IMG-LOGO
Hikmah

Benarkah Sungai Nil dan Eufrat Bersumber dari Surga?

Kamis 19 Maret 2020 21:15 WIB
Benarkah Sungai Nil dan Eufrat Bersumber dari Surga?
(Foto ilustrasi: bantaran sungai Nil, Mesir)

Sebagaimana kita tahu dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tercantum bab khusus mengenai mi’raj Rasulullah ﷺ. Di antara sekian hadits mengenai mi’raj Rasulullah ﷺ terdapat hadits mengenai sungai Nil dan Eufrat yaitu:

 

حدثنا أنس بن مالك عن مالك بن صعصعة رضي الله عنهما قال النبي صلى الله عليه و سلم "...ورفعت لي سدرة المنتهى فإذا نبقها كأنه قلال هجر وورقها كأنه آذان الفيول في أصلها أربعة أنهار نهران باطنان ونهران ظاهران فسألت جبريل فقال أما الباطنان ففي الجنة وأما الظاهران النيل والفرات..."

 

Diceritakan dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radliyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda “…Dan aku diangkat menuju Sidratul Muntaha. Di sana buahnya sebesar tempayan daerah Hajar dan daunya sebesar telinga gajah. Di dalam dasar Sidratul Muntaha bersumber empat sungai, dua sungai bathin dan dua sungai dhahir. Aku bertanya kepada Jibril atasnya. Maka, ia (Jibril) menjawab, ‘Dua sungai bathin adalah sungai surga sedangkan dua sungai dhahir adalah sungai Nil dan sungai Eufrat’,” (HR al-Bukhari Muslim).

 

Menurut Ibnu Dihyah yang dikutip oleh Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari, kelebihan Sidratul Muntaha yang memiliki naungan yang luas, buah yang lezat dan bau yang harum adalah perumpamaan iman yang sempurna. Naungan yang luas diserupakan dengan amal baik, buah yang lezat diserupakan dengan niat yang baik, dan bau yang harum diserupakan dengan ucapan yang baik. Menurut Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari, bisa jadi kedua sungai bathin dalam hadits tersebut adalah sungai Rahmah dan sungai Kautsar sebagaimana dalam Hadits riwayat Abu Sa’id:

 

وفي حديث أبي سعيد فإذا فيها عين تجري يقال لها السلسبيل فينشق منها نهران أحدهما الكوثر والآخر يقال له نهر الرحمة قلت فيمكن ان يفسر بهما النهران الباطنان

 

Dan di dalam Hadits riwayat Abu Sa’id “…Maka (aku melihat) di dalamnya (Langit ketujuh) ada sebuah mata air yang disebut dengan sumber Salsabil dari sumber ini mengalirlah dua sungai, salah satunya bernama sungai Kautsar dan yang satu lagi disebut dengan sungai Rahmah”. Menurutku (Ibnu Hajar) mungkin saja kedua sungai inilah yang dimaksud dengan dua sungai bathin.

 

Sedangkan menurut al-Muqatil dikutip oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan dua sungai bathin tersebut adalah sungai Salsabil dan sungai Kautsar. Sedangkan menurut al-Qadhi Iyadh dikutip oleh an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan hadits ini adalah dalil bahwa Sidratul Muntaha memiliki dasar di Bumi, karena sungai Nil dan sungai Eufrat bersumber dari asalnya (Sidratul Muntaha).

 

 

Sementara Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim berpendapat, hadits ini tidak bisa menjadi pijakan sebagaimana pendapat al-Qadhi ‘Iyadh. Menurutnya, makna hadits ini adalah sungai-sungai tersebut mengalir dari asalnya kemudian mengalir sesuai kehendak Allah sehingga sebagian dari sungai-sungai tersebut (sungai Nil dan sungai Eufrat) keluar dari Bumi dan mengalir di Bumi. Dan hal ini tidaklah mustahil secara akal maupun secara syariat. Dan hal ini sesuai lahiriah teks hadits. Maka wajib mengarahkan makna sesuai lahiriah teks hadits ini.

 

Lantas, mengapa sungai Jeihan dan Seihan tidak disebutkan dalam hadits di atas sebagaimana dalam hadits yang lain?

 

عن أبي هريرة قال رسول الله سَيْحَان وَجَيْحَان وَالْفُرَات وَالنِّيل كُلّ مِنْ أَنْهَار الْجَنَّة

 

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Seihan, Jeihan, Eufrat, dan Nil semuanya adalah sungai-sungai surga” (HR Muslim).

 

Jawaban dari pertanyaan ini menurut al-Qurthubi yang dinukil Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari adalah karena sungai Jeihan dan Seihan bukanlah sungai utama melainkan keduanya adalah cabangan dari sungai Nil dan sungai Eufrat. Menurut Imam Nawawi, sungai Seihan dan Jeihan adalah sungai yang mengalir di sekitar daerah Syam (Syam sendiri meliputi Yordania, Lebanon, Palestina, dan Syiria). Sedangkan ada juga pendapat yang dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari yang mengatakan:

 

وقيل انما اطلق على هذه الانهار انها من الجنة تشبيها لها بأنهار الجنة لما فيها من شدة العذوبة والحسن والبركة والأول أولى والله اعلم.

 

“Dikatakan juga, dimutlakkan bahwa sungai-sungai tersebut bersumber dari surga adalah sebagai penyerupaan dengan sungai-sungai surga yang di dalamnya memiliki kesejukan, kebaikan, dan berkah yang sangat melimpah. Akan tetapi, pendapat yang paling unggul adalah pendapat pertama (yang menyatakan makna hadits tersebut sesuai teks lahiriahnya yaitu sungai Nil, Eufrat, Jeihan, dan Seihan bersumber dari surga.”

 

Menurut al-Qadhi Iyadh dikutip oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, hadits “Seihan, Jeihan, Eufrat dan Nile semuanya adalah sungai-sungai surga” memiliki dua makna, yaitu makna pertama, hadits ini adalah ungkapan bahwa cahaya keimanan menyeluruh kepada penduduk daerah-daerah yang dialiri oleh sungai-sungai ini dan makna kedua, hadits ini adalah penjelasan bahwa sungai-sungai tersebut memang memiliki unsur yang berasal dari surga.

 

Walhasil, hadits Rasulullah yang berkaitan dengan bersumbernya sungai Nil, sungai Eufrat, sungai Jeihan, dan sungai Seihan dari surga adalah sebuah kabar yang harus diyakini kebenarannya. Sedangkan bagaimana hal tersebut terjadi adalah salah satu bukti sifat mahakuasa Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana Al-Qur’an berwasiat, “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang ditanya atas perbuatan mereka” (QS Al-Anbiya’: 23).

 

Wallahu ‘Alam

 

Muhammad Tholhah al Fayyadl, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir; penerima beasiswa NU pada tahun 2018.  
 

Share:

Baca Juga