IMG-LOGO
Thaharah

Hukum Menulis Al-Qur’an bagi Orang yang Sedang Berhadats

Rabu 9 Oktober 2019 19:15 WIB
Share:
Hukum Menulis Al-Qur’an bagi Orang yang Sedang Berhadats
(Ilustrasi: dzbreaking.com)
Pelajar di lembaga berbasis Islam sering kali mendapatkan pelajaran atau tugas menulis Al-Qur’an untuk mengasah kemampuan siswa. Tugas-tugas siswa tersebut terkadang datang mendadak tanpa mengonfirmasi para siswa sudah mempunyai wudhu atau belum, ada yang sedang menstruasi atau tidak. Pada dasarnya, hukum menyentuh mushaf Al-Qur’an bagi orang berhadats baik kecil ataupun besar adalah haram. Namun, bagaimana dengan menulis Al-Qur’an, apakah berstatus hukum sama?
 
Imam Nawawi menyebutkan, ulama berbeda pendapat tentang hukum menulis mushaf Al-Qur’an bagi orang yang sedang mempunyai hadats. 
 
(الرَّابِعَةُ) إذَا كَتَبَ الْمُحْدِثُ أو الجنب مصحفا نظر ان حَمَلَهُ أَوْ مَسَّهُ فِي حَالِ كِتَابَتِهِ حَرُمَ وَإِلَّا فَالصَّحِيحُ جَوَازُهُ لِأَنَّهُ غَيْرُ حَامِلٍ وَلَا مَاسٍّ وَفِيهِ وَجْهٌ مَشْهُورٌ أَنَّهُ يَحْرُمُ وَوَجْهٌ ثَالِثٌ حَكَاهُ الْمَاوَرْدِيُّ أَنَّهُ يَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ دُونَ الْمُحْدِثِ
 
Artinya: “Keempat, jika ada orang mempunyai hadats atau junub menulis mushaf, hukumnya diteliti terlebih dahulu. 
 
1. Apabila menulisnya bersama dengan menyentuh atau mengangkat mushaf tersebut, hukumnya haram. 
 
2. Apabila tangan penulis tidak sampai menyentuh media tulis (kertas/papan, dll), maka hukumnya: 
 
a. Menurut pendapat shahih (benar), boleh. 
 
b. Menurut pendapat yang masyhur hukumnya haram. 
 
c. Menurut sebagian pendapat lain sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Mawardi, hukumnya haram bagi orang yang junub, tapi bagi orang yang hadats diperbolehkan” (Imam Nawawi, al-Majmu’, [Darul Fikr: tt], juz 2, hal. 70).
 
Al-Qur’an berbentuk buku yang lazim kita pakai masuk kategori mushaf. Termasuk juga buku tulis para siswa yang murni dibuat untuk buku Al-Qur’an secara penuh. 
 
Baca juga:
 
Adapun media-media tulis yang lain seperti buku tulisnya anak-anak yang campur dengan materi-materi lain, atau media tembok, papan, pintu, kaca dan lain sebagainya, menurut sebagian ulama selama di situ tertulis ayat Al-Qur’an, maka disebut sebagai mushaf. 
 
Sebagian ulama lain memilih jalan tengah yaitu selama tujuan pembuatnya adalah untuk bahan pembelajaran (dirâsah), hukumnya sama dengan mushaf Al-Qur’an meskipun dalam penulisannya hanya sepenggal ayat saja. Namun apabila hanya untuk hiasan, jimat, dan sejenisnya, tidak disebut mushaf.
 
(قوله: وما كتب لدرس قرآن) خرج ما كتب لغيره كالتمائم، وما على النقد إذ لم يكتب للدراسة، وهو لا يكون قرآنا إلا بالقصد.
 
