Khutbah Gerhana Matahari, Alam Semesta, dan Covid-19

Khutbah Gerhana Matahari, Alam Semesta, dan Covid-19
Semuanya adalah makhluk Allah dan tak satu pun yang lepas dari Sunnatullah. Inilah makna Allah sebagai Rabbul ‘âlamîn, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al-Khâliqu kulla syaî’, pencipta segala sesuatu.
Semuanya adalah makhluk Allah dan tak satu pun yang lepas dari Sunnatullah. Inilah makna Allah sebagai Rabbul ‘âlamîn, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al-Khâliqu kulla syaî’, pencipta segala sesuatu.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَاخْتِلَافَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ 

Jamaah shalat Gerhana Matahari yang berbahagia, 

Kita yang hadir dalam majelis ini tentu mengimani bahwa keberadaan alam semesta beserta segenap isinya adalah salah satu bukti kemahakuasaan Allah Subhânahu wa ta‘âlâ. Mulai dari skala makrokosmos hingga mikrokosmos. Struktur skala makro alam semesta tecermin melalui galaksi, gugusan bintang–gemintang hingga sistem keplanetan atau tata surya.


Semuanya berukuran sangat besar namun sangat jauh sehingga banyak yang hanya bisa dilihat melalui teleskop–teleskop raksasa berteknologi tercanggih pada saat ini. Berkas cahaya yang mereka pancarkan membutuhkan waktu ratusan ribu, jutaan, ratusan juta dan bahkan ada yang sampai bermilyar tahun untuk tiba di Bumi. Padahal seberkas cahaya mampu menempuh jarak 300.000 kilometer dalam setiap detiknya.


Demikian pula struktur skala mikro alam semesta yang meliputi proton, elektron, atom, proton, molekul hingga benda – benda renik lainnya. Termasuk virus, yang sedang merebak di sekitar kita akhir – akhir ini sebagai wabah penyakit Covid – 19 yang telah menjadi pandemi di segenap penjuru Bumi. Kita tak bisa menyaksikan langsung sebuah virus, karena ukurannya jauh lebih kecil dari ketebalan sehelai rambut. Membutuhkan mikroskop khusus yang dinamakan mikroskop elektron untuk melihatnya. Namun gejala – gejala yang ditimbulkannya dapat dirasakan terutama pada saudara – saudara kita yang telah terjangkiti penyakit ini. 


Semuanya adalah makhluk Allah dan tak satu pun yang lepas dari sunnatullah. Inilah makna Allah sebagai Rabbul ‘âlamîn, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al-Khâliqu kulla syaî’, pencipta segala sesuatu. Apapun dan siapapun, baik yang sudah kita ketahui hingga saat ini maupun yang belum. Allah Subhânahu wa ta‘âlâ menciptakan segala sesuatu adalah tak lain sebagai ayat atau tanda akan keberadaan–Nya. 


Dalam Al-Qur’an dijelaskan:


سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ


Artinya: “Kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda–tanda (ayat) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri….” (Surat Fushshilat ayat 53).


Peristiwa gerhana matahari yang sedang terjadi dan sedang disaksikan sebagian kita pada saat ini, sesungguhnya juga tak lebih sebagai tanda atau ayat. Patut disyukuri pada saat ini kita telah memiliki pengetahuan lebih baik dalam memahami Gerhana Matahari, yang termaktub dalam ilmu falak. Kini kita mengetahui bahwa gerhana matahari merupakan produk kesejajaran sebagai buah pergerakan Bulan mengelilingi bumi dan pergerakan bumi mengelilingi Matahari secara ritmis mengikuti sunnatullah.


Demikian pula pandemi Covid – 19 yang sedang kita alami pada saat ini, juga merupakan tanda. Tanda keberadaan Allah melalui virus baru yang tak pernah dikenali sebelumnya sepanjang sejarah. Pada saat ini ilmu kedokteran mulai berhasil menguak sebagian sifat virus penyebab penyakitnya serta sedang giat – giatnya meneliti vaksin yang tepat dan obat yang cocok untuk menanganinya. 


Jamaah Shalat Gerhana Matahari yang berbahagia,

Jika kita sering mendengar anjuran mengucapkan tasbih “subhânallâh” (Maha suci Allah) kala berdecak kagum, maka sesungguhnya itu adalah manifestasi bahwa segala sesuatu —baik yang menakjubkan ataupun bahkan menakutkan sekalipun— harus dikembalikan pada keagungan Allah. Kita dianjurkan untuk seketika mengingat Allah dan menyucikannya dari godaan keindahan lain selain Dia. Allah sendiri mengungkapkan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, termasuk virus, bertasbih tanpa henti sebagai bentuk ketundukan kepada–Nya. 


Dalam Surat Al-Isra ayat 44 dinyatakan:


تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا 


Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji–Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” 


Jamaah Shalat Gerhana Matahari yang berbahagia,

Konsekuensi dari mengimani dan mengagungkan Allah adalah berintrospeksi betapa lemah dan rendahnya kita di hadapan Allah. Artinya, meningkatnya pengagungan kepada Allah berbanding lurus dengan menurunnya sikap takabur, angkuh atas kelebihan–kelebihan diri kita dalam aspek apapun. 


Betapa kecilnya manusia dapat dilihat dari kajian ilmu pengetahuan modern. Bulan dan matahari yang sedang mengalami gerhana kali ini, hanyalah komponen sangat sangat kecil dari materi alam semesta ini. Sedangkan segala hal yang membentuk isi alam semesta hanyalah berkontribusi pada 4 % materi yang telah diketahui ilmu pengetahuan saat ini sementara 96 % sisanya sama sekali belum kita ketahui.


Pandemi Covid – 19 juga menunjukkan betapa kecilnya kita. Virus yang demikian kecil, yang sama sekali tak bisa dilihat mata, yang tak bisa hidup kecuali menempel pada manusia, yang tak bisa bergerak kemana–mana kecuali jika menumpang pada diri kita, ternyata mampu menimbulkan dampak sebesar yang kita lihat pada saat ini.


Keagungan Allah Subhânahu wa ta‘âlâ seharusnya mengarahkan kita pada ketakberdayaan diri. Sehingga memunculkan sikap merasa bersalah dan bergairah memperbanyak istighfar. Dalam peristiwa Gerhana Matahari dan pandemi Covid – 19 ini pula kita dianjurkan untuk menyujudkan seluruh kebanggaan dan keagungan di luar Allah, sebab pada hakikatnya semuanya hanyalah tanda.


Momen gerhana matahari juga menjadi wahana guna memperbanyak permohonan ampun, tobat, kembali kepada Allah sebagai muasal dan muara segala keberadaan. Semoga fenomena gerhana matahari kali ini meningkatkan kedekatan kita kepada Allah Subhânahu wa ta‘âlâ, membesarkan hati kita untuk ikhlas menolong sesama, serta menjaga kita untuk selalu ramah terhadap alam sekitar kita. Wallahu a’lam.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم 


Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


* Khutbah ini diterbitkan oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU).

 

Baca juga naskah khutbah terkait lainnyaKumpulan Khutbah Gerhana Terfavorit
BNI Mobile