IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Sayyidina Abu Hurairah Dituduh Mencuri

Ahad 29 September 2019 7:0 WIB
Share:
Ketika Sayyidina Abu Hurairah Dituduh Mencuri
Teladan Rasulullah yang meresap dalam diri Abu Hurairah membuat sahabat Nabi ini tetap rileks dan bijaksana saat menghadapi tuduhan negatif.
Dalam Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi (w. 414 H) mencatat sebuah riwayat tentang Sayyidina Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dituduh mencuri sesuatu. Berikut riwayatnya:
 
وقال رجل لأبي هريرة: أنت أبو هريرة؟ قال: نعم. قال: سارق الذّريْرة؟ قال: اللهم إن كان كاذبا فاغفر له, وإن كان صادقا فاغفر لي, هكذا أمرني رسول الله
 
Seorang laki-laki bertanya pada Abu Hurairah: “Kau Abu Hurairah?”
 
Abu Hurairah menjawab: “Benar.”
 
Laki-laki itu bertanya lagi: “Sang pencuri dzarîrah (salah satu jenis wewangian)?”
 
Abu Hurairah berkata: “Ya Allah, jika dia berbohong, maka ampunilah dia. Jika dia benar, maka ampunilah aku. Seperti inilah yang diperintahkan (diajarkan) Rasulullah kepadaku.” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi,  Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 247)
 
****
 
Dari jawaban Sayyidina Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia menunjukkan sikap yang diajarkan Rasulullah, atau lebih tepatnya diperintahkan Rasulullah, karena kata yang digunakan adalah “amaranî” (memerintahkan kepadaku). Artinya bersikap memaafkan dan membalas tuduhan dengan doa kebaikan merupakan akhlak yang harus diteladani. Menariknya, doa yang dipanjatkan Sayyidina Abu Hurairah tidak hanya merujuk pada orang yang mencurigainya, tapi juga terhadap dirinya sendiri.
 
Ini membuktikan bahwa, ia sebagai manusia berpeluang salah dan butuh ampunan Tuhan. Barangkali ia pernah secara tak sengaja melakukan kesalahan atau tertempel minyak wangi dan mendapat tuduhan ini. Karena itu, ia tak lupa memanjatkan doa untuk dirinya sendiri: “Ya Allah, jika dia benar, maka ampunilah aku.” Penggunaan kata “shadîqan” (benar/jujur) menunjukkan kerendahan-hati dan ketulusannya. Karena bagaimanapun juga, di titik tertentu manusia pati mengalami perasaan tidak bersalah atau tidak merasa melakukan kesalahan meski ia sebenarnya melakukannya. 
 
Di poin inilah kenapa memohon ampun kepada Allah sangat penting. Karena di setiap tuduhan, gunjingan dan celaan yang kita terima, bisa jadi ada kebenaran di dalamnya. Hanya karena disampaikan dengan cara yang buruk dan menyinggung, kita marah dan menganggapnya sebagai hinaan. Kita menjadi lupa akan sisi kemanusiaan kita yang kemungkinan salahnya tidak lebih kecil dari kemungkinan benarnya.
 
Sayyidina Abu Hurairah juga mendoakan orang yang mencurigainya dengan mengucapkan: “Ya Allah, jika dia berbohong, maka ampunilah dia.” Jika kita menelaahnya lebih dalam, doa ini menunjukkan ketidak-relaan Sayyidina Abu Hurairah jika ada orang yang berdosa karenanya, atau ia menjadi penyebab dosa orang tersebut. Tuduhan palsu adalah perbuatan dosa, maka sudah bisa dipastikan laki-laki yang menuduh Sayyidina Abu Hurairah akan menanggung dosa. Artinya, ia menjadi penyebab tidak langsung dosa orang tersebut. Karena itu, ia memohonkan ampunan kepadanya jika dia berbohong. 
 
Apa yang dilakukan Sayyidina Abu Hurairah ini merupakan kasih sayang. Karena ia tak mau ada orang yang menanggung dosa karena tuduhan kepadanya. Ia ingin setiap kesalahan orang kepadanya diampuni oleh Tuhan. Sebagai murid langsung Rasulullah, tentunya ia ingin agar semua orang terbersihkan dari dosa. Ia tak mau melihat orang-orang kesusahan di akhirat kelak.
 
