IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

10 Adab Pelajar terhadap Diri Sendiri Menurut KH Hasyim Asy’ari

Selasa 15 Oktober 2019 15:00 WIB
10 Adab Pelajar terhadap Diri Sendiri Menurut KH Hasyim Asy’ari
Ilustrasi
Di dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari menguraikan beberapa etika yang seyogianya dilakukan seorang pelajar terhadap dirinya sendiri. Ada 10 etika yang hendaknya dimiliki oleh penuntut ilmu sebagai berikut.
 
1. Membersihkan hati dari penyakit dan kotoran
 
Salah satu tanda-tanda pelajar yang sukses adalah pribadi yang bersih hatinya. Hendaknya ia membersihkan hatinya dari segala penyakit dan kotoran hati yang dapat mencegah masuknya ilmu seperti dendam, iri, dengki, keyakinan yang menyimpang, dan berbagai hal tercela lainnya. Hal ini perlu dilakukan supaya ia dapat menerima, menghafal, dan menjaga ilmu yang telah diajarkan kepadanya dan supaya ia dapat lebih mendalami permasalahan-permasalahan yang berkembang dari ilmu yang telah ia dapatkan. Apa yang KH Hasyim Asy’ari sampaikan selaras dengan dawuh dari Syekh Waki’ guru Imam Syafi’i ketika beliau memberikan nasehat kepada Imam Syafi’i yang mengadu tentang melemahnya kekuatan hafalan beliau. Imam al-Syafi’i berkata:
 
شكوت إلى وكيع سوء حفظي      *     فأرشدني إلى ترك المعاصي
و أخبرني    بأن   العلم    نور     *     ونور الله لا يهدي لعاصي                             
“Saya mengadu buruknya hafalan saya kepada guruku Syekh Waki’, lantas beliau menunjukanku untuk meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan. Beliau mengkabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah Swt tidak akan ditunjukan untuk orang yang bermaksiat” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawiy, Dar al-Ulum wa al-Dakwah, hal. 213). 
 
2. Mempunyai niat baik
 
Seorang pelajar dalam proses belajar hendaknya mempunyai niat yang baik sebagai motivasi yang selalu dihadirkan dalam benaknya. Beliau Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari memberikan beberapa kriteria niat yang hendaknya ditancapkan dalam hati seorang pelajar, yaitu meraih ridha Allah Swt, mengamalkan ilmu dalam kehidupan, menghidupkan dan melestarikan syari’at, menerangi dan menghiasi hati, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sedangkan mengenai niat yang dilarang adalah tujuan-tujuan duniawi seperti ambisi kekuasaan, jabatan, harta benda, menyombongkan diri, gila hormat dan lain sebagainya.”
 
Apa yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari  selaras dengan keterangan yang dipaparkan oleh al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith yang menyatakan pentingnya niat yang baik dalam menuntut ilmu, karena niat merupakan pokok semua perbuatan. Beliau berkata:
 
واعلم أنه لا بد لطالب العلم من حسن النية في تعلم العلم إذ النية هي الأصل في جميع الأفعال لقوله صلّى الله عليه والسلام إنما الأعمال بالنية
 
“Ketahuilah bahwa seorang pelajar wajib mempunyai niat yang baik dalam menuntut ilmu, karena niat adalah pokok atau dasar dari segala perbuatan. Sebab adanya sabda Nabi Muhammad Saw, Sesungguhnya semua amal tergantung pada niatnya” (Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, Dar al-Ulum wa al-Da’wah, hal. 213).
 
3. Segera belajar dan tidak menunda-nunda
 
Seorang pelajar tidak boleh menunda masa belajar, akan tetapi ia harus memanfaatkan masa muda dan segala waktunya untuk menuntut ilmu, jangan sampai ia terlena oleh nafsunya yang selalu ingin menangguhkan masa belajar. Hal ini tidak lain karena waktu yang terus berjalan tidak mungkin digantikan oleh apapun, sehingga andai ia tidak memanfaatkannya maka waktunya akan terlewat sia-sia tanpa faidah.
 
Beliau KH Hasyim Asy’ari juga menyatakan seorang pelajar harus melepaskan dirinya dari segala kesibukan yang dapat menghambat fokus, kegigihan, pengorbanan, dan kesemangatannya dalam menuntut ilmu. Sebab kesibukan yang tidak segera dilepaskan akan menghambat pelajar dari ilmu.
 
4. Menerima apa yang telah menjadi bagiannya (qana’ah)
 
Seorang pelajar hendaknya menerima dengan rela apa yang telah disediakan baginya berupa makanan maupun sandang pakaian. KH Hasyim Asy’ari menekankan para pelajar agar memilih kesederhanaan dan menghindari segala kemewahan dan kegelamoran hidup selama menempuh jalan ilmu. Dengan bersabar atas kehidupan yang sederhana, pelajar dapat memperoleh luasnya ilmu, bisa menyatukan sendi-sendi cita-cita hati yang terurai serta memancarkan sumber-sumber pengetahuan.
 
Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengutip dawuh Imam Syafi’i mengenai keprihatinan yang menjadi kunci utama keberhasilan seorang pelajar. Imam al-Syafi’i berkata:
 
لا يفلح من طلب العلم بعزة النفس وسعة المعيشة ولكن من طلبه بذلة النفس وضيق العيش وخدمة العلماء أفلح
 
“Tidak bahagia orang yang mencari ilmu dengan kemuliaan diri dan kemewahan hidup. Tetapi orang yang mencarinya dengan kerendahan diri, kesempitan hidup dan berkhidmah kepada ulama maka akan bahagia.”
 
5. Membagi dan memanfaatkan waktu belajar secara efektif
 
Seorang pelajar ketika punya harapan besar menjadi orang yang sukses maka ia harus bisa memanfaatkan waktunya untuk belajar, karena waktunya yang terus berlalu merupakan sesuatu yang tidak akan pernah ternilai harganya. KH Hasyim Asy’ari memberi manajemen yang baik terkait waktu belajar.
 
Menurut KH Hasyim Asy’ari, waktu yang paling baik untuk menghafal pelajaran adalah waktu sahur, membahas materi pelajaran adalah pagi hari, menulis pelajaran adalah siang hari, dan muthola’ah atau mengkaji ulang pelajaran adalah malam hari.
 
Selain merekomendasikan waktu belajar yang baik, beliau juga memaparkan bagaimana kriteria tempat yang ideal untuk menghafalkan pelajaran. Menurut KH Hasyim Asy’ari, tempat terbaik untuk menghafal adalah di kamar-kamar dan setiap tempat yang jauh dari kebisingan. Tidak baik menghafal di depan pepohonan, hijau-hijauan, sungai-sungai dan suara-suara gemuruh yang mengganggu konsentrasi.
 
6. Mengurangi makan dan minum
 
Hendaknya pelajar menyedikitkan makan dan minum, karena kekenyangan dapat mencegah dari ibadah dan membuat badan terasa berat. Di antara manfaat minimnya makan adalah terjaganya kesehatan jasmani dan menolak berbagai macam penyakit. Karena sesungguhnya penyebab muculnya penyakit-penyakit adalah banyaknya makan dan minum.
 
KH Hasyim Asyari mendasari pendapatnya dengan mengutip sebuah syair:
 
فإن الداء أكثر ما تراه * يكون من الطعام أو الشراب
 
“Sungguh mayoritas penyakit yang kamu lihat berasal dari konsumsi makanan dan minuman.”
 
Selain manfaat yang muncul secara lahir terhadap tubuh, sedikit makan dan minum juga memberikan manfaat terhadap batin atau hati seorang pelajar, yaitu menyehatkan hati dari sifat serakah dan keangkuhan.
 
KH Hasyim Asyari menegaskan bahwa tidak ada dalam catatan sejarah yang menyatakan bahwa Wali Allah Swt, para Imam dan para Ulama pilihan yang banyak makan, tidak ada salah seorangpun dari mereka dipuji karena banyaknya makan. Nafsu makan yang berlebih hanya terpuji bagi binatang-binatang yang tidak berakal dan disiapkan untuk bekerja.
 
Apa yang telah beliau sampaikan mengenai anjuran mengurangi konsumsi makanan dan minuman dalam proses belajar selaras dengan apa yang disampaikan beliau Syekh Sahal bin Abdillah al-Tastary, beliau berkata :
 
و قال سهل بن عبد الله التستري رحمه الله : "جعل الله في الشبع الجهل والمعصية وفي الجوع العلم والحكمة"            
 
Syekh Sahl bin Abdillah al-Tastary berkata : “Allah Swt menjadikan kebodohan dan kemaksiatan dalam perut yang kenyang dan Allah Swt menjadikan ilmu dan hikmah dalam perut yang lapar.” 
(Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaji al-Sawiy, Dar al-‘Ulum wa ad-Da’wah, hal. 217)
 
7. Bersifat wira’i (menjaga diri dari haram dan syubhat) dan berhati-hati dalam segala hal
 
Hendaknya pelajar berpegang teguh dengan sifat wira’i dan berhati-hati dalam seluruh urusannya, hendaknya berhati-hati dalam mengambil perkara halal dalam makanan, minuman, pakaian, tempat dan seluruh kebutuhan hidupnya. Hal tersebut dilakukan agar hati pelajar tercerahkan dan mudah menerima ilmu. Salah satu bentuk kehatia-hatian adalah mengambil dispensasi syariat (rukhshah) hanya saat ada kebutuhan, sesungguhnya Allah suka ditunaikan segala rukhshahNya sebagaimana aturan-aturan baku-Nya.
 
8. Menghindari makanan penyebab kebodohan dan lemahnya daya tangkap 
 
Makanan merupakan faktor krusial yang menentukan keberhasilan seorang pelajar, apa yang ia makan akan berpengaruh terhadap kesuksesannya. Oleh karena itu, beliau Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyampaikan seorang pelajar harus mengurangi konsumsi makanan yang dapat menyebabkan kebodohan dan lemahnya daya tangkap dan tanggap panca indera.
 
Beliau menganjurkan agar pelajar menghindari apel masam, kacang-kacangan dan cuka. Demikian pula hendaknya menghindari makanan yang menyebabkan banyaknya lendir yang dapat menumpulkan akal dan memberatkan badan, seperti konsumsi susu dan ikan secara berlebihan.
 
Pelajar seyogianya menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan lupa, seperti mongonsumsi makanan bekas tikus, membaca tulisan di papan batu nisan, menyelinap di antara dua unta yang berjejer dan membuang kutu dalam keadaan hidup.
 
9. Mengurangi tidur
 
Banyak tidur merupakan salah satu hal yang menyebabkan kemalasan seorang pelajar. KH Hasyim Asyari menekankan kepada para pelajar agar menyedikitkan tidur selama tidak membahayakan tubuh dan pikirannya.
 
Menurut Hadratussyekh, hendaknya durasi tidur pelajar tidak melebih delapan jam dalam sehari semalam. Jika mampu, lebih baik lagi durasi tidur di bawah delapan jam.
 
Menurut KH Hasyim Asyari, saat lelah dan penat melanda, pelajar diperbolehkan mengisitirahatkan pikirannya dengan berbagai macam hiburan (tentu yang tidak melanggar syariat) seperti berekreasi. Hal tersebut dilakukan agar pikiran pelajar menjadi segar kembali sehingga mudah menangkap pelajaran.
 
Paparan KH Hasyim Asyari terkait mengisirahatkan pikiran saat penat selaras dengan keterangan yang dijelaskan dalam kitab al-Bariqah al-Mahmudiyyah sebagai berikut:
 
(وعن علي - رضي الله عنه - أنه قال) موقوف فإما حديث محذوف الإسناد أو أثر من آثاره من عند نفسه كرم الله وجهه «روحوا» من الترويح بمعنى النشاط «القلوب» بإزاحة الكد كل آن عن مكابدة العبادات ببعض المباحات فساعة للذكر وساعة للاستراحة «فإنها» أي القلوب «إذا أكرهت» جبرت على الأعمال «عيت» تعبت وأعرضت 
 
“Diriwayatkan dari Sayyidina Ali bahwa beliau berkata; istirahatkanlah hati kalian, sesungguhnya bila ia dipaksa beraktivitas akan capek dan berpaling. Maksudnya mengistirahatkan adalah dengan menghilangkan kepayahan menanggung ibadah-ibadah dengan cara melakukan sebagian perkara-perkara mubah, maka satu waktu untuk berdzikir, waktu yang lain untuk beristirahat. Riwayat dari Ali ini ada kemungkinan, bisa jadi hadits mauquf yang terbuang sanadnya atau statemen beliau.” (Syekh Abu Said al-Khadimi, al-Bariqah al-Mahmudiyyah, juz.2, hal.79).
 
 
10. Meninggalkan pergaulan negatif
 
KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa hal paling penting yang seyogianya dilakukan seorang pelajar adalah menjauhi pergaulan negatif, apalagi dengan lawan jenis bukan mahram terutama orang-orang yang mayoritas waktunya hanya dialokasikan untuk bermain dan minim berfikir. 
 
Hal ini tidak lain karena sifat atau karakter seseorang memiliki karakter seperti pencuri, yakni mampu mempengaruhi orang di sekitarnya dengan cepat. Pergaulan negatif mempunyai sumbangsih besar terhadap tersia-sianya umur tanpa memberikan manfaat apa pun. 
 
Beliau juga menegaskan bahwa pergaulan menyebabkan hilangnya nilai keagamaan bila sang pelajar salah memilih rekan.
 
Bila membutuhkan kawan, hendaknya pelajar memilih rekan yang saleh, baik agamanya, bertakwa, wira’i, bersih, banyak kebaikannya, minim keburukannya, terjaga harga dirinya, sedikit berdebat. Bila pelajar lupa, ia bisa mengingatkan, dan di saat ingat, ia dapat membantu.
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
 
Tags:
Share:

Baca Juga