IMG-LOGO
Ubudiyah

Dua Jenis Golongan Manusia Saat Kiamat Tiba

Selasa 12 November 2019 20:00 WIB
Dua Jenis Golongan Manusia Saat Kiamat Tiba
Ilustrasi

Kiamat adalah sebuah kepastian. Hari di mana manusia akan beralih dari alam dunia ke alam akhirat. Hari itu manusia akan dihisab sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Saat itulah manusia akan terbagi menjadi dua golongan. Dua golongan ini akan mendapatkan balasan masing-masing seperti termaktub dalam QS Al Ghasyiyah.

 

Golongan pertama adalah golongan manusia yang mukanya tertunduk penuh dengan muram durja dan penuh dengan kehinaan. Mereka tampak payah dan lelah, tidak ada aura positif sedikitpun terpancar dari muka mereka. Golongan ini berjalan memasuki bara api yang sangat panas dan dihidangi minuman yang bersumber dari mata air yang sangat panas pula.

 

Ketika mereka meminum air itu, seketika kulit dan daging mereka akan melepuh dan meleleh. Seketika itu pula, kulit melepuh itu akan diganti dengan kulit baru yang akan melepuh dan meleleh lagi saat mereka meminum air dari neraka itu kembali. Begitulah seterusnya mereka akan disiksa sebagai balasan atas apa yang telah dilakukan di dunia sampai dengan saat mereka mendapatkan syafaat agung Nabi Muhammad SAW.

 

Selain minuman, golongan yang disebutkan sebagai wujuhun ghasi'ah (wajah hina) ini akan dihidangi makanan yang sangat menjijikkan dan tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri. Makanan ini pun tak ada manfaatnya karena tidak seperti makanan di dunia yang enak, sebaliknya makanan ini tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar.

 

Golongan kedua adalah golongan orang yang dalam Al-Quran disebut sebagai wujuhun na'imah (wajah berseri). Wajah golongan ini nampak cerah, penuh suka cita dan optimisme sesuai dengan amal ibadah mereka selama di dunia. Mereka adalah golongan orang yang taat perintah Allah dan meninggalkan segala larangan serta akan berdampingan dengan Rasulullah SAW di surganya Allah SWT.

 

Kelompok ini akan berada di dalam surga mulia yang di dalamnya tidak ada perkataan apapun selain yang bermanfaat. Di dalamnya mengalir mata air dan sungai-sungai yang terus mengalir tanpa henti serta dilengkapi dengan tempat-tempat duduk dan bantal-bantal yang mewah nan empuk untuk bersandar. Mereka akan menikmati minuman beraneka rasa dengan gelas-gelas cantik penuh dengan hiasan.

 

Kemewahan dan kenyamanan lebih lengkap lagi dengan permadani lembut berwarna-warni yang terhampar sebagai alasnya. Ketika terinjak, permadani ini akan mengeluarkan semerbak bau harum wewangian surga.

 

Saatnya Merenungkan Kekuasaan Allah

Gambaran kecil kenikmatan yang bisa dinikmati penghuni surga inilah ini jelas telah ditegaskan oleh Allah dalam QS Al Ghasyiyah ayat 8-16. Semua ini merupakan bukti kekuasaan Allah yang sangat mudah bagiNya untuk membuatnya. Manusia pun sudah melihat bagaimana Allah menunjukkan kekuasannya di muka bumi ini.

 

Saatnya melakukan perenungan dan mengambil pelajaran dari kekuasaan Allah di muka bumi ini. Mari renungkan bagaimana unta mampu memikul banyak beban dengan hanya sedikit makan dari daerah satu ke daerah lain. Unta memiliki kekuatan luar biasa dan mampu bertahan tidak minum selama berhari-hari.

 

Mari kita renungkan bagaimana langit ditinggikan tanpa tiang penopang maupun sandaran dan ditaburi banyak bintang yang tidak kita ketahui hakikatnya, sifatnya, bentuknya, karakternya, dan keadaannya. Mari kita berfikir bagaimana gunung-gunung menjulang tinggi di atas bumi dengan berbagai macam bahan tambang, air, dan materi di dalamnya.

 

Kekuasaan Allah juga terlihat dari bumi yang dibentangkan begitu luas dan menjadi tempat berbagai macam binatang, bahan tambang, serta tumbuh-tumbuhan.

 

Inti dari surat Al Ghasyiyah adalah Fadzakkir innamaa anta mudzakkir. Lasta ‘alaiHim bimushaithir : "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka".

 

Dalam kitab Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa semua ini merupakan peringatan kepada manusia dari Allah melalui Nabi Muhammad mengenai apa dan mengapa Nabi diutus kepada mereka. Allah pun berfirman dalam surat Ar Ra'du:40 Fa innamaa ‘alaikal balaaghu wa ‘alainal hisaab : "Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka".

 

Kemudian Ibnu ‘Abbas, Muhahid, dan lain-lain menjelaskan ayat Lasta ‘alaiHim bimushaithir (Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka) berarti adalah Nabi Muhammad bukanlah pemaksa  terhadap mereka yakni kamu tidak bisa menciptakan keimanan di dalam hati mereka.

 

Jadi, apakah ini semua membuat kita mengingkari kemampuan Allah SWT atas berbagai ciptaan dan kejadian akhirat. Seharusnya ini semua tak kan membuat kita meragukan dan mengingkari kekuatan-Nya.

 

Orang yang tetap menghindar dan durhaka setelah kekuasaan Allah dijelaskan oleh Nabi Muhammad melalui peringatan sekaligus meremehkannya, maka Allah akan mengazabnya. Allah yang Maha Perkasa, Maha Adil, dan Maha Kuasa akan memberikan adzab yang tidak ada adzab lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab-Nya.

 

Orang yang mendustakaan Allah akan dikembalikan kepadaNya dengan hisab sesuai amalan yang mereka lakukan pada saat berada di dunia. Inilah peringatan Allah di akhir surat Al Ghasyiyah sehingga kita dianjurkan membaca: Allahumma a'idznii min adaabik. Allahumma haasibni hisaaban yasiiraa: "Ya Allah, lindungilah kami dari adzabmu. Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang ringan.

 

Muhammad Faizin. (Disarikan dari materi Tafsir Jalalain Surat Al Ghasyiyah oleh KH Sujadi pada Jihad Pagi di aula Kantor NU Pringsewu, Ahad 10 November 2019)

Share:

Baca Juga