IMG-LOGO
Shalat

Hukum Shalat Istisqa di Malam Hari

Rabu 25 September 2019 16:45 WIB
Share:
Hukum Shalat Istisqa di Malam Hari
(Ilustrasi: NU Online)
Istisqa secara bahasa adalah meminta siraman berupa air minum, air hujan, air masak, dan lainnya. Sedangkan secara istilah syariat adalah permintaan hujan oleh seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala saat membutuhkannya. Istisqa disyariatkan ketika putusnya air hujan atau minimnya sumber air, semisal karena kemarau panjang. 
 
Istisqa bisa dilakukan dengan tiga caraPertama, dengan berdoa agar segera diberi hujan, baik sendirian maupun berjamaah. Istisqa jenis pertama ini tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
 
Baca juga:
 
Kedua, berdoa meminta hujan setelah shalat, baik shalat sunnah maupun shalat fardhu, semisal setelah khutbah Jumat, khutbah shalat hari raya, dan sebagainya. Istisqa jenis kedua ini tidak berbeda dengan yang pertama, namun doa yang dipanjatkan lebih khusus dilakukan setelah shalat dengan segala jenisnya. 
 
Ketiga, dengan bertaubat, puasa dan shalat Istisqa. Cara yang ketiga ini adalah cara yang paling utama, karena telah diamalkan oleh Nabi, sahabat, Tabi’in dan generasi ulama setelahnya (Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, Nihayah al-Zain [Surabaya: al-Haramain], hal. 111, dan Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf, al-Taqrirat al-Sadidah [Pasuruan: Dar al-‘Ulum al-Islamiyyah], hal. 350).
 
Adapun hukum shalat Istisqa adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dan bisa berubah statusnya menjadi wajib bila diperintahkan oleh pemerintah. 
 
Shalat Istisqa sunnah dilakukan secara berjamaah dan hendaknya diselenggarakan di lapangan. Segenap lapisan masyarakat mulai dari ulama, pejabat, pebisnis, pedagang, petani, pembantu dan lainnya hendaknya berkumpul dalam satu tempat untuk bersama-sama memanjatkan doa dan melaksanakan shalat Istisqa. Ulama menganjurkan agar mereka keluar dengan mengenakan pakaian sederhana yang jauh dari kesan mewah.
 
Tata cara shalat istisqa sama dengan shalat Idul Fitri dan Idul Adlha, yaitu dilakukan sebanyak dua rakaat, dengan niat shalat sunnah istisqa. Setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, sunnah membaca takbir sebanyak tujuh kali. Kemudian sebelum membaca surat al-Fatihah di rakaat kedua, sunnah membaca takbir sebanyak lima kali.
 
Setelah shalat istisqa, dianjurkan melaksanakan dua khutbah seperti khutbah hari raya kecuali pada permulaan khutbah pertama bacaan takbir diganti dengan membaca istighfar sebanyak sembilan kali dan sebanyak tujuh kali pada khutbah kedua. Kemudian saat telah melebihi sepertiga dari khutbah kedua khatib menghadap kiblat dan memutar selendangnya, dengan menjadikan bagian atas di balik ke bawah dan bagian bawah di balik ke atas serta bagian kanan dipindah ke sebelah kiri dan bagian kiri ke sebelah kanan yang kemudian diikuti oleh para jamaaah (Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, juz.1, Dar al-Fikr, hal. 305).
 
Shalat Istisqa umumnya dilakukan di siang hari, biasanya saat terik matahari sedang panas-panasnya. Namun baru-baru ini ada gagasan untuk melakukannya di malam hari. Sebetulnya bagaimana hukum melaksanakan shalat Istisqa di malam hari?.
 
Ulama berbeda pandangan mengenai ketentuan waktu shalat Istisqa. Pendapat pertama, seperti shalat hari raya, yaitu mulai dari terbitnya matahari hingga masuknya waktu zhuhur. Pendapat kedua, dimulai sejak terbitnya matahari hingga masuk waktu Ashar. Pendapat ini mirip dengan pendapat pertama dalam hal permulaan waktunya, namun berbeda dalam penetapan akhir waktunya. Pendapat ketiga, tidak dibatasi oleh waktu. Menurut pendapat ini, shalat Istisqa boleh dilakukan kapan saja, baik saat pagi, siang, sore atau malam hari. Pendapat ini adalah yang terkuat di kalangan mazhab Syafi’i, didukung oleh mayoritas ulama dan dibenarkan oleh ulama yang pakar dalam meneliti kajian fiqh (al-muhaqqiqin).
 
