IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Cara Nabi Muhammad Menjaga Lingkungan

Jumat 4 Oktober 2019 16:0 WIB
Share:
Cara Nabi Muhammad Menjaga Lingkungan
Ilustrasi: NU Online
“Barang siapa menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala. Apa yang dimakan oleh binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekah,” kata Nabi Muhammad dalah satu hadits riwayat An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Ahmad.

Nabi Muhammad tidak melulu mengajarkan ritual keagamaan. Dalam beberapa kesempatan, Nabi juga mengingatkan para sahabat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Jika lingkungan rusak, maka manusia juga yang akan menanggung dampaknya. Karena bagaimana pun, manusia dan lingkungan dengan segala aspeknya yang berbeda-beda itu saling terkait dan saling membutuhkan. 

Nabi Muhammad memberikan beberapa rambu dan arahan umum terkait dengan pelestarian lingkungan. Pertama, melarang melakukan pencemaran lingkungan. Nabi sangat tegas terkait dengan hal ini. Dalam satu hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majjah, beliau melarang keras seseorang buang air besar di sungai-sungai yang mengalir, di jalan yang dilalui orang, dan tempat berteduh. Ketiga perbuatan tersebut merupakan hal yang dilaknat. Di hadits lain, Nabi juga melarang seseorang untuk buang air besar di air yang tidak mengalir karena itu akan merusak air tersebut.

Kedua, menghemat air. Suatu ketika, Nabi Muhammad menegur sahabatnya, Sa’ad, karena berlebih-lebihan menggunakan air ketika berwudhu—meskipun pada saat itu air tersedia melimpah. Hal itu membuat Sa’ad bingung dan bertanya kepada Nabi perihal yang dilakukannya. 

“Apakah di dalam wudhu ada berlebih-lebihan?” tanya Sa’ad.

“Ya, walau pun engkau sedang berada berada di sungai yang mengalir,” jawab Nabi. Melalui hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad ini, Nabi menasihati sahabatnya (dan umat Islam) agar hemat dalam menggunakan air. Karena, air merupakan salah satu kekayaan alam yang paling penting dalam kehidupan manusia. Selain air, penggunaan listrik, minyak, dan energi lainnya juga harus dihemat, tidak berlebih-lebihan.

Ketiga, menanam tumbuhan. Dalam upaya menjaga lingkungan, Nabi Muhammad juga menganjurkan umatnya untuk menanam tumbuh-tumbuhan di lahan-lahan yang sekiranya kosong. Kata Nabi, seseorang yang menanam pohon akan mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah. Ia akan mendapatkan pahalanya sepanjang tanaman tersebut memberikan manfaat atau dimanfaatkan orang yang hidup di sekitarnya. 

Keempat, mengidupkan tanah mati. Nabi menyerukan kepada para sahabatnya untuk menghidupkan tanah-tanah yang tidak dikelola. Beliau tidak membiarkan ada lahan sejengkal pun di wilayah kekuasaan umat Islam yang mati atau tidak dikelola. Mengapa? Karena siapapun yang memakan hasilnya itu –baik manusia atau pun hewan- maka yang menaman atau menabur akan mendapatkan pahala sedekah.

“Barang siapa yang menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala. Dan apa yang dimakan binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekat,” kata Nabi.

Kelima, menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Nabi Muhammad bersabda, suatu ketika Allah memperlihatkan kepadanya amal baik dan amal buruk dari umatnya. Di antara amal baik umatnya yang diperlihatkan kepada Nabi adalah menyingkirkan gangguan atau bahaya dari jalan. Sementara amal buruk umatnya adalah meludah di masjid dan tidak membersihkannya.

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menekankan kepada umatnya agar menjaga kebersihan karena Allah menyukai kebersihan. Di hadits lain, Nabi mengtakan bahwa Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan.  

“Maka bersihkanlah halaman kalian,” kata Nabi. 

Satu hari, Nabi Muhammad pernah mencagarkan sebuah wilayah—yang meliputi lembah, padang rumput, dan tumbuhan- di sekitar Madinah. Nabi melarang siapapun menggarap lahan yang dilindunginya tersebut untuk kepentingan pribadi karena lahan itu dimaksudkan untuk kemaslahatan bersama. Lahan yang dicagarkan Nabi itu ditaksir seluas 2.049 hektare dan dipakai sebagai  tempat berdiamnya kuda-kuda perang kaum Muhajirin dan Anshor. 

