IMG-LOGO
Tafsir

Perjalanan Rombongan Penghuni Surga dalam Al-Qurân

Kamis 3 Oktober 2019 13:0 WIB
Share:
Perjalanan Rombongan Penghuni Surga dalam Al-Qurân
Ilustrasi: NU Online
Allah SWT telah menjanjikan surga kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Surga banyak digambarkan sebagai tempat yang indah tiada tara. Dalam kitab tauhid banyak dijelaskan mengenai keindahan surga ini sebagai:

ما لا عين رأت ولا أذن سمعت 

Artinya, “Tempat yang tiada mata pernah memandangnya dan telinga mendengarnya.”

Para penghuni surga juga terdiri atas orang-orang yang disucikan. Bagaimana hal-ihwal masuknya para makhluk Allah SWT ini ke dalam surga? Siapa yang pertama kali kelak memasukinya? Mari kita simak penafsiran dari para mufassir terhadap Surat Al-Zumar ayat 73. Allah SWT telah berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Artinya, “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan (mereka dengan menauhidkanNya dan mengamalkan perintah-Nya) akan digiring ke surga dengan berkelompok-kelompok, hingga ketika mereka tiba di depannya, (Nabi meminta kepada Allah agar pintu-pintu surga dibuka) maka ia pun dibuka, para malaikat penjaga surga menyambutnya (memberikan penghormatan kepada mereka dengan penuh kebahagiaan dan suka cita karena kesucian mereka dari noda-noda kemaksiatan) seraya berkata kepada mereka, 'Selamat untuk kalian, kalian selamat dari segala cacat (kehidupan kalian adalah baik). Masuklah kalian kedalam surga dan kalian kelak kekal di dalamnya,'” (Surat Az-Zumar ayat 73).

At-Thabary, di dalam kitab tafsirnya menjelaskan perihal pihak yang dimaksud sebagai al-ladzinat taqaw rabbahum (orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya):

وَحُشِرَ الَّذِينَ اِتَّقَوْا رَبّهمْ بِأَدَاءِ فَرَائِضه , وَاجْتِنَاب مَعَاصِيه فِي الدُّنْيَا , وَأَخْلَصُوا لَهُ فِيهَا الْأُلُوهَة , وَأَفْرَدُوا لَهُ الْعِبَادَة , فَلَمْ يُشْرِكُوا فِي عِبَادَتهمْ إِيَّاهُ شَيْئًا { إِلَى الْجَنَّة زُمَرًا } يَعْنِي جَمَاعَات

Artinya, “Orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan atasnya, menjauhi perbuatan makshiat selama hidup di dunia, memurnikan keyakinan dari adanya tuhan selain Allah, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan penghambaan, tiada menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam ibadah, kelak mereka akan dikumpulkan di dalam surga Allah secara berombongan, yakni dalam bentuk kumpulan demi kumpulan,” (At-Thabary, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili ayil Qur’an, Damaskus, [Beirut, Dâr al-Fikr: tt], juz XXXXIV, halaman 24).

Kondisi rombongan ini secara lebih jelas digambarkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:

جماعة بعد جماعة، المقربون ثم الأبرار، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم، كل طائفة مع من يناسبهم: الأنبياء مع الأنبياء، والصديقون مع أشكالهم، والعلماء مع أقرانهم، وكل صنف مع صنف، وكل زمرة تناسب بعضها بعضاً

Artinya, “Jamaah demi jamaah, ahli taqarrub kepada Allah, kemudian kaum abrar, kemudian orang-orang yang mengiringinya, lalu rombongan berikutnya yang mengirinya. Semua kelompok bersama dengan orang yang memiliki derajat setara dengannya. Para nabi bersama para nabi, ahli shiddiqin bersama dengan sesama mereka. Para ulama bersama dengan yang segolongan dengan mereka. Semua kelompok bersama dengan kelompoknya. Setiap kelompok satu sama lain berada dalam satu nasab (derajat),” (Abul Fida’ Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’ânil Adhîm, [Kairo, Muassisah Qurthubah: 2000 M], juz XII, halaman 155).

