menghasilkan keturunan. Lalu keduanya mengadu kepada Baginda Nabi SAW, lalu turunlah ayat ini menjelaskan tentang perbuatannya dan perbuatan sejumlah orang munafiq. Mu‘âdzah ini adalah ibunya Khaulah yang pernah mendebat Nabi SAW tentang persoalan suaminya,” (Al-Qurthûby, Tafsir Al-Qurthuby, sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura24-aya33.html).

Dalam hadits yang lain, masih dari sahabat Jâbir yang dinukil oleh Al-Qurthuby dari Kitab Shahih Muslim, ia menjelaskan bahwa kedua perempuan jâriyah itu adalah Musîkah dan Amîmah. Keduanya mengadu kepada Rasûlullah SAW, lalu turun Surat An-Nûr ayat 33 ini (ولاتكرهوا فتياتكم).

Perlu dicatat bahwa hadits di atas, ternyata juga dicatut oleh At-Thabary, At-Baghawy, Ibnu Katsîr, dan As-Sa’di dalam Kitab Tafsir mereka. Al-Baghawy di dalam kitabnya, ketika menafsirkan لتبتغوا عرض الحياة الدنيا, ia menjelaskan:

أي : لتطلبوا من أموال الدنيا ، يريد من كسبهن وبيع أولادهن

Artinya, “Untuk mencari harta dunia dengan menghendaki hasil dari pekerjaan zinanya serta menjual anaknya (yang diperoleh dari hasil zina tersebut),” (Al-Baghawy, Tafsir Al-Baghawy, Sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/baghawy/sura24-aya33.html#baghawy).

Al-Qurthuby juga menjelaskan hal senada sebagai berikut:

قوله تعالى : لتبتغوا عرض الحياة الدنيا أي الشيء الذي تكسبه الأمة بفرجها والولد يسترق فيباع . وقيل : كان الزاني يفتدي ولده من المزني بها بمائة من الإبل يدفعها إلى سيدها

Artinya, “Firman Allah SWT: لتبتغوا عرض الحياة الدنيا yakni sesuatu yang diperoleh dari hasil pekerjaan amat dengan farjinya, dan anak (hasil zina) yang bisa dijadikan budak untuk maksud dijual. Disampaikan bahwa (di masa itu), laki-laki pezina menebus anak hasil zina dari amat yang diajaknya berzina dengan harta sebesar 100 ekor onta yang diserahkan kepada sayyid perempuan amat tersebut,” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, Sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura24-aya33.html#qortobi)

Yang menarik adalah, ketika penggalan ayat di atas didahului oleh إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا. Para mufassir sepakat memaknai bahwa:

إن أردن تحصنا راجع إلى الفتيات ، وذلك أن الفتاة إذا أرادت التحصن فحينئذ يمكن ويتصور أن يكون السيد مكرها ، ويمكن أن ينهى عن الإكراه وإذا كانت الفتاة لا تريد التحصن فلا يتصور أن يقال للسيد لا تكرهها ؛ لأن الإكراه لا يتصور فيها وهي مريدة للزنا . فهذا أمر في سادة وفتيات حالهم هذه . وإلى هذا المعنى أشار ابن العربي فقال : إنما ذكر الله تعالى إرادة التحصن من المرأة لأن ذلك هو الذي يصور الإكراه ؛ فأما إذا كانت هي راغبة في الزنا لم يتصور إكراه ، فحصلوه

Artinya, “Lafal in aradna tahashshunan, (kata ganti ayat ini) adalah kembali kepada fatayât (hamba sahaya) sehingga ayat seolah bermakna ‘bila hamba sahaya tersebut menghendaki dirinya terjaga,’ maka dari sini seolah ayat menggambarkan suatu kondisi: 1) si sayyid suatu ketika benar-benar memaksa hamba sahayanya untuk melakukan zina, dan 2) ada kemungkinan melarangnya berbuat pemaksaan, namun dalam kondisi ketika si hamba sahaya tersebut tidak menghendaki dirinya terjaga (sehingga ia melakukan zina), maka tidak tergambar di sana bahwa si sayid sebagai telah melakukan pemaksaan, karena perempuan sahaya tersebut menghendaki sendiri berlaku zina. Jadi, perintah larangan ini berkaitan dengan relasi sayid dengan hamba sahayanya. Senada dengan makna ini, Ibnul ‘Araby menyampaikan penafsirannya bahwasanya penyebutan yang disampaikan oleh Allah Ta’ala (lewat firman-Nya), yang berkaitan dengan “kehendak menjaga diri dari perempuan hamba sahaya” tersebut adalah dikarenakan ada kasus yang acap menuju ke arah pemaksaan. Adapun bila kondisi perempuan hamba sahaya tersebut terbiasa berzina, maka hal itu tidak bisa disebut sebagai pemaksaan,” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, Sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura24-aya33.html#qortobi)

