Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita

Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita
Ilustrasi. (NU Online)
Ilustrasi. (NU Online)
Sayyidah Aisyah adalah orang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya ingat yang kuat. Ia hidup sebagai pasangan suami-istri bersama Nabi Muhammad selama sembilan bulan.
 
Dia menimba banyak ilmu langsung dari Nabi sehingga memiliki 2.210 sanad hadits. Hadits-hadits riwayat Sayyidah Aisyah banyak berkaitan dengan hukum Islam sehingga para ulama menjadikannya sebagai rujukan.

Sayyidah Aisyah tidak hanya seorang intelektual. Ia juga seorang aktivis. Ia membela hak, kewajiban, dan kehormatan kaum perempuan. Banyak kaum Muslimah yang mengadu dan curhat kepadanya perihal persoalan rumah tangga dan urusan keperempuanan. Dan Sayyidah Aisyah mencarikan solusi atas segala persoalan itu.

Merujuk Sayyidah Aisyah (Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, 2019) dan Sayyidah Aisyah: Ibu dan Pemimpin Wanita Muslimah (Abdul Hamid Thahmaz, 1999), ada banyak kisah tentang pembelaan Sayyidah Aisyah terhadap kaum perempuan, baik secara langsung maupun tidak.

Seperti diriwayatkan an-Nasai, suatu ketika ada seorang wanita mendatangi Sayyidah Aisyah. Dia mengadu bahwa bapaknya akan menikahkannya dengan si fulan (keponakan bapaknya) agar kedudukannya bapaknya terangkat—riwayat lain untuk menutupi kebobrokan moralnya. Namun, si wanita mengaku tidak suka dengan calon pilihan bapaknya itu.

Sayyidah Aisyah kemudian menyampaikan keluhan wanita tersebut kepada Nabi Muhammad. Beliau langsung mengirimkan seseorang untuk memanggil bapak wanita itu. Setelah Nabi dan bapaknya membahas aduannya, wanita tersebut berkata bahwa sesungguhnya dirinya mengizinkan apa yang dilakukan bapaknya itu.

Namun ia sengaja mengadu kepada Sayyidah Aisyah dan Nabi Muhammad. Tujuannya adalah agar para wanita lainnya mengetahui bahwa bapak tidak memiliki hak untuk memilihkan suami untuk anak perempuanya.

Pada kesempatan lain, Sayyidah Aisyah pernah mendengar Khaulah binti Tsa’labah yang mengadukan perlakuan suaminya kepada Nabi Muhammad. Kata Khaulah, suaminya telah menikmatiknya ketika dirinya masih muda. Dirinya juga sudah banyak melahirkan anak dari suaminya itu.

Namun ketika Khaulah sudah tua, suaminya malah mengucapkan zihar kepadanya. Zihar adalah ucapan suami yang menyamakan istrinya dengan ibunya, yang mana itu berarti lafal talak. Atas hal itu, maka turunkan QS. Al-Mujadalah ayat 1:

“Sesungguhnya Allah telah berkenan mengabulkan gugatan seorang istri yang mengadukan kepadamu (Nabi Muhammad) berkenaan dengan tingkah laku suaminya.”

Ketika Nabi di rumah Aisyah, datang seorang wanita yang merupakan istri dari Tsabit bin Qais. Wanita tersebut mengaku kalau Tsabit bin Qais telah memukulnya hingga tulang pada sebagian wajahnya retak. Nabi kemudian memanggil Tsabit untuk duduk bersama. Lalu beliau berkata agar wanita tersebut mengambil sebagian harta Tsabit dan minta diceraikan.

Kemudian pada masa lalu seorang suami bisa menceraikan istrinya berulang kali. Maksudnya, suami bisa menceraikan istri dan suami bisa merujuk lagi selama masa iddah istrinya—yang diceraikan tersebut- belum habis.

Hal ini tentu saja menyiksa kaum wanita. Sebagaimana hadits riwayat at-Tirmidzi dari Sayyidah Aisyah, ada seorang laki-laki yang melakukan itu. Dia menceraikan istrinya sekehendak hatinya. Bahkan seratus kali lebih.

Wanita yang diceraikan dan dirujuk lagi secara secara sewenang-wenang tersebut akhirnya mengadu kepada Sayyidah Aisyah. Karena tidak mengetahui jawabannya, Sayyidah Aisyah diam. Ia kemudian meneruskan aduan wanita tersebut kepada Nabi Muhammad. Beliau pun diam sehingga turun QS. Al-Baqarah ayat 229:

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. Setelah itu bisa rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikannya dengan cara yang baik.”
 
Semenjak saat itu, orang menjadi lebih berhati-hati dalam urusan talak. Lebih dari itu, Sayyidah Aisyah tidak segan-segan menentang siapa saja yang mendiskreditkan dan merendahkan harkat dan martabat kaum hawa.
 
Diriwayatkan bahwa suatu hari ada seorang yang menuturkan satu ‘hadits’: ‘Shalat batal karena adanya keledai, anjing, dan wanita.’ Mendengar hal itu, Sayyidah Aisyah marah dan mendamprat orang yang mengatakan itu. Ia tidak rela wanita disamakan dengan keledai dan anjing.  

“Atas dasar apa kalian menyamakan kami (kamu wanita) dengan keledai dan anjing. Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah shalat malam dan aku di atas pembaringanku. Aku terlentang antara posisi beliau dan kiblat. Saat tiba-tiba aku ingin buang hajat, aku tidak mau bangkit dan mengganggu shalatnya sehingga aku menyelinap keluar melewati antara kakinya,” kata Sayyidah Aisyah.

Sayyidah Aisyah juga pernah ‘menyemprot’ dan marah terhadap Abu Hurairah. Pasalnya, saat itu Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda: ‘Sesungguhnya anggapan sial ada pada wanita, hewan ternak, dan rumah.’ Sayyidah Aisyah langsung membetulkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah tersebut. Kata dia, kamu Jahiliyah lah yang mengatakan itu, bukan Nabi, dan beliau kemudian meng-quote-nya.

“Sesungguhnya Nabi Muhammad mengatakan, ‘Kaum Jahiliyah mengatakan: kesialan itu ada pada perempuan, hewan ternak, dan rumah.’ 

Kemudian Sayyidah Aisyah membacakan firman Allah (QS. Al-Hadid ayat 22): “Tiadalah suatu musibah menimpa di bumi dan tidak juga pada dirimu kecuali telah tertulis pada Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya.” Wallahu ‘alam.

Penulis: Muchlishon Rochmat
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile