Hizib Bahar: Penyusun, Faedah, dan Cara Mengamalkannya

Hizib Bahar: Penyusun, Faedah, dan Cara Mengamalkannya
Ada anjuran cara-cara tertentu dalam mengamalkan "hizib laut" ini. (Foto ilustrasi: NU Online/Dok. Pesantren Sirojuth Thalibin Brabo)
Ada anjuran cara-cara tertentu dalam mengamalkan "hizib laut" ini. (Foto ilustrasi: NU Online/Dok. Pesantren Sirojuth Thalibin Brabo)

Salah satu bacaan hizib yang masyhur dan banyak dibaca oleh para ulama, santri dan para pengamal tarekat (khususnya tarekat Syadziliyah) adalah Hizib Bahar. Bahar memiliki arti laut. Kumpulan dzikir ini dinamakan “Hizib Bahar” karena konon sebelum disebarkan secara luas, hizib ini dibiarkan menggenang di laut, dan juga dikarenakan di dalam hizib ini disebutkan kata “Bahr”. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab al-Kunuz an-Nuraniyah:

 

وسمي حزب البحر لأنه وضع في البحر، ولما ورد فيه من ذكر البحر، ويسمى الحزب الصغير أيضا.

 

“Hizib ini disebut dengan Hizib Bahar (laut) karena hizib ini pernah ditaruh di laut, dan juga karena di dalamnya disebutkan kata al-Bahr. Hizib ini juga dinamakan dengan al-Hizib ash-Shaghir” (Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini, al-Kunuz an-Nuraniyah, Hal. 350)

 

Hizib Bahar disusun oleh seorang wali qutub pendiri tarekat Syadziliyah, Abi Hasan Ali bin ‘Abdillahbin ‘Abdil Jabbar asy-Syadzili, beliau lahir di Iskandariah pada tahun 571 H dan wafat pada tahun 656 H. Beliau terkenal sebagai pembesar ulama sufi, kisah-kisah tentang karamah dan keistimewaan beliau menghiasi berbagai kitab-kitab tasawuf.

 

Murid beliau yang juga menjadi ulama sufi terkenal adalah Abu al-‘Abbas al-Mursi yang nantinya meneruskan silsilah kemursyidan tarekat Syadziliah. Dari imam Abu al-‘Abbas al-Mursi muncul ulama kenamaan tasawuf yakni Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari pengarang kitab induk tasawuf al-Hikam dan Imam al-Bushiri, penyusun Qasidah Burdah. Kedua ulama tersebut merupakan murid dari Abu al-‘Abbas al-Mursi. Berdasarkan hal ini, dapat kita pahami bahwa Imam Abi Hasan asy-Syadzili merupakan tokoh sufi besar, sebab dari beliau muncul pembesar-pembesar ulama tasawuf.

 

Mengenai tentang faedah mengamalkan Hizib Bahar, Abi Hasan asy-Syadzili menjelaskan:

 

قال عنه الإمام الشاذلي: وهو حزب عظیم القدر ما قرئ على خائف إلا أمن، ولا مريض إلا شفي، ولا على ملهوف إلا زال عنه لهفه، ولو قرئ حزبي هذا على بغداد ما أخذتها التتار، وما قرئ في مكان إلا سلم الآفات وحفظ من العاهات وسميته: (العدة الوافية والجنة الواقية)، فمن قرأه عند طلوع الشمس أجاب الله دعوته وفرج كربته ورفع قدره وشرح صدره وأمن من طوارق الجن والإنس

 

“Imam Syadzili berkata mengenai hizib ini: ‘Hizib Bahar ini merupakan hizib yang agung derajatnya. Hizib ini tidaklah dibaca pada orang yang sedang takut/khawatir melainkan ia akan aman, pada orang sakit melainkan ia akan sembuh, pada orang yang sedang bersedih kecuali hilang kesedihannya. Kalau saja hizib ini dibaca di tanah Irak tentu tidak akan diekspansi oleh kaum Tar-Tar. Tidaklah hizib ini dibaca di suatu tempat, kecuali akan aman dari mara bahaya dan terjaga dari hama. Aku menamakan hizib ini dengan nama al-‘Iddah al-Wafiyah wa al-Junnah al-Waqiyah. Barangsiapa membaca hizib ini tatkala terbitnya matahari, maka Allah akan mengabulkan doanya, menghilangkan kegelisahannya, mengangkat derajatnya, melapangkan dadanya dan akan aman dari gangguan jin dan manusia’.”

 

ولا يقع عليه نظر أحد من خلق الله تعالى إلا أحبه وأجله وأكرمه ومن قرأه عند الدخول على الجبارين أمنه الله تعالى من شرهم ومكرهم، ومن داوم على قراءته ليلا ونهارا لا يموت لا غریقا ولا حريقا ولا مغتالا وإذا احتبس الريح أو زاد في البحر فقرئ أذهب الله عنهم ما يجدونه بإذن الله تعالى ومن كتبه وعلقه على شيء كان محفوظا بإذن الله تعالى.

 

“Tidaklah pandangan seseorang tertuju pada orang yang membaca hizib ini kecuali akan menyukai, mengagungkan dan memulyakannya. Barangsiapa yang membaca hizib ini tatkala memasuki kaum yang sewenang-wenang maka akan menjadikan dirinya aman dari keburukan dan tipu daya mereka. Orang yang istiqamah membaca hizib ini di malam dan siang hari, maka ia tidak akan mati dalam keadaan tenggelam, terbakar dan hilang. Ketika angin sedang kencang atau bertambah kencang saat di laut, lalu dibacakan hizib ini, maka Allah akan hilangkan angin tersebut dengan seizin-Nya. Barangsiapa yang menulis hizib ini dan menggantungkannya pada suatu benda, maka benda itu akan dijaga dengan izin Allah” (Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini, al-Kunuz an-Nuraniyah, Hal. 350)

 

Berpijak pada referensi tentang fadilah Hizib Bahar di atas, dapat dipahami bahwa hizib ini memang merupakan hizib yang penuh dengan keistimewaan, sehingga sangat dianjurkan untuk diamalkan secara istiqamah.

 

Adapun mengenai tata cara dan adab dalam membaca Hizib Bahar, setidaknya terdapat enam ketentuan:

 

Pertama, menetapi adab yang baik, seperti halnya adab saat membaca dzikir dan hizib-hizib.

 

Kedua, tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah yang Mahabenar (al-Haq)

 

Ketiga, bertawassul dengan membacakan Surat al-Fatihah yang ditujukan kepada Imam Abi Hasan asy-Syadzili.

 

Keempat, jika terdapat suatu hajat tertentu, maka hajat tersebut diangan-angankan dalam pikiran kita pada saat membaca kalimat “al-Bahr” yang terdapat dalam Hizib ini.

 

Kelima, tiap kali membaca ayat “Hâ mîm” yang berjumlah tujuh, wajah menghadap ke enam arah (depan, belakang, samping kanan, samping kiri, atas, dan bawah). Sebelum membaca “Hâ mîm” yang ketujuh membaca kalimat berikut:

 

دَفَعْتُ بِاللهِ كُلَّ بَلِيَّاتِهِ مِنْ هَذِهِ الْجِهَّاتِ السِّتِّ بِبَرَكَةِ هَذِهِ الْأَسْمَاءِ السِّتَّةِ وَاسْتَجْلَبْتُ بِهَا كُلَّ خَيْرٍ يَأْتِيْ مِنْ هَذِهِ الْجِهَاتِ اَلسِّتِّ

 

“Aku menolak segala cobaan/ujian dari enam arah ini dengan perantara Allah dengan barakah dari enam nama ini. Dan Aku memohon agar dimudahkan mendapatkan setiap kebaikan yang datang dari enam arah ini.”

 

Lalu mengucapkan “Hâ mîm” yang ketujuh, lalu tangan kita memegang tubuh kita dan sekitar kita, lalu diusapkan pada wajah kita sembari fikiran kita menghadirkan hal yang diinginkan.

 

Keenam, pada saat mengucapkan “Kâf hâ yâ ‘aîn shâd kifâyatunâ” pada setiap huruf awal, tangan kanan (tidak pada tangan kiri) menggenggamkan jari satu persatu, dimulai dari jari kelingking saat membaca “kâf” dan diakhiri sampai jempol saat membaca “shâd”. Tangan kanan terus menggenggam sampai setelah menyelesaikan bacaan “Hâ mîm ‘aîn sîn qhâf” tangan kanan dibuka genggamannya dimulai dari jari yang terakhir kali menggenggam yakni jempol.

 

 

Cara di atas merupakan cara yang dianjurkan dalam membaca Hizib Bahar menurut penjelasan dari Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini. Dalam kitabnya, beliau mengaku pernah diijazahkan langsung oleh Imam Abi Hasan Asy-Syadzili melalui mimpi.

 

Selain itu, tatkala terdapat hajat yang benar-benar besar atau mendesak, dianjurkan mengawali Hizib Bahar dengan terlebih dahulu membaca surat-surat berikut:

 

ومن قرأ سورة الحمد سبع مرات وسورة قريش إحدى وعشرين مرة ثم قرأ هذا الحزب ثلاث مرات فى أية حاجة قضيت كائنة ما كانت.

 

“Barangsiapa yang membaca Surat al-Hamdu (al-Fatihah) tujuh kali dan Surat Quraisy 21 kali, lalu membaca hizib ini maka hajat apapun akan terkabul, selama hajat itu masih wujud” (Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini, al-Kunuz an-Nuraniyah, hal. 351)

 

Semoga kita dapat istiqamah mengamalkan Hizib Bahar dengan penuh khusyuk sehingga kita mendapatkan fadhilah serta mendapat keberkahan dari penyusun Hizib Bahar ini, yakni Imam Abi Hasan Asy-Syadzili. Âmîn âmîn yâ rabbal ‘âlamîn. Lahul Fâtihah.

 

 

Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember

 

 

BNI Mobile