IMG-LOGO
Hikmah

Burung Hud-hud dan Penjelasan Ibnu Abbas yang Ditentang Khawarij

Jumat 20 September 2019 6:30 WIB
Share:
Burung Hud-hud dan Penjelasan Ibnu Abbas yang Ditentang Khawarij
Khawarij memiliki watak merasa paling benar sendiri dan cenderung meremehkan pandangan orang lain. (Ilustrasi: NU Online)
Kisah ini dimulai dari penjelasan Sayyidina Ibnu Abbas tentang kemampuan burung Hud-hud. Ia menjelaskan: 
 
كان الهدهد مهندسا، يدل سليمان، عليه السلام، على الماء، إذا كان بأرض فلاة طلبه فنظر له الماء في تخوم الأرض، كما يرى الإنسان الشيء الظاهر على وجه الأرض، ويعرف كم مساحة بعده من وجه الأرض، فإذا دلهم عليه أمر سليمان، عليه السلام، الجان فحفروا له ذلك المكان، حتى يستنبط الماء من قراره
 
Terjemah bebas: 
 
Bahwa burung Hud-hud sangat ahli dalam mencari air dan ditugaskan secara khusus oleh Nabi Sulaiman ketika berada di padang pasir. Dengan kemampuannya, Hud-hud dapat melihat sumber air di dalam tanah seperti manusia dapat melihat sesuatu di permukaan tanah. Hud-hud juga dapat melihat seberapa jauh dan seberapa dalam sumber air di dalam tanah itu. Ketika Hud-hud menunjukkan letak sumber air, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memerintahkan jin untuk menggali tempat itu sampai air keluar dari dasar bumi” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhîm, Riyadh: Dar Thayyibah, 1999, juz 6, h. 184).
 
Penjelasan Sayyidina Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Imam Mujahid, Sa’id bin Jubair, dan ulama lainnya. Di saat Ibnu Abbas menjelaskan kelebihan yang dimiliki burung Hud-hud, seorang Khawarij bernama Nafi’ bin al-Azraq menentangnya. Berikut riwayatnya:
 
حدث يوما عبد الله بن عباس بنحو هذا، وفي القوم رجل من الخوارج، يقال له نافع بن الأزرق، وكان كثير الاعتراض على ابن عباس، فقال له: قف يا ابن عباس، غلبت اليوم! قال: ولم؟ قال: إنك تخبر عن الهدهد أنه يرى الماء في تخوم الأرض، وإن الصبي ليضع له الحبة في الفخ، ويحثو على الفخ ترابا، فيجيء الهدهد ليأخذها فيقع في الفخ، فيصيده الصبي. فقال ابن عباس: لولا أن يذهب هذا فيقول: رددت على ابن عباس، لما أجبته. فقال له: ويحك! إنه إذا نزل القدر عمي البصر، وذهب الحذر. فقال له نافع: والله لا أجادلك في شيء من القرآن أبدا
 
Terjemah bebas: 
 
Suatu hari Ibnu Abbas menceritakan kisah ini di sebuah kaum yang di dalamnya terdapat seorang Khawarij bernama Nafi bin al-Azraq. Ia dikenal sebagai orang yang sangat sering (banyak) menentang Ibnu Abbas. Karena itu ia berkata: “Hentikan wahai Ibnu Abbas, hari ini kau telah kalah.” Ibnu Abbas bertanya: “Kenapa?”
 
Nafi bin al-Azraq berkata: “Sesungguhnya kau telah bercerita tentang Hud-hud yang dapat melihat air di perut bumi, padahal bisa saja seorang anak menaruh biji dalam perangkap dan menutupi perangkap itu dengan tanah. Kemudian Hud-hud datang mengambil biji tersebut (untuk dimakan) maka dia terjerat oleh perangkap yang dipasang anak kecil itu.”
 
Ibnu Abbas berkata: “Jika tidak karena mengakhiri ini, lalu ia akan berkata: ‘Aku telah menyangkal Ibnu Abbas, (dan) ia tidak menjawab.” Kemudian Ibnu Abbas menjawab: “Celakalah kau! Sungguh jika takdir telah ditetapkan, hilanglah penglihatan dan lenyaplah kehati-hatian (maka burung Hud-hud pasti masuk dalam perangkap).”
 