“Ini adalah lahan yang aku lindungi” kata Nabi merujuk sebuah gunung di sekitar Madinah. 

Demikian cara Nabi Muhammad menjaga dan melestarikan lingkungan. Memang, persoalan lingkungan yang ada pada zaman Nabi Muhammad tidak lah se-kompleks seperti saat ini. Namun demikian, secara garis besar Nabi Muhammad telah memberikan rambu-rambu atau arahan tentang bagaimana cara menjaga dan melestarikan lingkungan. 
 

Penulis: Muchlishon Rochmat
Editor: Alhafiz Kurniawan
Share:

Baca Juga

Rabu 2 Oktober 2019 12:0 WIB
Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda yang Ditunjuk Nabi
Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda yang Ditunjuk Nabi
ilustrasi: indonesian.iloveallaah.com
Usamah merupakan salah satu sahabat yang dekat dengan Nabi Muhammad secara personal. Ayah Usamah, Zaid bin Harits, adalah pelayan yang kemudian menjadi anak angkat Nabi Muhammad. Sementara ibunda Usamah, Ummu Ayyam, 'budak peninggalan' ayah Nabi Muhammad, Abdullah bin Abdul Muthalib. Namun, Nabi begitu menghormatinya. Bahkan, Nabi menganggap Ummu Aiman sebagai ibu keduanya.  

Usamah lahir dan tumbuh di Makkah, dalam lingkungan rumah tangga Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, sejak kecil ia sudah mengenal dan memeluk Islam. Nabi begitu sayang terhadap Usamah. Tidak jarang beliau memangku Usamah, bersama dua cucu kesayangannya; Sayyidina Hasan dan Husain.

"Ya Allah, sayangilah mereka, karena aku menyayangi mereka. Ya Allah, cintailah mereka, karena aku mencintai mereka," kata Nabi Muhammad, mendoakan Usamah, Hasan, dan Husain suatu hari. 
 
Salah satu kasih sayang yang ditunjukkan Nabi Muhammad kepada Usamah adalah ketika 'cucunya' itu jatuh tersungkur hingga keningnya terluka. Pada saat itu, sebagaimana dikisahkan Nizar Abazhah dalam Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah (2011), mendekati dan langsung menyesap darah luka yang ada di kening Usamah tersebut, lalu meludahkannya. Hingga luka itu menjadi bersih dan Usamah tidak lagi kesakitan.
 
Di lain kesempatan, Nabi Muhammad juga rela menunda melaksanakan tawaf ifadah pada saat haji wada demi menunggu Usamah. Ketika Usamah datang, Nabi langsung memintanya untuk naik ke untanya. Tentu saja hal itu membuat sekelompok orang Yaman yang hadir bersama Nabi merasa keheranan. Bagaimana mungkin Nabi menunda bertawaf demi seorang Usamah. 

Meski demikian, Nabi juga pernah tidak suka dengan salah satu perbuatan Usamah bin Zaid. Ketika itu, Usamah mengejar seorang lelaki musyrik. Ketika lelaki tersebut terpojok, Usamah langsung mengangkat tombaknya dan mengarahkan kepadanya. Entah karena motif apa, lelaki musyrik tersebut mengucapkan syahadat. Namun Usamah tetap membunuhnya. 

Kabar tentang kejadian itu sampai kepada Nabi. Apa yang dilakukan Usamah tersebut membuat Nabi sedih dan murka. Karena bagaimanapun, ketika orang mengucapkan syahadat maka dia sudah menjadi Muslim. "Bagaimana kau bisa membunuh orang yang mengucapkan syahadat?" Nabi mengulang perkataan itu beberapa kali hingga membuat Usamah cemas. Kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagi Usamah dan seluruh umat Islam agar tidak mengalirkan darah orang yang mengucapkan syahadat. 

Ketika usia Usamah beranjak dewasa, Nabi Muhammad menunjuknya menjadi panglima perang yang memimpin pasukan umat Islam melawan Romawi Timur (Byzantium). Merujuk buku Perang Muhammad Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah (Nizar Abazhah, 2014), kejadian ini terjadi pada awal bulan Shafar tahu ke-11 H atau saat Usamah berusia 17 tahun—riwayat lain 18 tahun. Penyerangan tersebut dimaksudkan sebagai pertahanan, agar Romawi Timur (Byzantium) tidak lagi berpikir untuk menyerang Madinah. 

Sebagian sahabat keberatan dengan penunjukan Usamah tersebut. Mereka berpikir bahwa Usamah masih terlalu muda untuk memimpin tugas berat tersebut. Masih ada pembesar kaum Muhajirin dan Anshor yang lebih layak menempati posisi Usamah tersebut. Nabi kemudian mendatangi mereka yang meragukan Usamah dan menyampaikan pidato berikut seperti terekam dalam The Great Episodes of Muhammad Saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017):
"Jika kalian meremehkan kepemimpinan Usamah bin Zaid, berarti kalian juga meremehkan kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, jiwa kepemimpinan telah terpatri dalam dirinya. Demi Allah, dia orang yang paling aku cintai. Demi Allah, Usamah diciptakan untuk menjadi pemimpin," kata Nabi Muhammad. 

Usamah lantas berangkat meninggalkan Madinah. Ketika tiba di Jurf, sebuah wilayah yang jaraknya sekitar satu farsakh dari Madinah, ia menghentikan pasukannya dan mendirikan kemah setelah mendengar kondisi kesehatan Nabi Muhammad memburuk. Beberapa saat kemudian, Nabi Muhammad wafat. Detasemen yang dipimpin Usamah gagal berangkat ke tujuan. Usamah langsung kembali ke Madinah. Ia menangis tersedu di makam Nabi karena kehilangan ‘kakek’ yang begitu dikasihinya.

Usamah dan detasemennya baru diberangkatkan ke wilayah penduduk Ubna, yang berada di bawah kekuasaan Romawi Timur, pada masa kekhalifahan Abu Bakar as-Shiddiq. Abu Bakar mengantar Usamah sebagai panglima perang dengan berjalan kaki, sementara Usama berada di atas pungguh unta. Hal itu merupakan bentuk penghormatan yang dilakukan Abu Bakar kepada Nabi Muhammad, yang telah menunjuk Usamah sebagai panglima perang.
Ketika melepaskan Usamah dan pasukannya yang berkekuatan 3000 prajurit, Abu Bakar as-Shiddiq menyampaikan sebuah pidato yang bagus sekali.
 
Berikut pesan Abu Bakar kepada Usamah dan pasukannya: "Berperanglah dengan nama Allah dan di jalan Allah. Jangan berkhianat, jangan melanggar janji, jangan memotong-motong tubuh mayat. Jangan membunuh anak kecil, orang lanjut usia, juga wanita. Jangan menebang pohon, jangan merusak, dan membakar pohon kurma. Jangan menyembelih kibas atau unta kecuali untuk dimakan. Kalian akan melewati suatu kaum yang berdiam di biara-biara, biarkan mereka. Perangi orang yang memerangi kalian dan berdamailah dengan orang yang berdamai dengan kalian," kata Abu Bakar as-Shiddiq.
 
Penulis: A Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Senin 30 September 2019 23:55 WIB
Rahasia di Balik Lahirnya Rasulullah di Makkah
Rahasia di Balik Lahirnya Rasulullah di Makkah
Ilustrasi Nabi Muhammad. (NU Online)
Dalam agama Islam ada namanya Jabal Rahmah, sebuah tugu batu, kemudian di India ada yang dikenal dengan sebutan Lingga Yoni. Ada air yang bernama Zamzam, ada air yang bernama Gangga, ada perjalanan suci dengan kain slempang, di sini ada yang berwarna putih, di sana yang berwarna kuning.

Selesai perjalanan suci, ada urusan yang sama terkait dengan urusan rambut, yang di sini tahallul, yang di sana digundul. Selesai perjalanan suci itu ada darah yang di sini ada kurban, di sana ada Gadri. Yang ketika meninggalkan sujud meninggalkan tanda yang di sini dua, di sana delapan. Ini butuh kajian yang sangat mendalam bahwa agama merupakan awal yang dinamakan Milata Ibrahim.

KH Ahmad Muwafiq dalam Islam Rahmatan Lil 'Alamin (2019) menjelaskan, dari proses tersebut kemudian guidance bergeser karena Nabi Ibrahim meninggal. Diteruskan olah dua putranya, yang satu bernama Ismail yang satu bernama Ishaq. Dan guidance tersebut berubah ketika Ishaq mempunyai anak bernama Yaqub atau Israil yang itu mempunyai 12 anak yang dinamakan Bani Israil.

Dan Bani Israil mampu membangun guidance baru karena dikasih Kitab Injil dan dikasih Kitab Taurat. Yang dikasih Kitab Taurat hingga saat ini masih menjadi bagian besar dari umat manusia di dunia dengan agama besarnya yaitu Yahudi. Yang dikasih Kitab Injil masih menjadi umat besar di muka bumi ini yang disebut Nasrani. Punya Pusat kota besar namanya vatikan. Yang di sini mempunyai pengikut bernama Romo.

Guidance ini bergeser, akan tetapi Allah menunjukkan bahwa ini harus dikembalikan pada guidance awal, pada jalur awal. Maka kemudian dilahirkanlah Rasulullah Muhammad SAW di Kota Makkah. Makkah adalah kunci di mana manusia harus dikembalikan ke jalan Allah. Itulah kemudian mengapa Rasulullah lahir di Kota Makkah untuk mengembalikan simbol kenabian dari awal sampai akhir sebagai wujud Khatamul Anbiya’ wal Mursalin.

Ketika terjadi sengketa dengan agama-agama sebelumnya, kemudian Allah mengutus Rasulullah sebagai guidance kenabian, maka kemudian diangkatlah Rasulullah ke langit. Rasulullah ditunjukkan jejak para pendahulunya.

Pemahaman lahirnya Rasulullah di Makkah akhirnya menjadi kunci. Kunci apa? Kunci bagi kita semua bahwa kita bukan orang Makkah. Kita orang Indonesia. Rasul di Makkah, Rasul ini lahir di Arab, maka pelajaran pertama yaitu mengembalikan orang Makkah untuk kembali ke jalan Allah.

Dan Rasul tidak ke mana-mana, Rasul menyebarkan Islam hanya sampai di Madinah. Setelah dalam waktu 22 tahun Rasulullah meninggal. Nah memahami Rasulullah yang lahir di Makkah adalah menjadi tonggak. Lantas bagaimana bisa Rasul yang ada di Makkah bisa sampai ke Indonesia, ajarannya, dan 90 persen orang Indonesia mengikuti Rasulullah SAW.

Ini pasti bukan sesuatu yang muda dalam bahasa Al-Qur’an ada Shiratal Mustaqim kemudian ada Shiratalladzina ‘an ‘amta ‘alaihim. Kemudian inilah yang menjadikan ada peringatan Maulid yang menjadi refleksi dasar antara Makkah dan Madinah dan antara sejarah yang sangat panjang dan itu bukan datang tiba-tiba.

Rasulullah mengajarkan di sana gaya orang-orang yang ada di sana. Rasulullah sangat terkenal ketika mengajarkan Islam, Rasul bukan orang yang keras, Rasul juga bukan orang yang membabi buta. Rasulullah dijelaskan anittum harisun alaikum bil mu’minina raufurrahim. Rasul ingin sekali umatnya kembali ke jalan Allah. Sebab itu ia mengajarkan manusia dengan cara yang berbeda-beda dan sederhana. Ada yang pinter kelasnya Sayyidina Ali diajarkan dengan standar orang pintar, dan lain sebagainya.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon
Kamis 26 September 2019 17:0 WIB
Saat Nabi Perintahkan Zaid bin Tsabit Mempelajari Bahasa Yahudi
Saat Nabi Perintahkan Zaid bin Tsabit Mempelajari Bahasa Yahudi
Ilustrasi: NU Online
“Dan Engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur’an dan Engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (Engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (Surat Al-Ankabut ayat 48).

