IMG-LOGO
Ubudiyah

Asal-usul dan Penjelasan tentang Kalimat ‘Amma Ba‘du’

Selasa 28 Januari 2020 14:00 WIB
Asal-usul dan Penjelasan tentang Kalimat ‘Amma Ba‘du’
Amma ba'du biasa diucapkan sebagai pemisah antara pembukaan dan isi dalam tradisi pidato atau tulisan kitab.

Kita sering mendengar penceramah atau membaca tulisan dalam kitab-kitab yang dibuka dengan basmalah, hamdalah, shalawat dan salam, lalu dipungkasi dengan kalimat “amma ba’du” sebelum kemudian melanjutkan pembahasan berikutnya.

 

Menurut aturan dasar gramatika bahasa Arab (ilmu nahwu), pada kalimat أَمَّا بَعْدُ terdiri dari dua lafaz, yaitu أمّا dan بعد.

 

Apabila kita urai satu persatu dari kalimat dasarnya maka kita akan menemukan bahwa lafaz أمَّا berasal dari kalimat:

مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

 

Berikut penjelasan lengkap dari Imam al-Baijuri:

 

والأصل الأصيل: مهما يكن من شيئ بعدُ. فـــ "مهما" اسم شرط مبتدأ، ويكن فعل الشرط، وهو مضارع "كان" التامة، وفاعله ضمير مستتر تقديره "هو" يعود على "مهما" و "من شيئ" بيان لمهما وإن كان شأن البيان للتخصيص. فقد يكون مساويا إشارة إلى أن المراد الجنس بتمامه.

 

Artinya: “Asalnya مهما adalah isim syarat yang menjadi mubtada’, يكن sebagai fi’il syarat, mudhari’ dari madhi كان dengan fa’il berupa dhamir mustatar dengan mengira-ngirakan adanya lafaz هو yang kembali pada مهما. Sedangkan من شيئ sebagai penjelas dari مهما meskipun sifatnya penjelas adalah takhsish namun juga terkadang mempunyai sifat sama yang menunjukkan kesempurnaan jenis tersebut” (Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah al-Allamah al-Baijuri ala Jauharotit Tauhid, [Darus Salam: 2002], hlm. 53).

 

Syekh Ibrahim lebih lanjut menjelaskan:

 

فحذفت "مَهْمَا" و "يَكُنْ" و "من شيئ" وأقيمت "أَمَّا" مقام ذلك، ثم ان بعضهم ينطق بذلك ويقول "أما بعد" كما هو السنة، وبعضهم يحذف "أما" ويأتي بدلها بالواو، فيقول "وبعد" كما هنا، فالواو نائبة النائب.

 

Artinya: “Kemudian مهما، يكن، من شيئ dibuang, lalu ganti dengan أما untuk menduduki posisi tersebut. Berikutnya, sebagian ulama membaca “أما بعد” sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian ulama lain ada yang membuang أمَّا seraya menggantinya dengan wawu, maka menjadi وبعد. Wawu di sini berkedudukan menjadi penggantinya pengganti.
 

Sekarang membahas pada lafaz ba’d. Pembahasan tentang qabl dan ba’d (قبل، بعد) dalam ilmu nahwu cukup panjang. Secara singkat, qabl dan ba’d dibaca mu’rab (berubah-ubah harakat akhirnya) di tiga tempat. Sedangkan pada satu tempat dibaca mabni dlammah yaitu ketika qabl atau ba’d di-idhafah-kan kepada lafaz berikutnya namun idhafahnya hanya perkiraan saja (taqdiriyyan), tanpa menunjukkan secara eksplisit.

 

فإن نوي معنى المضاف إليه دون لفظه، بنيا على الضم، نحو: {لِلهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ}، في قراءة الجماعة.

 

Artinya: “Jika diniatkan makna mudhaf ilaih tanpa menyebut lafaznya maka dimabnikan dhammah. Contohnya adalah لِله الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ sesuai bacaan qiraah jama’ah. (Ibnu Hisyam, Audhahul Masalik, [Darul Fikr], juz 3, hlm. 135).
 

Secara harfiah, amma ba’du mempunyai kandungan makna tersirat lebih panjang. Ia mengandung pemisah (fashlul khithab) antara pembahasan sebelumnya dengan pembahasan berikutnya. Pada konteks ceramah atau kepenulisan kitab, biasanya kalimat ini digunakan untuk memisah pembahasan antara pembuka yang berisi basmalah, hamdalah, serta shalawat dan salam dengan topik pembahasan berikutnya. Sehingga seumpama diartikan secara harfiah dalam sebuah pidato, misalnya, maka mempunyai arti “Adapun setelah untaian basmalah, hamdalah, serta shalawat dan salam”. Baru kemudian penceramah menyampaikan topik yang sangat jauh dengan urusan hamdalah, shalawat, dan salam.

 

Dahulu Nabi Muhammad ﷺ sering membaca أما بعد (amma ba’du). Hal ini terekam di berbagai hadits beliau. Di antaranya pada potongan hadits panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas sebagai berikut:
 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ» قَالَ: فَقَالَ: أَعِدْ عَلَيَّ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ

 

Artinya: “Sesungguhnya segala puji milik Allah, kami memuja-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada kesesatan baginya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada petunjuk baginya. Saya bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah dengan ke-Esaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. –Amma ba’du—Setelah hamdalah dan syahadat (Rasul bersabda) ‘ulangilah kalimat-kalimatmu tadi itu kepadaku!’” (HR Muslim).

 

Pada hadits di atas pada mulanya Nabi memuji Allah dan lain sebagainya. Namun setelah amma ba’da, tiba-tiba Nabi melontarkan kalimat perintah pada salah seorang. Ini bisa terjadi dengan mendadak karena sudah ada kalimat pemisah antar paragraf yang tidak ada kaitannya sama sekali. Dan hadits yang terdapat amma ba’du-nya cukup banyak.

 

Lalu siapakah yang pertama kali mengucapkan “amma ba’du’? Apakah Nabi Muhamamd ﷺ?
 

Jawabnya ulama berbeda pendapat. Menurut Syekh Ibrahim Al-Baijuri yang mengutip dari kitab Al-Awa’il, dari hadits Abu Musa Al’Asy’ari menyatakan, pendapat yang dianggap paling mendekati kebenaran, yang pertama kali mengucapkan amma ba’du adalah Nabi Dawud alaihis salam.

 

واختلف في أول من نطق بها على أقوال: اقربها أنه داود

 

Artinya: “Terjadi perbedaan pendapat pada masalah siapa yang pertama kali mengucapkan itu (kalimat amma ba’du) dengan beberapa pendapat. Yang paling mendekati kebenaran adalah Nabi Dawuh (sebagai yang pertama)” (Ibrahim Al-Baijuri, 53-54).

 

Dalam footnotenya dituliskan:

 

ففى الحديث عن أبي موسى الأشعري: اول من قال "اما بعد" داود النبي عليه السلام قال: وهو فصل الخطاب. اخرجه ابن عاصم في الأوائل (191) والطبراني فى أوائله (40). وفي اسناده متروك

 

Artinya: “Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari ‘Orang yang pertama kali membaca amma ba’du adalah Nabi Dawud alaihis salam, -beliau mengatakan- itu sebagai pemisah pembicaraan. Dikeluarkan oleh Ibnu Ashim dalam kitab al-Awail (191) dan kitab al-Awail-nya Imam Thabarani (40). Sanadnya matruk. Wallahu a’lam. 

 

 

Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Qur’an an-Nasimiyyah, Semarang

 

 

Share:

Baca Juga