Di dalam sebuah hadits, digambarkan mengenai keadaan dari rombongan-rombongan ini, sebagai berikut:

عن أبي هريرة رضي اللّه عنه قال، قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: (من أنفق زوجين من ماله في سبيل اللّه تعالى دعي من أبواب الجنة وللجنة أبواب، فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة، ومن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصيام دعي من باب الريّان، فقال أبو بكر رضي اللّه تعالى عنه: يا رسول اللّه: ما على أحد من ضرورة دعي من أيها دعي، فهل يدعى منها كلها أحد يا رسول اللّه؟ قال صلى اللّه عليه وسلم: نعم وأرجو أن تكون منهم) "أخرجه أحمد ورواه البخاري ومسلم من حديث الزهري بنحوه

Artinya, “Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa menafkahi istri-istrinya dengan hartanya yang diperoleh di jalan Allah Ta’ala, maka kelak dia akan dipanggil dari beberapa pintu surga. [Ketahuilah] bahwa surga memiliki beberapa pintu. Barang siapa termasuk dari kalangan ahli shalat, maka dia akan diundang dari pintu shalat. Barang siapa ahli sedekah, ia akan diundang dari pintu sedekah. Barang siapa ahli jihad, ia akan diundang dari pintu jihad. Barang siapa ahli puasa, maka dia akan diundang dari pintu Ar-Rayyan.’ Sahabat Abu Bakar RA bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah tiap-tiap orang kelak akan dipanggil sesuai amal keahliannya? Apakah panggilan itu pasti ya Rasulallah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Benar. Aku berharap bahwa kamu adalah satu di antara mereka.’ Hadits ini ditakhrij oleh Imam Ahmad dan diriwayatkan oleh Bukhari. Imam Muslim memiliki hadits yang sama dari jalur sanad Az-Zuhry.”

Dalam sebuah hadits yang termaktub dalam Shahih Muslim, dijelaskan secara tsabit, bahwa kelak, ketika kaum beriman sudah berada di depan pintu surga, mereka merasa tidak pantas untuk mengetuk pintu surga tersebut. Sampai kemudian datanglah Rasulillah SAW mengetuk pintunya. Selanjutnya baru kemudian para calon penghuni surga ini masuk ke dalamnya.

عن أنس رضي اللّه عنه قال، قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: (أنا أول شفيع في الجنة(

Artinya, “Dari Sahabat Anas RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku adalah orang pertama yang memberi syafaat di dalam surga,’” HR Muslim.

Lafal lain menyebutkan:

وأنا أول من يقرع باب

Artinya, “Aku adalah awal orang yang mengetuk pintu surga,” (HR Muslim).

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dijelaskan lebih lengkap lagi:

عن أنَس بن مالك رضي اللّه عنه قال: قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: آتي باب الجنة يوم القيامة، فأستفتح، فيقول الخازن: من أنت؟ فأقول: محمد - قال - فيقول: بك أمرت أن لا أفتح لأحد قبلك" "أخرجه أحمد ورواه مسلم

Artinya, “Diriwayatkan dari shahabat Anas bin Mâlik RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku kelak akan mendatangi pintu surga di hari kiamat, kemudian aku mengetuknya. Lalu bertanyalah penjaga surga itu, ‘Siapa Anda?’ Aku menjawab, ‘Muhammad.’ Lalu berkatalah ia, ‘Demi Tuan, aku diperintahkan untuk tidak membuka pintu surga kepada seorang pun sebelum Tuan membukanya,’” (Hadits ditakhrij oleh Imam Ahmad dan diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Dengan mendasarkan diri pada riwayat hadits di atas, maka dapat dipahami bahwa ketika rombongan-rombongan kaum yang bertakwa ini telah sampai di depan pintu surga, mereka tidak bisa masuk, sebelum Rasulullah SAW memasukinya terlebih dahulu.

Setelah pintu dibuka oleh Rasulullah SAW, para malaikat penjaga surga (khazanah) lalu mengucap salam penghormatan kepada rombongan ini. Tetapi, masih ada proses yang harus dilalui oleh kaum beriman ini sebagaimana tertuang dari maksud ayat salâmun ‘alaikum thibtum (Salam sejahtera buat kalian dan kondisi kalian adalah yang baik).

Karena manusia tidak luput dari salah dan dosa, maka untuk menuju kondisi salâmun dan thibtum dibutuhkan proses ala surgawi. Ibnu Katsir dan At-Thabary menyampaikan takwil dari ayat salâmun ‘alaikum thibtum sebagai berikut:

طابت أعمالكم وأقوالكم وطاب سعيكم وجزاؤكم

Artinya, “Amal, perkataan dan usaha kalian bagus, maka balasan kalian juga bagus.”

