IMG-LOGO
Tafsir

Aneka Rasa Buah dalam Surah Ar-Ra‘du Ayat 3 dan 4

Rabu 13 November 2019 19:42 WIB
Aneka Rasa Buah dalam Surah Ar-Ra‘du Ayat 3 dan 4
Walau tanaman disiram air yang sama, cita rasa buah yang dihasilkan berbeda-beda. Demikian halnya manusia. (Foto: liveofmuslim.com)

Ketika Al-Quran memberi sebuah tamtsil atau perumpamaan, tujuannya tentu memberi pelajaran kepada manusia tentang sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh lisan. Selain itu, juga ada sasaran yang ingin dituju di dalamnya, yaitu mengolah akal manusia. Namun, akal yang dimaksud dalam al-Qur’an berbeda dengan akal yang dimaksud dalam bahasa Indonesia yang seringkali mengacu kepada pengertian otak lahir. Sementara, akal dalam Al-Qur’an bermakna instrumen pemahaman dengan kalbu sebagai wadah pemahaman tersebut. Sehingga, tamtsil diberikan dengan sasaran utama diterimanya pemahaman tadi. Di dalam Al-Quran, Allah SWT menyatakan:  

 

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

 

Artinya, “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang di dalam dada,” (Q.S. Al-Hajj [22]: 46). 

 

Salah satu tamtsil yang diberikan Allah SWT dalam Al-Qur’an adalah tamtsil buah-buahan yang memiiliki rasa berbeda-beda. Padahal, air yang diserap buah-buahan adalah sama, sebagaimana dalam firman-Nya:  

 

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ. وَفِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

 

Artinya, “Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lain dalam hal rasanya. Sungguh, dalam yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti,” (Q.S. Ar-Ra’du [13] : 3-4).  

 

Saat berbicara tentang ayat di atas, al-Mawardi (w. 450 H) memberikan kesimpulan sebagai berikut:

 

فِيهِ وجْهانِ: أحَدُهُما: أنَّ في اخْتِلافِ ذَلِكَ اعْتِبارًا يَدُلُّ ذَوِي العُقُولِ عَلى عَظِيمِ القُدْرَةِ، وهو مَعْنى قَوْلِ الضَّحّاكِ. الثّانِي: أنَّهُ مَثَلٌ ضَرَبَهُ اللَّهُ تَعالى لِبَنِي آدَمَ، أصْلُهم واحِدٌ وهم مُخْتَلِفُونَ في الخَيْرِ والشَّرِّ والإيمانِ والكُفْرِ كاخْتِلافِ الثِّمارِ الَّتِي تُسْقى بِماءٍ واحِدٍ، قالَهُ الحَسَنُ.

 

Artinya, “Ada dua sasaran yang hendak dituju ayat ini. Pertama, tamtsil di atas diberikan dengan tujuan memberi ibarat (pelajaran) kepada orang-orang yang berakal akan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Ini sejalan dengan makna pernyataan al-Dhahak. Kedua, tamtsil ini juga diberikan Allah kepada Bani Adam dimana asal mereka satu, namun kemudian berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang tidak, ada yang beriman dan ada yang kufur. Perbedaan itu pula yang pada buah yang disirami dengan air yang sama. Makna ini dikemukakan oleh al-Hasan.” (Lihat: Tafsir al-Mawardi, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, tanpa tahun, Juz 3, hal. 93).

 

Dalam kesimpulan di atas, al-Mawardi (w. 450 H) menyamakan air dengan nasab. Asal air yang diserap tanaman adalah sama, yaitu air hujan. Akan tetapi, cita rasa buah yang dihasilkan tanaman itu  berbeda satu sama lain. Belum lagi bila tanaman itu memiliki genus yang berbeda, maka sudah barang tentu akan berbeda pula rasa yang dimilikinya.  

 

Buah yang sama, jeruk misalnya, ada yang masam, ada yang manis, bahkan ada pula yang pahit. Beberapa pakar holtikultura menjelaskan, perbedaan itu disebabkan oleh unsur hara yang tersedia dalam tanah. Jeruk yang dipupuk dan mendapat asupan yang lengkap, akan memiliki ciri buah yang berbeda, yaitu: mudah dikupas dan terkandung banyak kapas di dalamnya. Rasanya pun biasanya manis. Lain halnya jeruk yang berkulit lengket  dengan buah dan susah dikupas, cita rasanya pun cenderung kecut (masam). Ini semua tamtsil kehidupan.  

 

Unsur hara tanah itu ibarat makanan. Tanah dan tekstur bumi ibarat lingkungan tempat tinggal. Tanaman yang kurang makanan, dan tekstur tanah yang kurang unsur hara, akan memiliki cita rasa yang berbeda. Sebagaimana tumbuhan, manusia pun demikian. Semua keturunan anak Adam lahir dalam kondisi fitrah (suci). Namun karena lingkungan, ia mungkin menjadi seorang Nasrani, Yahudi, atau Majusi. Penyebabnya adalah lingkungan dan tempat tinggal mereka. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ما من مولود إلا يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه، كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء، هل تحسون فيها من جدعاء، ثم يقول أبو هريرة -رضي الله عنه- فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

 

Artinya, “Tiada bayi yang lahir melainkan dalam kondisi fitrah (suci). Kedua orang-tuanyalah yang menyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya, sebagaimana hewan menghasilkan keturunan yang unggul (sempurna), apakah mereka menyadari bahwa mereka kelak juga dapat menghasilkan keturunan yang terpotong hidungnya (juda’a)? Kemudian sahabat Abu Hurairah membaca ayat,Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia tetap dengan fitrah asalnya (suci). Tiada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus),” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).  

         

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia tetap dengan fitrahnya!

 

Adakalanya, jenis tanamannya sama, tanahnya sama, namun karena sakit, tanaman itu tidak menyerap unsur hara yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya buah. Akibatnya, ia memiliki cita rasa yang tidak baik. Kondisi ini pun bisa dijadikan sebagai tamtsil keadaan manusia. Ia berasal dari orang tua yang baik, sudah berada di lingkungan yang baik, namun karena pergaulan yang buruk, akhirnya ia memiliki karakter yang tidak baik. Demikian sikapnya di tengah masyarakat. Itulah sebabnya kita kemudian mengenal manusia yang baik dan manusia yang jahat, manusia yang bermanfaat dan manusia yang tidak berguna. Kita mungkin pernah mendengar istilah sampah masyarakat. Ungkapan itu mengacu kepada orang yang tak berguna, bahkan cenderung lebih banyak merugikan orang lain.   

 

Semua itu bagian dari kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. Kita insan lemah yang hanya bisa berikhtiyar agar keturunan, saudara, masyarakat sekitar kita, hadir menjadi umat terbaik, bukan menjadi manusia lemah iman, lemah Islam, dan lemah akal. Hanya kepada Allah SWT kita memohon anugerah dan kuasa-Nya! Wallahu a‘lam bis-shawab.    

 

 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jawa Timur

Share:

Baca Juga