Karena itu, dalam jawabannya yang berupa doa, ia melakukan dua hal sekaligus untuk orang tersebut. Pertama, memohonkan ampunan untuknya agar tidak terbebani dosa dari tuduhannya. Kedua, ia sedang mengajarkan akhlak yang baik seperti yang diperintahkan Rasulullah. Ia tidak menampakkan kemarahan dan tidak melakukan pembelaan diri. Ia malah bergegas berdoa, memohonkan ampunan untuk orang yang mencurigainya dan memohon ampun untuk dirinya sendiri. 
 
Tindakan ini dibarengi dengan pertunjukkan akhlak yang baik, yaitu tidak menggunakan kata gantu “kau”, “kamu” atau “Anda” dalam doanya. Ia menggunakan kata ganti orang ketiga, “dia”. Dengan menggunakan kata ganti orang ketiga, Sayyidina Abu Hurairah tidak menuduh secara langsung orang di depannya berbuat salah, sekaligus memohonkan ampunan untuk para pembawa mata rantai berita “pencuri minyak wangi” hingga sampai kepada orang yang di depannya ini. 
 
Dengan demikian, ia sedang berdakwah dan mendidik orang yang menuduhnya ini. Dakwah yang ditampilkan dengan wajah yang sejuk, menembus relung hati, dan membuat objeknya tak habis pikir. Maksud “tak habis pikir” adalah memberikan efek kejut yang luar biasa. 
 
Sebab, dalam batasan tertentu manusia bisa memprediksi respon umum yang akan dilakukan seseorang. Misalnya jika pribadinya dihina, atau kebaikannya dipertanyakan, sudah bisa dipastikan responsnya akan marah, sakit hati, tersinggung, membela diri, memusuhi, bahkan mungkin membalas. Tapi respon yang ditampilkan Sayyidina Abu Hurairah berbeda, ia menampakkan sesuatu yang di luar prediksinya, ditambah lagi Sayyidina Abu Hurairah menutupnya dengan perkataan, “Seperti inilah yang diperintahkan Rasulullah kepadaku (ketika sedang menghadapi hal-hal semacam ini).”
 
Pertanyaannya, maukah kita meneladaninya?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...

 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Share:

Baca Juga

Jumat 27 September 2019 14:0 WIB
Ilmu Laduni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ketawadhuan Sayyidina Ali
Ilmu Laduni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ketawadhuan Sayyidina Ali
Ilustrasi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. (NU Online)
Ada sebuah pepatah bahasa Arab yang mengatakan ‘Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah.’ Pepatah di atas menunjukkan bahwa selain memiliki kewajiban mencari ilmu, seseorang dituntut pula untuk menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Mengapa demikian? Karena dengan mengamalkan, hakikatnya secara tersirat ia juga belajar.

Dalam Al-Quran, Allah swt memberikan jaminan kepada orang yang mengamalkan ilmunya, dia akan memperoleh ilmu yang tidak tertulis di dalam kertas atau yang sering biasa kita sebut dengan Ilmu Ladunni. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 282, “Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan memberikan pengajaran kepada kalian, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” 

Menurut sebagian al-`Arifin (orang yang dekat dan mengenal Allah) tafsiran dari ayat di atas adalah bahwa barang siapa yang menempati maqam takwa, maka dia pantas dan layak menerima warisan ilmu Allah yaitu Ilmu Ladunni. 

Menurut sebagian ulama Ilmu Ladunni merupakan ilmu yang diletakkan oleh Allah di dalam hati para kekasih-Nya (waliyullah), dan inilah yang dilakukan oleh Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam berdakwah menyebarkan ilmunya. 

Ada banyak kisah tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang tidak dijelaskan di dalam kitab-kitab ulama zaman dahulu, namun diceritakan di dalam kitab-kitab karangan habaib dan ulama Hadlramaut, Tarim, Yaman. 

