IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Ini yang Harusnya Dilakukan Umat Islam di Negeri Terserang Wabah

Sabtu 25 April 2020 03:45 WIB
Ini yang Harusnya Dilakukan Umat Islam di Negeri Terserang Wabah
Mereka dituntut untuk membuktikan taqarrubnya melalui kepedulian dan empati terhadap sesama terkait dampak sosial dan ekonomi. (Ilustrasi: picbon.com)
Ibnu Hajar Al-Asqalani menganjurkan umat Islam agar mereka tidak keluar dari sebuah negeri yang sedang terserang wabah untuk melarikan diri dari serangan wabah tersebut. Anjuran ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang melarang mereka yang di dalam negeri untuk keluar dan sebaliknya.

Al-Asqalani menyarankan umat Islam untuk tetap bertahan di dalamnya seraya bersabar, mengharap ganjaran Allah, dan meyakini bahwa segala sesuatu tidak akan menimpanya kecuali apa yang memang dikehendaki oleh Allah SWT.

تقدم في الأبواب الماضية الأمر بمنع الخروج الذي وقع به فرارا من الطاعون والترغيب في الإقامة صابرا محتسبا عالما بأنه لا يصيبه إلا ما كتب الله تعالى

Artinya, “Larangan untuk keluar dari negeri yang terserang wabah dan anjuran untuk bertahan di dalam negeri tersebut secara bersabar mengharapkan ganjaran Allah serta meyakini bahwa itu tidak akan menimpanya kecuali apa yang memang telah digariskan oleh Allah,” (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un, [Riyadh, Darul Ashimah: tanpa tahun], halaman 315).

Seseorang dianjurkan untuk segera beribadah kepada Allah, mengembalikan hak-hak mereka yang dizalimi, membebaskan diri dari segala hak-hak berupa harta atau kehormatan yang berkaitan dengan anak manusia, bertobat agar tidak mengulangi sesuatu kemaksiatan, menyesali setiap perbuatan buruk yang telah lalu, dan berwasiat tanpa harus berbuat aniaya, ketidakadilan, dan menyimpang dari syariat.

Semua itu sangat dianjurkan ketika wabah penyakit menyerang secara umum, terlebih lagi mengenai dirinya sendiri secara pribadi. (Al-Asqalani: 315). Kecuali itu, mereka dianjurkan untuk berdoa kepada Allah untuk mengangkat wabah karena wabah merupakan penyakit, bukan kematian. Doa sebagai ikhtiar dan upaya merupakan anjuran yang disyariatkan. (Al-Asqalani: 315-317).

Orang yang belum terkena wabah juga dianjurkan untuk mendoakan keluarganya dan terutama diri sendiri agar tidak terkena wabah penyakit yang sedang melanda negerinya sebagaimana dianjurkan oleh As-Subki. (Al-Asqalani: 324).

Anjuran-anjuran tersebut cukup dapat diterima. Al-Asqalani mendasarkan anjuran tersebut pada hikmah di balik larangan hadits untuk keluar dari negeri yang terdampak wabah. Seseorang yang berada di sebuah negeri terserang wabah–umumnya berdurasi setahun–tidak akan menemukan manfaat untuk melarikan diri dari kematian sebab ajalnya memang sudah ditentukan, baik ia memilih bertahan maupun beranjak meninggalkan negeri tersebut.

Tasharuf orang sehat di dalam negeri yang sedang terserang wabah penyakit disamakan dengan tasharuf orang sakit keras, sebuah sakit kematian. (Al-Asqalani: 302).

Dengan demikian, mereka yang sedang diuji dengan sebuah wabah yang menyerang penduduk negerinya sangat perlu melakukan tindakan-tindakan pertobatan yang terkait dengan Allah dan hak-hak orang lain karena kematian seakan datang menjemputnya dalam waktu dekat meski mereka tampak sehat tanpa gejala.

Selain itu, mereka juga dituntut untuk membuktikan taqarrubnya kepada Allah melalui kepedulian dan empati terhadap sesama terkait dampak sosial dan ekonomi. Pasalnya, serangan wabah penyakit juga menuntut pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan terkait krisis wabah yang berimplikasi sosial dan ekonomi.

Mereka dapat membuktikannya melalui donasi terhadap tetangga yang membutuhkan dan tidak mengucilkan warga yang terpapar wabah tesebut termasuk penolakan pemakaman jenazah pasien wabah. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)