IMG-LOGO
Ilmu Hadits

Hadits Fi’li dan Kurikulum Siswa Aktif di Kalangan Sahabat Nabi

Selasa 5 November 2019 12:00 WIB
Hadits Fi’li dan Kurikulum Siswa Aktif di Kalangan Sahabat Nabi
Sebagian sahabat Nabi adalah subjek aktif yang punya rasa pengetahuan yang tinggi tentang perilaku Rasulullah.

Hadits adalah sumber hukum agama Islam kedua setelah Al-Qur’an. Hadits terbagi kepada hadits fi’li, qauli, taqrîri, dan washfi. Pengklasifikasian tersebut didapatkan dari definisi hadits sendiri, yaitu:

 

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول، أو فعل، أو تقرير، أو صفة

 

Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan) ataupun sifat (Dr. Mahmud Thahan, Taysîr Mushthalâh al-Hadîts, Maktabah al-Ma’ârif, cetakan ke-10, 2004, halaman 17).

 

Berdasarkan definisi hadits di atas, maka hadits terbagi menjadi empat. Hadits fi’li, qauli, taqrîri, dan washfi. Namun dari empat jenis itu, yang lebih mencolok perbedaanya dan sering sekali dibahas adalah hadits qauli dan hadits fi’li.

 

Secara simpel, hadits qauli adalah hadits yang bersumber dari perkataan Nabi dan lafaznya langsung dari Beliau. Misalnya sabda Nabi tentang niat,

 

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

 

Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya balasan bagi setiap orang tak lain ialah dari apa yang diniatkannya (HR Bukhari dan Muslim).

 

Adapun hadits fi’li adalah hadits yang bersumber dari para sahabat yang menyaksikan perbuatan Nabi. Misalnya hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah RA:

 

كان النبي صلى الله عليه وسلم; إذا قام من الليل يشوص فاه بالسواك

 

“Telah ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamapabila beliau bangun pada malam hari untuk tahajjud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Dua-duanya dapat dijadikan hujjah dan landasan hukum. Namun, jika terdapat dua hadits (qauli dan fi’li) yang berbeda keterangan dalam satu pembahasan maka yang digunakan adalah hadits qauli. Sebab, hadits fi’li seringkali berbeda-beda sesuai pandangan sahabat yang melihat dan meriwayatkan hadits tersebut.

 

Sebut saja hadits yang berkaitan dengan haji, ada sahabat yang meriwayatkan bahwa Nabi melaksanakan haji dengan tamattu’, ada juga yang meriwayatkan dengan ifrad, ada juga yang menyebutkan bahwa Nabi melaksanakan haji qiran. Perbedaan itu disebabkan tidak ada Sabda Nabi secara langsung yang menyebutkan jenis haji yang dilaksanakan Nabi, beliau hanya menyebutkan “khudzû ‘annî manâsikakum, contohlah perbuatan haji dariku.”

 

Menilik Ketelitian Para Sahabat Memperhatikan Aktivitas Nabi

 

Pendidikan di Indonesia memiliki kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Beragam kurikulum pernah diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah Kurikulum 1984 yang memiliki pendekatan CBSA (cara belajar siswa aktif. Dengan pendekatan keterampilan proses (skill approach), pengajar menyampaikan pengertian terlebih dahulu sebelum memberikan kesempatan kepada murid untuk mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan kemudian melaporkan hasil pengamatan tersebut.

 

Pendekatan siswa aktif ternyata selaras dengan bagaimana para sahabat dahulu kala mencoba mencari informasi terkait apa yang dilakukan Nabi, kemudian mengambil kesimpulan dari apa yang dilakukan oleh beliau. Kesimpulan atau gambaran inilah yang kemudian menjadi hadits fi’li. Untuk melihat hal tersebut kita akan mencoba mengurai beberapa hadits, terutama dalam permasalahan haji.

 

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar RA:

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْزِلُ بِذِي طُوًى يَبِيتُ بِهِ حَتَّى يُصَلِّيَ صَلَاةَ الصُّبْحِ حِينَ يَقْدَمُ إِلَى مَكَّةَ وَمُصَلَّى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah singgah di Dzu Thuwa dan bermalam padanya hingga melakukan shalat Subuh di saat datang ke Makkah. Dan tempat shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut berada di atas anak bukit yang keras, bukan di masjid yang dibangun di sana, akan tetapi lebih rendah dari hal itu di atas anak bukit kasar dan keras” (HR an-Nasâ’i).

 

Syaikh al-Wallawî dalam kitabnya Dzakhîrah al-‘Uqbâ fî Syarh al-Mujtabâ menjelaskan keistimewaan Ibnu ‘Umar dalam hadits yang diriwayatkannya ini,

 

والتحقيق الذي صدر من ابن عمر رضي الله تعالى عنهما فيتعيين مواضع النبيّ صلى اللَّه عليه وسلم دليلٌ على شدّة عنايته، وكمال اهتمامه بآثار النبيّ صلى اللَه عليه وسلم. واللَّه تعالى أعلم بالصواب.

 

Investigasi yang bersumber dari Ibnu ‘Umar dalam menentukan lokasi-lokasi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (dalam hadits di atas) adalah bukti dari besarnya perhatian beliau terhadap atsar (hadits) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam” (Syaikh al-Wallawî, Dzakhîrah al-‘Uqbâ fî Syarh al-Mujtabâ, Dâr Ali Barûm, juz 25, halaman 68).

 

Dari hadits ini kita dapat mendapatkan kesimpulan, Ibnu ‘Umar mencari-cari sendiri lokasi Rasulullah masuk ke Makkah tanpa menunggu diberitahu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau melakukan cara untuk mendapatkan suatu informasi dengan menginvestigasinya.

 

Contoh lainnya yaitu hadits tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Ka’bah. Ibnu ‘Umar mencari informasi apakah Rasulullah melaksanakan Shalat di dalam Ka’bah atau tidak.

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى الْكَعْبَةِ وَقَدْ دَخَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِلَالٌ وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَأَجَافَ عَلَيْهِمْ عُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ الْبَابَ فَمَكَثُوا فِيهَا مَلِيًّا ثُمَّ فَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبْتُ الدَّرَجَةَ وَدَخَلْتُ الْبَيْتَ فَقُلْتُ أَيْنَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا هَا هُنَا وَنَسِيتُ أَنْ أَسْأَلَهُمْ كَمْ صَلَّى فِي الْبَيْتِ

 

“Dari ‘Abdullah bin Umar bahwa ia telah sampai ke Ka'bah, sedang Nabi, Bilal, Usamah bin Zaid telah memasukinya, dan Usman bin Thalhah menutup mereka, maka mereka tinggal di Ka'bah beberapa saat. Kemudian ia membuka pintu lalu Nabi keluar, saya menaiki anak tangga dan memasuki Ka'bah, kemudian berkata; dimanakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan shalat? Mereka menjawab; di sini. Dan saya lupa untuk bertanya kepada mereka berapa rekaat beliau melakukan shalat di Ka'bah (HR an-Nasâ’i).

 

Di hadits lain disebutkan:

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْتَ وَمَعَهُ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَعُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ وَبِلَالٌ فَأَجَافُوا عَلَيْهِمْ الْبَابَ فَمَكَثَ فِيهِ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ خَرَجَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ كَانَ أَوَّلُ مَنْ لَقِيتُ بِلَالًا قُلْتُ أَيْنَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَيْنَ الْأُسْطُوَانَتَيْنِ

 

“Dari Ibnu Umar, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Ka'bah bersama Al Fadhl bin Abbas, Usamah bin Zaid, Usman bin Thalhah serta Bilal. Kemudian mereka menutup pintu, lalu beliau tinggal di dalamnya sepanjang waktu yang Allah kehendaki, kemudian beliau keluar. Ibnu Umar berkata; orang pertama yang saya temui adalah Bilal. Saya bertanya; dimanakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat? Ia menjawab; di antara dua tiang.” (HR an-Nasâ’i).

 

Dari hadits-hadits di atas dapat kita perhatikan bagaimana Sahabatb Ibnu ‘Umar mencari-cari informasi mengenai aktivitas dan lokasi Rasulullah melaksanakan shalat di Ka’bah. Di antara nilai yang dapat kita ambil adalah keteladanan sahabat nabi dalam semangat mereka mencari pengetahuan dalam perihal agama, sehingga kemudian bisa diamalkan. Pola praktik ini hampir mirip tentunya dengan pendekatan kurikulum siswa aktif, di mana para pelajar dituntut tak hanya menunggu suapan materi dari seorang guru, tapi juga berusahan bergerak mandiri demi meraih ilmu pengetahuan. Kegiatan yang dilakukan para sahabat merupakan motivasi bagi kita untuk lebih giat dan aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar.

 

 

Amien Nurhakim, mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah

Share:

Baca Juga