Lebih lanjut At-Thabary dan Ibnu Katsir menyampaikan sebuah hadits berikut:

حَتَّى إِذَا اِنْتَهَوْا إِلَى بَابهَا , إِذَا هُمْ بِشَجَرَةٍ يَخْرُج مِنْ أَصْلهَا عَيْنَانِ , فَعَمَدُوا إِلَى إِحْدَاهُمَا , فَشَرِبُوا مِنْهَا كَأَنَّمَا أُمِرُوا بِهَا , فَخَرَجَ مَا فِي بُطُونهمْ مِنْ قَذِر أَوْ أَذًى أَوْ قَذًى , ثُمَّ عَمَدُوا إِلَى الْأُخْرَى , فَتَوَضَّئُوا مِنْهَا كَأَنَّمَا أُمِرُوا بِهِ , فَجَرَتْ عَلَيْهِمْ نَضْرَة النَّعِيم , فَلَنْ تَشْعَث رُءُوسهمْ بَعْدهَا أَبَدًا وَلَنْ تَبْلَى ثِيَابهمْ بَعْدهَا , ثُمَّ دَخَلُوا الْجَنَّة , فَتَلَقَّتْهُمْ الْوِلْدَان كَأَنَّهُمْ اللُّؤْلُؤ الْمَكْنُون 

Artinya, “Ketika kaum yang bertakwa telah sampai di depan pintu surga, mereka berjumpa dengan sebuah pohon yang keluar dari pangkalnya dua mata air. Mereka lalu bersegera menuju salah satunya. Mereka bergegas meminumnya seolah diperintahkan. Dari itulah kemudian keluar semua kotoran dari perutnya. Kemudian mereka bergegas menuju ke mata air yang lain, lalu mereka berwudhu dengannya seperti diperintahkan. Mendadak wajah mereka berseri-seri. Tiada pernah mereka mengurai kepalanya selamanya setelahnya, dan tiada mereka mengalami kerusakan. Lalu mereka bergegas masuk surga dan dipapah oleh para wildan yang bagaikan mutiara berkilauan,” (HR Imam Muslim).
Masih berkaitan dengan rombongan yang masuk ke dalam surga ini, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, kondisi kelompok yang memasuki surga Allah SWT dijelaskan sebagai berikut:

قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: (أول زمرة تلج الجنة صورهم على صورة القمر ليلة البدر لا يبصقون فيها ولا يمتخطون فيها ولا يتفلون فيها، آنيتهم وأمشاطهم الذهب والفضة ومجامرهم الأُلُوَّة، ورشحهم المسك، ولكل واحد منهم زوجتان يرى مخ ساقهما من وراء اللحم من الحسن، لا اختلاف بينهم ولا تباغض، قلوبهم على قلب واحد يسبِّحون اللّه تعالى بكرة وعشياً) "أخرجه مسلم والإمام أحمد

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Permulaan rombongan yang memasuki surga, gambaran mereka adalah menyerupai rembulan di malam purnama. Mereka tiada meludah di dalamnya, tiada beringus, tiada kotoran mata. Wadah dan sisir mereka terbuat dari emas dan perak, tiada pernah buang air besar atau kecil, peluh mereka misik, dan tiap-tiap dari mereka dua istri (bidadari) yang seolah tampak urat betis di balik kulit mereka karena cantiknya. Tiada perselisihan di antara mereka dan tiada saling membenci. Hati-hati mereka satu, senantiasa bertasbih kepada Allah di pagi dan sore hari,’” (HR Imam Ahmad dan Imam Muslim).

Mencermati tafsir Surat Az-Zumar ayat 73 ini, maka dapat dipetik kandungan ayat sebagai berikut:

1. Bahwa, kelak orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT akan masuk ke dalam surga secara berombongan mengikuti derajat rombongannya.

2. Surga adalah tempat yang dijanjikan oleh Allah. Di dalamnya tidak ada lagi hajat duniawi. Bahkan digambarkan bahwa hajat buang air besar dan lain sebagainya semuanya ditiadakan oleh Allah SWT.

3. Awal manusia yang masuk ke dalam surga adalah Nabi Muhammad SAW.

4. Kelak di dalam surga, para penghuninya kekal (abadan abadan). Wallahu a‘lam bis shawab.
 

Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah, PW LBMNU Jawa Timur.
Share:

Baca Juga

Selasa 1 Oktober 2019 7:0 WIB
Keutamaan Infak di Jalan Allah dalam Tafsir Al-Qur’an
Keutamaan Infak di Jalan Allah dalam Tafsir Al-Qur’an
Ilustrasi: pixabay
Syariat agama Islam memiliki tiga sub-ajaran pokok, yaitu Imân, Islâm dan Ihsân. Ketiga sub ini sebenarnya berangkat dari sebuah hadits masyhûr yang biasa dikenal dengan istilah hadits Jibril.

Salah satu dari ketiga sub-ajaran itu adalah ihsân. Secara definitif, ihsân ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai:

قال فأخبرني عن الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك رواه مسلم

Artinya, “Jibril berkata lagi, ‘Beritahu aku apa itu ‘Ihsân!’’ Rasul menjawab, ‘Ihsân itu adalah jika Anda mengabdi kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya, dan andai Anda tidak dapat melihatnya, maka Dia pasti melihat Anda,’” (HR Muslim).

Ihsân berasal dari fi’il tsulatsy mazîd dengan formula ah-sa-na (أحسن) yang makna literalnya adalah “berbuat baik, melakukan dengan baik, melampaui atau mengetahui dengan baik.” Jika mengikuti wazan fi’il tsulatsy mujarrad (kata kerja dasar) ha-su-na, maka arti literalnya adalah baik atau bagus.

Di dalam Al-Qurân, rumpun kata ini dipergunakan sebanyak kurang lebih 166 kali, yang secara bergantian menggunakan diksi al-husnâ, hasanah, hasanât, ahsana (fi’il), ahsanu (isim tafdhil), husnan, muhsinîn, ahsin (fi’il amar), dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan ini, kita hendak mengurai penggunaan diksi hasan pada ayat Surat Al-Baqarah ayat 245. Allah SWT berfirman:

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Di dalam Tafsir Al-Mishbah, KH Quraish Shihab menjelaskan penafsiran ayat ini sebagai berikut:

“Berjuang di jalan Allah memerlukan harta, maka korbankan harta kalian. Siapa yang tidak ingin mengorbankan hartanya, sementara Allah telah berjanji akan membalasnya dengan balasan berlipat ganda? Rezeki ada di tangan Allah. Dia bisa mempersempit dan memperluas rezeki seseorang yang dikehendaki sesuai dengan kemaslahatan. Hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan, lalu dibuat perhitungan atas pengorbanan kalian. Meski rezeki itu karunia Allah dan hanya Dia yang bisa memberi atau menolak, seseorang yang berinfak disebut sebagai ‘pemberi pinjaman’ kepada Allah. Hal itu berarti sebuah dorongan untuk gemar berinfak dan penegasan atas balasan berlipat ganda yang telah dijanjikan di dunia dan akhirat.”

Penafsiran yang disampaikan oleh KH Quraish Shihab di atas menjelaskan bahwa makna lafal hasanan yang dilekatkan pada qardhan (utang) adalah bermakna kerelaan seseorang mengorbankan hartanya dengan jalan infaq.

Orang yang demikian ini ibarat orang yang meminjami Allah dan baginya kelak dijanjikan berupa kelipatan pahala yang banyak baik di dunia maupun di akhirat. Penafsiran ini tampaknya senada dengan penafsiran Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Ia menyampaikan:

يحث تعالى عباده على الإنفاق في سبيله ، وقد كرر تعالى هذه الآية في كتابه العزيز في غير موضع

Artinya, “(Dengan ayat ini) Allah SWT menganjurkan kepada para hamba-Nya agar gemar berinfaq di jalan-Nya. Dia mengulang-ulang anjuran ini dalam kitab-Nya Yang Maha Mulia ini (Al-Qurân) dalam berbagai ayat yang lain,” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Katsir, http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya245.html).

Masih menurut Ibnu Katsir, berdasarkan hadits yang melatari turun ayat ini, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Abi Hat’im dari sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud, sebuah keterangan menyebutkan bahwa:

لما نزلت : ( من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له ) قال أبو الدحداح الأنصاري : يا رسول الله وإن الله ليريد منا القرض ؟ قال : " نعم يا أبا الدحداح " قال : أرني يدك يا رسول الله . قال : فناوله يده قال : فإني قد أقرضت ربي حائطي . قال : وحائط له فيه ستمائة نخلة وأم الدحداح فيه وعيالها . قال : فجاء أبو الدحداح فناداها : يا أم الدحداح . قالت : لبيك قال : اخرجي فقد أقرضته ربي عز وجل

Artinya, “Ketika ayat (man dzal ladzi yuqridhulllaha qardhan hasanan fayudhâ’ifahu lahu)  ini turun, terdapat seorang sahabat yang bernama Abud Dahdah dari kalangan sahabat Anshar menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menghendaki kita agar mengutangi-Nya?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Benar, wahai Abud Dahdâh.’ Abud Dahdâh berkata, ‘Perlihatkan tangan Anda, Wahai Rasulullah!’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Lalu tangan Rasulullah diraih.’ Abud Dahdâh berkata, “Aku mengutangkan tembokku kepada Tuhanku.’ Ia melanjutkan, ‘Tembok itu terdiri atas 600 pohon kurma yang Ummud Dahdâh beserta keluarganya tinggal di dalamnya.’ Ibnu Mas’ud kemudian berkata, ‘Lalu pulang Abud Dahdâh menghampiri istrinya dan memanggilnya, ‘Wahai Ummud Dahdâh!’ Sang istri menjawab, ‘Saya, suamiku.’ Abud Dahdâh berkata, ‘Keluarlah kamu! Aku telah mengambil janji mengutangkan semua ini kepada Tuhanku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung,’” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya245.html).

Tindakan Abud Dahdâh ini merupakan bentuk pengamalan dari ayat yang berisi qardhan hasanan di atas. Artinya, ayat itu berkisah tentang kerelaan sahabat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah sebagaimana disinggung oleh kedua mufassir di atas. Hadits riwayat tafsir ini juga disampaikan oleh mufassir yang lain, yaitu Al-Baghawy, At-Thabary dan Al-Qurthuby. Syekh Jalâluddin Al-Mahally menyampaikan dalam Tafsir Jalâlain secara umum pengertian yang sama.

Ada penafsiran lain terkait dengan “qardhan hasanan” berdasar hadits riwayat sahabat Umar bin Khathab dalam rupa hadits marfu’ yang sanadnya bersambung sampai Rasulullah SAW. Umar berkata هو النفقة في سبيل الله (yaitu, infaq di jalan Allah SWT). Dalam penafsiran lain disebutkan هو النفقة على العيال  (yaitu, memberikan nafkah kepada keluarga).

Ada juga ulama yang menafsirkan sebagai هو التسبيح والتقديس (yaitu, membaca tasbîh dan taqdîs (penulis memahasucikan Allah dan menyucikan dari segala bentuk hal yang mengarah kepada penyekutuan).

Riwayat hadits lain yang menjelaskan proses turunnya ayat menjelaskan bahwa ayat ini turun setelah Surat Al-Baqarah ayat 261 dan berfungsi menjelaskannya. Allah SWT berfirman:

مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل

Artinya, “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti menanam sebuah biji, yang darinya tumbuh tujuh tandan,” (Surat Al-Baqarah ayat 261).

Saat itu, kemudian Nabi SAW berdoa رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Lebihkan atas umatku!). Dari sini lalu turun ayat من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له أضعافا كثيرة (Siapa saja yang memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatkan baginya berupa pahala dengan kelipatan yang banyak). Ternyata Rasulullah SAW tidak berhenti sampai di sini. Ia berdoa lagi: “رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Berikan tambahan lagi atas umatku!). Lalu turunlah ayat yang lain:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya, “Katakan [Muhammad]! Wahai hamba-Ku yang terdiri atas orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Bagi mereka yang telah berbuat baik di dalam kehidupan dunia ini, terdapat sebuah kebaikan (yang dijanjikan). Bumi Allah teramat luas. Sungguh, orang-orang yang penyabar akan diberikan pahala yang tidak dapat dihitung,” (Surat Az-Zumar ayat 10).

Yang menarik dari tafsir ayat dengan ayat ini, adalah ada diksi yang disertakan dalam Surat  Az-Zumar ayat 10 di atas. Diksi itu adalah وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Penggunaan diksi ini sebagaimana disinggung oleh Mujâhid, makna wâsi’ah selalu identik dengan makna rezeki dunia berupa materi.

Walhasil, penafsiran terhadap Surat Al-Baqarah ayat 245 di atas, seolah menjadi bermakna: “bahwasanya orang yang telah berbuat baik di dunia sebagaimana diibaratkan telah mengutangi Allah, maka bagi dirinya akan diberikan balasan selain berupa pahala yang banyak, dirinya juga akan diberi balasan di dunia berupa materi.”

Dengan kata lain, makna “hasan” pada ayat itu, tidak hanya sebuah perbuatan baik yang berkonotasi akhirat, melainkan juga dunia. Jika makna ayat ternyata juga berkonotasi pada dunia, maka yang dimaksud “mengutangi Allah dengan jalan yang baik,” adalah juga bermakna memberikan pinjaman kepada sanak kerabat yang membutuhkan pinjaman, dan pinjaman itu disampaikan dengan cara yang baik karena semata mengharap ridha Allah.

Dalam konteks fiqih, hal ini disebut dengan istilah pinjaman tabarru’ (sukarela). Karena yang diharapkan hanya ridha Allah, maka tidak ada syarat yang turut disertakan. Namun, pemaknaan ini berasal dari sudut pandang orang yang meminjami (muqridh).

Adapun kewajiban yang berlaku atas orang yang meminjam adalah sebagaimana disinggung oleh Allah SWT dalam Surat Az-Zumar ayat 10, yaitu berbuat ihsân atas pinjaman yang diberikan. Antara hasan dan ihsân terdapat “manajemen risiko” yaitu berupa istihsân sebagaimana disinyalir lewat penggalan ayat وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Inilah pengamalan dari ihsân sebagaimana terdapat dalam hadits Jibril yang telah disinggung dalam awal tulisan ini. Wallâhu a’lam bis shawâb.
 

Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timura
Ahad 29 September 2019 9:0 WIB
Arti Dharaba di Al-Qur’an: Dari Berjalan Hingga Bagi Peran dan Bagi Hasil
Arti Dharaba di Al-Qur’an: Dari Berjalan Hingga Bagi Peran dan Bagi Hasil
Ilustrasi: sm3ny.com
Mudhârabah merupakan isim musytaq (kata benda jadian) dari lafal yang mengikuti wazan mufâ’alah dari bentuk verbanya ضارب (dibaca: dhâ-ra-ba) dengan bacaan panjang pada ‘ain fi’il-nya. Istilah ini mengutip dasar dari Al-Qur’ân, yaitu Surat An-Nisâ ayat 101 dan Surat Al-Muzammil ayat 20.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنْ الصَّلاة

Artinya, “Ketika kalian mengadakan perjalanan di bumi untuk shafar, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat.” (Surat An-Nisâ ayat 101).

Allah SWT juga berfirman:

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللهِ

Artinya, “Sementara itu, pihak yang lain ada yang mengadakan perjalanan di bumi untuk mencari anugerah dari Allah,” (Surat Al-Muzammil ayat 20).

Kedua ayat ini turun berkaitan dengan upaya umat Islam berbagi tugas menekuni bidang-bidang tertentu. Seolah ayat ini menganjurkan bahwa hendaknya kaum muslimin ada yang bertugas mengurusi tentara, pendidikan, dan ada  pula yang bertugas dalam rangka niaga. Semua dimaksudkan untuk kebutuhan kaum muslimin.

Dari maksud berbagi tugas ini kemudian lahir istilah mudhârabah. Di antara tugas-tugas ini, masing-masing harus saling mengikat dan terkoordinasi serta berhubungan antara satu sama lain. Tidak ada yang lebih utama. Pihak yang mengurus tentara, tidak lebih utama dari mereka yang mengurus ekonomi.

Pihak yang mengurus ekonomi tidak lebih utama dari yang bertugas mengurus pendidikan. Ketiganya tidak pula lebih utama dari petani yang memang menekuni profesi pertaniannya. Sifat jalinan ini disampaikan dalam bentuk wazan mufâ’alah, yang menunjukkan pengertian "saling". Jadi, mudlârabah dalam hal ini juga bermakna saling berbagi 'bagian' atau job.

Di dalam ayat yang lain, Allah SWT memberikan suatu perumpamaan dengan menggunakan ayat dharaba matsalan (memberi perumpamaan). Ketika kosa kata ini dipergunakan, maka lafal dlaraba, seolah menunjukkan pada makna klasifikasi dan penjelasan. Misalnya ayat berikut ini:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Artinya, “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan Istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dikatakan (kepada kedua istri itu), ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka),’” (Surat At-Tahrîm ayat 10).

Di dalam Surat At-Tahrîm ayat 11, Allah SWT juga berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya, “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” (Surat At-Tahrîm ayat 11).

Sebenarnya masih banyak lagi ayat yang menggunakan lafal dharb ini di dalam Al-Qur’an. Namun, dua ayat ini sudah dapat merangkum dari keseluruhan ayat tersebut. At-Thabary dalam kitab tafsirnya, secara tersirat menggambarkan makna dharb dalam kedua ayat terakhir ini sebagai al-washfu wat tabyîn (spesifik/klasifikasi dan penjelasan).

Ditinjau dari sisi balaghahnya, ayat-ayat di atas berkutat di seputar perumpamaan (metafor). Ditinjau dari sisi balaghah (sastra), rukun dari membuat metafor ini ada 4, yaitu adanya musyabbah, musyabbah bihi, wajh syibh dan 'adat syibh. Bila masing-masing rukun ini, kita ejawantahkan dalam urusan niaga, maka akan terpetakan sebagai berikut:

1.    Adanya musyabbah, yaitu sesuatu yang hendak diserupakan. Yang hendak diserupakan (obyek yang diserupakan) dalam hal ini adalah dua orang atau lebih yang memiliki keinginan untuk berserikat dan menjalin kemitraan dalam melakukan usaha niaga).

2.    Adanya musyabbah bih, yaitu obyek penyerupaan. Yang dijadikan obyek penyerupaan adalah gambaran dari istri-istri para nabi yang mengkhianati suaminya. Dengan kata lain, dalam suatu kemitraan, bila ada salah satu anggota yang berkhianat dengan tidak menjalankan peran dan fungsinya sesuai deskripsi tugas yang diberikan, maka Allah akan menghilangkan keberkahan dari akad kemitraan itu.

