IMG-LOGO
Shalat

Pentingnya Musyawarah dan Istikharah Sebelum Membuat Keputusan Penting

Senin 7 Oktober 2019 18:15 WIB
Share:
Pentingnya Musyawarah dan Istikharah Sebelum Membuat Keputusan Penting
Istikharah dan musyawarah merupakan ikhtiar yang memadukan adab kepada sesama manusia dengan adab kepada Allah 
Allamah Sayyid Abdullah al-Haddad mengingatkan pentingnya musyawarah dan istikharah sebelum membuat keputusan dalam urusan-urusan penting, seperti bepergian jauh, mencari jodoh (menikah), dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab beliau berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 114) sebagai berikut:
 
 (وعليك) إذا أردت الشروع في أمر مهمّ كالسفر والزواج ونحوهما بمشاورة من تثق بمعرفته وأمانته من إخوانك، ثم إذا صادفَتْ إشارته ما في النفس فعليك بصلاة ركعتين من غيرالفريضة بنية الاستخارة، وادعو بعدهما بالدعاء المشهور. قال عليه الصلاة والسلام: "ما خاب من استخار وما ندم من استشار". 
 
Artinya, “Setiap kali engkau bermaksud memulai urusan penting seperti bepergian jauh, menikah, dan sebagainya, hendaknya engkau bermusyawarah atau berdiskusi dengan saudara-saudara atau teman-teman yang engkau percaya terhadap kearifan dan amanahnya. Jika sarannya memperoleh sambutan dalam hatimu, lakukanlah shalat sunnah dua rakaat dengan istikharah. Setelah itu bacalah doa istikharah yang masyhur seperti yang diajarkan Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan gagal siapapun yang melakukan istijharah dan tidak akan menyesal siapa saja yang suka bermusyawarah.”
 
Dari kutipan tersebut dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:
 
Pertama, dalam urusan-urusan penting yang menyangkut keselamatan jiwa, masa depan, dan sebagainya, seperti bepergian jauh, mencari pekerjaan, atau mencari jodoh (menikah), kita tidak sebaiknya membuat keputusan sendiri tanpa melibatkan orang-orang dekat kita, seperti sanak saudara atau orang-orang dekat seperti teman-teman dan para guru. Hal ini karena sebagai makhluk sosial kita tidak sebaiknya mengabaikan keterkaitan kita dengan mereka. 
 
Ketika kita hendak menempuh perjalanan jauh ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri dengan tujuan mencari pekerjaan atau berdakwah, misalnya, masukan-masukan dari orang-orang dekat kita yang memang memiliki kapasitas keilmuan atau pengalaman, baik yang setuju maupun tidak setuju, perlu dipertimbangkan. Hal ini karena kita sebagai manusia memiliki keterbatasan dalam banyak hal dalam menatap masa depan sehingga memerlukan bantuan apapun wujudnya dari orang lain.
 
Baca juga:
 
Terlebih dalam kaitan dengan memilih jodoh atau menikah, membicarakan masalah itu sebelumnya dengan kerabat dekat khususnya kedua orang tua sangat penting. Hal ini karena pernikahan sesungguhnya tidak semata-mata merupakan urusan pribadi dengan pribadi lain tetapi sekaligus merupakan urusan keluarga dengan keluarga lain. Dengan kata lain pernikahan juga merupakan penggabungan dua keluarga atau bahkan lebih sehingga memerlukan sikap hati-hati agar tidak salah melangkah. 
 
Kedua, hasil konsultasi atau musyawarah dengan orang-orang dekat sebagaimana disinggung di atas tidak serta merta kita jadikan keputusan final sebab sebagai makhluk individual kita pun memiliki keterikatan dengan Sang Pencipta. Apalagi dalam setiap rakaat shalat kita selalu menyatakan ikrar hanya kepada-Nya kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan sebagaimana terkandung dalam surat Al-Fatihah ayat 5 sebagai berikut: 
 
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
 
Artinya,“ Hanya Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
 
Melaui shalat istikharah kita mengomunikasikan hasil-hasil musyawarah atau diskusi itu kepada Allah subhanahu wata’ala, disertai doa istikharah seusai shalat sebagai berikut:
 
 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ. 
 
Artinya,”Ya Alah aku memohonkan pilihan-Mu untukku dengan ilmu-Mu dan aku memohon kepada-Mu yang agung, karena Engkau Kuasa sedangkan aku tak berkuasa. Enkau mengetahui sedang aku tak mengetahui. Engkaulah yang Maha Mengetahui Segala yang gaib. Ya Allah jika, jika menurut pengetahuan-Mu urusan ini lebih baik bagiku dalam agamaku dan kehidpanku di masa sekarang dan akan datang, maka tetapkanlah ia dan mudahkanlah untukku dan berkatilah ia untukku. Banun, jika menurut pengetahuan-Mu, urusan ini tidak baik untukku dalam agamaku dan kehidupanku di masa sekarang dan akan datang, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkankah aku darinya dan tetapkanlah kebaikan bagiku di mana ia berasa, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya”(HR. Bukhari). 
 
Hasil istikharah bisa dirasakan melalui kemantapan hati, atau melalui mimpi dengan isyarat atau simbol-simbol tertentu. Jika dirasa sulit memaknainya, maka bisa didiskusikan dengan orang-orang dekat yang paham makna hal-hal seperti itu. Jika masih ada keraguan, istikharah bisa diulang dua atau tiga kali. Setelah itu bisa diambil keputusan final. 
 
Demikianlah adab yang sebaiknya kita lalui sebelum membuat keputusan penting sebagaimana nasihat Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Intinya adalah memadukan antara adab kepada sesama manusia dan adab kepada Allah subhanahu wata’ala dan tidak mempertentangkannya. 
 
 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.
Share:

Baca Juga

Senin 30 September 2019 4:0 WIB
Khutbah Istisqa Sebelum atau Sesudah Shalat?
Khutbah Istisqa Sebelum atau Sesudah Shalat?
Masyarakat menjalankan shalat istisqa (Foto: Ansor Samudra)
Shalat sunnah istisqa dianjurkan ketika masyarakat mengalami kemarau panjang sehingga makhluk hidup kesulitan mendapatkan air baik yang di kota, desa, maupun di hutan. Imam atau petugas yang ditunjuk juga dianjurkan untuk berkhotbah mengiringi shalat istisqa.
 
Shalat dan khutbah istisqa pada prinsipnya berisi permohonan ampun segenap makhluk hidup kepada Allah Swt dan pengakuan mereka atas kuasa-Nya terhadap air sebagai kebutuhan makhluk hidup. Allah Swt berfirman sebagai berikut:
 
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
 
Artinya, "Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,–sungguh Dia adalah Maha Pengampun–niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai," (Surat  Nuh ayat 10-12).
 
Sahabat Ibnu Abbas Ra menceritakan praktik shalat dan khutbah istisqa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sahabat Ibnu Abbas Ra juga mendeskripsikan bagaimana pakaian dan cara berjalan Rasulullah Saw ketika itu:
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: (خَرَجَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ)  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ
 
Artinya, “Ibnu Abbas RA berkata, ‘Nabi Muhammad Saw keluar dari rumah dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyuk, tenang, berdoa kepada Allah, lalu beliau shalat dua rakaat seperti pada shalat hari raya. Nabi Muhammad Saw tidak berkhutbah seperti pada shalat hari raya. Ia tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini,'" (Riwayat Imam Lima dan dinilai shahih oleh Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban).
 
Dari sini, ulama kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat dianjurkan secara sunnah muakkad untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat dan khutbah istisqa pada saat mengalami kemarau panjang yang menghasilkan kekeringan.
 
Pertanyaannya kemudian apakah khutbah disampaikan sebelum atau sesudah shalat istisqa? Mayoritas ulama mengatakan bahwa khotbah disampaikan sesudah shalat istisqa. Sedangkan, khutbah yang disampaikan sebelum shalat istisqa tidak menjadi masalah sebagaimana keterangan berikut ini:
 
مشروعية الخطبة بعد الصلاة قال الجمهور الأفضل تأخير الخطبة كصلاة العيد وخطبته فلو قدم الخطبة على الصلاة صحتا
 
Artinya, "Khutbah dalam hadits ini disyariatkan setelah shalat istisqa. Mayorias ulama berpendapat bahwa yang utama adalah menempatkan khutbah setelah shalat istisqa sebagaimana praktik shalat dan khutbah Id. Tetapi jika khutbah dilaksanakan sebelum shalat istisqa, maka keduanya tetap sah," (Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 121).