Ikhtilaf ketentuan waktu shalat Istisqa di atas sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam al-Nawawi berikut ini:
 
(فرع) في وقت صلاة الاستسقاء ثلاثة أوجه (أحدها) وقتها وقت صلاة العيد وبهذا قال الشيخ ابو حامد الاسفراينى وصاحبه المحاملي في كتبه الثلاثة المجموع والتجريد والمقنع وأبو علي السنجي والبغوي وقد يستدل له بحديث ابن عباس السابق ولكنه ضعيف 
 
“Pasal tentang waktu shalat istisqa. Sebuah cabang permasalahan. Dalam waktu shalat Istisqa terdapat tiga pendapat. Pertama, waktunya seperti shalat hari raya, ini adalah yang dikatakan Syekh Abu Hamid al-Isfirayini dan sahabatnya, Imam al-Mahamili dalam tiga kitabnya yaitu al-Majmual-Tajrid, dan al-Muqni’, demikian pula Abu Ali al-Sinji dan al-Baghawi. Pendapat ini memakai dalil haditsnya Ibnu Abbas yang telah lalu, namun status haditsnya lemah.”
 
(والوجه الثاني) اول وقتها أول وقت صلاة العيد ويمتد إلى أن يصلي العصر وهو الذي ذكره البندنيجي والروياني وآخرون
 
“Pendapat kedua, awal waktunya adalah seperti awal waktu shalat hari raya, dan terus berlangsung sampai shalat Ashar. Ini adalah pendapat yang dituturkan Syekh al-Bandaniji, al-Rauyani, dan ulama-ulama lain.” 
 
والثالث وهو الصحيح بل الصواب أنها لا تختص بوقت بل تجوز وتصح في كل وقت من ليل ونهار إلا أوقات الكراهة على أحد الوجهين وهذا هو المنصوص للشافعي وبه قطع الجمهور وصححه المحققون 
 
“Pendapat ketiga, yaitu pendapat yang shahih bahkan pendapat yang benar, bahwa shalat Istisqa tidak terkhusus pada satu waktu, bahkan boleh dan sah di setiap waktu, malam dan siang kecuali waktu-waktu yang dimakruhkan menurut salah satu dua wajah. Ini adalah pendapat yang ditegaskan Imam al-Syafi’i, dipastikan oleh mayoritas ulama dan disahihkan oleh para ulama muhaqqiqin.” (Syekh Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz.6, hal.107 dan 108, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah-Bairut).
 
Simpulannya, melaksanakan shalat Istisqa di malam hari adalah diperbolehkan menurut pendapat shahih dalam mazhab Syafi’i. Meski ada pendapat lain yang melarangnya, namun hendaknya tidak perlu diingkari, karena tergolong masalah yang diperselisihkan di kalangan ulama, terlebih pendapat yang membolehkan adalah pendapat yang kuat di kalangan ulama Syafi’iyyah. Mari bersama-sama berdoa agar negeri kita segera diberi hujan dan hindari perdebatan receh yang semakin menjauhkan kita rahmat-Nya.
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat
 
Share:

Baca Juga

Rabu 21 Agustus 2019 17:0 WIB
Shalat Istikharah, Apakah Jawabannya lewat Mimpi?
Shalat Istikharah, Apakah Jawabannya lewat Mimpi?
Shalat istikharah merupakan salah satu cara memohon petunjuk atas pilihan terbaik. (Ilustrasi: rojasa.net)
Shalat istikharah sejak awal dianjurkan bagi seseorang yang merasa bimbang dalam menentukan keputusan terbaik antara dua pilihan atau lebih. Sehingga, kesunnahan shalat istikharah ini tidak berlaku bagi orang yang hatinya sudah mantap dalam menentukan sebuah keputusan. Begitu juga bagi orang yang sudah memiliki kecondongan terhadap salah satu dari dua pilihan yang akan ia pilih. Sebab dalam keadaan demikian hal yang mesti ia lakukan adalah melakukan apa yang sesuai dengan kemantapan atau kecondongan isi hatinya. 
 