Artinya: “(Sesuatu yang ditulis untuk mendaras Al-Qur’an). Hal tersebut mengecualikan media yang ditulis dengan tidak bertujuan untuk dibuat bacaan atau dengan tujuan lain seperti bertujuan hanya sebagai jimat dan ayat yang ditulis di atas mata uang, hal tersebut tidak disebut sebagai Al-Qur’an karena tidak ditulis dengan tujuan untuk dibuat bacaan. Sebab kaidahnya, tidak ada Al-Qur’an kecuali ada kesengajaan penulisnya” (Abu Bakar bin Muhammad Syatha, I’anatuth Thalibin, [Darul Fikr, 1997], juz 1, h. 81). 
 
Hal ini senada dengan perkataan Imam Haramain (Al-Juwaini): 
 
قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ لَوْ كَانَ عَلَى اللَّوْحِ آيَةٌ أَوْ بَعْضُ آيَةٍ كُتِبَ لِلدِّرَاسَةِ حَرُمَ مَسُّهُ وَحَمْلُهُ
 
Artinya: “Imam Haramain mengatakan, jika ada papan (kaca, kayu, kertas atau benda-benda sejenis) terdapat ayat Al-Qur’annya atau sebagian ayat yang ditulis dengan tujuan sebagai bacaan, maka haram menyentuhnya” (Imam Nawawi, al-Majmu’, [Darul Fikr: tt], juz 2, hal. 70).
 
Menulis Al-Qur’an dengan hadats meskipun diperbolehkan, penulis tidak boleh menyentuh media yang terkena goresan tinta tulisan Al-Qur’an. Apabila ada media yang terkena goresan tinta atau ukir tulisan Al-Qur’an, bagi siapa pun termasuk penulisnya sendiri, baik dengan tujuan kepenulisan untuk dibuat bacaan atau dengan tujuan lain, hukumnya tidak diperbolehkan. 
 
وَأَمَّا الْمَسُّ فَيَحْرُمُ مَسُّ مَا حَاذَاهُ وَلَوْ جُعِلَ بَيْنَ الْمُصْحَفِ كِتَابٌ بِأَنْ جُعِلَ بَعْضُ الْمُصْحَفِ مِنْ جِهَةٍ وَالْبَعْضُ الْآخَرُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى، فَيَنْبَغِي الْحُرْمَةُ مُطْلَقًا، وَلَا يُتَوَقَّفُ عَلَى قَصْدِهِ اهـ.
 
Artinya: “Adapun menyentuh (mushaf), hukumnya haram menyentuh yang persis pada tulisannya. Apabila Al-Qur’an ditulis pada satu muka Al-Qur’an, sebagian lagi ditulis pada lembaran di baliknya, maka seyogianya masing-masing mempunyai hukum haram secara mutlak. Hal ini tidak memandang bagaimana niatnya dalam menulis” (Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami alal Khatib, [Darul Fikr: 1995], juz 1, hal. 360). 
 
Baca juga:
 
Dengan demikian, bagi orang yang ingin menulis potongan ayat Al-Qur’an sebagai langkah paling aman adalah suci dari hadats kecil maupun besar. Tapi jika dalam keadaan terpaksa, menulis Al-Qur’an diperbolehkan selama tidak menyentuh tulisan yang telah tertulis. Apabila dalam kepenulisan mempunyai tujuan untuk dibuat bacaan, maka larangannya ditambah satu lagi yaitu tak boleh menyentuh media tulisnya sekalian. 
 
Para guru yang mengajarkan murid remaja hingga dewasa, sebelum memberikan tugas menulis ayat Al-Qur’an hendaknya memperhatikan kondisi kesucian murid-muridnya. Bila mereka berhadats kecil, hendaknya guru menyuruh para murid berwudhu terlebih dahulu. Bila ada siswi yang sedang haid, sebaiknya memberikan tugas lain selain menulis ayat untuk sementara waktu. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Qur’an an-Nasimiyyah, Semarang 
 
Share:

Baca Juga

Jumat 6 September 2019 19:30 WIB
Kolam Berbau Bangkai Ikan, Apakah Airnya Suci?
Kolam Berbau Bangkai Ikan, Apakah Airnya Suci?
Status suci tidak selalu berarti pula dapat digunakan untuk bersuci.
Rasulullah ﷺ menyebutkan dua hewan yang walaupun sudah menjadi bangkai tetap halal dimakan yaitu ikan dan belalang. Belalang hidup di darat, sedangkan ikan di air. Sebagian orang ada yang merawat ikan di tambak, keramba, akuarium, kolam taman, kolah wudhu, dan lain sebagainya. Para pemelihara ikan, ada yang murni bertujuan komersial, hobi, dan ada pula yang mempunyai maksud tertentu misalnya sebagai pemangsa jentik-jentik nyamuk yang biasa keluar di kolam-kolam wudhu. 

