Kisah Ubaidullah bin Umar yang Tertinggal Shalat Isya Berjamaah

Kisah Ubaidullah bin Umar yang Tertinggal Shalat Isya Berjamaah
Alkisah seorang bernama Ubaidullah bin Umar Al-Qawariri merupakan orang saleh. Ia adalah orang yang menjaga diri dalam urusan shalat berjamaah. Tak pernah sekalipun ia melalaikan shalat berjamaah dalam hidupnya.
Alkisah seorang bernama Ubaidullah bin Umar Al-Qawariri merupakan orang saleh. Ia adalah orang yang menjaga diri dalam urusan shalat berjamaah. Tak pernah sekalipun ia melalaikan shalat berjamaah dalam hidupnya.

Imam As-Sya’rani mengangkat keutamaan shalat berjamaah dalam Kitab Syarah Al-Minahus Saniyyah, halaman 13. Ia mengutip beberapa hadits shahih yang mengandung keutamaan shalat lima waktu secara berjamaah. Ia juga berpesan agar sedapat mungkin tidak meninggalkan shalat berjamaah


Imam As-Sya’rani mengutip para ulama shufi bahwa salah seorang jamaah dalam shalat berjamaah adalah wali Allah yang dapat memberikan syafaat.


*


Alkisah seorang bernama Ubaidullah bin Umar Al-Qawariri merupakan orang saleh. Ia adalah orang yang menjaga diri dalam urusan shalat berjamaah. Tak pernah sekalipun ia melalaikan shalat berjamaah dalam hidupnya.


Suatu malam ia mengalami nasib cukup nahas. Ia kedatangan tamu. Ia disibukkan dengan penghormatan terhadap tamunya. Ia tertinggal shalat Isya di masjid.


Seketika ingat, ia berpamitan kepada tamunya untuk mengejar shalat isya berjamaah. Ia bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah bersama orang-orang di dalamnya. Ia berpindah dari satu ke lain masjid untuk mengejar shalat Isya berjamaah.


Usahanya sia-sia. Nahas betul nasibnya. Ia mendapati semua masjid tertutup dan jamaah yang ada di masjid sudah melaksanakan shalat Isya. Akhirnya ia kembali ke rumah. Ia merasakan kesedihan atas luputnya pelaksanaan shalat Isya berjamaah malam itu.


“Bukankah Rasulullah bersabda bahwa shalat berjamaah mengandung 27 derajat di atas shalat sendiri? Baiknya aku melakukan shalat isya malam ini sebanyak 27 kali,” katanya menghibur diri.


Malam itu Ubaidullah bermimpi sedang mengendarai kuda bersama sekelompok orang yang juga berkuda. Kuda yang dikendarainya tertinggal jauh di belakang kawanan kuda yang tunggangi oleh sekelompok orang tersebut.


“Aku memacu dahsyat kudaku agar dapat menyusul mereka, tetapi sia-sia,” kata Ubaidullah.


Salah seorang dari mereka menoleh ke belakang. “Seberapa hebat kau pacu kudamu, kau takkan dapat menyusul kami,” kata yang menoleh.


“Mengapa demikian?”


“Karena kami melaksanakan shalat Isya berjamaah. Sedangkan kau hanya shalat sendiri.”


“Aku terjaga dari mimpi. Aku berduka cita dan bersedih hati,” kata Ubadullah.

 

Alhafiz Kurniawan, Redaktur Keislaman NU Online

BNI Mobile