IMG-LOGO
Tafsir

Keutamaan Infak di Jalan Allah dalam Tafsir Al-Qur’an

Selasa 1 Oktober 2019 7:0 WIB
Share:
Keutamaan Infak di Jalan Allah dalam Tafsir Al-Qur’an
Ilustrasi: pixabay
Syariat agama Islam memiliki tiga sub-ajaran pokok, yaitu Imân, Islâm dan Ihsân. Ketiga sub ini sebenarnya berangkat dari sebuah hadits masyhûr yang biasa dikenal dengan istilah hadits Jibril.

Salah satu dari ketiga sub-ajaran itu adalah ihsân. Secara definitif, ihsân ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai:

قال فأخبرني عن الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك رواه مسلم

Artinya, “Jibril berkata lagi, ‘Beritahu aku apa itu ‘Ihsân!’’ Rasul menjawab, ‘Ihsân itu adalah jika Anda mengabdi kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya, dan andai Anda tidak dapat melihatnya, maka Dia pasti melihat Anda,’” (HR Muslim).

Ihsân berasal dari fi’il tsulatsy mazîd dengan formula ah-sa-na (أحسن) yang makna literalnya adalah “berbuat baik, melakukan dengan baik, melampaui atau mengetahui dengan baik.” Jika mengikuti wazan fi’il tsulatsy mujarrad (kata kerja dasar) ha-su-na, maka arti literalnya adalah baik atau bagus.

Di dalam Al-Qurân, rumpun kata ini dipergunakan sebanyak kurang lebih 166 kali, yang secara bergantian menggunakan diksi al-husnâ, hasanah, hasanât, ahsana (fi’il), ahsanu (isim tafdhil), husnan, muhsinîn, ahsin (fi’il amar), dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan ini, kita hendak mengurai penggunaan diksi hasan pada ayat Surat Al-Baqarah ayat 245. Allah SWT berfirman:

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Di dalam Tafsir Al-Mishbah, KH Quraish Shihab menjelaskan penafsiran ayat ini sebagai berikut:

“Berjuang di jalan Allah memerlukan harta, maka korbankan harta kalian. Siapa yang tidak ingin mengorbankan hartanya, sementara Allah telah berjanji akan membalasnya dengan balasan berlipat ganda? Rezeki ada di tangan Allah. Dia bisa mempersempit dan memperluas rezeki seseorang yang dikehendaki sesuai dengan kemaslahatan. Hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan, lalu dibuat perhitungan atas pengorbanan kalian. Meski rezeki itu karunia Allah dan hanya Dia yang bisa memberi atau menolak, seseorang yang berinfak disebut sebagai ‘pemberi pinjaman’ kepada Allah. Hal itu berarti sebuah dorongan untuk gemar berinfak dan penegasan atas balasan berlipat ganda yang telah dijanjikan di dunia dan akhirat.”

Penafsiran yang disampaikan oleh KH Quraish Shihab di atas menjelaskan bahwa makna lafal hasanan yang dilekatkan pada qardhan (utang) adalah bermakna kerelaan seseorang mengorbankan hartanya dengan jalan infaq.

Orang yang demikian ini ibarat orang yang meminjami Allah dan baginya kelak dijanjikan berupa kelipatan pahala yang banyak baik di dunia maupun di akhirat. Penafsiran ini tampaknya senada dengan penafsiran Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Ia menyampaikan:

يحث تعالى عباده على الإنفاق في سبيله ، وقد كرر تعالى هذه الآية في كتابه العزيز في غير موضع

Artinya, “(Dengan ayat ini) Allah SWT menganjurkan kepada para hamba-Nya agar gemar berinfaq di jalan-Nya. Dia mengulang-ulang anjuran ini dalam kitab-Nya Yang Maha Mulia ini (Al-Qurân) dalam berbagai ayat yang lain,” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Katsir, http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya245.html).

Masih menurut Ibnu Katsir, berdasarkan hadits yang melatari turun ayat ini, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Abi Hat’im dari sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud, sebuah keterangan menyebutkan bahwa:

لما نزلت : ( من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له ) قال أبو الدحداح الأنصاري : يا رسول الله وإن الله ليريد منا القرض ؟ قال : " نعم يا أبا الدحداح " قال : أرني يدك يا رسول الله . قال : فناوله يده قال : فإني قد أقرضت ربي حائطي . قال : وحائط له فيه ستمائة نخلة وأم الدحداح فيه وعيالها . قال : فجاء أبو الدحداح فناداها : يا أم الدحداح . قالت : لبيك قال : اخرجي فقد أقرضته ربي عز وجل

Artinya, “Ketika ayat (man dzal ladzi yuqridhulllaha qardhan hasanan fayudhâ’ifahu lahu)  ini turun, terdapat seorang sahabat yang bernama Abud Dahdah dari kalangan sahabat Anshar menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menghendaki kita agar mengutangi-Nya?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Benar, wahai Abud Dahdâh.’ Abud Dahdâh berkata, ‘Perlihatkan tangan Anda, Wahai Rasulullah!’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Lalu tangan Rasulullah diraih.’ Abud Dahdâh berkata, “Aku mengutangkan tembokku kepada Tuhanku.’ Ia melanjutkan, ‘Tembok itu terdiri atas 600 pohon kurma yang Ummud Dahdâh beserta keluarganya tinggal di dalamnya.’ Ibnu Mas’ud kemudian berkata, ‘Lalu pulang Abud Dahdâh menghampiri istrinya dan memanggilnya, ‘Wahai Ummud Dahdâh!’ Sang istri menjawab, ‘Saya, suamiku.’ Abud Dahdâh berkata, ‘Keluarlah kamu! Aku telah mengambil janji mengutangkan semua ini kepada Tuhanku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung,’” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya245.html).

Tindakan Abud Dahdâh ini merupakan bentuk pengamalan dari ayat yang berisi qardhan hasanan di atas. Artinya, ayat itu berkisah tentang kerelaan sahabat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah sebagaimana disinggung oleh kedua mufassir di atas. Hadits riwayat tafsir ini juga disampaikan oleh mufassir yang lain, yaitu Al-Baghawy, At-Thabary dan Al-Qurthuby. Syekh Jalâluddin Al-Mahally menyampaikan dalam Tafsir Jalâlain secara umum pengertian yang sama.

Ada penafsiran lain terkait dengan “qardhan hasanan” berdasar hadits riwayat sahabat Umar bin Khathab dalam rupa hadits marfu’ yang sanadnya bersambung sampai Rasulullah SAW. Umar berkata هو النفقة في سبيل الله (yaitu, infaq di jalan Allah SWT). Dalam penafsiran lain disebutkan هو النفقة على العيال  (yaitu, memberikan nafkah kepada keluarga).

Ada juga ulama yang menafsirkan sebagai هو التسبيح والتقديس (yaitu, membaca tasbîh dan taqdîs (penulis memahasucikan Allah dan menyucikan dari segala bentuk hal yang mengarah kepada penyekutuan).

Riwayat hadits lain yang menjelaskan proses turunnya ayat menjelaskan bahwa ayat ini turun setelah Surat Al-Baqarah ayat 261 dan berfungsi menjelaskannya. Allah SWT berfirman:

مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل

Artinya, “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti menanam sebuah biji, yang darinya tumbuh tujuh tandan,” (Surat Al-Baqarah ayat 261).

Saat itu, kemudian Nabi SAW berdoa رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Lebihkan atas umatku!). Dari sini lalu turun ayat من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له أضعافا كثيرة (Siapa saja yang memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatkan baginya berupa pahala dengan kelipatan yang banyak). Ternyata Rasulullah SAW tidak berhenti sampai di sini. Ia berdoa lagi: “رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Berikan tambahan lagi atas umatku!). Lalu turunlah ayat yang lain:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya, “Katakan [Muhammad]! Wahai hamba-Ku yang terdiri atas orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Bagi mereka yang telah berbuat baik di dalam kehidupan dunia ini, terdapat sebuah kebaikan (yang dijanjikan). Bumi Allah teramat luas. Sungguh, orang-orang yang penyabar akan diberikan pahala yang tidak dapat dihitung,” (Surat Az-Zumar ayat 10).

Yang menarik dari tafsir ayat dengan ayat ini, adalah ada diksi yang disertakan dalam Surat  Az-Zumar ayat 10 di atas. Diksi itu adalah وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Penggunaan diksi ini sebagaimana disinggung oleh Mujâhid, makna wâsi’ah selalu identik dengan makna rezeki dunia berupa materi.

Walhasil, penafsiran terhadap Surat Al-Baqarah ayat 245 di atas, seolah menjadi bermakna: “bahwasanya orang yang telah berbuat baik di dunia sebagaimana diibaratkan telah mengutangi Allah, maka bagi dirinya akan diberikan balasan selain berupa pahala yang banyak, dirinya juga akan diberi balasan di dunia berupa materi.”

Dengan kata lain, makna “hasan” pada ayat itu, tidak hanya sebuah perbuatan baik yang berkonotasi akhirat, melainkan juga dunia. Jika makna ayat ternyata juga berkonotasi pada dunia, maka yang dimaksud “mengutangi Allah dengan jalan yang baik,” adalah juga bermakna memberikan pinjaman kepada sanak kerabat yang membutuhkan pinjaman, dan pinjaman itu disampaikan dengan cara yang baik karena semata mengharap ridha Allah.

Dalam konteks fiqih, hal ini disebut dengan istilah pinjaman tabarru’ (sukarela). Karena yang diharapkan hanya ridha Allah, maka tidak ada syarat yang turut disertakan. Namun, pemaknaan ini berasal dari sudut pandang orang yang meminjami (muqridh).

Adapun kewajiban yang berlaku atas orang yang meminjam adalah sebagaimana disinggung oleh Allah SWT dalam Surat Az-Zumar ayat 10, yaitu berbuat ihsân atas pinjaman yang diberikan. Antara hasan dan ihsân terdapat “manajemen risiko” yaitu berupa istihsân sebagaimana disinyalir lewat penggalan ayat وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Inilah pengamalan dari ihsân sebagaimana terdapat dalam hadits Jibril yang telah disinggung dalam awal tulisan ini. Wallâhu a’lam bis shawâb.
 

Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timura
Tags:
Share:

Baca Juga

Ahad 29 September 2019 9:0 WIB
Arti Dharaba di Al-Qur’an: Dari Berjalan Hingga Bagi Peran dan Bagi Hasil
Arti Dharaba di Al-Qur’an: Dari Berjalan Hingga Bagi Peran dan Bagi Hasil
Ilustrasi: sm3ny.com
Mudhârabah merupakan isim musytaq (kata benda jadian) dari lafal yang mengikuti wazan mufâ’alah dari bentuk verbanya ضارب (dibaca: dhâ-ra-ba) dengan bacaan panjang pada ‘ain fi’il-nya. Istilah ini mengutip dasar dari Al-Qur’ân, yaitu Surat An-Nisâ ayat 101 dan Surat Al-Muzammil ayat 20.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنْ الصَّلاة

Artinya, “Ketika kalian mengadakan perjalanan di bumi untuk shafar, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat.” (Surat An-Nisâ ayat 101).

Allah SWT juga berfirman:

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللهِ

Artinya, “Sementara itu, pihak yang lain ada yang mengadakan perjalanan di bumi untuk mencari anugerah dari Allah,” (Surat Al-Muzammil ayat 20).

Kedua ayat ini turun berkaitan dengan upaya umat Islam berbagi tugas menekuni bidang-bidang tertentu. Seolah ayat ini menganjurkan bahwa hendaknya kaum muslimin ada yang bertugas mengurusi tentara, pendidikan, dan ada  pula yang bertugas dalam rangka niaga. Semua dimaksudkan untuk kebutuhan kaum muslimin.

Dari maksud berbagi tugas ini kemudian lahir istilah mudhârabah. Di antara tugas-tugas ini, masing-masing harus saling mengikat dan terkoordinasi serta berhubungan antara satu sama lain. Tidak ada yang lebih utama. Pihak yang mengurus tentara, tidak lebih utama dari mereka yang mengurus ekonomi.

Pihak yang mengurus ekonomi tidak lebih utama dari yang bertugas mengurus pendidikan. Ketiganya tidak pula lebih utama dari petani yang memang menekuni profesi pertaniannya. Sifat jalinan ini disampaikan dalam bentuk wazan mufâ’alah, yang menunjukkan pengertian "saling". Jadi, mudlârabah dalam hal ini juga bermakna saling berbagi 'bagian' atau job.

Di dalam ayat yang lain, Allah SWT memberikan suatu perumpamaan dengan menggunakan ayat dharaba matsalan (memberi perumpamaan). Ketika kosa kata ini dipergunakan, maka lafal dlaraba, seolah menunjukkan pada makna klasifikasi dan penjelasan. Misalnya ayat berikut ini:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Artinya, “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan Istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dikatakan (kepada kedua istri itu), ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka),’” (Surat At-Tahrîm ayat 10).

Di dalam Surat At-Tahrîm ayat 11, Allah SWT juga berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya, “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” (Surat At-Tahrîm ayat 11).

Sebenarnya masih banyak lagi ayat yang menggunakan lafal dharb ini di dalam Al-Qur’an. Namun, dua ayat ini sudah dapat merangkum dari keseluruhan ayat tersebut. At-Thabary dalam kitab tafsirnya, secara tersirat menggambarkan makna dharb dalam kedua ayat terakhir ini sebagai al-washfu wat tabyîn (spesifik/klasifikasi dan penjelasan).

Ditinjau dari sisi balaghahnya, ayat-ayat di atas berkutat di seputar perumpamaan (metafor). Ditinjau dari sisi balaghah (sastra), rukun dari membuat metafor ini ada 4, yaitu adanya musyabbah, musyabbah bihi, wajh syibh dan 'adat syibh. Bila masing-masing rukun ini, kita ejawantahkan dalam urusan niaga, maka akan terpetakan sebagai berikut:

1.    Adanya musyabbah, yaitu sesuatu yang hendak diserupakan. Yang hendak diserupakan (obyek yang diserupakan) dalam hal ini adalah dua orang atau lebih yang memiliki keinginan untuk berserikat dan menjalin kemitraan dalam melakukan usaha niaga).

2.    Adanya musyabbah bih, yaitu obyek penyerupaan. Yang dijadikan obyek penyerupaan adalah gambaran dari istri-istri para nabi yang mengkhianati suaminya. Dengan kata lain, dalam suatu kemitraan, bila ada salah satu anggota yang berkhianat dengan tidak menjalankan peran dan fungsinya sesuai deskripsi tugas yang diberikan, maka Allah akan menghilangkan keberkahan dari akad kemitraan itu.

3.    Adanya wajh syibh, yaitu tujuan dari penyerupaan. Tujuan dari penyerupaan adalah mendapatkan gambaran bahwa di dalam kemitraan dan usaha bersama, hendaknya masing-masing bersikap amanah terhadap perannya, tidak boleh saling menzalimi.

4.    Adanya adat tasybih. Adat tasybih dalam niaga ibarat seorang mudharib (pengelola) yang berfungsi menjaga musyabbah (harta niaga yang diserupakan) agar berjalan sesuai dengan tujuan yang disepakati oleh anggota kelompok. Kedudukan pengelola adalah sebagai “adat”, yaitu alat saja/manajer/direktur.

Maha Suci Allah lagi Maha Sempurna dalam Firman-Nya! Satu ayat ternyata banyak sekali menyimpan maksud dan tidak hanya bercerita seputar kisah. Inilah keparipurnaan Al-Qur’an sebagai wahyu kalam ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat. 

Walhasil, dharaba yang merupakan verba asli (fiil mujarrad) dari kata kerja dhâraba dengan kata benda jadiannya mudhârabah, adalah menyimpan makna berbagi tugas dalam suatu urusan tertentu dengan deskripsi yang jelas guna mencapai tujuan bersama. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya!
 

Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
Sabtu 28 September 2019 8:0 WIB
Sampah Plastik dan Kebakaran Lahan dalam Tafsir Etika Sosial
Sampah Plastik dan Kebakaran Lahan dalam Tafsir Etika Sosial
Ilustrasi: pri.org
Jenna R Jambeck dari Universitas Georgia melaporkan bahwa produksi sampah plastik dunia tahun 2010 mencapai 275 juta ton per tahun. Sebanyak 4.8 sampai 12.7 juta ton di antaranya terbuang ke laut. Sisanya sebanyak 264.3 juta tersebar mencemari tanah.

Indonesia diinformasikan pada tahun 2016 mendulang andil 5.4 juta ton sampah plastik. Tahun 2019 ini diperkirakan andil itu meningkat sebesar 12 juta ton sampah plastik. Di wilayah pesisir, penduduk Indonesia yang tinggal dan menetap di sana, dengan perkiraan angka sebesar 187.2 juta, menyumbang 3.22 juta ton sampah dan terbuang ke laut.

Angka ini cukup miris bila dibandingkan dengan populasi penduduk pesisir yang kurang lebih sama dengan India, yang menyumbang 0.48 sampai dengan 1.29 juta ton sampah ke laut. Angka ini setidaknya mengisyaratkan bahwa pengelolaan dan kampanye sampah plastik di Indonesia masih perlu disemarakkan. Selain kampanye, pengelolaannya pun juga turut serta perlu dikampanyekan dan disosialisasikan. 

Limbah plastik merupakan ekses dari maraknya pembangunan industri. Negara tidak akan maju tanpa keberadaan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Namun, industri harus memperhatikan dampak jangka panjang yang merugikan masyarakat dan lingkungan.

Ekses itu biasanya mewujud dalam bentuk efek kerusakan. Setiap kerusakan merupakan sebab bagi wajibnya perusahaan memberikan corporate and social responsibility (CSR) dalam bentuk pertanggungjawaban dampak terhadap sosial dan lingkungan Ayat yang telah dilanggar oleh perusahaan itu adalah Surat Al-Baqarah ayat 195:

وأنفقوا في سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين

Artinya, “Infaqkanlah harta kalian di jalan Allah! Jangan menjatuhkan tangan kalian pada kerusakan! Berbuat baiklah kalian! Sungguh Allah mencintai orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan,” (Surat Al-Baqarah ayat 195).

Sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy dengan sanad yang berasal dari Aslam Abu ‘Imrân RA berbunyi sebagai berikut:

 كُنَّا بِمَدِينَةِ الرُّومِ فَأَخْرَجُوا إِلَيْنَا صَفًّا عَظِيمًا مِنْ الرُّومِ ، فَحَمَلَ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ عَلَى صَفِّ الرُّومِ حَتَّى دَخَلَ فِيهِمْ، فَصَاحَ النَّاسُ وَقَالُوا : سُبْحَانَ اللَّهِ ! يُلْقِي بِيَدَيْهِ إِلَى التَّهْلُكَةِ ! فَقَامَ أَبُو أَيُّوبَ الأَنْصَارِيُّ فَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّكُمْ تَتَأَوَّلُونَ هَذِهِ الآيَةَ هَذَا التَّأْوِيلَ ، وَإِنَّمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةَ فِينَا مَعْشَرَ الأَنْصَارِ ، لَمَّا أَعَزَّ اللَّهُ الإِسْلامَ ، وَكَثُرَ نَاصِرُوهُ ، فَقَالَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ سِرًّا دُونَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَمْوَالَنَا قَدْ ضَاعَتْ ، وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعَزَّ الإِسْلامَ ، وَكَثُرَ نَاصِرُوهُ ، فَلَوْ أَقَمْنَا فِي أَمْوَالِنَا فَأَصْلَحْنَا مَا ضَاعَ مِنْهَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْنَا مَا قُلْنَا ( وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ) فَكَانَتْ التَّهْلُكَةُ الإِقَامَةَ عَلَى الأَمْوَالِ وَإِصْلاحِهَا ، وَتَرْكَنَا الْغَزْوَ . فَلَمْ يَزَلْ أَبُو أَيُّوبَ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى دُفِنَ بِالْقُسْطَنْطِينِيَّة

Artinya, “Suatu ketika kami berada di tengah-tengah Kota Rum. Tiba-tiba bala tentara Rum mengeluarkan selaksa barisan yang besar. Salah seorang laki-laki dari kalangan muslimin bergegas (mencabut pedangnya) dan maju ke arah barisan tersebut hingga ia mampu menembusnya. Para sahabat kaget dan berteriak, ‘Maha Suci Allah! Ia telah menjatuhkan tangannya dalam kerusakan!’ Lalu Abu Ayub Al-Anshary berdiri dan berkata, ‘Wahai manusia! Sungguh kalian telah menakwilkan ayat ini dengan takwil demikian rupa. Namun, (ketahuilah) bahwa ayat ini diturunkan kepada kami, kalangan sahabat Anshar. Saat itu, Allah telah benar-benar memuliakan agama-Nya–yakni Islam–serta menambah banyak jumlah para pemeluknya, lalu di antara kami saling bergumam (lirih) tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW. [Mereka bergumam], ‘Harta kita telah habis. Allah telah meluhurkan Islam dan menambah banyak jumlah pemeluknya. Maka, alangkah baiknya sekiranya kita memperbaiki ekonomi kita dulu dan menambal sesuatu yang telah hilang.’ Allah SWT menyambut gumaman kita saat itu itu seraya menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya (dan infaqkanlah hartamu di jalan Allah, dan jangan menjatuhkan tanganmu pada at-tahlukah). Maka dari itulah, yang dimaksud dengan at-tahlukah adalah [mengikuti kemauan kami] memperbaiki kondisi ekonomi, memulihkannya, namun meninggalkan perang. Abu Ayyub Al-Anshary merupakan sahabat yang senantiasa berjihad hingga beliau kemudian wafat dan dikebumikan di Konstantinopel.”

Hadits di atas, jika kita bawa pada konteks tafsir adaby ijtima’iy (tafsir etika sosial) adalah seolah mengajak kita agar jangan sampai modernnya zaman, melalaikan kita dari senantiasa berjuang menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Menjaga kelestarian alam dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dalam jangka panjang.

Jangka pendeknya, adalah mendapatkan kemudahan dari hasil kemajuan teknologi saat ini. Namun, kemudahan dan kemajuan teknologi itu tidak boleh menghentikan inovasi guna mendapatkan efek yang minim risiko dampak kerugian terhadap lingkungan dan alam sekitar, bahkan jika perlu 0% risiko. Inovasi harus senantiasa terus digalakkan.

Plastik merupakan salah satu produk teknologi yang memiliki keuntungan dalam jangka pendek, namun memiliki efek merugikan dalam jangka panjangnya. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah inovatif guna meminimalisasi efek merugikannya, dan pihak yang paling diutamakan untuk melakukan langkah itu adalah pihak produsen. Inovasi utamanya diarahkan pada menghasilkan produk pengganti yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Sebenarnya, penafsiran ayat dan hadits di atas bisa dibawa ke ranah sosial yang lain, suatu misal, pembukaan lahan dengan cara pembakaran. Meskipun cara ini dinilai praktis dan memudahkan, namun karena berefek merugikan yang besar dalam jangka pendek serta jangka panjangnya, tak urung tindakan tersebut merupakan tindakan yang kontrasosial dan lingkungan.

Tindakan semacam inilah yang dimaksud dengan istilah at-tahlukah. Tindakan ingin mudah, dan enaknya sendiri, tanpa mau menjaga hajat masyarakat banyak. Wallahu a’lam bis shawab
 
 
Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah–Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
Kamis 19 September 2019 23:45 WIB
Pengertian Fatayat dan Budak Perempuan dalam Al-Qur’an
Pengertian Fatayat dan Budak Perempuan dalam Al-Qur’an
Ilustrasi: alarabiya.net
Dilihat dari makna leksikal, arti dari kata fatayat adalah perempuan muda. Untuk laki-laki biasa disampaikan dengan diksi al-fata. Pada penjelasan terdahulu, lafal fatayât, ada yang dihubungkan dengan lafal raqabah dengan didahului oleh harfu jarrin “min” yang berfungsi sebagai bayan dari milkul yamîn. Ayat tersebut adalah sebagai berikut:

وَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ مِنكُمْ طَوْلًا أَن يَنكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُم مِّن فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُم ۚ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ ۚ فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ ۚ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنكُمْ ۚ وَأَن تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya, “Barang siapa di antara kamu yang tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka dihalalkan menikahi perempuan yang beriman dari hamba sahaya yang kamu miliki, yakni fatayat kalian yang beriman. Allah Maha Mengetahui akan keimananmu. Sebagian dari kalian adalah berasal dari sebagian yang lain (sama-sama keturunan Nabi Adam alaihissalam). Oleh karena itu nikahilah mereka dengan seizin sayyidnya. Berikan kepada mereka maskawin dengan baik. Mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri, dan bukan pezina serta bukan pula perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. Apabila mereka telah berumah tangga (bersuami), tetapi melakukan perbuatan keji (zina), maka hukuman bagi mereka adalah setengah dari hukuman wanita-wanita merdeka (yang tidak bersuami). Kebolehan menikahi hamba sahaya itu adalah bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan dalam menjaga diri (dari perbuatan zina). Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (Surat An-Nisa’ ayat 25).