Tata cara shalat istikharah sebelumnya sudah pernah dibahas dalam artikel Tata Cara dan Doa Shalat Istikharah. Secara singkat, istikharah bermakna memohon petunjuk atas pilihan terbaik. Banyak masyarakat yang memahami bahwa petunjuk atau jawaban dari permohonan tersebut adalah lewat perantara mimpi. Benarkah mesti demikian?
 
Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam himpunan fatwanya, Masyurat Ijtima’iyyat pernah ditanya persoalan yang sama:
 
هل يوجد نص شرعي حول تعلق الاستخارة بالرؤية؟ 
لا علاقة لصلاة الاستخارة برؤية المنامات . بل هي مجرد صلاة ثم دعاء مأثور عن رسول الله . وليتابع بعد ذلك العمل على مشروعه الذي استخار الله له. فإن كان خيرا يسر الله له بلوغه، وإن لم يكن خيرا صرفه الله عنه .
 
“Apakah ditemukan dalil syara’ tentang hubungan shalat istikharah dengan mimpi pada saat tidur?
 
Tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi saat tidur, bahkan shalat istikharah itu hanya sebatas melaksanakan shalat lalu berdoa dengan doa yang disarikan dari Rasulullah. Lalu iringilah dengan melakukan perbuatan yang diistikharahi. Jika perbuatan itu baik, maka Allah akan mudahkan, dan jika buruk maka Allah akan memalingkan seseorang dari perbuatan tersebut” (Syekh Said Ramadhan al-Buthi, Masyurat Ijtima’iyyat, hal. 158)
 
Berpijak pada referensi di atas, beliau berpandangan bahwa tidak ada keterkaitan sama sekali antara mimpi yang dialami oleh seseorang dengan shalat istikharah yang telah dilakukan olehnya. 
 
Dalam fatwanya yang lain, beliau menegaskan bahwa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang setelah melaksanakan shalat istikharah adalah bergegas melaksanakan hal yang ia istikharahi. Jika ternyata diberi kemudahan maka hal tersebut merupakan sesuatu yang baik baginya. Sebaliknya, jika saat hendak melakukan hal yang ia istikharahi, ia mengalami hambatan dan kesulitan maka hal tersebut tidak baik untuknya. Berikut redaksi fatwa beliau dalam referensi yang sama:
 
كيف أستطيع التوفيق بين الحديث (إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه) وبين ما أشعر به من عدم الارتياح بعد
صلاة الاستخارة؟
ثمرة صلاة الاستخارة لا تتمثل في الانشراح أو عدم الانشراح ولا في رؤية منام. وإنما المطلوب من صاحب المشروع بعد صلاة
الاستخارة أن يمضي في مشروعه ويمارس أسبابه، فإن كان خيرا يسره الله له ، وإن كان شرا استغلقت عليه السبل وتعقد الأمر
 
“Bagaimana agar aku dapat menyelaraskan antara hadits ‘Ketika datang pada kalian orang yang kalian ridhai agama dan budi pekertinya, maka nikahilah dia’ dan perasaan tak lega (tidak puas) setelah melaksanakan shalat istikharah?
 
Buah dari shalat istikharah bukanlah berupa lega atau tidaknya hati, juga tidak pada mimpi saat tidur. Hal yang dituntut dari seseorang setelah melaksanakan shalat istikharah adalah melanjutkan apa yang biasa dilakukannya dan melaksanakan sebab-sebab terjadinya hal yang ia istikharahi. Jika ternyata baik, maka Allah akan memudahkannya, dan jika buruk maka Allah akan mengunci jalannya dan akan mengikat hal tersebut (agar tidak terjadi)” (Syekh Said Ramadhan al-Buthi, Masyurat Ijtima’iyyat, hal. 159).
 
Pandangan tentang tidak adanya keterkaitan antara mimpi yang dialami oleh seseorang dengan shalat istikharah, juga disampaikan oleh salah satu ulama kenamaan mesir, Syekh Mutawali as-Sya’rawi dalam salah satu fatwa beliau:
 
وهل ما يراه الإنسان في منامه بعد الاستخارة يدل على القبول أو الرفض؟
ويجيب فضيلة الشيخ الشعراوي :إن الرؤيا في المنام لیست واردة في الاستخارة ، ولكن ما نراه في المنام يأتي من شغل البال بالموضوع . إنما الاستخارة الشرعية التي علمنا إياها النبي  هي : أن نصلي ركعتين ، ثم نسأل الله بالدعاء المعروف  - ثم ما ينشرح له صدرك بعد ذلك فهو ما يريده الله لك .
 
“Apakah mimpi yang dialami oleh seseorang setelah shalat istikharah menunjukkan diterimanya hal yang ia istikharahi (di sisi Allah) atau tertolaknya hal tersebut?
 
Syekh as-Sya’rawi menjawab, ‘Mimpi pada saat tidur tidaklah berlaku pada shalat istikharah, tetapi mimpi tersebut bermula dari isi hatinya terhadap suatu subjek tertentu. Istikharah secara syara’ hanya tertentu pada hal yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, yakni shalat dua rakaat lalu memohon pada Allah dengan doa yang sudah dijelaskan (dalam hadits), lalu apa yang tercerahkan (merasa lega) dalam hatimu setelah melaksanakan shalat dan doa istikharah, maka itulah hal yang dikehendaki oleh Allah padamu” (Syekh Mutawali as-Sya’rawi, al-Fatawa as-Sya’rawi, hal. 702).
 
Dua referensi di atas sekaligus menegaskan perbedaan pendapat tentang jawaban dari pertanyaan “apakah kelegaan hati setelah shalat istikharah merupakan pertanda jawaban baik atas hal yang semula kita bimbangkan?”
 
Pandangan Syekh Mutawali as-Sya’rawi tersebut senada dengan pendapat an-Nawawi, bahwa kelegaan hati yang dialami oleh seseorang merupakan pertanda baik dan jawaban atas shalat istikharah yang dilakukan seseorang. Sedangkan pendapat Syekh Said Ramadhan bahwa jawaban dari shalat istikharah tidak ditentukan dari kelegaan hati (insyirah ash-shadri) melainkan dari sulit dan mudahnya seseorang tatkala melakukan hal yang ia istikharahi, sesuai dengan pendapat Ibnu Qayyim al-Jauzi yang disampaikan dalam kitab Zad al-Ma’ad dan Madarij as-Salikin (lihat: Abu al-Hasan Ubaidillah al-Mubarakfuri, Mir’ah al-Mafatih, juz 4, hal. 364-365).
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jawaban dari shalat istikharah tidak selamanya dari mimpi. Sebab, seringkali mimpi yang dialami oleh seseorang lebih dikarenakan kondisi emosional atau pikiran-pikiran yang sering terlintas dalam benaknya, yang sebenarnya tidak berkaitan dengan petunjuk Allah atas shalat istikharah yang ia lakukan.
 
Perbedaan pandangan tentang jawaban dari shalat istikharah seperti yang dijelaskan di atas, sejatinya merupakan pandangan para ulama yang berdasarkan dalil serta pengalaman spiritual mereka. Masing-masing dapat dijadikan pijakan oleh orang awam yang belum bisa membedakan antara petunjuk Tuhan atas jawaban dari persoalan yang sedang dialaminya dan khayalan pribadinya belaka. Berbeda halnya dengan mimpi-mimpi serta petunjuk (irsyadat) yang dialami orang-orang khas, seperti kaum sufi dan para ulama al-‘amilin yang memiliki ketajaman batin dan pengalaman spiritual mendalam. Wallahu a’lam
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember.
 
Sabtu 6 Juli 2019 22:15 WIB
Pengguna Kursi Roda Dilarang Masuk Masjid?
Pengguna Kursi Roda Dilarang Masuk Masjid?
Ilustrasi (news.de)
Di Indonesia sebagian dari kita tentu pernah mendengar atau membaca berita tentang penyandang disabilitas pengguna kursi roda yang ditolak masuk masjid atau dilarang menaiki karpet shalat di dalamnya. Peristiwa ini sudah beredar di sejumlah media. Kasusnya pun tidak hanya sekali. 

Sebagian pengurus ta'mir masjid berdalih bahwa kursi roda yang dibawa bisa saja membawa najis dari luar. Demi menjaga kesucian lantai atau karpet masjid, penyandang disabilitas pun terpaksa ditahan di luar atau dipersilakan masuk dengan catatan: tanpa membawa kursi roda, atau kursi roda tak boleh menyentuh karpet.

Peristiwa ini pun memancing kontroversi. Pergunjingan di masyarakat menyentuh isu diskriminasi layanan terhadap kelompok berkebutuhan khusus. Pengurus masjid dianggap tidak empatik. Masjid yang seharusnya milik umat bersama terkesan tidak ramah kepada penyandang disabilitas.

Bagaimana sebenarnya hukum Islam mencermati problem ini? 

Mencermati gejala di atas, setidaknya ada dua isu pokok yang mesti dijelaskan. Pertama, perihal diskriminasi--bagaimana Islam menempatkan kaum difabel atau penyandang disabilitas? Kedua, ihwal status kesucian kursi roda--bagaimana sebaiknya kita menghukumi sesuatu yang belum jelas suci atau najisnya?

Kaum Difabel di Mata Islam

Tentang persoalan pertama, Musyawarah Nasional Alim Ulama NU yang digelar pada 2017 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sudah memberi penjelasan yang cukup gamblang.

Dalam literatur fiqih terdapat beberapa istilah yang mengarah kepada penyandang disabilitas atau difabel. Seperti syalal (kelumpuhan) yaitu kerusakan atau ketidakberfungsian organ tubuh, al-a’ma (orang buta), al-a’raj (orang pincang), dan al-aqtha’ (orang buntung). 

Islam tak memandang penyandang disabilitas itu secara negatif. Islam memandang hal itu sebagai ujian. Pertama, ujian bagi yang penyandang disabilitas, apakah yang bersangkutan bisa sabar atau tidak. Kedua, juga ujian bagi pihak lain, apakah mereka memiliki kepedulian pada penyandang disabilitas atau tidak.

Bahkan, dalam perspektif Islam, orang-orang dengan sejumlah keterbatasan itu dinilai sebagai sumber kekuatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 ابَغُوْنِي الضُّعَفَاءَ ، فإنما تُرْزَقُوْنَ وَ تُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ 

“Carilah untuk-ku orang-orang yang lemah di antara kalian. Karena kalian diberi rezeki dan kemenangan karena membantu orang-orang yang lemah di antara kalian," (HR. Abu Dawud).

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ

“Kalian diberi kemenangan dan rezeki karena membantu orang-orang yang lemah di antara kalian," (HR. Bukhari).

Terlebih mereka menyandang disabilitas bukan atas kehendaknya melainkan sebagai karunia Allah. Karena itu, dalam perspektif Islam, menghargai penyandang disabilitas adalah menghargai ciptaan Allah. Mereka punya hak untuk dihormati, dihargai. Artinya, seperti manusia lain, penyandang disabilitas juga memiliki karamah insaniyah (martabat kemanusiaan). Allah berfirman dalam Al-Qur’an (walaqad karramnâ banî  âdam).

Penyandang disabilitas harus bebas dari tindakan tak manusiawi. Dalam UU No. 19 tahun 2011 disebutkan bahwa setiap penyandang disabilitas harus bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan martabat manusia, bebas dari eksploitasi, kekerasan dan perlakuan semena-mena, serta memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisiknya berdasarkan kesamaan dengan orang lain. Termasuk di dalamnya hak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan sosial dalam rangka kemandirian, serta dalam keadaan darurat.

Soal Najis Kursi Roda

Bukankah kursi roda yang dibawa ke mana-mana itu potensial membawa najis? Yang patut dicatat dari pertanyaan ini adalah kata "potensial" alias mungkin. Artinya, status najis baru berada di level dugaan: bisa benar-benar najis, bisa juga tidak. Ada kaidah fiqih yang penting disimak:

الْأَصْلُ الْعَدَمُ

"Hukum asal (sesuatu) adalah dianggap tidak ada." 

Poin pokok dari kaidah ini adalah: status apa pun belum bisa disematkan kepada sesuatu, selama belum ada bukti meyakinkan tentang keberadaan status itu. Keraguan atau kesimpangsiuran yang masih terjadi membuat status baru belum sah diberikan, dan mesti dikembalikan status asalnya. Misalnya, seseorang memilik air suci dalam sebuah bak kamar mandi, tapi keesokan harinya ia ragu apakah suci atau najis, maka hukum air dikembalikan pada status suci karena hukum asal air adalah suci.

Kaidah fiqih lain yang senapas dengan kaidah tersebut adalah:

الْيَقِينُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

"Fakta (hal yang sudah diyakini terjadi) tak bisa dihilangkan sebab praduga."

Dalam kasus kursi roda, kita tak bisa memvonis kursi roda itu membawa najis hanya berdasarkan praduga, tanpa melihat benar-benar ada najis di sana. Sepanjang bukti itu masih simpangsiur atau meragukan, status hukum dikembalikan pada hukum asal, yakni suci. Apalagi bila pengguna kursi roda diketahui sebagai pribadi yang menjaga kebersihan dan tak biasa melintasi jalan yang sarat kotoran dan benda najis lainnya.

Bagaimana bila roda-roda itu memang terkena lumpur di jalan? Atau jelas-jelas terkena genangan air hasil luapan dari got (yang diyakini najis)?

Hujjatul Islam AbuHamid al-Ghazali menjelaskan:

  يُعْذَرُ مِنْ طِيْنِ الشَّوَارِعِ فِيْمَا يَتَعَذَّرُ الإِحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِبًا

"Percikan lumpur di jalan karena normalnya memang sulit menghindarkan diri dari kondisi itu adalah ditoleransi," (Imam al-Ghazali, al-Wajîz fî Fiqh Madzhabil Imâm asy-Syâfi'î, hal. 62).

Bahkan, Imam Ar-Rafi’i dalam kitab Al-Aziz Syarhul Wajiz menyatakan, seandainya percikan tersebut diyakini najis pun tetap masih ma'fû (dimaafkan) selama hanya sedikit. Pandangan ini menunjukkan bahwa Islam memang menghendaki kemudahan. Hal-hal yang dirasa merepotkan dalam hal ibadah ditoleransi--tanpa meremehkan sama sekali keutamaan menjaga kesucian.

Alhasil, sikap bijak ketika mendapati penyandang disabilitas pengguna kursi roda adalah memberi kelonggaran kepada mereka dari ketatnya aturan yang bisa menyulitkan kondisi fisiknya. Karena Islam sendiri memberikan toleransi atas keterbatasan-keterbatasan yang tidak disengaja. Kita tidak mungkin memperlakukan pengguna kursi roda layaknya orang kebanyakan. Meminta mereka untuk berpindah kursi, turun ke karpet shalat, atau membatasi langkah mereka masuk ruangan, bisa jadi bukan hanya merepotkan tapi juga menimbulkan perasaan terhina.

Lebih bagus lagi bila pengurus masjid setempat menyediakan fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas sehingga akses layanan untuk beribadah secara maksimal dapat terpenuhi, misalnya penanda khusus, area khusus, tangga khusus, atau tempat wudhu khusus yang disediakan untuk mereka yang memang berkebutuhan khusus. Masjid yang ramah bagi kaum difabel penting diwujudkan karena hak atas fasilitas masjid bukan monopoli kelompok tertentu saja.

Bagi pengguna kursi roda pun demikian. Seyogianya mereka tetap menjaga kebersihan diri dan perangkat yang dibawanya, mengambil posisi yang sekiranya tak mengganggu orang lain, dan sikap bijak lainnya. Yang demikian akan lebih mempertegas kelayakan atas hak-hak mereka untuk memperoleh layanan berbeda.

Allah menciptakan manusia secara beragam dan unik, baik secara sosial maupun fisik. Semua tercipta dengan sengaja atas rahmat-Nya yang mahaluas. Keunikan-keunikan tersebut bukan untuk mempertajam perselisihan, melainkan membuka terwujudnya sikap saling menunjang, saling melengkapi, dan saling membantu satu sama lain. Wallahu a'lam. (Mahbib Khoiron)

Ahad 30 Juni 2019 22:30 WIB
Shalat Khusyu dengan Menghadirkan Niat dalam Hati dan secara Lisan
Shalat Khusyu dengan Menghadirkan Niat dalam Hati dan secara Lisan
ilustrasi: @wikipedia

Niat bagaikan pintu gerbang yang memisahkan antara dua ruang yang berbeda. Ruang profan keduniawian yang hina dengan ruangan sakral di mana seorang hamba akan berkomunikasi dengan-Nya. Karena itu ketika hati telah berniat, maka pintu itu telah terbuka dan berarti kaki sudah menginjak ke ruang sakral. <>Teguhkanlah hati ucapkanlah selamat tinggal kepada dunia yang penuh dengan berbagai urusan yang sepele. Karena urusan yang ada di depan jauh lebih penting dari segala-galanya.

Hadirkanlah niat di dalam hati bersamaan dengan lisan yang mengucapkan takbir. Karena sesungguhnya niat itu adalah menyengaja melakukan sesuatu bersamaan dengan pekerjaannya dalam hal ini adalah takbiratul ihram ‘Allahu Akbar’. Panjang kata Allah dalam ‘Allahu Akbar’ menurut Imam Ali Syibromalisi hanya dibatasi maksimal ukuran tujuh alif tidak boleh lebih. Diharapkan dengan panjang tujuh alif ini dapat memuat segala unsur niat yang adalah dalam hati.

Adapun hal yang harus termuat dalam hati ketika berniat adalah kejelasan sifat shalatnya. Fardhu atau sunnah, Dhuhur atau Ashar, dan seterusnya. Oleh karena itulah niat shalat fardhu  minimal berbunyi ushalli fardha dhuhri  (aku niat shalat Dhuhur) adapun keterangan tambahan arba’a raka’tin, mustaqbilal qiblati, ada’an, lillahi ta’ala (empat raka’at, menghadap kiblat, sekarang juga –tidak qadha’-, karena Allah) adalah sunnah hukumnya. Demikian keterangan dalam Fathul Muin.

Selain mengucap takbir di lisan dan niat dalam hati juga harus dibarengi dengan mengangkat tangan dan meletakkannya di bawah dada di atas pusat, dengan tangan kanan di atas tangan kiri. Sebagaimana kemuliaan tangan kanan dai pada tangan kiri. Sebaiknya tangan itu diangkat dengan tidak lertalu tinggi, sekira jari jempol sepadan dengan telinga. Dan diangkat dengan tidak terlalu keras demikian juga ketika menurunkannya.

Syaikh Nawawi dalam NIhayatuz Zain, menerangkan bahwa pengangkatan ini sebagai isyarat membuka hijab antara seorang hamba dan Allah swt. sehingga antara keduanya tidak ada lagi penghalang.

والحكمة فى هذا الرفع الإشارة إلى رفع الحجاب بين العبد وربه. وقال الشافعي وحكمته إعظام جلال الله تعالى ورجاء ثوابه

Hikmah di dalam pengangkatan tangan (ketika takbir) adalah isyarat membukakan tabir antara seorang hamba dan Allah swt. Imam Syafi’I berkata bahwa hikamah mengangkat tangan adalah pengakuan seorang hamba akan keagungan-Nya dan mengharap pahala dari-Nya.        

Dengan kata lain, niat sebagai pintu gerbang memasuki alam sakral harus disertai dengan mengangkat tangan sambil menyeru takbir sebagai pembuka hijab.  Hal seolah menjadi syarat akan penyamaan frekuensi antar seorang hamba dengan Allah swt. karena sebuah komunikasi akan terjalin jika dalam frekuensi yang sama  (Red. Ulil H).


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 21 Mei 2014 pukul 06:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.