IMG-LOGO
Nikah/Keluarga

Ini Keistimewaan Perempuan Salehah yang Bikin Bidadari Surga Baper

Jumat 21 Februari 2020 18:30 WIB
Ini Keistimewaan Perempuan Salehah yang Bikin Bidadari Surga Baper
Ibadah baik lahir maupun batin membuat perempuan dunia (muslimah dan mukminah) lebih istimewa daripada bidadari surga. (Ilustrasi: reuters)
Bidadari merupakan anugerah istimewa bagi semua laki-laki penghuni surga. Bidadari “diburu” sejak dini oleh umat Islam dengan ibadah ringan sampai berat bahkan dengan cara “memaksakan” hukum  diri dan menabrak pagar sekalipun seperti praktik bom bunuh diri dan perang sipil yang diklaim sebagai jihad dan lain sebagainya.

Bidadari surga merupakan perempuan ideal. Mereka memiliki suara yang merdu, berwajah ceria, berhati lapang, berakhlak baik, serta tidak pernah ketus, bawel, apalagi berkata kasar. Semua keistimewaan bidadari surga ini menjadikan mereka sebagai perempuan idaman dan dambaan. Hal ini digambarkan dalam hadits riwayat At-Turmidzi berikut ini: 

عَنْ عَلِيٍّ ، قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم وَإِنَّ فِيهَا لَمُجْتَمَعَ حُورِ الْعِينِ يُنَادِينَ بِصَوْتٍ لَمْ يَسْمَعِ الْخَلائِقُ بِمِثْلِهَا : نَحْنُ الْخَالِدَاتُ ، فَلا نَبِيدُ أَبَدًا ، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ ، فَلا نَبْأَسُ أَبْدًا ، وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ ، فَلا نَسْخَطُ أَبَدًا ، فَطُوبَى لِمَنْ كَانَ لَنَا ، وَكُنَّا لَهُ

Artinya, “Dari Sayyidina Ali RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Di surga terdapat perkumpulan para bidadari. Mereka menyeru dengan suara yang (keindahannya) belum pernah didengar semesta makhluk, ‘Kami kekal. Selamanya takkan binasa. Kami senantiasa bahagia. Selamanya takkan bersedih. Kami selalu lapang hati. Kami takkan pernah murka. Berbahagialah laki-laki yang mendapatkan kami dan kami mendapatkannya.’’” (HR At-Turmudzi).

Meski demikian, bidadari surga dengan segudang keistimewaan mereka tidak lebih utama dibandingkan perempuan salehah yang berasal dari dunia. Bidadari surga tidak sempat mengalami pengalaman spiritual dan praktik ritual ibadah seperti perempuan salehah di dunia. Hal ini tampak dalam riwayat Sayyidatina Aisyah RA.
 
وكانت عائشة رضي الله عنها تقول إذا قالت الحور العين هذه المقالة أجابهن المؤمنات من نساء أهل الدنيا نحن المصليات وما صليتن ونحن الصائمات وما صمتن ونحن المتوضئات وما توضأتن ونحن المتصدقات وما تصدقتن قالت عائشة فغلبهن والله

Artinya, “Sayyidatina Aisyah RA mengatakan, jika para bidadari itu mengatakan demikian, maka perempuan beriman yang berasal dari dunia akan menjawab, ‘Kami melakukan shalat. Kalian tidak. Kami berpuasa. Kalian tidak. Kami berwudhu. Kalian tidak. Kami bersedekah. Kalian tidak.’ Sayyidatina Aisyah mengatakan, (keutamaan) mereka kemudian mengalahkan para bidadari itu. Demi Allah.” (Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani, Muhktashar Tadzkiratul Qurthubi, [Semarang, Maktabah Usaha Keluarga: tanpa tahun], halaman 102).

Keistimewaan perempuan salehah itu tidak dimiliki oleh para bidadari surga. Keistimewaan dan kelebihan ini membuat mereka lebih mulia dibandingkan para bidadari surga. As-Sya’rani mengutip Hayyan bin Abu Jabalah RA.

“Perempuan asal dunia yang masuk surga mengatasi kelebihan para bidadari karena amal ibadah mereka sewaktu di dunia,” kata Hayyan bin Abu Jabalah RA. (As-Sya’rani, Muhktashar Tadzkiratul Qurthubi: 102).

Ibadah baik lahir maupun batin membuat perempuan dunia (muslimah dan mukminah) istimewa dan utama. Keistimewaan dan kelebihan perempuan salehah membuat mereka lebih cantik dan elok (salah satunya) dibandingkan kecantikan bidadari surga yang selama ini dibayangkan tak tertandingkan sebagaimana keterangan hadits berikut ini:

وفي الحديث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الآدميات من نساء أهل الدنيا أفضل من الحور العين سبعين ألف ضعف

Artinya, “Dalam hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Perempuan berjenis manusia asal dunia lebih utama daripada para bidadari surga 70.000 kali lipat,’” (As-Sya’rani, Muhktashar Tadzkiratul Qurthubi: 102).

Perempuan salehah jelas memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah. Kelebihan dan keutamaan mereka berbanding 70.000 kali lipat daripada bidadari surga. Semua keistimewaan itu didapat perempuan salehah melalui ibadah dengan segala jenisnya (wajib, sunnah, individual, dan sosial) kepada Allah selama hidup di dunia. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)
Tags:
Share:

Baca Juga