IMG-LOGO
Hikmah

Ilmu Laduni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ketawadhuan Sayyidina Ali

Jumat 27 September 2019 14:0 WIB
Share:
Ilmu Laduni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ketawadhuan Sayyidina Ali
Ilustrasi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. (NU Online)
Ada sebuah pepatah bahasa Arab yang mengatakan ‘Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah.’ Pepatah di atas menunjukkan bahwa selain memiliki kewajiban mencari ilmu, seseorang dituntut pula untuk menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Mengapa demikian? Karena dengan mengamalkan, hakikatnya secara tersirat ia juga belajar.

Dalam Al-Quran, Allah swt memberikan jaminan kepada orang yang mengamalkan ilmunya, dia akan memperoleh ilmu yang tidak tertulis di dalam kertas atau yang sering biasa kita sebut dengan Ilmu Ladunni. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 282, “Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan memberikan pengajaran kepada kalian, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” 

Menurut sebagian al-`Arifin (orang yang dekat dan mengenal Allah) tafsiran dari ayat di atas adalah bahwa barang siapa yang menempati maqam takwa, maka dia pantas dan layak menerima warisan ilmu Allah yaitu Ilmu Ladunni. 

Menurut sebagian ulama Ilmu Ladunni merupakan ilmu yang diletakkan oleh Allah di dalam hati para kekasih-Nya (waliyullah), dan inilah yang dilakukan oleh Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam berdakwah menyebarkan ilmunya. 

Ada banyak kisah tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang tidak dijelaskan di dalam kitab-kitab ulama zaman dahulu, namun diceritakan di dalam kitab-kitab karangan habaib dan ulama Hadlramaut, Tarim, Yaman. 

Negeri Yaman sering dijuluki Baldatun Auliya (negerinya para wali). Jadi wajar saja apabila banyak dijumpai kisah tentang karomah para wali dan ulama yang tidak dijelaskan secara detail dalam kitab-kitab lain, termasuk ketika Rasulullah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani di saat mau berdakwah menyebarkan ilmu dikarenakan keder di hadapan para jamaahnya. 

Kisah ini juga diungkap dalam kitab al-Fawāid al-Mukhtārah Lisāliki Ṭarīq al-Ākhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, seorang santri yang berguru kepada Habib Zain ibn Ibrahim ibn Smith di Hadlramaut, Tarim, Yaman.

Alkisah, suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani melihat kehadiran Rasulullah mendatanginya sebelum melaksanakan Shalat dzuhur. Seketika itu ia kaget bukan main dan tidak jadi melanjutkan shalat. Tak lama kemudian, Rasulullah bertanya;
 
“Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara di hadapan orang banyak?”

“Wahai ayahku, aku ini tumbuh dan besar di tengah-tengah penduduk yang tidak pandai berbicara. Lantas bagaimana aku mau berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad yang pandai berbicara, ditambah lagi ulamanya banyak yang alim?” jawab Syekh Abdul Qadir dengan rasa malu.

Mendengar jawaban Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rasulullah langsung memerintahkan beliau untuk membuka mulutnya. Lalu Rasulullah meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebanyak tujuh kali. Kemudian beliau bersabda, “Sekarang, pergilah dan bicaralah di hadapan manusia. Berdakwalah dan ajak mereka ke jalan Allah, berikan mereka nasihat-nasihat yang baik.”

Begitulah kasih sayang Rasulullah terhadap Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sebagai keturunannya, Rasulullah terus menerus membimbingnya dalam berdakwah menyebarkan ilmu kepada seluruh manusia. Setelah kejadian tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani melaksanakan Shalat Dzuhur dan duduk sambil memikirkan bagaimana caranya untuk berdakwah di hadapan penduduk Kota Baghdad yang memiliki banyak ulama sangat alim. Mengingat dirinya bukanlah orang yang pandai berbicara. 

Selang beberapa saat, penduduk Kota Baghdad berbondong-bondong mendatangi Syekh Abdul Qadir al-Jailani di dalam masjid. Mereka meminta Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk memberikan pengajian kepada mereka. Sontak saja beliau bingung apa yang harus disampaikan kepada mereka, saat itu sekujur tubuhnya gemetar dan keder menghadapi penduduk Baghdad.

Disaat Syekh Abdul Qadir al-Jailani kebingungan, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang dan masuk ke dalam masjid sambil berdiri di hadapannya. Sayyidina Ali bertanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani seperti apa yang telah ditanyakan Rasulullah.

“Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara dihadapan orang banyak?” 

“Wahai ayahku, aku tidak bisa, tubuhku dari tadi gemetar dan aku gerogi dihadapan sekian banyak orang ini,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab tanpa rasa malu.

Tak ingin menunggu lama, Sayyidina Ali memerintahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk kembali membuka mulutnya sebagaimana perintah Rasulullah sebelumnya. Lalu Sayyidina Ali meludahi mulutnya sebanyak enam kali. Hal itu membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani heran. 

“Mengapa engkau (Sayyidina Ali) hanya meludahi mulutku enam kali, sedangkan Rasulullah tujuh kali?” tanya al-Jailani. 

“Ini merupakan adab kepada Rasulullah dengan tidak melebihi darinya,” jelas Sayyidina Ali.

Setelah kejadian tersebut, Sayyidina Ali bersembunyi dan mengintip apakah Syekh Abdul Qadir al-Jailani masih takut dan gemetar berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad ataukah tidak. Mungkin berkah dari ludah Rasulullah dan Sayyidina Ali, akhirnya beliau mulai berbicara dan berdakwah di hadapan mereka tanpa ada lagi rasa gemetar dan takut dalam dirinya.

Jika kita memahami alur kisah inspiratif di atas, ada hal yang sangat menarik yang perlu kita contoh yaitu mengapa Sayyidina Ali hanya meludahi mulutnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani enam kali. Di sinilah kita perlu melihat betapa adabnya Sayyidina Ali begitu mulia, hingga ‘masalah sepele’ saja ia tidak mau melebihi apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah.

Itulah mengapa begitu sangat pentingnya adab dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan adab lah derajat seseorang akan diangkat oleh Allah. Terbukti seperti adab Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Allah angkat derajatnya dan menjadikannya ‘Raja dari Seluruh Para Wali’. 

Lantas bagaimana dengan ilmu, bukankah itu juga merupakan elemen penting dalam kehidupan sehari-hari? Ilmu juga merupakan unsur yang sangat penting, namun itu setelah adab. Dahulukanlah adab dari pada ilmu. Setinggi apapun ilmu seseorang, tetapi jika ia menjadikan akhlah sebagai elemen yang kedua setelah ilmu, maka sungguh tidak berharga ilmu tersebut.

Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo.
Share:

Baca Juga

Kamis 26 September 2019 11:0 WIB
Ketika Fatwa Imam Abu Hanifah Ditolak Ibunya
Ketika Fatwa Imam Abu Hanifah Ditolak Ibunya
Ada beberapa pelajaran penting dari kisah ulama sekaliber Imam Abu Hanifah. (Ilustrasi: sothebys.com)
Dalam kitab Târîkh Baghdâd Madînah al-Sallâm, Imam al-Khatib al-Baghdadi memasukkan sebuah riwayat ketika ibu Imam Abu Hanifah tidak menerima fatwanya. Berikut riwayatnya:
 
أخبرنا الخلاّل، أخبرنا الحريري أن النخعي حدثهم قال: حدّثنا أبو صالح البختريّ ابن محمّد، حدّثنا يعقوب بن شيبة قال: حدثني سليمان بن منصور قال: حدثني حجر بن عبد الجبّار الحضرمي قال: كان في مسجدنا قاص يقال له زرعة، فنسب مسجدنا إليه و هو مسجد الحضرميين، فأرادت أم أبي حنيفة أن تستفتي في شي‏ء فأفتاها أبو حنيفة فلم تقبل، فقالت: لا أقبل إلا ما يقول زرعة القاص، فجاء بها أبو حنيفة إلى زرعة فقال: هذه أمي تستفتيك في كذا و كذا، فقال: أنت أعلم مني و أفقه، فأفتها أنت فقال أبو حنيفة قد أفتيتها بكذا و كذا فقال زرعة القول كما قال أبو حنيفة، فرضيت و انصرفت.
 
Al-Khallal bercerita, al-Hariri bercerita, bahwa al-Nakha’i bercerita kepada mereka, ia berkata: Abu Shalih bin Muhammad bercerita, Ya’qub bin Syaibah bercerita, Sulaiman bin Mansur bercerita, Hujr bin Abdul Jabbar al-Hadrami berkata:
 
Di masjid kami ada seorang tukang dongeng bernama Zur’ah. Masjid kami dinisbatkan kepadanya, masjid orang-orang Hadrami. (Suatu ketika) ibu Abu Hanifah meminta fatwa tentang sesuatu, lalu Abu Hanifah memberinya fatwa, tapi ia tidak menerimanya.
 
