IMG-LOGO
Hikmah

Andai Seseorang Minta Tak Diberi Rezeki, Allah Tetap Memberinya

Rabu 9 Oktober 2019 20:15 WIB
Share:
Andai Seseorang Minta Tak Diberi Rezeki, Allah Tetap Memberinya
Rezeki bermakna sangat luas. Tidak ada satu pun di dunia ini yang bukan pemberian-Nya, termasuk kemampuan untuk meminta tidak beri rezeki itu sendiri. (Ilustrasi: vebma.com)
Dalam Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi mencatat perkataan Imam Ibnu Sammak (w. 344 H) tentang rezeki. Berikut perkataannya:
 
وقال ابن السمّاك: لو قال العبد: يا ربّ لا ترزقني، لقال الله: بل أرزقك علي رغف أنفك، ليس لك خالق غيري، ولا رازق سواي، إن لم أرزقك فمن يرزقك؟
 
Ibnu al-Sammak berkata: “Andaikan seorang hamba berdoa: ‘Tuhan, jangan berikan rezeki kepadaku.’ Allah pasti menjawab: ‘Aku akan tetap memberikan rezeki-Ku kepadamu meskipun kau tak suka. Bagimu, tidak ada Pencipta selain-Ku, dan tidak ada Pemberi rezeki selain-Ku. Jika Aku tidak memberikan rezeki kepadamu, siapa lagi yang akan memberikan rezeki kepadamu?” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 246)
 
****
 
Perkataan di atas diungkapkan oleh seorang muhaddits (ahli hadits) yang masyhur ke-tsiqqah-annya, dijuluki musnid al-‘iraq, Imam Abu ‘Amr Utsman bin Ahmad bin Abdullah bin Yazid al-Baghdadi al-Daqqaq, lebih dikenal dengan Ibnu al-Sammak (w. 344 H). Beberapa muridnya yang terkenal adalah Imam al-Daruquthni (w. 385 H), Ibnu Syahin (w. 385 H), al-Hakim al-Naisyaburi (w. 405), dan lain sebagainya.
 
Dalam kehidupan dan kematian; dalam keadaan dan ketiadaan. Semuanya berjalan atas kehendak-Nya. Tidak ada satupun di dunia ini yang terlepas dari pengaturan-Nya. Salah satunya adalah rezeki. Andaipun seseorang berdoa dengan kekhusyu’an yang luar biasa, meminta agar Allah tidak memberinya rezeki, Allah akan tetap memberikannya. Suka atau tidak suka; rela atau tidak rela, ia akan tetap mendapatkan rezeki.
 
Sebab, “laisa laka khâliqun ghairî” (tidak ada bagimu Pencipta selain-Ku) dan “lâ râziqun siwayya” (tidak ada Pemberi rezeki selain-Ku). Jadi, suka atau tidak suka, seseorang akan terus mendapatkan rezeki dari Allah. Dan perlu diingat, rezeki itu tidak melulu berupa harta benda atau uang. Akar katanya adalah razaqa-yarzuqu-rizqan yang artinya “aushala ilaihi rizqan aw a’thâhu” (mengirimkan rezeki/pemberian kepada seseorang, atau memberikannya). Contoh penggunaan kalimatnya, “razaqath thâ’ir farkhahu” (burung memberikan rezeki kepada anaknya). (Dr. Shauqi Dhaif, dkk., al-Mu’jam al-Wasîth, Kairo: Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, 2004, 342)
 
Artinya, rezeki bermakna sangat luas. Karena tidak ada satu pun di dunia ini yang bukan pemberian-Nya. Mata adalah rezeki, telinga adalah rezeki, lidah adalah rezeki, bahkan kehidupan sendiri adalah rezeki. Semua yang berupa pemberian adalah rezeki. Maka, sebelum mempertanyakan kekurangan, kita harus melihat terlebih dahulu rezeki secara utuh. 
 
 
Cara pandangnya bukan enak atau tidak enak dalam keadaan dan situasi tertentu, tapi memandang seluruhnya. Bisa jadi kita sedang susah dalam hal ekonomi, tapi kita sukses dalam hal kesehatan. Bisa jadi kita kurang beruntung dalam pekerjaan, tapi kita sukses dalam hal lainnya. Cara pandang semacam itu penting untuk menyadarkan rasa syukur kita kepada Allah agar terhindar dari keputusasaan.
 
Contoh sederhananya, kita sering mengharapkan keberuntungan yang sama ketika berada di perumahan mewah dengan berbagai mobil, pagar tinggi, satpam dan lain sebagainya. Tapi, kita sering lupa mensyukuri nikmat ketika sedang berada di rumah sakit, melihat berpuluh-puluh orang sakit dengan ragam penyakitnya. Di saat itu, kita sering melalaikan diri untuk bersyukur. Kita seperti tidak merasakan rezeki Allah lainnya, yaitu kesehatan.
 
Dalam ucapannya, Imam Ibnu al-Sammak hendak menunjukkan bahwa rezeki Allah tidak berbatas, dan tidak tebang pilih. Tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Anggap saja kaum atas di sini adalah orang-orang saleh dan bertakwa, sedangkan kalangan bawahnya adalah orang-orang jahat, dan tidak beriman. Kedua kalangan ini sama-sama mendapatkan rezeki dari Allah. Tidak sedikit orang-orang yang kita anggap saleh berada dalam kemiskinan, dan tidak sedikit orang-orang yang kita pandang jahat memiliki kekayaan yang melimpah. Begitu pun sebaliknya, orang saleh yang kaya, dan orang jahat yang miskin. Artinya, Allah memberikan rezeki kepada siapa saja, bahkan terhadap orang yang tidak pernah bersyukur dan menyembah-Nya.
 
Karena itu, jangan berputus asa dalam menghadapi kesusahan hidup. Orang yang meminta tidak diberi rezeki saja, Allah tetap memberikan rezeki kepadanya, apalagi terhadap orang-orang yang selalu bersimpuh memohon rezeki kepada-Nya. Dan, yang tak kalah penting, memohon rezeki harus dibarengi, selain usaha, kepasrahan diri kepada Allah. Maksudnya, kita harus belajar menerima segala bentuk pengabulan doa dari Allah, meski secara spesifik tidak sama dengan yang kita minta.
 
Satu waktu, Imam Ibrahim bin Adham bertanya kepada seorang mutawakkil (orang tawakkal):
 
من أين تأكل؟ قال: ليس عندي هذا العلم, سلْ من الرزَّاق, ما لي شغل بهذا الفضول
 
“Dari mana kau makan?” Ia menjawab: “Aku tidak memiliki pengetahuan soal ini. Tanyalah pada yang Maha Pemberi Rezeki. Bukan aku yang mengurus karunia ini.” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 142).
 
Artinya, ia hanya memasrahkan semuanya kepada Allah, dan melepaskan diri dari hubungan transaksional semacam, “jika aku bertawakkal, berilah rezeki kepadaku.” Karena ia sudah tahu bahwa rezeki Allah akan selalu ada, dari mulai sebelum dunia diciptakan, sampai dunia dihancurkan, dan seterusnya (tidak terbatas). Dia adalah al-Razzâq (Maha Pemberi Rezeki). Dan, memasrahkan segalanya kepada Allah, tidak akan pernah mendatangkan kerugian, karena Allah lah sebaik-baiknya tempat mengadu dan berkeluh kesah.
 
Pertanyaannya, sudahkah kita mensyukuri apa yang kita punya, dan apa yang akan datang kepada kita?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab.

 
Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Share:

Baca Juga

Selasa 8 Oktober 2019 12:0 WIB
Saat Abu Musa al-Asy’ari Minta Disiapkan Galian Kubur
Saat Abu Musa al-Asy’ari Minta Disiapkan Galian Kubur
Kesedihan para ulama bukan lantaran takut pada kematian itu sendiri, melainkan karena ketidakpastian: apakah diri ini kelak mendapat ridha Allah atau tidak.
Sejak zaman Nabi Adam, tidak ada satu pun kisah orang yang hidupnya kekal. Nabi Sulaiman yang kaya raya serta taat, menjadi utusan Allah, dan kerajaannya tiada banding sepanjang sejarah manusia hidup di muka bumi, juga pada akhirnya meninggal dunia. 
 
Qarun merupakan salah seorang sepupu Nabi Musa yang superkaya. Untuk membawa kunci gudangnya saja, setidaknya dibutuhkan sepuluh orang berbadan kekar. Meski demikian toh akhirnya mati pula. Begitu pula Fir'aun, orang yang pernah mengaku sebagai Tuhan, tak kuasa melawan takdir kematian atas dirinya. 
 
Di dunia ini, orang yang hidupnya masih bertahan lama hanya empat. Demikian disampaikan KH Sya'roni Ahmadi asal Kudus, Jawa Tengah. Dua di antaranya, Nabi Idris dan Nabi Isa hidup di langit. Sedangkan yang dua masih hidup di dunia, yaitu Nabi Khidir dan Nabi Ilyas, 'alaihimus salam. Dari keempat nabi tersebut pada akhirnya juga meninggal ketika jatuh hari kiamat kelak.
 
Ada berbagai macam sikap orang-orang baik saat mempersiapkan kematian mereka. Ada seorang habib yang setiap pergi ke mana-mana, membawa kain kafan di dalam tasnya, agar dia bisa mengingat mati di setiap saat.
 
Lalu, bagaimana sikap orang-orang shalih itu menghadapi kematian yang sudah di ujung mata?
 
Baca juga:
 
Hani al-Haj menceritakan banyak kisah orang shalih dalam menghadapi kematiannya yang terekam dalam ktabnya Alfu Qishah wa Qishah, al-Maktabah at-Taufîqiyyah, halaman 266-271.
 
Satu contoh, Abu Musa al-Asy'ari. Suatu hari tokoh generasi sahabat ini memanggil sejumlah pemuda dan mengajukan permintaan yang aneh. 
 
"Pergilah kalian, tolong galikan aku sebuah kuburan yang dalam. Sebab penggalian yang dalam merupakan sebuah kesunnahan." Demikian pesan Abu Musa kepada para pemuda tersebut. 
 
Setelah usai, para penggali kubur kemudian melapor kepada Abu Musa, "Ini, kami sudah selesai menggali."
 
"Iya, coba duduklah kalian di sini, bersamaku! Demi Allah, Tuhan yang menggenggam jiwaku. Dalam kuburan yang kalian gali itu terdapat dua tempat. Mungkin saja kuburanku itu kelak akan diluaskan sehingga setiap sudut akan dilebarkan menjadi 40 hasta. 
 
Dari ruangan itu, akan dibukakan kepadaku pintu-pintu surga. Di sana aku akan melihat rumahku dan istri-istriku. Kenikmatan-kenikmatan surgawi disiapkan untukku. Lalu, pada hari ini, tempatku di surga itu aku hadiahkan kepada keluargaku. Aku akan mendapatkan kesegaran dan aroma wewangian yang semerbak hingga kelak aku dibangkitkan.
 
Dan jika kejadiannya lain, kuburanku disempitkan sampai tulang rusukku terjepit, sampai-sampai ukuran kuburkanku lebih sempit daripada sekian saja. Pintu-pintu neraka jahanam telah dibukakan kepadaku. Di situ, aku akan melihat tempatku dan aneka siksaan yang dipersiapkan Allah kepadaku, berupa rantai-rantai, belenggu, dan teman-teman yang buruk. Pada hari itu, aku akan merasakan kepanasan sampai kelak aku dibangkitkan." 
 
Abu Musa al-Asy’ari mengingatkan kita bahwa kematian pasti terjadi dan hanya dua kondisi yang akan dialami manusia kelak: kebahagiaan atau kesengsaraan. Ia merenungi itu untuk diri sendiri, juga untuk orang-orang di sekitarnya yang masih muda-muda. Kematian memang tak mengenal usia. Siapa saja layak menerima nasihat tentang kenyataan manis atau pahit kehidupan selepas mati.
 
Kematian bagi para ulama terdahulu begitu melekat di hati, bahkan menjadi sesuatu yang patut ditangisi. Kesedihan mereka bukan lantaran takut pada kematian itu sendiri, melainkan karena ketidakpastian: apakah diri ini kelak mendapat ridha Allah atau tidak. Sebuah ekspresi yang timbul dari kerendahan hati mereka.
 
Ibrahim an-Nakha'i saat menjelang kematiannya, ia menangis. Lalu ada orang yang bertanya, "Apa yang membuat anda menangis?"
 
Dijawab, "Tidak, aku tidak menangis. Hanya saja aku sedang menunggu utusan-utusan Tuhanku datang. Entah mereka akan membawa kabar gembira kepadaku berupa surga atau neraka. 
 
Ibnul Munkadir juga menangis ketika menghadapi kematiannya. Saat ditanya mengapa menangis, ia menjawab "Demi Allah, aku bukan menangisi dosa yang telah aku ketahui. Namun aku khawatir, aku telah melakukan sesuatu yang menurut dugaanku itu merupakan hal yang remeh-temeh, tapi menurut Allah ternyata hal tersebut adalah suatu hal yang besar. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
 
Senin 7 Oktober 2019 19:45 WIB
Ketika Ibnu Mukaddam Dituduh Kafir
Ketika Ibnu Mukaddam Dituduh Kafir
Tuduhan kafir yang salah sasaran akan kembali pada si penuduh. (Ilustrasi: NU Online)
Dalam Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi mencatat sebuah kisah ketika Ibnu Mukaddam dipanggil ‘kafir’ oleh seseorang. Berikut kisahnya:
 
وقال رجل لابن مكدّم: يا كافر. قال: وجب عليَّ الشُّكرُ، حيث لم يجر ذلك علي لساني، ولم تجب عليَّ إقامةُ الحُجّة فيه، وقد طويتُ قلبي علي جملة أشياء. قال: ما هنّ؟ قال: إن قُلْتَ ألفَ مرّة، ولا أحقِدُ عليك، ولا أشكوك إلي أحد، وإن نجوْتُ من الله عزّ وجلّ بعد هذه الكلمة شفعتُ لك. فتاب الرجل.
 
Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Mukaddam: “Wahai kafir!”
 
Ibnu Mukaddam menjawab: “Aku mewajibkan diriku untuk bersyukur, di mana ucapan itu tidak mengalir di atas lidahku, dan aku tidak wajib menyuguhkan hujjah atas ucapan ‘kafir’ itu. Sungguh, aku malah mengalihkan hatiku terhadap beberapa hal (lain).”
 
Laki-laki itu bertanya: “Apa itu?”
 
Ibnu Mukaddam menjawab: “Jika pun kau mengatakan (tuduhan itu) seribu kali, aku tidak akan menjawabnya sekalipun. Aku tidak akan menaruh dendam kepadamu, dan tidak akan mengeluhkan (perbuatan)mu pada seorang pun. Jika aku berhasil melakukannya karena Allah ‘Ajja wa Jalla setelah ucapan(mu) ini, aku akan memberimu pertolongan.”
 
Kemudian laki-laki itu bertobat (setelah mendengar perkataan Ibnu Mukaddam). (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 247)
 
****
 
Untuk sebagian orang, dituduh buruk adalah berkah, seperti yang dilakukan Ibnu Mukaddam. Ia mewajibkan dirinya sendiri untuk bersyukur setelah mendengar panggilan “hai kafir” dari seseorang. Ia tidak marah, menghardik, apalagi menyerangnya secara fisik. Ia pun merasa tak perlu untuk membantahnya. Ia sadar betul, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna; tidak ada manusia yang bisa lepas dari perbuatan dosa. Selama mereka hidup, potensi berdosa, dan bersalah tidak kalah besarnya dari potensi berpahala, dan beramal baik.
 
Ia malah senang dituduh “kafir”, karena ia menerima kemungkinan “kafir” pada dirinya sendiri. Ia menjadikan tuduhan itu sebagai pengingat, ‘apakah ia akan berhasil menghindari kekafiran sampai ia mati?’ Karena itu, ia mengatakan (terjemah bebas): “Jika aku berhasil melakukannya karena Allah ‘ajja wa jalla setelah (tuduhan kafir)mu ini, aku akan memberikan pertolongan kepadamu kelak.”
 
Ini menunjukkan, ia sendiri takut akan terjerumus ke dalam kekafiran. Sebab, selama nafas masih dikandung badan, kemungkinan akan selalu ada, yang mukmin bisa menjadi kafir, begitu pun sebaliknya, yang kafir bisa menjadi mukmin. Siapa yang tahu. Dan itu semua adalah hak Allah, bukan manusia yang menentukannya.
 
 Dalam kisah di atas, Ibnu Mukaddam malah bersyukur disebut ‘kafir’. Alasan syukurnya ini menarik. Ia mengatakan (terjemah bebas): “Karena tuduhan kafir tidak keluar dari lisanku, dan aku tidak wajib mengemukakan hujjah (argumen) atas tuduhan itu, (maka aku bersyukur).” 
 
Ia bersyukur bahwa kata-kata itu tidak keluar dari lisannya, dan ia pun bersyukur karena tidak diharuskan menyuguhkan argumentasi kuat untuk membenarkan tuduhan ‘kafir’ tersebut. Apalagi menuduh atau memanggil seorang muslim dengan ‘kafir’ mendapat peringatan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda (HR. Imam al-Bukhari):
 
وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ
 
“Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan ‘kafir’, atau mengatainya ‘musuh Allah’, sedangkan ia tidak seperti itu, maka tuduhan itu akan kembali pada si penuduh.”
 
Karena itu, Ibnu Mukaddam berjanji akan menolong laki-laki yang menuduhnya itu. Satu sisi, ia ingin membuktikan bahwa dirinya termasuk kelompok “laisa kadzalik” (sedangkan ia tidak seperti itu) dalam hadits di atas. Di sisi lain, ia tak mau orang yang menuduhnya terjerumus.
 
Di samping itu, ia berterima kasih kepada penuduhnya. Karena tuduhannya itu melecut jiwanya untuk berjuang sepenuh daya, disertai memohon pertolongan dari Allah, agar terhindar dari kekafiran. Sebab, bagi orang-orang semacam Ibnu Mukaddam, tuduhan buruk selalu dirayakan dengan muhasabah (instropeksi diri) sekaligus pengingat diri. Bahkan di titik tertentu, mereka lebih menyukai tuduhan daripada pujian. Karena tuduhan membuat mereka meraba-raba ke dalam diri, melihat kesalahan yang tidak disadari sebelumnya, dan bertobat. Sedangkan pujian, seringkali menjebak manusia dalam kesombongan, riya, ujub dan takabbur.
 
Dan pada akhirnya, laki-laki itu bertobat setelah mendengar penjelasan Ibnu Mukaddam. Pertanyaannya, seberapa mampu kita mensyukuri tuduhan buruk orang lain kepada kita?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab....
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Kamis 3 Oktober 2019 7:30 WIB
Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Selalu Mengeluhkan Rezeki
Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Selalu Mengeluhkan Rezeki
Jika cara pandang kita baik, kita akan menemukan bermacam-macam pelajaran dari setiap peristiwa hidup. (Ilustrasi: NU Online)
Dalam Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi (w. 414 H) mencatat perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam tentang pentingnya melihat palajaran dalam mencari rezeki. Berikut riwayatnya:
 
وقال عيسي عليه السلام: يا ابن آدم اعتبرْ رِزقك بطير السماء, لا يزرَعْن ولا يحْصُدن وإله السماء يرزُقهنّ. فإن قلتَ: لها أجنحةٌ فاعتبرْ بحمر الوحْش وبقر الوحْش ما أسمنها وما أبشمها وأبدنها
 
Isa ‘alaihissalam bekata: “Wahai anak cucu Adam, ambillah pelajaran rezekimu dengan burung di langit. Mereka tidak pernah menanam dan menuai (memanen). Tuhan langitlah yang memberikan mereka rezeki. Jika kau (anak cucu Adam) beralasan: ‘Mereka (burung) memiliki sayap.’ Maka ambillah pelajaran dari keledai dan sapi liar, (lihatlah) betapa gemuknya mereka, betapa banyaknya makan mereka dan betapa gempalnya tubuh mereka” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 246).
 
****
 
Tidak sedikit orang yang mengeluh kekurangan rezeki dan nikmat. Sebagian bersedih, sebagian lagi marah. Perasaan kurang memang hampir selalu diekspresikan dengan kesedihan, keluhan, prasangka buruk dan amarah. Mungkin karena manusia lebih sering merasa disalahi daripada disayangi; dikorbankan daripada diperjuangkan, sehingga ia mudah marah, menyalahkan, mengeluh dan bersedih ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.
 
Perasaan seperti itu memang wajar terjadi di setiap manusia, karena perasaan manusia memang lebih kuat ketika berposisi sebagai objek (penderita). Contohnya, ketika kita dihina, amarah kita bangkit, dan ingatan kita tentang si penghina sangat kuat. Tapi, ketika kita yang menghina, kita menganggapnya biasa, bahkan tidak sering melupakannya begitu saja.
 
Oleh karena itu, Nabi Isa ‘alaihissalam menyuruh anak cucu Adam untuk mengambil pelajaran, terutama soal rezeki. Ia berkata (terjemah bebas): “Lihatlah burung yang terbang di kolong langit, ia bisa makan tanpa harus menanam dan memanen, karena Allah lah yang memberi mereka makan.”
 
Burung yang tidak difasilitasi kemampuan bercocok tanam, dapat memenuhi kebutuhannya. Lalu kenapa manusia yang diberikan banyak perangkat kemampuan, terus mengeluhkan rezekinya. Meskipun mengeluh itu wajar dan tidak haram. Setiap manusia berhak mengadukan keluhannya kepada Tuhan. Karena itu Tuhan memberikan hak berdoa kepada manusia. Jadi, nasihat Nabi Isa di atas bukan soal boleh-tidaknya mengeluh, tapi lebih kepada bagaimana agar manusia bisa berkembang secara spiritual dan mental.
 
Artinya, nasihat di atas bertujuan mendidik jiwa manusia agar tidak rapuh dan mudah berputus asa, apalagi jika keputus-asaan itu dicarikan alasan logisnya, seperti perkataan (terjemah bebas): “Burung memiliki sayap, sedangkan kami tidak.” Kemudian Nabi Isa merubah objek “i’tibâr”nya ke keledai dan sapi liar yang tetap gemuk, gempal dan banyak makannya tanpa bercocok tanam.
 
Dengan mengatakan itu, Nabi Isa sedang mengajari kita bahwa ada pelajaran dalam segala sesuatu. Jika cara pandang kita baik, pikiran kita jernih, dan iman kita kuat, kita akan menemukan bermacam-macam pelajaran dari setiap peristiwa hidup. Sayyidina Luqman al-Hakim pernah berkata:
 
إنّ الذّهب يُجرَّب بالنّار وإنّ المؤمن يُجرَّب بالبَلَاء
 
"Sesungguhnya emas ditempa dengan api, dan orang beriman ditempa (diuji) dengan kesusahan (musibah)” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, 2011, h. 242).
 
Ini menunjukkan bahwa jiwa kita sebagai manusia harus berkembang. Tanpa ditempa dan diuji, perkembangan kita sebagai manusia akan terhenti. Jika perkembangan kita terhenti, kita hanya akan menjalani hidup yang berulang. Hari ini tidak ubahnya hari kemarin; hari esok tidak ubahnya hari ini.
 
Penjelasan sederhananya begini. Dengan adanya musibah, Allah sedang mendidik kesabaran kita agar bertambah, sehingga kita menjadi orang yang lebih sabar dari kita yang kemarin; dengan adanya limpahan anugerah, Allah sedang mendidik rasa syukur kita, sehingga kita menjadi orang yang lebih bisa mensyukuri nikmat daripada kita yang kemarin, dan begitu seterusnya.
 
Karena itu, Nabi Isa menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari burung, sapi dan keledai liar, agar kita bisa terus mendidik diri kita sendiri, terutama dalam cara pandang kita tentang rezeki. Perasaan kekurangan rezeki inilah yang paling sering memantik kekufuran, kemarahan dan keputus-asaan manusia. 
 
Padahal, jika kita melihatnya lebih jauh, Allah selalu memberikan rezeki-Nya kepada kita, hanya saja kita tidak menyadarinya. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah rezeki-Nya, dari mulai udara yang kita hirup, tanah yang kita pijak, langit yang kita pandang, tangan yang kita gerakan, mata yang kita gunakan, sampai matahari yang kita rasakan. Itu semua adalah rezeki-Nya, tapi kita sering lupa menganggap semua itu sebagai rezeki-Nya.
 
Pertanyaannya, seberapa sering kita meluangkan waktu untuk mengambil pelajaran?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab..
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen