IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Rendah Hati di Hadapan Allah, Diri Sendiri, dan Manusia

Sabtu 14 Desember 2019 16:00 WIB
Rendah Hati di Hadapan Allah, Diri Sendiri, dan Manusia
Rendah hati merupakan sifat seharusnya seorang Muslim. Rendah hati bukan monopoli sufi, kalangan tarekat, dan ulama. (Ilustrasi: artscenegallery.com)
Suatu ketika Sayyidina Ali ibn Abi Thalib karramallahu wajhah yang juga bergelar Abu Turab berkata:

كن عند الله خير الناس وكن عند النفس شرالناس وكن عند الناس رجلا من الناس

Artinya, “Jadilah kamu di sisi Allah sebagai sebaik-baik manusia, sementara itu jadilah kamu di lihat dari sisi jiwa sebagai seburuk-buruk individu manusia! Jadilah kamu di sisi masyarakat sebagai seorang yang mempersatukan mereka!”

Maqalah ini tertuang di dalam dua kitab yang memiliki struktur redaksi sama, yaitu Kitab Nashaihul ’Ibad, halaman 12 dan Kasyful Khafa’ wa Muzilul Ilbas ‘Amma Isytahara minal Ahaditsi ala Alsinatin Nas, halaman 123.

Ada sejumlah penjelasan yang turut disertakan oleh Syekh Nawawi Banten dalam karyanya yang populer di kalangan pesantren Indonesia ini, yaitu Nashaihul’Ibad. Saat menjelaskan, “Jadilah kamu di sisi Allah sebagai sebaik-baik manusia, sementara itu jadilah kamu di lihat dari sisi jiwa sebagai seburuk-buruk individu manusia!” ia menukil sebuah penjelasan yang dikutip dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailany, sebagai berikut:

إﺫﺍ ﻟﻘﻴﺖ أﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭأﻳﺖ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﻟﻪ ﻋﻠﻴﻚ، ﻭﺗﻘﻮﻝ: ﻋﺴﻰ أﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻣﻨﻲ ﻭأﺭﻓﻊ ﺩﺭﺟﺔ فاﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ: ﻫﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﺺ ﺍﻟﻠﻪ ﻭأﻧﺎ ﻗﺪ ﻋﺼﻴﺖ ﻓﻼ ﺷﻚ إﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ ﻭإﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ: ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻠﻰ ﻭإﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻗﻠﺖ: ﻫﺬﺍ أعطى ﻣﺎ ﻟﻢ أﺑﻠﻎ ﻭﻧﺎﻝ ﻣﺎ ﻟﻢ أﻧﻞ ﻭﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﺟﻬﻠﺖ ﻭﻫﻮ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻌﻠﻤﻪ ﻭإﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﺎﻫﻼ ﻗﻠﺖ: ﻫﺬﺍ ﻋﺼﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺠﻬﻞ ﻭأﻧﺎ ﻋﺼﻴﺘﻪ ﺑﻌﻠﻢ ﻭﻻ أﺩﺭﻱ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻰ أﻭ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻪ ﻭإﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﻗﻠﺖ: ﻻ أﺩﺭﻱ ﻋﺴﻰ أﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﻓﻴﺨﺘﻢ ﻟﻪ ﺑﺨﻴﺮ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﻋﺴﻰ أﻥ أﻛﻔﺮ ﻓﻴﺨﺘﻢ ﻟﻲ ﺑﺴﺆ ﺍﻟﻌﻤﻞ

Artinya, "Jika kamu bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu, “Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”. Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu, "Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku". Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu, "Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku". Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu, "Orang ini memperoleh karunia yang tidak kudapat, mencapai kedudukan yang tidak kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku". Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu, "Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak". Jika bertemu orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, bisa jadi dia memeluk Islam dan mengakhiri hidupnya dengan perbuatan baik, sedang aku bisa saja berbuat kafir dan mengakhiri hidupku dengan perbuat buruk". (Nashaihul’Ibad, halaman 12).

Adapun ketika menjelaskan maksud maqalah “Dan jadilah kamu di sisi masyarakat sebagai seorang yang mempersatukan mereka!”, Syekh Nawawi Banten menuliskan komentarnya sebagai berikut:

فإن الله يكره أن يرى عبده متميزاً عن غيره كما في الحديث

Artinya: “Karena sungguh Allah SWT tidak menyukai hamba-Nya sebagai yang mengistimewakan diri dari sesamanya, sebagaimana dalam sebuah hadits.” (Nashaihul ’Ibad, halaman 12).

Memang, dalam kesempatan ini, Syekh Nawawi Banten tidak mengutip hadits yang dimaksud di situ. Ia hanya menunjukkan bahwa hal itu ada dalam sebuah keterangan hadits. Melalui penelusuran lebih lanjut, penulis mendapati beberapa bunyi hadits yang kiranya dimaksud oleh Syekh Nawawi sebagai berikut:

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabary di dalam Kitabnya Khulashatu Sa’iri Sayyidil Basyar, juz I, halaman 87.

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في بعض أسفاره فأمر بإصلاح شاة فقال رجل يا رسول الله علي ذبحها وقال آخر علي سلخها وقال آخر علي طبخها فقال صلى الله عليه وسلم وعلي جمع الحطب فقالوا يا رسول الله نحن نكفيك فقال قد علمت أنكم تكفوني ولكني أكره أن أتميز عليكم فإن الله يكره من عبده أن يراه متميزا بين أصحابه وقام صلى الله عليه وسلم وجمع الحطب

Artinya, “Sungguh, Nabi SAW suatu ketika berada di tengah rombongan safar-nya. Kemudian ia memerintahkan agar membereskan dengan baik seekor kambing yang bersama mereka. Lalu tiba-tiba seorang lelaki berkata, ‘Ya Rasulallah, biar aku saja yang menyembelihnya. Lalu datang lelaki lain berkata, ‘Aku yang memotongnya, Wahai Rasul.’ Lelaki lain lagi berkata, ‘Aku yang bagian memasaknya, ya rasul.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Aku bagian yang mengumpulkan kayu bakarnya.’ Para sahabat bersahutan menjawab, ‘Ya Rasulullah, biarlah kami saja, sudah mencukupi.’ Rasulullah menjawab, ‘Aku tahu bahwa dengan kalian saja sudah mencukupi. Tetapi aku tidak suka sebagai yang diistimewakan di antara kalian, karena sungguh Allah SWT membenci melihat hamba-Nya mengistimewakan diri dari para sahabatnya. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bangkit dan mencari kayu bakar.”

Kedua, As-Sakhawi di dalam Kitab Al-Maqashid Al-Hasanah lis Sakhawy, juz I, halaman 210, menuliskan:

حديث (إن الله يكره العبد المتميز على أخيه) لا أعرفه وسيأتي في لا خير في صحبة من لا يرى لك من الود مثل ما ترى له

Artinya, “Sebuah hadits berbunyi ‘Sungguh Allah membenci seorang hamba yang mengistimewakan diri dari saudaranya.’ [Komentar As-Sakhawy]: Aku tidak akan menunjukkan penjelasannya sekarang, namun kelak akan datang keterangannya d dalam bab ‘Tidak ada kebaikan bersahabat dengan orang yang tidak mau membalas kecintan kepadamu sebagaimana kamu menunjukkan kecintaan kepadanya.’”

Ketiga, Abul Yaman bin Asakir di dalam Kitab Timtsalun Na’lis Syarif li Abil Yaman bin Asakir pada bab al-Kalam ‘alal Atsrah.

ما نصه ويؤيده ما روي أنه أراد أن يمتهن نفسه في شيء قالوا نحن نكفيك يا رسول الله قال (قد علمت أنكم تكفوني ولكن أكره أن أتميز عليكم فإن الله يكره من عبده أن يراه متميزا على أصحابه) وشرف وكرم

Ibnu Asakir menyatakan bahwa sungguh di dalam riwayat hadits di atas, kalimat “Biar kami saja ya Rasulullah, hal itu sudah mencukupi”, kalimat ini dikehendaki sebagai kalimat merendahkan diri di hadapan rasul. Makanya kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Aku tahu bahwa sungguh kalian sendiri saja sudah mencukupi. Tapi aku tidak menyukai sebagai yang diistimewakan di antara kalian, karena sungguh Allah tidak menyukai hamba-Nya yang mengistimewakan diri di antara sahabat-sahabatnya,” yaitu merasa diri mulia dan terhormat.

Keempat, Az-Zarqany, di dalam Syarah Az-Zarqany, juz IV, halaman 265, menuliskan keterangan sebagai berikut:

ومن تواضعه عليه الصلاة والسلام أنه كان في سفر، وأمر أصحابه بطهو شاة، فقال أحدهم: علي ذبحها…..إلى آخر الحديث

Artinya, “Sebagian dari sifat ketawadhuan Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sungguh dalam suatu kesempatan safar, ia memerintahkan sahabatnya agar bersiap menyucikan kambing (dimasak bersama-sama). Lalu salah seorang sahabat berkata, ‘Saya yang menyembelihnya, ya rasul… (hingga akhir hadits).”

Apa yang disampaikan oleh masing-masing ulama di atas menunjukkan kesesuaian dengan yang disampaikan oleh Syekh Nawawi Banten. Dengan kata lain maqalah di atas memiliki saksi berupa hadits. Untuk itu, nilai-nilai yang tertuang di dalam maqalah adalah patut untuk diamalkan oleh semua orang.

Intisari dari maqalah adalah agar senantiasa seorang hamba berfokus pada pembinaan jiwa ketawadhuan, rendah hati, dan tidak sombong kepada pihak-pihak sebagaimana maqalah dari Syekh Abdul Qadir Jailany di atas karena kita tidak tahu akhir hayat kita kelak husnul khatimah atau suul khatimah. Wallahu a’lam.
 

Muhammad Syamsudin al-Baweany, Peneliti Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
Share:

Baca Juga