Ia (ibu Abu Hanifah) berkata: “Aku tidak akan menerima (fatwa) kecuali apa yang disampaikan Zur’ah al-Qash.”
 
Kemudian Abu Hanifah mengantar ibunya ke (tempat) Zur’ah, ia berkata: “Ini ibuku, ia meminta fatwamu dalam hal begini dan begini...”
 
Zur’ah menjawab: “Kau lebih berilmu dan lebih memahami (ilmu fiqih) dibandingkanku, (seharusnya) kaulah yang memberinya fatwa.”
 
Abu Hanifah berkata: “Aku telah memberinya fatwa begini dan begini, (tapi ia tidak menerimanya).”
 
Zur’ah berkata: “Ucapan(ku) sebagaimana yang diucapkan Abu Hanifah.”
 
Maka sang ibu menerimanya dan pergi. (Imam al-Khatib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd Madînah al-Sallâm, Beirut: Dar al-Gharb al-Islamiy, 2002, juz 15, h. 501)
 
**** 
 
Baca juga:
 
Kisah di atas mengajarkan beberapa hal kepada kita. Pertama, mengajarkan kerendahan-hati (tawadlu’). Dalam kisah di atas, ada dua kerendahan-hati yang perlu kita pahami. Kerendahan hati Imam Abu Hanifah dan kerendahan hati Zur’ah al-Qash. 
 
Kerendahan-hati Imam Abu Hanifah ditunjukkan dengan mengantarkan ibunya secara langsung ke Zur’ah al-Qash. Ia tidak membujuk ibunya untuk mempercayainya dengan membesarkan dirinya, bahwa ia seorang ahli fiqih, ulama besar, dan seorang mujtahid, atau dengan mengatakan bahwa Zur’ah bukanlah seorang ulama. Ia dengan senang hati mengantar ibunya ke tempat Zur’ah tinggal.
 
Sementara kerendahan-hati Zur’ah ditunjukkan dengan mengatakan, “Kau lebih berilmu dan lebih memahami (ilmu fiqih) dibandingkanku.” Ia tidak bangga dengan kehadiran Imam Abu Hanifah dan ibunya untuk bertanya sesuatu kepadanya. Ia tahu kapasitas keilmuannya tidak lebih baik dari Abu Hanifah. Karena itu, ia tidak menggunakan kata “aftaituki” (aku berfatwa kepadamu), tapi menggunakan kalimat, “al-qaul kamâ qâla Abû Hanîfah” (ucapan[ku] sebagaimana ucapan Abu Hanifah). Penggunaan kata “al-qaul” (perkataan/ucapan) menunjukkan kesadarannya tentang kapasitas dirinya, bahwa ia belum pantas mengeluarkan fatwa, apalagi di hadapan seorang mujtahid seperti Imam Abu Hanifah.
 
Kedua, mengajarkan bakti kepada orang tua (birrul wâlidain). Dengan mengantarkan ibunya secara langsung, menunjukkan bakti Imam Abu Hanifah kepada ibunya. Ia tidak takut orang akan menggunjingnya karena mengantar ibunya bertanya perihal agama ke orang lain. Demi menyenangkan ibunya, ia tak ragu melakukan sesuatu, yang dalam pandangan orang sekarang, menurunkan kredibilitasnya sebagai ulama. Bisa jadi ada yang mengatakan, “Abu Hanifah tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya,” atau perkataan, “Ibunya sendiri tidak mempercayainya.” Semua itu tidak digubrisnya. Baginya, berbakti kepada orang tua jauh lebih penting dari kedudukannya.
 
Karena itu, jangan pernah sekalipun kita meninggalkan bakti kepada orang tua, buat mereka bahagia, baik dalam sikap maupun perkataan, apalagi sampai membuatnya bersedih dan menangis. Dalam sebuah riwayat dikatakan (HR. Imam al-Bukhari):
 
حدثنا حماد بن سلمة عن زياد بن مخراق عن طيسلة, أنه سمع ابن عمر يقول: بكاء الوالدين من العقوق والكبائر
 
Hammad bin Salamah bercerita, dari Ziyad bin Mikhraq, dari Thaysalah, sesungguhnya ia mendengar Ibnu Umar berkata: “Tangisan kedua orang tua termasuk bentuk kedurhakaan dan dosa besar” (Imam al-Bukhari, Adâb al-Mufrad, h. 19).
 
Ketiga, mengajarkan pendidikan. Bisa jadi penolakan ibunya dilakukan untuk mendidik atau menguji anaknya, Imam Abu Hanifah,  yang telah menjadi ulama besar yang fatwanya diikuti hampir semua orang. Bisa jadi ibunya sengaja melakukan itu untuk mengukur kedalaman anaknya. Ia khawatir kemuliaan dan penghormatan telah menghanyutkan anaknya dalam lautan ujub, takabbur dan riya. Jika memang demikian, itu berarti sang ibu sedang menjalankan perannya sebagai madrasah, pendidik paling awal dan dekat untuk anaknya.
 
Pertanyaannya, seberapa sering kita belajar berendah hati, berbakti dan merasa ingin untuk dididik?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Sabtu 21 September 2019 22:0 WIB
Mimpi Rasulullah Menyaksikan Orang yang Dapat Siksa Akhirat
Mimpi Rasulullah Menyaksikan Orang yang Dapat Siksa Akhirat
Rasulullah pun biasa bermimpi, dan mimpinya adalah haq dan bersumber dari wahyu. (Ilustrasi: NU Online)
Bila berjamaah subuh usai, Rasulullah ﷺ sering kali bercengkrama dengan para sahabat. Bertanya soal mimpi yang mereka alami, kemudian beliau menafsirkannya. Bila tak ada yang bermimpi, beliau sendiri yang bercerita. Pagi itu pun beliau bercerita tentang mimpi yang dialaminya:
 
“Tadi malam, aku mimpi didatangi oleh dua orang. Sepertinya, mereka memang diutus menemuiku dan mengajakku pergi. Aku pun pergi bersama mereka. Tak lama berjalan kami mendapati seorang laki-laki yang tengah berbaring. Tak jauh darinya ada laki-laki lain yang sedang berdiri sambil memegang batu besar. Tiba-tiba laki-laki yang berdiri menjatuhkan batunya ke kepala laki-laki yang berbaring, hingga batu pun pecah berhamburan kemana-mana. Setelah itu, ia kembali mengambil batunya. Tidaklah ia mengulangi perbuatannya kecuali kepala si laki-laki yang berbaring kembali ke bentuk semula. Laki-laki yang memegang batu pun kembali mendekati laki-laki yang berbaring dan mengulangi hal yang sama. 
 
Aku kemudian bertanya kedua kawanku, ‘Subhanallah, mengapa dua orang laki-laki itu?’ Namun, keduanya malah kembali mengajakku pergi, ‘Pergi… pergi…!’ Kami pun pergi lagi. Tak lama kemudian, kami mendapati seorang laki-laki yang telentang. Tak jauh darinya ada seorang laki-laki yang berdiri dan membawa pengait besi. Tiba-tiba laki-laki yang membawa pengait mendekati salah satu pipinya, lalu menyobek bagian pojok mulutnya hingga tengkuk, dari lubang hidungnya hingga ke tengkuk, dan dari bagian matanya ke tengkuk. Setelah itu, ia beralih ke pipi sebelahnya dan melakukan hal serupa seperti pada pipi sebelumnya. Belum juga usai melukai pipi berikutnya, pipi sebelumnya sudah sehat seperti semula. Kemudian laki-laki yang berdiri kembali mendekati laki-laki yang telentang dan melakukan hal yang sama. 
 
Aku bertanya lagi kepada keduanya, ‘Subhanallah, mengapa dua orang laki-laki itu?’ Alih-alih menjawab, keduanya malah mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Akhirnya, kami pun pergi meninggalkan tempat itu, sampai di suatu tempat di mana ada benda yang menyerupai tungku pembakaran. Tiba-tiba terdengar suara riuh dan gemuruh. Ternyata di sana banyak laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tak lama berselang, datanglah jilatan api dari bawah menuju mereka. Begitu jilatan api mengenai mereka, mereka sontak menjerit dan berteriak. 
 
Aku pun bertanya kepada kedua kawanku, ‘Siapakah mereka?’ Alih-alih menjawab, keduanya malah mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Kami kemudian pergi lagi, hingga tiba di sebuah sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berenang di sana. Tepat di samping sungai ada seorang laki-laki yang sedang mengumpulkan batu yang banyak. Begitu berenang dan mendekat ke arah laki-laki yang mengumpulkan batu, laki-laki yang berenang langsung membuka mulutnya dan disuapi batu oleh laki-laki yang ada di pinggir sungai. Setelah itu, laki-laki tadi kembali berenang dan membuka lagi mulutnya, serta disuapi lagi oleh laki-laki yang di pinggir sungai.
 
Aku bertanya lagi kepada mereka berdua, ‘Ada apa dengan kedua lelaki itu?’ Seperti sebelumnya. Daripada menjawab, mereka malah mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Akhirnya, kami pun kembali pergi sampai bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat buruk rupanya, seburuk-buruknya wajah laki-laki yang paling kamu benci. Tak jauh di dekatnya ada api yang menyala-nyala. Dan ia berjalan-jalan di sekitarnya. Aku bertanya kepada kedua kawanku, ‘Ada apa dengan lelaki ini?’ Daripada menjawab, mereka justru mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Akhirnya, kami kembali pergi, sampai menemukan sebuah taman yang sangat indah dan menyenangkan. Di dalamnya terdapat berbagai macam bunga. Tiba-tiba di tengahnya terlihat ada seorang laki-laki yang berpostur tinggi. Sampai-sampai aku harus mengangkat kepala untuk melihatnya. Di sekitar laki-laki itu banyak anak-anak yang sama sekali belum pernah aku lihat. 
 
Aku bertanya kepada kedua kawanku, ‘Siapakah anak-anak itu?’ Tapi mereka justru mengajakku pergi lagi. Akhirnya, kami kembali pergi, sampai tiba di suatu taman yang sangat besar. Aku sama sekali belum pernah melihat taman sebesar dan seindah itu. Keduanya berkata kepadaku, ‘Masuklah ke dalamnya.’ Dan kami pun masuk.
 
Sampailah kami di sebuah kota yang dibangun dengan bata-bata emas dan perak. Kami menuju pintu kota itu, lalu meminta dibukakan. Maka dibukalah pintunya dan kami memasukinya. Di sana kami berjumpa dengan sejumlah laki-laki yang separuh rupanya setampan yang pernah engkau lihat, sedangkan separuh rupanya seburuk yang pernah engkau lihat. Kedua kawanku berkata kepada mereka, ‘Pergilah kalian, lalu masuklah ke dalam sungai.’ Tiba-tiba sungai itu mengalir berlawanan, airnya bagaikan susu yang sangat putih. Kemudian mereka pergi dan masuk ke dalam sungai tersebut. Tak lama berselang, mereka kembali lagi kepada kami, dengan rupa yang semula buruk sudah hilang dari mereka. Kini mereka menjadi sangat tampan. Kedua kawankku kemudian berkata, ‘Ini adalah surga Adn. Dan itu rumahmu.’ Mataku melihat ke atas dan terus ke atas. Ternyata ada sebuah istana seperti berada di awan putih. Mereka berdua berkata lagi, ‘Itu rumahmu.’ Aku berkata, ‘Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian yang telah mengajakku, sehingga aku bisa memasukinya.’ Keduanya lalu menyampaikan, ‘Namun sekarang, engkau belum diperbolehkan memasukinya.’ 
 
Aku lantas menyampaikan kepada kedua kawanku, ‘Sesungguhnya sejak tadi aku melihat beberapa keanehan, apa sesungguhnya yang telah kulihat itu?’ Keduanya lalu menjelaskan, ‘Baiklah kami akan memberi tahumu. Laki-laki pertama yang engkau jumpai dan dipecahkan kepalanya dengan batu, adalah orang yang mengambil Al-Qur’an, tapi menolaknya dan malah tidur sewaktu shalat fardhu. Kemudian laki-laki yang disobek pojok mulutnya hingga tengkuknya, dari lubang hidung ke tengkuknya, dari mata hingga tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya kemudian menyebarkan kebohongan ke mana-mana.’ 
 
‘Selanjutnya sejumlah laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di atas tungku perapian adalah para pezina. Lalu laki-laki yang berenang di sungai serta disuapi batu-batu, adalah orang yang melakukan riba. Berikutnya, laki-laki yang rupanya sangat tidak disukai, berada di dekat api, dan berjalan di sekitarnya, adalah malaikat Malik penjaga neraka. Kemudian laki-laki yang tinggi dan berada di taman, adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu anak-anak yang ada di sekitarnya adalah anak-anak yang meninggal dalam keadaan masih suci (belum balig). Termasuk di dalamnya anak-anak kaum musyrikin. Sementara kaum yang separuh tampan dan separuh jelek, mereka adalah yang suka mencampuradukkan amal saleh dan amal buruk. Namun kemudian Allah mengampuni mereka’.” 
 
***
 
Demikian mimpi Rasulullah ﷺ menyaksikan orang-orang yang mendapat siksa di akhirat. Selengkapnya hadits ini dapat dilihat dalam Shahîh al-Bukhari, tepatnya dalam “Kitâb Ta‘bîr al-Ru’yâ, Bâb Ta‘bîr al-Ru’yâ Ba‘da Shalât al-Subh” nomor hadits 7047; dan dalam “Kitâb al-Janâ’iz,” nomor hadits 1386. 
 
Dari hadits di atas dapat dipetik beberapa pesan dan pelajaran, di antaranya. Pertama, Rasulullah ﷺ kerap bertanya tentang mimpi yang dialami para sahabatnya. Beliau lalu menafsirkannya. Jika tidak ada, beliau sendiri yang bercerita. 
 
Kedua, Rasulullah ﷺ pun biasa bermimpi, dan mimpinya adalah haq dan bersumber dari wahyu. Demikian halnya dengan mimpi para nabi lainnya. Adapun mimpu selain para nabi, sebagian ada yang benar, sebagian ada yang tidak, bahkan sebagian ada yang berasal dari setan dan luapan nafsu. 
 
Ketiga, hadits di atas merupakan bantahan bagi orang yang tidak senang menceritakan mimpinya sebelum terbit matahari. Buktinya, Rasulullah ﷺ suka bertanya kepada para sahabatnya tentang mimpi mereka. 
 
Keempat, nikmat dan siksa akhirat itu yakin ada. Ganjaran dan balasan di hari kemudian memang nyata adanya. Dan balasan itu serupa dengan perbuatannya. Contohnya orang yang suka mencampuradukkan yang hak dan yang batil akan diwujudkan dalam rupa yang separuh bagus dan separuh buruk. Orang yang suka menebar kebohongan, mulutnya disobek dengan besi pengait. Dan seterusnya. 
 
Kelima, neraka adalah makhluk yang diciptakan Allah dan dipersiapkan pada hari Pembalasan untuk orang-orang yang berbuat jahat. Dijaga oleh malaikat Malik yang dikenal berwajah buruk dan menakutkan.
 
Keenam, hadits ini juga memuat peringatan keras terhadap para pembohong, pembuat hoaks, penyebar berita palsu di tengah masyarakat. Sebab, semuanya ada akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Begitu pun bagi para pezina, peninggal shalat, para pelaku riba, dan yang lainnya. 
 
Ketujuh, anak-anak kecil yang meninggal sebelum balig, termasuk anak-anak orang musyrik, akan dimasukkan ke dalam ke surga dan mereka berada di bawah asuhan Nabi Ibrahim 'alaihissalam
 
Kedelapan, surga juga termasuk salah satu makhluk Allah yang dibangun dari emas dan perak. Ia merupakan taman yang sangat luas dan indah. Di dalamnya mengalir sungai-sungai dan istana-istana yang megah. Dan istana yang paling megah adalah istana Rasulullah yang tingginya menjulang mencapai awan dan mencakar langit. 
 
Kesembilan, Allah dengan rahmat dan kehendak-Nya akan mengampuni para hamba-Nya yang mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk. Ampunan-Nya dipersiapkan bagi mereka, sehingga keindahan jiwa mereka akan kembali dan keburukan mereka akan terhapus. 
 
Kesepuluh, sesungguhnya Rasulullah ﷺ di-isra’-kan dan di-mi‘raj-kan ke langit, bukan hanya ruhnya saja, melainkan dengan tubuhnya. Adapun isra’ dan mi‘raj Rasulullah ﷺ yang disebutkan hadits di atas hanya ruhnya saja. Dan peristiwa seperti ini terjadi berkali-kali. 
 
Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memetik hikmah dari kisah hadits di atas. Wallahu a’lam
 
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
 
Jumat 20 September 2019 6:30 WIB
Burung Hud-hud dan Penjelasan Ibnu Abbas yang Ditentang Khawarij
Burung Hud-hud dan Penjelasan Ibnu Abbas yang Ditentang Khawarij
Khawarij memiliki watak merasa paling benar sendiri dan cenderung meremehkan pandangan orang lain. (Ilustrasi: NU Online)
Kisah ini dimulai dari penjelasan Sayyidina Ibnu Abbas tentang kemampuan burung Hud-hud. Ia menjelaskan: 
 
كان الهدهد مهندسا، يدل سليمان، عليه السلام، على الماء، إذا كان بأرض فلاة طلبه فنظر له الماء في تخوم الأرض، كما يرى الإنسان الشيء الظاهر على وجه الأرض، ويعرف كم مساحة بعده من وجه الأرض، فإذا دلهم عليه أمر سليمان، عليه السلام، الجان فحفروا له ذلك المكان، حتى يستنبط الماء من قراره
 
Terjemah bebas: 
 
Bahwa burung Hud-hud sangat ahli dalam mencari air dan ditugaskan secara khusus oleh Nabi Sulaiman ketika berada di padang pasir. Dengan kemampuannya, Hud-hud dapat melihat sumber air di dalam tanah seperti manusia dapat melihat sesuatu di permukaan tanah. Hud-hud juga dapat melihat seberapa jauh dan seberapa dalam sumber air di dalam tanah itu. Ketika Hud-hud menunjukkan letak sumber air, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memerintahkan jin untuk menggali tempat itu sampai air keluar dari dasar bumi” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhîm, Riyadh: Dar Thayyibah, 1999, juz 6, h. 184).
 
Penjelasan Sayyidina Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Imam Mujahid, Sa’id bin Jubair, dan ulama lainnya. Di saat Ibnu Abbas menjelaskan kelebihan yang dimiliki burung Hud-hud, seorang Khawarij bernama Nafi’ bin al-Azraq menentangnya. Berikut riwayatnya:
 
حدث يوما عبد الله بن عباس بنحو هذا، وفي القوم رجل من الخوارج، يقال له نافع بن الأزرق، وكان كثير الاعتراض على ابن عباس، فقال له: قف يا ابن عباس، غلبت اليوم! قال: ولم؟ قال: إنك تخبر عن الهدهد أنه يرى الماء في تخوم الأرض، وإن الصبي ليضع له الحبة في الفخ، ويحثو على الفخ ترابا، فيجيء الهدهد ليأخذها فيقع في الفخ، فيصيده الصبي. فقال ابن عباس: لولا أن يذهب هذا فيقول: رددت على ابن عباس، لما أجبته. فقال له: ويحك! إنه إذا نزل القدر عمي البصر، وذهب الحذر. فقال له نافع: والله لا أجادلك في شيء من القرآن أبدا
 
Terjemah bebas: 
 
Suatu hari Ibnu Abbas menceritakan kisah ini di sebuah kaum yang di dalamnya terdapat seorang Khawarij bernama Nafi bin al-Azraq. Ia dikenal sebagai orang yang sangat sering (banyak) menentang Ibnu Abbas. Karena itu ia berkata: “Hentikan wahai Ibnu Abbas, hari ini kau telah kalah.” Ibnu Abbas bertanya: “Kenapa?”
 
Nafi bin al-Azraq berkata: “Sesungguhnya kau telah bercerita tentang Hud-hud yang dapat melihat air di perut bumi, padahal bisa saja seorang anak menaruh biji dalam perangkap dan menutupi perangkap itu dengan tanah. Kemudian Hud-hud datang mengambil biji tersebut (untuk dimakan) maka dia terjerat oleh perangkap yang dipasang anak kecil itu.”
 
Ibnu Abbas berkata: “Jika tidak karena mengakhiri ini, lalu ia akan berkata: ‘Aku telah menyangkal Ibnu Abbas, (dan) ia tidak menjawab.” Kemudian Ibnu Abbas menjawab: “Celakalah kau! Sungguh jika takdir telah ditetapkan, hilanglah penglihatan dan lenyaplah kehati-hatian (maka burung Hud-hud pasti masuk dalam perangkap).”
 
Nafi bin al-Azraq berkata: “Demi Allah, aku tidak akan lagi mendebatmu dalam sesuatu dari Al-Qur’an selamanya” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhîm, 1999, juz 6, h. 184-185)
 
****
 
Riwayat di atas merupakan tafsir atau penjelasan Sayyidina Abdullah bin Abbas mengenai Surat An-Naml: 20. Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan:
 
فنزل سليمان، عليه السلام [يوما]، بفلاة من الأرض، فتفقد الطير ليرى الهدهد، فلم يره، (فقال ما لي لا أرى الهدهد أم كان من الغائبين)
 
“(Suatu ketika) Nabi Sulaiman beristirahat di padang pasir. Ia memeriksa (kelompok) burung, tapi ia tidak melihat burung Hud-hud. (Maka ia berkata: “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?)”  (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhîm, 1999, juz 6, h. 184).
 
Ketika ia sedang menjelaskan makna atau peristiwa yang melatar-belakangi ayat tersebut, seorang Khawarij bernama Nafi bin al-Azraq menentang Ibnu Abbas. Dari argumentasinya, Nafi bin al-Azraq tidak meyakini kebenaran tafsir Ibnu Abbas. Ia tidak percaya jika burung Hud-hud dapat melihat ke dalam perut bumi dan menemukan sumber air. Dengan percaya diri ia mengatakan Ibnu Abbas telah kalah, bahkan sebelum ia mengemukakan argumentasinya. Maksud “kalah” di sini adalah, bahwa penjelasan Ibnu Abbas akan sangat mudah dipatahkan olehnya.
 
Argumentasi Nafi bin al-Azraq adalah, jika memang burung Hud-hud bisa melihat ke dalam tanah, mungkin saja ia akan terjebak oleh perangkap anak-anak yang menaruh biji dan menguburnya di dalam tanah untuk menangkapnya. Tapi Sayyidina Ibnu Abbas menjawab: “Celakalah kau! Jika takdir telah ditetapkan, hilanglah penglihatan dan lenyaplah kehati-hatian.”
 
Jawaban ini menunjukkan bahwa secakap apa pun kemampuan seseorang atau makhluk tertentu, di titik tertentu mereka akan menemui takdirnya. Ketika mereka menemui takdirnya, standar logika yang berdasarkan kualifikasi atau kemampuan tidak bisa diterapkan lagi. Titik inilah yang kemudian dipahami oleh nenek moyang kita dengan pepatah: “Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.”
 
Penggunaan kata, “waihak!—celakalah kau!” merupakan bentuk teguran Ibnu Abbas kepada Nafi’ bin al-Azraq. Karena ia telah sombong dengan kebenaran versinya sendiri. Ia menganggap penafsiran lain yang berbeda dengannya salah tanpa melakukan analisa dan perenungan mendalam terlebih dahulu. 
 
Kesombongan Nafi bin al-Azraq ditampilkan dengan mengatakan, “kau telah kalah hari ini, wahai Ibnu Abbas.” Perkataan ini ia katakan sebelum ia mengemukakan argumentasinya. Artinya, ia telah sangat yakin akan kebenaran pendapatnya, dan yakin akan kesalahan pendapat Ibnu Abbas. 
 
Setelah mendengar teguran dan jawaban Ibnu Abbas, Nafi’ bin al-Azraq menyadari kekeliruannya. Jika Allah telah menetapkan sesuatu, sepintar apa pun manusia, selihai apa pun tupai, secanggih apa pun teknologi, semuanya akan berjalan sesuai ketetapannya. Jika Allah menghendakinya jatuh, ia akan terjatuh; jika Allah menghendakinya berhasil, ia akan semakin berhasil. Sebab, tidak mungkin ada manusia yang selalu sukses, dan tidak mungkin pula ada manusia yang selalu gagal. Begitupun dengan makhluk Allah lainnya.
 
Karena itu, kita harus mawas diri dalam merasa. Jangan sampai kita merasa “paling” dalam segala hal, baik yang bersifat positif maupun negatif. Kisah di atas mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai kebenaran eksternal, yaitu kebenaran yang berasal dari selain kita.
 
 
Di sisi lain, kisah di atas juga mengajarkan kita agar menghargai takdir. Karena setiap manusia memiliki passion yang berbeda-beda; profesi yang berbeda-beda; hobi yang berbeda-beda, dan lain sebagainya. Ini bukan berarti takdir tidak adil, bukan. Karena ketetapan Allah berjalan sepanjang kita hidup. Terkadang kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan; terkadang kita tidak mendapatkannya. 
 
Karena itu, dalam jawabannya, Sayyidina Ibnu Abbas mengatakan, jika takdir telah ditetapkan, kehati-hatian bisa hilang dan penglihatan bisa lenyap, bahkan untuk burung Hud-hud yang memiliki keistimewaan sekalipun. Artinya, kemampuan, kelihaian, kecakapan, dan kelebihan sewaktu-waktu akan menemui ketidak-berfungsiannya. 
 
Maka dari itu, kita harus terus berusaha dan berdoa, memohon kepada Allah agar terjauhkan dari kesombongan merasa “paling benar”, “paling beruntung”, dan “paling malang.” Pertanyaannya, bisakah kita melakukannya?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.