Nafi bin al-Azraq berkata: “Demi Allah, aku tidak akan lagi mendebatmu dalam sesuatu dari Al-Qur’an selamanya” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhîm, 1999, juz 6, h. 184-185)
 
****
 
Riwayat di atas merupakan tafsir atau penjelasan Sayyidina Abdullah bin Abbas mengenai Surat An-Naml: 20. Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan:
 
فنزل سليمان، عليه السلام [يوما]، بفلاة من الأرض، فتفقد الطير ليرى الهدهد، فلم يره، (فقال ما لي لا أرى الهدهد أم كان من الغائبين)
 
“(Suatu ketika) Nabi Sulaiman beristirahat di padang pasir. Ia memeriksa (kelompok) burung, tapi ia tidak melihat burung Hud-hud. (Maka ia berkata: “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?)”  (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhîm, 1999, juz 6, h. 184).
 
Ketika ia sedang menjelaskan makna atau peristiwa yang melatar-belakangi ayat tersebut, seorang Khawarij bernama Nafi bin al-Azraq menentang Ibnu Abbas. Dari argumentasinya, Nafi bin al-Azraq tidak meyakini kebenaran tafsir Ibnu Abbas. Ia tidak percaya jika burung Hud-hud dapat melihat ke dalam perut bumi dan menemukan sumber air. Dengan percaya diri ia mengatakan Ibnu Abbas telah kalah, bahkan sebelum ia mengemukakan argumentasinya. Maksud “kalah” di sini adalah, bahwa penjelasan Ibnu Abbas akan sangat mudah dipatahkan olehnya.
 
Argumentasi Nafi bin al-Azraq adalah, jika memang burung Hud-hud bisa melihat ke dalam tanah, mungkin saja ia akan terjebak oleh perangkap anak-anak yang menaruh biji dan menguburnya di dalam tanah untuk menangkapnya. Tapi Sayyidina Ibnu Abbas menjawab: “Celakalah kau! Jika takdir telah ditetapkan, hilanglah penglihatan dan lenyaplah kehati-hatian.”
 
Jawaban ini menunjukkan bahwa secakap apa pun kemampuan seseorang atau makhluk tertentu, di titik tertentu mereka akan menemui takdirnya. Ketika mereka menemui takdirnya, standar logika yang berdasarkan kualifikasi atau kemampuan tidak bisa diterapkan lagi. Titik inilah yang kemudian dipahami oleh nenek moyang kita dengan pepatah: “Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.”
 
Penggunaan kata, “waihak!—celakalah kau!” merupakan bentuk teguran Ibnu Abbas kepada Nafi’ bin al-Azraq. Karena ia telah sombong dengan kebenaran versinya sendiri. Ia menganggap penafsiran lain yang berbeda dengannya salah tanpa melakukan analisa dan perenungan mendalam terlebih dahulu. 
 
Kesombongan Nafi bin al-Azraq ditampilkan dengan mengatakan, “kau telah kalah hari ini, wahai Ibnu Abbas.” Perkataan ini ia katakan sebelum ia mengemukakan argumentasinya. Artinya, ia telah sangat yakin akan kebenaran pendapatnya, dan yakin akan kesalahan pendapat Ibnu Abbas. 
 
Setelah mendengar teguran dan jawaban Ibnu Abbas, Nafi’ bin al-Azraq menyadari kekeliruannya. Jika Allah telah menetapkan sesuatu, sepintar apa pun manusia, selihai apa pun tupai, secanggih apa pun teknologi, semuanya akan berjalan sesuai ketetapannya. Jika Allah menghendakinya jatuh, ia akan terjatuh; jika Allah menghendakinya berhasil, ia akan semakin berhasil. Sebab, tidak mungkin ada manusia yang selalu sukses, dan tidak mungkin pula ada manusia yang selalu gagal. Begitupun dengan makhluk Allah lainnya.
 
Karena itu, kita harus mawas diri dalam merasa. Jangan sampai kita merasa “paling” dalam segala hal, baik yang bersifat positif maupun negatif. Kisah di atas mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai kebenaran eksternal, yaitu kebenaran yang berasal dari selain kita.
 
 
Di sisi lain, kisah di atas juga mengajarkan kita agar menghargai takdir. Karena setiap manusia memiliki passion yang berbeda-beda; profesi yang berbeda-beda; hobi yang berbeda-beda, dan lain sebagainya. Ini bukan berarti takdir tidak adil, bukan. Karena ketetapan Allah berjalan sepanjang kita hidup. Terkadang kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan; terkadang kita tidak mendapatkannya. 
 
Karena itu, dalam jawabannya, Sayyidina Ibnu Abbas mengatakan, jika takdir telah ditetapkan, kehati-hatian bisa hilang dan penglihatan bisa lenyap, bahkan untuk burung Hud-hud yang memiliki keistimewaan sekalipun. Artinya, kemampuan, kelihaian, kecakapan, dan kelebihan sewaktu-waktu akan menemui ketidak-berfungsiannya. 
 
Maka dari itu, kita harus terus berusaha dan berdoa, memohon kepada Allah agar terjauhkan dari kesombongan merasa “paling benar”, “paling beruntung”, dan “paling malang.” Pertanyaannya, bisakah kita melakukannya?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
 
 
Share:

Baca Juga

Selasa 17 September 2019 15:0 WIB
Cara Istana Kerajaan Persia Mendidik Calon Pemimpin Publik
Cara Istana Kerajaan Persia Mendidik Calon Pemimpin Publik
Ilustrasi
Raja Kisra dari Dinasti Sassania (penguasa Persia 590-628 Masehi) memanggil seseorang cendekiawan ke istananya. Ia mengutus pengawal istana untuk menghadirkan cendekiawan yang dimaksud. Ia meminta guru cendekia itu untuk mengenalkan anaknya terhadap pelbagai cabang ilmu pengetahuan.

Guru cendekia menerima tugas mulia dari istana. Guru bijak dan cendekia itu menjalankan tugasnya sesuai permintaan Kisra. Selama bertahun-tahun sang guru menekuni tugasnya dengan totalitas.

Sampai pada giliran di mana muridnya telah mencapai puncak kematangan dalam ilmu pengetahuan dan akhlaknya, sang guru memintanya untuk berdiri di hadapannya. Tak terpikirkan apa yang akan dilakukan sang guru karena ketidaklazimannya. Guru bijak cendekia itu kemudian tanpa diduga memukul murid kesayangannya tersebut.

Atas insiden itu, sang murid putra mahkota ini menyimpan dengan rapi dendam sampai gurunya menginjak lansia. Ia tidak terima atas perlakuan sang guru. Ia merahasiakan peristiwa dan dendamnya dari siapa pun termasuk orang tua dan gurunya sendiri.

Waktu terus berjalan. Aktivitas kerajaan tetap berjalan seperti biasa, rutin dan membosankan. Sama halnya dengan aktivitas pembelajaran sang guru dan sang putra mahkota.

Suatu ketika sang ayah wafat. Sang anak putra mahkota pun naik takhta kerajaan yang dikenal dunia sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan peradaban. Ia menggantikan posisi ayahnya yang mangkat. Ia segera menjalankan pemerintahan atas Persia sesuai dengan bekal ilmu pengetahuan dan sejarah kekuasaan yang diketahuinya.

Roda pemerintahan terus berjalan. Aktivitas ekonomi masyarakat pun terus bergerak. Pembangunan infrastruktur juga terus berlangsung. Pengembangan ilmu pengetahuan dan SDM masyarakat Persia tetap berlangsung tanpa kurang sesuatu apa.

Walhasil selama beberapa tahun, semua berjalan sebagaimana biasa hingga pada suatu saat sang raja teringat pada perlakuan gurunya di waktu lampau yang menyisakan dendam. Ia kemudian mengambil kesempatan untuk membalas dendamnya. Ia tanpa peduli meminta pengawal kerajaan untuk mencari gurunya yang kini sudah renta. Hal ini dilakukan demi menuntut keadilan atas kezaliman sang guru.

Di hadapan sang raja, sang guru membungkuk hormat dan memberi salam.

“Wahai tuan guru, aku sangat menghormatimu atas segala jenis pengetahuan yang pernah kaukenalkan kepadaku.” kata raja membuka percakapan kepada gurunya yang berusia sangat lanjut.

Sang guru masih mendengarkan raja yang dulu adalah murid kesayangannya. Ia menunggu lanjutan dari ucapan sang raja.

“Tetapi kau tentu masih ingat bukan pada suatu hari di mana kau memukulku agak sakit tanpa sebab dan kesalahan yang kubuat? Aku ingin menuntut keadilan atas kezaliman tersebut,” kata sang murid dengan tekanan datar.

Pertanyaan sang raja di luar dugaan. Pertanyaan sekaligus tuntutan muridnya itu seakan petir yang menyambar di siang hari. Ia mengingat benar peristiwa tersebut. Ia sadar benar bahwa penuntut keadilan yang dihadapinya bukan murid kesayangannya dulu, tetapi penguasa Persia yang sedang menjabat. Namun demikian, sang guru dapat mengendalikan diri. Ia memahami tujuan dari pemukulan secara sengaja yang cukup sakit kepada muridnya ketika itu. Sementara sang raja dan para pembesar istana menunggu dengan seksama jawaban yang keluar dari mulut sang guru.

“Ketahuilah wahai paduka, ketika kau mencapai kematangan, derajat, dan adab setinggi ini, aku sadar bahwa kau akan menggantikan kursi ayahmu. Aku ingin kau merasakan pukulan dan sakitnya kezaliman ketika itu sehingga kelak kau tidak melakukan pemukulan dan kezaliman kepada rakyatmu,” jawab sang guru.

Sang raja yang bijak, terdidik, dan memiliki standar peradaban yang tinggi sangat mudah menerima penjelasan pesakitan di hadapannya. Ia terpukau dan terpesona pada jawaban bijak sang guru. Baginya, jawaban sang guru mengandung kekuatan ghaib luar biasa. Ia kemudian bangun dari kursi dan memeluk gurunya yang sudah sangat lanjut usia. Ia berterima kasih kepada sang guru atas peringatan dan pelajaran berharga tersebut karena selama ini tidak ada yang berani mengingatkan sang raja.

“Semoga Allah membalas baik budi tuan guru,” kata penguasa Persia menitikkan air mata.

Sang raja kemudian meminta pengawal istana untuk mengantar kembali pulang gurunya. Sebagai bentuk terima kasih, sang raja juga memberikan hadiah kepada gurunya.

*

Kisah ini diangkat kembali oleh Syekh M Nawawi Al-Bantani, Bahjatul Wasail bi Syarhi Masail, [Semarang, Thaha Putra: tanpa tahun], halaman 38. Syekh M Nawawi Al-Bantani mengutip riwayat ini dari kitab Az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kaba’ir karya Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami.

Adapun Kisra adalah sebutan pada khazanah Islam yang dalam sejarah merujuk pada penguasa Persia yang dikenal dengan sebutan Khosrau II, Kisra II, atau Chosroes II. Sejarah klasik Persia menyebutnya dengan julukan Parvez atau "Yang Selalu Berjaya."

Raja Kisra merupakan seorang kaisar kedua puluh dua Dinasti Sassania. Penguasa ini memerintah Persia sekira tahun 590-628 Masehi. Raja Kisra tidak lain putra dari Raja Hormizd IV (penguasa Persia 579-590 Masehi) dan cucu dari Raja Khosrau I (penguasa Persia 531-579 Masehi).

Raja Kisra dari Persia pernah dikirimi surat oleh Nabi Muhammad saw. Melalui Abdullah As-Sahmi sebagai utusan, Nabi Muhammad SAW menawarkan Raja Kisra untuk memeluk agama Islam.
 
Penulis: Alhafiz Kurniawan 
Editor: Muchlishon
Senin 16 September 2019 22:0 WIB
Kisah Perselisihan Umar bin Khattab dan Abbas bin Abdul Muthalib
Kisah Perselisihan Umar bin Khattab dan Abbas bin Abdul Muthalib
Ilustrasi
Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang berwatak keras, tegas, dan berkemauan kuat. Ia tidak segan-segan melakukan sesuatu meski berisiko tinggi jika itu menurutnya benar. Ketika belum masuk Islam, Umar begitu lantang menentang dakwah Nabi Muhammad. Begitupun ketika dirinya sudah memeluk Islam. Dia begitu lantang mendakwahkan Islam. Menantang siapa saya yang menentang Islam.
 
Umar bin Khattab adalah seorang sahabat yang mendesak Nabi Muhammad untuk berdakwah secara terang-terangan. Menurut Umar, tidak seharusnya kebenaran didakwahkan dengan diam-diam. Ia siap melindungi dan menjadi tameng manakala ada elite Quraisy yang menyerang Nabi Muhammad gara-gara menyebarkan Islam dengan terang-terangan. Apa yang diharapkan Umar bin Khattab akhirnya menjadi kenyataan setelah turun wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan.
 
