Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Sahabat Nabi yang Wafat Terkena Wabah

Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Sahabat Nabi yang Wafat Terkena Wabah
Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah digambarkan sebagai seorang yang berakhlak mulia, penuh kelembutan dan sangat tawaddu’ .
Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah digambarkan sebagai seorang yang berakhlak mulia, penuh kelembutan dan sangat tawaddu’ .

Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga. Ia termasuk dalam al-sâbiqûnal awwalûn (orang-orang yang paling awal masuk Islam). Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menominasikannya menjadi khalîfatur rasûl di Saqifah Bani Sa’idah. Imam al-Dzahabi mencatat:


وقال أبو بكر الصديق وقت وفاة رسول الله صلي الله عليه وسلم بسقيفة بني ساعدة: قد رضيت لكم أحد هذين الرجلين: عمر وأبا عبيدة


Terjemah bebas: “(Sayyidina) Abu Bakar berkata di waktu wafatnya (Sayyidina) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Saqifah Bani Sa’idah: ‘Sungguh aku ridha kalian (memilih) salah satu dari dua laki-laki ini: ‘Umar’ dan ‘Abu ‘Ubaidah’.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, tt, juz 1, h. 8).


Jujur dan amanah merupakan kualitas yang melekat dalam diri Abu ‘Ubaidah bin Jarrah. Karena itu, Sayyidina Abu Bakar tidak ragu mencalonkannya sebagai salah satu kandidat kuat penerus kepemimpinan Rasulullah. Dalam sebuah riwayat dikatakan:


قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: إنّ لكلّ أُمّة أمينًا, وأمين هذه الأمّة أبو عبيدة بن الجرّاح


“Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya di setiap umat terdapat seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin Jarrah” (Imam al-Hafidz Abu Na’im al-Asbahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 1, h. 154).


Ia meriwayatkan cukup banyak hadits, dan menyaksikan banyak peperangan. Menurut Imam Ibnu Ishaq dan al-Waqidi, Abu Ubaidah termasuk dalam sahabat yang turut berhijrah ke Habasyah (kâna miman hâjara ilâ ardlil habsyah), tapi tidak menetap lama di sana:


إن كان هاجر إليها فإنه لم يطل بها اللبث


“Jika pun (Sayyidina) Abu Ubaidah berhijrah ke Habasyah, maka ia tidak menetap lama di sana.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 8).


Sayyidina Abu ‘Ubaidah digambarkan sebagai seorang yang berakhlak mulia, penuh kelembutan dan sangat tawaddu’ (maushûfan bi husnil khuluqi wa bil hilmil zâ’id wat tawâdlu’). Sayyidina Umar bin Khattab sangat menghormatinya, meski ia berada di bawah kepemimpinannya. Dalam sebuah riwayat diceritakan:


أن عمرّ لقي أبا عبيدة، فصافحه وقبّل يده


“Sesungguhnya (Sayyidina) Umar bertemu dengan Abu ‘Ubaidah, kemudian ia bersalaman dengannya dan mencium tangannya.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 15)


Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu sangat tersentuh melihat kehidupan Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah. Ketika ia berkunjung ke Syam, ia bertamu ke rumah Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, dan ia tidak melihat harta benda yang berharga di rumahnya. Khalifah Umar berkata:


لَا أري إلّا لِبْدا وصحفة وشنًّا، وأنت أمير، أعندك طعام؟


“Aku tidak melihat (apa-apa) kecuali alas pelana, piring besar dan griba (wadah air kecil dari kulit), padahal kau adalah gubernur (Syam). Apakah kau memiliki makanan?” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18).


Kemudian Sayyidina Abu ‘Ubaidah beranjak untuk mengambil keranjang yang berisi potongan roti. Sayyidina Umar menangis melihat itu, dan berucap:


غيرتْنا الدنيا كلّنا غيرك يا أبا عبيدة


“Dunia telah mengubah kami semua selain engkau, wahai Abu ‘Ubaidah” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18).


Setelah berhasil memperluas wilayah di Syam dan sekitarnya, terjadilah wabah besar di Syam (thâ’ûn ‘amwâs, wabah Amwas). Khalifah Umar khawatir dan mengirimkan sebuah surat kepadanya agar ia segera kembali. Setelah membaca surat tersebut, Sayyidina Abu ‘Ubaidah berkata, “Aku mengerti kebutuhan Amirul Mukminin, sesungguhnya ia ingin mengamankan kelangsungan hidup seseorang yang tidak abadi.” Kemudian Sayyidina Abu ‘Ubaidah membalas surat Khalifah Umar, ia menulis:


إنّي قد عرفت حاجتك، فحلّلني من عزيمتك، فإني في جندٍ من أجناد المسلمين، لا أرغب بنفسي عنهم


Terjemah bebas: “Sungguh aku mengerti kebutuhanmu (menyuruhku kembali), maka bebaskan aku dari kekuasaanmu (mengundurkan diri dari jabatan). Karena aku bersama pasukan muslim (di sini), aku tidak ingin (berpisah) dari mereka” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18-19).


Membaca surat itu, Khalifah Umar menangis. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa Abu ‘Ubaidah telah meninggal?” Umar menjawab, “Tidak, tapi kematian dekat dengannya.” Beberapa saat kemudian, Sayyidina Abu ‘Ubaidah wafat terkena wabah ‘Amwas. Banyak juga pasukannya yang meninggal. Imam al-Marwazi berkata:


زعموا أنّ أبا عبيدة كان في ستة وثلاثين ألفا من الجند، فلم يبق منهم إلا ستة آلاف رجل


Terjemah bebas: “Diperkirakan bahwa Abu ‘Ubaidah bersama 36.000 pasukan, (dan) tidak bertahan (hidup) kecuali (sekitar) 6000 orang” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18-19).


Alasan lain kenapa Sayyidina Abu Ubaidah tidak meninggalkan Syam (pusat wabah), karena ada hadits Nabi yang melarang orang-orang dari daerah wabah keluar. Rasulullah bersabda (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim):


الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ


“Thâ’ûn (wabah pengakit menular) adalah peringatan Allah ‘Azza wa Jalla untuk menguji hamba-hambaNya dari (golongan) manusia. Maka, jika kalian mendengar penyakit (menular) itu (menjangkiti suatu daerah), janganlah kalian memasuki (daerah) tersebut. Dan, jika penyakit itu menjangkit di suatu daerah, dan kalian berada di dalamnya, maka jangan kalian lari darinya (keluar dari daerah tersebut).” (Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Jâmi’ al-Ahâdîts: al-Jâmi’ al-Shaghîr wa Zawâ’idihi wa al-Jâmi’ al-Kabîr, Beirut: Dar al-Fikr, 1994, juz 6, h. 147)


Tujuan dari larangan tersebut adalah, agar wabah tidak meluas sehingga sulit dikontrol dan dikendalikan. Jika orang-orang yang berasal dari pusat wabah keluar dari daerahnya, tidak menutup kemungkinan wabah akan semakin luas penyebarannya.


Menurut Abu Hafsh al-Fallas, Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun ke-18 Hijriah, di usia 58 tahun. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 23).


Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 

BNI Mobile