3.    Adanya wajh syibh, yaitu tujuan dari penyerupaan. Tujuan dari penyerupaan adalah mendapatkan gambaran bahwa di dalam kemitraan dan usaha bersama, hendaknya masing-masing bersikap amanah terhadap perannya, tidak boleh saling menzalimi.

4.    Adanya adat tasybih. Adat tasybih dalam niaga ibarat seorang mudharib (pengelola) yang berfungsi menjaga musyabbah (harta niaga yang diserupakan) agar berjalan sesuai dengan tujuan yang disepakati oleh anggota kelompok. Kedudukan pengelola adalah sebagai “adat”, yaitu alat saja/manajer/direktur.

Maha Suci Allah lagi Maha Sempurna dalam Firman-Nya! Satu ayat ternyata banyak sekali menyimpan maksud dan tidak hanya bercerita seputar kisah. Inilah keparipurnaan Al-Qur’an sebagai wahyu kalam ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat. 

Walhasil, dharaba yang merupakan verba asli (fiil mujarrad) dari kata kerja dhâraba dengan kata benda jadiannya mudhârabah, adalah menyimpan makna berbagi tugas dalam suatu urusan tertentu dengan deskripsi yang jelas guna mencapai tujuan bersama. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya!
 

Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
Sabtu 28 September 2019 8:0 WIB
Sampah Plastik dan Kebakaran Lahan dalam Tafsir Etika Sosial
Sampah Plastik dan Kebakaran Lahan dalam Tafsir Etika Sosial
Ilustrasi: pri.org
Jenna R Jambeck dari Universitas Georgia melaporkan bahwa produksi sampah plastik dunia tahun 2010 mencapai 275 juta ton per tahun. Sebanyak 4.8 sampai 12.7 juta ton di antaranya terbuang ke laut. Sisanya sebanyak 264.3 juta tersebar mencemari tanah.

Indonesia diinformasikan pada tahun 2016 mendulang andil 5.4 juta ton sampah plastik. Tahun 2019 ini diperkirakan andil itu meningkat sebesar 12 juta ton sampah plastik. Di wilayah pesisir, penduduk Indonesia yang tinggal dan menetap di sana, dengan perkiraan angka sebesar 187.2 juta, menyumbang 3.22 juta ton sampah dan terbuang ke laut.

Angka ini cukup miris bila dibandingkan dengan populasi penduduk pesisir yang kurang lebih sama dengan India, yang menyumbang 0.48 sampai dengan 1.29 juta ton sampah ke laut. Angka ini setidaknya mengisyaratkan bahwa pengelolaan dan kampanye sampah plastik di Indonesia masih perlu disemarakkan. Selain kampanye, pengelolaannya pun juga turut serta perlu dikampanyekan dan disosialisasikan. 

Limbah plastik merupakan ekses dari maraknya pembangunan industri. Negara tidak akan maju tanpa keberadaan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Namun, industri harus memperhatikan dampak jangka panjang yang merugikan masyarakat dan lingkungan.

Ekses itu biasanya mewujud dalam bentuk efek kerusakan. Setiap kerusakan merupakan sebab bagi wajibnya perusahaan memberikan corporate and social responsibility (CSR) dalam bentuk pertanggungjawaban dampak terhadap sosial dan lingkungan Ayat yang telah dilanggar oleh perusahaan itu adalah Surat Al-Baqarah ayat 195:

وأنفقوا في سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين

Artinya, “Infaqkanlah harta kalian di jalan Allah! Jangan menjatuhkan tangan kalian pada kerusakan! Berbuat baiklah kalian! Sungguh Allah mencintai orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan,” (Surat Al-Baqarah ayat 195).

Sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy dengan sanad yang berasal dari Aslam Abu ‘Imrân RA berbunyi sebagai berikut:

 كُنَّا بِمَدِينَةِ الرُّومِ فَأَخْرَجُوا إِلَيْنَا صَفًّا عَظِيمًا مِنْ الرُّومِ ، فَحَمَلَ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ عَلَى صَفِّ الرُّومِ حَتَّى دَخَلَ فِيهِمْ، فَصَاحَ النَّاسُ وَقَالُوا : سُبْحَانَ اللَّهِ ! يُلْقِي بِيَدَيْهِ إِلَى التَّهْلُكَةِ ! فَقَامَ أَبُو أَيُّوبَ الأَنْصَارِيُّ فَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّكُمْ تَتَأَوَّلُونَ هَذِهِ الآيَةَ هَذَا التَّأْوِيلَ ، وَإِنَّمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةَ فِينَا مَعْشَرَ الأَنْصَارِ ، لَمَّا أَعَزَّ اللَّهُ الإِسْلامَ ، وَكَثُرَ نَاصِرُوهُ ، فَقَالَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ سِرًّا دُونَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَمْوَالَنَا قَدْ ضَاعَتْ ، وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعَزَّ الإِسْلامَ ، وَكَثُرَ نَاصِرُوهُ ، فَلَوْ أَقَمْنَا فِي أَمْوَالِنَا فَأَصْلَحْنَا مَا ضَاعَ مِنْهَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْنَا مَا قُلْنَا ( وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ) فَكَانَتْ التَّهْلُكَةُ الإِقَامَةَ عَلَى الأَمْوَالِ وَإِصْلاحِهَا ، وَتَرْكَنَا الْغَزْوَ . فَلَمْ يَزَلْ أَبُو أَيُّوبَ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى دُفِنَ بِالْقُسْطَنْطِينِيَّة

Artinya, “Suatu ketika kami berada di tengah-tengah Kota Rum. Tiba-tiba bala tentara Rum mengeluarkan selaksa barisan yang besar. Salah seorang laki-laki dari kalangan muslimin bergegas (mencabut pedangnya) dan maju ke arah barisan tersebut hingga ia mampu menembusnya. Para sahabat kaget dan berteriak, ‘Maha Suci Allah! Ia telah menjatuhkan tangannya dalam kerusakan!’ Lalu Abu Ayub Al-Anshary berdiri dan berkata, ‘Wahai manusia! Sungguh kalian telah menakwilkan ayat ini dengan takwil demikian rupa. Namun, (ketahuilah) bahwa ayat ini diturunkan kepada kami, kalangan sahabat Anshar. Saat itu, Allah telah benar-benar memuliakan agama-Nya–yakni Islam–serta menambah banyak jumlah para pemeluknya, lalu di antara kami saling bergumam (lirih) tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW. [Mereka bergumam], ‘Harta kita telah habis. Allah telah meluhurkan Islam dan menambah banyak jumlah pemeluknya. Maka, alangkah baiknya sekiranya kita memperbaiki ekonomi kita dulu dan menambal sesuatu yang telah hilang.’ Allah SWT menyambut gumaman kita saat itu itu seraya menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya (dan infaqkanlah hartamu di jalan Allah, dan jangan menjatuhkan tanganmu pada at-tahlukah). Maka dari itulah, yang dimaksud dengan at-tahlukah adalah [mengikuti kemauan kami] memperbaiki kondisi ekonomi, memulihkannya, namun meninggalkan perang. Abu Ayyub Al-Anshary merupakan sahabat yang senantiasa berjihad hingga beliau kemudian wafat dan dikebumikan di Konstantinopel.”

Hadits di atas, jika kita bawa pada konteks tafsir adaby ijtima’iy (tafsir etika sosial) adalah seolah mengajak kita agar jangan sampai modernnya zaman, melalaikan kita dari senantiasa berjuang menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Menjaga kelestarian alam dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dalam jangka panjang.

Jangka pendeknya, adalah mendapatkan kemudahan dari hasil kemajuan teknologi saat ini. Namun, kemudahan dan kemajuan teknologi itu tidak boleh menghentikan inovasi guna mendapatkan efek yang minim risiko dampak kerugian terhadap lingkungan dan alam sekitar, bahkan jika perlu 0% risiko. Inovasi harus senantiasa terus digalakkan.

Plastik merupakan salah satu produk teknologi yang memiliki keuntungan dalam jangka pendek, namun memiliki efek merugikan dalam jangka panjangnya. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah inovatif guna meminimalisasi efek merugikannya, dan pihak yang paling diutamakan untuk melakukan langkah itu adalah pihak produsen. Inovasi utamanya diarahkan pada menghasilkan produk pengganti yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Sebenarnya, penafsiran ayat dan hadits di atas bisa dibawa ke ranah sosial yang lain, suatu misal, pembukaan lahan dengan cara pembakaran. Meskipun cara ini dinilai praktis dan memudahkan, namun karena berefek merugikan yang besar dalam jangka pendek serta jangka panjangnya, tak urung tindakan tersebut merupakan tindakan yang kontrasosial dan lingkungan.

Tindakan semacam inilah yang dimaksud dengan istilah at-tahlukah. Tindakan ingin mudah, dan enaknya sendiri, tanpa mau menjaga hajat masyarakat banyak. Wallahu a’lam bis shawab
 
 
Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah–Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur