Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Adab Para Ulama dalam Meriwayatkan Hadits

Adab Para Ulama dalam Meriwayatkan Hadits
(Ilustrasi: Shutterstock)
(Ilustrasi: Shutterstock)

Para ulama sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Hal ini dikarenakan sebuah ancaman yang sangat keras kepada siapa pun yang berdusta atas hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam sebuah hadits:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كذب علي معتمدا فليتبوأ بيتا من جهنم


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang berdusta atasku secara sengaja, hendaknya ia mengambil rumahnya di neraka Jahanam” (HR Ibnu Hibban).


Para sahabat Nabi pun mengajarkan generasi selanjutnya untuk berhati-hati dalam menyampaikan sebuah hadits. Bahkan, para sahabat Nabi menganjurkan untuk mengucapkan “atau sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan (أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم)” setiap selesai menyampaikan sebuah hadits sebagaimana yang dicatat oleh Ahmad bin Ali al-Khathib al-Baghdadi (w.   463 H).


وقد كان في الصحابة رضوان الله عليهم من يتبع روايته الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم بأن يقول : أو نحوه أو شكله أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم والصحابة أرباب اللسان وأعلم الخلق بمعاني الكلام ولم يكونوا يقولون ذلك إلا تخوفا من الزلل لمعرفتهم بما في الرواية على المعنى من الخطر والله أعلم


“Dan terdapat golongan dari para sahabat radhiyallahu ‘anhu yang selalu mengiringi hadits-hadits yang mereka sampaikan dengan ucapan “atau sesamanya (أو نحوه)”, “atau sejenisnya (أو شكله)”, “atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (أوكما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم)”. Dan para sahabat adalah golongan yang memiliki kalam yang fashih serta kelompok yang paling memahami makna kalam yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabat mengucapkan ucapan tersebut sebagai bentuk kehati-hatian dari kekeliruan dalam menyampaikan hadits Nabi. Hal ini dikarenakan mereka mengetahui adanya risiko yang sangat besar dalam meriwayatkan hadits secara makna.” (Ahmad bin Ali al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’ [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah], 2017, vol.2 hal. 34).


Hal ini juga ditegaskan oleh Muhammad Ibnu Majah (w.  273 H) dalam karyanya:


حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا معاذ بن معاذ عن ابن عون عن محمد بن سيرين قال كان أنس بن مالك إذا حدث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم حديثا ففرغ منه قال أو كما قال رسول الله صلى الله عليه و سلم


“Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Mu’adz bin Mu’adz dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad bin Sirin, beliau berkata bahwasannya sahabat Anas bin Malik ketika selesai menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau mengucapkan “atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (أوكما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم)” (Muhammad ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah], 2012, hal. 5).


Begitu juga hal ini dicatat oleh Abdullah bin Aburrahman ad-Darimi (w.  255 H) dalam karyanya:


أخبرنا محمد بن كثير عن الأوزاعي عن إسماعيل بن عبيد الله قال : كان أبو الدرداء إذا حدث بحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال هذا ونحوه أو شبهه أو شكله


Diriceritakan dari Muhammad bin Katsir dari al-Awza’i dari Ismail bin Ubaidillah, bahwa beliau berkata “Sahabat Abu Darda’ ketika selesai menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengucapkan ‘Seperti inilah (hadits tersebut), atau sejenisnya, atau serupa dengannya,” (Abdullah bin Aburrahman ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, hadits no. 268 [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah], 2011).


Beberapa ulama lain juga menambahkan kalimat istighfar setiap mereka selesai menyampaikan sebuah hadits sebagaimana yang dicontohkan oleh Abbas bin Salim al-Lakhmi:


وجاء عن عباس بن سالم اللخمي الدوشقي أنه قال عقب الحديث هكذا إلا أن أخطئ شيئا لا أريده، فأستغفر الله وأتوب إليه


Dan dikabarkan bahwa Abbas bin Salim al-Lakhmi ad-Dimasyaqi setiap selesai menyampaikan sebuah hadits beliau berkata “seperti itulah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali aku telah melakukan sebuah kesalahan (dalam menyampaikan hadits) yang aku tidak menginginkannya, maka aku meminta ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepadanya”. (Dr. Ridha bin Zakaria, Riwayat al-Hadits bi al-Ma’na wa Atsaruha, [Kairo: Maktabah al-Aiman], 2010, hal. 115).


Dalam hal ini, para ulama juga menganjurkan para pelajar untuk mengucapkan “Atau sebagaimana yang disabdakan (أو كما قال)” setiap selesai membaca hadits yang mana pelajar tersebut ragu dengan cara membaca hadits tersebut dengan benar. Karena hal tersebut adalah adab yang baik dalam meriwayatkan hadits sebagaimana pendapat Utsman bin Abdurrahhman Ibnu Shalah (w.   642 H)


وإذا اشتبه على القاريء فيما يقرؤه لفظة، فقرأها على وجه يشك فيه، ثم قال ( أو كما قال ) فهذا حسن، وهو الصواب في مثله، لأن قوله ( أو كما قال ) يتضمن إجازة من الراوي وإذناً في رواية صوابها عنه إذا بان


“Dan ketika para pembaca merasa samar dengan lafadz hadits yang ia baca, kemudian ia membacanya dengan penuh keraguan, kemudian ia mengucapkan “Atau sebagaimana yang disabdakan (أو كما قال)” maka ini adalah cara yang baik dan mendekati kebenaran (as-shawab) di dalam sejenisnya. Karena ucapan para pembaca “Atau sebagaimana yang disabdakan (أو كما قال)” menyimpan ijazah sanad dari perawi hadits serta izin di dalam riwayat yang mendekati kebenaran (as-shawab) dari perawi hadits ketika para pembaca menemukannya” (Utsman bin Abdurrahhman Ibnu Shalah, Muqaddimah Ibnu Shalah [Beirut: Darul Fikr], 2010, hal. 106).

 

Muhammad Tholhah al Fayyadl, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo
 

BNI Mobile