Penyampaian khutbah sebelum shalat istisqa pernah dilakukan Rasulullah Saw sebagaimana riwayat panjang Abu Dawud dari Aisyah RA. Dari sini kemudian ulama membolehkan penyampaian khutbah sebelum shalat istisqa meski tidak disarankan:
 
شكا الناس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قحوط المطر فأمر بمنبر فوضع له في المصلى ووعد الناس يوما يخرجون فيه قالت عائشة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر فكبر صلى الله عليه وسلم وحمد الله عز وجل ثم قال إنكم شكوتم جدب دياركم واستئخار المطر عن إبان زمانه عنكم وقد أمركم الله عز وجل أن تدعوه ووعدكم أن يستجيب لكم ثم قال ( الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين ) لا إله إلا الله يفعل ما يريد اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغا إلى حين ثم رفع يديه فلم يزل في الرفع حتى بدا بياض إبطيه ثم حول إلى الناس ظهره وقلب أو حول رداءه وهو رافع يديه ثم أقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فأنشأ الله سحابة فرعدت وبرقت ثم أمطرت بإذن الله فلم يأت مسجده حتى سالت السيول فلما رأى سرعتهم إلى الكن ضحك صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه فقال أشهد أن الله على كل شيء قدير وأني عبد الله ورسوله
 
Artinya, "Orang-orang mengadu kepada Rasulullah Saw atas musim kemarau yang panjang. Lalu ia memerintahkan sahabat untuk meletakkan mimbar di tanah lapang, lalu ia membuat kesepakatan dengan masyarakat untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan. Aisyah lalu berkata, ‘Rasulullah Saw keluar dari rumah ketika matahari mulai terlihat, lalu duduk di mimbar. Ia bertakbir dan memuji Allah, lalu bersabda, ‘Sungguh kalian mengadu kepadaku atas kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak turun. Padahal Allah telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doa kalian.’ Kemudian ia mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. (Surat Al-Fatihah ayat 2-4). La ilaha illallahu yaf’alu ma yurid. Allahumma antallahu la ilaha illa antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. Anzil alainal ghaitsa waj’al ma anzalta lana quwwatan wa balaghan ila hin (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang layak disembah kecuali Engkau Yang Maha Kaya. Sementara kami membutuhkan-Mu. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Kauturunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang ditetapkan).’ Kemudian Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih ketiaknya. Ia membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya saat ia masih mengangkat kedua tangannya. Ia lalu menghadap ke jamaah, lalu turun dari mimbar dan shalat dua rakaat. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Hujan pun turun dengan izin Allah. Ia tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, Rasulullah SAW tertawa hingga tsmpsk gigi gerahamnya, lalu bersabda, ‘Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan rasul-Nya,"" (HR Abu Dawud).
 
Dari pelbagai penjelasan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa pada prinsipnya shalat sunnah minta turun hujan dan khutbah istisqa berisi permohonan ampun dan ketundukan makhluk hidup kepada Allah atas kuasanya terhadap alam raya, dalam konsteks ini adalah air.
 
Sebelum shalat dan khutbah istisqa, yang tidak boleh diabaikan juga adalah perintah untuk melakukan rekonsiliasi bagi pihak-pihak yang bertikai dan mengembalikan barang-barang yang dirampas dari orang lain, serta menyelesaikan kezaliman yang dilakukan terhadap orang lain. Wallahu a‘lam.
 
 
Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Kendi Setiawan
Jumat 27 September 2019 13:0 WIB
Tata Cara Khutbah Shalat Istisqa
Tata Cara Khutbah Shalat Istisqa
Ilustrasi khutbah Shalat Istisqa. (suara merdeka)
Shalat sunnah istisqa dan khutbah setelah Shalat Istisqa disyariatkan dalam agama Islam sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah. Shalat ini dianjurkan ketika masyarakat mengalami musim panas yang berkepanjangan sehingga pasokan air berkurang.

Allah swt berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

Artinya, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –sungguh Dia adalah Maha Pengampun–, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu,’” (Surat Nuh ayat 10-12).
 

Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip hadits Rasulullah saw perihal praktik Shalat Istisqa dalam karyanya, Bulughul Maram, sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ

Artinya, “Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, Nabi Muhammad saw keluar rumah dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah. Lalu ia shalat dua rakaat seperti pada shalat hari raya. Ia tidak berkhutbah seperti pada shalat hari raya. Ia tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini.” (HR Imam Lima dan dinilai shahih oleh At-Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban).
 

Adapun khutbah Shalat Istisqa sedikit berbeda dari khutbah pada umumnya. Khutbah istisqa dibuka dengan istighfar, bukan dengan takbir sebagaimana keterangan berikut ini:

ثم يخطب الإمام خطبتين بعدهما الركعتين، يستغفر الله الكريم في افتتاح الأولى تسعا و في افتتاح الثانية سبعا وصيغة الاستغفار أَسْتَغفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Artinya, “Kemudian imam berkhutbah dua kali setelah shalat dua rakaat, lalu ia beristighfar sebanyak sembilan kali pada pembukaan khutbah pertama, dan sebanyak tujuh kali pada pembukaan khutbah kedua. Adapun lafal istighfarnya adalah ‘Astaghfirullahal azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaihi,’” (KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Maktabah Al-As‘adiyah: 2014 M/1434 H], cetakan pertama, halaman 63).
 
Dari sini dapat dibuat rangkaian susunan pelaksanaan shalat dan khutbah istisqa sebagai berikut:
 
Pertama, pemerintah mengumumkan pelaksanaan Shalat Istisqa selama 4 hari ke depan.

Kedua, masyarakat disunnahkan berpuasa bersama selama 4 hari. Selama berpuasa pada tiga hari pertama, pemerintah dan masyarakat dianjurkan untuk bertobat, bersedekah, berhenti dari kezaliman/mengembalikan hak-hak orang lain yang telah dirampas, dan mengadakan rekonsiliasi atas sengketa dan konflik dengan pihak lain.
 
Ketiga, pada hari keempat, masyarakat kumpul bersama untuk melakukan Shalat Istisqa sebanyak dua rakaat. Masyarakat dianjurkan untuk mengenakan pakaian biasa, bukan pakaian mewah. Masyarakat juga dianjurkan untuk keluar rumah dengan penuh kerendahan hati dan menunjukkan kefakiran kepada Allah swt sebagai penguasa hujan.
 
 
Masyarakat diharapkan semua berkumpul bersama, baik orang dewasa, lansia, dan juga anak-anak. Masyarakat juga dianjurkan untuk membawa hewan ternak karena yang berkebutuhan atas air adalah semua makhluk hidup, bukan hanya manusia.
 
Keempat, setelah shalat dua rakaat dengan bacaan lantang/jahar, khatib naik ke mimbar untuk berkhutbah sebanyak dua kali sebagaimana biasa. Hanya saja, pada pembukaan khutbah pertama, khatib disunnahkan membaca istighfar sebanyak 9 kali. Pada pembukaan khutbah kedua, khatib membaca istighfar sebanyak 7 kali.
Lafal istighfar pembukaan khutbah Shalat Istisqa adalah sebagai berikut:

أَسْتَغفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullahal azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaihi

Artinya, “Aku meminta ampun kepada Allah yang maha agung. Tiada tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Maha Tegak. Aku bertobat kepada-Nya.”
 
Kelima, khatib disunnahkan memutar selendang atau serban yang diselempangkan di bahunya sehingga sisi serban yang posisi di atas menjadi di bawah, kemudian memindahkannya ke bahu yang lain.
 
Praktik pemutaran dan pemindahan serban merupakan bentuk tafa’ul, sejenis doa agar keadaan berubah dari paceklik berkepanjangan menjadi turunnya air hujan.
 
Keenam, khatib disunnahkan memperbanyak doa baik sir dan jahar. Ketika khatib membaca dia secara lantang, maka jamaah Shalat Istisqa mengamininya. Dalam membaca doa, khatib juga dianjurkan untuk bertawasul

Ketujuh, khatib disunnahkan memperbanyak membaca istighfar. Pada prinsipnya, syarat dan rukun khutbah Shalat Istisqa sama saja dengan syarat dan rukun khutbah Jumat dan Shalat Id. Artinya, sejauh syarat dan rukun khutbahnya terpenuhi, maka khutbah Shalat Istisqa tetap sah. Wallahu a’lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlison
Rabu 25 September 2019 16:45 WIB
Hukum Shalat Istisqa di Malam Hari
Hukum Shalat Istisqa di Malam Hari
(Ilustrasi: NU Online)
Istisqa secara bahasa adalah meminta siraman berupa air minum, air hujan, air masak, dan lainnya. Sedangkan secara istilah syariat adalah permintaan hujan oleh seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala saat membutuhkannya. Istisqa disyariatkan ketika putusnya air hujan atau minimnya sumber air, semisal karena kemarau panjang. 
 
Istisqa bisa dilakukan dengan tiga caraPertama, dengan berdoa agar segera diberi hujan, baik sendirian maupun berjamaah. Istisqa jenis pertama ini tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
 
Baca juga:
 
Kedua, berdoa meminta hujan setelah shalat, baik shalat sunnah maupun shalat fardhu, semisal setelah khutbah Jumat, khutbah shalat hari raya, dan sebagainya. Istisqa jenis kedua ini tidak berbeda dengan yang pertama, namun doa yang dipanjatkan lebih khusus dilakukan setelah shalat dengan segala jenisnya. 
 
Ketiga, dengan bertaubat, puasa dan shalat Istisqa. Cara yang ketiga ini adalah cara yang paling utama, karena telah diamalkan oleh Nabi, sahabat, Tabi’in dan generasi ulama setelahnya (Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, Nihayah al-Zain [Surabaya: al-Haramain], hal. 111, dan Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf, al-Taqrirat al-Sadidah [Pasuruan: Dar al-‘Ulum al-Islamiyyah], hal. 350).
 
Adapun hukum shalat Istisqa adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dan bisa berubah statusnya menjadi wajib bila diperintahkan oleh pemerintah. 
 
Shalat Istisqa sunnah dilakukan secara berjamaah dan hendaknya diselenggarakan di lapangan. Segenap lapisan masyarakat mulai dari ulama, pejabat, pebisnis, pedagang, petani, pembantu dan lainnya hendaknya berkumpul dalam satu tempat untuk bersama-sama memanjatkan doa dan melaksanakan shalat Istisqa. Ulama menganjurkan agar mereka keluar dengan mengenakan pakaian sederhana yang jauh dari kesan mewah.
 
Tata cara shalat istisqa sama dengan shalat Idul Fitri dan Idul Adlha, yaitu dilakukan sebanyak dua rakaat, dengan niat shalat sunnah istisqa. Setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, sunnah membaca takbir sebanyak tujuh kali. Kemudian sebelum membaca surat al-Fatihah di rakaat kedua, sunnah membaca takbir sebanyak lima kali.
 
Setelah shalat istisqa, dianjurkan melaksanakan dua khutbah seperti khutbah hari raya kecuali pada permulaan khutbah pertama bacaan takbir diganti dengan membaca istighfar sebanyak sembilan kali dan sebanyak tujuh kali pada khutbah kedua. Kemudian saat telah melebihi sepertiga dari khutbah kedua khatib menghadap kiblat dan memutar selendangnya, dengan menjadikan bagian atas di balik ke bawah dan bagian bawah di balik ke atas serta bagian kanan dipindah ke sebelah kiri dan bagian kiri ke sebelah kanan yang kemudian diikuti oleh para jamaaah (Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, juz.1, Dar al-Fikr, hal. 305).
 
