IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Awal Mula Al-Wala wal Bara dalam Aqidah Islam

Selasa 8 Oktober 2019 20:0 WIB
Share:
Awal Mula Al-Wala wal Bara dalam Aqidah Islam
Ilustrasi Aqidah Islam. (NU Online)
Orang yang berkembang dalam tradisi Asy’ariyah (peletak dasar teorisasi teologi Ahlussunnah wal Jamaah, 873 M-935 M) sedikit kesulitan untuk mencari dari mana asal al-wala wal bara ini secara teoritis dalam kaitannya dengan keimanan. Pasalnya, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) tidak memasukkan al-wala wal bara ke dalam aqidah Aswaja.

Secara umum, aqidah yang harus diyakini oleh umat Islam menurut pandangan aqidah Aswaja hanya berkaitan dengan sifat Allah, sifat para rasul, takdir, malaikat, alam kubur, dunia ghaib, syafaat rasul, telaga Al-Kautsar, surga, neraka, dan alam akhirat, (Zaini Dahlan, tanpa tahun: 1-15) dan (Al-Baijuri, tanpa tahun: 1-77).

Sayyid Sa‘id Abdul Ghani melalui karyanya, Haqiqatul Wala wal Bara fi Mu’taqadi Ahlissunnah wal Jamaah sedikit membantu untuk melacak awal mula kaitan al-wala wal bara dan keimanan. Ia mengutip penjelasan Syekh Ibnu Taimiyah (661 H/1263 M-728 H/1328 M) atas Surat Al-Mujadalah ayat 22 dalam kitab Al-Iman.

“Allah mengabarkan bahwa kau (Muhammad) takkan menemukan seorang yang beriman mencintai mereka yang menentang Allah dan rasul-Nya karena keimanan menafikan cinta tersebut sebagaimana satu kutub menafikan kutub lain yang berseberangan dengannya. Jika terdapat keimanan, maka lawan dari keimanan menjadi tiada, yaitu menjadikan musuh Allah sebagai teman dekat. Jika seseorang mencintai musuh Allah dengan hatinya, maka itu menjadi tanda bahwa pada hatinya tidak terdapat keimanan yang pasti,” (Ghani, 1998 M: 649).

Kami menemukan al-wala wal bara secara teoritis yang paling awal ‘diperkenalkan’ oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri 'Mazhab Wahabi,' (1115 H/1701 M-1206 H/1793 M). Pandangan al-wala wal bara dari Muhammad bin Abdul Wahhab ini diberi anotasi oleh pemuka Wahabi, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (1925 M-2001 M) dalam Syarah Ushulut Tsalatsah.

Muhammad bin Abdul Wahhab dalam buku tersebut menyampaikan doktrin berisi tiga hal penting yang wajib diperhatikan dan diamalkan oleh seorang Muslim dan Muslimah. 

Pertama, Allah pencipta sekaligus pemberi rezeki. Allah tidak membiarkan manusia begitu saja, tetapi mengutus para rasul-Nya. Siapa yang mematuhi mereka, maka ia akan masuk surga. Tetapi siapa yang mendurhakai mereka, ia masuk ke neraka (Al-Muzammil ayat 15-16).

Kedua, Allah tidak rela disekutukan dalam penyembahan-Nya dengan apa dan siapa pun termasuk malaikat muqarrabun dan nabi utusan dalam sekutu (Al-Jin ayat 18).

Ketiga, siapa yang menaati rasul dan mengesakan Allah, maka ia tidak boleh menjadikan mereka yang menentang Allah dan rasul-Nya sebagai teman dekat sekali pun ia kerabat dekat (Al-Mujadalah ayat 22) (Wahab, 2001: 29-35).

Al-Muzammil ayat 15-16:

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا
 
Artinya, “Sungguh Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Makkah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir'aun. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.”

Al-Jin ayat 18:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا 

Artinya, “Sungguh masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”

Al-Mujadalah ayat 22:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Mereka kelak dimasukkan oleh-Nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sungguh hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”
 
 
Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (1925 M-2001 M) menambah deretan ayat al-wala wal bara di samping ayat yang disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu Surat Ali Imran ayat 118, Al-Maidah ayat 51 dan 57, At-Taubah ayat 23-24, dan Al-Mumtahanah ayat 4. (Al-Utsaimin, 2001: 34-36).

Ali Imran ayat 118:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."
 
Surat Al-Ma’idah ayat 51:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Surat Al-Ma’idah ayat 57:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman."