Negeri Yaman sering dijuluki Baldatun Auliya (negerinya para wali). Jadi wajar saja apabila banyak dijumpai kisah tentang karomah para wali dan ulama yang tidak dijelaskan secara detail dalam kitab-kitab lain, termasuk ketika Rasulullah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani di saat mau berdakwah menyebarkan ilmu dikarenakan keder di hadapan para jamaahnya. 

Kisah ini juga diungkap dalam kitab al-Fawāid al-Mukhtārah Lisāliki Ṭarīq al-Ākhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, seorang santri yang berguru kepada Habib Zain ibn Ibrahim ibn Smith di Hadlramaut, Tarim, Yaman.

Alkisah, suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani melihat kehadiran Rasulullah mendatanginya sebelum melaksanakan Shalat dzuhur. Seketika itu ia kaget bukan main dan tidak jadi melanjutkan shalat. Tak lama kemudian, Rasulullah bertanya;
 
“Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara di hadapan orang banyak?”

“Wahai ayahku, aku ini tumbuh dan besar di tengah-tengah penduduk yang tidak pandai berbicara. Lantas bagaimana aku mau berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad yang pandai berbicara, ditambah lagi ulamanya banyak yang alim?” jawab Syekh Abdul Qadir dengan rasa malu.

Mendengar jawaban Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rasulullah langsung memerintahkan beliau untuk membuka mulutnya. Lalu Rasulullah meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebanyak tujuh kali. Kemudian beliau bersabda, “Sekarang, pergilah dan bicaralah di hadapan manusia. Berdakwalah dan ajak mereka ke jalan Allah, berikan mereka nasihat-nasihat yang baik.”

Begitulah kasih sayang Rasulullah terhadap Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sebagai keturunannya, Rasulullah terus menerus membimbingnya dalam berdakwah menyebarkan ilmu kepada seluruh manusia. Setelah kejadian tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani melaksanakan Shalat Dzuhur dan duduk sambil memikirkan bagaimana caranya untuk berdakwah di hadapan penduduk Kota Baghdad yang memiliki banyak ulama sangat alim. Mengingat dirinya bukanlah orang yang pandai berbicara. 

Selang beberapa saat, penduduk Kota Baghdad berbondong-bondong mendatangi Syekh Abdul Qadir al-Jailani di dalam masjid. Mereka meminta Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk memberikan pengajian kepada mereka. Sontak saja beliau bingung apa yang harus disampaikan kepada mereka, saat itu sekujur tubuhnya gemetar dan keder menghadapi penduduk Baghdad.

Disaat Syekh Abdul Qadir al-Jailani kebingungan, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang dan masuk ke dalam masjid sambil berdiri di hadapannya. Sayyidina Ali bertanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani seperti apa yang telah ditanyakan Rasulullah.

“Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara dihadapan orang banyak?” 

“Wahai ayahku, aku tidak bisa, tubuhku dari tadi gemetar dan aku gerogi dihadapan sekian banyak orang ini,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab tanpa rasa malu.

Tak ingin menunggu lama, Sayyidina Ali memerintahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk kembali membuka mulutnya sebagaimana perintah Rasulullah sebelumnya. Lalu Sayyidina Ali meludahi mulutnya sebanyak enam kali. Hal itu membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani heran. 

“Mengapa engkau (Sayyidina Ali) hanya meludahi mulutku enam kali, sedangkan Rasulullah tujuh kali?” tanya al-Jailani. 

“Ini merupakan adab kepada Rasulullah dengan tidak melebihi darinya,” jelas Sayyidina Ali.

Setelah kejadian tersebut, Sayyidina Ali bersembunyi dan mengintip apakah Syekh Abdul Qadir al-Jailani masih takut dan gemetar berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad ataukah tidak. Mungkin berkah dari ludah Rasulullah dan Sayyidina Ali, akhirnya beliau mulai berbicara dan berdakwah di hadapan mereka tanpa ada lagi rasa gemetar dan takut dalam dirinya.

Jika kita memahami alur kisah inspiratif di atas, ada hal yang sangat menarik yang perlu kita contoh yaitu mengapa Sayyidina Ali hanya meludahi mulutnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani enam kali. Di sinilah kita perlu melihat betapa adabnya Sayyidina Ali begitu mulia, hingga ‘masalah sepele’ saja ia tidak mau melebihi apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah.

Itulah mengapa begitu sangat pentingnya adab dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan adab lah derajat seseorang akan diangkat oleh Allah. Terbukti seperti adab Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Allah angkat derajatnya dan menjadikannya ‘Raja dari Seluruh Para Wali’. 

Lantas bagaimana dengan ilmu, bukankah itu juga merupakan elemen penting dalam kehidupan sehari-hari? Ilmu juga merupakan unsur yang sangat penting, namun itu setelah adab. Dahulukanlah adab dari pada ilmu. Setinggi apapun ilmu seseorang, tetapi jika ia menjadikan akhlah sebagai elemen yang kedua setelah ilmu, maka sungguh tidak berharga ilmu tersebut.

Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo.
Kamis 26 September 2019 11:0 WIB
Ketika Fatwa Imam Abu Hanifah Ditolak Ibunya
Ketika Fatwa Imam Abu Hanifah Ditolak Ibunya
Ada beberapa pelajaran penting dari kisah ulama sekaliber Imam Abu Hanifah. (Ilustrasi: sothebys.com)
Dalam kitab Târîkh Baghdâd Madînah al-Sallâm, Imam al-Khatib al-Baghdadi memasukkan sebuah riwayat ketika ibu Imam Abu Hanifah tidak menerima fatwanya. Berikut riwayatnya:
 
أخبرنا الخلاّل، أخبرنا الحريري أن النخعي حدثهم قال: حدّثنا أبو صالح البختريّ ابن محمّد، حدّثنا يعقوب بن شيبة قال: حدثني سليمان بن منصور قال: حدثني حجر بن عبد الجبّار الحضرمي قال: كان في مسجدنا قاص يقال له زرعة، فنسب مسجدنا إليه و هو مسجد الحضرميين، فأرادت أم أبي حنيفة أن تستفتي في شي‏ء فأفتاها أبو حنيفة فلم تقبل، فقالت: لا أقبل إلا ما يقول زرعة القاص، فجاء بها أبو حنيفة إلى زرعة فقال: هذه أمي تستفتيك في كذا و كذا، فقال: أنت أعلم مني و أفقه، فأفتها أنت فقال أبو حنيفة قد أفتيتها بكذا و كذا فقال زرعة القول كما قال أبو حنيفة، فرضيت و انصرفت.
 
Al-Khallal bercerita, al-Hariri bercerita, bahwa al-Nakha’i bercerita kepada mereka, ia berkata: Abu Shalih bin Muhammad bercerita, Ya’qub bin Syaibah bercerita, Sulaiman bin Mansur bercerita, Hujr bin Abdul Jabbar al-Hadrami berkata:
 
Di masjid kami ada seorang tukang dongeng bernama Zur’ah. Masjid kami dinisbatkan kepadanya, masjid orang-orang Hadrami. (Suatu ketika) ibu Abu Hanifah meminta fatwa tentang sesuatu, lalu Abu Hanifah memberinya fatwa, tapi ia tidak menerimanya.
 
Ia (ibu Abu Hanifah) berkata: “Aku tidak akan menerima (fatwa) kecuali apa yang disampaikan Zur’ah al-Qash.”
 
Kemudian Abu Hanifah mengantar ibunya ke (tempat) Zur’ah, ia berkata: “Ini ibuku, ia meminta fatwamu dalam hal begini dan begini...”
 
Zur’ah menjawab: “Kau lebih berilmu dan lebih memahami (ilmu fiqih) dibandingkanku, (seharusnya) kaulah yang memberinya fatwa.”
 
Abu Hanifah berkata: “Aku telah memberinya fatwa begini dan begini, (tapi ia tidak menerimanya).”
 
Zur’ah berkata: “Ucapan(ku) sebagaimana yang diucapkan Abu Hanifah.”
 
Maka sang ibu menerimanya dan pergi. (Imam al-Khatib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd Madînah al-Sallâm, Beirut: Dar al-Gharb al-Islamiy, 2002, juz 15, h. 501)
 
**** 
 
Baca juga:
 
Kisah di atas mengajarkan beberapa hal kepada kita. Pertama, mengajarkan kerendahan-hati (tawadlu’). Dalam kisah di atas, ada dua kerendahan-hati yang perlu kita pahami. Kerendahan hati Imam Abu Hanifah dan kerendahan hati Zur’ah al-Qash. 
 
Kerendahan-hati Imam Abu Hanifah ditunjukkan dengan mengantarkan ibunya secara langsung ke Zur’ah al-Qash. Ia tidak membujuk ibunya untuk mempercayainya dengan membesarkan dirinya, bahwa ia seorang ahli fiqih, ulama besar, dan seorang mujtahid, atau dengan mengatakan bahwa Zur’ah bukanlah seorang ulama. Ia dengan senang hati mengantar ibunya ke tempat Zur’ah tinggal.
 
Sementara kerendahan-hati Zur’ah ditunjukkan dengan mengatakan, “Kau lebih berilmu dan lebih memahami (ilmu fiqih) dibandingkanku.” Ia tidak bangga dengan kehadiran Imam Abu Hanifah dan ibunya untuk bertanya sesuatu kepadanya. Ia tahu kapasitas keilmuannya tidak lebih baik dari Abu Hanifah. Karena itu, ia tidak menggunakan kata “aftaituki” (aku berfatwa kepadamu), tapi menggunakan kalimat, “al-qaul kamâ qâla Abû Hanîfah” (ucapan[ku] sebagaimana ucapan Abu Hanifah). Penggunaan kata “al-qaul” (perkataan/ucapan) menunjukkan kesadarannya tentang kapasitas dirinya, bahwa ia belum pantas mengeluarkan fatwa, apalagi di hadapan seorang mujtahid seperti Imam Abu Hanifah.
 
Kedua, mengajarkan bakti kepada orang tua (birrul wâlidain). Dengan mengantarkan ibunya secara langsung, menunjukkan bakti Imam Abu Hanifah kepada ibunya. Ia tidak takut orang akan menggunjingnya karena mengantar ibunya bertanya perihal agama ke orang lain. Demi menyenangkan ibunya, ia tak ragu melakukan sesuatu, yang dalam pandangan orang sekarang, menurunkan kredibilitasnya sebagai ulama. Bisa jadi ada yang mengatakan, “Abu Hanifah tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya,” atau perkataan, “Ibunya sendiri tidak mempercayainya.” Semua itu tidak digubrisnya. Baginya, berbakti kepada orang tua jauh lebih penting dari kedudukannya.
 
Karena itu, jangan pernah sekalipun kita meninggalkan bakti kepada orang tua, buat mereka bahagia, baik dalam sikap maupun perkataan, apalagi sampai membuatnya bersedih dan menangis. Dalam sebuah riwayat dikatakan (HR. Imam al-Bukhari):
 
حدثنا حماد بن سلمة عن زياد بن مخراق عن طيسلة, أنه سمع ابن عمر يقول: بكاء الوالدين من العقوق والكبائر
 
Hammad bin Salamah bercerita, dari Ziyad bin Mikhraq, dari Thaysalah, sesungguhnya ia mendengar Ibnu Umar berkata: “Tangisan kedua orang tua termasuk bentuk kedurhakaan dan dosa besar” (Imam al-Bukhari, Adâb al-Mufrad, h. 19).
 
Ketiga, mengajarkan pendidikan. Bisa jadi penolakan ibunya dilakukan untuk mendidik atau menguji anaknya, Imam Abu Hanifah,  yang telah menjadi ulama besar yang fatwanya diikuti hampir semua orang. Bisa jadi ibunya sengaja melakukan itu untuk mengukur kedalaman anaknya. Ia khawatir kemuliaan dan penghormatan telah menghanyutkan anaknya dalam lautan ujub, takabbur dan riya. Jika memang demikian, itu berarti sang ibu sedang menjalankan perannya sebagai madrasah, pendidik paling awal dan dekat untuk anaknya.
 