Sebagaimana makhluk hidup lain yang bisa mati kapan saja, ikan juga demikian. Apabila ikan mati dalam kolam wudhu, apakah semua air di dalam kolam ikut najis? 
Jika ikan mati belum sampai mengeluarkan bau busuk maka air tetap dihukumi suci sekaligus menyucikan karena kematian ikan tidak mengubah statusnya menjadi bangkai najis. Maksudnya, bangkai ikan tetap suci dan halal. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ pada saat menjelaskan tentang laut:
 
هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
 
Artinya, “Laut adalah suci menyucikan airnya. Halal bangkainya” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi).
 
Hadits di atas memberikan pemahaman bahwa karena dzatiyah (fisik) bangkai ikan berstatus suci, maka kedudukannya sama dengan gayung, sendok, ember, dan piranti-piranti suci lain yang apabila masuk ke dalam air baik sedikit atau banyak, asalkan tidak mengubah tiga ciri-ciri dasar air, maka tidak mempengaruhi keabsahan air tersebut dipakai untuk bersuci. 
 
Bagaimana apabila ikan yang ditemukan dalam kolam tersebut sudah mengeluarkan bau busuk?
 
Yang jelas, bau busuk ikan sama sekali tak mengubah status kesucian ikan itu sendiri. Bangkai ikan tetap tidak najis walau aromanya mungkin mengganggu siapa saja. Namun yang menjadi masalah, bagaimana dengan status air kolam tempat bangkai ikan berbau menyengat itu? Apakah juga suci?
 
Pertama, jika bau busuk bersumber dari tubuh bangkai ikan saja, sedangkan airnya masih tetap netral, atau air berubah sedikit saja, maka air kolam dihukumi suci sekaligus menyucikan. Suci dalam arti bisa dibuat untuk konsumsi, menyucikan dalam arti bisa untuk menghilangkan najis dan hadats. Hal ini dikarenakan antara bangkai ikan dengan air tidak larut menjadi satu, masing-masing bisa dipisahkan. 
 
Dalam fiqih, benda yang bisa larut (mukhâlith) dan benda yang tak bisa larut (mujâwir) memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Misalnya, pewarna kain dan bangkai ikan memiliki dampak berbeda, meski sama-sama masuk kolam lalu mengubah karakter air. Untuk kasus pertama, air kolam tidak dapat menyucikan walaupun mungkin air tetap dihukumi suci. Sedangkan untuk kasus kedua, air kolam tetap suci sekaligus menyucikan karena air dan bangkai ikan sejatinya dua entitas yang terpisah. Bangkai ikan yang busuk itu bisa diangkat dan dipisahkan dari air kolam.
 
وَضُبِطَ الْمُجَاوِرُ بِمَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ وَالْمُخَالِطُ بِمَا لَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ
 
Artinya: “Batasan tidak larut (sekadar berdampingan) adalah bila sesuatu bisa dipisahkan, sedangkan larut (menyatu) adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dipisahkan” (Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad al-Qalyubi & Syihabuddin Ahmad al-Burullusi al-Mishri, Syarah Al-Mahallimatan Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah, [Darul Fikr: Beirut, 1995], juz 1, hal. 22).
 
Kedua, bila bangkai busuk kolam itu bersumber dari cairan busuk yang keluar dari perut ikan, maka hukum air adalah suci tapi tidak menyucikan. Sekali lagi, status suci tidak selalu berarti pula dapat digunakan untuk bersuci. Dalam kasus ini, air kolam tersebut 
tidak najis meskipun tidak bisa dibuat untuk wudhu, mandi wajib, maupun menghilangkan najis.
 