At-Taubah ayat 23.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya, Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

At-Taubah ayat 24:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya, “Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Al-Mumtahanah ayat 4:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Artinya, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah’. (Ibrahim berkata): ‘Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali".

Menurut Al-Utsaimin, tindakan al-wala (loyalitas terhadap orang-orang yang menentang Allah) menunjukkan kelemahan iman mereka kepada Allah dan rasul-Nya. Pasalnya, akal sehat sulit menerima loyalitas seseorang akan sesuatu yang menjadi musuh kekasihnya. Loyalitas terhadap orang-orang kafir dapat mengambil bentuk pertolongan dan pembelaan terhadap mereka atas kekufuran dan kesesatan. Cinta terhadap mereka juga dapat berbentuk tindakan yang menyebabkan mereka senang. Cinta terhadap mereka dapat berbentuk aneka jalan.

Semua ini dapat menafikan keimanan seseorang sama sekali, atau menafikan kesempurnaan iman seseorang. Oleh karena itu, seorang Muslim harus memusuhi, membenci, dan menjauhi mereka yang menentang Allah dan rasul-Nya meski mereka adalah kerabat sendiri. Namun demikian, perintah ini tidak menghalanginya untuk menasihati dan mengajak mereka ke jalan yang benar, (Al-Utsaimin, 2001: 36).

Aqidah al-wala wal bara dengan demikian lebih dekat pada konsep aqidah yang diperkenalkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan kalangan Wahabi sesudahnya. Al-wala wal bara ini yang dalam pandangan kalangan Wahabi untuk mengukur dan menilai keimanan orang lain, dan tidak jarang menghakimi orang lain, mengeksklusi bahkan mengeksekusi dan mempersekusi, hingga merundung (bully) orang lain, sekalipun kerabat dekat dan keluarga sendiri. 

Sesungguhnya tidak ada masalah dengan semua ayat di atas dan al-wala wal bara sebagai perintah agama. Hanya saja letak problematisnya adalah penempatan al-wala wal bara ke dalam aqidah Islam sebagai alat ukur keimanan orang lain dan legitimasi untuk praktik eksklusi terhadapnya.

Dengan kata lain, masalahnya terletak pada pemahaman dan pelaksanaannya yang keliru karena melewati batas. Oleh karena itu, penempatan al-wala wal bara ke dalam aqidah Islam perlu diuji secara keilmuan dan secara sejarah. Wallahu a‘lam.
 

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlison
Share:

Baca Juga

Selasa 8 Oktober 2019 12:15 WIB
Salah Kaprah Memaknai Al-Wala wal Bara
Salah Kaprah Memaknai Al-Wala wal Bara
Ilustrasi: Kalimat thayyibah. Foto: shof.co.il
Al-wala secara harfiah adalah loyalitas. Sementara arti al-bara adalah berlepas diri. Islam memerintahkan umat Islam untuk loyal kepada sesama Muslim dan melarang mereka untuk loyal kepada orang kafir. Islam juga memerintahkan umat Islam untuk berlepas diri dari kekufuran, kesesatan, dan kezaliman orang kafir.

Banyak dalil agama yang menunjukkan al-wala wal bara sebagai ajaran Islam. Namun demikian, al-wala wal bara sering diterjemahkan secara berlebihan atau ekstrem dalam praktik kehidupan sosial dan politik yang pada titik tertentu melewati batas.

Dalil atas ajaran al-wala wal bara yang kerap dikemukakan adalah Surat Al-Ma’idah ayat 51 dan Al-Mujadalah ayat 22.

Surat Al-Ma’idah ayat 51 berbunyi sebaga berikut:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Al-Mujadalah ayat 22

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Mereka kelak dimasukan oleh-Nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sungguh hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Pengamalan ajaran secara berlebihan al-wala wal bara mengambil dua bentuk ekstrem yang saling bertentangan. Praktik yang berlebihan dan melewati batas ini berasal dari kekeliruan kalau bukan kesalahan dalam memaknai ajaran al-wala wal bara.

Satu sisi ajaran al-wala wal bara dimengerti secara berlebihan sebagai sikap sosial dan politik yang eksklusif dan intoleran umat Islam (ifrath), bahkan pada titik tertentu menjadi terorisme, ekstremisme, radikalisme, yang berbentuk aksi teror, kekerasan, dan pembunuhan.

Pada sisi lain yang berseberangan, ajaran al-wala wal bara juga dimengerti secara berlebihan sebagai sikap inklusif tanpa batas (tafrith) yang pada titik tertentu menjadi liberalisme dan sekulerisme. Kedua pemaknaan ekstrem atas al-wala wal bara dan sikap sosial-politik ini terjebak pada absolutisme yang sama-sama tidak moderat dan tercela dalam agama, meski keduanya memiliki dalil agama yang sangat kuat.

Al-Wala wal Bara dan Politik Identitas Islam
Al-wala secara singkat diartikan sebagai loyalitas terlarang terhadap orang kafir, yaitu pertolongan dan pembelaan, minimal simpati. Sementara al-bara adalah antiloyalitas terhadap orang kafir.

Al-wala wal bara dipahami oleh sebagian kalangan sebagai pengertian yang mengacu pada pembentukan identitas sosial-politik seorang Muslim yang berbasis aqidah. Pembentukan identitas yang cenderung eksklusif ini belakangan di Indonesia tumbuh, bahkan menguat dalam bentuk politik identitas, yaitu gelombang aksi bela umat Islam dan tampak pada Pilpres 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, belakangan Pilpres 2019, dan entah gelombang aksi apa lagi.

Politisasi ayat-ayat dalam kitab suci, politisasi rumah ibadah, politisasi mimbar khutbah dan ceramah agama, bahkan pada titik tertentu mengafirkan pendukung kontestan pemilu dan mengharamkan pemandian jenazah yang hidupnya mendukung calon pemimpin non-Muslim, atau melakukan persekusi atas pendukung pasangan calon yang tidak didukung oleh “umat Islam” menjadi bentuk solidaritas umat Islam atas nama al-wala wal bara. Tetapi tidak sedikit pembunuhan dan aksi teror terhadap non-Muslim atas nama al-wala wal bara.

Al-wala wal bara menuntut seseorang berada pada situasi mencekam dan bersaing atas dasar aqidah. Al-wala wal bara memosisikan seseorang Muslim seolah dalam situasi darurat perang yang meminta kewaspadaan untuk melihat orang lain dalam dua kategori, kolega dan musuh.

Gampang kata, kita mesti paham siapa lawan dan siapa kawan. Al-wala wal bara meminta seorang Muslim untuk loyal kepada komunitas Muslim dan persaudaraan umat Islam di mana pun berada, dan menuntut seorang Muslim untuk memusuhi, membenci, dan menjauhi orang-orang kafir.

Al-wala secara harfiah menjadikan orang lain sebagai wali, teman dekat, panutan, dan mungkin pemimpin. Dalam Islam, beberapa ayat Al-Qur’an melarang umat Islam untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, saudara, atau sahabat akrab. Beberapa ayat Al-Qur’an hanya memperkenankan persaudaraan sesama Muslim.

Adapun al-bara adalah tuntutan pada beberapa ayat Al-Qur’an terhadap umat Islam untuk berlepas diri dari kekufuran, kesesatan, dan kemaksiatan, dan juga dari mereka yang melakukannya. Al-bara merupakan perintah agama terhadap umat Islam untuk memusuhi, membenci, dan menjauhi kekafiran dan kemusyrikan, serta orang-orang kafir dan orang yang sesat, atau bahkan umat Islam yang bersahabat dekat dengan non-Muslim.

Demikian salah satu bentuk kekeliruan dalam memahami al-wala wal bara oleh sekelompok umat Islam. Sikap solidaritas sesama muslim al-wala wal bara oleh sebagian kalangan dijadikan alat ukur dalam menilai keimanan orang lain. Hal ini dapat dimaklumi karena sebagian orang memasukkan al-wala wal bara ke dalam keimanan atau aqidah. Wallahu a'lam.
 

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon
Senin 16 September 2019 21:30 WIB
Tentang Makhluk Malaikat dalam Al-Qur’an
Tentang Makhluk Malaikat dalam Al-Qur’an
Ilustrasi malaikat. (NU Online)
Ibadah dzikir dan shalawat secara berjamaah merupakan media (washilah) yang bisa mengumpulkan malaikat sekaligus, selain manusia. Begitu mulianya manusia yang telaten untuk menghadiri setiap majelis dizkir, shalawat, dan ilmu. Sebab apa? Malaikat-malaikat hadir di majelis dzikir. Setelah selesai, malaikat-malaikat menuju Allah, menyampaikan bahwa “kami (malaikat, red) habis hadir di majelis dzikir”.

Kemudian, Allah berfirman, "Limpahkan rahmat bagi mereka semua. Ampuni mereka semua". Tetapi malaikat berkata, “Ya Allah, ada orang yang hadir tapi tujuannya bukan berdzikir”. Allah kembali berfirman, “ampuni mereka, karena mereka mendekat kepada orang yang berdzikir”. (Baca M. Quraish Shihab, Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qur’an, 2013)

Riwayat singkat tersebut menggambarkan bahwa makhluk bernama malaikat begitu dekat di setiap lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan mereka diciptakan oleh Allah. Seorang Muslim pun wajib mempercayai adanya malaikat sesuai rukun iman kedua.

Sebagai seorang Muslim yang wajib mempercayai keberadaan malaikat, penting bagi manusia mengenal makhluk yang diciptakan Allah dari nur (cahaya) ini. Namun, tentu mengenal Allah menjadi hal utama bagi seorang hamba. Dalam hal ini, malaikat yang turut berinteraksi langsung dalam realitas kehidupan manusia bisa menjadi pemandu mengenal Allah lebih jauh.

Mengenal malaikat, tidak terlepas dari makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diimani oleh semua agama. Menukil Bertrand Russel (2013) filosof Inggris peraih nobel (1872-1970) itu menyatakan dua pandangan atau dorongan yang sangat berbeda dari manusia.

Pertama, dorongan yang mengantar seseorang untuk memandang wujud dengan pandangan seorang sufi, yang biasanya menangkap sesuatu secara langsung tanpa pendahuluan atau premis-premis. Kedua, dorongan yang memandang wujud dengan pandangan keilmuan yang mengandalkan akal dan analisis. 

Simpul yang bisa ditarik dari kedua argumen tersebut ialah ilmu. Pertama, ilmu yang didapat secara laduni, kalangan pesantren menyebut ilmu ini diturunkan oleh Allah langsung sebab keistimewaan manusia. Kedua, ilmu yang diperoleh dari proses kerja keras sehingga menemukan kebenaran dari pengembaraan tersebut.

Kerap kali bahwa hanya orang-orang istimewalah yang dapat merasakan langsung kehadiran malaikat. Hal ini terjadi ketika Muhammad yang saat itu berumur 40 tahun merasakan kehadiran makhluk saat dirinya berkontemplasi di Gua Hira. Saat itu malaikat Jibril menghampiri Muhammad dengan membawa wahyu pertama dari Allah.

Dalam bahasa Arab, Quraish Shihab (2013) menjelaskan, malaikat merupakan bentuk jamak dari malak. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata malak terambil dari kata alaka, malakah yang berarti mengutus atau perutusan/risalah. Malaikat adalah utusan-utusan Tuhan untuk berbagai fungsi.

Mengenai jumlah malaikat, Quriash Shihab memaparkan bahwa jumlah malaikat tidak terhitung, kecuali Allah sendiri yang mengetahui. Namun, sejumlah riwayat hanya memberikan gambaran jumlah malaikat di sebuah tempat. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim berikut:

“Neraka Jahannam pada hari kiamat memiliki tujuh puluh ribu kendali, setiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Muslim)

Imam Bukhori dalam riwayat lain menjelaskan, ketika Nabi Muhammad saw bertanya kepada malaikat Jibril tentang Baitul Ma’mur, malaikat penyampai wahyu itu mengungkapkan:

“Ini adalah Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di sana dan yang telah shalat tidak lagi kembali sesudahnya.” (HR. Bukhori)

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap diperlihatkan ketakjuban dan keajaiban yang datang pada diri seseorang. Dalam kehidupan, tidak jarang pula manusia terbungkus dalam berbagai bentuk. Seseorang tidak akan tahu rahasia di balik semua itu. Yang jelas, salah satu kemampuan malaikat bisa mengubah diri menjadi manusia.

Sebab itu, dalam sebuah kesempatan, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan kepada manusia, jangan pernah meremehkan orang lain apapun kondisi dan rupanya. Gus Mus mempertegas pesannya, siapa tahu seseorang yang kita remehkan sebetulnya malaikat berwujud manusia.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon
Jumat 13 September 2019 15:0 WIB
Penjelasan tentang Makhluk Jin
Penjelasan tentang Makhluk Jin
Ilustrasi jin. (via nadirhosen.net)
Tentang makhluk bernama Jin, Quraish Shihab dalam Jin dalam Al-Qur’an (2013) menjelaskan bahwa jin secara harfiah bermakna sesuatu yang tersembunyi. Makna tersebut menunjukkan bahwa jin merupakan makhluk halus. Sifat halusnya jin bisa menyerupai manusia secara fisik, namun manusia sendiri tidak bisa melihat jin secara kasat mata kecuali orang tersebut mempunyai kemuliaan dan keistimewaan (karomah).

Salah satu dasar pokok keimanan seorang Muslim ialah percaya pada hal-hal ghaib. Sesuatu yang ghaib ini merujuk pada sesuatu yang tidak terjangkau oleh pancaindera, baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan maupun oleh sebab-sebab lainnya.

Banyak hal ghaib bagi manusia serta beragam pula tingkat keghaibannya. Pertama, ada ghaib mutlak yang tidak dapat terungkap sama sekali karena hanya Allah yang mengetahuinya, contoh kematian. Kedua, ghaib relatif, sesuatu yang tidak diketahui seseorang tetapi bisa diketahui oleh orang lain, contoh ilmu pengetahuan, makhluk halus, dan lain-lain. (Quraish Shihab, 2013)
 
Istilah jinn dalam Al-Qur’an berarti yang tersembunyi dan tertutup. Quraish Shihab mengungkapkan sejumlah akar kata yang sama, di antaranya majnun (manusia yang tertutup akalnya), janin (bayi yang masih dalam kandungan, karena ketertutupannya oleh perut ibu), al-junnah (perisai, karena ia menutupi seseorang dari gangguan), junnah (orang munafik menjadikan sumpah untuk menutupi kesalahan dan menghindar dari kecaman dan sanksi), janan (kalbu manusia, karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan serta pengetahuan).

Di lihat dari perspektif linguistik atau kebahasaan, bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk halus yang tersembunyi, karena tertutup. Tersembunyi dan tertutup ini bukan berarti sama sekali tidak terlihat karena ghaibnya relatif, sebagian orang bisa melihat jin karena keistimewaan yang dimilikinya, biasanya manusia yang dekat dengan Allah karena akhlak dan ilmunya.

Soal kontroversi ada atau tidak adanya jin, Quraish Shihab mengungkapkan pendapat Ibnu Sina (980-1037 M) dalam risalahnya menyangkut Definisi Berbagai Hal, menyebutkan bahwa jin adalah binatang yang bersifat hawa yang dapat mewujud dalam berbagai bentuk.

Pendapat Ibnu Sina tersebut diterjemahkan oleh Fakhruddin Ar-Razi bahwa definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Sina hanyalah penjelasan tentang arti kata jinn. Sedangkan jin itu sendiri tidak memiliki eksistensi di dunia nyata. Para filsuf penganut pendapat di atas berdalih bahwa jika jin memang ada wujudnya, ia tentu mengambil bentuk makhluk halus atau kasar.

Quraish Shihab mencatat, ketika seseorang menyatakan bahwa jin adalah makhluk halus, maka kehalusan yang dimaksud tidak harus dipahami dalam arti hakikatnya demikian, tetapi penamaan itu ditinjau dari segi ketidakmampuan manusia untuk melihatnya. Jika demikian, bisa jadi jin merupakan makhluk kasar. Tetapi karena keterbatasan mata manusia, maka ia tidak terlihat, jadi bahasa manusia menamakannya sebagai makhluk halus.

Pandangan kedua ialah, pakar-pakar Islam yang justru sangat rasional tidak mengingkari bahwa ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang jin, tetapi mereka memahaminya tidak dalam pengertian hakiki. Paling tidak, ada tiga pendapat yang menonjol dari kalangan ini menyangkut hakikat jin.

Pertama, memahami jin sebagai potensi negatif manusia. Karena menurut pandangan ini yang membawa manusia pada hal-hal positif ialah malaikat, sedangkan jin dan setan sebaliknya. Pandangan ini juga menilai bahwa jin tidak memiliki wujud. Kedua, memahami jin sebagai virus dan kuman-kuman penyakit. Namun pandangan ini mengakui eksistensi jin. Ketiga, memahami jin sebagai jenis makhluk manusia liar yang belum berperadaban.

Dari ketiga pandangan tersebut, sekilas bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk yang mewujud pada sesuatu. Namun, keberadaan jin sendiri diterangkan dalam Al-Qur’an bahwa, “Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56)

Karena diciptakan, tentu wujudnya ada. Perbedaannya ialah, manusia diciptakan dari unsur tanah, sedangkan jin diciptakan dari api. Menurut Quraish Shihab, iblis dalam Al-Qur’an diterangkan dari jenis jin. Namun demikian, iblis maupun setan mempunyai karakteristik tersendiri sehingga tidak semua makhluk jin adalah iblis atau setan.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon