Dialog Rasulullah dengan Para Sahabat tentang Dajjal (1)

Dialog Rasulullah dengan Para Sahabat tentang Dajjal (1)
Dajjal saat kemunculannya membawa air dan api. Yang terlihat air oleh manusia adalah api yang akan membakar, sedangkan yang terlihat api oleh mereka adalah air tawar yang sangat dingin.
Dajjal saat kemunculannya membawa air dan api. Yang terlihat air oleh manusia adalah api yang akan membakar, sedangkan yang terlihat api oleh mereka adalah air tawar yang sangat dingin.

Sahabat Anas radliyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tak satu pun nabi kecuali telah memperingatkan umatnya dari sang pendusta yang buta sebelah mata. Matanya buta sebelah, sedangkan Allah tidak. Di antara kedua matanya tertulis huruf kaf, fâ’, dan râ’.”

 

Begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengawali perbincangannya tentang sosok Dajjal. Kala itu, para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, biasanya Engkau bercerita banyak tentangnya. Kali ini persingkatlah agar kami mengira bahwa dia sudah dekat dengan kami; agar dia sebentar lagi menampakkan diri kepada kami dari arah kebun kurma sana.”

 

“Tak ada yang paling aku takuti dari kalian selain Dajjal. Jika dia muncul di tengah kalian, akulah yang akan menjadi pembela kalian. Namun, jika dia muncul dan aku tidak berada di tengah kalian, maka masing-masing kalian harus membela diri. Setiap kalian harus bertanggung jawab atas dirinya. Dan Allah adalah penggantiku bagi setiap Muslim,” papar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

“Wahai Rasul, mohon gambarkan kepada kami seperti apa Dajjal itu?”

 

“Dia adalah sosok anak muda yang berambut tebal. Mata kanannya melotot bak biji anggur yang mau keluar. Cahaya mata kanannya hilang, sedangkan mata kirinya buta. Dia mengaku sebagai tuhan. Di keningnya tertulis kata ‘kâfir’. Tulisan itu terlihat jelas oleh orang yang beriman,” tuturnya.

 

“Dari mana dia munculnya, ya Rasul?”

 

“Dia muncul di antara Syam dan ‘Irâq. Ke mana pun dia pergi, selalu berbuat kerusakan di muka bumi.”

 

“Di manakah dia tinggal? Dan berapa lama tinggal di muka bumi?”

 

“Empat puluh hari, namun sehari bagaikan setahun, sehari bagaikan sebulan, sehari bagaikan seminggu, hari-harinya seperti hari-hari kalian.”

 

“Wahai Rasul, pada hari yang lamanya seperti setahun itu, cukupkah kami shalat sehari, sedangkan bagi setiap Muslim, shalat laksana air kehidupan. Dia tak bisa hidup tanpanya?”

 

“Tidak. Ukurlah hari itu sebagaimana biasanya. Aturlah waktu pada hari itu, meskipun rasanya seperti setahun.”

 

“Lantas, siapa saja yang menjadi pengikutnya, ya Rasul?”

 

“Pengikutnya tujuh puluh orang Yahudi Ashfahân dengan pakaian yang dihiasai warna hijau.”

 

“Seperti apa kecepatannya di bumi ini, ya Rasul?”

 

“Seperti hujan yang ditiup angin kencang, sehingga dia bisa sampai ke setiap pelosok bumi.”

 

“Apakah dia akan masuk ke setiap negeri dan melakukan kerusakan di dalamnya?”

 

“Seluruh negeri akan dilaluinya, kecuali Makkah dan Madinah. Keduanya akan dihalangi dan dijaga para malaikat yang baris berlapis-lapis. Begitu sampai Madinah, Dajjal akan singgah di tanah kosong nan tandus yang tak jauh darinya. Madinah pun berguncang sebanyak tiga kali dan Allah akan mengeluarkan seluruh orang kafir dan munafik.”

 

“Lalu apa yang sebaiknya kami lakukan apabila Dajjal muncul dan kami masih hidup?”

 

“Larilah kalian ke gunung dan jangan berada di jalannya. Sungguh, tidak ada perkara yang lebih besar sejak Adam diciptakan hingga hari Kiamat kecuali perkara Dajjal. Siapa di antara kalian yang bertemu dengannya, maka bacalah pembukaan Surat Al-Kahfi.”

 

“Lalu apa yang akan dilakukannya?”

 

“Dia akan mendatangi suatu kaum. Kemudian mereka akan mengimani dan memenuhi perintahnya. Ketika dia memerintah langit, langit akan hujan. Ketika memerintah bumi, bumi langsung menumbuhkan tanaman. Saat unta, sapi, dan ternak mereka pulang tubuhnya langsung tinggi, besar, gemuk, dan susunya melimpah. Itulah ujian besar yang mengharuskan kita berlindung kepada Allah agar senantiasa tetap kokoh memegang agama-Nya. Ketika melewati bekas bangunan yang telah diruntuhkan pemiliknya sejak lama, dia berkata, ‘Kelurkanlah harta simpananmu.’ Harta simpanan itu pun menurutinya laksana lebah jantan yang berkerumun. Itulah yang menyebabkan para pengikutnya semakin sesat. Setelah itu, dia menemui dan menyeru kaum yang lain. Namun kali ini, mereka menolak seruannya. Keimanan mereka diteguhkan oleh Allah. Akhirnya, dia berpaling dari mereka. Namun sepeninggalnya, mereka dilanda penderitaan. Tak ada hujan yang turun di tengah mereka.Tanah mereka kering dan gersang. Akibatnya, mereka tidak memiliki harta atau ternak apa pun. Marilah kita memohon agar agama mereka senantiasa diteguhkan Allah.”

 

“Ya Rasul, apakah Dajjal membawa sesuatu yang lain?”

 

“Betul, di antara yang dibawa Dajjal saat kemunculannya adalah air dan api. Yang terlihat air oleh manusia adalah api yang akan membakar, sedangkan yang terlihat api oleh mereka adalah air tawar yang sangat dingin. Siapa saja di antara kalian yang menemuinya, maka pilihlah api karena ia sejatinya air tawar yang baik.”

 

Demikian kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Anas radliyallahu ‘anhu (nomor hadits 2937).

 

Penulis: M. Tatam

Editor : Mahbib
BNI Mobile