Ada beberapa persoalan yang hendak diungkap dalam tulisan ini. Pertama, menjelaskan korelasi diksi fatayât dengan milkul yamîn. Kedua, menjelaskan gambaran pola pernikahannya milkul yamin. Kedua obyek permasalahan ini akan disajikan dalam bentuk membandingkan makna ayat satu dengan ayat yang lain sehingga ditemukan kekorelasian makna.

Korelasi Fatayât dan Konsep Milkul Yamîn
Ada dua surat yang menggunakan diksi fatayât di dalam Al-Qur’ân, yaitu Surat An-Nisâ ayat 25 dan Surat An-Nûr ayat 33. Ditilik dari segi urutan turunnya, Surat An-Nisa ayat 25 lebih dulu turun dibanding Surat An-Nûr ayat 33.

Perbedaan dari kedua ayat ini adalah jika di dalam Surat An-Nisa ayat 25, Allah SWT menjadikan lafal fatayât sebagai bayan (penjelas) dari milkul yamin secara langsung tanpa ada kalimat pemisah. Namun, pada Surat An-Nûr ayat 33, ada jeda pemisah antara kedua lafal “milkul yamin” dengan “fatayât.” Tema ayat membicarakan hal yang sama yaitu mengenai laki-laki yang tidak punya biaya untuk menikah. Lebih jelasnya simak Surat An-Nûr ayat 33, berikut ini:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِن بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya, “Orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kehormatan (‘iffah) dirinya sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Jika hamba sahaya yang kamu miliki (milkul yamîn) menginginkan perjanjian (kebebasan), maka hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka. Jika kamu mengetahui ada kebakan pada mereka. Janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu (fatayât) untuk melakukan pelacuran (baghy), sedang mereka sendiri menginginkan kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barang siapa memaksa mereka, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) setelah dipaksanya mereka (oleh tuannya),” (Surat An-Nûr ayat 33).

Di dalam ayat ini, disinggung dua hal yang berkaitan dengan tema kita:
 
1.    Milkul yamîn bisa mengajukan akad kitâbah, yaitu akad mengajukan diri menebus dirinya dengan jalan mengangsur.

2.    Setelah berbicara mengenai pernikahan, dan akad kitâbah milkul yamîn, lalu ayat berbicara mengenai ketidakbolehan menjadikan fatayât sebagai obyek pelacuran (baghy).

Jika di dalam Surat An-Nisâ ayat 25 disinggung mengenai kebolehan menikahi milkul yamîn yang mukmin dan diperjelas dengan “min” bayani, lalu disambung dengan penjelasan kebolehan menikahi milkul yamîn yang beriman milik orang lain, nah di dalam Surat An-Nûr ini tiba-tiba tidak diperbolehkan memaksa fatayât sebagai obyek pelacuran.

Mengapa terjadi perubahan bentuk penyampaian lafal dibanding Surat An-Nisa ayat 25 sebelumnya? Dalam hemat penulis, seolah kedua ayat telah mengisyaratkan bahwa ada ketersambungan makna antara milkul yamîn, fatayât, akad kitâbah, pernikahan, dan pelacuran (baghy). Sebaiknya kita langsung masuk saja pada kajian pola pernikahan hamba sahaya.

Pola Pernikahan Hamba Sahaya
Memaksa pelacuran merupakan penyerahan milkul yamîn (fatayât) kepada orang lain dengan sebuah imbalan (iwadh budhu’). Imbalan ini jika dilalui lewat proses pernikahan, maka dinamakan sebagai mas kawin (mahar).
 
Mungkin dulu di zaman Rasulullah SAW, ada yang menyalahgunakan bahwa kebolehan menikahi perempuan hamba sahaya milik orang lain (milkul yamîn) adalah dipandang sebagai menjadikan budak sebagai pelacur, atau memang benar ada perilaku yang kemudian menyalahgunakan pernikahan tersebut sebagai paket menghalalkan pelacuran berbalut pernikahan. Hampir mirip dengan kejadian di beberapa tempat di Indonesia yang masyhur dengan istilah kawin kontrak. Mari kita cek dalam hadits riwayat tafsirnya!

Al-Qurthuby, di dalam kitab tafsirnya menukil adanya dua hadits yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Kedua hadits tersebut mengisahkan perempuan jâriyah milik Abdullah bin Ubay. Hadits berikut ini diriwayatkan oleh dua orang sahabat sekaligus.

روي عن جابر بن عبد الله ، وابن عباس - رضي الله عنهم - أن هذه الآية نزلت في عبد الله بن أبي ، وكانت له جاريتان إحداهما تسمى معاذة ، والأخرى مسيكة ، وكان يكرههما على الزنا ويضربهما عليه ابتغاء الأجر وكسب الولد ؛ فشكتا ذلك إلى النبي - صلى الله عليه وسلم - فنزلت الآية فيه وفيمن فعل فعله من المنافقين . ومعاذة هذه أم خولة التي جادلت النبي - صلى الله عليه وسلم - في زوجها

Artinya, “Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah, dan Ibnu ‘Abbâs RA, bahwa ayat ini (Surat An-Nûr ayat 33) diturunkan atas kasus Abdullah bin Ubay. Ia memiliki dua jâriyah bernama Mu’âdzah dan Musîkah. Suatu ketika, ia memaksa kedua jariyah ini untuk melakukan zina dengan jalan menyuruhnya agar memungut upah dari hasil perzinaannya itu dan menghasilkan keturunan. Lalu keduanya mengadu kepada Baginda Nabi SAW, lalu turunlah ayat ini menjelaskan tentang perbuatannya dan perbuatan sejumlah orang munafiq. Mu‘âdzah ini adalah ibunya Khaulah yang pernah mendebat Nabi SAW tentang persoalan suaminya,” (Al-Qurthûby, Tafsir Al-Qurthuby, sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura24-aya33.html).

Dalam hadits yang lain, masih dari sahabat Jâbir yang dinukil oleh Al-Qurthuby dari Kitab Shahih Muslim, ia menjelaskan bahwa kedua perempuan jâriyah itu adalah Musîkah dan Amîmah. Keduanya mengadu kepada Rasûlullah SAW, lalu turun Surat An-Nûr ayat 33 ini (ولاتكرهوا فتياتكم).

Perlu dicatat bahwa hadits di atas, ternyata juga dicatut oleh At-Thabary, At-Baghawy, Ibnu Katsîr, dan As-Sa’di dalam Kitab Tafsir mereka. Al-Baghawy di dalam kitabnya, ketika menafsirkan لتبتغوا عرض الحياة الدنيا, ia menjelaskan:

أي : لتطلبوا من أموال الدنيا ، يريد من كسبهن وبيع أولادهن

Artinya, “Untuk mencari harta dunia dengan menghendaki hasil dari pekerjaan zinanya serta menjual anaknya (yang diperoleh dari hasil zina tersebut),” (Al-Baghawy, Tafsir Al-Baghawy, Sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/baghawy/sura24-aya33.html#baghawy).

Al-Qurthuby juga menjelaskan hal senada sebagai berikut:

قوله تعالى : لتبتغوا عرض الحياة الدنيا أي الشيء الذي تكسبه الأمة بفرجها والولد يسترق فيباع . وقيل : كان الزاني يفتدي ولده من المزني بها بمائة من الإبل يدفعها إلى سيدها

Artinya, “Firman Allah SWT: لتبتغوا عرض الحياة الدنيا yakni sesuatu yang diperoleh dari hasil pekerjaan amat dengan farjinya, dan anak (hasil zina) yang bisa dijadikan budak untuk maksud dijual. Disampaikan bahwa (di masa itu), laki-laki pezina menebus anak hasil zina dari amat yang diajaknya berzina dengan harta sebesar 100 ekor onta yang diserahkan kepada sayyid perempuan amat tersebut,” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, Sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura24-aya33.html#qortobi)

Yang menarik adalah, ketika penggalan ayat di atas didahului oleh إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا. Para mufassir sepakat memaknai bahwa:

إن أردن تحصنا راجع إلى الفتيات ، وذلك أن الفتاة إذا أرادت التحصن فحينئذ يمكن ويتصور أن يكون السيد مكرها ، ويمكن أن ينهى عن الإكراه وإذا كانت الفتاة لا تريد التحصن فلا يتصور أن يقال للسيد لا تكرهها ؛ لأن الإكراه لا يتصور فيها وهي مريدة للزنا . فهذا أمر في سادة وفتيات حالهم هذه . وإلى هذا المعنى أشار ابن العربي فقال : إنما ذكر الله تعالى إرادة التحصن من المرأة لأن ذلك هو الذي يصور الإكراه ؛ فأما إذا كانت هي راغبة في الزنا لم يتصور إكراه ، فحصلوه

Artinya, “Lafal in aradna tahashshunan, (kata ganti ayat ini) adalah kembali kepada fatayât (hamba sahaya) sehingga ayat seolah bermakna ‘bila hamba sahaya tersebut menghendaki dirinya terjaga,’ maka dari sini seolah ayat menggambarkan suatu kondisi: 1) si sayyid suatu ketika benar-benar memaksa hamba sahayanya untuk melakukan zina, dan 2) ada kemungkinan melarangnya berbuat pemaksaan, namun dalam kondisi ketika si hamba sahaya tersebut tidak menghendaki dirinya terjaga (sehingga ia melakukan zina), maka tidak tergambar di sana bahwa si sayid sebagai telah melakukan pemaksaan, karena perempuan sahaya tersebut menghendaki sendiri berlaku zina. Jadi, perintah larangan ini berkaitan dengan relasi sayid dengan hamba sahayanya. Senada dengan makna ini, Ibnul ‘Araby menyampaikan penafsirannya bahwasanya penyebutan yang disampaikan oleh Allah Ta’ala (lewat firman-Nya), yang berkaitan dengan “kehendak menjaga diri dari perempuan hamba sahaya” tersebut adalah dikarenakan ada kasus yang acap menuju ke arah pemaksaan. Adapun bila kondisi perempuan hamba sahaya tersebut terbiasa berzina, maka hal itu tidak bisa disebut sebagai pemaksaan,” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, Sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura24-aya33.html#qortobi)

Dari penafsiran terakhir, lafal tahasshunan menggambarkan tiga hal, yaitu:
1)    Ada kalanya perempuan hamba sahaya menjalin relasi pernikahan dengan si sayyid, 

2)    Ada kalanya pula perempuan hamba sahaya tersebut menikah dengan laki-laki hamba sahaya sesamanya, oleh karenanya ia disebut muhshanât, dan 

3)    Ada kalanya perempuan hamba sahaya tersebut dinikahi oleh laki-laki merdeka yang bukan sayyidnya, oleh karenanya ia juga bisa disebut sebagai muhshanât (Surat An-Nisa ayat 25) sebagaimana tercermin dari lafal ۚ فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ (maka nikahilah perempuan sahaya tersebut dengan seizin sayyidnya).

Penafsiran ini rupanya memiliki keeratan hubungan dengan ayat lain Surat An-Nur ayat 32. Allah SWT berfirman::

وأنكحوا الأيامى والصالحين من عبادكم إن أردن تحصنا

Artinya, “Nikahkanlah perempuan-perempuan lajang itu dan hamba-hamba yang saleh dari budak kalian, jika mereka menghendaki terjaga (tahasshunan),” (Surat An-Nûr ayat 32).

Lafal tahasshunan dalam Surat An-Nur ayat 32 di atas, seolah menggambarkan kehendak terjaga akibat pernikahan. Nah, untuk kasus perempuan amat yang berhubungan dengan sayyidnya dan menikah dengan lelaki hamba sahaya yang sederajat dengannya, maka tidak ada kesulitan dalam memahami pola hukumnya, karena hal ini sudah mafhum dalam wilayah fiqih. Jika mereka melahirkan anak, maka si hamba saya tersebut beralih statusnya sebagai ummul walad bila pasangannya merupakan sayyid dari si sahaya tersebut.

Namun, masalah timbul ketika perempuan itu menikah dengan laki-laki merdeka lain, maka dalam hal ini memungkinkan lahir tiga kemungkinan pembacaan kondisi sebagai buah dari pemahaman terbalik (mafhum mukhalafah) apa yang digambarkan oleh Surat An-Nisa ayat 33 di atas, yaitu:

1)    Si perempuan hamba sahaya masih menjadi milik dari tuannya karena pernikahannya tidak dapat membuat statusnya sebagai yang merdeka.

2)    Anak yang diperoleh dari hasil pernikahan adalah masih milik tuan dari perempuan amah. Bila suaminya (yang terdiri dari laki-laki merdeka) menghendaki anak tersebut, maka ia harus menebusnya.

3)    Kondisi relasi antara perempuan amah dan laki-laki merdeka yang lain ini bila tidak melalui jalur akad pernikahan, maka keduanya bisa disebut pelaku zina. Had dari perempuan hamba sahaya yang melakukan zina ini adalah separuh dari perempuan merdeka (sebagaimana tergambar dari Surat An-Nisa ayat 33).

Jika menilik dari kasus pernikahan perempuan amah dan laki-laki merdeka lain yang bukan sayyidnya, nampak ada unsur kerancuan (mubham) antara pelacuran dan pernikahan. Mungkin disebabkan karena hal ini pula, Surat An-Nisâ ayat 33 dinasakh (dihapus hukumnya) oleh keberadaan Surat An-Nûr ayat 32 sehingga hukum terakhir yang berlaku atas pernikahan kedua insan beda status ini adalah sebagaimana tergambar dalam Surat An-Nûr ayat 32 dan 33.

Walhasil, simpulan dari kajian ini adalah:
 
1.    Yang dimaksud sebagai fatayât pada kedua ayat (Surat An-Nisa ayat 25 dan Surat An-Nûr ayat 33 di atas adalah termasuk bagian dari milkul yamîn, jâriyah, dan amah.

2.    Ada dua kondisi perempuan hamba sahaya (fatayât) di atas, yaitu sebagai perempuan tahasshun (terjaga) dan adakalanya pula sebagai pelaku zina.

3.    Untuk perempuan hamba sahaya yang terjaga, ada dua kemungkinan ia bisa memelihara diri dari menjaga farjinya dan dibenarkan oleh syariat, yaitu a) ia hanya berhubungan dengan sayyidnya, dan b) ia bisa menikah dengan lelaki hamba sahaya. Sementara itu untuk pernikahannya dengan laki-laki lain yang merdeka, keberadaannya dinasakh oleh Surat An-Nûr ayat 32. Besar kemungkinan ini adalah bagian dari saddud dzarî'ah (antisipatif) guna menghindari dampak lebih buruk dalam harta dan penjagaan keturunan.

Perlu dicatat bahwa, untuk keberadaan benar tidaknya Surat An-Nur ayat 32 sebagai penasakh Surat An-Nisa’ ayat 25, penulis belum menemukan sumber rujukan. Mungkin dalam hal ini penulis perlu menelaah kitab lain. Semoga Allah SWT menunjukkan kita semua! Wallahu a‘lam bis shawâb.
 
 
Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.