Dari penafsiran terakhir, lafal tahasshunan menggambarkan tiga hal, yaitu:
1)    Ada kalanya perempuan hamba sahaya menjalin relasi pernikahan dengan si sayyid, 

2)    Ada kalanya pula perempuan hamba sahaya tersebut menikah dengan laki-laki hamba sahaya sesamanya, oleh karenanya ia disebut muhshanât, dan 

3)    Ada kalanya perempuan hamba sahaya tersebut dinikahi oleh laki-laki merdeka yang bukan sayyidnya, oleh karenanya ia juga bisa disebut sebagai muhshanât (Surat An-Nisa ayat 25) sebagaimana tercermin dari lafal ۚ فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ (maka nikahilah perempuan sahaya tersebut dengan seizin sayyidnya).

Penafsiran ini rupanya memiliki keeratan hubungan dengan ayat lain Surat An-Nur ayat 32. Allah SWT berfirman::

وأنكحوا الأيامى والصالحين من عبادكم إن أردن تحصنا

Artinya, “Nikahkanlah perempuan-perempuan lajang itu dan hamba-hamba yang saleh dari budak kalian, jika mereka menghendaki terjaga (tahasshunan),” (Surat An-Nûr ayat 32).

Lafal tahasshunan dalam Surat An-Nur ayat 32 di atas, seolah menggambarkan kehendak terjaga akibat pernikahan. Nah, untuk kasus perempuan amat yang berhubungan dengan sayyidnya dan menikah dengan lelaki hamba sahaya yang sederajat dengannya, maka tidak ada kesulitan dalam memahami pola hukumnya, karena hal ini sudah mafhum dalam wilayah fiqih. Jika mereka melahirkan anak, maka si hamba saya tersebut beralih statusnya sebagai ummul walad bila pasangannya merupakan sayyid dari si sahaya tersebut.

Namun, masalah timbul ketika perempuan itu menikah dengan laki-laki merdeka lain, maka dalam hal ini memungkinkan lahir tiga kemungkinan pembacaan kondisi sebagai buah dari pemahaman terbalik (mafhum mukhalafah) apa yang digambarkan oleh Surat An-Nisa ayat 33 di atas, yaitu:

1)    Si perempuan hamba sahaya masih menjadi milik dari tuannya karena pernikahannya tidak dapat membuat statusnya sebagai yang merdeka.

2)    Anak yang diperoleh dari hasil pernikahan adalah masih milik tuan dari perempuan amah. Bila suaminya (yang terdiri dari laki-laki merdeka) menghendaki anak tersebut, maka ia harus menebusnya.

3)    Kondisi relasi antara perempuan amah dan laki-laki merdeka yang lain ini bila tidak melalui jalur akad pernikahan, maka keduanya bisa disebut pelaku zina. Had dari perempuan hamba sahaya yang melakukan zina ini adalah separuh dari perempuan merdeka (sebagaimana tergambar dari Surat An-Nisa ayat 33).

Jika menilik dari kasus pernikahan perempuan amah dan laki-laki merdeka lain yang bukan sayyidnya, nampak ada unsur kerancuan (mubham) antara pelacuran dan pernikahan. Mungkin disebabkan karena hal ini pula, Surat An-Nisâ ayat 33 dinasakh (dihapus hukumnya) oleh keberadaan Surat An-Nûr ayat 32 sehingga hukum terakhir yang berlaku atas pernikahan kedua insan beda status ini adalah sebagaimana tergambar dalam Surat An-Nûr ayat 32 dan 33.

Walhasil, simpulan dari kajian ini adalah:
 
1.    Yang dimaksud sebagai fatayât pada kedua ayat (Surat An-Nisa ayat 25 dan Surat An-Nûr ayat 33 di atas adalah termasuk bagian dari milkul yamîn, jâriyah, dan amah.

2.    Ada dua kondisi perempuan hamba sahaya (fatayât) di atas, yaitu sebagai perempuan tahasshun (terjaga) dan adakalanya pula sebagai pelaku zina.

3.    Untuk perempuan hamba sahaya yang terjaga, ada dua kemungkinan ia bisa memelihara diri dari menjaga farjinya dan dibenarkan oleh syariat, yaitu a) ia hanya berhubungan dengan sayyidnya, dan b) ia bisa menikah dengan lelaki hamba sahaya. Sementara itu untuk pernikahannya dengan laki-laki lain yang merdeka, keberadaannya dinasakh oleh Surat An-Nûr ayat 32. Besar kemungkinan ini adalah bagian dari saddud dzarî'ah (antisipatif) guna menghindari dampak lebih buruk dalam harta dan penjagaan keturunan.

Perlu dicatat bahwa, untuk keberadaan benar tidaknya Surat An-Nur ayat 32 sebagai penasakh Surat An-Nisa’ ayat 25, penulis belum menemukan sumber rujukan. Mungkin dalam hal ini penulis perlu menelaah kitab lain. Semoga Allah SWT menunjukkan kita semua! Wallahu a‘lam bis shawâb.
 
 
Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.
Share:

Baca Juga

Kamis 12 September 2019 10:35 WIB
Makna Insun atau Manusia dalam Al-Qur’an
Makna Insun atau Manusia dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: hamzetwasl.net
Kata insun atau manusia beberapa kali disebut di dalam Al-Qur’ân. Di Jawa, lafal ini mengalami peyorasi menjadi ingsun. Dalam logat masyarakat di mana penulis tinggal, lafal ini berubah menjadi eson.

Masyarakat Jawa dan Bawean, umumnya menggunakan hasil peyorasi dari lafal ini menunjuk arti “aku manusia”. Kiranya agak menyerupai makna asli dari insun yang diucapkan dalam logat Arab, khususnya dalam Bahasa Al-Qur’ân. Mari kita kaji untuk penggunaan lafal tersebut dalam Al-Qur’ân.

Insun (إنس) dalam logat Arab merupakan turunan dari kata verbal anasa (أنس) yang bermakna berteman. Insun dalam Al-Qur’ân sering dipergunakan secara bersama-sama dengan kata al-jinn (الجن).

Setidaknya ada 5 ayat berhasil diidentifikasi oleh penulis, yang menggunakan lafal إنس ini, yaitu, Surat Al-An’âm ayat 112 dan 128, Surat Al-Isrâ ayat 88, Surat An-Naml ayat 17 dan Surat Al-Jin ayat 5.

Jika diurutkan menurut tertib turunnya ayat akan menjadi: Surat Al-Jin ayat 5, Surat An-Naml ayat 17, Surat Al-Isrâ ayat 88, Surat Al-An’âm ayat 112, dan Surat Al-An’âm ayat 128. Yang unik dari semua ayat ini, semua lafal insun selalu beriringan dengan lafal Al-Jin. Mari perhatikan ayat-ayat berikut:

1.    Di dalam Surat Al-Jin ayat 5, Allah SWT berfirman:

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Artinya, “Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”

2.    Allah SWT berfirman dalam Surat An-Naml ayat 17

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Artinya, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”

3.    Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Isrâ ayat 88

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Artinya, “Katakanlah, ‘Sungguh jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain."
 
4.    Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-An’âm ayat 112

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

5.    Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-An’âm ayat 128

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Artinya, “Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia,’ lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman: ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sungguh Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Analisis Relasi Ayat
Jika diperhatikan baik-baik, kedua kata ini (الإنس والجن), dipakai secara bersama-sama karena keduanya dianggap sejenis. Dalam bahasa penafsiran oleh para ulama’, kedua makhluk Allah ini sering disebut sebagai الثقلين, yang bermakna dua beban.

Berdasarkan hadits riwayat ‘Ashim bin Hâkim yang termaktub dalam beberapa kitab tafsir, salah satunya adalah Tafsir Yahya bin Salâm juz I halaman 287 disebutkan bahwa:

فيفتح له في جانب قبره باب فيريه منزله من النار وما أعد الله له من العذاب، فيظلم وجهه، وتخبث نفسه ويضربه ضربة يتناصل منها كل عظم من موضعه، فيسمعه الخلق إلا الثقلين: الإنس والجن

Artinya, “Maka dibukalah bagi si mayit di sisi kuburnya sebuah pintu, maka melihatia akan tempatnya kelak di neraka, berikut siksa yang sudah disiapkan Allah baginya. Oleh karenanya, seketika wajahnya menjadi gelap dan meratapi kekotoran dirinya. Lalu malaikat memukulnya dengan sekali pukulan yang menghancurkan seluruh tulang belulangnya. Para makhluk mampu mendengar teriakan si mayit kecuali as-tsaqalain, yaitu makhluk golongan jin dan manusia,” (Yahya bin Salâm, Tafsīr Yahya bin Salam, [Tanpa keterangan kota, Maktabah Syâmilah: tanpa tahun], juz I, 287).

Di dalam sebuah hadits Riwayat Ahmad juga disebutkan:

فَيَأْتِيهِ آتٍ فَيَقُولُ مَنْ رَبُّكَ مَا دِينُكَ مَنْ نَبِيُّكَ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي فَيَقُولُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَوْتَ وَيَأْتِيهِ آتٍ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِهَوَانٍ مِنْ اللَّهِ وَعَذَابٍ مُقِيمٍ فَيَقُولُ وَأَنْتَ فَبَشَّرَكَ اللَّهُ بِالشَّرِّ مَنْ أَنْتَ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ كُنْتَ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ سَرِيعًا فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَجَزَاكَ اللَّهُ شَرًّا ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَصَمُّ أَبْكَمُ فِي يَدِهِ مِرْزَبَةٌ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ كَانَ تُرَابًا فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً حَتَّى يَصِيرَ تُرَابًا ثُمَّ يُعِيدُهُ اللَّهُ كَمَا كَانَ فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً أُخْرَى فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهُ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ قَالَ الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ النَّارِ وَيُمَهَّدُ مِنْ فُرُشِ النَّارِ

Artinya, “Maka datanglah kepada Si Mayit (seorang malaikat) bertanya, ‘Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?’ Lalu Mayit tersebut menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Tidakkah kamu telah melihatnya dan telah membacanya?’ Lalu datanglah seseorang yang buruk wajahnya dan buruk pakaiannya, yang bacin baunya, ia berkata, ‘Nikmatilah olehmu penghinaan yang datang dari Allah serta siksa yang tetap.’ Si Mayit bertanya, ‘Dan kamu, semoga Allah membalas keburukan padamu. Siapa Anda?’ Orang tersebut menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk akibat kamu menunda-nunda untuk taat kepada Allah namun bersegera jika berbuat maksiat kepada-Nya. Maka Allah membalasmu dengan suatu keburukan.’ Selanjutnya malaikat itu memegang sebuah gada (mirzabah) di tangannya yang membuat Si Mayit tercekat (buta, tuli dan bisu). Seandainya benda itu dipukulkan pada sebuah gunung, maka pasti hancurlah ia menjadi debu. Malaikat itu lalu memukulkan mirzabah itu kepada Si Mayit dengan sekali pukulan yang karenanya ia hancur lebur menjadi debu. Kemudian Allah SWT mengembalikannya lagi sebagaimana semula. Lalu dipukul lagi dengan pukulan lain. Si Mayit menjerit dan berteriak dengan jeritan dan teriakan yang bisa didengar oleh semua makluk kecuali as-tsaqalain. Al-Bara’ bin ‘Azib berkata, ‘Lalu dibukakanlah bagi Si Mayit itu sebuah pintu dari api dan ranjang yang terbuat dari api neraka,’” (HR Ahmad, Nomor 578).

Makna dari as-tsaqalain di dalam hadits riwayat Imam Ahmad ini juga menunjuk makna yang sama dengan hadits yang termaktub dalam Kitab Tafsir karya Yahya bin Abdus Salam di atas, yaitu bermakna jin dan manusia.

Pemakaian lafal al-ins dalam Al-Qur’ân tampaknya lebih menunjuk pada makna jenis dan manusia sebagai nomina kolektif, yaitu makhluk yang suka berkelompok, sehingga condong tidak liar atau tidak biadab. Makna ini seolah bertolak belakang dengan al-jin yang bersifat metafisik dan identik dengan liar atau bebas.

Dengan kata lain, ketika lafal al-ins digunakan dalam Al-Qur’ân, maka seolah di sana tergambar sebuah peradaban yang dibangun oleh manusia dengan akal dan budinya. Lafal al-ins juga seolah menunjuk pengertian bahwa manusia adalah makhluk berbudaya. Wallahu a’lam bis shawâb.
 
 
Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.
Rabu 11 September 2019 15:0 WIB
Makna An-Nas atau Manusia dalam Al-Qur'an
Makna An-Nas atau Manusia dalam Al-Qur'an
Ilustrasi: emaze.com
Para pakar antropologi yang menganut filsafat materialisme memandang bahwa hakikat manusia adalah semata makhluk materi. Ia merupakan jasad yang tersusun oleh bahan-bahan material dari dunia anorganik. Para pakar biologi yang lahir dari dunia filsafat materialisme ini juga berpendapat bahwa manusia adalah badan yang hidup.

Pandangan yang berbeda dari kedua pakar itu disampaikan oleh kalangan pakar antropologi yang dibesarkan oleh filsafat idealisme. Mereka beranggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kehidupan spiritual-intelektual yang intrinsik dan tidak tergantung pada materi.

Berbagai pandangan ini nampaknya hanya berkutat pada satu sisi rumpun ilmu yang ditekuninya sehingga gambaran yang disampaikannya belumlah menggambarkan sosok manusia secara holistik dan integral.

Dalam tulisan ini, kita ingin mengungkap bagaimana Kitab Suci Al-Qur’an memberikan penjelasan tentang bagaimanakah gambaran tentang manusia itu. Kendati kajian ini bersifat sederhana, semoga bermanfaat dalam membuka tabir bagi pengetahuan kita semua.

Perlu diketahui bahwa di dalam Kitab Suci Al-Qurân, “manusia” disebut dalam beragam sebutan, antara lain sebagai ناس, إنس, أناس, إنسان, بشر, عبد, بني آدم, dan ذرية آدم. Bagaimana pun, setiap sebutan pasti menyimpan makna kekhususan dan terdapat maziyyah di dalamnya, mengingat Al-Qurân merupakan kitab suci yang diturunkan sebagai mu’jizat kepada Baginda Nabi Muhammad shallalaahu ‘alaihi wasallam dan memiliki nilai kesusastraan yang tinggi dari sisi balaghah, manthiqy dan lughawynya.

Karena ketinggian tingkat bahasa yang digunakan itu, maka setiap aspek pilihan lafadh yang dipergunakan oleh Al-Qurân sudah barang tentu memiliki fungsi tertentu pula. Kadang konteks bahasa Al-Qurân merujuk pada makna melemahkan (i’jaz) terhadap argumen dan keyakinan kaum kâfir, munâfiq dan fâsiq, namun kadang pula menjadi kabar penggembira bagi kaum yang beriman dan taat kepada Nabi.

Pilihan kalimat Al-Qur’an dalam menyebut manusia dengan beragam istilah di atas, sudah barang tentu juga memiliki maksud dan tujuan tertentu pula dari Allah Dzat Yang Maha Pencipta. Setidaknya gambaran itu bisa diketahui dari beberapa penyandaran latar belakang suatu istilah disebutkan. Kita coba untuk menguraikannya secara global dalam tulisan singkat ini khususnya terhadap makna an-nâs.

Perlu diketahui bahwa, ada hampir 169 ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut manusia dengan menggunakan diksi an-nâs (الناس). Dari keseluruhan diksi itu, secara umum penggunaan diksi an-nâs memiliki menunjuk pada beberapa fungsi. Berikut kami sajikan garis besar dari fungsi tersebut.

Pertama, Perintah Menjalin Relasi Sosial  
Contoh ayat yang menggunakan diksi an-nâs ini adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sungguh Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Surat An-Nisâ ayat 1).

Di dalam ayat ini, setelah lafadh an-nâs dipergunakan di depan yang disertai huruf nida’, pada bagian tengah ayat ditunjukkan tuntunan bermuamalah dengan sesama. Bermuamalah ini merupakan ciri dari relasi sosial.

Kedua, Perintah Ibadah 
Contoh dari penggunaan diksi adalah pada:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa” (Surat Al-Baqarah ayat 21).

Dapat dilihat pada ayat, bahwa lafal an-nâs disebut dengan iringan perintah menyembah. Menyembah merupakan realitas dari ibadah.

Ketiga, Perintah Tunduk dan Patuh kepada Allah SWT serta Menauhidkan-Nya.
Contoh dari penggunaan diksi ini adalah sebagai berikut:

قل أعوذ برب الناس ملك الناس إله الناس

Artinya, “Katakanlah (Muhammad)! Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Dzat yang memiliki Manusia, Tuhan Manusia,” (Surat An-Nâs ayat 1-2)

Keempat, Tahdid (menakut-nakuti) 
Ayat yang diawali dengan huruf nida’ dan an-nâs umumnya adalah ayat-ayat yang masuk kelompok Makkiyah. Contoh dari penerapan fungsi ini adalah penggunaan diksi an-nâs di dalam Surat At-Tahrîm ayat 6.

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ وَ اَہۡلِیۡکُمۡ نَارًا وَّ قُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَايؤمرون

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surat At-Tahrîm ayat 6).

Walhasil penyebutan diksi an-nâs di dalam Al-Qur’an seolah menunjuk pada empat fungsi. Fungsi-fungsi ini penulis rangkum dari mencermati konteks ayat berbicara. Adapun bagaimana jabaran dari masing-masing fungsi tersebut kiranya perlu merujuk pada kitab tafsir yang lebih luas. Wallahu a’lam bis shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah Lembaga Bahstul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jawa Timur.
Jumat 6 September 2019 21:0 WIB
Mendapati Tafsir Al-Qur’an yang Nyeleneh? Ini Penyebabnya
Mendapati Tafsir Al-Qur’an yang Nyeleneh? Ini Penyebabnya
Egoisme kepentingan penafsir kerap menjerumuskannya pada penafsiran yang aneh dari pandangan kebanyakan ulama.
Dalam dunia ilmu tafsir dikenal istilah al-ashîl wa al-dakhîl fi tafsîr al-qur’an (yang asli dan yang asing dalam tafsir Al-Qur’an). Ilmu ini masuk rumpun kajian analisis terhadap keaslian sumber penyandaran riwayat tafsir oleh seorang mufassir dalam melakukan penafsiran. Selain faktor keaslian nukilan, turut juga dianalisis dalam bagian rumpun kajian ini, yaitu unsur asing yang masuk (al-dakhîl) dalam melakukan riwayat penukilan itu. 
 
Dalam istilah ilmu hadits, rumpun ilmu ini masuk bagian dari ilmu takhrij, atau dikenal sebagai ilmu kritik hadits, khususnya terhadap sumber riwayat dan matan hadits. Di dalam ilmu takhrij, sudah barang tentu mencakup ilmu lain, yaitu ilmu jarh wa al-ta’dil, ilmu ahwâl ruwâti al-ahâdits, dan semacamnya. 
 
Karena Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka untuk memahaminya, dibutuhkan banyak pengetahuan tentang bagaimana beliau memahami wahyu tersebut, lewat hadits yang diriwayatkan oleh para ulama’ dan terdokumentasikan dalam kitab dîwan. Demikian pula, untuk mengetahui hadits riwayat tafsir, tidak ada jalan lain selain menggunakan wasilah berupa pemahaman sahabat, para tabi’in dan para ulama’ setelahnya, khususnya ulama madzâhib al-arba’ah (empat imammazhab), dan tâbi’ (murid-muridnya), serta muqallid (para penganutnya) hingga sekarang. 
 
Jadi, bila ada yang berasumsi bahwa memahami Al-Qur’an dan Hadîts bisa dilakukan tanpa lewat silsilah sanad dari para ulama sehingga pemahaman tersebut disambungkan hingga ke ulama sekarang, maka sudah pasti mereka akan menghasilkan suatu pemahaman yang aneh dan asing. Sifat aneh dan asing ini sudah pasti disebabkan karena pemahamannya menyimpang dari pemahaman yang disepakati sebelumnya. 
 
Suatu misal: bila para ulama dulu memahami praktik ajaran dengan cara langsung diajarkan oleh guru sanad, dan pemahaman itu ditularkan hingga umat generasi sekarang, bahwa membaca Al-Qur’an yang pahalanya disampaikan kepada orang yang sudah meninggal adalah boleh dan bisa sampai, terbukti dari praktik ini yang terus-menerus lestari hingga sekarang, lalu secara tiba-tiba ada pihak yang melarang membacanya dengan niat tersebut, maka sudah pasti bahwa pemahaman ini adalah hal yang aneh. Sudah pasti ada unsur al-dakhil (pemalsuan dan pembelokan) dalam menyampaikan ajaran tersebut.
 
Unsur asing yang nyeleneh ini bisa lahir dari beberapa sebab, antara lain:
 
Pertama, karena ada unsur kesengajaan untuk merusak superioritas Islam, sementara mereka tidak sanggup melawannya secara langsung. Untuk itu direncanakan merusaknya secara sistemik melalui pembelokan penafsiran sumber pokok ajarannya, yaitu lewat wasilah Al-Quran dan al-Hadits. Fenomena munculnya nabi palsu, dan kafir zindiq, menjadi asumsi dasar bagi hipotesa awal ini. 
 
Kedua, karena ada kemungkinan faktor simplifikasi materi Al-Qur’an sehingga dalam beberapa hal ada pemaksaan interpretasi dan ta’wil yang selanjutnya dapat berakibat pada penyimpangan makna dari makna seharusnya. Dalam situasi ini, maka kedudukan penafsir adalah ibarat seorang mufassir politik atau mufassir yang diliputi dengan suatu kepentingan. Ia membawa penafsiran ke arah upaya mendukung kelompoknya dengan mengabaikan kode etik keilmiahan penafsiran. Kaidah tafsir berperan besar untuk dapat dipakai sebagai instrumen mengukur sejauh mana penyimpangan tersebut terjadi.
 
Ketiga, karena ada kemungkinan dorongan yang benar yakni dukungan keluhuran agama Islam, sehingga diperlukan upaya mendapatkan legitimasinya sebagai wujud pembenaran risâlah akan tetapi instrumen yang dipergunakan tidak bersumber dari rangkaian sanad yang benar dan mu’tabar, seperti jargon kembali ke Al-Qur’an dan al-Hadits yang sebenarnya dalam jargon ini mengajak untuk meninggalkan sanad pemahaman dari para ulama’ sebelumnya.
 
Keempat, keterputusan bayan tafsir (penjelasan tafsir) dari Nabi Muhammad SAW membawa akibat pada upaya analisis teks kebahasaan yang memungkinkan seorang mufasir memaksakan interpretasi tanpa memperhatikan kaidah dasar tafsir.
 
Kelima, adanya disintegrasi di kalangan kaum muslimin akibat pergantian khalifah dan siyasah. Tak pelak lagi, bahwa perpecahan politis yang berhasil mengoyak umat menjadi banyak firqah ini, yang berjalan beriringan dengan dinamika politik pada waktu itu, telah melahirkan sejumlah permasalahan yang berkepanjangan sehingga sekarang. Salah satu permasalahan adalah akibat sikap ta’ashtsiqah dari lawannya. 
 
Keenam, munculnya sejumlah ahli qushash dan wu’adh (tukang ceramah), telah turut serta menyumbang lahirnya sejumlah hadits maudhu’ dan dha’if yang selanjutnya banyak juga berperan di dalam menyumbang al-dakhil fit tafsir (pembelokan tafsir). Misalnya, akhir-akhir ini ada qushâsh dan wu’adh tentang hari kiamat. Hitungan matematis mereka sering menjadi dasar pembelokan konsep kiamat itu yang sebenarnya memiliki ujung mengajak masuk dalam kelompoknya. Misalnya: mereka sebenarnya mengajak mendukung ke arah politik tertentu menegakkan kekhilafahan romantis. 
 
Ketujuh, kemunculan beberapa kalangan mutashâwifin. Maksud dari mutashâwifin (pura-pura tasawuf) ini tidak sama pengertiannya dengan shûfi. Jika kalangan shûfi merupakan pengamal ajaran tasawuf dari guru yang bersanad, maka untuk kalangan mutashâwifin ini adalah serupa dengan orang fâsiq, yaitu orang yang hanya bisa berkomentar akan tetapi dia sendiri tidak melakukan. Contoh: orang mengajak menegakkan kalimat tauhid (لاإله إلا الله) di jalan-jalan, sementara ia sendiri tidak pernah berdzikir rutin dengan kalimat tersebut untuk memenuhi aspek kewajiban pribadinya dalam berdzikir لاإله إلا الله. Inilah bagian dari representasi rajulun fâsiq. Dalam Al-Qur’an, ia dicirikan sebagai:
 
وإذا قيل لهم لاتفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون (11) ألا إنهم هم المفسدون ولكن لايشعرون (12)
 
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan (revolusi).’ (12) Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan akan tetapi mereka tidak merasa.” (QS Al-Baqarah [2]: 11-12).
 
Ketika diingatkan dengan sifat aneh yang dimilikinya yang jelas telah menimbulkan efek fasad (mudarat), mereka lebih memilih untuk membantah dan menuruti kemauannya yang ia kira sebagai cara satu-satunya untuk melakukan perbaikan (ganti sistem/revolusi). 
 
Kembali pada persoalan riwayat tafsir. Penelitian riwayat merupakan hal mutlak untuk dilakukan bilamana pemahaman tersebut berkaitan dengan hukum. Adapun bila berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seperti biologi, fisika, ekonomi dan sebagainya, ada peluang untuk masuk ke dalam dunia tafsir, akan tetapi hanya pada aspek menegaskan pemahaman yang sudah ma’tsûrât (disampaikan dalam bentuk dokumen riwayat) dan berupa penegasan terhadap ayat-ayat yang sifatnya kauniyah (berkenaan dengan alam).
 
Misalnya, untuk memahami bagaimana bentuk bumi, peredaran benda langit, peredaran bulan, dan lain sebagainya, mutlak dalam hal ini dibutuhkan alat penafsiran berupa pengetahuan. Adapun yang berkaitan dengan ayat hukum, seperti lama ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suami, atau ‘iddah perempuan thalaq mati, maka semua ini merupakan ilmu yang bersifat ta’abbudi (harus mengikut pada dokumen nash dan riwayat penafsiran). Meskipun dunia modern sudah menemukan alat baru berupa mesin USG yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi rahim sehingga bisa memastikan kondisi istibrâ-u al-rahmi (bebasnya rahim), sifat dari ilmu ini tidak bisa mengalahkan aspek ta’abbudi dari ‘iddah yang mensyaratkan masa tunggu selama beberapa waktu lamanya sebagaimana sudah ditetapkan syariat. 
 
Walhasil, keanehan dalam dunia tafsir ayat Al-Qur’an merupakan sebab lahirnya ilmu al-ashîl wa al-dakhîl fi tafsîr al-qur’an. Sebagai penutup dari tulisan ini, sebuah kutipan dari Syeikh Abdul Wahab al-Fayad, salah satu ulama’ tafsir dari Universitas Al-Azhar. Beliau menggambarkan mengapa “keanehan” terjadi dalam tafsir ? Sepintas kilas, hal itu beliau sampaikan dalam muqaddimah kitab karyanya:
 
الدخيل... إنه عبارة عن التفسير الذي ليست له أصول ثابتة في الدين كأن يكون مخالفا لروح القرآن الكريم أو منافيا للعقل السليم أو ناشئا عن فهم سقيم أو نابعا من فكر وافد على الإسلام دين الله القويم
 
Artinya: “Al-Dakhil ... merupakan suatu istilah bagi penafsiran yang tidak memiliki sumber rujukan teruji (tsabitah) dalam agama, misalnya: penafsiran yang bertentangan dengan ruh ajaran Al-Qur’an yang Mulia, atau bertentangan dengan akal sehat, atau tumbuh karena pemahaman yang sakit, atau lahir dari pemikiran baru atas agama Islam yang seharusnya didudukkan sebagai agama Allah yang lurus.” (Abdul Wahab Abdul Wahab al-Fayad, al-Dakhîl fi Tafsîr Al-Qur’an al-Karîm, Kairo: Mathba’ah al-Hadlârah al-‘Arabiyyah, 1980: 2/3).
 
Wallahu a’lam bish shawâb. 
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah – LBMNU PWNU Jawa Timur