Zaid bin Tsabit adalah salah seorang sahabat yang cerdas dan cakap. Karena itulah, Nabi Muhammad mempercayakan posisi penulis wahyu kepada Zaid bin Tsabit. Tiap kali wahyu turun, Nabi Muhammad mendiktekannya kepada Zaid bin Tsabit. Zaid kemudian langsung menghafal dan menuliskannya ke pelepah kurma, kulit hewan, batu, dan lainnya.

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menugaskan Zaid bin Tsabit untuk menulis surat-surat untuknya. Nabi mendikte dan Zaid kemudian menuliskannya. Jika penerima surat tidak berbahasa Arab, maka tugas Zaid bin Tsabit adalah menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka. Oleh sebab itu, Zaid bin Tsabit dituntut menguasai banyak bahasa.

Merujuk pada Hayatush Shahabah (Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, 2019), Nabi Muhammad pernah memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari aksara Yahudi. Hal itu bermula ketika suatu hari orang-orang yang tengaha menghadap Nabi berkata bahwa ada seorang anak dari Bani Najjar–salah satu suku Yahudi yang mendiami Jazirah Arab–telah menghafal 17 Surat Al-Qur’an. Nabi takjub setelah mendengar anak tersebut membaca Al-Qur’an.

Setelah itu, Nabi Muhammad memerintahkan Zaid bin Tsabit yang saat itu berada di sampingnya untuk mempelajari aksara Yahudi, baik lisan maupun tulisan. Alasannya, agar Zaid bin Tsabit bisa menerjemahkan kata-kata yang disampaikan Nabi Muhammad ketika berinteraksi dengan orang Yahudi, baik dalam hal surat-menyurat atau pun berpidato di hadapan mereka.

“Wahai Zaid, pelajarilah untukku aksara Yahudi, karena demi Allah, aku tidak merasa aman terhadap suratku dari orang Yahudi,” kata Nabi Muhammad.

Zaid bin Tsabit kemudian mempelajari aksara Yahudi. Dalam kurun waktu setengah bulan, dia berhasil menguasainya dengan baik, baik lisan maupun tulisan. Jika Nabi Muhammad hendak mengirimkan surat kepada komunitas Yahudi, maka Zaid bin Tsabit menuliskannya. Zaid juga yang menerjemahkan ketika Nabi Muhammad menerima surat dari mereka.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa-bahasa asing lainnya seperti Bahasa Suryani. Karena pada saat itu, Nabi tengah menerima surat dari suku yang berbahasa Suryani. Sementara para sahabat tidak ada yang memahami bahasa tersebut.

“Telah datang kepadaku surat, dan aku tidak ingin dibaca sembarang orang. Nah, bisakah engkau (Zaid bin Tsabit) mempelajari aksara Ibrani—atau beliau mengatakan; aksara Suryani?” tanya Nabi Muhammad.

Zaid menyanggupi permintaan Nabi. Dia kemudian berhasil menguasai bahasa tersebut setelah mempelajarinya selama 17 malam.

Dalam mendakwahkan Islam, Nabi Muhammad tidak hanya menyampaikannya secara langsung di hadapan umatnya tapi juga melalui surat-menyurat. Biasanya Nabi menggunakan metode dahwah tersebut untuk mengajak para raja-raja di wilayah Jazirah Arab dan sekitarnya agar memeluk Islam.

Di antara raja-raja yang Nabi Muhammad pernah mengirimkan surat kepada mereka adalah Muqawqis (Raja Qibthi di Mesir), Heraclius (Kaisar Romawi Timur), Raja Najasyi (Penguasa Habasyah), Gassan Jabalah bin Aiham (Raja Thaif), Negus (Penguasa Abessinia), Munzir bin Sawi (Penguasa Bahrain), Kisra (Penguasa Persia), dan lainnya.

Tentu saja, para raja tersebut tidak semuanya berbahasa Arab. Oleh sebab itu, Nabi perlu memiliki penulis pribadi yang menguasai bahasa-bahasa mereka. Sehingga pesan yang hendak disampaikan Nabi Muhammad bisa dipahami mereka. Dan penulis pribadi Nabi yang menguasai banyak bahasa adalah Zaid bin Tsabit.
 
 
Penulis: Muchlishon
Editor: Alhafiz Kurniawan