Makna di Balik Tamsil Sarang Laba-laba dalam Al-Qur’an

Makna di Balik Tamsil Sarang Laba-laba dalam Al-Qur’an
Al-Qur'an kadang membuat analogi dengan binatang untuk menggambarkan kehidupan manusia.
Al-Qur'an kadang membuat analogi dengan binatang untuk menggambarkan kehidupan manusia.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

 

مَثَلُ الذين اتخذوا مِن دُونِ الله أَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ العنكبوت اتخذت بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ البيوت لَبَيْتُ العنكبوت لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

 

“Orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah diumpamakan dengan laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba seandainya mereka mengetahui,” (QS Al-‘Ankabut [49]: 41).

 

Ayat di atas menggambarkan bahwa orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung tak ubahnya seperti laba-laba yang membuat sarangnya. Dan sebagaimana diketahui, sarang laba-laba merupakan rumah yang paling lemah. Para ulama tafsir menjelaskan, hal itu karena sarang laba-laba tak mampu menjadi pelingdung dari cuaca panas, tidak mampu menjadi pelindung dari hujan, tak mampu menjadi pelindung dari terpaan angin, juga tak bisa menjadi pelindung dari rasa dingin. Terbuktilah bahwa sarang laba-laba menjadi rumah paling rapuh. Pada saat yang sama, terbukti pula mukjizat ilmiah yang diungkap dalam ayat di atas.

 

Para ilmuwan mengatakan, umumnya yang membuat sarang adalah laba-laba betina. Ia bertingkah di depan sarangnya agar sang jantan terpincut dan mendekatinya. Setelah laba-laba jantan berada di sarang dan mengawini laba-laba betina, laba-laba betina itu akan menangkap dan memangsanya. Bahkan, ia akan memangsa anak-anaknya jika mereka tidak sempat kabur. Lengkaplah kelemahan laba-laba jantan, kelemahan anak-anaknya, dan kelemahan sarang laba-laba betina dari fungsi nya.

 

Ada pula yang mengatakan laki-laki yang membiarkan sang istri menguasai dirinya, tunduk kepada keinginan istrinya, patuh atas apa pun yang diperintahkan istrinya, bahkan berani melakukan sesuatu yang tidak diridhai Allah demi permintaan istrinya tak ubahnya dengan laba-laba. Bahkan, lebih sesat dari laba-laba.

 

Keadaan kaum Muslimin yang lemah sekarang ini, aqidahnya rapuh dan mudah bersandar kepada selain Allah, tunduk kepada musuh, patuh kepada makhluk namun membangkan kepada Khaliq, mudah pasrah dan menyerah terhadap ujian dan keadaan, dapat diumpamakan dengan sarang laba-laba yang tak mampu dipakai berlindung dari sengatan panas, cuaca ekstrem, terpaan angin, mudah terkoyak dan rusak. Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang mereka seru dan mereka sembah, Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, (QS Al-Ankabut [29]: 42).

 

Persis dengan keadaan kaum musyrikin zaman dahulu yang menjadikan berhala sebagai tuhan-tuhan mereka. Padahal, berhala itu tidak memiliki ketuhanan sedikit pun. Jangankan melindungi penyembahnya, melindungi dirinya pun tidak mampu. Layaknya ciptaan atau makhluk yang lain.

 

Di samping kelemahan, terdapat kelebihannya. Demikian pula sarang laba-laba. Di samping kelemahan karena fungsinya yang tidak bisa menjadi pelindung panas, dingin, hujan, dan angin, sarang laba-laba memiliki kelebihan yang tak bisa dikesampingkan. Di antaranya, sarang laba-laba bisa menjadi sumber makanan bagi pembuatnya, membantu pembuatnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau berkomunikasi dengan laba-laba lain di sekitarnya. Keadaan jaring laba-laba ternyata berbeda-beda, ada yang halus dan tipis, ada yang tebal, ada yang tidak lengket, dan ada yang lengket, sehingga berfungsi menjadi perangkap mangsa pembuatnya. Suatu penelitian menyebutkan, walau sarang laba-laba terlihat rapuh, tapi ada jaring laba-laba yang lebih kuat dari rompi antipeluru. Jaring laba-laba jenis Caerostris Darwini ternyata 6 kali lebih kuat dari kevlar yang menjadi bahan utama rompi ant peluru. Selain itu, jaring laba-laba juga ternyata ada yang berwarna kuning emas. (Lihat: Muhammad Ratib An-Nablisi, Mausu‘ah Al-I‘jaz al-‘Ilmi, [Suriyah: Darul Maktabi), Cet. Kedua, 2005, jilid 2, hal. 233). Wallahu a’lam.

 

Penulis: M. Tatam

Editor: Mahbib

BNI Mobile