(فَرْعٌ) اسْتِطْرَادِيٌّ وَقَعَ السُّؤَالُ عَنْ بِئْرٍ تَغَيَّرَ مَاؤُهَا وَلَمْ يُعْلَمْ لِتَغَيُّرِهِ سَبَبٌ ثُمَّ فُتِّشَ فِيهَا فَوُجِدَ فِيهَا سَمَكَةٌ مَيِّتَةٌ وَأُحِيلَ التَّغَيُّرُ عَلَيْهَا فَهَلْ الْمَاءُ طَاهِرٌ أَوْ مُتَنَجِّسٌ؟ وَالْجَوَابُ أَنَّ الظَّاهِرَ بَلْ الْمُتَعَيِّنُ الطَّهَارَةُ؛ لِأَنَّ مَيْتَةَ السَّمَكِ طَاهِرَةٌ وَالْمُتَغَيِّرُ بِالطَّاهِرِ لَا يَتَنَجَّسُ ثُمَّ إنْ لَمْ يَنْفَصِلْ مِنْهَا أَجْزَاءٌ تُخَالِطُ الْمَاءَ وَتُغَيِّرُهُ فَهُوَ طَهُورٌ؛ لِأَنَّ تَغَيُّرَهُ بِمُجَاوِرٍ وَإِلَّا فَغَيْرُ طَهُورٍ إنْ كَثُرَ التَّغَيُّرُ بِحَيْثُ يَمْنَعُ إطْلَاقَ اسْمِ الْمَاءِ عَلَيْهِ اهـ ع ش عَلَى م ر 
 
Artinya: “Ada sebuah pertanyaan tentang sumur yang berubah airnya dan tidak diketahui faktor penyebab perubahannya, kemudian diteliti dan ditemukan bangkai ikan. Perubahan air diarahkan karena ikan tersebut. Apakah airnya dihukumi tetap suci ataukah terkena najis? Jawabnya, secara lahiriah bahkan yang jelas hukumnya adalah suci sebab ikan itu hukumnya suci sedangkan air yang mengalami perubahan karena benda yang suci hukummnya tidak menjadi najis. Hal tersebut kalau tidak ada anggota tubuh ikan yang lepas kemudian menyatu dengan air lalu mengubahnya, maka air tetap suci menyucikan karena perubahannya disebabkan oleh benda yang tak larut. Kalau tidak demikian, maka hukumnya suci tapi tidak menyucikan apabila memang perubahannya cukup banyak yang dapat mengubah netralitas nama air. Demikian kutipan dari Ali Syibramalisi atas Imam Ramli.” (Sulaiman al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, Darul Fikr, [Darul Fikr], juz 5, hal. 269)
 
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, ikan yang mati dalam kolam tidak menjadikan air kolam najis. Apabila ada bau menyengat dari tubuh ikan saja, tapi airnya masih normal sebagaimana sebelumnya, tidak ikut tercampur baunya, maka air dihukumi suci menyucikan. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
 
 
Ahad 18 Agustus 2019 19:0 WIB
Rontokan Bulu Kucing, Apakah Najis?
Rontokan Bulu Kucing, Apakah Najis?
Ilustrasi (Pinterest)
Dalam berbagai literatur fiqih dijelaskan bahwa bagian tubuh yang terpotong dari hewan yang masih hidup, maka status suci dan najisnya persis seperti bangkai dari hewan tersebut. Dalam arti, ketika bangkai dari hewan tersebut dihukumi suci, maka potongan tubuh tersebut dihukumi suci, misalnya potongan tubuh dari ikan dan belalang. Sebaliknya, jika potongan tubuh berasal dari hewan yang bangkainya dihukumi najis, maka potongan tubuh dari hewan tersebut dihukumi najis, seperti pada hewan selain ikan dan belalang. Ketentuan hukum demikian berdasarkan salah satu hadits:
 
مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ
 
“Sesuatu yang terpisah dari hewan yang hidup, maka statusnya seperti halnya dalam keadaan (menjadi) bangkai” (HR Hakim).
 
Namun ketentuan hukum di atas, dikecualikan ketika bagian tubuh yang terpotong adalah rambut atau bulu dari hewan. Status rambut atau bulu yang terputus dari bagian hewan tidak langsung dihukumi sama seperti bangkai dari hewan tersebut, tapi terdapat perincian: jika bulu yang rontok berasal dari hewan yang halal untuk dimakan maka dihukumi suci. Seperti bulu yang rontok dari ayam, kambing, sapi, dan hewan-hewan lain yang dagingnya halal dikonsumsi. Sedangkan jika bulu yang rontok berasal dari hewan-hewan yang tidak halal dimakan dagingnya maka bulu tersebut dihukumi najis. Seperti bulu yang rontok pada hewan tikus, anjing, keledai, atau hewan-hewan lain yang dagingnya haram dimakan.
 
Lalu bagaimana dengan bulu kucing yang rontok? Bukankah kucing merupakan salah satu hewan yang haram untuk dimakan?
 
Dalam hal ini, para ulama tetap mengkategorikan bulu yang rontok dari kucing  sebagai benda yang najis. Meski demikian, najis tersebut dihukumi ma’fu (ditoleransi, dimaafkan) ketika dalam jumlah sedikit. Ditoleransi pula dalam jumlah banyak, khusus bagi orang-orang yang sering berinteraksi dengan kucing dan sulit menghindari rontokan buli kucing, misal bagi dokter hewan dan petugas salon kucing yang kesehariannya selalu berinteraksi dengan kucing. Ketentuan hukum ini seperti yang teringkas dalam kitab Hasyiyah al-Baijuri ala Ibni Qasim al-Ghazi:
 
 (وما قطع من) حيوان (حي فهو ميت الا الشعر) اى المقطوع من حيوان مأكول وفى بعض النسخ الا الشعور المنتفع بها فى المفارش والملابس وغيرها
(قوله المقطوع من حيوان مأكول) اى كالمعز مالم يكن على قطعة لحم تقصد او على عضو ابين من حيوان مأكول والا فهو نجس تبعا لذلك وخرج بالمأكول غيره كالحمار والهرة فشعره نجس لكن يعفى عن قليله بل وعن كثيره فى حق من ابتلى به كالقصاصين
 
“Sesuatu yang terputus dari hewan yang hidup, maka dihukumi sebagai bangkai, kecuali rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan. Dalam sebagian kitab lainnya tertulis ‘kecuali rambut yang diolah menjadi permadani, pakaian, dan lainnya.’
 
Rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan ini seperti bulu pada kambing. Kesucian rambut ini selama tidak berada pada potongan daging yang sengaja dipotong, atau berada pada anggota tubuh yang terpotong dari hewan yang halal dimakan. Jika rambut berada dalam dua keadaan tersebut maka dihukumi najis, sebab mengikut pada status anggota tubuh yang terpotong itu. Dikecualikan dengan redaksi ‘hewan yang halal dimakan’ yakni rambut atau bulu hewan yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan kucing. Maka bulu dari hewan tersebut dihukumi najis. Namun najis ini dihukumi ma’fu ketika dalam jumlah sedikit, bahkan dalam jumlah banyak bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan bulu tersebut, seperti bagi para tukang pemotong bulu” (Syekh Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri ala Ibni Qasim al-Ghazi, juz 2, hal. 290). 
 
Salah satu hal yang ditimbulkan dari status najis ma’fu pada bulu yang rontok dari kucing adalah ketika bulu kucing ini mengenai air yang kurang dari dua kullah, maka air tersebut tidak dihukumi najis dan tetap dapat dibuat untuk bersuci. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab Fath al-Wahab:
 
(و لا بملاقاة نجس لا يدركه طرف) أي بصر لقلته كنقطة بول (و) لا بملاقاة (نحو ذلك) كقليل من شعر نجس
 
“Air tidak najis sebab bertemu dengan najis yang tidak dapat dijangkau oleh mata, karena sangat kecilnya najis tersebut, seperti setetes urin. Dan juga dengan bertemu najis yang lain, seperti terkena bulu najis yang sedikit” (Syekh Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab, juz 1, hal. 28)
 
Sedangkan hal yang menjadi tolak ukur dalam membatasi sedikit banyaknya jumlah bulu yang rontok dari kucing adalah ‘urf (penilaian masyarakat secara umum). Jika orang-orang menyebut bulu kucing yang telah rontok dianggap masih sedikit, seperti dua atau tiga bulu, maka dihukumi najis tersebut ma’fu. Sedangkan ketika mereka menganggap bulu yang rontok banyak, maka dihukumi najis yang tidak dima’fu, kecuali bagi orang-orang yang sulit menghindarinya.
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rontokan bulu kucing merupakan najis yang ditoleransi (ma’fu) selama masih dalam jumlah yang sedikit, dan najis yang tidak ditoleransi ketika dalam jumlah banyak, kecuali bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan banyaknya bulu rontok yang bertebaran di sekitarnya.
 
Oleh sebab itu, memelihara kucing memang diperbolehkan. Namun sebaiknya kita tidak teledor dalam menjaga kesucian pakaian dan tubuh kita karena banyaknya bulu kucing yang rontok dan mengenai pakaian dan tubuh kita. Hal ini dimaksudkan agar segala ibadah yang kita lakukan benar-benar terhindar dari perkara-perkara najis yang disebabkan oleh keteledoran diri kita sendiri. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Jember
 
Rabu 31 Juli 2019 20:45 WIB
Tayamum dengan Debu di Kursi Kendaraan, Cukupkah?
Tayamum dengan Debu di Kursi Kendaraan, Cukupkah?
Ilustrasi: tangkapan layar saluran Youtube PDM Jogja
Tayamum merupakan salah satu cara untuk menyucikan diri dari hadats kecil dan hadats besar tatkala tidak ditemukan air yang dapat digunakan untuk wudhu’ atau ditemukan air tapi tidak dapat digunakan oleh seseorang karena adanya uzur. Dalil-dalil tentang tayamum ini terbilang banyak, salah satunya seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

وَإنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أو على سَفَرٍ أو جَاءَ أحَدٌ مِنْكُمْ من الغَائطِ أو لامَسْتُم النِّسَاءَ فلمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدَاً طَيِّبَاً فَامْسَحُوا بِوجُوهِكُمْ وَأيْديكمْ إنَّ اللَّهَ كَانَ عَفوَّاً غَفورَاً

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sesungguhnya Allah Maha-Pemaaf lagi Maha-Pengampun,” (QS An Nisa’: 43).

Menurut mazhab Syafi’i, tayamum hanya sah dengan menggunakan debu yang dapat berhambur (lahu ghubar) yang dapat melekat pada wajah dan tangan. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Imam Asy-Syairazi:

ولا يجوز التيمم الا بتراب طاهر له غبار يعلق بالوجه واليدين

“Tidak diperbolehkan bertayamum kecuali dengan debu suci yang dapat berhamburan dan menempel pada wajah dan kedua tangan,” (Abu Ishaq Asy-Syairazi, at-Tanbih Fi al-Fiqh asy-Syafi’i, hal. 20)

Lantas sebenarnya bagaimana batasan debu yang dapat berhambur yang sah untuk digunakan tayamum ini? Apakah debu yang menempel pada kursi kendaraan dianggap cukup untuk tayamum?

Para ulama sebenarnya tidak membatasi secara khusus debu yang dapat digunakan untuk tayamum dalam kategori tertentu. Asalkan debu tersebut suci, dapat berhambur di udara, dan bukan debu bekas tayamum (musta’mal). Sehingga, di manapun seseorang mendapatkan debu yang menempel di tangannya, selama memenuhi kriteria di atas maka dapat digunakan untuk tayamum. 

Misalnya ketika seseorang meraba sebuah benda seperti bebatuan, tembok, baju atau kain yang sudah usang, lalu menempel debu yang melekat di tangannya, maka debu tersebut dapat digunakan untuk tayamum, sebab sejatinya debu yang menempel pada benda-benda itu berasal dari tanah yang berhamburan karena hempasan udara. Sebaliknya, jika debu itu tak didapati di benda-benda tersebut maka jelas tidak dapat digunakan untuk tayamum. Hal demikian sebagaimana diulas dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah berikut:

ويجوز أن يتيمم من غبار تراب على صخرة أو مخدة أو ثوب أو حصير أو جدار أو أداة ، قالوا : لو ضرب بيده على حنطة أو شعير فيه غبار ، أو على لبد أو ثوب أو جوالق أو برذعة فعلق بيديه غبار فتيمم به جاز ، لأنهم يعتبرون التراب حيث هو ، فلا فرق بين أن يكون على الأرض أو على غيرها ، ومثل هذا لو ضرب بيده على حائط أو على حيوان أو على أي شيء كان فصار على يده غبار- أما إذا لم يكن على هذه الأشياء غبار يعلق على اليد فلا يجوز التيمم بها

“Boleh bertayamum dengan hamburan debu yang terdapat pada batu, bantal, baju, keset jerami, tembok, atau peralatan. Para ulama berkata: ‘Jika seseorang menempelkan tangannya pada biji gandum yang terkandung debu yang berhambur, atau pada kain, baju, cawan atau pada pelana kuda, lalu menempel pada kedua tangannya hamburan debu dan ia tayamum dengan hamburan tersebut, maka hal tersebut diperbolehkan, sebab para ulama menjadikan pijakan debu (yang sah untuk tayamum) di mana pun  berada. 

Maka tidak ada perbedaan apakah debu tersebut berada di tanah ataupun di tempat lainnya. Sama halnya seseorang menempelkan tangannya pada tembok, hewan, atau benda apa pun lalu pada tangannya terdapat hamburan debu. Adapun ketika pada benda-benda di atas tidak terdapat hamburan debu yang menempel pada tangannya, maka tidak boleh digunakan untuk tayammum,” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 31, hal. 134).

Ketentuan hukum di atas juga berlaku ketika diterapkan dalam menyikapi debu-debu yang menempel pada kursi kendaraan, seperti mobil, bus ataupun pesawat. Jika saat menempelkan tangan pada kursi kendaraan terdapat debu yang melekat di tangan dan debu tersebut dapat berhamburan (ghubar) maka dapat digunakan untuk tayamum.

Namun demikian, mesti dicatat bahwa jumlah debu di permukaan kursi kendaraan itu mesti mencukupi untuk meratakannya pada wajah dan kedua tangan, sebab meratakan wajah dan kedua tangan merupakan salah satu rukun dari tayamum itu sendiri. Jika hanya ditemukan sedikit debu di sana, oleh karenanya tidak cukup untuk meratakan wajah dan kedua tangan, maka tayamum dihukumi tidak sah. Mengapa? Karena sebagian rukun dari tayamum tidak terpenuhi. 

Berdasarkan ulasan di atas dapat dipahami bahwa debu yang menempel pada kursi kendaraan dapat digunakan sebagai alat tayamum ketika debu tersebut (1) suci, (2) belum digunakan untuk tayamum, dan (3) dapat berhamburan seperti halnya sifat debu pada umumnya. Satu lagi yang tak kalah penting: cukup untuk mengusapkannya secara merata pada wajah dan tangan.

Kita mesti jeli saat hendak bertayamum dengan debu kursi kendaraan. Apakah volume debu sudah betul-betul mencukupi? Untuk kendaraan-kendaraan yang sering terpakai dan terawat, umumnya jumlah debu (jika ada) sangat tidak mencukupi untuk keperluan tayamum. Volume debu yang banyak semacam itu hanya mungkin ada pada kursi kendaraan-kendaraan usang atau jarang dibersihkan. Wallahu a’lam
 
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Jember