4 Tipologi Orang dalam Menyikapi Dunia dan Akhirat

4 Tipologi Orang dalam Menyikapi Dunia dan Akhirat
“Orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia adalah orang mukmin yang pandai dan bijaksana.”
“Orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia adalah orang mukmin yang pandai dan bijaksana.”

Dunia itu ibarat tembikar yang pasti akan rusak dan musnah; sedangkan akhirat itu ibarat emas yang abadi. Jika emas yang abadi itu dianggap sama dengan tembikar yang pasti akan rusak dan musnah, maka anggapan itu menunjukkan betapa bodoh orang yang memiliki anggapan seperti itu.

 

Hal tersebut sebagaimana nasihat Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya berjudul Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah, (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 95-96) sebagai berikut:

 

كلُّ من سَوَّى بين آخراته و دنياه في الاهتمام والحرص الباطن والسعي والطلب الظاهر فهو على غايةٍ من الحماقة، ونهايةٍ من الغباوة, فكيف بمن يكون اهتمامه بدنياه وحرصُه عليها وسعيه لها اعظمَ واكثرَ من اهتمامه بأخراته وسعيه لها، بل كيف يكون حال من لا يكون له اهتمامٌ بآخرته ولا حرص عليها البتَه، نعوذ بالله من ذالك
 

Artinya, “Setiap orang yang menyamakan antara dunia dan akhirat dalam hal perhatian, keinginan dalam hati, usaha dan pencariannya secara nyata, maka ia adalah orang yang sangat bodoh. Apalagi orang yang perhatian, keinginan, serta usaha dan kegiatannya untuk dunia lebih besar dan lebih banyak daripada perhatian dan usahanya pada akhirat. Terlebih lagi seseorang yang tidak memiliki perhatian dan keinginannya sama sekali pada akhirat. Na’udzu billahi min dzalika.”

 

Dari kutipan di atas dapat diuraikan tipe-tipe orang dalam menyikapi kepentingan dunia dan akhirat sebagai berikut:

 

Pertama, orang yang bersikap sama terhadap dunia dan akhirat adalah orang yang sangat bodoh. Maksudnya adalah jika seseorang dalam kehidupan sehari-harinya membagi waktu, tenaga, harta dan pikirannya secara sama baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat, orang tersebut sesungguhnya orang yang sangat bodoh.
 

 

Salah satu alasan mengapa orang seperti itu dikatakan bodoh adalah karena secara teologis ia tidak meyakini kebenaran firman Allah subhanu wata’ala di dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa kehidupan di dunia hanyalah permainan dan sendau gurau sedangkan kehidupan di akhirat adalah lebih baik sebagaimana termaktub dalam Surat Al-An’am, ayat 32, sebagai berikut:


وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬ۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۗ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

 

 

Artinya, ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

 

Jadi barang siapa memperlakukan sama antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat orang itu tidak paham akan hakikat kehidupan di dunia dan di akhirat. Orang seperti ini oleh Sayyid Abdullah al-Haddad disebut orang yang sangat bodoh. Argumentasinya adalah sebagai berikut:

 

وإنما صار الذي سوى بين الأخرة والدنيا في الحرص والسعي الظاهر على مثل ما ذكرنا من الحماقة والغباوة لتسويته بين ما هو خير وأبقى، وأصفى وأوسع، وبين ما هو دني، زائل، كدر، منغص ضيق، فصار مثله مثل من سوى بين الجوهرة والبعرة، وبين القطعة من الذهب الخالص والحزوة، بل أبعد وأغرب
 

 

Artinya, “Adapun alasan mengapa orang yang secara nyata menyamakan antara dunia dan akhirat dalam hal keinginan dan usahanya sebagaimana telah disebutkan di atas, dinilai sebagai orang yang sangat bodoh adalah disebabkan ia menyamakan antara sesuatu yang lebih utama dan lebih langgeng, lebih murni dan lebih luas, dengan sesuatu yang remeh, mudah sirna, keruh dan sempit, sehingga perumpamaannya seperti seseorang yang menyamakan antara batu permata dengan kerikil, atau antara emas murni dengan tembikar, bahkan lebih jauh lagi dan lebih aneh,”

 

Kedua, orang yang perhatian, keinginan, usaha dan kegiatannya untuk mencapai kepentingan dunawi lebih besar dan lebih banyak daripada perhatian dan usahanya untuk mencapai kepentingan akhirat adalah orang yang lebih bodoh lagi daripada orang tipe pertama. Orang seperti ini adalah mereka yang lebih mengutamakan dunia (hubbud dun-ya) daripada akhirat.

 

Orang tipe kedua ini masih memiliki perhatian terhadap akhirat. Namun sebagian besar perhatiannya lebih tertuju kepada dunia. Maka ibadah pun tidak jarang mereka lakukan bukan untuk mencari ridha Allah demi kebahagiaan hidup di akhirat melainkan untuk mencapai sukses dan kenikmatan duniawi.

 

Ketiga, orang yang tidak memiliki perhatian dan keinginan sama sekali pada akhirat. Orang tipe ketiga ini jauh lebih bodoh daripada orang dari tipe pertama dan kedua. Orang-orang seperti adalah mereka yang tidak percaya kepada hal-hal gaib seperti adanya Tuhan, kehidupan abadi di akhirat, surga dan neraka, dan sebagainya. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai orang-orang kafir. Orang-orang ateis sekuler termasuk tipe ini.

 

Selanjutnya Sayyid Abdullah al-Haddad menjelaskan tipe orang di luar ketiga tipe di atas yang disebutnya sebagai orang mukmin yang pandai dan bijaksana sebagaimana kutipan berikut:


والذي يؤثر الآخرة على الدنيا هو المؤمن الكيِّس الحازم

 

Artinya, “Orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia adalah orang mukmin yang pandai dan bijaksana.”

 

Dari kutipan tersebut dapat dipahami bahwa orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia adalah tipe terbaik atau paling tinggi maqamnya, dan seperti inilah yang dicontohkan Rasulullah kepada umatnya.

 

Oleh karena itu jika ada orang mengatakan bahwa kita harus bersikap seimbang terhadap kepentingan dunia dan akhirat, dan yang ia maksud dengan seimbang adalah memperlakukan sama atau fifty-fifty antara kepentingan dunia dan akhirat, maka pernyataan tersebut keliru.

 

Akan tetapi jika yang ia maksud adalah proporsional, yakni sesuai dengan bagian masing-masing, maka pernyataan tersebut benar. Artinya jika bagian untuk akhirat lebih besar daripada bagian untuk dunia, maka hal tersebut sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala sebagai berikut:

 

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ 

 

Artinya, “Kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al’Ala: 17)

 

Jadi dilihat dari bagaimana orang bersikap terhadap kepentingan dunia dan akhirat, kita bisa mengklasifikasikannya ke dalam empat tipe, yakni: Pertama, orang yang menyamakan dunia dengan akhirat. Kedua, orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. Ketiga, orang yang tidak peduli dengan akhirat. Keempat, orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia.

 

 

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa tipe orang pertama, kedua dan ketiga secara berturut-turut disebut sebagai orang sangat bodoh, orang jauh lebih bodoh dan orang paling bodoh. Orang-orang awam berada dalam salah satu dari ketiga tipe ini. Sedangkan tipe orang keempat disebut sebagai orang pandai dan bijaksana. Orang tipe terakhir ini adalah mereka yang dalam ilmu tasawuf disebut orang-orang makrifat atau ‘arif billah.

 

 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

 

.

 

BNI Mobile