Pertanyaannya, seberapa sering kita belajar berendah hati, berbakti dan merasa ingin untuk dididik?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Sabtu 21 September 2019 22:0 WIB
Mimpi Rasulullah Menyaksikan Orang yang Dapat Siksa Akhirat
Mimpi Rasulullah Menyaksikan Orang yang Dapat Siksa Akhirat
Rasulullah pun biasa bermimpi, dan mimpinya adalah haq dan bersumber dari wahyu. (Ilustrasi: NU Online)
Bila berjamaah subuh usai, Rasulullah ﷺ sering kali bercengkrama dengan para sahabat. Bertanya soal mimpi yang mereka alami, kemudian beliau menafsirkannya. Bila tak ada yang bermimpi, beliau sendiri yang bercerita. Pagi itu pun beliau bercerita tentang mimpi yang dialaminya:
 
“Tadi malam, aku mimpi didatangi oleh dua orang. Sepertinya, mereka memang diutus menemuiku dan mengajakku pergi. Aku pun pergi bersama mereka. Tak lama berjalan kami mendapati seorang laki-laki yang tengah berbaring. Tak jauh darinya ada laki-laki lain yang sedang berdiri sambil memegang batu besar. Tiba-tiba laki-laki yang berdiri menjatuhkan batunya ke kepala laki-laki yang berbaring, hingga batu pun pecah berhamburan kemana-mana. Setelah itu, ia kembali mengambil batunya. Tidaklah ia mengulangi perbuatannya kecuali kepala si laki-laki yang berbaring kembali ke bentuk semula. Laki-laki yang memegang batu pun kembali mendekati laki-laki yang berbaring dan mengulangi hal yang sama. 
 
Aku kemudian bertanya kedua kawanku, ‘Subhanallah, mengapa dua orang laki-laki itu?’ Namun, keduanya malah kembali mengajakku pergi, ‘Pergi… pergi…!’ Kami pun pergi lagi. Tak lama kemudian, kami mendapati seorang laki-laki yang telentang. Tak jauh darinya ada seorang laki-laki yang berdiri dan membawa pengait besi. Tiba-tiba laki-laki yang membawa pengait mendekati salah satu pipinya, lalu menyobek bagian pojok mulutnya hingga tengkuk, dari lubang hidungnya hingga ke tengkuk, dan dari bagian matanya ke tengkuk. Setelah itu, ia beralih ke pipi sebelahnya dan melakukan hal serupa seperti pada pipi sebelumnya. Belum juga usai melukai pipi berikutnya, pipi sebelumnya sudah sehat seperti semula. Kemudian laki-laki yang berdiri kembali mendekati laki-laki yang telentang dan melakukan hal yang sama. 
 
Aku bertanya lagi kepada keduanya, ‘Subhanallah, mengapa dua orang laki-laki itu?’ Alih-alih menjawab, keduanya malah mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Akhirnya, kami pun pergi meninggalkan tempat itu, sampai di suatu tempat di mana ada benda yang menyerupai tungku pembakaran. Tiba-tiba terdengar suara riuh dan gemuruh. Ternyata di sana banyak laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tak lama berselang, datanglah jilatan api dari bawah menuju mereka. Begitu jilatan api mengenai mereka, mereka sontak menjerit dan berteriak. 
 
Aku pun bertanya kepada kedua kawanku, ‘Siapakah mereka?’ Alih-alih menjawab, keduanya malah mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Kami kemudian pergi lagi, hingga tiba di sebuah sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berenang di sana. Tepat di samping sungai ada seorang laki-laki yang sedang mengumpulkan batu yang banyak. Begitu berenang dan mendekat ke arah laki-laki yang mengumpulkan batu, laki-laki yang berenang langsung membuka mulutnya dan disuapi batu oleh laki-laki yang ada di pinggir sungai. Setelah itu, laki-laki tadi kembali berenang dan membuka lagi mulutnya, serta disuapi lagi oleh laki-laki yang di pinggir sungai.
 
Aku bertanya lagi kepada mereka berdua, ‘Ada apa dengan kedua lelaki itu?’ Seperti sebelumnya. Daripada menjawab, mereka malah mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Akhirnya, kami pun kembali pergi sampai bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat buruk rupanya, seburuk-buruknya wajah laki-laki yang paling kamu benci. Tak jauh di dekatnya ada api yang menyala-nyala. Dan ia berjalan-jalan di sekitarnya. Aku bertanya kepada kedua kawanku, ‘Ada apa dengan lelaki ini?’ Daripada menjawab, mereka justru mengajakku pergi lagi, ‘Pergi… pergi…!’ Akhirnya, kami kembali pergi, sampai menemukan sebuah taman yang sangat indah dan menyenangkan. Di dalamnya terdapat berbagai macam bunga. Tiba-tiba di tengahnya terlihat ada seorang laki-laki yang berpostur tinggi. Sampai-sampai aku harus mengangkat kepala untuk melihatnya. Di sekitar laki-laki itu banyak anak-anak yang sama sekali belum pernah aku lihat. 
 
Aku bertanya kepada kedua kawanku, ‘Siapakah anak-anak itu?’ Tapi mereka justru mengajakku pergi lagi. Akhirnya, kami kembali pergi, sampai tiba di suatu taman yang sangat besar. Aku sama sekali belum pernah melihat taman sebesar dan seindah itu. Keduanya berkata kepadaku, ‘Masuklah ke dalamnya.’ Dan kami pun masuk.
 
Sampailah kami di sebuah kota yang dibangun dengan bata-bata emas dan perak. Kami menuju pintu kota itu, lalu meminta dibukakan. Maka dibukalah pintunya dan kami memasukinya. Di sana kami berjumpa dengan sejumlah laki-laki yang separuh rupanya setampan yang pernah engkau lihat, sedangkan separuh rupanya seburuk yang pernah engkau lihat. Kedua kawanku berkata kepada mereka, ‘Pergilah kalian, lalu masuklah ke dalam sungai.’ Tiba-tiba sungai itu mengalir berlawanan, airnya bagaikan susu yang sangat putih. Kemudian mereka pergi dan masuk ke dalam sungai tersebut. Tak lama berselang, mereka kembali lagi kepada kami, dengan rupa yang semula buruk sudah hilang dari mereka. Kini mereka menjadi sangat tampan. Kedua kawankku kemudian berkata, ‘Ini adalah surga Adn. Dan itu rumahmu.’ Mataku melihat ke atas dan terus ke atas. Ternyata ada sebuah istana seperti berada di awan putih. Mereka berdua berkata lagi, ‘Itu rumahmu.’ Aku berkata, ‘Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian yang telah mengajakku, sehingga aku bisa memasukinya.’ Keduanya lalu menyampaikan, ‘Namun sekarang, engkau belum diperbolehkan memasukinya.’ 
 
Aku lantas menyampaikan kepada kedua kawanku, ‘Sesungguhnya sejak tadi aku melihat beberapa keanehan, apa sesungguhnya yang telah kulihat itu?’ Keduanya lalu menjelaskan, ‘Baiklah kami akan memberi tahumu. Laki-laki pertama yang engkau jumpai dan dipecahkan kepalanya dengan batu, adalah orang yang mengambil Al-Qur’an, tapi menolaknya dan malah tidur sewaktu shalat fardhu. Kemudian laki-laki yang disobek pojok mulutnya hingga tengkuknya, dari lubang hidung ke tengkuknya, dari mata hingga tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya kemudian menyebarkan kebohongan ke mana-mana.’ 
 
‘Selanjutnya sejumlah laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di atas tungku perapian adalah para pezina. Lalu laki-laki yang berenang di sungai serta disuapi batu-batu, adalah orang yang melakukan riba. Berikutnya, laki-laki yang rupanya sangat tidak disukai, berada di dekat api, dan berjalan di sekitarnya, adalah malaikat Malik penjaga neraka. Kemudian laki-laki yang tinggi dan berada di taman, adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu anak-anak yang ada di sekitarnya adalah anak-anak yang meninggal dalam keadaan masih suci (belum balig). Termasuk di dalamnya anak-anak kaum musyrikin. Sementara kaum yang separuh tampan dan separuh jelek, mereka adalah yang suka mencampuradukkan amal saleh dan amal buruk. Namun kemudian Allah mengampuni mereka’.” 
 
***
 
Demikian mimpi Rasulullah ﷺ menyaksikan orang-orang yang mendapat siksa di akhirat. Selengkapnya hadits ini dapat dilihat dalam Shahîh al-Bukhari, tepatnya dalam “Kitâb Ta‘bîr al-Ru’yâ, Bâb Ta‘bîr al-Ru’yâ Ba‘da Shalât al-Subh” nomor hadits 7047; dan dalam “Kitâb al-Janâ’iz,” nomor hadits 1386. 
 
Dari hadits di atas dapat dipetik beberapa pesan dan pelajaran, di antaranya. Pertama, Rasulullah ﷺ kerap bertanya tentang mimpi yang dialami para sahabatnya. Beliau lalu menafsirkannya. Jika tidak ada, beliau sendiri yang bercerita. 
 
Kedua, Rasulullah ﷺ pun biasa bermimpi, dan mimpinya adalah haq dan bersumber dari wahyu. Demikian halnya dengan mimpi para nabi lainnya. Adapun mimpu selain para nabi, sebagian ada yang benar, sebagian ada yang tidak, bahkan sebagian ada yang berasal dari setan dan luapan nafsu. 
 
Ketiga, hadits di atas merupakan bantahan bagi orang yang tidak senang menceritakan mimpinya sebelum terbit matahari. Buktinya, Rasulullah ﷺ suka bertanya kepada para sahabatnya tentang mimpi mereka. 
 
Keempat, nikmat dan siksa akhirat itu yakin ada. Ganjaran dan balasan di hari kemudian memang nyata adanya. Dan balasan itu serupa dengan perbuatannya. Contohnya orang yang suka mencampuradukkan yang hak dan yang batil akan diwujudkan dalam rupa yang separuh bagus dan separuh buruk. Orang yang suka menebar kebohongan, mulutnya disobek dengan besi pengait. Dan seterusnya. 
 
Kelima, neraka adalah makhluk yang diciptakan Allah dan dipersiapkan pada hari Pembalasan untuk orang-orang yang berbuat jahat. Dijaga oleh malaikat Malik yang dikenal berwajah buruk dan menakutkan.
 
Keenam, hadits ini juga memuat peringatan keras terhadap para pembohong, pembuat hoaks, penyebar berita palsu di tengah masyarakat. Sebab, semuanya ada akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Begitu pun bagi para pezina, peninggal shalat, para pelaku riba, dan yang lainnya. 
 
Ketujuh, anak-anak kecil yang meninggal sebelum balig, termasuk anak-anak orang musyrik, akan dimasukkan ke dalam ke surga dan mereka berada di bawah asuhan Nabi Ibrahim 'alaihissalam
 
Kedelapan, surga juga termasuk salah satu makhluk Allah yang dibangun dari emas dan perak. Ia merupakan taman yang sangat luas dan indah. Di dalamnya mengalir sungai-sungai dan istana-istana yang megah. Dan istana yang paling megah adalah istana Rasulullah yang tingginya menjulang mencapai awan dan mencakar langit. 
 
Kesembilan, Allah dengan rahmat dan kehendak-Nya akan mengampuni para hamba-Nya yang mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk. Ampunan-Nya dipersiapkan bagi mereka, sehingga keindahan jiwa mereka akan kembali dan keburukan mereka akan terhapus. 
 
Kesepuluh, sesungguhnya Rasulullah ﷺ di-isra’-kan dan di-mi‘raj-kan ke langit, bukan hanya ruhnya saja, melainkan dengan tubuhnya. Adapun isra’ dan mi‘raj Rasulullah ﷺ yang disebutkan hadits di atas hanya ruhnya saja. Dan peristiwa seperti ini terjadi berkali-kali. 
 
Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memetik hikmah dari kisah hadits di atas. Wallahu a’lam
 
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.