Umar bin Khattab juga dikenal sebagai orang yang sangat adil. Apa yang dilakukannya selalu berada dalam garis keadilan. Status sosial dan kedekatannya dengan Nabi Muhammad tidak membuatnya berlaku seenaknya kepada yang lainnya. Bahkan, ketika menjadi khalifah kedua—menggantikan Abu Bakar—pun Umar bin Khattab terus menjunjung tinggi keadilan. Tidak pongah dan tidak berlaku semena-mena sesuai dengan kehendaknya, meski kekuasaan ada di tangannya. 
 
Dalam Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, 2019) diceritakan, suatu ketika Umar bin Khattab terlibat perselisihan dengan Abbas bin Abdul Muthalib terkait persoalan tanah. Saat itu, Abbas memiliki sepetak tanah dan rumah di pinggir Masjid Nabawi. Umar bin Khattab yang ketika itu menjabat Amirul Mukminin meminta agar Abbas menjual tanah dan rumah tersebut. Dengan demikian, Umar bisa memperluas Masjid Nabawi.
 
Abbas menolak permintaan sang Amirul Mukminin tersebut. Umar tidak menyerah. Ia kemudian meminta agar Abbas menghibahkan rumah dan tanahnya untuk sang khalifah. Sehingga khalifah bisa memperlebar Masjid Nabawi. Abbas kembali menolak.
 
"Kalau begitu, tambahkanlah sendiri rumahmu ke area masjid," pinta Umar yang masih keukeuh membujuk Abbas agar melepaskan tanahnya. Lagi-lagi Abbas menolak.
 
Dengan sedikit memaksa, Umar meminta agar Abbas memilih di antara tiga permintaannya itu. Abbas pun tetap menolak. Akhirnya Umar meminta agar ada sahabat yang menengahi mereka. Keduanya sepakat menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai juru penengah untuk menyelesaikan perselisihan mereka. 
 
Setelah mendengar keterangan di atas, Ubay bin Ka’ab berpendapat bahwa Umar bin Khattab tidak bisa mengusir Abbas bin Abdul Muthalib dari tanah dan rumahnya sendiri jika dia memang tidak rela. Mendengar jawaban seperti itu, Umar bin Khattab lantas bertanya apakah yang dikatakan Ubay tersebut ada dasarnya dalam Al-Qur’an atau pun hadits Nabi.
 
Ubay bin Ka’ab menjawab bahwa dirinya pernah mendengar Nabi Muhammad bersabda, "Sesungguhnya Sulaiman bin Daud as. membangun Baitul Maqdis. Salah satu dindingnya selalu robih setiap kali ditegakkan. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya, ‘Jangan bangun di atas tanah milik seseorang sebelum mendapatkan kerelaan," kata Ubay.
 
Umar bin Khattab tidak lagi mendesak Abbas untuk menyerahkan tanahnya setelah mendengar penjelasan dari Ubay bin Ka’ab. Ia mundur dari perselisihan dengan Abbas. Namun ternyata, beberapa saat setelah itu Abbas menghibahkan tanahnya. Ia menambahkan rumahnya ke area Masjid Nabawi. 
 
Demikianlah sikap Umar bin Khattab. Dia tidak merampas tanah seseorang yang dikehendakinya meskipun saat itu dirinya menjabat sebagai khalifah. Ia tidak memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk meraih apa yang diinginkannya. Karena Umar selalu bermusyawarah jika terlibat dalam sebuah perselisihan. 
 
Penulis: Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Sabtu 14 September 2019 7:0 WIB
Kagumnya Setan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Kagumnya Setan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Kedalaman ilmu dan ketajaman batinlah yang membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani tak mempan oleh berbagai godaan. (Ilustrasi: mokashfiya.net)
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani mendapatkan gelar ‘Raja Para Wali’ dengan sikap tunduk dan rendah diri. Begitu beliau sudah mendapatkan gelarnya, justru malah tidak mudah menjaga gelar itu dari godaan-godaan setan. Karena semakin tinggi kedudukan seseorang di hadapan Allah ﷻ, maka ia harus siap menanggung ujian yang lebih berat lagi dari Tuhannya. Setan terus menggoda manusia dan para kekasih Allah ﷻ hingga hari kiamat agar terjerumus dalam api neraka, tak terkecuali Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Dalam satu kisah, ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani lagi menyendiri beliau dikagetkan dengan datangnya sebuah cahaya besar yang memenuhi penjuru langit. Lalu bayangan itu datang dan memanggil beliau.
 
“Wahai Abdul Qadir aku ini Tuhanmu. Kamu adalah kekasihku, aku akan meringankan syariat untukmu. Apa yang aku haramkan sebelumnya, sekarang aku halalkan untukmu,” kata bayangan itu.
 
“Wahai yang terlaknat, pergi kamu sekarang dari hadapanku. Kalau tidak, akan aku hancurkan kamu,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Begitulah setan menggoda para kekasih-Nya, ia mengaku dirinya sebagai Tuhan, agar Syekh Abdul Qadir al-Jailani percaya dan mengikuti perintah-Nya. Namun, Allah ﷻ tidak akan membiarkan kekasih-Nya terjerumus ke dalam jalan yang salah. Setan diberikan kebebasan oleh Allah ﷻ untuk menggoda manusia, sebagai manifestasi keadilan kepada seluruh makhluk-Nya.
 
Sesaat setelah kejadian dialog tersebut, tiba-tiba cahaya itu padam dan sedikit demi sedikit hilang dari pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Beliau terus menyendiri menikmati keindahan alam sebagai bukti kebesaran Allah ﷻ. Tak lama kemudian, bayangan yang tadi menghilang, kembali memanggil Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam wujud kabut dan berkata;
 
“Kamu selamat dari godaanku wahai Abdul Qadir karena dua alasan; pertama karena ilmumu (fiqih) yang telah melekat dalam jiwamu, engkau mampu membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah). Kedua karena kondisi spiritualmu dan ibadahmu, Allah ﷻ membukakan hatimu dan membimbingmu menuju jalan yang benar,” tegas kabut tersebut.
 
“Apa yang aku miliki saat ini, semuanya hanya milik Sang Pencipta. Aku selamat darimu berkat Tuhanku,” jelas Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
“Perlu kamu ketahui Abdul Qadir, aku telah menyesatkan sebanyak 70 orang ahli ibadah dengan cara seperti ini dan hanya kamu yang selamat. Dari mana kamu tau bahwa aku ini Setan?” tanya kabut itu.
 
“Semua karena fadilah Allah ﷻ, aku diberi petunjuk oleh-Nya melalui perkataanmu ‘Apa yang aku haramkan sebelumnya, sekarang aku halalkan untukmu’ dan saat itu aku yakin kamu adalah Setan. Karena kalau memang Allah ﷻ ingin menghapus syariatnya, tentulah orang yang pertama kali akan terlepas dari syariat-Nya adalah para nabi, dan itu sangat mustahil,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Melihat percakapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan Setan, sudah jelas bahwa keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhannya begitu mendalam. Hal itu sudah barang tentu tidak lepas dari ilmu yang dimiliki beliau. Begitu pentingnya ilmu, tak heran jika Rasulullah ﷺ selalu memohon tambahan ilmu kepada-Nya; 
 
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِيْ عِلْماً
 
“Dan katakanlah Muhammad; ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu pengetahuan.”
 
Ada hikmah menarik dari kisah di atas, bahwa kita harus selalu menimba ilmu. Karena dengan ilmu itu kita akan selamat dari godaan setan. Perlu di ingat bahwa setan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia hingga kiamat. Sebagai manusia yang tidak lepas dari salah dan keliru, sudah sepatutnya terus belajar menempa diri dengan ilmu Allah ﷻ. Sudah banyak di dalam Hadist maupun Al-Qur`an penjelasan akan pentingnya mencari ilmu.
 
Salah satu perbedaan antara manusia dengan yang lain adalah aspek akal. Dengan kelebihan itu, manusia dapat menerima ilmu. Sebagaimana Allah ﷻ mengajarkan Nabi Adam a.s akan nama-nama benda yang ada di muka bumi ini, dalam surat al-Baqarah ayat 31, Allah ﷻ berfirman, “Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman; sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar.”
 
Melihat firman Allah ﷻ di atas, telah mafhum bahwa manusia memiliki kelebihan daripada makhluk yang lain. Namun, itu semua kembali kepada manusia itu sendiri bisakah manusia tersebut mempergunakan kelebihan itu sebaik mungkin? Perlu diketahui bahwa posisi manusia berada diantara setan dan malaikat. Jika manusia tidak mampu menguasai hawa nafsunya, maka ia lebih buruk daripada setan. Sebaliknya, jika manusia mampu menguasai hawa nafsunya dan mengikuti perintah-Nya, maka derajatnya lebih tinggi dari malaikat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
 
 
Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo
 
 
Kisah ini disadur dari kitab al-Fawâid al-Mukhtârah li Sâliki Ṭarîq al-Âkhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun.