IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Hukum Menaruh Mushaf di Lantai

Jumat 27 September 2019 11:0 WIB
Share:
Hukum Menaruh Mushaf di Lantai
Rasulullah pernah meneladankan bagaimana menghormati kitab Taurat.
Mushaf Al-Qur’an merupakan satu hal yang sangat istimewa. Secara hukum asal, kertas tidak mempunyai nilai sakralitas sama sekali. Begitu pula tinta. Goresan-goresan tinta di mana pun berada, tidak punya nilai kehormatan tertentu. Namun, kondisi biasa-biasa saja itu secara otomatis “naik kelas” ketika kertas dan goresan itu berkaitan langsung dengan tulisan Arab yang memuat nama-nama Allah yang diagungkan atau Al-Qur’an.
 
Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ menegaskan, ulama telah sepakat bahwa hukum menjaga dan menghormati mushaf Al-Qur’an adalah wajib. Bahkan kalau ada orang yang sampai berani dengan sengaja membuang mushaf di tempat yang kotor, bisa menjadi kafir karena ia telah menghina Al-Qur’an:
 
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى وُجُوبِ صِيَانَةِ الْمُصْحَفِ وَاحْتِرَامِهِ فَلَوْ أَلْقَاهُ وَالْعِيَاذُ بِاَللَّهِ فِي قَاذُورَةٍ كَفَرَ
 
Artinya: “Ulama telah sepakat atas kewajiban menjaga mushaf dan memuliakannya. Apabila ada orang yang dengan sengaja membuang Al-Qur’an di tempat kotor, ia menjadi kafir, naudzu billah” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, [Darul Fikr], juz 2, hal. 71).
 
Apabila menghormati mushaf merupakan sebuah kewajiban, maka bagaimana hukumnya meletakkan mushaf di lantai bawah secara langsung tanpa meninggikan tempat sedikit pun? 
 
Syekh Sulaiman al-Bujairami menyatakan bahwa menaruh mushaf di lantai langsung hukumnya haram. Yang tepat, menurut beliau Al-Qur’an yang mulia seharusnya diletakkan di tempat yang menurut pandangan khalayak disebut sebagai tinggi walaupun ketinggiannya cukup sedikit dari tanah.
 
وَيَحْرُمُ وَضْعُ الْمُصْحَفِ عَلَى الْأَرْضِ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ رَفْعِهِ عُرْفًا وَلَوْ قَلِيلًا اهـ. 
 
Artinya: “Dan haram meletakkan mushaf di atas bumi, bahkan wajib mengangkatnya di tempat yang tinggi menurut khalayak walaupun sedikit” (Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami, [Darul Fikr: 1995], juz 1, hal. 376)
 
Rasulullah pernah memberikan contoh tentang bagaimana selayaknya menghormati kitab suci sebagaimana hadits yang pernah diceritakan oleh Ibnu Umar berikut: 
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: أَتَى نَفَرٌ مِنْ يَهُودٍ، فَدَعَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْقُفِّ، فَأَتَاهُمْ فِي بَيْتِ الْمِدْرَاسِ، فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ: إِنَّ رَجُلًا مِنَّا زَنَى بِامْرَأَةٍ، فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ، فَوَضَعُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِسَادَةً فَجَلَسَ عَلَيْهَا، ثُمَّ قَالَ: «بِالتَّوْرَاةِ»، فَأُتِيَ بِهَا، فَنَزَعَ الْوِسَادَةَ مِنْ تَحْتِهِ، فَوَضَعَ التَّوْرَاةَ عَلَيْهَا، ثُمَّ قَالَ: «آمَنْتُ بِكِ وَبِمَنْ أَنْزَلَكِ» ثُمَّ قَالَ: «ائْتُونِي بِأَعْلَمِكُمْ»، فَأُتِيَ بِفَتًى شَابٍّ، ثُمَّ ذَكَرَ قِصَّةَ الرَّجْمِ، نَحْوَ حَدِيثِ مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ
 
Artinya: Sekelompok orang Yahudi sowan kepada Nabi. Mereka mengundang Nabi untuk ke daerah Quf (satu daerah di Madinah). Kemudian Nabi mendatangi mereka di Baitul Midras (tempat yang digunakan orang Yahudi untuk mengkaji kitab Taurat). 
 
Mereka kemudian mengadu kepada Nabi. ‘Hai ayahnya Qasim. Sesungguhnya seorang laki-laki di antara kami ada yang berzina dengan wanita. Jelaskan tentang hukumnya kepada mereka. 
 
Orang-orang yahudi ini kemudian meletakkan kasur kecil (sejenis bantal duduk) untuk Rasulullah ﷺ. Nabi pun lalu duduk di situ. Nabi berkata ‘Ambilkan aku Taurat!’ Taurat pun diserahkan kepada Nabi. 
 
Nabi melepaskan kasur duduk yang berada di bawahnya. Beliau ganti dengan meletakkan taurat di atas kasur tersebut. Lalu Nabi mengatakan kepada Taurat itu dengan pernyataan ‘Aku iman kepadamu dan iman kepada Tuhan yang menurunkanmu.’ 
 
Nabi meminta ‘Tolong datangkan kepadaku orang yang paling mengerti (tentang Taurat) di antara kalian. Nabi ﷺ didatangkan seorang pemuda. Ia membaca taurat tersebut dengan mengisahkan tentang rajam” (HR Abu Dawud).
 
Dengan demikian, apabila Nabi Muhammad ﷺ yang sebagai manusia terpilih saja selalu menghormati kitab suci Taurat, apalagi kita sebagai umat Nabi Muhammad kepada kitab-kitab kita sendiri, Al-Qur’an, sudah seharusnya kita menghormatinya. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang
 
Share:

Baca Juga

Senin 23 September 2019 20:0 WIB
Al-Qur’an Memilih Genrenya Sendiri
Al-Qur’an Memilih Genrenya Sendiri
Kadang dalam satu surat, kita menemukan kisah, tapi ia bukan cerpen apalagi novel.
Al-Qur’an hadir ke muka bumi tidak mengikuti jenis susastra mana pun. Ia bukanlah puisi, bukan khitabah (pidato, red), tidak pula menyerupai pepatah Arab (mastal), atau kata-kata hikmah, sebagaimana yang biasa dicipta oleh orang-orang Arab jahiliyah.
 
Sastra Arab pada masa jahiliyah sangat populer dengan bentuk puisi (syi'ir/qashidah). Ia sudah menjadi daging dan darah bagi mereka; dirayakan kemengannya, disanjung penyairnya, bahkan dianggap setengah tuhan. Mereka juga mengenal bentuk prosa, khutbah, washiyah, hikmah, mastalmunafarahmufakharahsaj kuhhanusthurah, dan qisshah, juga qashidah ghanaiyyah.
 
Nastar (prosa) tidak banyak diperbincangkan oleh orang Arab jahiliyah, tidak pula ada perayaan besar, bahkan tidak terlalu populer di kalangan mereka. Jenisnya pun tidak banyak diperhatikan, mungkin hanya sebagian kecil dari orang Arab yang mengenalnya. Mereka yang mumpuni pun tidak punya kedudukan, tidak pula disanjung seperti para penyair.
 
Puisi lirik (al-syi'ru al-ghinai) paling populer pada masa Jahiliyah, atau dikenal dengan al-syi'ru al-wijnadi, menurut Hafidh Ibrahim, masa jahiliyah adalah masa keemasan jenis puisi ini, sudah sampai puncaknya, dicatat dalam sejarah mereka, digantung di Ka'bah dan diberi penghargaan bagi pemenangnya, dinyanyikan dalam setiap pesta, didendangkan di tempat-tempat perjudian, dikobarkan dalam peperangan, dibincangkan di pasar-pasar. Dan puisi Muallaqat (digantung di Ka’bah) dibuat sebagai dasar, rujukan, ushul dari bahasa Arab, kaidah-kaidahnya merujuk padanya. Dan di masa inilah Al-Qur’an itu hadir.
 
Apakah Al-Qur’an menyerupai al-syi'ru al-ghinai, atau prosa yang menyebar di kalangan mereka? Mari kita lihat sepintas.
 
Al-Qur’an hadir dengan bentuk yang berbeda, bukan berbentuk bait-bait, dan pula tidak berbentuk prosa khutbah, atau hikmah. Ia hadir dalam bentuk berbeda dengan nama berbeda pula "Al-Fur'qan", dengan ayat-ayatnya dan surat-suratnya.
 
● Surat al-Isra: 106
 
وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ
 
● Surat al-Furqan: 1
 
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً
 
● Surat al-Hijr: 1
 
الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ 
 
● Surat an-Nur: 1
 
سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا
 
Nama berbeda, bukan syi'r bukan pula nasr, tapi Al-Qur’an, Al-Furqan, dengan ayat-ayat dan surat-suratnya. Ia tidak dikenal di kalangan Arab Jahiliyah, bukan yang seperti mereka dendangkan, dan bahkan terkaget-kaget ketika ada beberapa surat yang dibuka dengan huruf-huruf langka seperti "Nûn", "Yâ Sîn", "Alif Lâm Mîm", "Qâf". Buat mereka ini aneh karena di luar tradisi puisi, bukan pula prosa yang mereka kenal.
 
Nada dan langgamnya tidak seperti puisi, melainkan memiliki polanya sendiri, seperti:
 
وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا، وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا، وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا، فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا، فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا، 
 
Tiba-tiba dalam satu surat berubah 
 
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ
 
Kadang dalam satu surat, kita menemukan kisah, tapi ia bukan cerpen apalagi novel. Ada pola yang unik, dengan imaji yang tinggi, juga tidak sepi dari majas, personifikasi, metafora, hiperbola, tamsil, simile, alegori, atau eufinisme. Tiba-tiba ada kata perintah, peringatan, kabar gembira, siksa, hukum dan seterusnya. Di satu waktu mengobarkan semangat, tapi tiba-tiba sedih, tiba-tiba gembira, ada harapan, ada ancaman, pengkhianatan, kemunafikan, dosa, dan dusta. Ada sisipan kisah orang-orang terdahulu, keghaiban, surga dengan keindahannya, neraka dengan kengeriannya. Gaya Ini tidak ditemukan pada karya sastra sebelumnya (masa jahiliyah).
 
Belum lagi bagaimana ia membuka suratnya (fawatih) atau menutupnya (khawatim) dengan indah, dari segi pilihan diksinya, dengan bahasa yang kadang belum dikenal sebelumnya, akurasi pencitraan: transendensi ekspresi (sumuu ta'bir) dan ungkapannya yang kuat (udmah ta'bir), singkat padat (ijaz), dan pengulangan yang tidak biasa (balaghah al-tikrar).
 
Demikian pula, Al-Qur’an menggunakan nama yang asing dalam setiap suratnya: sapi (al-Baqarah) , guntur (al-Ra'd), meja makan (al-Maidah), gua (al-Kahf), Muhammad, cahaya (al-Nur), dan lain-lain, dan banyak kisah dalam setiap suratnya, ada pula yang mirip tapi berbeda, menggunakan diksi yang berbeda pula.
 
Membicarakan Al-Qur’an tidak akan pernah selesai. Tafsir selalu bertandang. Setiap zaman punya kekhasan. Ia benar-benar mutiara. Innâ anzalnâhu qur'ânan ‘arabiyyan la‘allakum ta‘qilûn.
 
 
Halimi Zuhdy, Dosen Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Wakil Ketua RMI PCNU Kota Malang
 
 
Refrensi:
Al-Qur’an
Tarikh al-Adab al-Islami
al-'Asr al-Jahiliyah
Al-Maqalat al-Islamiyah
al-Wa'u al-Islami al-Adad 365
 
 
Rabu 11 September 2019 22:0 WIB
Hukum Menerima Upah dari Membaca Al-Qur’an
Hukum Menerima Upah dari Membaca Al-Qur’an
Dibutuhkan kehati-hatian untuk menerima uang dari "profesi" membaca Al-Qur'an agar pendapatan tetap berkah. (Ilustrasi: NU Online)
Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalil-dalil yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an tidak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah hadits berikut ini:
 
أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
 
“Ibadah yang paling utama bagi umatku adalah membaca Al-Qur’an” (HR Baihaqi)
 
Tidak sedikit dari masyarakat Muslim yang menjadikan keahliannya dalam membaca Al-Qur’an sebagai mata pencaharian. Misalnya dengan cara mengajarkan Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an pada momen-momen tertentu, seperti pada sebuah acara seremonial di beberapa hari besar Islam. Sebenarnya bolehkah bagi mereka mengambil upah atas jasa membaca Al-Qur’an atau mengajarkan Al-Qur’an yang telah mereka lakukan?
 
Dalam beberapa hadits telah dijelaskan beberapa kejadian yang dialami oleh para sahabat dalam menyikapi hal di atas, misalnya seperti yang tercantum dalam hadits shahih berikut:
 
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ، فَقَالُوا: هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ؟ فَقَالُوا: إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا، وَلاَ نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنَ الشَّاءِ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ فَأَتَوْا بِالشَّاءِ، فَقَالُوا: لاَ نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ: «وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ، خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ
 
Diriwayatkan dari Sahabat Abi Said Al-Khudri Radliyallahu ‘Anhu bahwa sekelompok sahabat mendatangi suatu kabilah dari beberapa kabilah Arab, namun mereka tidak mempersilakan masuk terhadap para sahabat. Hal itu terus berlangsung, sampai suatu ketika pemuka kabilah tersebut digigit (ular), lalu mereka berkata ‘Apakah kalian membawa obat atau adakah orang yang bisa meruqyah?’ Para sahabat pun menjawab ‘Kalian tidak mempersilakan masuk pada kami, kami tidak akan meruqyahnya (mengobatinya) sampai kalian memberikan upah pada kami.’ lalu mereka pun memberikan beberapa potongan kambing sebagai upah, lalu seorang sahabat membaca Surat Al-Fatihah, dan mengumpulkan air liurnya lalu mengeluarkannya (baca: melepeh) hingga sembuhlah pemuka kabilah yang tergigit ular, dan mereka memberikan kambing. Para sahabat berkata, ‘Kami tidak akan mengambilnya, sampai kami bertanya pada Rasulullah.’ Mereka pun menanyakan perihal kejadian tersebut pada Rasulullah, beliau lalu tertawa dan berkata: ‘Apa itu Ruqyah? Ambillah, dan berilah bagian untukku’.” (HR Bukhari)
 
Dalam beberapa redaksi hadits yang lain, Rasulullah melanjutkan perkataannya kepada para sahabat:
 
إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ
 
“Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah (membaca) kitab Allah” (HR Bukhari).
 
Menanggapi hadits di atas, salah satu pemuka ulama Mesir, Syekh Abdullah bin Shidiq al-Ghumari menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah atas bolehnya mengambil upah atas bacaan Al-Qur’an, beliau menjelaskan dalam himpunan fatwanya:
 
فمن هذا الحديث الصحيح يستفاد أن أخذ الأجرة على القرآن جائزة لأن النبی أقر الصحابة على أخذ الغنم في مقابل الرقية بفاتحة الكتاب وأخذ نصيبه معهم، و عمم الحكم فقال: "إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله". وهذا أقوى ما يكون في إفادة العموم. وأما حديث: "اقرأوا القرآن ولا تجفوا عنه ولا تغلوا فيه ولا تأكلوا به" فهو حديث ضعيف في إسناده انقطاع، وعلى فروض صحته فالحديث الذي ذكرناه أصح وأقوى، لأنه ثبت في الصحيحين وهذا الحديث في "مسند أحمد"، والمسند لا يختص بالصحيح بل فيه الضعيف كما هو معلوم.
 
“Berdasarkan hadits ini, dapat ditarik kepahaman bahwa mengambil upah atas membaca Al-Qur’an adalah hal yang diperbolehkan, sebab Nabi membiarkan sahabat untuk mengambil kambing sebagai ganti atas bacaan mantra berupa Surat Al-Fatihah dan beliau mengambil bagian (atas kambing tersebut) bersama mereka, lalu beliau mengglobalkan hukum dengan berkata: ‘Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah (membaca) kitab Allah’. Dalil ini merupakan paling kuat yang mengindikasikan pengglobalan hukum (boleh).
 
Sedangkan hadits “Bacalah Al-Qur’an, jangan menjadikannya kering, jangan menjadikannya mahal dan jangan (mencari) makan dengan Al-Qur’an” adalah hadits yang lemah, sanadnya terputus. Jika dikira-kirakan keshahhihan hadits tersebut, maka sesungguhnya hadits yang telah aku jelaskan di atas lebih shahih dan lebih kuat, sebab terdapat dalam dua kitab shahih (Bukhari Muslim), sedangkan hadits ini terdapat dalam kitab Musnad Ahmad, sedangkan kitab musnad tidak tertentu (mencantumkan) hadits shahih saja, tapi di dalamnya juga terdapat hadits yang lemah, seperti halnya keterangan yang telah diketahui” (Syekh Abdullah bin Shidiq al-Ghumari, al-Hawi fial-Fatawi al-Ghumari, hal. 36)
 
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kajian lintas mazhab, ulama mazhab Hanafi berpandangan berbeda. Mereka berpendapat bahwa mengambil dan memberi upah atas bacaan Al-Qur’an merupakan hal yang terlarang bahkan tergolong sebagai perbuatan yang mengakibatkan dosa. Berbeda halnya menurut mazhab yang lain yang notabene memperbolehkan hal di atas. Perbedaan pendapat ini secara sistematis disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:
 
وقد نص الحنفية على أنه لا يجوز قراءة القرآن بأجر ، وأنه لا يترتب على ذلك ثواب ، والآخذ والمعطي آثمان ، وأن ما يحدث في زماننا من قراءة القرآن بأجر عند المقابر وفي المآتم لا يجوز . والإجارة على مجرد القراءة باطلة ، وأن الأصل أن الإجارة على تعليمه غير جائزة لكن المتأخرين أجازوا الإجارة على تعليمه استحسانا. وكذا ما يتصل بإقامة الشعائر كالإمامة والأذان للحاجة .
 
وأجاز مالك والشافعي أخذ الأجر على قراءة القرآن وتعليمه . وهو رواية عن أحمد . وقال به أبو قلابة وأبو ثور وابن المنذر ، لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم زوج رجلا بما معه من القرآن وجعل ذلك يقوم مقام المهر ، فجاز أخذ الأجرة عليه في الإجارة
 
“Ulama Hanafiyah menegaskan bahwa tidak boleh membaca Al-Qur’an dengan adanya imbalan dan hal tersebut tidak mengakibatkan wujudnya pahala, orang yang mengambil dan memberi upah sama-sama terkena dosa. Realita yang terjadi pada masa kita berupa membaca Al-Qur’an di sisi kubur dan di tempat umum merupakan hal yang tidak diperbolehkan secara syara’. Akad ijarah (Menyewa jasa) atas bacaan Al-Qur’an merupakan hal yang batal dan hukum asal dari akad ijarah atas mengajar Al-Qur’an adalah tidak diperbolehkan.
Tetapi ulama muta’akhirin (kontemporer) memperbolehkan akad ijarah atas mengajar Al-Qur’an dengan dalil istihsan. Begitu juga pada hal-hal yang berhubungan dengan syiar agama, seperti menjadi imam dan muazin karena merupakan suatu kebutuhan.
 
Imam Malik dan Imam Syafi’i memperbolehkan mengambil upah atas bacaan Al-Qur’an dan mengajarkannya. Pendapat demikian juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Qalabah, Abu Tsur, dan Ibnu Mundzir, sebab Rasulullah pernah menikahkan seseorang dengan bacaan Al-Qur’an yang ia kuasai dan hal tersebut diposisikan sebagai mahar, maka diperbolehkan mengambil upah atas Al-Qur’an dalam akad Ijarah” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagama’an Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, juz 1, hal. 291)
 
Walhasil, tentang hukum mengambil upah dari bacaan Al-Qur’an, para ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama memperbolehkan, sedangkan menurut mazhab Hanafi tidak diperbolehkan. Perbedaan pendapat ini sekaligus mengakomodasi beberapa pandangan ulama yang tersebar di Nusantara yang sebagian kalangan memperbolehkannya dan sebagian lain mengharamkannya. 
 
Menyikapi hal demikian, sebaiknya kita selektif dalam memilih pendapat. Jika memang dalam keadaan mendesak, tidak masalah jika kita mengambil upah atas jasa bacaan Al-Qur’an yang telah kita lakukan dengan berpijak pada ulama yang memperbolehkan hal tersebut. Namun ketika dalam keadaan lapang dan kondisi ekonomi yang mapan, sebaiknya kita tidak mengambil upah atas Al-Qur’an yang kita baca atau kita ajarkan, terlebih ketika guru-guru kita melarang terhadap perbuatan tersebut. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember
 
Jumat 30 Agustus 2019 21:15 WIB
Berdosakah Melupakan Hafalan Al-Qur’an?
Berdosakah Melupakan Hafalan Al-Qur’an?
Butuh komitmen, ikhtiar sungguh-sungguh, dan konsistensi untuk merawat hafalan agar tak hilang.
Menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang sangat mulia, bahkan orang yang mampu menghafal hingga sempurna 30 juz, 114 surat, ia termasuk orang-orang pilihan, yang sangat istimewa. Sebab tidak semua orang diberikan anugerah mampu hafal Al-Qur’an secara sempurna.
 
Pada masa Nabi, tidak semua sahabat memiliki hafalan yang sempurna tiga puluh juz. Ada sebagian mereka yang sekadar hafal surat-surat tertentu dan ada yang hafal sebagian saja, sebab mereka tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk menghafal. Hanya sahabat-sahabat tertentu yang memiliki hafalan yang lengkap seluruh Al-Qur’an seperti Ubay bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Sayyidina Ali, Sayyidina Ustman, Zaid bin Tsabit, dan lain-lainnya.
 
Untuk itu, dalam suatu kesempatan Nabi memberi motivasi kepada mereka untuk senantiasa memperbanyak membaca Al-Qur’an dan memperdalam isi kandungannya. Di samping itu, Nabi juga memberi peringatan kepada mereka agar tidak melalaikan hafalannya. Sebab hafalan adalah amanat yang harus dijaga dan dipelihara. Jika hafalan itu dijaga dengan baik, maka ia akan mendapatkan predikat sebagai orang pilihan dan istimewa. Namun jika hafalan itu tidak dijaga dengan baik bahkan dilalaikan, maka hafalan itu akan hilang dari memori ingatannya dan mendapatkan ancaman yang sangat pedih. 
 
Baca juga:
 
Untuk itu, seseorang yang memiliki hafalan Al-Qur’an dituntut untuk selalu menjaga hafalannya dengan meluangkan waktu muraja’ah (mengulang hafalan) dan konsisten (dalam muraja’ah). Konsistensi dalam mengulang hafalan adalah sebuah keharusan bagi para penghafal Al-Qur’an.
 
Dalam sebuah hadits, Nabi menyamakan orang yang punya hafalan Al-Qur’an seperti pemilik unta. Jika unta itu dijaga dan dipelihara dengan baik, maka ia akan jinak dan patuh. Tapi jika ia dibiarkan dan telantarkan, maka ia akan pergi menghilang.
 
«إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ القُرْآنِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ»
 
“Sesungguhnya perumpamaan penghafal Al-Qur’an, seperti pemilik unta yang diikat. Jika ia dijaga dan dipelihara, maka ia akan diam dan jinak, dan jika ia dibiarkan terlantar, maka dia akan pergi lepas dari ikatannya” (Imam Bukhari, Shahih Bukhari [Beirut: Dar Thauq al-Najah], tt, juz VI, hal 193. hadits nomor 5031).
 
Untuk itu, Nabi menganjurkan kepada penghafal Al-Qur’an agar selalu menjaga dan memelihara hafalanya, sebab hafalan itu lebih cepat hilangnya daripada unta yang diikat. Nabi bersabda:
 
تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
 
“Jagalah (hafalan) Al-Qur’an itu, maka demi Dzat, jiwaku di kekuasaaNya, sungguh ia (Al-Qur’an) lebih cepat lepasnya daripada unta dari ikatannya”.(Imam Bukhari, Shahih Bukhari [Beirut: Dar Thauq al-Najah], tt, juz VI, hal 193. hadits nomor 5033).
 
Menjaga hafalan Al-Qur’an butuh meluangkan waktu agar hafalannya tetap terjaga dan melekat dalam jiwanya. Sebab menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan di waktu luang sedangkan menjaganya butuh meluangkan waktu. Ibarat sebuah bangunan, bangunan yang sudah berdiri tegak butuh pemeliharaan dan penjagaan selama-lamanya agar bangunan itu tetap kokoh tidak roboh. Demikian pula hafalan Al-Qur’an, ia butuh waktu seumur hidup untuk menjaganya agar hafalan itu tidak lupa dari memori ingatannya. Sebab melalaikan hafalan sama halnya melalaikan amanah yang dianugerahkan kepadanya.
 
Oleh sebab itu, Nabi memberi peringatan kepada seorang yang melupakan hafalan yang dianugerahkan kepadanya dengan hukuman yang sangat berat. Nabi bersabda:
 
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى القَذَاةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنَ الْمَسْجِدِ، وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي، فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ القُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا
 
“Ditunjukkan kepada saya seluruh pahala umatku bahkan sampai sekecil kotoran (debu) yang dikeluarkan oleh seseorang dari masjid, dan ditunjukkan kepada saya dosa-dosa umatku, saya tidak melihat sebuah dosa yang lebih besar dibandingkan surat atau ayat yang diberikan kepada seseorang kemudian ia melupakannya” (Imam Turmudzi, Sunan Turmudzi [Beirut: Dar al-Gharbiy al-Islami], 1998, juz V, hal 28, hadits no 2916).
 
Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa orang yang melupakan hafalannya kelak di hari kiamat akan menemui Tuhannya dalam keadaan “judzam”. 
 
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ ثُمَّ نَسِيَهُ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ أَجْذَمُ 
 
“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an kemudian ia melupakannya, kelak (di hari kiamat) bertemu dengan Allah dalam keadaan judzam” (Imam Turmudzi, Sunan Turmudzi [Beirut: Dar al-Gharbiy al-Islami], 1998, juz V, hal 28, hadits no 2916).
 
Dalam riwayat lain imam al-Darimi meriwayatkan yang hampir sama esensinya dengan yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi bahwa orang yang belajar Al-Qur’an kemudian melupakannya, maka kelak ia akan menemui Tuhannya dalam keadaan judzam.
 
مَا مِنْ رَجُلٍ يَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ، إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أَجْذَمُ
 
“Tidaklah seorang belajar Al-Qur’an kemudian melupakannya kecuali ia kelak di hari kiamat bertemu dengan Allah dalam keadaan judzam” (Imam al-Darimi, Sunan al-Darimi [Mekkah: Dar al-Mughni li al-Nasyr wa al-Tauzi’], 2000, juz IV, hal 2104, hadits nomor 3383).
 
Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa orang yang hafal Al-Qur’an (secara sempurna) atau sebagiannya, maka ia mendapatkan pangkat yang tinggi dibandingkan orang yang tidak hafal Al-Qur’an. Jika pangkat ini terkotori (oleh perilakunya) hingga menjadi jauh darinya, maka sepantasnya ia mendapatkan hukuman atas itu. Sebab melalaikan apa yang sudah dianugerahkan itu sama saja kembali ketidakhafalan dan tidak hafal setelah hafal itu lebih parah (hukumannya) (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari [Beirut: Dar al-Makrifat], 1379, juz IX, hal 86).
 
Dari pemaparan di atas, dapat diuraikan bahwa melalaikan hafalan Al-Qur’an akan mendapatkan ancaman. Namun demikian, apa esensi dari “nisyan” melalaikan?. Apakah melupakan hafalan termasuk kategori dosa besar?.
 
Dalam hal ini ulama mengklasifikasi tentang esensi melalaikan hafalan. Menurut sebagian ulama, jika lupa itu disebabkan oleh faktor kesibukan yang bersifat keagamaan seperti berjihad, mencari ilmu dan lain-lainnya, maka hal itu tidak masalah. Artinya tidak termasuk orang yang melalaikan dan tidak tercatat sebagai pendosa. Namun jika lupa itu disebabkan oleh faktor keduniaan, apalagi perbuatan yang dilarang, maka hal tersebut dianggap berdosa dan termasuk melakukan dosa besar (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari [Beirut: Dar al-Makrifat], 1379, juz IX, hal 85).
 
Dari kalangan al-Syafi’iyah, seperti Abu al-Makarim dan al-Ruyani mengatakan bahwa berpaling dari membaca Al-Qur’an menjadi sebab hilangnya hafalan dan melupakan hafalan menunjukkan tidak adanya perhatian terhadap Al-Qur’an dan meremehkan perintahnya (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari [Beirut: Dar al-Makrifat], 1379, juz IX, hal 86).
 
Oleh karena demikian, jika para hamil (penghafal) Al-Qur’an itu berprofesi sebagai agamawan, pendakwah, peneliti, pengajar dan lain-lain, sehingga tidak memungkinkan untuk mengulang hafalannya secara konsisten, namun tetap mengulang hafalannya dengan semampunya, maka dalam hal ini ia tidak masuk dalam ancaman hadits di atas. Namun jika para hamil Al-Qur’an itu berprofesi yang tidak ada sangkut pautnya dengan keagamaan, sehingga ia melalaikan hafalannya dan tidak ada usaha untuk mengulang hafalannya dengan kadar kemampuannya, maka ia masuk dalam ancaman hadits di atas.
 
Sementara itu, sebagian ulama yang lain menjelaskan bahwa yang dimaksud “melupakan” itu adalah melalaikan isi kandungan Al-Qur’an setelah mengetahuinya. Artinya, jika seseorang telah mengetahui isi kandungan Al-Qur’an; perintah dan larangannya, kemudian ia melalaikannya dan meremehkannya, maka orang tersebut masuk dalam kategori ancaman hadits di atas, ia telah melakukan dosa besar. Dalam hal ini yang menjadi persoalan adalah meremehkan ajaran Al-Qur’an.
 
Namun menurut penulis syarah kitab “Al-Mahabih” sebagaimana dikutif oleh Imam al-Syaukani dalam karyanya “Nailul Authar” bahwa yang dimaksud dosa dalam hadits itu adalah bagian dari dosa kecil, karena melupakan hafalan Al-Qur’an bukan termasuk dosa besar selama tidak meremehkan dan mengurangi ketakziman terhadap Al-Qur’an. Sebab ancaman yang disampaikan oleh Nabi kepada para penghafal Al-Qur’an sebagai motivasi untuk menjaga hafalan (Imam al-Syaukani, Nailul Authar [Mesir: Dar al-Hadits], 1993, juz II, hal 178).
 
 
Ustadz Moh. Fathurrozi, Pembina Tahfidz Al-Qur’an Pondok Pesantren Darussalam Keputih.