Shalat Istisqa umumnya dilakukan di siang hari, biasanya saat terik matahari sedang panas-panasnya. Namun baru-baru ini ada gagasan untuk melakukannya di malam hari. Sebetulnya bagaimana hukum melaksanakan shalat Istisqa di malam hari?.
 
Ulama berbeda pandangan mengenai ketentuan waktu shalat Istisqa. Pendapat pertama, seperti shalat hari raya, yaitu mulai dari terbitnya matahari hingga masuknya waktu zhuhur. Pendapat kedua, dimulai sejak terbitnya matahari hingga masuk waktu Ashar. Pendapat ini mirip dengan pendapat pertama dalam hal permulaan waktunya, namun berbeda dalam penetapan akhir waktunya. Pendapat ketiga, tidak dibatasi oleh waktu. Menurut pendapat ini, shalat Istisqa boleh dilakukan kapan saja, baik saat pagi, siang, sore atau malam hari. Pendapat ini adalah yang terkuat di kalangan mazhab Syafi’i, didukung oleh mayoritas ulama dan dibenarkan oleh ulama yang pakar dalam meneliti kajian fiqh (al-muhaqqiqin).
 
Ikhtilaf ketentuan waktu shalat Istisqa di atas sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam al-Nawawi berikut ini:
 
(فرع) في وقت صلاة الاستسقاء ثلاثة أوجه (أحدها) وقتها وقت صلاة العيد وبهذا قال الشيخ ابو حامد الاسفراينى وصاحبه المحاملي في كتبه الثلاثة المجموع والتجريد والمقنع وأبو علي السنجي والبغوي وقد يستدل له بحديث ابن عباس السابق ولكنه ضعيف 
 
“Pasal tentang waktu shalat istisqa. Sebuah cabang permasalahan. Dalam waktu shalat Istisqa terdapat tiga pendapat. Pertama, waktunya seperti shalat hari raya, ini adalah yang dikatakan Syekh Abu Hamid al-Isfirayini dan sahabatnya, Imam al-Mahamili dalam tiga kitabnya yaitu al-Majmual-Tajrid, dan al-Muqni’, demikian pula Abu Ali al-Sinji dan al-Baghawi. Pendapat ini memakai dalil haditsnya Ibnu Abbas yang telah lalu, namun status haditsnya lemah.”
 
(والوجه الثاني) اول وقتها أول وقت صلاة العيد ويمتد إلى أن يصلي العصر وهو الذي ذكره البندنيجي والروياني وآخرون
 
“Pendapat kedua, awal waktunya adalah seperti awal waktu shalat hari raya, dan terus berlangsung sampai shalat Ashar. Ini adalah pendapat yang dituturkan Syekh al-Bandaniji, al-Rauyani, dan ulama-ulama lain.” 
 
والثالث وهو الصحيح بل الصواب أنها لا تختص بوقت بل تجوز وتصح في كل وقت من ليل ونهار إلا أوقات الكراهة على أحد الوجهين وهذا هو المنصوص للشافعي وبه قطع الجمهور وصححه المحققون 
 
“Pendapat ketiga, yaitu pendapat yang shahih bahkan pendapat yang benar, bahwa shalat Istisqa tidak terkhusus pada satu waktu, bahkan boleh dan sah di setiap waktu, malam dan siang kecuali waktu-waktu yang dimakruhkan menurut salah satu dua wajah. Ini adalah pendapat yang ditegaskan Imam al-Syafi’i, dipastikan oleh mayoritas ulama dan disahihkan oleh para ulama muhaqqiqin.” (Syekh Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz.6, hal.107 dan 108, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah-Bairut).
 
Simpulannya, melaksanakan shalat Istisqa di malam hari adalah diperbolehkan menurut pendapat shahih dalam mazhab Syafi’i. Meski ada pendapat lain yang melarangnya, namun hendaknya tidak perlu diingkari, karena tergolong masalah yang diperselisihkan di kalangan ulama, terlebih pendapat yang membolehkan adalah pendapat yang kuat di kalangan ulama Syafi’iyyah. Mari bersama-sama berdoa agar negeri kita segera diberi hujan dan hindari perdebatan receh yang semakin menjauhkan kita rahmat-Nya.
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat